cerita tentang remah-remah

Senin, 22 Desember 2014

11.11

Ada mitos terkenal yang berkata, "Jika secara tidak sengaja kau melihat jam yang menunjukkan pukul 11.11, maka itu adalah waktu yang tepat untuk berdoa, memohon keinginanmu yang terdalam."

Kebanyakan orang sulit mencari apa keinginan terdalamnya. Orang bilang, menabung harap itu gratis, maka buatlah daftar harapan sebanyak-banyaknya. Seolah sedang mengawin paksakan antara harapan yang immateri dengan mata uang yang materi. Karena itu, beberapa orang memiliki terlalu banyak keinginan.

Beberapa orang terpasung dalam selusin mimpi. Harapan-harapan yang berderap di dada bagai tentara yang dikirim ke medan perang. Betapapun canggihnya strategi yang disusun, kemungkinan akan ada tentara yang mati tetap ada. Orang tetap tak peduli. Mereka bilang, jika tentara-tentara itu mati, mereka akan dengan mudah menumbuhkannya. Semudah meniup dandelion di depan bibirmu kemudian merontokkannya satu-satu hingga puncaknya luruh bagai salju.

Jika benar bahwa harapan itu letaknya ada di hati terdalammu, berapa kali kau harus merelakannya mati sebelum berhasil menumbuhkannya lagi?

Tadi malam aku nyaris tak bisa tidur. Walau ada Murakami di sampingku, aku lebih memilih untuk memandangi layar ponsel sambil mencari alasan untuk apa aku menghubungimu. Aku tidak berhasil menyusun skenario. Waktumu yang berharga akan terbuang sia-sia jika mesti terlibat dalam skenario picisan yang disusun hanya karena rindu. Rindu dari seorang perempuan yang seringkali hanya merepotkanmu dengan urusan-urusan sepelenya ketimbang hal-hal besar yang biasa kau kerjakan.

Kau tak suka menabung harapan dan memintaku untuk melakukan hal yang sama. Kau tahu, aku akan mengiyakan apapun asal kita bisa bersama. Aku akan sibuk menghapus pertanyaan-pertanyaan di kepala soal banyak hal seputar mengapa. Kau akan mengelus kepalaku dengan lembut tiap malam sebelum waktu tidur kita tiba, "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."

Setiap kali memejamkan mata setelah percakapan panjang kita, aku harap kita berdua memang sedang berada di sebuah pantai. Dekat sekali dengan ombak. Kita tak perlu risau melangkah kemana saja karena toh jejak langkah akan terhapus begitu saja oleh ombak.

Ada banyak hal terjadi yang membuat kita jadi lelah untuk saling memahami. Kau mengerti, tapi tak memahami. Pun aku. Kita tahu betul bahwa memahami dan mengerti adalah dua hal yang berbeda.

Yang tersisa dari kita adalah ingatan.

"Jogja hujan kan, Banu?" Katamu saat itu.

Aku mengiyakan. Ada sesuatu yang tak bisa ku cegah sedang membuncah di dada. Akhirnya ada satu waktu di mana kita sedang berada di kota yang sama.

Lalu aku akan mengeluh padamu soal kekalahanku pada dingin, tentang rasa keingintahuanku pada diriku sendiri, dan tentang segala sesuatu yang bisa kita bahas bersama.

Ini adalah dingin yang sama dengan saat itu. Jika kau berada di kota ini, atau di manapun, aku harap kau tahu bahwa aku sedang merindukan caramu menggoda jarak diantara kita.

Pada 11.11, aku menggadaikan nalar atas namamu. Demi mengadukan nasib pada mitos yang tak berujung.

Sepersekian detik yang tersisa, sebelum berganti menit. Kesadaran tentang keinginan terdalamku memenuhi kepala.

Aku sedang menabung harap yang sering kita punggungi, menghadapi kemungkinan kecewa yang sudah biasa kita telan mentah-mentah.

"Aku hanya ingin berjumpa denganmu, K…"

Jogja, 22-24 Desember 2014

Kamis, 04 Desember 2014

Pada Transjakarta Ketiga Tanganku Bergantung

SUDAH 10 menit aku berdiri sendirian di depan loket halte Transjakarta Tegal Perang. Memandang dengan perasaan kecut kepada bus yang seharusnya yang membawaku ke halte Slipi Pertamburan, menatap dengan pandangan muram pada kemacetan pada jam pulang kantor di Jalan Gatot Subroto Jakarta sambil membandingkan kemacetan di Jalan Ahmad Yani Surabaya dan mendongakkan kepalaku ke deretan anak tangga demi menunggu seseorang yang tepat datang. Dalam posisi seperti itu, aku juga memikirkan banyak hal terkait dampak dicabutnya subsidi BBM, operasi tangkap tangan KPK kepada mantan bupati sekaligus Kyai Fuad Amin di Bangkalan yang sempat akan wawancarai terkait persoalan keberagamaan dan demokrasi di Bangkalan yang kondisinya lebih toleran dari Sampang Madura, dan tentu saja terlintas pikiran soal Mas Mas bertemperamen dingin yang entah sedang apa di sana, sambil sebisa mungkin menekan rasa penasaran yang meluap-luap tentang :  bagaimana dia menghadapi hidupnya tanpa berkirim pesan denganku selama beberapa waktu belakangan.

Transjakarta kedua datang 15 menit kemudian. Dengan pasrah aku hanya bisa memandangi bus yang seharusnya bisa membawaku ke halte tujuan, tak bisa begitu saja melompat ke dalamnya. Ada banyak orang tampak berhimpitan di dalamnya, nantinya, kotak berjalan itu akan lebih sesak lagi saat bus itu berhenti di Kuningan Barat yang merupakan halte transit.

Kenapa aku tak segera naik bus itu padahal aku bukan orang yang enggan berdesakan di kendaraan umum?

Oke, jangan salah sangka dulu. Aku begini juga tidak sedang mempraktekkan sebuah analogi drama percintaan yang berbunyi, “Cinta itu seperti menunggu bus.” Bukan, demi Tuhan yang disebut dengan banyak nama, bukan kondisi seperti itu yang sedang terjadi.

Sebenarnya, yang membuatku terhalang untuk menaiki Transjakarta itu hanya karena aku tidak punya kartu e-tiket! Sesederhana itu.

Setelah meninggalkan Jakarta selama hampir satu bulan untuk sebuah penelitian di daerah Jawa Timur, aku tidak tahu bahwa kini hampir di semua koridor bus way diberlakukan penggunaan e-tiket untuk mengganti karcis konvensional berupa sesobek kertas kecil yang begitu diberikan penjaga loket langsung kita buang ke tempat sampah begitu masuk ke dalam haltenya. Sahabatku, si Nila, sudah lama memiliki kartu BNI untuk naik Transjakarta dari halte PGC. Karena sudah lama halte di PGC hanya menerima e-tiket untuk pembayaran karcis. Jadi sangat wajar jika dia yang rutin jadi pengguna layanan Transjakarta itu memilikinya.

BEBERAPA pengguna ATM BCA memang memiliki kartu BCA Flazz. BCA ini bisa digunakan untuk berbelanja seperti kartu debet namun dengan penggunaan yang lebih luas tanpa -kalau tidak salah- minimum pembelian. Saat masih kuliah  semester tiga, setelah mata kuliah Anti Korupsi di gedung S2 Paramadina, aku sempat menemani kakak kelas di kampus mengisi ulang kartu Flazz BCA di ATM center The Energy Building SCBD. Saat aku tanya kenapa dia merasa perlu menggunakan kartu Flazz, dia bilang, “Kakak harus nabung dek, mumpung masih awal bulan.”

Aku tidak tahu korelasinya mengisi kartu Flazz dan menabung itu apa. Karena kartu Flazz itu untuk berbelanja. Sedang definisi menabung di kepalaku adalah menyimpan uang selama mungkin agar tak dibelanjakan. Lagipula, sebagai anak kost, aku lebih senang makan di warung betawi dekat pasar Tegal Parang yang masih menggunakan alat pembayaran konvensional daripada makan di restoran yang menerima pembayaran dengan Flazz.

Menurutku, penggunaan kartu Flazz untuk segala macam transaksi itu membuat kita tidak memberi kesempatan berputarnya uang di kalangan pedagang bermodal cekak di kelas bawah. Kalaupun uang bisa berputar di kalangan bawah, siklus yang dilalui akan lebih panjang. Tidak mungkin kan beli cimol keliling pakai kartu Flazz? Jika kartu Flazz dijadikan sebuah tabungan “mumpung awal bulan” dengan saldo, katakanlah 500.000, maka saat kepepet tak punya uang cash pun, uang kita yang tersimpan di Flazz itu larinya akan ke pengusaha yang punya banyak modal. Bukan pedagang kecil. Aku lebih senang mendukung pedagang bermodal kecil yang berjualan dengan cara konvensional daripada pemodal yang memiliki minimarket dan supermarket. Jika barang yang aku butuhkan juga dijual di toko kelontong -sekalipun harganya akan sedikit berbeda dengan yang dijual di minimarket atau supermarket- aku akan lebih memilih berbelanja di toko kelontong. Bukan di supermarket. Tak bisa seperti itu kan kalau kita hanya punya simpanan uang akhir bulan di Flazz?

Belum lagi risiko yang kita tanggung jika kartu Flazz itu hilang.

Di dalam brosur kecil Syarat dan Ketentuan Penggunaan Kartu Flazz disebutkan bahwa kartu tersebut bisa dipindah tangankan ke siapa saja. Penggunaan kartu tidak memerlukan PIN atau tandatangan sehingga penggunaannya tidak perlu dibuktikan kewenangannya oleh BCA.

Artinya, jika kita menggunakan Flazz untuk menabung tadi, misal dengan saldo RP 500.000 dan kartu tersebut hilang, kartu itu bisa dipakai sampai habis oleh orang yang menemukan kartu kita tanpa kita bisa mencegahnya lewat pemblokiran kartu seperti halnya kartu debit maupun kartu kredit. Tidak ada identitas kita yang tercantum di sana sehingga kalaupun kartu tersebut ditemukan oleh orang baik, tidak ada cara juga untuk mengembalikannya pada kita. Hilang ya hilang saja.

Seandainya saja kenangan tentang mantan dan cemceman kita itu bisa diconvert dalam bentuk Flazz. Dunia akan lebih tenang, kegalauan juga akan musnah.

