cerita tentang remah-remah

Selasa, 24 Juli 2012

3 Hari, 3 Kota


“Friends show their love in times of trouble.” Euripides

Patah hati tahun lalu akan jadi masa terburuk dalam hidupku kalau tidak ada sahabatku, Shei. Sakit yang aku rasakan itu bukan semata-mata karena di tipu oleh lelaki yang aku sayangi dan aku percaya. Tapi lebih karena  aku merasa begitu bodoh kenapa sampai tidak tahu kalau orang yang selama ini aku sayangi ternyata sudah berkeluarga. Lelaki itu begitu muda, pintar dan tampak sangat baik sampai suatu hari istrinya mengirimkan SMS dengan cara baik-baik beserta MMS foto keluarga mereka.

Aku yang tinggal jauh dari orang tua saat itu benar-benar goyah. Tidak tahu bagaimana mengontrol sakit hati  ini. Aku hanya mengirimkan SMS ke Shei, “Aku sakit, please ke Kostan.”

Tak lama, Shei datang dengan wajah khawatir, aku memeluknya dan bilang, “Dia udah punya Istri Shei....”

Shei kaget dan bilang, “Ya ampun! Kayaknya orangnya baik gitu. Ayo kita balas dendam!”

“Yang jelas, gue nggak mau ada kontak lagi sama dia. Dan gue nggak mau ganggu keluarga dia. Ya ampun shei... Anaknya lucu banget shei, nggak mungkin gue bisa punya nyali untuk sekedar balas dendam.”

“Trus, elu mau gimana? Mau nangis terus gini? Elu pengen ngapain?”

“Gue  kangen rumah Shei, pengen pulang ke Solo, tiba-tiba kangen sama kakak gue yang suka gue curhatin tentang dia. Tau sendiri,kakak gue dari dulu nggak pernah suka cowok ini. Gue pengen meluk dia dan bilang maaf nggak pernah dengerin apa kata dia. Tapi nggak mungkin...”

“Hei.. Jakarta Solo deket! Mungkin aja. Ayo Packing!”

Shei langsung membuka lemariku dan mengelurkan beberapa bajuku. “Ayo ke Solo. Elu siapin baju. Gue balik ke Kostan dulu bawa ransel dan baju gue. Elu pack peralatan mandi ya! Buruan. Udah jam 5 sore nih.”

“Shei... Nggak mungkin. Mau naik apa?”

“Emang naik apa biasanya?”

“Kereta...”

“Nah! Ayo naik kereta. Buruan! Gue balik ke kostan dulu ya.”

“Serius? Gue bokek kalau buat begituan.”

“Gue ada duit kok. Elu gue utangin.”

Sikap shei yang seperti itu saja membuatku tidak sempat menangis lagi. Aku mengemasi baju dan peralatan mandi ku. Menunggu Shei yang sedang melakukan hal yang sama di Kostnya. Aku tidak menyangka dia akan segila ini. Ini memang hari Jumat. Sabtu minggu kuliah jelas libur. Tapi membayangkan suasana kereta yang penuh sesak saat weekend saja sudah membuatku gila.
5 menit kemudian, shei datang dengan ransel nya. Dia segera mengepack bajuku di ranselnya juga sambil berceramah tentang kesia-siaan ku menangisi sesuatu yang tidak pantas di tangisi. Dia juga sudah menjelaskan kalau sebenarnya keuangan dia juga pas-pasan. Saat itu, Aku tidak sempat berfikir apakah yang kita lakukan cukup waras atau tidak. Yang jelas, jam 6 malam, kami berdua berangkat ke Stasiun Jatinegara.

Sudah ku duga. Tiket kereta ekonomi Bengawan pasti sudah habis. Dengan keputus asaan ku, aku tidak lagi dapat berfikir. Yang jelas, kami sudah di stasiun dan akan konyol jadinya andai kami kembali ke kost lagi tanpa hasil apa-apa.

Stasiun malam itu penuh dengan orang berpakaian warna orange. Mereka adalah suporter Jakmania yang ingin mendukung Persija berlaga ke Semarang. Saat itu, aku lupa apakah Shei atau aku yang berinisiatif, kami malah berakrab ria dengan para suporter itu dan tanpa membeli tiket, kami diajak mereka ikut sampai Semarang. Mereka bilang, setiap kali pertandingan bola, 2 gerbong paling belakag kereta itu disediakan khusus untuk suporter dengan harga khusus juga. Jadi kalau kita berdua ikut, kita tidak perlu beli tiket manual. Toh tiket ekonomi Jakarta-Semarang sudah habis.

Nekat, akhirnya aku dan shei bergabung dengan kumpulan suporter itu. Di dalam gerbong, kita berdua di beri tempat duduk oleh para suporter yang sebagian besar itu lelaki. Dari situ aku belajar bahwa para suporter bola itu tidak selamanya urakan. Mereka cukup baik dan hanya meminta kami membayar masing-masing Rp 15.000,00. Jadi kami berdua hanya perlu membayar total 30.000 Jakarta-Semarang. Penghematan yang luar biasa. Kami ikut menyanyi yel-yel Persija dan merasakan atmosfir kekeluargaan di sana. Energi mereka sangat luar biasa! Sepertinya mereka rela melakukan apa saja demi Tim pujaan.
Keesokan harinya, sesampainya kami di Stasiun Poncol, kami berpisah dnegan para suporter itu. Bukannya langsung berlanjut naik kereta ke Solo, aku dan Shei malah lanjut ke Tugu Muda Semarang. 

Senyum Shei di Tugu Muda Semarang 
Aku benar-benar lupa bahwa kemarin sore nya aku patah hati. Aku dan Shei makan di pinggir jalan dengan harga luar biasa murah. Kantong kami sangat aman saat itu. Di tugu muda, kami berfooto ria seolahkemarin tidak ada masalah apa-apa.

Jam 12 siang, kami kembali ke Stasiun Poncol untuk melanjutkan perjalanan ke Solo. Beruntunglah, kali ini kami bisa dengan tertib membeli tiket. Tidak ada Jakmania lagi yang melindungi kami dari petugas pemeriksa karcis soalnya.

Shei sama sekali tidak mengungkit tentang patah hati ku. Membuat ku lebih baik. Kita berdua duduk di pintu kereta yang lenggang. Menikmati udara segar Semarang sepanjang perjalanan. Melewati sawah yang hijau yang tidak pernah kita temukan di Jakarta.

Aku, di depan Lawang Sewu Semarang, tidak punya uang untuk masuk ke dalam :D
“Woooow...!!! SOLOOOOOO!!!!” Teriak Shei norak sesampainya kami di Stasiun Balapan Solo. Dengan bersemangat, dia melompat kesana-kemari minta foto hampir di seluruh sudut Stasiun Balapan yang memang penuh Unsur Jawa. Perasaan ku jadi ringan luar biasa melihat kegembiraannya bisa menginjakkan kaki di Kota ku. Setelah puas berfoto, aku dan Shei bergegas naik bus kota yang menuju rumahku.

