cerita tentang remah-remah

Rabu, 30 Maret 2011

Rekaman...

Aku pernah membawa jiwa seseorang dalam puisi. Saat itu dini hari dan dadaku sesak, Mataku berurai air mata mengenangnya. Tiba-tiba rasa rindu yang sangat dan berbaai kenangan muncul. Tapi bukan sebuah kutukan ataupun rutukan yang ingin aku ungkapkan pada kenangan yang lumayan pahit itu. Tapi rasa syujur luar biasa dengan cinta yang meledak-ledak utuk mengingatNya.

Bisa jadi ini adalah peristiwa Spiritual. Saat kita belajar tentang Jiwa dalam kajian mulla shaddra, akan dikenal bahwa manusia dapat membus batas materi dalam alam malakut. Jiwa ku saat itu tertarik pada sesosok manusia yang mengikat hatiku berbulan-bulan yang lalu. Aku merasa sangat dekat dengannya sampa aku menangis sesenggukan dan menulis. Tapi bukan dia yang aku pikirkan, tapi DIA. Aku hanya membawa jiwanya untuk bisa menyampaikan gejolak meledak-ledak. 

Entah, sulit diungkapkan. Aku tidak pernah benar2 membuat puisi sufistik. Tapi terjai begitu saja tanpa editing. Pastinya seperti dalam puisi sufi lain, mungkin selain pengarang yang mengalami pengalaman spiritual tersebut, Pembaca tidak akan faham. Yang jelas, menulis ini membuatku tidak tidur dan esoknya tidak mengantuk sama sekali.

Mungkin kesalahannya adalah percampuran bahasa Indonesia dan Inggris pada judul. Tapi itu kata pasangan yang terpikir dalam otakku saat itu.

Rekaman...Recomment


Di tahta tangkai penopang indah mawar itu adalah Kelopak Nya
Lalu menyobek , terkirimlah berbait-bait syair kerinduan sepanjang sungaiNya
Bawa ranum pesonakan jernih nan mewangi sepanjangNya sampai samudra kasihNya
SurgaNya didapati , mengarahkan bahtera bertuliskan Illah, Illah, Illahi….
Nan selalu berkompas gugusan bintang gemintang , Maka tersampaikan pada muara, penyair berkata Ialah surga….
Tempat pertemuan kelak…
Selama masih ada gunung Nya, Sungai Nya yang kan kirimkan kerinduan terpandu pun dalam deru badai memilu…

Sebagai petani semestinya rindukan hujan, bukan bandang apatah lagi gersang

Sebagai si sakit maka semestinya rindukan obat, bukan kerat
Sebagai mana semestinya nelayan tunggu tuk dapati ikan dalam jejaringnya
Sebagaimana hina itulah rindukan Layak dalam RumahNYA

Sesayup harapan teramat muda dalam bingkisan Nya yang terelok

Tersampailah….
Dimana TanganNya menepuk tegakkan pundak kita agar berjalan terus ikuti arah gemintang

Oh si pengemispun bencikan lapar nan makin bertambah sukar terperi

O…tahulah bahwa sang penyair tak pernah puas arak secawan untuk bersajak kelangitan
Mengertilah, dalam PialaNya termabuklah para alim dalam Kedai-kedai Nya
Maka dapatkah dalam larian itu pergi dari RahmatNya?
Sedangkan terpangku sudah di haribaanNya…

Berbukit kerikil tertakluk sudah

Pandang sebrang bukit tak terlihat…
…..selain daripada kabutNya….
Dingin ini telah memeluk dalam gigilan sendu kecintaanNya
Oh bukankah Janji itu adalah satu dari Anggur Nya?Mabuknya hinakan Raja bak pengemis
Maka singgasanalah pertanda kerajaannya nan rabun dikenal
Terserekan Ia dalam kepapaan nya?
Saat Cawan-cawannya telah kosong, sedang tenggorok managih untuk terbakar Arak asmaraNya?

Untukmu selalu, dalam keterlindungan Nya…

Tertitip salam termanis nan melangit


Jakarta, dalam sesak haru

Pukul 03.21 wib
Hari ke 19 bulan ke sebelas masehi
2010

SYAHARBANU

Senin, 28 Maret 2011

Dia pun Menelaah Kedalaman Jiwaku...

Aku sering mendapatkan karya-karya seperti Essay dan Puisi.
Tapi ada 1 karya dari Abangku yang bikin Nangis sesenggukan berjam-jam. Sebelumnya dia udah jelasin kalau Untuk membuat puisi itu dia harus membawa jiwaku ke alam tinggi dan meletakkannya di tempat terindah. Haaaaah...pokoknya klepek-klepek.

Aku suka berbalas puisi dengannya. Berbincang dengannya adalah mata air pengetahuan. Berbincang dengannya adalah penambah enargi kebijaksanaan. Dengannya aku menjadi luluh tak berbekas dengan segala sombongku.

Gaya penulisan puisinya sangat Iraqi. Gaya puisi Favoritku. padahal aku tidak pernah bilang ke Abangku kalau aku suka sekali gaya Iraqi. Rasanya Puisi adalah sebuah pengelaman spiritual dan indahnya dia mengajakku menyusuri lekuk alam spiritualnya. Jiwaku gerimis dan bibirku pucat pasi dengan kekosongan diri. Ia mengajakku Fana untuk menuju keberadaan. Dia bukan Hanya Romantis, tapi juga Spiritual.

Aku bertekad mencintai kakakku sampai akhir. Apapun yang terjadi bahkan bila suatu saat dia tidak ingin mengenalku. Dia mengajarkanku Cinta dan melenyapkan segala perasaan sakit hati yang dulu seringkali singgah. Dia Mengajarkan bahwa Hati harus bersih, Sakit hati akan membuat kita tidak menghargaidiri sendiri karena kita mengizinkan penyakit singgah di temp[at yang semestinya Suci. Hati adalah Jiwa tempai kita mengharap kesucian darinya. Dan sampai kini, Kakakku itu adalah orang yang paling kucintai sebagai kakak. Orang yang paling aku kenang karena kebaikannya.

Semoga Allah selalu menjaganya, Melindungi keluarganya, Melapangkan Kubur Ayahnya, Merahmati Ibunya, Melancarkan kebaikan yang menuju padanya. Terimalah salam kerinduan ku duhai kakak yang telah membuatku tertawan dan jatuh hingga fana...