Oke, kembali ke soal e-tiket.

Sebagai orang yang  masih jarang berpergian dengan Transjakarta, aku kurang tertarik juga memiliki kartu macam itu, dan toh di halte kecil seperti Tegal Parang, kita masih bisa membeli tiket secara manual.

Ternyata aku salah! Karena, sejak 1 November di seluruh koridor Transjakarta kecuali Halte Dukuh Atas dan Ragunan, sudah menggunakan sistem e-tiketing untuk pembelian tiket Transjakarta.

Pasti hal seperti ini sudah diberitakan di media online. Kurang informasi seperti ini memang merugikan. Ini gara-gara bulan November ku disibukan dengan membaca beragam artikel soal kebebasan beragama, pencabutan subsidi BBM, peristiwa Ferguson #BlackLivesMatter, kontroversi pamer bokongnya Kim Kadarshian dan segala macam soal Taylor Swift yang baru saja meluncurkan video klip Blank Space. Sehingga, berita soal pemberlakuan e-tiketing untuk Transjakarta ini terlewat! Sama sekali tidak aku baca.

Jadi, setelah menuruni tangga pada jembatan busway menuju loket tiket dan menyodorkan uang Rp 5000 ke petugas loket, dia bilang, “Maaf, sekarang hanya bisa menggunakan e-tiket.”

Baru saja aku ditolak.

Huft, hidup memang berat dan penuh perjuangan, tapi aku harus selalu tampak tegar dan lapang dada. Aku harus menenangkan hati bahwa semua akan baik-baik saja sekalipun banyak luka di dalam dada. ~~Owoooowooo…

Aku kembali menegakkan badan sambil membaca poster promosi yang digantung di canopy jembatan Transjakarta. Bahwa dengan harga Rp 40.000 kita akan mendapatkan kartu perdana e-tiket berisi nominal Rp 20.000.
Aku mengingat-ingat, berapa uang cash yang aku bawa. Rp 50.000 kurang dikit. Untuk beli e-tiket cukup, tapi tidak cukup karena setelah di halte Slipi nanti aku masih harus naik angkot. Belum tentu juga di Slipi ada ATM BCA sehingga aku bisa menarik tunai di sana.

Aku menunduk ke kaca loket lagi, “Bisa beli kartu perdana pakai debit nggak mbak?”

“Tidak mbak, kalau isi ulang kartu bisa pakai debit. Tapi kalau beli kartu perdana tidak bisa.”

“Kenapa gitu?”

“Sudah aturannya gitu mbak.”

Jawaban default khas costumer service di Indonesia.

Baiklah. Dia bilang sudah aturannya begitu. Sekalipun aku belum bisa menerimanya secara logis, mau nggak mau aku harus patuh kan? Memangnya aku punya pilihan? Masak mau pindah naik taxi di tengah kemacetan seperti ini atau naik ojek yang mahalnya minta ampun.

Aku mencoba mengkalkulasi segala kemungkinan. Jika aku harus naik turun anak tangga Transjakarta lagi untuk ke ATM BCA yang lokasinya di Starmart samping gedung Trans TV, aku akan memboroskan energi dan waktu.

Kegiatan yang akan aku hadiri adalah acara makan-makan ulang tahun anak seorang kawan. Jadi sedari awal aku sudah mengosongkan perut supaya tuan rumah senang aku makan banyak. Nggak gitu juga sih, Cuma demi penghematan pengeluaran anak kostan aja. Masak iya sebelum berangkat acara makan-makan mau makan dulu.

Hal yang mungkin dilakukan saat itu hanyalah menunggu di depan loket Busway. Menunggu seseorang yang tidak aku kenali datang, mau menerima aku apa adanya serta bersedia membantu tanpa perlu mempertanyakan latar belakang kehidupanku seperti apa. Loh, loh, loh, tadi kan niatnya di sini bukan mau menemukan pasangan hidup. Cuma mau nunggu orang yang punya kartu e-tiket dan mau membantuku untuk ikut masuk ke dalam halte berpintu elektronik.

Dilihat sekilas dari penampilannya, kebanyakan pengguna Transjakarta sore itu adalah para karyawan yang kemungkinan berkantor di sekitar Jalan Gatot Subroto dan Jalan Tendean. Sebagai pengguna tetap Transjakarta, mereka pasti memiliki kartu e-tiket itu. Ada banyak orang yang lewat. Tapi aku tak kunjung mendapatkan seseorang yang aku pikir bisa membantuku.

Kenapa?

Kebanyakan dari orang yang lewat itu berjalan sambil menunduk ke gadgetnya. Sebagian lagi memakai masker anti polusi dan yang lainnya terdiri dari orang-orang yang terlihat menyumpal telinganya dengan headset sehingga akan sulit jika diajak komunikasi.

Aku mencari seseorang tanpa masker, tanpa menunduk di gadget dan tanpa headset. Kriteria sederhana yang baru aku sadari begitu langka saat itu. Belakangan aku menambahi kriteria lain : seseorang yang jalannya tidak tergesa-gesa.

AKHIRNYA datanglah seorang ibu paruh baya berwajah Tionghoa berkaus merah dengan kriteria yang aku idamkan. Aku tersenyum padanya, dia berhenti dan membalas senyumku.

“Bu, maaf, bisa minta waktunya sebentar?” Sapaku untuk menghentikan langkahnya.

“Ya?”

Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat itu. Tiba-tiba saja aku langsung teringat volunteer Green Peace atau WWF yang suka minta sumbangan dana kepada orang yang lewat dan para missionaris penyebar buletin Saksi Jehovah.

“Bisakah saya minta tolong sama ibu? Saya belum punya kartu karena saya tidak biasa naik Transjakarta. Sedangkan saya tidak bawa uang cash, masih di ATM. Bisa saya ikut masuk ke dalam bersama ibu? Nanti saya bayar tiketnya ke Ibu.”

Tanpa pikir panjang, ibu itu mengiyakan dan mempersilakan aku masuk lebih dulu melewati pintu elektronik halte.
Setelah kami berdua masuk ke dalam halte, aku segera mengangsurkan selembar uang 5000an. “Tidak usah kembali bu.”

“Nggak bisa begitu. Biasanya tarifnya berapa?”

“3500 bu…”

“Ini, saya ada kembalian.”

“Loh, nggak perlu bu.”

Ibu itu membuka dompetnya mencari-cari recehan yang tampaknya bersembunyi di dasar dompet yang cukup besar. Karena sulit, ia menjungkirbalikkan isi dompet dan menadahinya dengan telapak tangan. Mengangsurkan recehan berupa 5 logam uang receh Rp 100 dan 2 keping Rp 500.

Aku menerimanya dengan kikuk sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Tak lama, Transjakarta ketiga datang. Lebih penuh daripada dua armada sebelumnya. Aku tak punya alasan lagi untuk tidak melompat ke dalamnya. Lagipula sudah terlalu sore, acara pasti akan segera dimulai saat aku sampai di sana nantinya.

Aku meraih gantungan tangan di dalam kotak ber AC itu agar tidak oleng saat bus berjalan. Tersenyum kecut teringat iklan hand sanitizer di televisi yang menggambarkan perpindahan kuman lewat telapa tangan. Berbaur dengan orang-orang yang sebagian besar laki-laki karena aku memang memilih naik di bagian belakang bus gandeng yang pemberhentian terakhirnya di Grogol ini.

Aku sudah bertekad akan membeli kartu Flazz Transjakarta saat pulang nanti di halte Slipi Pertamburan. Agar tak perlu menunggu lama di depan loket dan tak perlu merepotkan orang lagi.

Setelah menghembuskan nafas lega, tiba-tiba saja dialog awal film komedi romantis berjudul First Kiss yang jadi salah satu film Thailand kesukaanku terngiang-ngiang di kepala.

“…cinta itu seperti menunggu bus, kadang bus yang datang bukanlah bus yang kau harapkan. Dan saat bus yang kau harapkan datang, akan ada hambatan yang menghalangimu menaikinya…"

Kamis, 13 November 2014

Di "Tambak" Tembakau

Kemarin seorang kawan bertanya sesuatu yang cukup mengagetkan, "Kamu punya bayangan untuk jadi istri petani dan hidup di desa ndak?"

Jawabanku, "nggak punya sih, karna aku belum pernah jadi gadis desa. Aku juga nggak punya bayangan apapun soal hidup di pedesaan. Belum ada kesempatan untuk hidup lama di desa. Aku mau coba sekali-kali. Akan lebih tenang sepertinya. Aku dari kecil sudah ada di daerah urban sih. Jadi agak bingung kalau harus hidup di desa."

Gara-gara itu, aku jadi membayangkan jika suatu hari nanti aku harus hidup di desa dan bercocok tanam. Menanam umbi-umbian dan palawija sambil menari-nari di tengah sawah demi menunggu hujan. Aku buru-buru menghalau bayangan soal menari itu karena tidak mau hidupku jadi sedrama Bolliwood sejak dalam pikiran.

Aku jadi berpikir, payah juga aku ini ya. Hidup di negara agraris tapi tak bisa bercocok tanam. Hidup di negara maritim tapi tak bisa berenang dan berlayar. Setidaknya, pada suatu hari, aku harus menguasai salah satunya. Demi jadi generasi negara agraris dan maritim yang bermartabat. Tak hanya bisa makannya saja.



Hari ini sepertinya Dewi Sri (tanpa Mulyani) sedang berpihak padaku. Dia mengaktifkan signal agraria dalam kepalaku sehingga akhirnya aku berada sangat dekat dengan sawah dan bisa mempraktekkannya sedikit (sangat-sangat-sangat sedikit) sambil menunggu sesuatu yang penting seputar kegiatan utamaku di sini. Lokasi sawahnya itu di Pamekasan, sedangkan aku menginap di daerah Bangkalan. Sangat jauh dan daerahnya benar-benar asing. Tumbuhan yang aku temui adalah tanaman istimewa, kekayaan khas Indonesia yang belum pernah aku lihat secara langsung. Tembakau!

Awalnya aku ingin melihat-lihat sawah saja. Mencari tahu lebih banyak soal pertanian di Pamekasan, cuaca, sumber air, harga tembakau, sistem sewa lahan, siklus tanam, dan lain-lain dari ibu petani tembakau. Seorang kawan asli Madura menerjemahkan percakapan kami ke dalam bahasa Indonesia karena Ibu itu hanya bicara bahasa Madura. Dia seperti perempuan pada umumnya yang multitasking. Bisa mengobrol dengan santai tanpa terganggu kinerjanya.



