Jumat, 15 Juni 2012

Republik Ironis

"Barang siapa yang tidak merasa prihatin atas suatu kejahatan maka dia tidak akan mempunyai kehendak untuk berbuat baik." -Imam Musa Al Kadzim


Aku, Dari lahir sampai umur 22 tahun ini memang tinggal di Indonesia. Sudah makan makanan yang sama dengan berjuta penduduk lain. Sudah sekolah di sekolah negeri dari SD-SMA. Sudah bertemu sama pekerja berpenghasilan Rp 10.000 sehari sampai pengusaha berpenghasilan 5 Milyar sebulan. Sudah ngobrol langsung sama pemerintah terkecil tingkat RT sampai ikutan kuliah umumnya Presiden. Sudah berkunjung ke pulau lain dan punya teman-teman dari kota lain. Sudah pernah masuk organisasi anti pemerintah dan sudah pernah juga kerja di parlemen pemerintah. Sudah pernah ke pelosok desa yang belum ada listrik sampai ke Ibukota yang serba modern.


Sayangnya...


Semua itu tidak menjamin bahwa aku pasti tahu bagaimana caranya hidup bahagia di Republik ini. Sampai sekarang, Aku belum bisa membuat manual book atau tutorial bagaimana cara tinggal di Negara ini dengan baik dan benar. Kalau ada yang tahu caranya bahagia di Republik ini, Ia bertanggung jawab juga untuk memberitahu para bayi yang baru lahir cara-cara bertahan hidup di kerasnya kehidupan Negeri Jutaan pulau ini. 


Di Negeri ini, semua aturan bisa saja di amandemen kapan saja tergantung selera yang mengurus. Semua masalah bisa diselesaikan dengan jalan "damai" ala polisi, jalan "tanpa masalah" ala kantor pegadaian. Kadang masalah juga bisa selesai dengan "aksi damai" ala aktivis LSM, atau minimal, masalah bisa diselesaikan dengan tidur sambil mendengar lagu dangdut bejudul "perdamaian" bagi orang miskin.


Disini, tidak ada jaminan bahwa segala sesuatu bisa dijamin. Kemerdekaan dan kebebasan yang konon dijamin dan tertuang di undang-undang bisa saja terlanggar dengan kepentingan-kepentingan yang kita tidak tahu untuk siapa karena gurita konspirasi dan intrik politik. Disini, adalah lahan dimana kita tidak perlu pusing mau memberi bantuan kepada siapa karena ada banyak sekali orang terlantar, tapi kita hanya bingung mau menyalurkan lewat mana karena banyaknya orang yang tidak dapat dipercaya mengelola harta orang banyak.


Sekedar menyadari realitas, di negeri macam apa kita tinggal...
Orang-orang pintar akan berkata bahwa "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan." Tapi saat mulai menyalakan lilin, orang banyak siap meniupnya kapan saja. Nyalakan lagi, ditiup lagi. Apakah ini pesimisme atau realistis? Bedanya sangat tipis kawan. Ada perjuangan karena memang memperjuangkan klaim kebenaran, ada perjuangan karena memperjuangkan egoisme masing-masing. Bedanya juga sangat tipis kawan. Mungkin benar kata pejalan suluk, dibutuhkan kejernihan jiwa dan hati yang bersih untuk mengetahui kebenaran.


Untuk itu, Seminar berfikir positif digelar dimana-mana. katanya, "Mulai kebaikan dari diri sendiri." Benar kawan, itu tidak salah. Bagus sekali ide itu. Tapi kenapa hanya isu-isu yang keren saja yang dilakukan? Misal himbauan untuk mengikuti program Earth Hour mematikan listrik 1 jam untuk hidup lebih baik. Ingatkan kita negara berkembang yang bahkan di Sumatera Utara ada 210 desa yang belum beraliran listrik. Itu baru di 1 daerah. Belum di berjuta daerah lain di bumi pertiwi. Realistiskah program internasional Earth Hour itu? Bukankah kita jauh lebih berhemat dari negara manapun yang mengikuti program itu? Kenapa justru para mahasiswa sebagai kaum intelektual yang menjadi relawan gerakan itu? Apakah pernah berfikir, proyeknya siapa yang sedang diperjuangkan?