Sesembahan Anggur Cinta…


Maka saat hati terbakar, memutih menjadi abu, tumbuh sekuntum mawar Cinta yang wanginya lebihi setaman, kelopaknya adalah Allah-Allah-Allah

di negri ketiadaan, tiada awan melainkan Cadar Nya

di negri ketiadaan, tiada sungai melainkan SegarNya

di negri ketiadaan, tiada laut melainkan IlmuNya

di negri ketiadaan, tiada Jiwa melainkan JiwaNya

di kota ketiadaan, tiada bangunan melainkan ArsyiNya

di kota ketiadaan, tiada sekolah melainkan FirmanNya

di kota ketiadaan, tiada seni melainkan CintaNya

di kota ketiadaan, tiada merah melainkan GincuNya

di rumah ketiadaan, tiada atap melainkan AmpunanNya

di rumah ketiadaan, tiada piala melainkan AnggurNya

di rumah ketiadaan, tiada lilin melainkan ApiNya

di rumah ketiadaan, tiada suara gitar melainkan Desah KesendirianNya

di kamar ketiadaan, tiada kasur-ranjang tapi kefaqiran

tak pula selimut tapi kedinginan

di kamar ketiadaan, tiada sejadah apapun tapi jiwa gemetaran

tak pula gadis cantik molek rupawan

di noktah ketiadaan, DIA-lah Kebenaran

di noktah ketiadaan, DIA-lah Gusti Pangeran

di noktah ketiadaan, Bercerlangan Zat Tuhan

di noktah ketiadaan, Gemilangan Wangi Zat Tuhan



Hud-hud berkelana melayang, mencari Ruh Yang Turun pada Malam Suci Seribu Bulan.
Ia bergumam, mustinya adalah Malam Suci-Nya dan titik, kerna Ia lebih dari Seribu Bulan. 
Tapi Ia bergumam pula, tapi lebih baik Malam Suci Seribu Bulan karena..

Ia Yang Sejati Tak Terbatas..
Tak Terperikan Dalam Kesendirian..
Dalam Keagungan..
Dalam Kesilauan..
Dalam Ketidaktahuan..
Dalam Lautan Keberadaan,
tanpa terbatas, 
bahkan oleh Diri-Nya Sendiri.

Puja dan puji pun digumankan Hanya Pada Sang Maha Asmara, 
mawar-mawar yang selalu merekah di hati-hati yang patah, 
yang durinya bila terkena teramat pedih menggores bak suara rebab. 
Atau seperti suara seruling Majnun di malam hari yang senyap, di padang belantara yang luas, di musim dingin yang mencekam, yang berintihan bertangisan berjeritan Layla, Layla, Laylaaa.. 
Atau seperti wadag Rumi yang mengelilingi Jiwa dan Irama Sang Maha Cinta dari Tabriz, Syamsyuddin Sang Pecinta, berputar-putar seperti gasing berkeliling kepala pun pusing jantung dan hatipun seolah berhenti berdetak, tarbus melayang-layang tinggi ,

Sungguh yang tiada memahami Asmara bukanlah bagian dari kami, kata seorang darwisy. 

Sungguh yang tiada memahami geletar Asmara bukanlah bagian dari mukmin, kata seorang saleh. 

Sungguh yang tiada memahami senar dan grip-grip Asmara bukanlah bagian dari muhsin, kata seoran faqir. 

Tapi Hud-Hud katakan padaku, perkara yang benar adalah siapa dan apa yang tak senantiasa menggeletar terhempaskan Gelombang Samudera Asmara bukanlah bagian dari alam maujud. Alias ketiadaan mutlak.

Senar gitar Espanola menyentuh lembut lembar-lembar Asma Waduudu dari goresan janji Alastu yang dulu kupatrikan didepan Kekasih. 

Getarannya lembut seperti alis lentik yang melindungi kelopak lembut dan mata-mata besar berkejap nan tatapannya teramat dalam. 

Alastu menghunjam lembut di rerelungan terdalam hati, geloranya sejuk bak sumber mata air cemerlang gemilang. 

Dimulai dengan penolakan akan segala dan penegasan akan Aku yang satu, 
Alastu menyumberi rasa-rasa lembut, takut dan harapan Cinta Ilahiyyah. 
Piala Alastu,- yang berisikan Anggur-Anggur Berusia Tujuh Abad- , memabokkan jasad maupun batin maupun batin dari batin dan Batin dari Segala Batin sehingga sang penenggaknya akan menjadi Pemabuk Sejati. 

Yang lupa akan dirinya sendiri seluruhnya. 
Yang lupa akan segala-galanya seluruhnya. 
Ia menjadi sempit sekali dihimpit oleh al-qoobidhu sehingga menjadi bak titik ketiadaan, 
tapi pada saat yang sama ia menjadi luas melayang terbang ke milyunan alam manifestasi-Nya diluaskan oleh al-baasithu. 
Sebuah titik noktah tak bervolume tak berwaktu tak ber-ruang tak terperi.

Al-waduudu mengarungi alam keberadaan dengan membawakan Anggur-Anggur Tujuh Abad dan menuangkannya di kedai-kedai tuak dalam piala Alastu. 

Bergelimpangan para hamba pecinta mencicipi setegukannya, apa - lagi sepiala penuh. 

Ohhh, serasa bumi menjadi langit dan langit menjadi bumi dan serasa alam material mengkerut lenyap tak lebih dari setitik saja, atau lebih kecil dari itu, atau tak terfikirkan lagi, atau memang ia hanyalah bayangan keberadaan dalam ketiadaan. 

Setiap manifestasi al-waduudu terpaksa membatasi yang lain, Rambut-Nya membagi alam-alam menjadi tak hingga, 

Pipi-Nya membuat alam-alam mengkristal karena rindu pada-Nya, 

Senyum-Nya membuat kiamat alam-alam kerna teramat rindu pada-Nya, apa lagi elusan-Nya? 

Wahai jiwa-jiwa surga, 

Hai…..hai…..hai…..
Wahai putri jiwa yang tulus…..
Kukirimkan baiat nokta kerinduanku….






Jumat, 25 Maret 2011

Parmads Gossip

Suatu hari di kantin Kamikita Paramadina terjadilah percakapan Antara Gue dan Nila. Nila ini adalah Cewek yang Gue kenal pas masa GMP (Grha Mahardika Paramadina), sejenis Ospek gt di kampus lain.  Terus buat selanjutnya cewek ini gue klaim sebagai salah satu sobat gue.