Betapa kagetnya keluarga ku tahu aku pulang. Aku memang tidak memeberitahu mereka kalau aku akan pulang. Aku memeluk Ibu dan bapakku, dan buru-buru mencari kakak ku. Selagi Shei mandi, aku menceritakan semuanya tentang patah hati ku. Kakak ku mengerti dan tidak menyalahkan kebodohanku. Ia juga senang ada Shei yang bersama ku di saat aku seperti ini.

Malam nya, aku dan Shei sempat menikmati malam minggu di Kota Solo yang Indah. Kami menghabiskan waktu berdua sampai larut malam. Kali ini, aku yang membayar ongkos jalan kami karena aku Ibuku memberi suntikan dana.

“Pulang kapan?” Tanya Ibu ku, Ibu tidak tahu masalah ku tentu saja. Pertanyaannya sama saja dengan kode bahwa aku harus segera kembali ke Jakarta untuk kuliah. Aku dan Shei membaca kode itu dan kita segera berkemas lagi untuk pulang ke Jakarta.

Kami berlari-lari dari depan Rumah ke Jalan Raya menuju Stasiun. Di jalan, seorang nenek mengingatkan, “Ojo mlayu-mlayu, engko ndak tibo...” yang artinya, “Jangan lari-lari, nanti jatuh lho....” Shei tertawa mendengarnya. Dia bilang, “Inilah Solo! Semua orang berlaku lemah lembut dan ramah. Kayak gitu aja ada yang negur. Hahahaha....”

Di stasiun Purwosari Solo, kami ingin langsung membeli tiket ke Jakarta. Aku baru ingat bahwa kereta ke Jakarta hanya ada sore atau malam.

“Kalau gitu kita ke Jogja aja!”
Gaya Shei di Jogja

“Gila lu!” kataku.

“Eh, gila ya sekalian gila aja. Bekpekeran ke Jogja. Katanya kan deket. Malemnya baru kita cari kereta api ke Jakarta. Senin kuliah lagi. Kapan lagi gue bisa ke Jogja sama elu.”

“Oke juga, yuk!”

Ternyata, kami gagal dapat tiket Kereta Pramex jurusan Solo-Jogja. Kami berjalan ke daerah Kerten untuk naik Bus. Di bus kami istirahat total. Jujur saja, aku belum pernah ke jogja dan aku cukup buta daerah jogja. Sebenarnya aku juga buta daerah Semarang. Tapi toh ahirnya bisa sampai ke Tugu Muda juga, Harusnya kami juga bisa menjelajah Jogja sebentar sebelum lanjut ke Jakarta.

Bahkan aku lupa, saat itu bus berhenti dimana. Tau-tau kami naik bus lain yang menutunkan kami di Marioboro. Kami berjalan sangat jauh sampai Alun-Alun joga, berfoto di sepanjang jalan dan memasuki  Jogja Galery. Berfoto di City Walk Jogja dan dimanapun yang mungkin. Modal kami berdua Cuma kamera HP Nokia 5800 Xpress Music. HP kami berdua sama. Jadi secara bergantian, kami memotret apapun benda yang bisa cukup lama diam.

Tidak terasa, jam 6 malam! Kami berdua mulai panik takut tiket Kereta menuju Jakarta habis. Dengan becak yang berjalan bagai cacing kegendutan, akhirnya kami sampai ke stasiun . Bukan stasiun Tugu, tapi stasiun Lempuyangan yang menjual tiket Ekonomi. Kalau kami ke Stasiun Tugu, kami hanya bisa menemukan tiket Bisnis dan eksekutif. Perjalanan mendadak ini terlalu mewah jika harus pulang dengan harga tiket selangit.

Kami tidak bisa foto bersama, karena harus bergantian memotret satu sama lain
Di depan gerbang Alun-alun Jogja 
Beruntunglah, kami dapat tiket jam 8 Malam Jogja-Jakarta. Kami akan sampai di Jakarta jam 6 pagi, Kelasku jam 9 pagi. Selain menantang, kami juga sangat hemat saat itu. Aku memeluk Shei di kereta dan bersandar di bahunya saat aku merasa lelah. Aku ingat kata Leo Buscaglia,”A single rose can be my garden. A single friend, my world.”

Sesampainya di Jakarta pada senin pagi, kami masih punya energi untuk kuliah. Sampai sekarang, aku masih punya banyak rencana gila dengan Shei. Kami pernah dengan sangat hemat melakukan perjalan ke Jayapura dengan pesawat Hercules. Aku yakin, bersama orang yang tepat, kita akan melakukan segalanya dengan tepat dan bahagia. 

Melihat Trailer film Mama Cake, aku jadi teringat perjalanan ku dengan sahabatku ini. Walau memang tidak sama persis, perjalanan kami bernuansa epic rasanya. Mungkin, hari paling beruntung dalam hidupku mungkin adalah hari dimana aku mengenal Shei. Terimakasih, Tuhan... Ini memang unforgetable friendship moment...

Sabtu, 21 Juli 2012

Resensi Buku : Dear You

Judul : Dear You, Demi apa? Demikian aku mencintaimu
Penulis : Moammar Emka
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 382 Halaman Soft Cover



Kesan pertama yang tertangkap di dalam buku ini adalah : Romantis!


Sejak pertama kali melihat buku ini bertengger dengan manis di deretan rak buku Gramedia, pandangan mata langsung tertohok pada cover buku yang eyecatchy. Setelah dibuka, kita akan disambut dengan layout  yang keren banget. Kertas yang digunakan juga ramah mata khas buku-buku Gagas media. Design buku yang tampak out of the box ini memang patut mendapat apresiasi tersendiri. 


Kalau tidak melihat nama "Moammar Emka" -seorang penulis jaminan mutu-, kita akan berfikir kalau buku ini berisi hal menye-menye khas wanita. Padahal jelas, bahwa ini adalah tulisan seorang lelaki yang seolah-olah sedang dilanda virus cinta. 


Membuka halaman-halamannya yang penuh dengan gambar-gambar indah membuat kita berfikir betapa kreatifnya sang ilustrator. Sepertinya orang-orang yang bekerja di balik ini dari mulai kulitnya sampai isinya mungkin memang sedang jatuh cinta. Seperti dalam sampul belakang bukunya, "Dear You, Buku ini dipersembahkan untuk cinta, demi cinta dan kepada cinta." Tata letak buku yang memang lain daripada yang lain ini patut dijadikan inspirasi oleh orang-orang yang memang berniat membukukan sebuah puisi atau sekedar quote cinta. 