Aku jadi penasaran bagaimana rasanya mencabuti tanaman tembakau kering itu supaya nantinya bisa ditanami padi. Akhirnya, aku diijinkan oleh ibu petani tembakau untuk membantunya. Awalnya memang susah sekali. Rasanya akar tembakau begitu mencengkeram tanah dengan dalam dan kuat. Jika jarak antara tangan dengan pangkal kayu dekat akar terlalu jauh, kayu tembakau akan patah dan lebih susah dicabut. Tapi lama-lama bisa juga.


Mungkin karena aku tampak sebagai gadis urban main ke desa, ibu itu bilang kalau dia khawatir pekerjaan ini akan membuat tanganku kasar dan kulitku jadi hitam. Ibu petani itu memakai sarung tangan di sebelah kiri untuk melindungi tangannya, sedangkan aku tak pakai sarung tangan dan baju yang aku pakai pun terlalu bersih untuk dipakai ke sawah. Maklum, aku memang tidak ada rencana soal main ke sawah sebelumnya. Aku memang seorang "turis". Aku bilang saja ke ibu petani kalau dia tak perlu khawatir soal tangan maupun kulitku. Aku memang tak pernah merawatnya secara khusus. Dalam hati aku menambahkan, "Bu, aku ini tak ingin punya tangan yang halus, inginnya biar hati saja yang jadi halus. Tak apa juga jika kulitku jadi hitam, asal bukan kisah hidupku yang jadi hitam berjelaga dan setragis cacing kepanasan. *eciyeeee…* :p

Soal kondisi sawahnya sendiri, ada sumur di tengah sawah yang dipakai untuk pengairan. Kata warga sekitar, hampir tidak pernah ada hujan di Pamekasan. Sehingga sumur itu satu-satunya cara untuk mengairi sawah. Ada pipa di mana-mana dengan penyedot air untuk mengairi seluruh lahan. Cukup banyak sumur dan airnya pun tak dalam.

Setelah pohon tembakau kering dicabuti, lahan itu akan diganti dengan tanaman padi. Kata ibu petani, jika gagal panen atau sesuatu terjadi pada lahan sehingga tidak bisa mendapatkan uang, dia biasanya akan menjual sapinya untuk bertahan hidup. Harga tembakau yang dia tanam dengan kondisi belum diirisi sekitar Rp 40.000/kg. Aku kurang tahu apakah ini termasuk harga yang cukup bagus atau tidak. Aku juga lupa tidak bertanya soal detail jenis tembakaunya.

Aku hanya punya waktu sekitar satu jam dan berhasil mencabuti dua baris tanaman tembakau kering. Rasanya senang sekali walau panasnya matahari membuatku berkeringat banyak (padahal aku jarang berkeringat lho!) dan lumayan ngos-ngosan. Apalagi aku agak susah melangkah karena belum terbiasa memakai rok saat melakukan sesuatu yang banyak geraknya dan dengan sepatu koboi. Ibu petani bilang terimakasih telah dibantu walau perasaanku mengatakan bahwa justru aku lebih banyak merepotkan dia dengan pertanyaan-pertanyaan daripada membantu.

Perempuan di Madura umumnya memang memakai rok. Rok yang aku pakai ini terpaksa dipinjam dari seorang kawan karena aku tidak tahu sama sekali soal budaya rok atau sarung di Madura. Aku pikir karena aku akan banyak ke sana ke mari, lebih praktis jika memakai celana jeans, sepatu koboi dan ransel gunung. Aku begitu menyesali kesalahan terbesarku yang tak mencari tahu soal budaya berpakaian daerah setempat. Sehingga harus merepotkan orang lain hanya karena pakaian. Yah, apa boleh buat, sudah terlanjur. Kali ini memang harus mengikuti budaya setempat. Tak ada salahnya jika aku jadi gadis penurut dulu untuk sementara. 

posted from Bloggeroid

Senin, 03 November 2014

Cemburu?

Aku sering bertanya-tanya dalam hati, bagaimana seseorang bisa memelihara rasa cemburunya terhadap orang lain?

Menurutku, kecemburuan umumnya dibagi 2, kecemburuan sosial dan kecemburuan seksual. 2 kecemburuan ini menurutku sama-sama bersifat menghancurkan. Buat apa cemburu? Apakah pencemburu menganggap bahwa hidup terdiri dari kompetisi-kompetisi yang hanya menghasilkan hasil akhir menang atau kalah, ataukah semacam perjalanan yang berisi catatan intelektual, spiritual dan psikologis yang sangat personal bagi tiap individu? Sehingga membandingkan satu individu dengan individu yang lain lewat standar ideal tertentu menjadi sangat tidak relevan.

Jika ini menyangkut kecemburuan seksual yang ada hubungannya dengan perasaan memiliki atau menguasai orang yang kita cintai, maka aku pikir perasaan yang timbul di situ bukanlah cinta. Karena jika kita mencintai seseorang, kita akan menyadari sepenuhnya bahwa orang yang kamu cintai itu indah. Ia memiliki hal-hal yang memang pantas untuk dicintai. Sehingga kita juga akan bahagia dan maklum jika ada orang lain yang melihat keindahannya. Bukan malah menyerang orang yang mengagumi si kekasih, atau malah memberi si kekasih kurungan supaya orang tidak bisa melihat keindahannya. Jika kekasihmu memiliki kepedulian pada hal lain selain dirimu, bukankah justru itu akan jadi hal yang melegakan karena artinya ia sadar bahwa dunia ini tercipta bukan semata-mata untuk kalian berdua. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Semesta ini luas, kamu adalah satu titik. Perlu titik lainnya untuk bisa membentuk sebuah rasi bintang yang indah. Bukannya sibuk membangun diri supaya jadi indah dan pantas dicintai, rasa cemburu justru akan menggerogoti segala kesempatan yang ada untuk jadi lebih baik. Ketakutan, harga diri yang merasa terinjak, perasaan tidak dicintai, dan hal-hal negatif lain akan membuatmu jadi seonggok daging yang layu dan menyedihkan.

Jangan pernah mengaku mencintai seseorang jika ternyata dirinya sendiri kekurangan cinta. Yang merasa kekurangan tak mungkin bisa memberi. Perasaan kekurangan cinta hanya akan melahirkan tuntutan-tuntutan pada kekasih dan kecemburuan-kecemburuan yang justru menghancurkan segalanya.

Soal sikap cemburu ini, dibanding dengan teori para filosof yang ada, aku sedang sangat sepakat dengan pendapat seorang Antropolog bernama Margaret Mead.

Mead berkata, "Jika memperlihatkan rasa cemburu adalah bagian dari cinta sejati, mengapa rasa cemburu itu justru mengusir sang pecinta itu? Bukankah rasa cemburu itu sama saja dengan egoisme ekstrim lainnya, yang tidak menyenangkan dan disebabkan oleh gagalnya seseorang mengidentifikasi dirinya? Terlebih lagi rasa cemburu mengalahkan tujuan akhirnya sendiri, membuat banyak pecinta kalah bersaing sejak awal. Ia adalah kekuatan negatif, jenis perasaan yang menyedihkan, berasal dari sikap inferior dan insecure."

Jadi, mau sampai kapan kamu mencemburui kekasihmu?

Rabu, 29 Oktober 2014

Kemana Sikap Egaliter Nabi Kini?

Dulu, Rasul datang seolah membawa agama baru. Namanya Islam. Penyempurna ajaran tauhid yang pernah dibawa Ibrahim. Islam ini bikin geger orang Arab. Ya gimana, budak kayak Bilal dimuliakan. Pendatang macam Salman Al Farisi dari Persia dan Abu Dzar al Ghifari dari bani Ghiffar (yang terkenal sebagai kelompok penyamun saat itu) di sambut hangat layaknya bagian dari Quraisyi. Raja Nasrani dianggap sahabat. Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan. Perempuan budak dinikahkan dengan para saudagar, diangkat harkat dan martabatnya.

Rasul juga punya anak perempuan dan menyayanginya secara terang-terangan. Memberinya warisan tanah Fadak supaya kelak orang tak abai untuk meninggalkan warisan pada perempuan. Rasul yang garis keturunannya diteruskan oleh perempuan itu mendobrak budaya patriarki bangsa Arab. Supaya bisa kasih tau sama orang Jahiliyah, kalau punya anak perempuan itu ya harus disayang. Bukan malah dianggap aib, dilecehkan, dikubur hidup-hidup atau diperjualbelikan kayak harta benda.

Islam saat itu hadir begitu egaliter, menjunjung tinggi kesetaraan. Rasul begitu serius dengan  berkata bahwa hanya iman dan taqwa lah yang menentukan tinggi rendahnya kedudukan satu dengan yang lainnya. Masalahnya, siapa yang bisa jamin kadar iman dan takwa orang? Mulai di sini, Rasul juga nggak ngajarin untuk bersikap ekslusif dan judgemental. Yang keliatan paling banyak nyumbang ini itu belum tentu lebih mulia dari yang terpaksa puasa karena tak punya makanan apapun.

Itu jaman dulu lho ya. Dulu, jauh ke 1400an tahun yang lalu.

Kini, ada orang-orang yang mengaku keturunan nabi dan minta disebut habib, dengan kapasitas ilmu tak seberapa mau belain Allah yang mereka yakini lebih besar dari apapun. Kontradiksi sih, tapi ya gimana lagi,orang-orang ini merasa pantas jadi pemimpin karena ia punya hak prerogatif atas nama Nabi sekalipun belum memenuhi kompetensi. Ada juga yang anggap selain keturunan nabi itu sebagai kasta kedua sehingga ada larangan untuk menikah selain dengan sesama kasta turunan Rasul. Ditunjang dengan hadis-hadis soal pentingnya memurnikan darah Rasul hingga akhir jaman. Seolah khawatir sekali kalau nantinya tidak ada Sayyid/habib yang akan jatuh cinta dengan cara alami dan akhirnya menikah dengan syarifah/habibah, sehingga pernikahan Sayyid non Syarifah dan sebaliknya harus ditentang keras dan dianggap aib keluarga.

Bagaimana jika Rasul, sang Nabi pembawa prinsip egaliter itu, melihat turunannya suka bahas kasta turunan dan bersikap petantang petenteng ya?