Timingnya waktu itu, Gue baru aja di daulat jadi Managing Editor PARMAGZ. Parmagz ini Pers Kampus yang waktu itu lagi krisis parah karena minim anggota, Akhirnya Dengan semangat ala Bandung lautan api, Gue ngajakin Nila buat gabung ke Parmagz. Secara kayaknya si Nila ini belom gabung di UKM apa-apa di Parmad gitu.

Gue dan nila di kamikita
Reka Ulang dialognya begini :

Gue : Nil, Join Parmagz yuk
Nila : (Dia berlagak apatis! sibuk ketak ketik Macbook nya) hmmm.....
Gue : Kan lumayan nil jadi Reporter,  gue juga join kok. nggak capek lagi di parmagz...
Nila : Nggak deh yu (FYI, Dia manggil Gue Ayu), Gue nggak bisa pulang malem. Lagian gue lebih suka ngegosip.
Gue : Yah... PARMAGZ bukan media gosip kaliii... masak mau neralih ke infotaiment..
Nila : gue nggak mau pokoknya... kita bikin aja media gosipnya
Gue : (Mulai sok Moralis) ntar ada yang marah di gosipin. lagian juga, mana bisa yang kayak gituan di kampus.
Nila : kalau nggak ada gue nggak mau join! (dalam ati gue bilang "tengil amat ni anak!")
Gue : nggak akan ada. Parmagz itu PERS ya... bukan infotaiment.

Percakapan yang kalau diterusin mengarah ke perdebatan itu terhenti. Kita milih nerusin ngegosipin tentang Cowok-cowok berwajah cantik di kampus. nggak lagi ngajakin Nila buat join di PARMAGZ. Kapok!

Ide untuk bikin Media Gosip nggak lagi dipikirin. Nggak penting!Kalaupun kita barengan di Kantin Kamikita, kita lebih seneng Foto-Foto dengan pose Aneh pake Macbook Nila.
Salah satu foto menyedihkan kita. Ngooek!


Lama setelah kejadian Kamikita, Gue sengaja mau nonton Futsal Himafa (Himpunan Mahasiswa Falsafah) di are Parkir kampus pas Malem sabtu. Salah satu yang Main Futsal adalah Taufik, temen satu jurusan di Falsafah juga. Dia lagi lari kejar-kejaran sama bola dan berkeringat! Nila bilang, Taufik itu keren kalo lagi olahraga. nah... gue mulai merhatiin taufik. Dari menit petama sampe menit ke 30, gue masih nggak ngeh kerennya taufik dimana gitu. Gue perhatiin nggak keren juga, tapi iseng gue foto karena dia lagi bikin Tato lucu lambang paramadina di lengan kanannya. FYI, Tato itu cuma dibikin pake bolpen entah oleh siapa. dan Gue langsung Inisiatif buat upload Foto itu di Fesbuk.

Ini Foto Taufik di Parmadsgossip
Taofik Hidayat
Ada 7 jempol teracung. Foto ini di tag ke temen-temen akrab gw yang kira-kira nggak kontra dan ngertiin keisengan gw. Belum ada Tagline kalau itu berita buat parmadsgossip. Karena dikira temen2 ini bagian dari fitur di PARMAGZ, dalam sebuah komentar, gue nulis kalau ini bukan PARMAGZ. Tapi parmadsgossip.
Capturenya gini :

Pria ini bernama Taufik hidayat, jurusan Falsafah dan Agama. Hobi main futsal. Kecintaan nya pada paramadina membuatnya rela mentato lengannya dengan logo paramadina.
Dan dia adalah jomblo.
Keahliannya bikin proposal, saat ini masih menjabat menjadi COO PARMAGZ 2009-2010.
Dan yang istimewa adalah, dia sangat gentleman dan menghormati wanita.
Kalo sudah mengenalnya,pasti akan menilai kegantengan nya.
Jadi,pilih TAUFIK HIDAYAT! Indonesia bisa!

Ngawur banget kan?? Cacat secara Jurnalistik, tapi itu yang lucu. masuklah komentar2. ada yang nyuitin Gue, karena dikira naksir Taufik, ada yang kontra dikira gue upload gambar cowok brarti gw udah cinta mati sama ni cowok, ada yang komen kalo ini bener2 lucu. aneh-aneh deh. Gue pun menetapkan Foto ini sebagai Launching pertama Parmadsgossip. Jadilah Parmadsgossip sebagai merk Produk iseng Gue.

Korban selanjutnya adalah Cowok2 lain. diantaranya Echi dari Pers Mahasiswa Sukma Universitas Terbuka yang lagi sandaran sama Satrio Pers Mahasiswa Didaktika UNJ

Capturenya gini :
Jakarta, Parmads Gossip- Kemesraan antara Satriyo dari LPM didaktika UNJ dan Resi dari LPM sukma tertangkap Kamera Parmads Gossip. belum ada konfirmasi terhadap foto yang menghebohkan dunia maya ini. namun kembali pada prinsip awal bahwa: "jenis kelamin tidak penting...yang penting kasih sayang".

Foto ini di tag ke teten2 Persma lain. ngggak rame sih... tapi lumayan ada produk. dan Parmadsgossip yang lain itu Foto teaternya Marno, Foto di Papua dan hal nggak serius lain. paling update adalah Fotonya Ai, Mantan sekjen yang jadi bahan ketawaan bagi orang-orang. Gue sih pake Ilmu BODO Amat ya... dan Yang gue foto juga nggak ada yang protes. dan bagi Gue, ini Parmadsgossip pertama yang diformat secara panjang. walau masih nyeleneh juga

Foto Ai ini :
Ai Nurhidayat
Ai Nurhidayat : Minum Susu Penting bagi kesehatan

Kamikita, Parmadsgossip- Mantan Sekretaris Jendral (Sekjen) Serikat Mahasiswa Paramadina, Ai Nurhidayat menghimbau para mahasiswa untuk tidak lupa minum susu. "Minum susu itu penting bagi kesehatan". Kata mahasiswa semester 6 Ilmu komunikasi ini saat ditemui Parmadsgossip (17/3) sedang meminum susu kotak.