Buku ini bukan sebuah novel picisan. Tidak ada nama tokoh di dalamnya. Tidak ada daftar isi. Kutipan-kutipan kata cinta ini memiliki nomer urutan dan selalu diawali puisi dengan kata "Dear You,..." seolah-olah semua puisi memang ditujukan kepada 1 orang yang memang menginspirasi imaginasi seorang Moammar Emka. Berikut ini contohnya :


Dear You, 
Cinta tak pernah cukup

Tak pernah ada kata cukup bagi cintamu
itulah sebab kenapa aku setia mengikuti
jalanmu. Mempercayakan hatiku
dalam genggamanmu. Ikhlaslah yang membuatku 
larut dalam lautan cintamu

I love you

---
49. Seketika aku inginkan
kegelisahan. Di situ aku 
selalu menemukanmu.
Gelisahkanlah aku, dan
masuklah ke rongga 
pikiranku!
(Dear you, hal 59)

---
72. Malam. Aku sudah kehabisan akal. Tapi percayalah, cintaku kekal
(Dear You, hal 100)

----
74. Biarkan rasa menjadi tuan di negeri sendiri. Menjadikanmu rindu di setiap pahatannya
(Dear You, hal 67)

---
49. Cuma ada kata ENTAH, setiap kali kuasamu atas hatiku menggugat rindu ini bangkit lagi, entah untuk yang keberapa kali.
(Dear You, hal 223)

---

Bagaimana? apakah cuplikan diatas cukup romantis? Bagi kamu yang terbiasa mendengar lagu cinta ala Band Wali, ST 12 dan kawan-kawan melayu lainnya, untaian kata dari Moammar Emka ini jelas jauuuuuh lebih romantis dari kata-kata yang ada di pasaran. Mungkin kata-kata di dalam buku ini memang bagus untuk di jadikan sebuah pesan singkat romantis via ponsel kepada kekasih, update status facebook maupun di twitter. Karena kutipan pendek nan penuh cinta hadir di sini dengan nafasnya yang baru. Bukan sebuah kelanjutan dari kalimat sebelumnya sehingga memang bisa kita potong-potong layaknya kutipan cinta romantis. Namun perlu di tegaskan di sini, walaupun dengan nafasnya yang baru, dari awal sampai akhir memang muaranya sama. Kepada cinta. Buku ini juga bukan berisi gombalan konyol ala anjinggombal.com dan juga tidak bisa di bilang lebay. Romantis. Itulah yang memang pantas di sandang oleh Dear You. 


Aku termasuk orang yang percaya bahwa nilai keromantisan sesuatu tergantung subyek yang menilai. Dalam arti lain, buku ini tepat dibaca bagi orang yang sedang kasmaran. Namun bagi mereka yang sedang skeptis apatis terhadap cinta, buku ini hanya menyuguhkan deretan kata-kata bullshit. Apa sih yang memang bagus di mata orang yang sedang membenci sesuatu? 

Bagi aku sendiri, kata-kata cinta yang baik adalah yang membuat siapapun yang membacanya ikut merasakan jatuh cinta. Aku yang terbiasa membaca syair-syair dari Faridduddin Attar, Firdawsy, Rumi, Saadi, Imam Khomeini atau dari sastrawan mesir Musthofa Luthfi al Manfaluti, akan menilai kata-kata di dalam buku ini belum ada apa-apanya di bandingkan syair cinta karya sastrawan atau sufi diatas yang memang bernafaskan irfan atau sufisme. Aku sempat dibuat jatuh cinta akut dengan karya Abdurrahman Jami' dalam Yusuf dan Zulaikha, sebuah roman alegoris yang membuatku seolah merasakan penderitaan rindu Zulaikha dan kebahagiaan penyatuan keduanya. Mungkin karena Moammar Emka masih menggunakan term cinta kepada "Seseorang" bukan kepada "SESUATU"  sehingga aku yang terbiasa membaca cinta kepada "SESUATU"  merasa bahwa perasaan ku biasa saja setelah membaca buku "Dear You,..." ini. Buku ini, belum cukup membuat aku jatuh cinta seperti saat aku membaca Firdawsi atau Attar, Atau mungkin, hanya karena selera ku saja yang memang merasai cinta sebagai sesuatu yang spiritual dan universal. Bisa saja, kita bilang cinta pada Tuhan, tapi juga berlaku cinta pada Manusia. Seperti cinta Qeys pada Layla, cinta Layla pada Qeys. Saling mencintai sebagai manusia. Saling mencintai juga kepada Tuhan dan karena Tuhan. 

Intinya, buku ini bagus untuk mereka yang mencari inspirasi dalam percintaan maupun karya seni. Dengan harga Rp 46.000 dan bonus 2 kartu cinta yang cantik, buku ini layak di miliki sebagai hadiah kepada kekasih pujaan. Buku ini juga tidak menyita waktu kita dalam membacanya. Karena membacanya secara acak dari depan ke belakang, baru ke tengah dan dari manapun, deretan kata puitis nan romantis ini tetap enak di baca. 

Jumat, 20 Juli 2012

Musim Panas





Kau tahu? Kadang cinta seseorang hadir seperti liburan musim panas. Begitu menyenangkan dijalani, begitu bebas, begitu berharga untuk dinanti. Namun Kau juga harus tahu bahwa musim panas ini akan berakhir. 


Ingatkan lagi ucapanku saat itu, "Kita sama-sama tak berjajanji apapun, tak akan terulang lagi hal yang sama seperti ini, bahkan di musim panas tahun depan." 
Kau tanya, "Mengapa? Biarlah segalanya akan terjadi secara alami."
"Tidak bisa, Karena keadaan kita akan berubah." Jawabku nanar, air mata tertahan di permukaan membuat seolah masa depan begitu memudar di depan mata. Seolah mata ini tak sanggup lagi menahan ada kata yang belum terucap, "tidak bisakah kau mengerti?"
Saat itu, bibirmu buru-buru meminta mataku untuk tak menangis. Kau tidak pernah berhasil menerjemahkan mataku yang jadi kata-kata.

Telah aku katakan, Perubahan itu bukan tentang cintaku atau cintamu yang telah hilang
Hanya saja, pergantian musim telah menebas segenggam keberanian untuk mengungkapkannya
Kita berdua telah terbiasa dalam menjalani musim dingin sendirian, membuat kita beku dalam kekakuan. Membuat kita merasa bahwa kita bisa menjalaninya tanpa satu sama lain saling memandang. Dan mataku telah berjanji kepada bibir mu, aku tidak akan menangis. 


Harus kau tahu, aku tidak menyesal bahwa pertemuan kita hanya sekejap seperti musim panas ini...


Sejak awal kita sepakat bahwa pertemuan kita harus tetap terjadi untuk mengisi sebuah bab dalam buku kehidupan kita. Bab itu bisa jadi milik kita berdua sekaligus, kemudian kita beri judul bab itu dengan "kenangan". Aku ucapkan, selamat memulai bab baru kepadamu atas musim panas yang kita lewati bersama dan perpisahan kita. 