Nggak kebayang…

Sabtu, 18 Oktober 2014

Negarawan Instan

Hanya karena menyambut lawan politik yang menemuinya di hari ulang tahun, dia kini dapat sebutan Negarawan.

Di masa lalu juga ada negarawan yang berani melakukan pembuktian terbalik kalau dia tak bersalah. Ia membacakan pledoi 'Indonesia Menggugat' yang masih bisa kita baca sampai sekarang. Beristri banyak, mengangkat diri sendiri sebagai presiden seumur hidup, menggagas 'Djawa adalah Koentji' dan menyingkirkan teman-teman seperjuangannya adalah hal lain di penghujung masanya. Kita masih mengenangnya dengan baik lewat buku, jalan, bandara, dan sebagainya.

Di masa kini, ada seseorang yang ingin menjadi presiden. Ia tampak melek hukum dengan mengajukan gugatan kekalahannya ke MK agar dapat melakukan pemilu ulang. Ia dengan mudah meyakinkan dirinya sendiri dan semua orang bahwa ia layak menjadi presiden. Anehnya, sebagai orang yang tahu fungsi pengadilan, ia tak pernah tampak di pengadilan HAM untuk menuntut dilakukannya pembuktian terbalik bahwa ia tak bersalah dan siap bertanggung jawab atas kegaduhan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Bisa saja, sebagai calon presiden, ia menjanjikan bahwa jika ia terpilih, maka negara ini menjadi anggota ICC (International Criminal Court) di Den Haag. Supaya kelak, para penjahat HAM bisa diadili. Sekalipun jika itu hanya sekedar janji kampanye rasa kecap, ia akan sangat dihargai. Bukan malah sibuk teriak-teriak anti asing sekalipun kerajaan bisnis keluarga dan koleganya berjabat erat dengan asing. Meminta pendukungnya untuk mendukung presiden terpilih, menghormat ketika bertemu presiden terpilih, dan kesepakatan lain yang ditawarkan sesudahnya adalah hal lain. Kita akan tetap mengenangnya sebagai orang yang memerintahkan ratusan nyawa hilang di kampung janda, beberapa aktivis '98 disiksa dan sebagiannya hilang.

Yang hilang belum kembali. Yang terbunuh masih ditangisi. Yang berdiri di depan Istana di hari Kamis belum ditemui. Lalu kita mau sebut dia Negarawan RI?

Ingatkan lagi, untuk apa kita memilih Jokowi?

Sabtu, 27 September 2014

Jangan Jadi Kirsten Dunts Selanjutnya



Kirsten Dunts mencuitkan sarkasmenya pada icloud beberapa waktu lalu karena foto pribadinya tersebar di internet. Pizza+Shit di atas bacanya "Piece a Shit".

Pihak Apple selaku pemilik sistem iCloud menolak dipersalahkan dalam kasus ini. Mereka menilai bahwa seharusnya pengguna iPhone yang memanfaatkam fasilitas iCloud menggunakan password yang kuat dan verifikasi dua langkah untuk masuk ke akunnya. Karena Apple merasa sudah menyiapkan pengaturan privasi yang sangat aman. Nat Kerris, juru bicara Apple menyampaikan pada MailOnline bahwa kasus menyebarnya data pribadi tersebut adalah kesalahan dari penggunanya sendiri.

Menyebarnya data pribadi artis Holliwood lewat iCloud belakangan ini seharusnya menjadi peringatan juga bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam menyimpan data. Jika kamu tidak memakai iPhone, belum tentu kamu juga tidak menjadi korban selanjutnya. Karena pengguna android pun juga bisa tertimpa kesialan yang sama.

Akun google kita didesain untuk bisa menyinkronisaskikan data kita di browser Chrome dengan berbagai macam extention, data bookmarks dan history ke berbagai fitur aplikasi android yang bisa diunduh lewat playstore. Jadi, apa yang kita lakukan di browser Chrome, hampir bisa dilakukan juga lewat android.

Misalnya, dalam kasusku, aku menyinkronisasikan dan memakai fasilitas back up hampir di seluruh aplikasi Android dengan Akun google. Mulai dari hal yang sederhana seperti daftar kontak, Flipboard (Aplikasi pembaca berita online), Pocket (Aplikasi yang bisa menyimpan halaman web dan membukanya secara offline di PC maupun Android. Ada Pocket versi extention di chrome juga yang bisa di sync ke Android kita), Color Note (Semacam Sticky Notes yang bisa back up otomatis via email), P Tracker (Aplikasi penting buat perempuan untuk menandai kapan masa haid, masa subur, ovulasi, dan masalah hormonal lain seperti mood, jerawat, pegal karena haid yg datanya otomatis ter-back up via gmail), galeri yang nyambung sama back up otomatis dari picassa/album privat di g+, dan masih banyak aplikasi lainnya. Karena fasilitas sync inilah, setiap kali ganti android, data yg kita pegang tidak hilang begitu saja. Serasa masih pakai device lama.

Sebelum memutuskan untuk menyinkronisasi aplikasi dengan akun google, sebaiknya baca baik-baik aturannya. Misal, yang paling bahaya untukmu adalah foto pribadi. Maka kamu kudu diperiksa ulang, apakah back up an dari galeri ke picassa itu terupload dengan setting 'only me' atau 'public'? Karena kita bisa mengakses foto pribadi yang tersimpan di galery HP lewat akun g+ juga. Bahaya kan kalau ada foto-foto pribadi kita tersebar di internet cuma karena kita abai mengecek pengaturan dan aturannya dengan baik. Hati-hati juga sama touchscreen yang sering kita tekan tanpa sengaja. Bisa langsung ke klik share kan bahaya.

Kejadian macam Kirsten Dunts, Jennifer Lawrence, Kim Kadarshian dan artis lain yang foto pribadinya tersebar via icloud di iPhone karena ceroboh jangan sampai terjadi di kamu. Iya sih, beberapa dari artis itu memang pernah tampil naked di majalah atau film. Tapi biasanya mereka dibayar dan melakukan itu dengan tujuan komersil kan. Tetap saja, menyebarkan foto pribadi terutama yang vulgar adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Kebanyakan orang memang punya Smartphone, with stupid user.

Di Indonesia, isu internet yang banyak dibicarakan adalah soal pemblokiran (Thanks, Tiffatul Sembiring!). Tapi, di US, isu utama adalah pemerintahnya yang suka ngintip aktivitas pribadi warganya di Internet. Makanya orang yang super hati-hati macam jurnalis Allan Nairm itu merasa lebih aman pakai ponsel GSM biasa yang fiturnya hanya SMS dan telepon sebagai alat komunikasi. Dia juga sering gonta ganti nomer HP untuk menghindari pembajakan data dengan ponsel biasa, HP biasa tanpa fasilitas internet memang lebih aman dari pengintipan daripada smartphone.

Untuk hindari pembajakan, login 2 langkah di google dan kombinasi password yang rumit kudu diupayakan. Nggak kebayang gimana rasanya  kalau udah ganti password secara reguler dan segala keamanan yang lain, tapi masih juga bisa ditembus. Memang sih, selalu saja ada kemungkinan tidak aman di internet. Bisa bahaya jika semua data pribadi disebar orang yang tidak bertanggung jawab. Termasuk jika jadwal haid, pertemuan yang tercatat di kalender, artikel yang kita baca, foto maupun catatan pribadi kita lainnya, malunya nggak ketulungan.

Kesadaran berinternet dan pengetahuan soal smartphone mesti terus ditingkatkan oleh penggunanya. Kalau kamu malas mempelajari devicemu sendiri, mending tunda dulu keinginan punya smartphone. Jangan sampai pertimbangan punya smartphone itu cuma karena gengsi semata. Kudu bisa mengoptimalkan fungsinya. Kalau nggak mengoptimalkan fungsi ya artinya kamu cuma jadi korban iklan dan dibodohi sama industri teknologi. Semahal dan secanggih apapun device kamu, kalau kamunya malas cari tau optimalisasi fungsinya, kamu cuma akan terjebak jadi korban teknologi. 

Kata Arthur Weasley ke anaknya, Ginny Weasley di Harry Potter and the Chamber of Secret, "Jangan pernah percaya terhadap sesuatu yang kamu tidak tahu di mana letak otaknya." Makanya, kamu harus tahu betul sistem kerja smartphone kamu.


Foto : Aplikasi Pocket versi Android

posted from Bloggeroid

Selasa, 23 September 2014

Melawan Intoleransi lewat Literasi Media

Ruangan kecil tanpa AC itu bukan masjid atau pura, namun kita harus melepas sepatu sebelum memasukinya. Menurut ingatan dan daya ukurku yang payah, ruangan itu berukuran sekitar 4x7 meter. Bagi "pemakan buku", tempat itu adalah salah satu potongan "surga" ilmu pengetahuan di kota Jogja jika dimanfaatkan dengan baik. Apalagi tidak perlu membayar sepeserpun untuk meminjamnya. Otak para pecinta buku akan dimanjakan dengan ribuan koleksi buku di sana. Aku sendiri merasa tak puas jika hanya sekali dua kali menelusuri deretan judul-judul buku yang tertera di sana dan bingung mau membaca yang mana dulu. Sebagian besar adalah buku cetakan lama yang sudah langka dan penting. Kadang ada satu dua orang yang mampir ke perpustakaan ini untuk mencari referensi ataupun sekedar membaca di tempat. Aku dan Alesia biasanya mesti berbagi meja dengan pengunjung perpustakaan, dengan tempat duduk di sekeliling meja menghadap atau membelakangi kaca depan yang dulu pernah dirusak massa intoleran saat diskusi bersama Irsyad Mandji dulu dilaksanakan. Dari kaca itu, kita bisa memandang pendopo LKiS, tempat diskusi yang biasanya dianggap "meresahkan" kelompok tertentu sehingga harus dijaga dengan ketat dengan intel dan kepolisian. 


Sebagian Rak Buku di Perpustakaan LKiS

Aku dan Alesia mendapat jatah magang Yayasan LKiS Yogyakarta selama 3 minggu. Saat itu, kami berdua belum begitu yakin kegiatan apa yang akan kami lakukan di LKiS. Pihak LKiS sendiri mengatakan bahwa yayasan sedang tidak memiliki kegiatan lagi sampai September. Kami berdua harus memikirkan apa yang harus kami lakukan selama 3 minggu di sini.