Walaupun dalam kemasan susu tersebut telah tertera nilai kandungan gizi, namun hingga kini belum jelas apakah susu yang diminum Ai tersebut sudah dinyatakan bebas dari bakteri berbahaya atau tidak.Mahasiswa harus peduli dan bersikap waspada terhadap kandungan bakteri dalam susu tersebut.

Pasalnya, secara khusus dampak untuk Ai pribadi sebagai kader pemuda harapan bangsa. Apabila ternyata susu itu beracun, dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit disorientasi maupun post power syndrom bagi mantan sekjen. Sedangkan untuk generasi muda pada umumnya, dikhawatirkan akan menimbulkan kantong kering terutama apabila minum susu tersebut menjadi kebiasaan tak terkendali di akhir bulan.

"Saya senang mantan sekjen itu lebih sehat dari biasanya, Semoga saja susu yang diminum itu bukan susu berbakteri yang selama ini diberitakan media", Ujar Shei Latiefah yang kini menjabat sebagai Sekjen Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina.

[bob]

Ada 15 jempol teracung. mengingat reputasi AI sebagai mantan sekjen PARAMADINA mungkin juga ngaruh. makin banyak yang bakalan cela2 dia. dan banyak juga yang numpang ketawa doank.

sebagai jalan Aman dari hujatan, Gue pasang Tagline buat Parmads Gossip ini:

Apa itu Parmads Gossip??

Parmadsgossip adalah berita Gosip terkini, tanpa aturan dan yang penting senang-senang. tidak perlu ada konfirmasi dari pihak manapun. Ujung Pena tajamnya berfungsi untuk mengempiskan kepala yang terlalu menggelembung.

Parmadsgossip adalah media senang-senang dan tidak peduli pada privasy maupun etika jurnalistik. Diterbitkan secara independen, gratis dan ditujukan untuk mereka yang mau eksis.


Orang nggak akan Komplain cara penulisan beritanya yang acakadut dan cuma numpang ketawa doang. bener2 sebagai media senang2 dan tempat orang ketawa.


Gitu deh cara gue membangun parmadsgossip ini.

Ngomong2, gimana kabar Nila?

Masih dengan Laptopnya selesai perkuliahan, habis itu pulang. Gue pun masih suka bergaya bandung lautan Api, tapi kali ini dengan ajakan berbeda.
"Nila, Ngekost Yuk! Pengen ngajakin kamu ngebolang!"
Ketidakjelasan kita karena pusing belajar Filsafat


Biografi Allamah Thabathabai


Karena ngefans berat sama Filosof, Ilmuan, Ulama, tokoh pejuang sejati ini dan sekalian bikin makalahnya tentang Al mizan, Aku publish aja biodatanya. Silahkan dibaca-baca... barangkali mau ikutan ngefans juga sama beliau. Nggak pernah rugi kan meneladani dan mengidolakan Tokoh yang Baik dan pinter banget gini...

Nah...ini pembahasannya . Cekidot! 

Allamah Thabathabai lahir pada tanggal 29 Dzulhijjah 1321 H dengan nama Thabathaba'i At-Tabrizi al-Qadhi di desab Shadegan (Profinsi Tabriz) dalam satu keluarga Sayyid (Keturunan Nabi Muhammad Jalur Ja'far Shadiq). Thabathaba'i lahir dididik dalam lingkungan ulama dan religius. Sehingga sebelum ayahnya wafat, Thabathabai memperoleh pendidikan langsung dari Ayah dan Kerabatnya. Namun setelah Ayahnya wafat, Ia dididik oleh guru Privat yang datang kerumah untuk mengajar bahasa Parsi dan Ushuluddin.

Setelah dirasa memiliki dasar-dasar agama, pada tahun 1344 H Ia melanjutkan Studi tentang Al Quran dan pelajaran agama lain di kota Tabriz. Selama 7 tahun Ia belajar Bahasa Arab dan mengkaji ajaran agama dan teks klasik Islam. Setelah selesai tingkat pelajaran awal pada tahun 1344 H Ia hijrah ke hauzah Najaf untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam bidang ilmu tekstual Ia berguru pada Mirza Muhammad Husain Na'ini di An Najaf Al Asyraf. Berguru juga dengan Syekh Muhammad Husain Isfahani (putra Syaikhul Islam Al Mirza Abdurrahim) hingga mencapai Mujtahid sempurna. Ia telah mencapai tingkat ilmu makrifah. 1Gelar Al Allamah artinya Yang sangat Pandai disematkan padanya oleh para cendekiawan dan orang pada zamannya.

      Keduanya ini bersama Asy Syaikh Dhiyaudin (putra Maula Muhammad) Iraqi sangat dihormati di dunia Syiah. Mereka termasuk di antara ulam-ulama paling menonjol bukan saja di bidang-bidang yurispendensi Syiah dan prinsip-prinsip dasar yurispendensi, namun jugha dalam studi Islam. Pendapat-pendapat yang mereka paparkan dan teori-teori yang mereka kemukakan diikuti oleh para ulama setelah mereka. Mereka mendirikan mazhab berfikirnya sendiri-sendiri. Mereka mendidik ribuan ulama dan ahli hukum Syiah dan semua marja’ taqlid (otoritas tertinggi untuk fiqh, yurispundensi, aturan-aturan syariat yang putusan-puutusannya diikuti oleh umat) dunia syiah hingga dewasa ini merupakan murid-murid mereka. Isfahani merupakan filosof yang tak tertandingi pada zamannya, seorang penulis dan penyair Arab dan Persia yang piawai. Ia adalah genius yang prestasi-prestasinya membuat orang memandang dirinya sebagai ideal. 2

Sedangkan gurunya dalam bidang Matematika tradisional adalah Sayyid Abul Qasim Khunsari. Dari hasil belajar dengan gurunya inilah Allamah Thabathabai menulis buku tentang beberapa topik matematika tinggi yang memuat teori-teori khusus dari gurunya.

Dalam bidang Filsafat dan metafisika Islam Ia dibimbing oleh Sayyid Husain Bad-Kubai. Di bidang etika dan spiritual, Ia dididik oleh keluarganya sendiri yaitu As Sayyid Ali Agha Thabathabai yang merupakan seorang ulama yang memiliki sekolah etika dan yang hingga kini masih kuat hingga kini.