Seperti saat kita pertamakali bertemu, aku bertanya, "Untuk apa kau kemari?" Kau jawab, "Untuk membuat kenangan." Aku ingat bahwa kau tidak pernah mengagendakan sebuah masa depan. Aku pun begitu. Kita terus menamainya kenangan.


Meski tanpa aku, berjanjilah untuk bahagia. Seperti aku yang menjalani perpisahan ini tanpa perlu menangis.


"Kau tak bisa, melepasan sesuatu dan berharap nasib dengan sendirinya akan membawamu kembali lagi. Kau harus mengikat atau menandainya agar Ia dapat menyusuri lagi jalan pulang, ke hatimu." Kataku.
"Kita lihat saja nanti." Jawabmu ringan, seringan rambutmu yang terhembus angin musim panas. Ia juga turut menerbangkan harapan-harapan masa depan seringan kapas. Aku tahu ini adalah saat yang tepat untuk melepas segalanya.

Karena Kadang cinta seseorang hanya hadir seperti liburan musim panas.
Begitu menyenangkan dijalani, begitu bebas, begitu berharga untuk dinanti
dan, musim panas ini memang telah berakhir...

Ps : Aku bahagia dengan yang telah terlewati. 

Jakarta, 20-21 Juli 2012

Rabu, 18 Juli 2012

Lowongan Kerja : Driver Exclusive

Kami adalah penyedia layanan untuk Supir Perusahaan.
Saat ini dibutuhkan segera banyak pengemudi mobil Mercy Viano untuk wilayah Jakarta Raya


Requirements:
1. Pria / Wanita
2. Usia Maks. 40 thn
3. Pendidikan Min. SMA / sederajat
4. Memiliki SIM A / B UMUM
5. Memiliki Pengalaman Kerja sebagai Driver Min. 2 thn
6. Munguasai wilayah Jabodetabek & Pariwisata Jakarta
7. Mampu berbahasa Inggris aktif/pasif
8. Pernah mengikuti pelatihan /kursus yg berkaitan dengan kendaraan bermotor
9. Gaji upah minimum Pemprov DKI plus Insentif
10. Karyawan akan dilindungi dengan Jamsostek.


Segera kirimkan CV plus foto ke syaharbanu.ayu@gmail.com. Jika ada pertanyaan, silahkan ajukan pertanyaan ke 0857 2824 1990.  Terbuka bagi siapapun yang saat ini tinggal di luar Jakarta namun berkomitmen untuk bekerja di Jakarta.

Minggu, 15 Juli 2012

Jalan Bareng Korean Students Di Global Exchange Poomashi 2012

Senin lalu (9/7) Aku bersama komitee GPYC (Global Peace Youth Corps) memandu anak muda Korea yang sedang mengikuti program Exchange Global Poomashi di Jakarta-Bandung selama 10 Hari. Kegiatan yang kita pandu adalah belanja di Pasific Place. Mr. Dong Chan Kim yang memilihkan tempat belanja untuk mereka. Aku sempat memprotes Mr. Kim yang membawa anak-anak Korea ke Pasific Place karena tempatnya biasa saja dan cenderung sepi. Aku pikir Grand Indonesia lebih baik daripada Pasifik Place. Di Pasific Place tidak ada spot khusus kebudayaan Indonesia dan aku pikir tidak ada yang menarik di sana selain kemewahan. Di Grand Indonesia, kita masih bisa melihat banyak budaya Indonesia lewat gerainya dan alun-alun Indonesia nya.


Tarell Girang banget bisa ke pasific Place
Okelah, mungkin pemilhan tempat dari awal memang sudah salah. Beberapa anak Korea bahkan terlihat tidak membeli apapun. Maklum sih, tidak semua peserta acara Internasional itu kaya. Beberapa orang mungkin bisa berangkat karena sponsor. Bukan karena orang kaya, sama seperti aku juga dulu. 


Aku bersama Tata-komite GPYC lain- memandu 2 cowok Korea yang bilang kalau dia butuh Shampoo. Akhirnya toko pertama yang kita kunjungi adalah swalayan di lantai bawah. Lupa itu lantai berapa. Aku juga ngajakin Tarell yang ngeregek minta jalan-jalan. Berharap, semoga dia bisa latihan buat ngobrol sama orang asing pakai bahasa Inggris pas-pasannya.


Tata, Tarell dan 2 Cowok Korea yg kita temenin belanja
2 cowok Korea yang aku guide itu bernama Yong Joon Lee dan yang 1 nya lupa. Joon Lee yang pengen di panggil dengan nama Indonesia Jono ini mampir ke tempat jualan buah-buahan. Aku sempet nyaranin dia beli mangga harum manis dan manggis. Dia bilang, dia seneng banget sama buah tropis dan ngambil 4 biji Mangga harum manis super besar dan 1 ikat manggis. 


Setelah berkutat dengan buah-buahan,  dia bilang kalau dia butuh shampoo dan Hair-drier. Aku dan Tata shock karena nggak biasa banget cowok cari Hair-drier, apalagi rambut si Jono ini cepak banget. Harusnya handuk aja cukup kan? Dan untunglah dia nggak jadi beli barang itu karna harganya mahal. Aku tanya, apa di hotel nggak ada Hair-Drier? Mereka jawab, "I think not available. Actually, we dont know about it. Not yet go to Hotel." Aku jadi curiga, jangan-jangan panitia ngasih mereka hotel murahan lagi -__-.


Tujuan selanjutnya adalah ke toko Nike. Jono berburu baju olahraga branded yang langsung dia pakai di toko itu bahkan sebelum di bayar. Aku nggak tau apakah itu memang kebiasaan di Korea atau cuma dia aja yang gitu. Aku sering liat juga sih di drama dan film Korea tokoh nya beli baju baru dan langsung dipakai saat itu juga.


Oh iya, tarell seneng banget di toko ini dia bisa liat Jersey asli dan berbagai perlengkapan bola yang mahal. Sayangnya, dia nggak punya duit juga buat beli. Akhirnya dia cuma bisa foto-foto sama barang itu. Sambil diliatin sama Karyawan cowok yang jagain barang-barang Nike. 



Selanjutnya, aku nemenin mereka ke Polo Shop. Disana kita kedatangan delegasi korea lainnya yang bikin Polo Shop sempit itu berisik banget! SPG Polonya sampe pusing karena anak-anak Korea bongkarin lipetan rapi Polo, semena-mena, nyobain baju tanpa masuk ke ruang ganti. Karena lumayan banyak juga yang masuk ke toko itu dan nyoba-nyoba. Ada yang sibuk cari ukuran buat pacarnya sampai udah dibayar tapi ganti ukuran, ada yang sibuk ngomentarin temennya. dan berbagai kegaduhan seru lain. Setidaknya saat meninggalkan toko, aku bilang minta maaf ke SPG nya. Untunglah banyak juga yang beli Polo, jadi worthed lah tokonya di acak-acak... Saking lamanya di Polo Shop, Tarell sampe Boring banget dan jidatnya mulai membentuk motif batik. 


