Rabu, 29 Oktober 2014

Kemana Sikap Egaliter Nabi Kini?

Dulu, Rasul datang seolah membawa agama baru. Namanya Islam. Penyempurna ajaran tauhid yang pernah dibawa Ibrahim. Islam ini bikin geger orang Arab. Ya gimana, budak kayak Bilal dimuliakan. Pendatang macam Salman Al Farisi dari Persia dan Abu Dzar al Ghifari dari bani Ghiffar (yang terkenal sebagai kelompok penyamun saat itu) di sambut hangat layaknya bagian dari Quraisyi. Raja Nasrani dianggap sahabat. Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan. Perempuan budak dinikahkan dengan para saudagar, diangkat harkat dan martabatnya.

Rasul juga punya anak perempuan dan menyayanginya secara terang-terangan. Memberinya warisan tanah Fadak supaya kelak orang tak abai untuk meninggalkan warisan pada perempuan. Rasul yang garis keturunannya diteruskan oleh perempuan itu mendobrak budaya patriarki bangsa Arab. Supaya bisa kasih tau sama orang Jahiliyah, kalau punya anak perempuan itu ya harus disayang. Bukan malah dianggap aib, dilecehkan, dikubur hidup-hidup atau diperjualbelikan kayak harta benda.

Islam saat itu hadir begitu egaliter, menjunjung tinggi kesetaraan. Rasul begitu serius dengan  berkata bahwa hanya iman dan taqwa lah yang menentukan tinggi rendahnya kedudukan satu dengan yang lainnya. Masalahnya, siapa yang bisa jamin kadar iman dan takwa orang? Mulai di sini, Rasul juga nggak ngajarin untuk bersikap ekslusif dan judgemental. Yang keliatan paling banyak nyumbang ini itu belum tentu lebih mulia dari yang terpaksa puasa karena tak punya makanan apapun.

Itu jaman dulu lho ya. Dulu, jauh ke 1400an tahun yang lalu.

Kini, ada orang-orang yang mengaku keturunan nabi dan minta disebut habib, dengan kapasitas ilmu tak seberapa mau belain Allah yang mereka yakini lebih besar dari apapun. Kontradiksi sih, tapi ya gimana lagi,orang-orang ini merasa pantas jadi pemimpin karena ia punya hak prerogatif atas nama Nabi sekalipun belum memenuhi kompetensi. Ada juga yang anggap selain keturunan nabi itu sebagai kasta kedua sehingga ada larangan untuk menikah selain dengan sesama kasta turunan Rasul. Ditunjang dengan hadis-hadis soal pentingnya memurnikan darah Rasul hingga akhir jaman. Seolah khawatir sekali kalau nantinya tidak ada Sayyid/habib yang akan jatuh cinta dengan cara alami dan akhirnya menikah dengan syarifah/habibah, sehingga pernikahan Sayyid non Syarifah dan sebaliknya harus ditentang keras dan dianggap aib keluarga.

Bagaimana jika Rasul, sang Nabi pembawa prinsip egaliter itu, melihat turunannya suka bahas kasta turunan dan bersikap petantang petenteng ya?

Nggak kebayang…

Sabtu, 18 Oktober 2014

Negarawan Instan

Hanya karena menyambut lawan politik yang menemuinya di hari ulang tahun, dia kini dapat sebutan Negarawan.

Di masa lalu juga ada negarawan yang berani melakukan pembuktian terbalik kalau dia tak bersalah. Ia membacakan pledoi 'Indonesia Menggugat' yang masih bisa kita baca sampai sekarang. Beristri banyak, mengangkat diri sendiri sebagai presiden seumur hidup, menggagas 'Djawa adalah Koentji' dan menyingkirkan teman-teman seperjuangannya adalah hal lain di penghujung masanya. Kita masih mengenangnya dengan baik lewat buku, jalan, bandara, dan sebagainya.

Di masa kini, ada seseorang yang ingin menjadi presiden. Ia tampak melek hukum dengan mengajukan gugatan kekalahannya ke MK agar dapat melakukan pemilu ulang. Ia dengan mudah meyakinkan dirinya sendiri dan semua orang bahwa ia layak menjadi presiden. Anehnya, sebagai orang yang tahu fungsi pengadilan, ia tak pernah tampak di pengadilan HAM untuk menuntut dilakukannya pembuktian terbalik bahwa ia tak bersalah dan siap bertanggung jawab atas kegaduhan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Bisa saja, sebagai calon presiden, ia menjanjikan bahwa jika ia terpilih, maka negara ini menjadi anggota ICC (International Criminal Court) di Den Haag. Supaya kelak, para penjahat HAM bisa diadili. Sekalipun jika itu hanya sekedar janji kampanye rasa kecap, ia akan sangat dihargai. Bukan malah sibuk teriak-teriak anti asing sekalipun kerajaan bisnis keluarga dan koleganya berjabat erat dengan asing. Meminta pendukungnya untuk mendukung presiden terpilih, menghormat ketika bertemu presiden terpilih, dan kesepakatan lain yang ditawarkan sesudahnya adalah hal lain. Kita akan tetap mengenangnya sebagai orang yang memerintahkan ratusan nyawa hilang di kampung janda, beberapa aktivis '98 disiksa dan sebagiannya hilang.

Yang hilang belum kembali. Yang terbunuh masih ditangisi. Yang berdiri di depan Istana di hari Kamis belum ditemui. Lalu kita mau sebut dia Negarawan RI?

Ingatkan lagi, untuk apa kita memilih Jokowi?

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.