      Dengan pengaruh guru-gurunya tersebut Allamah Thabathabai memiliki otoritas terpandang di bidang studi keagamaan seperti fiqih dan dasar-dasarnya. Dikatakan bahwa prestasi akademisnya direduksi oleh kemasyhuran dan reputasinya sebagai seorang filosof dan sekaligus insan spiritual. Religius dan mistis lagi transenden.3

Dalam menelaah karya-karya para pendahulu seperti Asy syifa karya Ibn Sina, Al Asfar Al Arbah karya Mulla Shaddra dan Tamhid al-Qawa'id karya Ibnu Kurkah di bawah bimbingan Sayyid Bad-Kubaiy. Selain itu, Ia juga menjadi murid dua Ulama besar Tehran saat itu, Yaitu Sayyid Abul Hasan Jelwah dan Agha Ali Mudarris Zununi.

Allamah Thabathabai mencapai derajat Ijtihad tahun 1354 H dan saat itu Ia kembali ke kota kelahirannya di Tabriz. Sekembalinya di Tabriz, Ia bertani sampai 10 Tahun dan benar-benar jauh dari kegiatan ilmiah dan dunia pemikiran. Di tahun-tahunnya sebagai petani, meletuslah perang dunia kedua yang menyebabkan Iran mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Saat itu dibawah rezim Reza Pahlevi Irang memiliki hubungan diplomatik dengan Jerman dan menghindari hubungan diplomatik dengan Inggris. Rezim Reza Pahlevi yang dekat dengan Jerman dan semena-mena tersebut telah membuat bangsa Iran saat itu sulit. Pembantaian terhadap sipil marak dan dengan kondisi tersebut dan Iran jatuh pada pendudukan asing. Dengan situasi demikian, Allamah Thabathabai terpanggil untuk pindah ke Qum pada tahun 1946. sejarah telah mencatat bahwa Ia juga turut dalam terjadinya Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini pada tanggal 11 Febuari 1979.

Sejak Perang dunia II, Faham Marxisme menjadi mode pemikiran sebagian generasi muda Tehran. Dari sini Allamah thabathabai mencoba menawarkan pemikiran Islam yang bertujuan menyembuhkan kebobrokan moral para generasi muda. Allamah Thabathabai gencar menyampaikan pesan Intelektual yang disampaikan untuk membangun basis metafisis religius dan berusaha menyingkirkan pandangan dunia Materialisme. Ia tekun mempelajari dasar pemikiran filsafat komunisme. Hasil kajian itu dituangkannya dalam buku berjudul Usul e Falsafeh va Rawesh e Realism. Buku ini dijadikan bahan acuan pengajaran dan bimbingan bagi kalangan generasi muda di hawzah Qom.4

Ketika beliau membuka pegajaran Al Asfar Mulla Shaddra, Ulama berpengaruh saat itu, Allamah Burujirdi mengancam akan memotong beasiswa murid-murid Thabathabai. Ayatullah Burujirdi mengakui bahwa dia sendiri pernah mempelajari al asfar secara diam-diam. Dia tidak berkeberatan atas pengajaran filsafat secara privat, tapi filsafat dinilainya sebagai membahayakan. Berujirdi khawatir apabia filsafat diajarkan secara terbuka, kepercayaan-kepercayaan mursal (unorthodox) akan menyebar. Thabathabai menanggapi bahwa setelah “berkonsultasi” dengan kumpulan puisi Hafidz yang diundinya secara acak (istikharah-pen) , dia sepenuhnya teryakinkan untuk tidak menghentikan pengajarannya. Syair yang diperolehnya ialah sebagai berikut :

Aku bukanlah berandalan
Yang meninggalkan keindahan dan cawan
Sang pujangga sangat tahu
Aku takkan berbuat seperti itu

      Lagi pula, lanjut Thabathabai, murid-murid hauzah tidak sedang berada dalam kemurnian ideologi, tetapi sejak semuila telah membutuhkan pengajaran macam itu guna menghilangkan keragu-raguan mereka dan menyiapkan mereka untuk memerangi materialisme. Atas dasar itu thabathabai berniat meneruskan pelajarannya kecuali bilamana Ayatullah Burujirdi secara resmi memintanya berhenti. Setelah itu Ayatullah Burujirdi tak lagi mencoba urusan pelajaran Allamah Thabathabai malahan memperlakukan Allamah dengan rasa hormat dan memberinya hadiah Al Quran yang mewah.5

     Beliau mengenal dunia barat dan suasana kejiwaan orang barat. Salah satu contohnya dalam pengenalan tersebut adalah terbitnya buku Shia yang merupakan salah satu usulan dari orientalis barat bernama Kenneth Morgan dari Universitas Colgate. Morgan saat itu ingin menyuguhkan agama timur kepada barat dengan sudut pandang tokoh terkemuka dari agama tersebut. Setelah berkonsultasi dengan Sayyed Husein Nasr, ditetapkanlah bahwa Allamah Thabathabai adalah yang paling layak untuk menulis buku tersebut. Buku berjudul Shi’a (dalam bahasa Indonesia berjudul Islam Syiah) memenuhi harapan dan keinginan Morgan.

Buku tersebut ditu;is dengan prinsip-prinsip Intelektual dan dari sudut pandang Syiah yang otentik. R.M Burrel dan D.O Morgan menilai buku Thabathabai tesebut sebagai buku yang menjelaskan ajaran Islam Syiah dengan sebuah pendekatan sintesis berdasarkan pendapat-pendapat ahli-ahli barat dan pendapat kalangan Syiah sendiri. Oleh karena itu buku tersebut menjadi rujukan para penulis tentang syiah sendiri baik dari kalangan Islam maupun dari kalangan Barat.6

       Karya Allamah Thabathabai yang paling penting adalah Al Mizan fi Tafsir al Quran sebanyak 20 jilid. Karyanya yang lain adalah Ushhul-e Falsafah wa Rawesy-e Realism (Prinsip-prinsip Filosofi dan doktrin Realisme) yang merupakan studi komparatif filosofi islam dan berbagai mazhab pemikiran anti islam khususnya marxisme dalam 5 Jilid. Hasyiah bar asfar yang berisi buku catatan pinggir atas al asfar al arbaah yang kini dianggap penafsiran paling modern terhadap karya terbesar Mulla Shaddra. Mushahabeh ba Ustad Corbin yang merupakan tanya jawab antara Thabathabai dan Henry Corbin mengenai Fundamental dalam Islam yang terdiri dari 2 jilid. Quran dar Islam atau kedudukan Al Quran dalam Islam dan berbagai karya lainnya berupa essay dan buku yang mencapai 96 buah.