Tarell cuma bisa megang sepatu harga jutaan. Kasian... :P
Di Korea ada Polo dan Nike juga, kenapa mereka masih semangat banget buat beli  International Branded itu ya??


Tunggu jawabannya di tulisan berikutnya!

Minggu, 08 Juli 2012

Pergeseran Gender dalam Seni Merajut


Dulunya di daerah Eropa, merajut adalah kesenian milik laki-laki karena merajut dianggap cukup rumit untuk dikerjakan wanita. Semua pekerja rajutan komersial adalah lelaki. Lelaki biasa mengobrol sambil mengisi waktu luang dengan merajut. Sampai-sampai para tentara yang di medan perang dunia I dan II harus merajut sendiri kaos kakinya pada musim dingin. Karena kaos kaki rajutan yang dikirim negara ke medan perang tidak pernah cukup banyak untuk ribuan tentara. Sehingga merajut merupakan pekerjaan di waktu senggang para tentara. SSungguh aneh mendapati tentara yang tidak bisa merajut karena akan dianggap sebagai lelaki manja yang hanya mengandalkan stok kaos kaki rajutan dari negara. Kelihaian para lelaki di Eropa membuat rajutan juga membuat para wanita sering memamerkan topi, sarung tangan dan syal hasil kreasi pacar atau suaminya di pesta-pesta musim dingin. 




Bahkan, di sekolah-sekolah daerah Scandinavia dulu, seorang lelaki tidak akan bisa lulus sekolah kalau belum bisa membuat sepasang sarung tangan rajutan. Sehingga kuat dugaan bahwa rajutan juga mempengaruhi kualitas SDM lelaki pada saat itu.


Di daerah Arab dan Mesir, para pria juga merajut untuk membuat permadani sebagai pekerjaan maupun melengkapi perlengkapan rumah tangga. Ada banyak penemuan kuno yang mengungkapkan bahwa merajut adalah salah satu kekayaan budaya di daerah Arab. Umumnya pekerjaan itu juga dilakukan para lelaki.

Sekarang, pekerjaan merajut telah diambil alih oleh wanita. Wanita yang bisa merajut diangap sebagai wanita yang lembut dan feminin. Di dalam dongeng sering di ceritakan sosok nenek yang sering duduk di kursi goyang sambil merajut topi untuk cucunya. Juga sering diceritakan bahwa ibu hamil merajut baju-baju mungil untuk anaknya yang masih di dalam kandungan.

Pergeseran pekerjaan antara lelaki dan perempuan itu mungkin juga terkait dengan revolusi Industri di perancis yang membuat para wanita juga menjadi buruh di pabrik-pabrik rajutan dengan bayaran yang lebih rendah dari lelaki. Buruh lelaki di pabrik tekstil hampir semuanya tergantikan dengan buruh perempuan sehingga membuat beberapa pekerjaan yang awalnya milik pria menjadi pekerjaan milik wanita sampai sekarang. 

Sayang sekali ya... kalau seni merajut masih jadi milik lelaki, akan romantis jadinya kalau kita bisa memakai syal bikinan pacar. Sekarang sih malah terbalik, lelaki yang selalu berharap dapat syal rajutan tangan dari wanita seperti di komik-komik jepang sebagai tanda cinta >,<. Sering ada cerita di komik romantis jepang kalau syal atau sweater rajutan tangan adalah kado natal yang paling romantis dari perempuan ke lelaki yang dicintainya.

Bahkan aku sempat belajar merajut demi membuatkan calon pacar syal rajutan, siapa tahu berguna untuk menemaninya melewati musim dingin. Kalau tau sejarah awalnya begitu, aku tidak akan terlalu berusaha membuatnya... ^[T__T]^ Sampai-sampai aku meminjam buku teknik merajut milik Nila dan belajar merajut darinya.

Sekarang aku tidak lagi melanjutkan rantai rajutanku karena tidak tahu mau di berikan ke siapa. Aku pun berfikir bila membuatuhkan syal, aku akan memesannya saja pada ibu pembuat rajutan yang biasa berjualan di depan Trans TV. Walau agak mahal, aku senang membantu Ibu itu supaya bisa terus berkarya di saat ibu tua yang lain sudah tidak lagi produktif.


Sumber : Buku dongeng Princess of the Midnight Ball karya Jessica Day George dan berbagai sumber internet yang disarikan ulang. 


Selasa, 03 Juli 2012

Jejak Cinta Di Antara Salju, Konferensi, dan Ziarah di Iran



(Dimuat di Majalah ITRAH edisi Juli 2012)

Rasanya seperti baru kemarin saat teringat masa-masa menginjakkan kaki pertama kali di negeri para Mullah Januari lalu. Masih jelas terbayang poster-poster selamat datang untuk para delegasi peserta konferensi Islamic Awakening, di lokasi-lokasi strategis bandara. Saat itu, adanya poster tersebut sangat melegakan hatiku karena bepergian sendiri ke luar negeri cukup membuahkan kekhawatiran-kekhawatiran seperti takut  tidak ada seorangpun yang menjemputku di bandara, gagal mendapatkan visa yang tidak sempat aku urus di Indonesia, dan yang lainnya.

Pemandangan Salju di Tehran
Kekhawatiranku semakin sirna ketika menyadari ada delegasi dari Malaysia yang berada satu pesawat denganku, yang juga belum memperoleh visa. Di bandara, panitia meminta dokumenku untuk pengurusan visa. Setelah urusan visa beres, aku pun keluar dari bandara. Aku menggigil karena dinginnya udara dini hari musim dingin bersalju di Teheran. Sejak awal, aku tidak mengharapkan fasilitas yang mewah selain penggantian tiket pesawat seperti yang dijanjikan panitia. Tapi melihat fasilitas awal yang aku dapatkan membuatku berfikir ulang tentang Iran karena ini diluar prediksiku. Aku pikir Iran adalah negara miskin yang sedang prihatin sehingga mungkin saja aku hanya akan menginap di asrama sederhana. Ternyata, aku malah dijamu dengan fasilitas kelas 1 di Hotel Internasional Azadi bintang 5 dengan kamar yang besar dan sangat hangat. Dari jendela kamarku yang terletak di lantai 5, aku bisa melihat gedung-gedung bergaya klasik, sisa-sisa salju, dan bukit yang tampak tandus dari jauh. 