Aku meminati dunia jurnalistik, media, kebebasan beragama, politik dan HAM. Sebagai mahasiswa S1 Political Science untuk major dan Psychology di Haverford College US, Alesia meminati di politik, psikologi, kebebasan agama, dan HAM. Kami harus mencari sesuatu yang sama sesuai dengan minat kami berdua agar dapat bekerjasama dengan baik selama magang. 

“Ceritakan soal literasi media di Amerika.” tanyaku pada Alesia memulai pembicaraan di hari pertama magang kita.

Well, aku pikir kita di Amerika tidak menyebutnya secara khusus. Mungkin memang disebut literasi media di beberapa tempat, aku hanya akan mengatakan sesuai dengan pengalamanku. Dari SD kita sudah diajari untuk menulis, membaca, mengapresiasi dan mengkritik karya teman kita di kelas. Dimulai dari hal sederhana. Misalnya puisi, kemudian prosa, sampai di SMA, kita mulai mengkritisi jurnal ilmiah dan teori-teori lainnya. Tulisan-tulisan terbaik di sekolah hasil dari kelas bahasa itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku. Jadi setiap anak berlomba-lomba untuk membuat karya terbaiknya," Ia berhenti sejenak untuk mengikat rambut panjang hitam khas Meksikonya, "Saat aku berusia 13 tahun, sudah ada puisi karyaku hasil dari latihan menulis di sekolah yang diterbitkan bersama dengan banyak puisi lain yang sudah melewati seleksi ketat dan diseleksi.” lanjutnya dalam bahasa Inggris beraksen Amerika dengan ritme Spanyol yang cepat. 

Dari obrolan selanjutnya, kami merasa bahwa mengadakan lokakarya literasi media yang berbasis anti intoleransi sepertinya menarik. Mengingat bahwa di Indonesia, agama bukanlah ranah privat sampai-sampai kita harus mencantumkannya dalam kartu identitas. Alesia sempat tidak percaya bahwa di Indonesia, agama yang dianut warga negara juga sempat diwajibkan untuk tertulis di KTP, ia baru percaya setelah aku memperlihatkan KTP ku. Ia tetap beranggapan bahwa seharusnya negara tidak perlu tahu keyakinan paling privat warganya. Aku mengatakan bahwa kekerasan atas nama agama di Indonesia menempati urutan kedua terbanyak setelah konflik agraria. Kami berdua membaca berbagai artikel di internet dan menonton video kekerasan atas nama agama di Youtube. Fakta-fakta soal apa yang terjadi pada minoritas beragama di Indonesia membuatnya merinding. Ia membayangkan jika ia tinggal di Indonesia, pasti ia juga akan mengalami kesulitan-kesulitan beribadah dengan adanya larangan pendirian gereja. Aku menceritakan soal Pendeta Bennhard Maukar dari Kristen Pantekosta Rancaekek yang dipenjara 3 bulan karena dianggap punya gereja yang tak berizin. Sedangkan, mengurus perizinan gereja di wilayah mayoritas Islam itu susahnya minta ampun. Sebagai pengikut Kristen Pantekosta, Alesia jadi sedih mendengarnya. Ia jadi lebih merinding ketika aku menceritakan soal jemaat Ahmadiyah Lombok dan pengikut Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya. Belum lagi yang terbunuh dan diintimidasi karena dianggap kafir.

Alesia Lujan-Hernandez adalah partner magang dan risetku di program ini. Dia bersama dengan 5 mahasiswa lain dari Amerika mengikuti program Summer School dari VIA (Volunteer in Asia) dan Haverford College Program,  6 mahasiswa dari Indonesia juga terpilih untuk mengikuti program ini bersama mereka untuk kelas pelatihan riset, magang dan kolaborasi riset selama 2 bulan di Yogyakarta. Kami ber-12 terbagi menjadi 6 grup magang yang masing-masing grupnya terdiri dari 2 orang. Di Program ini, ada 2 mahasiswa dari Haverford College, 4 mahasiswa dari Bryn Mawr College, 3 mahasiswa UGM, 2 mahasiswa Universitas Paramadina, dan 1 Mahasiswa dari UNIPA (Universitas Negeri Papua) di Papua Barat. 

Mas Hairul Salim, direktur Eksekutif Yayasan LKiS berkata pada kami berdua, “Di lantai atas ada ruang kosong yang bisa dipakai. Silakan kalau ingin membuat diskusi dan semacamnya. LKiS tidak punya kegiatan secara khusus sampai bulan September.”

Kami merasa tertantang mendengarnya. Bukankah menyenangkan jika bisa membuat sebuah kegiatan suka-suka kita dengan fasilitas lengkap?

Awalnya kami berpikir untuk membuat diskusi kecil seputar intoleransi dan literasi media. Tapi kami khawatir bahwa sebenarnya diskusi yang kami adakan hanya untuk orang-orang yang sudah setuju dengan isu anti intoleransi beragama. Kami tidak ingin menggelar sebuah diskusi yang hanya bicara dan didengar oleh umatnya sendiri. Kami ingin sesuatu yang saat didiskusikan menjadikan tema tersebut menjadi hal baru bagi peserta diskusi.

Aku dan Alesia memutuskan untuk membuat program Literasi Media ke Siswa SMA dengan dibantu pers mahasiswa dari kampus-kampus di Jogja sebagai mentor. Namun, sebelum itu, kami harus merumuskan, literasi media macam apa? Apa fokus utama kami? Bagaimana cara kami untuk dapat memperoleh daftar sekolah yang harus kami kunjungi? Aku dan Alesia tidak memiliki jaringan sekolah di Jogja. Selain itu, bagaimana dengan materi, sekolah dan pelatihan literasi dapat diwujudkan dalam waktu 3 minggu sedangkan waktu liburan sekolah karena libur nasional bulan Ramadhan untuk siswa mengejar di belakang kami?

Yang pertama kami lakukan adalah membuat linikala dan list to do, apa saja hal yang harus kami lakukan dalam minggu pertama, minggu kedua, dan minggu terakhir. Jadwal yang kami buat membuat kami sendiri kerepotan hingga kami harus berangkat sangat pagi ke LKiS untuk magang dan baru pulang saat sore hari. Sambil bercanda, di tengah kelelahan kami mempersiapkan segalanya, Alesia berkata, "Banu, we took this internship too seriously." Aku terkekeh, kami berdua memang selalu pulang paling akhir dan berlagak sok sibuk diantara teman-teman yang magang di LSM lainnya. Apalagi ketika Izzy Roads, direktur VIA Program mengirimi kami inbox lewat Facebook yang isinya meminta materi literasi media kami untuk teman-temannya di Burma yang mengakibatkan kematian hanya karena beredarnya berita palsu yang disebarkan lewat facebook tentang Mandalay. Padahal saat itu, materi kami belum sepenuhnya siap dan isinya hanya relevan untuk Indonesia.

Rencana kami, minggu pertama adalah membuat materi literasi media, menghubungi pers mahasiswa mana saja yang bisa diajak kerjasama, mencari SMA, Training of Trainer (ToT) dengan para pers mahasiswa dan sebagainya.

Beruntunglah, Mas Salim mengajak aku dan Alesia untuk datang ke seminar yang pesertanya ternyata guru agama dari SMA se Yogyakarta yang diadakan oleh Kementerian agama. Usai seminar itu,  aku mengumumkan akan mengadakan pelatihan literasi media yang berbasis anti intoleransi. 4 guru agama  dari SMA yang berbeda menghubungi kami untuk mengikut sertakan sekolahnya dalam lokakarya literasi media. Lucunya, sebagian besar dari mereka tidak tahu literasi media itu artinya apa. Saat itu aku juga kesulitan untuk menjelaskan dengan kalimat yang singkat lokakarya yang akan kami adakan karena materinya juga belum siap. Sedangkan Alesia tidak bisa bahasa Indonesia sehingga menghambat dirinya dalam menjelaskan secara detail kepada guru SMA yang bertanya langsung padanya. 

Untunglah, para guru tersebut tak butuh penjelasan yang terlalu rinci saat itu juga. Mereka mendaftarkan sekolahnya dalam lokakarya ini karena mereka senang apapun yang membuat para muridnya maju. Aku jadi terharu karena menemui PNS yang mau bekerja dengan maksimal demi siswanya. Selama ini aku sering memandang sebelah mata para PNS yang bekerja asal-asalan dengan gaji tetap beserta berbagai keuntungan pensiuan dan gadai SK di bank. 

Aku dan Alesia mencoret list to do mencari sekolah. Kami sudah berhasil mendapatkan SMA 1 Piri, SMK 2 PI Ambarukmo, SMAN 1 Kalasan, dan SMAN 2 Wates sebagai daftar sekolah yang akan kami beri materi lokakarya literasi media. Kami menuliskan daftar SMA tersebut untuk dikunjungi sebelum lokakarya berlangsung di minggu kedua to do list karena kami perlu memastikan ada fasilitas yang kami perlukan beserta berbagai berbagai kesepakatan lainnya.

Selanjutnya kami menghubungi pers mahasiswa. Mas Wisnu Prasetyo, seorang teman yang jadi alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Balairung UGM memberikan koneksi untuk dapat berhubungan dengan pengurus yang sekarang. Seorang teman dari twitter memberikan kontak Pers Mahasiswa Ekspresi UNY yang beberapa waktu lalu tabloidnya sempat dibredel rektor. Lewat koneksi LKiS, kami mendapatkan kontak ke LPM Arena UIN Yogyakarta. Setelah kontak berlangsung lewat SMS, dan sempat berkunjung, yang dipastikan bisa mengikuti ToT adalah LPM Balairung dan LPM Arena. LPM Ekspresi sedang sibuk menyiapkan materi majalah dan beberapa anggotanya masih KKN. Kami mengerti dengan kesibukan mereka.

Di jadwal kami, sudah tertera akhir pekan minggu pertama kami adalah ToT untuk teman-teman LPM. Kami menekankan bahwa di sini kami tidak ingin menjadi guru, tapi mau belajar bersama. Tentu saja sangat kikuk mengajar literasi media di depan mahasiswa yang sehari-hari sudah bergelut seputar media. Sehingga mungkin saja akan ada banyak koreksi dan itu adalah hal baik. 