     Berkat kegigihannya mengajar Filsafat di Hauzah Qom Iran kini secara umum telah sejajar dengan Fiqh dan Ushul Fiqh. Dan bidang filsafat yang awalnya kurang populer di Qom menjadi Pelajaran yang disegani hingga kini. Karena konsentrasi mengajarnya itulah Ulama ini rela mengorbankan karir fiqihnya sehingga tidak menjadi marja atau menyandang gelar Ayatullah Al Uzhma sebagaimana rekan-rekan semasanya.

Dari kegigihannya mengajar, telah tercetak para pemikir dan ulama yang mengembangkan studi Irfan, Filsafatm Politik, tafsir, dan sebagainya. Diantaranya ialah Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Murthada Muthahhari, Ayatullah Mehdi Haeri Yazdi, Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ayatullah Ali Khamenei, Ayatullah Ibrahim Amini, Prof. Dr. Henry Corbin, Prof. Dr. Sayyed Hossein Nasr, Prof. Dr. William Chithick dan sebagainya.


     Allamah Thabathabai wafat pada tahun 1981 dalam Usia 81 tahun dan dimakamkan di sisi Hazrat Ma’shumah kota Qom Iran.


Footnote : 
1 Thabathabai, “Tafsir Al Mizan Mengupas Ayat-ayat Kepemimpinan” (Jakarta, CV Firdaus, 1991) hal. 1
2 Thabathabai, “Tafsir Al Mizan”, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta : Lentera, 2010) hal. 12
3 Ibid, hal 13
4 Muhsin Labib, “Para Filosof” (Jakarta : Al Huda 2005) hal 260
5Muhammad Taqi Misbah Yazdi “Buku daras Filsafat Islam” (Bandung : Mizan 2003) hal xx, merujuk pada Allamah Ayatullah Sayyid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Mir-e Taban (Teheran: Baqir Al-Ulum,11), hh 60-62-penrj. Inggris
6 Muhsin Labib, “Para Filosof” (Jakarta : Al Huda 2005) hal 262

Senin, 14 Maret 2011

Dimensi Harmoni

Padahal...

Aku terlanjur mengira jarum jam telah berlari ditiap tarik nafas

Ternyata ia hanya merotasi angka yang sama namun menantang kita ukir langlangan yang berbeda


Ah...Kau harus tahu sesungguhnya Ia tidak benar2 berlari selama putaran jam masih bertiktok sambil bersimfoni mengenai pengulas kekinian bernama kita, kurasa...

semesta hanyalah sekepal saksi

bahwa nun disini telah terhadirkan sesosok hati yang tak bertepi
Selalu, aku telah menolak tunduk!!
Pada kemestian, 
juga pada rasa yang tak mungkin dapat dilawan dengan sempurna

Aduh Tuhan...kenapa mesti ada kata ‘dilawan’?

Sementara ada harmoni, bahwa aku menulis tentangmu dan kau menulis tentangku
Dengan dimensi yang berbeda kita telah saling berbicara dan bercerita
Tentang gelisah di penghujung bulan antara jeda dan kerutinan





Hanyutan ibukota, 10 Maret 2011

Masih Sekelebat tentang Kau

Tahukah kau?

bukannya aku mengetuk pintu kalbumu untuk meminta izin masuk


Aku terpaksa mengetuk pintu yang dulu pernah terbuka itu karena gemuruh kegaduhan di dalamnya menyebut2 namaku...

Bila kita harus kembali ke istana masing2



mengapakah kudengar kau memanggil namaku di bait sendumu?

Aku bertanya padamu,Bukankah cukup kita saling sapa
dr sebrang jalan


seperti orang kebanyakan?

kamu hadir lagi di simpangan Jakarta, 12 Maret 2011

Insyaf

Dalam denyut dinihari
daku dengarkan deringan dawai doremifasolasido

dibalut doa-doa dari dewata...


demikian




diamlah dunia denganmu duhai Duli...
Dengan dibekali dupa,Duduk dewi dewi di dasaran dermaga duniawi, dengannya...






durjana dirubah




.........DHARMA............






Jakarta sedang dipeluk kepagian, 13 Maret 2010

Potret Pendidikan Kita


Seseorang membutuhkan institusi pendidikan adalah untuk belajar. Sedangkan salah satu tujuan belajar yang aku ketahui adalah agar seseorang mengalami proses dari tidak bisa menjadi bisa. Namun hal itu menjadi rancu karena sistem pendidikan kita yang kacau. Pasalnya, banyak lembaga pendidikan sekarang menerapkan sistem seleksi pada calon siswanya. Padahal, siswa memasuki gerbang pendidikan untuk tahu bagaimana manisnya pengetahuan. Belum apa-apa mereka dihadang sederet materi pelajaran yang menjadi standar kepintaran bagi berjuta orang di indonesia.


Misalnya saja, saat memasuki SD seorang anak di test membaca dan berhitung. Ini aneh. Karena tidak semua anak saat akan memasuki jenjang SD pasti paham dengan baca dan hitung. Barangkali orangtua memasukkan anaknya di SD tersebut karena anak tersebut belum bisa baca dan hitung sehingga orangtua berharap gurunya akan mengajari si anak agar bisa. Sebagimana maksud belajar. Dari tidak bisa menjadi bisa.



Bagaimana nasib anak yang tidak bisa baca namun dia bisa melukis sehebat picasso? Apakah dia akan gagal dalam test dan tidak berhak bersekolah di tempat itu? Apakah anak yang baik hati dan memiliki jiwa sosial tinggi namun tidak pintar berhitung akan tersisihkan dari anak yang pintar membaca dan berhitung namun egois di lingkungannya? Jadi kenapa lembaga 'intelektual' kita tidak berpihak pada semua anak? Kenapa harus ada penjaringnya?