Di Rumah Rahbar Sayyid Ali Khamenei
Rasanya seperti mimpi menjadi satu dari 20 Delegasi Indonesia dalam Acara The Islamic Awakening and Youth Conference yang dihelat di Milad Tower Tehran selama 3 hari. Aku juga akan bergabung dengan  sekitar 1200 orang delegasi lain dari sekitar 80 negara dari seluruh dunia. Konferensi hari pertama berlangsung dengan pengamanan ketat karena konferensi akan dihadiri oleh Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dan Sekretaris Jenderal konferensi Pemuda dan Kebangkitan Islam, Ali Akbar Velayati. Aula konferensi begitu besar dan penuh dengan teriakan bersemangat dalam berbagai bahasa membuncah dimana-mana. Teriakan takbir, seruan anti Amerika dan Israel membahana di setiap sudut ruangan. Bahkan terkadang ada orasi ditengah-tengah konferensi oleh para delegasi yang juga disambut dengan teriakan bersemangat yang lainnya.

Panitia menyediakan fasilitas penerjemahan, berupa headphone dengan pilihan bahasa Parsi, Inggris dan Arab. Setelah aku memasang headphone dan memilih bahasa Inggris sebagai terjemahan, segalanya menjadi jelas. Aku bisa mengerti apa yang dibicarakan di podium. Selain itu, konferensi ini juga kental suasana demonstrasi ala jalanan dengan banyaknya orator ulung yang menyampaikan pidatonya bahkan sebelum mereka dipersilahkan. Mereka berbicara dengan bahasa negaranya masing-masing tanpa mimbar. Aku membayangkan, apabila hal itu terjadi di Indonesia pasti orang itu akan ‘diamankan’ demi berlangsungnya konferensi yang tertib. Tapi ternyata pihak panitia membiarkannya seolah-olah sudah mengalaminya setiap hari.

Asalouyeh
Konferensi selanjutnya tidak lagi dihadiri oleh presiden dan pengamanannya pun tidak seketat konferensi awal. Kali ini, para delegasi dibagi menjadi beberapa kelompok dan memasuki ruang konferensi yang lebih kecil untuk berdiskusi. Di sana kami membicarakan tentang kemerdekaan negara-negara Islam, khususnya Palestina dan negara-negara Teluk yang sedang bergejolak. Juga dibahas tentang pendidikan, wanita dan anak-anak, teknologi, media dan lain-lain. Sebagian peserta ada yang diminta bicara untuk menceritakan kondisi di negaranya.

Selain berkonferensi, para peserta juga diajak untuk melihat berbagai obyek wisata  Iran, seperti Asalouyeh, Isfahan, dan Qom. Sayangnya tidak semua bisa aku kunjungi. Aku dan semua delegasi Indonesia saat itu tidak dapat pergi ke Isfahan karena namaku ada di daftar kunjungan ke Asalouyeh yang merupakan pusat industri perminyakan Iran. 

Bila Tehran sedang mengalami musim dingin bersalju, Asalouyeh sebaliknya. Di sana matahari sangat terik dengan banyak sinar matahari dikelilingi bukit yang tandus. Dengan bus, para delegasi diajak mengelilingi wilayah luas dengan pemandangan penuh pipa-pipa dan mengamati kegiatan para pekerja di Industri minyak. Asap hitam mengepul di bukit-bukit menandai adanya proses pembakaran.
Marja Ayatullah Hossein Noori Hamedani

Kunjungan berikutnya adalah ke rumah salah satu marja’ Ayatullah Hossein Noori Hamedani yang terletak di kota suci Qom. Kesederhanaan rumah Ayatullah Nouri Hamedani terlihat dari struktur bangunan yang tua dan dan bergaya tradisional Persia. Di sana beliau berpidato dalam bahasa Parsi yang sayang sekali,  saat itu tidak ada penerjemahnya. Aku tetap mengambil berkah dari kunjungan tersebut dengan shalat di belakang beliau, berdesak-desakan dengan delegasi yang lain karena sempitnya aula sang marja. 

Kunjungan lain yang ditunggu-tunggu adalah ziarah ke Haram Sayyidah Fatimah Ma’sumah sa di Qom. Tempat itu begitu penuh sesak orang seolah-olah ada hari raya terjadi setiap hari di sini. Di dekat makam, masih terlihat tradisi lama bangsa Persia yang mengikatkan kain hijau di pagar makam agar hajat yang diminta segera terkabul. Untuk dapat memasuki makam, para wanita harus mengenakan cadur. Untunglah, aku yang tidak menggunakan cadur bisa meminjam cadur yang disediakan khusus untuk peziarah yang belum memakainya sehingga penampilanku di haram tampak sama dengan peziarah lain. Di sana aku turut berdesak-desakan untuk menyentuh zarih dan mengintip pusara adik Imam Ali Ar Ridho ini. Walau hanya sebentar di haram Sayyidah Ma’sumah, aku masih sempat shalat disana untuk bertabaruk kepada beliau.
Foto bersama Delegasi Lain di Dalam Masjid Jamkaran

Kami juga diajak mengunjungi masjid Imam Mahdi atau masjid Jamkaran yang sangat luas. Selain shalat, kami juga disuguhi kisah tentang proses berdirinya masjid yang disebut juga masjid Imam Zaman ini. Masjid ini dibangun berdasarkan mimpi seorang alim yang diperintah Imam Zaman afs untuk mendirikan masjid di wilayah itu. Setelah mimpi tersebut di ceritakan dan diverifikasi kebenarannya ke ulama lainnya, maka pembangunan masjid ini dimulai sampai seluas yang sekarang. Masjid Jamkaran menyisakan kenangan yang  membuatku tidak dapat melupakan rasanya berlari dalam udara musim dingin di pelataran masjid sang Imam. Karena aku harus berlari cukup jauh untuk dapat memperoleh air wudhu dan berusaha agar tidak ketinggalan rakaat shalat yang dipimpin Imam Masjid. 


Pelataran Masjid Jamkaran
Berkunjung ke rumah Rahbar, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga merupakan salah satu agenda penting dalam rangkaian Islamic awakening. Rahbar memberikan pidatonya tentang pentingya kebangkitan Islam. Ia juga berkata bahwa anak muda harus dapat menyesuaikan cara-cara kebangkitan Islam lewat politik sesuai dengan situasi negaranya masing-masing. Selain berkhutbah, para delegasi juga shalat Dzuhur berjamaah dengan Rahbar. 

Kompleks Makam Syuhada Revolusi Iran
DI hari terakhir aku di Iran, aku dan delegasi lainnya mengunjungi makam para syuhada Revolusi Iran dan makam Imam Khomeini. Pemandu tur kami mengajak berkeliling ke makam para syuhada, mendoakan mereka dan menceritakan riwayat kesyahidan mereka yang menggetarkan jiwa. Ada beberapa makam yang mengeluarkan wewangian seharum kasturi walau tidak ada bunga dan parfum di sekitar makam. Semoga Allah menyambut dengan penuh cinta para syuhada.