Rasanya hari berjalan terlalu cepat. Sampai hari kamis minggu pertama, kami belum selesai menyelesaikan materi presentasi. Kami juga menyiapkan jadwal dan isu-isu yang akan dibahas di lokakarya. Untuk menyusun itu semua, kami harus begadang sampai akhir pekan.

Aku membuat materi seputar 9 elemen jurnalisme dari buku karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sedangkan Alesia membuat materi yang diambil dari buku Verification Handbook karya banyak jurnalis dari media internasional yang bisa diunduh di sini. Sedangkan presentasi yang dibuat oleh Alesia bisa diunduh di sini.

Pada hari Training of Trainer, sekitar 15 orang dari 2 Pers Mahasiswa Balairung UGM dan Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta datang. Karena agak nervous berbicara soal media di depan awak media juga, kami berkali-kali meminta saran maupun koreksi teman-teman LPM jika ada yang keliru dari presentasi yang kami sampaikan.

Alesia mengawali workshop Literasi Media dengan Identity walk games dengan menggunakan bahasa Inggris. Aku menerjemahkan apa yang dia katakan dan apa yang peserta sampaikan padanya. Materi Identity walk yang tujuannya untuk mempraktekkan bagaimana bias media bekerja. Materi Identity walk ini bisa diunduh di sini.

Mas Hairul Salim membantu kami mengisi materi terakhir, praktik verifikasi pemberitaan di media lewat fasilitas google image.

Intellectual Social Responsibility (ISR), bukan Volunteering
Saat mempersiapkan teman-teman pers mahasiswa untuk menjadi trainer, aku menjelaskan kepada mereka bahwa menjadi trainer dalam literasi media ini bukanlah kegiatan volunteering biasa seperti kebanyakan gerakan lain. Apalagi, saat ini ada banyak orang melakukan kegiatan volunteering dengan setengah hati. Maksudnya, kebanyakan kegiatan volunteering saat ini dijalankan dengan tidak konsisten. Karena pelaksanaannya hanya didasarkan sesuai dengan waktu yang seadanya dengan kemauan yang naik turun sesuai dengan kepentingan dan kesempatan ala kadarnya. Jika ada waktu dan sesuai mood, maka sebuah program akan dijalankan. Jika tidak ada mood dan waktu, maka tanpa beban apapun sebuah program akan ditinggalkan.

Bayangkan apabila atmosfer volunteering ala kadarnya ini benar-benar diterapkan oleh banyak orang, konsistensi gerakan akan terhambat. Menurutku, tanggung jawab terhadap gerakan bukan didasarkan pada rasa senang semata ataupun iseng-iseng berhadiah. Gerakan adalah sebuah tanggung jawab sosial yang harus dimiliki oleh orang-orang yang sudah memiliki kesadaran dari dirinya sendiri untuk menggerakkan. Orang tersebut sudah memiliki bekal dalam hal intellectual sehingga gerakan adalah konsekuensi logis perjalanan intelektual dan spiritualnya. Aku menamakan gerakan ini sebagai Intellectual Social Responsibility (IRS). Orang hanya perlu mengaktualkan kesadaran dirinya sendiri kemudian melakukan gerakan untuk menularkan tren kesadaran tersebut kepada orang lain. Orang yang belum merasa memiliki tanggung jawab sosial tidak perlu ikut andil dalam gerakan karena justru akan menghambat pergerakan itu sendiri.

Awalnya, gerakan literasi media ini menggandeng LLPM dari kampus di Yogya karena aku dan Alesia berharap bahwa setelah aku kembali ke Jakarta dan Alesia kembali ke Amerika, akan tetap ada mahasiswa-mahasiswa yang memberikan pelatihan literasi media yang berbasis kebebasan dan kerukunan beragama di SMA se-Yogya. Sayang sekali, mahasiswa UGM sedang sibuk-sibuknya KKN (Kuliah Kerja Nyata) sehingga tidak dapat menjadi trainer literasi media untuk SMA.

Yang membantu kami adalah 2 orang anggota pers mahasiswa dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka bernama Lugas dan Faksi. Lugas adalah Pemimpin Redaksi LPM Arena. Dia lelaki tinggi berwajah manis dengan rambut panjang bergelombang yang tampak pendiam dan cerdas. Selera musiknya juga bagus, ia memberikan rekomendasi musik beraliran Postrock dari youtube yang menjadi musik favorit Alesia menjelang tidur. Sampai hari terakhir di Jogja, Alesia masih tidur sambil menyetel Youtube channel rekomendasi Lugas. How Cute! Faksi adalah anggota LPM Arena yang asalnya dari Madura, Faksi juga manis kok, rambutnya pendek dan sering mengatakan hal-hal lucu di luar dugaan. Sekalipun dia tidak bisa bahasa Inggris dengan lancar, dia selalu berusaha mengajak Alesia bicara dan menceritakan hal-hal yang dianggapnya lucu. Alesia sering bertanya padaku diam-diam, "Dia tadi nyeritain apa sih sebenarnya? Apakah itu benar-benar lucu?" Kami juga sering memainkan namanya dengan ejaan 'Fuck See' alih-alih Faksi sambil bercanda. Saat aku bertanya pada Faksi soal nasib pengikut Syiah Sampang yang terusir dari desanya, Faksi buru-buru membantah keterlibatan dirinya dengan kelompok intoleran di sana. Aku dan Alesia senang bahwa akhirnya kami dibantu oleh 2 orang yang memiliki kepedulian yang sama di bidang kebebasam beragama dan anti intoleransi.

Lokakarya di 4 SMA
Kami melakukan banyak revisi soal materi yang harus diberikan pada siswa SMA. Materi itu berbeda dengan materi ToT. Kami tidak lagi menggunakan presentasi Verification Handbook karena keterbatan waktu yang disediakan sekolah. Kami juga masih menggunakan Identity Walk Games di awal lokakarya.

Lugas dan Faksi belum bergabung menjadi mentor di SMA pertama yang kami kunjungi.

Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SMA 1 Piri. Dikutip sepenuhnya dari laman resmi  SMA PIRI 1, berdirinya SMA PIRI 1 Yogyakarta tidak dapat lepas dari keberadaan Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) Yogyakarta, yang lahir dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) aliran Lahore yang diprakarsai oleh H. Minhadjurrahman Djojosugito. Yang kemudian beliau disebut sebagai Peletak dasar Yayasan PIRI. Sekitar 25an siswa anggota OSIS mengikuti lokakarya kami.

Aku dan Alesia juga belum menjadi pengajar yang baik saat itu. Ada banyak evaluasi dalam hal metode dan materi yang kami lakukan setelahnya. Misalnya, bagaimana caranya menghadapi siswa menolak berbicara di kelas? Bagaimana caranya menghidupkan interaksi di kelas? Bagaimana caranya supaya Alesia yang tidak bisa bahasa Indonesia tetap dapat berkomunikasi aktif dengan siswa dan memahami celotehan siswa di kelas? Bagaimana supaya suasana yang kami bangun tidak terlalu formal? Bu Anis, guru Agama yang mengundang kami ke sana menceritakan tentang beberapa siswa dengan latar belakang yang beragam dan menarik. Kami jadi mengerti mengapa respon siswa terhadap kehadiran kami masih sangat malu-malu.

Karena sulitnya menyesuaikan jadwal sekolah yang mulai liburan kenaikan kelas sekaligus libur bulan Ramadhan, aku dan Alesia akhirnya mengajar literasi media secara terpisah. Aku ditemani Lugas ke SMK PI Ambarukmo, sedangkan Alesia dan Faksi ke SMAN 1 Kalasan yang lokasinya dekat dengan Candi Prambanan. 

Di SMK PI Ambarukmo, pada awal pertemuan, peserta lokakarya literasi media yang mengikuti kelas kami ada sekitar 25 orang termasuk dengan mahasiswa keguruan yang sedang KKN di SMK tersebut. Namun, setelah istirahat shalat Jumat, peserta lokakarya berkurang drastis hingga hanya tersisa 15 orang. Aku dan Lugas tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menyikapi hilangnya beberapa peserta lokakarya selain melanjutkan materi selanjutnya. Di akhir lokakarya, kami mengobrol dengan Pak Sa’dun guru Agama SMK PI Ambarukmo yang mengundang kami datang. Kami terkesan dengan pandangan-pandangannya soal kerukunan umat beragama yang dia tanamkan pada siswanya selama ini. Dia selalu berharap dengan literasi media berbasis anti intoleransi ini, siswa-siswanya tidak hanya memperoleh materi yang itu-itu saja ala pelajaran SMK, tapi juga bisa mendapatkan wawasan lain yang membuat siswa hidup rukun antar umat beragama.

Di SMAN 1 Kalasan, Alesia dibantu oleh guru bahasa Inggris untuk menerjemahkan apa yang ingin dia ajarkan karena Faksi merasa kesulitan untuk menerjemahkan bahasa Inggris Alesia yang pengucapannya sangat cepat. Pak Samijo, Guru Agama Katolik di sekolah itu menjelaskan pada Alesia dan Faksi, peserta lokakarya yang mereka ajar adalah siswa Kristen dan Katolik yang tidak mengikuti pesantren kilat Ramadhan di sekolah. Sehingga ada siswa muslim di kelas saat itu.

Lokasi lokakarya terakhir kami adalah SMAN 2 Wates. Kali ini kami berlima, aku, Alesia, Lugas, Faksi dan ditemani oleh Mas Hairul Salim. Wates masuk dalam kabupaten Kulon Progo DIY, lokasinya sangat jauh dari pusat kota. Kami datang terlambat karena sempat salah jalan. Anggota OSIS dan mahasiswa magang yang KKN di sana tampak lebih antusias mengikuti kegiatan ini dibanding sekolah-sekolah sebelumnya. SMA ini dulunya adalah SMA standar internasional yang biasa menerima pertukaran pelajar dari luar negeri. Ketika sekolah standar internasional dihapuskan, SMA ini tetap menjadi sekolah favorit lulusan SMP. Baik mahasiswa keguruan dan siswa berinteraksi dengan aktif di kelas. 

Foto Bersama Usai Lokakarya di SMA 2 Wates
Lugas membantu kami mengedit dan menerjemahkan diagram soal posting atau tidak posting di Facebook sebagai salah satu materi dalam literasi media di kelas. Edisi bahasa Inggrisnya bisa dilihat di sini, sedangkan edisi bahasa Indonesianya bisa dilihat di sini.