Memasuki tahap awal sekolah saja anak sudah terkotakkan dalam pendidikannya. Apalagi saat dia masuk di dalam kurikulum nantinya. Dia akan disodori berbagai macam mata pelajaran yang tidak dia sukai. Dipaksa untuk mau belajar hal-hal yang tidak sesuai dengan bakatnya. Lalu dinilai secara kognitif dengan peringkat angka-angka tertentu yang akan memberikan label pada seorang anak apakah dia bodoh atau pintar. Apabila dalam hal seni misalnya, dia memiliki prestasi gemilang, itu hanya akan diberi ucapan selamat dari seluruh sekolah. Tapi jangan harap itu akan membawanya meraih angka tertentu yang membawanya pada peringkat 1 sampai sekian. Karena hanya melalui jalan bahasa indonesia, matematika, bahasa inggris dan lainnya lah seorang anak dapat meraih peringkat. Tidak dengan hal lain.


Membaca berbagai hal itu, bagi orang yang memiliki rasa idealisme dan pemikiran beradab akan berfikir untuk membentuk sebuah lembaga yang tidak mengerangkeng kreativitas dan pemikiran siswa. Sayangnya, lembaga pendidikan macam ini selain sedikit juga hanya dapat dinikmati kalangan tertentu yang mau membayar mahal untuk anaknya. Kalaupun ada instansi yang berisi volunteer untuk program pendidikan tertentu yang biayanya minim atau gratis sekalipun, jangan kecewa bila hasilnya tak sebanyak jemari kita. Akhirnya bagi yang minim akses ke kota atau tak dapat merogoh kocek dalam akan tinggal gigit jari.


Siksaan terhadap intelektual tidak hanya terjadi di taraf pendidikan dasar, menengah dan atas. Samapai bergelar mahasiswapun kita semua harus rela dikerangkeng dalam hal pemikiran, misal sistem paket dalam satu semester. Tengok saja, untuk memenuhi syarat ke jenjang sarjana, kita harus melewati akumulasi jumlah SKS. Akhirnya mata kuliah yang memuat SKS tersebut harus diambil dengan'terpaksa' oleh mahasiswa karena tidak ada pilihan lain. Dalam 1 semester, mahasiswa maksimal mengambil 24 SKS. Mata kuliah yang tersedia untuk diambil adalah sejumlah SKS yang mesti ditempuh selama satu semester. Tidak ada pilihan lain. Dan jujur, aku pribadi selalu mengalami kesulitan di mata kuliah tertentu yang memang bukan bidang ku.


Mungkin utopis bila aku membayangkan, ada 35 SKS yang disodorkan pada para mahasiswa. Mahasiswa berhak memilih maksimal 24 SKS. Sehingga setidaknya mahasiswa memiliki kebebasan memilih untuk pendidikannya tersebut. Bukan terpaksa mengambil mata kuliah itu untuk kelengkapan jumlah SKS seperti yang selama ini terjadi. Betul telah ada penjurusan dalam program Studi masing-masing, namun selama ini, pasti ada satu dua mata kuliah yang bagi orang-orang tertentu sangat sulit terpahami karena bukan bakat dan keinginannya. Sehingga tidak ada rasa senang saat belajar.


Namun akan timbul pertanyaan dari mahasiswa yang dapat memperoleh IPK tinggi di setiap semester, “Lho? Bukannya kekuatan sugesti akan membuat semuanya menjadi lebih mudah? Saat kamu yakin kamu bisa, kamu akan dapat melakukan yang kamu mau”. Kelihatannya oke, namun pertanyaan dari akademisi seperti ini agaknya mengherankan dengan adanya penelitian bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecerdasan majemuk atau biasa disebut Multiple Intelligent. Kita lihat saja, apakah mahasiswa IPK tinggi tersebut mau mengajari dan berbagi pengetahuan dengan rekannya, apakah mahasiswa tersebut bisa memiliki kemampuan olahraga yang baik? Apakah mahasiswa itu dapat berorganisasi dengan baik?


Bila IPK tinggi tersebut ditunjang dengan prestasi non akademis yang bagus juga, tentunya kita patut gembira dengan anak-anak yang hidupnya terbekati ini. Tapi bagaimana dengan yang tidak? Bukankah tidak semua anak dari awal hidupnya terbekahi dengan beragam akses untuk pengembangan dirinya? Bukankah ada banyak bakat terpendam yang bahkan sampai seorang anak dalam tataran usia dewasa tidak dapat menemukan bakatnya? Untuk itulah kita belajar di institusi pendidikan, agar lebih mengaktual dari segi pendidikan, agar kita membuka cakrawala dalam bidang pemikiran.


Aku rasa, membiarkan siswa maupun mahasiswa memilih sendiri mata pelajaran atau mata kuliahnya dapat membuat kaum pembelajar lebih bertanggung jawab dan senang terhadap pilihannya. Seperti misal, mahasiswa komunikasi tak harus mengambil mata kuliah statistika. Namun bila mata kuliah lainnya akan menggunakan metode-metode seperti yang terdapat di mata kuliah statistika, mahasiswa akan menyadari sendiri bahwa untuk dapat memperoleh hasil maksimal dari mata kuliah yang dipilihya tersebut kita harus belajar statistik, maka dengan kesadaran penuh karena kebutuhan mahasiswa akan belajar statistik. Mencintai sebuah pelajaran karena ada unsur keterkaitan. Dan sekali lagi bukan karena dipaksa.


Begitulah yang aku bayangkan dengan pendidikan agar benar-benar menjadi sahabat bagi peradaban kita.


Salam Peradaban!!

Senin, 07 Maret 2011

Curhatan Editor In Chief

Saat aku menyadari, bahwa sebagai pemimpin redaksi sebuah pers mahasiswa, aku belum punya karya yang memenuhi Kriteria sebagai seorang yang ekspert di dunia tulis. Ah…menyakitkan kau tahu??? Saat partner organisasi mu mempertanyakan kemampuanmu. Dengan jabatan yang diraih karena faktor “emergency”. Jujur saja, Sudah lelah membela diri. Memang sebenarnya bukan sebuah perkelahian yang salah satu harus dibela. Repotnya, dalam otakku selalu ada pengacara apabila ada kata membela.
Akhirnya lebih baik mengakui bahwa aku payah. Puas?? Aku sendiri sudah otokritik. Justru aku sadar bahwa aku payah dan aku sulit mengejar itu maka sesuatu itu jadi lebih dalam rasanya. Maksudku, sesulit perahu yang melintasi sungai penuh sampah. Bikin otak macet bung. Begitulah…