Tempat terakhir yang aku kunjungi adalah Haram (kompleks makam) pemimpin utama revolusi Iran, Imam Khomeini. Haram Imam Khomeini sangat luas dengan kubah-kubah tinggi seperti Haram pada umumnya di Iran. Di sini, aku kembali mengingat nama-nama berbalut doa penuh cinta yang mungkin belum sempat aku sebutkan, aku kembali teringat harapan-harapan yang mungkin belum sempat terucap. \

Di Depan Haram Imam Khomeini
Malam terakhirku di Iran pada 1 Febuari 2012 dihiasi dengan hujan salju indah yang baru pertama kali kulihat. Butiran salju yang jatuh dari langit seperti penghitung mundur jam-jam kepulanganku ke tanah air. Semoga Allah memberikan berkah dalam perjalanan ini. Aku meninggalkan Teheran dengan hati pilu.  Rasanya, waktu berlalu terlalu cepat. Masih banyak yang ingin aku reguk dari negeri para pejuang dan syuhada ini. Harapan untuk kembali, selalu terpatri dalam sanubariku.

Minggu, 01 Juli 2012

Paradigma Kehidupan Cinta : Dari Profesionalisme ke Pernikahan

Sekitar 3 bulan lalu, aku mengeluh ke senior ku di "kantor online" kami. Saat itu, aku meminta berhenti sebagai editor dan penulis artikel karena aku merasa tidak dapat membuat tulisan yang bermutu kalau tidak sedang jatuh cinta. Saat itu, aku tidak bisa melakukan apapun di depan notebook ku tanpa perasaan jatuh cinta ini. Begitu pentingnya rasa jatuh cinta untuk meramu apa yang ada di pikiranku menjadi sesuatu yang berkualitas. Menyadari bahwa sikapku yang seperti itu tidak profesional, aku memilih mundur sambil minta maaf. Bagaimanapun, aku di gaji untuk melakukan pekerjaan ku secara profesional. Pekerjaan ku juga membutuhkan deadline ketat. Aku pikir, ketidakprofesionalan ku akan mengganggu kinerja tim lain.

Senior ku bilang kalau dia baru tahu kalau untuk nulis ada jatuh cinta dulu. Dia mengutip status seorang penulis profesional yang bilang kalau kita memang cinta dengan menulis, kita akan selalu ada di dalam mood menulis. Kecuali kalau kita menulis hanya karena mengikuti trend, sekedar pengen punya buku, mood kita akan jadi naik dan turun.

Senior juga bilang, bahwa untuk bisa menjadi penulis seperti sekarang, dia melatih diri untuk menulis di blog. Dengan mood apapun, sekarang dia bisa dengan lancar menulis. Sugesti itu yang harus dihilangkan. dan yang membuat aku semakin malu, si Senior sempat bilang kalau aku nggak masuk akal kalau menunggu jatuh cinta dulu untuk bisa menulis. *duh

Mungkin ya... kalau aku egois banget atau bebal, aku bakalan bilang, "Ya orang kan punya kondisi dan sifat sendiri-sendiri. Masak harus sama semua sih??" Tapi, berhubung dalam rangka mencari solusi dan aku pikir apa yang dibilang senior benar, maka aku berfikir ulang untuk menghilangkan kebiasaan buruk ku yang terlalu melankolis dan berdampak pada pekerjaan profesionalku. Lagipula, apa yang dibilang senior akhirnya juga baik. Kalau saja kita tidak bekerja berdasarkan mood, semua akan terlaksana dengan baik.

Yang lebih "menohok", senior yang sudah menikah ini bilang, "...bahkan setelah kita menikah pun dg org yg kita cintai, ga lama kemudian rasa cinta yg menggebu-gebu itu akan hilang kok, berganti dg sesuatu yang tenang (dan kalau ga dijaga mungkin malah berganti dg sesuatu yg rutin dan menjemukan).. Masa mau jatuh cinta lagi kalau udah nikah? Mau affair maksudnya? Ga mungkin kan?"

Kata-kata itu sungguh menampar prinsip yang aku pegang. Aku pikir, dengan menikahi orang yang kita cintai, selamanya kita akan jadi bahagia. Sampai rasanya begitu sulit menjalin hubungan dengan orang karena "getar cinta" itu belum muncul. Aku pun belum punya rumusan "getar" itu seperti apa. Apakah tubuh yang jadi gemetaran saat berdekatan, apakah hati yang berdebar setiap menatap dan menyebut namanya, apakah pikiran yang selalu berlari-lari memikirkan si kekasih, aku belum tau. Jadi aku mulai mempertanyakan diri sendiri, apa yang aku inginkan dalam hidup supaya kebahagiaan tetap jalan yang aku pilih?

Aku mencoba untuk mendata dalam pikiranku siapa saja yang pernah singgah dihati, siapa saja yang pernah membuat berdebar hati, siapa saja yang sosoknya selalu menari di pikiran ku. Hasilnya?? Tidak ada yang pernah membuat efek berdebar, sekaligus gemetar, sekaligus sosoknya mendominasi pikiran. Semua nya ibarat robot power ranger yang belum utuh. Ranger pink punya kendaraan keren sendiri, begitupun ranger merah, biru, hijau, kuning dan hitam. Tapi kalau kendaraan kelima Ranger bergabung, akan terciptalah robot super canggih yang dapat mengalahkan monster jahat. Padahal 1 kendaraan ranger saja sudah keren, tapi bergabung lebih keren. Gitu aja. Ada cowok keren yang cuma bikin badan gemetaran saking nervouse nya. Ada yang cuma bikin kepikiran sepanjang hari, ada yang bikin deg-degan kalau namanya disebut. Tapi aku pikir, yang namanya cinta, semua perasaan itu akan campur aduk jadi 1 menjadi robot ranger yang hebat. Eh, maksudku jadi cinta yang dahsyat, Kalau belum dahsyat, aku tidak akan bisa menikahi orang tersebut. Kebayang kan susahnya??

Bagaimana kalau, aku tidak dapat menemukan orang yang benar-benar membuatku jatuh cinta? Apakah aku harus jadi pengangguran? Apakah aku secara sukarela menurunkan kualitas pribadi ku sampai level yang rendah? Tidak tidak! Terimakasih! Aku tidak mau menjalani kehidupan "mengerikan" tersebut. Aku mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh senior. Beruntung punya senior yang nggak bodo amat sama kegundahan juniornya. Aku juga beruntung karena sebelumnya telah ada berbagai Nasehat Pernikahan yang bagus seperti dari Ibu yang meyarankan menikahi orang yang besar ridhonya, bapak yang menyarankan supaya jangan menikah dengan yang suka mengungit masa lalu (-yang buruk) dan Nasehat Mas Kist si Kakak Ipar yang logis banget.