Himbauan lainnya, "1 Man 1 Tree" yang posternya terpasang pejabat bertampang klimis menanam pohon dan orang di kota ramai-ramai tanam 1 pohon, jutaan pohon di desa yang tidak terpublikasikan digunduli. Ada bayak sengketa lahan yang korbannya adalah masyarakat adat suatu negeri yang buta terhadap hukum-hukum dan dipaksa melawan mesin baja milik perusahaan besar dan pemerintahnya siap menyediakan "pasukan pengaman bermental baja", melindungi yang bayar. 


Banyak orang terusir dari daerahnya tapi tidak masuk media nasional yang lebih sibuk mengurusi berita milik kelas atas seperti batalnya konser artis luar negeri nan kaya raya yang menjual tiket mahal atau jatuhnya pesawat mahal berisi orang-orang kaya yang beritanya terus menerus mengguyur layar kaca. Yang diperjuangkan siapa? Yang sedang dibicarakan kepentingannya siapa? Yang sedang ditutupi berita macam apa sehingga masyarakat yang rata-rata berpemikiran polos dan merasa tidak berkepentingan dengan berita itu mengganti siaran layar kacanya dengan drama berintrik rumit yang berkisar antara cinta yang remeh temeh  karena itu adalah satu-satunya hiburan disana. Bahagiakah generasi muda yang hidup dengan drama seperti itu sehingga Ia kelak tahu bagaimana caranya hidup di masa depan?


Seiring dengan itu, Mental cari aman mengalir dimana-mana. Jarang ada yang benar-benar mau menampakkan sikapnya. Benar kawan, kita ini sudah dewasa, sudah dapat menentukan jalannya sendiri. Namun belum tentu yang dewasa itulah yang berpikir dengan akal sehat. Akal sehat di Negeri ini begitu mahal sampai politisi, ustad, akademisi yang seharusnya berkata dengan kata-kata yang pintar gagal menjadi ikon berfikir dengan akal sehat. 


Kini, yang mengkritisi lawannya bukan yang dikritisi karena yang dikritisi sudah mengkader orang-orang dari kaum si pengkritisi sendiri sebagai tameng. Jadi ingat kata Abraham Lincoln, "Kebenaran adalah korban pertama dari peperangan."


Jadi jalani saja hidup ini dengan landasan yang berpijak pada yang benar. Yang tidak relatif. Kata Max Scheler yang orang Jerman itu, semakin relatif sesuatu, maka semakin rendah nilai sesuatu itu. Kita tidak akan pernah menemui kebenaran kecuali ketika kita mulai mempercayai kebenaran itu. Adakah? Pasti ada. Di Republik ini kebenaran dan kebaikan begitu langka, tapi tidak mungkin kalau tidak ada. Kita hanya perlu menjadi pantas untuk mendapatkannya. Bagiku, disinilah letak "Mulai dari diri Sendiri" itu dimulai. Bukan lewat aktivisme instan para pemilik proyek kegiatan. 


 "Air mengalir sampai jauh..." Kata Gesang sang Maestro keroncong. Mengajak kita bernyanyi sebagai makanan jiwa kita yang lelah menjalani hidup dalam lantunan musiknya. Mengingatkan bahwa kadang kita harus ikut hanyut dalam perjalanannya bersama yang lainnya agar bisa merasa bahwa kita sama dan sejalan. Kadang kita harus naik perahu untuk melawan arus karena ada jalan yang lebih baik lagi selain ikut arus itu. Kita tak bisa, selamanya hanyut, tak bisa selamanya melawan arus. Hidup harus harmoni, hidup harus terus berada di jalan kebaikan...

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.