Aku akan menceritakan padamu, bagaimana seorang Pemred bekerja. Hanya kilasan. Sedikit saja. Yang jelas, Mengkoordinatori liputan bukan hal mudah bung…
Kau harus menajamkan telinga dan rela berteman gigil malam untuk sekedar tahu tentang apa yang terjadi di kampus. Apa yang terjadi di republik ini. berdiskusi sampai perutmu keroncongan di akhir bulan untuk tetap menajamkan kekritisan pikir. Menganalisa kasus bawah tanah dan kasus yang di menara gading itu. Kalau tidak begitu, orang akan menertawakan mu dengan berkata “Masak Pemred nggak tahu ini….???”. Belum lagi sulitnya menagih liputan dari rekan-rekan reporter yang memang sulit untuk dipegang deadlinenya. Siapa sih yang bisa meminta dengan keras reporter yang belum selesai masa pendidikannya, tak digaji, kemudian membuat mereka total menulis liputan dengan seabrek tugas kuliah? Belum lagi, Meminta reporter sudut pandang ideal yang kita kehendaki, merangkum berita apapun yang sexy untuk diangkat, dan hal teknis lainnya yang menambah panjang keluhan ku atas keterbatasan media digital yang aku punya. Tapi sudahlah. Memang dari luar, orang melihat bahwa pemimpin redaksi harus yang paling bagus tulisannya. Dan kalau menuntut itu kawan, sama saja telah men-skakmat diriku. Dies!!!


Hidup harus menulis. Iya…aku tahu. Aku pikir itu hanya soal terbiasa. Aku tidak terbiasa menulis. Tapi hadapkan aku pada laptop 1 minggu, akan aku ciptakan karya. Tampak sedang mengkampanyekan diri sendiri nggak?? Tapi, aku punya dalih hasil kutipan rector kita nan tampan dan pintar itu, Seperti biasa, aku adalah pemuda yang menjanjikan masa depan. Bukan yang menengok kejayaan masa lampau. Menyadari bahwa keterbatasan fasilitas harus dilawan. Meniscayakan segalanya tidak perlu mengeluh. Tapi memang, tidak bisa disamakan keadaan orang satu dan lainnya. Semua pasti berbeda dengan anugrah yang tergenggam dan segala keunikan dalam hidup.


Kau tahu, tidak banyak karya yang aku hasilkan. Tapi aku tetap berfikir bahwa hidup adalah torehan kata-kata. Dengan kata-kata yang diprasastikan seseorang bisa panjang umur seperti Plato. Dengan kata-kata yang tertorehkan seorang bisa sehebat Soekarno yang kata-katanya dikutip sana-sini. Dan aku, tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa menulis itu sangat penting.


Saat Dia-orang yang kucintai-mengkritikku tajam dengan segala kelemahan yang memang aku akui, karena aku tak pandai mengolah kata dalam kayu olahan bernama kertas itu, aku hanya ingin membalasnya dengan tulisan. Aku ingin marah balik dan meninjunya dengan tulisan. Tapi apa yang aku punya?? Lelah menulis dengan pena. Lelah sekali. Otakku berfikir lebih cepat daripada tanganku dalam membatik kata. Saat aku mulai jenuh dengan keruwetan kata-kata dalam kanvas ku yang makin buram, aku mulai lelah menulis. Terulang begitu. Dan mengetahui bahwa materi membatasi gerakmu itu sama menyebalkannya saat kau tahu bahwa balon yang meledak tepat di depan hidungmu itu sangat tidak nyaman.


Ah, berterimakasih dengan plato yang mengungkapkan bahwa Alam materi mambatasi hidup kita. Alam Idea lah yang bebas. Idea ku berjalan terus secapat kilasan dalam roda F1 saat berkompetisi namun tidak ada media yang dapat melampiaskan itu. Tidak ada yang bisa menyeretmu ke sirkuit balap dan Berjaya.


Eranya digital kawan, bukan seperti jaman Marah Rusli yang cuklup berbahagia dengan pena. Bukan seperti jaman Taufik ismail yang berbekal tinta ia berkarya. Saat ini teknologi adalah sebuah keniscayaan. Aku sering mendengar temanku mengeluh saat kotak ajaib mereka bernama laptop rusak, mereka terbengkelai mengerjakan tugas, mereka terhambat belajar, mereka mengeluh kesana kemari karena laptop adalah senjata mereka dalam mengolah otak di dunia perkuliahan.tapi mereka tidak memahami bahwa mungkin aku mengalami hal yang lebih sulit dari itu. Aku harus terbirit-birit ke warnet yang dipenuhi keributan game online dan teriakan anak-anak kecil yang tak kenal lagi layang-layang karena tidak ada lahan bermain lagi di Jakarta.


Aku tidak memintamu pasti memahamiku kawan, tapi setidaknya kau tahu, bahwa aku juga membenci ketidakmampuanku dalam membuktikan diri dalam karya. Tapi aku masih punya mimpi. Menjadi penulis yang karyanya seindah pulau komodo. Aduh, seindah apa ya pulau komodo? Tak tahu lah. Yang jelas sekarang aku sedang menyelesaikan proyek yang berghubungan dengan pulau komodo. Jadi itu saja yang terlintas. Pokoknya aku pengen menjadi penulis dan aku akan belajar meraih itu kawan. Tidak selamanya aku akan begini terus. Aku punya gaya dan gengsi. Idealisme ku tak mati.



Kapan??


Bantulah aku meraihnya. Aku tak dapat berjanji dalam hal ini. bukan berarti aku tak muda lagi. Tapi ini bukan kepastian. Bantu dengan doamu. Sekali lagi, Bantu saja dulu dengan doa. Semoga masa pembuktian nanti, kita masih saling mengenal dan bersapa ramah sambil menertawakan masa kini yang telah jadi masa lalu.


Terimakasih telah menjadi partnerku yang selalu memotivasi ku dengan tekanan kata-kata dan cukup membuatku terbakar 'panas'.


Salah satu hal bahagia dalam hidupku adalah saat aku berpartner denganmu. Walau setiap hari rasanya ingin memakimu. Tapi akhirnya menyadari, bahwa akan jadi tak bagus rasanya punya partner selain dirimu.


Laptop pinjeman, di ruang senyawa kampus 7 Maret 2011.


@11.30pm

Dedicate to Chief Operating Officer


Parmagz Pers Mahasiswa Paramadina 2010/2011



Dondik Robini

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.