Akhirnya aku move on, setelah lama mempertanyakan passion hidup, setelah mengaca pada diri sendiri apakah sudah pantas menjadi orang yang dicintai sementara aku berharap sekali ada yang mencintaiku. Aku berpikir ulang, belum tentu, aku pun tahu caranya mencintai. Aku pernah "berlatih" beberapa kali untuk mencintai. Hasilnya, seringkali aku dibilang sebagai perusak romantisme. Aku gagal dalam beberapa hal... Aku tidak begitu bisa menjaga kecintaan orang lain sepertinya. Apakah hanya saja, aku belum menemukan sosok yang tepat?

Softpower para Nabi adalah doa. Maka dengan sembrono  aku pernah berdoa semoga bisa dijodohkan dengan orang yang aku kagumi. 2 kali malah. Aku merasa bahwa 2 kali itu aku terkabul. Aku menyesal membuat nya jatuh cinta karena ternyata orang itu adalah sosok yang "cukup mengerikan" untuk dinikahi. Benar-benar penyalahgunaan softpower nih. Bila berbicara ttg pernikahan, aku selalu memikirkan ttg bagaimana cara suami mendidik anak-anak. Dan pemikiran mereka "cukup mengerikan" untuk diajarkan pada anak-anakku. Bagaimanapun, calon kepala rumah tangga harus tahu apa yang baik untuk aset yang paling berharga kan?? Kadang saat kita berumur lebih muda, kita memang melakukan hal yang bodoh kan? Aku pun berfikir doaku itu adalah doa yang cukup bodoh.

Jadi, kembali ke persoalan menulis, aku tidak mau diperbudak mood! Enak saja! Memang dia siapa? kalau aku tidak bisa jatuh cinta dengan orang, maka aku bisa jatuh cinta dengan syair-syair persia koleksi ku. Ada Firdawsy, Attar, Hafidz, Rumi, dll. Yeah!! Aku bisa menulis dengan menggunakan spirit cinta mereka ternyata! Betapa senangnya...!!! Yang lebih penting, Aku juga akan jatuh cinta sepanjang hidupku pada Tuhan. Kenapa aku sempat melupakan DIA ya?? Bodohnya aku... Lemahnya akal ku membuatku lupa bahwa aku tidak pantas mengeluh seolah-olah Ia tidak memberiku kekuatan dan curahan cinta. Setelah sesi curhat selesai, aku on fire lagi dalam ngedit tulisan, liputan dan bahkan aku bisa bikin feature!  Selama ini kan aku cuma liputan acara. Aku pikir bikin feature  susah karena kita harus repot riset dulu. Ternyata riset pun menyenangkan!!

Aku kembali menengok apa yang ada di dalam tempurung kepalaku, tentang paradigma pernikahan. Apakah aku masih meminta padaNya untuk di jodohkan dengan orang tertentu? Tidak! Aku belajar dari doa ku yang telah membuat 2 orang jatuh cinta dan terpaksa aku buat patah hati karena aku "lari ketakutan" dengan paradigma berfikir pun gaya hidup mereka. Aku juga berfikir tentang seorang Rafly yang orang biasa mantan suami Tamara Bleszinky si Selebritis yang pernah berdoa di Ka'bah kalau dia meminta Istri yang secantik Tamara dan ternyata malah dapet Tamara beneran. Tapi, lihat yang terjadi, sekarang mereka cerai kan? Aku rasa, ucapan senior itu berlaku dalam hal ini.

Jadi, aku merevolusi doa ku untuk meminta siapapun yang terbaik bagiku. Socrates bilang, "Menikahi wanita baik membuatmu bahagia, menikahi wanita bawel akan membuat mu jadi seorang filosof." Artinya, kalau pasangan kita baik, kita akan bahagia, kalau pasangan ternyata jauh dari ideal, maka saatnya kita merenung dan mengambil hikmah. Karena secara spiritual, kita harus terus naik. Keadaan yang sulit seringkali merupakan perjalanan penting seorang filosof. Karena Filosof bermula dari masalah pribadinya sendiri yang Ia pecahkan solusinya. Aku juga mulai berlatih untuk memperbesar ridho ku. Caranya adalah dengan menghargai seseorang dan stop komplain terutama berkaitan dengan sikap individu orang padaku pribadi. Kalau komplainin pejabat korup, ustad ngawur dan artis sok eksis sih harus terus dilakukan karena efeknya ke publik. Tapi kalau komplain ke individu, sebisa mungkin mulai aku kurangi.

Mengingat Istri Nabi Nuh yang menolak ajaran Nabi Nuh, mengingat Sayyidah Asiah yang tabah mendampingi Fir'aun, mengingat Istri Imam Hasan as yang meracuni beliau hingga Syahid, rasanya aku malu bila berharap mendapatkan pasangan yang aku cintai dan sempurna lahir bathin. Aku senang dengan kebahagiaan orang lain yang menikahi orang yang Ia cinta, tapi aku juga realistis bahwa tidak seemua orang beruntung untuk mendapatkan itu. Terbayang wajah para orang tua di internet yang tampak bahagia sampai tua. Pasti mereka telah melewati banyak hal dalam hidupnya untuk menjadikan bahagia sebagai pilihan. Mereka yang memilih keadaan. Bukan keaadaanyang mempersempit hidup kita.


Jadi ingat, bapakku sering mengajakku makan di warung Padang. Karena aku nggak pernah nafsu makan di warteg. Untuk apa kita membeli makanan jajan yang kita bisa membuatnya di rumah? Yang namanya jajan ya yang tidak pernah tersedia di rumah. Bapak pun sebenarnya nggak pernah tanya apakah aku suka dengan menu masakan padang itu atau tidak. Tapi bapak begitu saja ngajak makan dan aku terlalu tidak tega untuk menolak.  Ternyata, aku bisa makan menu masakan Padang dan hasilnya kenyang. Bagi bapakku, masakan Padang itu enak. Bagiku, biasa saja bahkan kalau bisa milih, aku lebih suka bakso. Tapi toh habis juga, toh bisa juga di makan, Dan aku berfikir, barangkali pernikahan juga brgitu. Walaupun kita tidak begitu suka dengan pasangan hidup kita, asal ikhlas, semuanya baik-baik saja.

Akhirnya, untuk mempermudah hidupku, Aku berfikir, bahwa untuk bisa hidup bahagia itu bukan dengan cara menikahi orang yang kita cintai. Tapi mencintai orang yang kita nikahi. Yng penting adalah bisa membesarkan anak-anak baik yang untuk kado terindah pada Rasulullah. Bukan pada kesenangan kita yang berdasarkan hawa nafsu kita sendiri. Tapi berdasarkan pencarian akan kebenaran. Sesuatu itu, akan menyempurna bila syaratnya terpenuhi. Semoga...


Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.