Awalnya, kami ingin kembali ke 4 sekolah itu untuk melakukan riset etnografi dengan metode partisipasi observasi, kuesioner dan wawancara soal pemahaman literasi media dan dampaknya terhadap interaksi antar umat beragama. Namun, semua sekolah terlanjur libur Ramadhan sehingga aku dan Alesia terpaksa mencari cara lainnya untuk mendapatkan research participant. Memang, saat kami berkunjung ke 4 SMA itu, status kami masih magang di Yayasan LKiS. Penelitiannya belum dimulai. Sehingga lokakarya dan penelitian tidak dapat dijalankan secara bersamaan saat itu juga.

Target kami dalam literasi media adalah membuat siswa dapat berpikir kritis dalam menerima informasi apapun. Dengan pemahaman yang baik mengenai media, siswa akan bersikap skeptis dan mencari alternatif informasi sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pemberitaan media yang tidak berimbang apalagi dalam kaitannya dengan pemberitaan soal keagamaan di media massa. Mereka diharapkan dapat membuat berita sendiri dengan prinsip-prinsip sederhana dalam jurnalistik.

Karena belum berhasil membentuk komunitas literasi media di Yogya, dari awal kami ingin membagikan materi literasi media yang sudah direvisi sebelumnya. Materi ini sifatnya copyleft, siapapun boleh menggunakannya secara bebas, mengunduh maupun memodifikasinya sesuai dengan kepentingan masing-masing pengajar. Bahkan tidak menyertakan nama pembuatnya tidak apa-apa, tapi aku menyarankan sebaiknya mencantumkan nama pembuat materinya agar kesalahan dalam materi bisa menjadi tanggung jawab kami.

Beritahu juga jika ada komentar maupun saran agar materi literasi media ini lebih efektif untuk diajarkan terutama kepada siswa SMA atau komunitas lainnya. Berikut tautan materi presentasi literasi medianya berbasis kerukunan beragama. Dropboxnya harus di download ya supaya videonya bisa dimainkan Jika ingin membuat lokakarya serupa, kami juga membagikan instrumen praktek literasi media yang masih sangat perlu direvisi. Untuk sesi ini, pengajar literasi media memilih 2 berita dengan topik sama tapi dengan framing pemberitaan yang berbeda dan membedahnya secara kritis. Selain itu, kami juga menyertakan contoh proposal permohonan ijin pengajaran literasi media untuk diberikan ke sekolah, silakan download di sini.

Membuat lokakarya literasi media dalam waktu singkat itu tidak mudah, tapi itu juga bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Teman-teman juga bisa berdiskusi lebih lanjut soal literasi media dan kaitannya dengan gerakan anti intoleransi beragama denganku via email syaharbanu.ayu@gmail.com. 

Dini Hari, di Kafe

Mahasiswa Filsafat : Di kampus lu ada KKN nggak sih?
Mahasiswa Teknik : Ada, tapi kalau jurusan gue sih namanya kerja praktek, di perusahaan.
Mahasiswa Filsafat : Gue nggak pernah ngalamin hal macam itu.
Mahasiswa Teknik : Oh, di kampus lu nggak ada KKN ya?
Mahasiswa Filsafat : KKNnya sih nggak ada, tapi jurusan tertentu emang ada kerja praktek, magang gitu.
Mahasiswa Teknik : Terus jurusan elu ngapain dong?
Mahasiswa Filsafat : Kita mah kerjaannya melayani Tuhan dan prentilan-prentilan di sekitarnya. Bukan melayani company.
Mahasiswa Teknik : Anjrit!
Mahasiswa Filsafat : *nyeruput moccacino*

credit

Senin, 25 Agustus 2014

Bukan Remis

Butuh waktu lama sekali untuk bisa menjawab pesanmu.

Aku harus berguling-guling dan membolak-balik ratusan lembar buku agar dapat menemukan kata-kata yang cukup pantas untuk disalin. Mencoba berpikir keras, menangis -kadang-, mengutuki diri sendiri, memaksa otak untuk memanggil ingatan, menuliskannya, menghapusnya lagi karena kata-kata tersebut tampak terlalu drama. 

Bahkan untuk menjawab pesanmu pun, aku tak cukup baik. Apalagi untuk bisa memahamimu, mematuhi selusin aturan main yang kau tentukan.

Aku seperti seorang gadis yang sedang duduk sendirian. Kelelahan dan mencoba menghindari tatapan orang-orang dengan segala konsensus yang mereka buat. Dari mulai keluarga, agama, sosial, dan segala hal yang terdiri dari kumpulan otoritas yang seringkali dianggap berhak untuk menentukan sebuah standar kepantasan berpikir dan bersikap.

Akhirnya kau datang. Berjalan lurus ke arahku dengan sebuah papan catur di genggaman. 

Kau tahu bahwa catur dan buku adalah sarana paling ampuh untuk membunuh kebosanan yang mencekam.

Aku pernah bilang padamu, membaca dan bermain catur adalah aktivitas yang sangat menyenangkan bagiku. Rasanya aku tidak keberatan jika harus melakukannya berulang-ulang.

Lewat buku kita bisa membangun dunia dan imaginasi kita, kita bisa melarikan diri dari kehidupan-kehidupan yang tidak kita inginkan. Melalui catur kita bisa membangun kerajaan kita sendiri. Bertarung sampai akhir dengan pasukan yang loyalitasnya tidak diragukan lagi. Tidak ada politisi di dalam catur yang memuakkan. Kita hanya punya para martir. Tidak ada prajurit pengecut di sana, kita cuma punya pemberani.

Kau menata biji catur itu dan mempersilakan aku memainkannya lebih dulu. Iya, kau memberiku warna putih dan kau adalah hitam. Tidak ada metafora soal baik atau buruknya putih dan hitam dalam catur. Kau dan aku sangat paham bahwa perbedaan warna hanya sebagai pembeda.

Aku pikir, relasi dalam catur mengajarkan kita prinsip kesetaraan. Ada dua kubu biji catur dengan kekuatan yang sama. Setidaknya kita sudah memulai permainan ini dengan sangat baik.

Aku memajukan satu bidak catur di depan ratu satu langkah. Kau tahu, aku adalah orang yang sulit mengubah keadaan. Aku lebih senang jika sesuatu itu tidak banyak berubah dari pola awal. Jalan pikiranku memang begitu. Aku khawatir sekali kau telah berhasil menemukan koneksi keduanya dan menebak langkahku. 

Kau memajukan bidak di depan kudamu. 

Seharusnya aku mengeluarkan Menteri atau Rajaku untuk mengincar Benteng atau sekedar memporak-porandakan pertahananmu di sana. Tapi aku juga sudah menebak bahwa kau akan tahu apa yang aku incar. Aku memilih strategi lain. Aku hanya ingin mengeluarkan kudaku untuk mengancam kerajaanmu. Teknik Skak antara Ratu dan Benteng atau Ratu dengan yang lainnya adalah salah satu hal favoritku.

Saat aku melangkahkan kudaku, kau berkata, "Kau harus menggerakkan minimal 4 bidakmu dulu sebelum menggerakkan kuda itu."

Aku belum pernah mendengar aturan main seperti itu. Aku tahu bahwa sangat aneh menggunakan aturan-aturan di permainan yang kita suka. Aku punya pilihan untuk memprotes maupun membatalkan permainan. Tapi aku tak ingin sendirian. Aku bisa mati bosan. Aku terlalu takut jika kau akan sigap mengemasi papan caturmu dan melangkah pergi begitu saja begitu aku tak setuju dengan caramu. 

Rasanya kau seperti berkata, "Aku yang membuat kita memainkan permainan ini. Aku lah yang boleh membuat aturannya."

Tapi, di dalam hatiku, aku yakin bahwa kau tidak pernah bermaksud untuk mempersulit keadaanku atau menambah bebanku. 

Aku juga tidak tahu darimana datangnya pikiran-pikiran baik tentangmu dalam keadaan seperti ini.

Baik. 

Aku menggerakkan lagi bidak di depan Ratu. Dua langkah. Tapi kau bilang, dalam permainan kita kali ini, kau tidak akan mengijinkan ada bidak yang melangkah dua langkah di permulaan. 

Aku mengangguk patuh sekalipun aku tidak mengerti mengapa permainan ini jadi begitu sulit. Namun aku percaya padamu bahwa kau hadir untuk membantuku hindari tindakan melamun yang sia-sia. 

Kau menjalankan bidakmu yang lain. Di depan Ratu. Pada permainan catur normal, aku akan mulai menggerakkan Rajaku untuk meneror pasukanmu. Tapi aku tak punya pilihan lain selain mematuhi aturan main atau permainan selesai tanpa penentuan pemenang. 

Bukan soal remis yang aku maksud. Yang aku maksud adalah salah satu dari kita memutuskan untuk berhenti begitu saja tanpa akhir yang jelas.

Setelahnya, masih ada selusin aturan main lain yang gagal aku pahami mengapa. Tapi aku ingin tetap bermain sampai akhir. Jika prajurit catur ini dicipta untuk jadi martir, mengapa aku harus mudah menyerah?

Tapi, yah... Sebenarnya, aku duduk di sini untuk menghindari otoritas-otoritas yang menyudutkanku. Tapi aku tak punya mental yang cukup kuat untuk meninggalkan segalanya yang ada di sekitarku. Aku tidak seberani itu. Aku tidak seberani kau untuk meninggalkan segala yang tidak berpihak padamu. 

Aku memang bukan pemberani sepertimu. Aku begitu takut benar-benar sendirian. Aku takut dengan masalalu dan tidak tahu bagaimana caranya menghadapi masa depan. Andai saja ada kesempatan untuk remis saat terpojok…

Kau, tiba-tiba saja hadir jadi otoritas baru dalam hidupku. Aku begitu ketakutan untuk tidak bisa patuh padamu. 

Aku melanggar banyak peraturan otoritas yang membuatku tersingkir, aku tak bisa dipaksa patuh. Aku hanya sanggup menjalani satu dua aturan tapi selalu menolak untuk tunduk sepenuhnya pada itu. Otakku selalu bertanya soal alasan-alasan dibalik adanya aturan-aturan itu. Sekuat mungkin otoritas itu, aku selalu punya hal lain yang bisa aku tawarkan sekalipun aku tahu bahwa responku akan diganjar dengan serangkaian penolakan-penolakan.

Kau masih jadi orang pertama yang paling ingin aku hubungi saat keadaan terlalu menyakitkan untuk dijalani. Kau begitu heroik dalam segala hal, sebaliknya, aku begitu lemah dalam segalanya. 

Kau lelah menunggu aku yang tak kunjung menggerakkan bidak. Kau lelah dengan aku yang tak ingin mengakhiri permainan tapi tak ingin meneruskan permainan ini juga. 

"Bisakah kita menyingkirkan papan catur ini dan mulai membaca buku bersama saja? Siapa tahu, nantinya akan ada sesuatu yang bisa kita tulis bersama-sama." Kataku putus asa.

Kau memandangku dengan tatapan tak setuju, kau mengangguk pelan. Tapi bukan tanda setuju. Tanpa mengemasi papan catur itu, kau berdiri, membelakangiku, dan melangkah pergi.

Kau memintaku untuk mengerti. Tapi, anggap saja aku tak cukup cerdas untuk melanjutkan permainan.

Pada akhirnya, kita harus saling memaklumi dan juga memaafkan. 

Jika harapan akan berbuah kecewa, aku tetap ingin kecewa dengan cara yang indah, dengan sebuah harapan, bahwa, di suatu hari nanti, kita masih akan bertemu. 

Kelak.

Sekalipun di dunia yang berisi kenyataan-kenyataan, yang tak mengizinkan harapan untuk tumbuh…

Selasa, 19 Agustus 2014

Hantu

Kau bilang ada hantu di kepalamu. Mengendap-endap. Hantu itu menyaru jadi masalalu yang hanya kau sendiri yang paham betul alurnya. Ia adalah pasung yang membuatmu sekuat tenaga ingin pergi tapi tak bisa bergerak, kau membeku. 

Kau rasakan darahmu mengental di kepala sampai membuatnya sakit.

Hantu dalam pikiran itu membuatmu tak bisa tidur. Membuatmu setengah mati ingin istirahat namun gagal. Ia mengiris akal sehatmu pelan-pelan dengan reka adegan yang perih tapi kau tak kunjung mati dengan itu. Ia membakar hal-hal baik dalam kepalamu hingga jadi abu, tak ada angin yang menerbangkannya. Abu itu teronggok menyedihkan dalam kepalamu, pelan-pelan jadi lembab dan berjamur. Begitu saja.

Hantu itu meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau sendirian. 

Ini adalah kegelapan, kau hanya bisa meraba-raba, kau harus berjalan pelan mengendap-endap karena sekitarmu begitu licin. Tak ada yang bisa ditanya. Tak ada yang bisa dipercaya. 

Bahkan kau harus menyadari bahwa tak ada yang benar-benar peduli.

Jika ada suara-suara, kira-kira begini bunyinya, "Kami sibuk, kau harus pandai-pandai mengusir hantu dalam kepalamu itu. Kami pikir kau sendiri yang undang hantu itu ke dalam kepalamu. Seandainya kau bersikap dingin, menolak, tidak lemah, bisa melawan, kau akan baik-baik saja sekarang. Itu salahmu sendiri. Menjadi lemah ataupun kuat adalah pilihan."

Pikiranmu yang meng-abu itu terlalu sulit mencerna kalimat bijak bestari itu. Kau tidak paham. Kau tidak mampu lagi mencerna ucapan apapun. 

Hey, jangan menangis. Jangan. Beberapa hal tak pantas untuk ditangisi. Hantu itu apalagi. Tak. Tak pantas. Hantu itu tak akan bertahan lama. 

Tolonglah, demi Tuhan apapun yang kau yakini, jangan menangis.

Sekarang aku tanya padamu, apa yang kau butuhkan? 

Tangan? Pelukan? Pembelaan? Keberpihakan? Pukulan ke hantu itu? Atau apa? Sebut saja. Apa saja. Sebut.

Kau bisa jadi apa saja jika tak merasakan hantu itu di kepalamu. Kau pijar, kau bara, kau lilin, kau api, kau rerumput, kau hujan, kau bahkan bisa jadi es di minuman anak kecil yang lelah berlarian di terik matahari. Kau bisa jadi yang kau mau. Apa saja. Tinggal sebut.

Kau hanya perlu menemukan dirimu sendiri. Membasuh segala resah di sana. Dirimu adalah mata air kecemerlangan itu sendiri.

Apa? Kau bilang sudah mencoba? Tapi tak bisa? 

Baik, apalagi masalahmu?

Kau takut sendirian? Bukankah selama ini kau sudah sendirian? Kau bisa sendirian. Aku yakin itu. Aku menemukanmu sendirian dan saat itu kau tampak baik-baik saja. 

Jangan bilang saat itu kau pura-pura kuat dan baik-baik saja. Kau tidak seperti itu. Oh, karena musuhmu adalah hantu dalam kepalamu yang sebelumnya tidak bisa aku lihat? Baiklah... Hmmm... Aku harus berkata apalagi ya kepadamu.

Kau bilang ada hantu di kepalamu. Mengendap-endap, menyaru jadi masalalu yang hanya kau sendiri yang paham betul alurnya. Ia adalah pasung yang membuatmu sekuat tenaga ingin pergi, tapi kau sadar bahwa kau juga tak bisa bergerak...

Aku melihatmu dari kejauhan, mendengarmu keluhmu, tapi aku tak bisa apapun. Ini diluar batasku, aku tak bisa memasuki kepalamu untuk mengusir hantu itu. Aku tak punya mantra apapun untuk membunuh hantu itu.

Ada pilihan, tapi aku tak mungkin melangkah terlalu jauh. Sekali lagi, ini soal batas kemampuan maupun kemauan.

Semoga kau baik-baik saja.

Senin, 18 Agustus 2014

Pereda Rasa Nyeri

"Di sini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Ini cuma obat pereda rasa nyeri saja." Kata perempuan berjilbab putih itu singkat dan dingin. Nyaris tanpa ekspresi, diantara bau obat dan berbagai multivitamin, ia mengangsurkan 10 kapsul pereda rasa nyeri berwarna pink padaku. Menurutnya, itu pereda nyeri terbaik di tokonya. 

"Jadi nanti setelah aku minum, sakitnya berkurang, tapi setelah reaksi obatnya habis, akan sakit lagi?"

"Sakitnya hilang, bukan berkurang. Tapi iya, memang nanti sakit lagi."

"Oh, begitu..."

Ia membungkusnya dengan plastik bening. Transaksi begitu singkat. Ia dapat uang sedangkan aku dapat kapsul pink yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan keperempuanan.

Siang ini, dari penjaga apotek tanpa ekspresi itu, aku belajar bahwa beberapa orang hadir di dunia ini memang hanya bertugas sebagai pereda rasa nyeri. Ia memang menghilangkan nyeri-nyeri, tapi memang hanya untuk sementara. Tidak bisa benar-benar menyembuhkan.

Ironisnya, aku -si pembenci perpisahan ini- juga kadang hadir di dunia orang-orang tertentu hanya sebagai pereda rasa nyeri sementara juga. Jika nyeri itu datang lagi untuk mengadukan banyak hal soal ketidakadilan, keterasingan dan kesedihan-kesedihan lain, aku memberinya beberapa hal. Ia akan merasa lebih baik, melompat riang gembira kegirangan, lalu pergi. Beberapa saat kemudian ia akan datang lagi dengan nyeri yang berada di tempat yang sama. Nyeri itu timbul lagi, ditenangkan lagi, sakit lagi, ditenangkan lagi. Seperti siklus, Terus berulang. Entah sampai kapan.

Kadang aku menjadi nyeri itu sendiri dan kewalahan mencari-cari, siapa yang sedang membawa kapsulku.

Berapa aneh ketika ketenangan, kebahagiaan, kelegaan dan semangat untuk terus bergerak yang disuntikkan dengan susah payah akan habis dilibas kesepian dan ketakutan-ketakutan setelahnya. Begitu saja. Terus menerus, tanpa ampun.

Dalam hal ini, rupanya pesimisme Arthur Schopenhauer berlaku.

Sabtu, 16 Agustus 2014

"Bolehkah Saya Memakai Pakaian Rohani?"

Setelah pelajaran berakhir, seorang murid mendatangi gurunya, "Guru, bolehkah aku mulai memakai pakaian rohani?"

Guru memandangi sang murid. Melihatnya dari atas ke bawah, dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Tapi kenapa guru?"

Guru tersebut meletakkan kitabnya, berdehem, kemudian menjawab, "Muridku, kita tidak bisa sembarangan memakai pakaian rohani, baik penutup kepala maupun jubah ini. Kau harus menjadi orang yang sangat baik akhlaqnya. Kau juga harus menguasai kitab-kitab tingkat lanjut dahulu. Baru setelah dirasa kau  cukup baik mengikuti segala pelajaran agama, kau boleh memakai pakaian rohani."

"Begitukah? Jadi, dalam kata lain, aku belum pantas mengenakan baju rohani karena akhlaq ku masih buruk?"

"Kau hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi, semoga nantinya ada peningkatan spiritual sehingga kau benar-benar pantas mengenakannya."

"Baiklah kalau begitu. Tapi, sebelum saya undur diri, bolehkah saya menceritakan sebuah cerita?"

"Silakan..."

"Pada suatu hari saya pergi ke pemandian umum bersama teman-teman. Saat saya membuka baju, teman-teman berkata, 'Astaga Mohsen!!! Badan kamu kotor sekali! Menjijikkan!!' Akhirnya saya memakai baju saya kembali dan mengemasi barang-barang saya. Teman-teman bertanya, 'Lho? Kamu mau ke mana? Tidak jadi mandi?' Saya menjawab, 'Karena badan ku kotor, aku berniat mandi dulu di rumah sebelum berendam bersama kalian di sini. Karena sepertinya yang boleh mandi di sini hanyalah orang-orang yang badannya sudah bersih.' Demikian cerita saya guru..."

Guru merenung dan tersenyum memandangi muridnya.

"Jadi bagaimana?" Desak sang murid.

"Baiklah, kau boleh mendaftarkan dirimu di upacara pemakaian baju rohani besok." Ujarnya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, apakah ceritamu itu sungguhan?"

"Guru yang mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah. Adapun cerita tersebut, hanya perumpamaan saja."

Murid cerdas tersebut kini telah menjadi ulama besar di Republik Islam Iran. Dia bernama Mohsen Qaraati.

Note :
Cerita ini aku baca sekitar dua tahun lalu. Seorang pelajar agama di Hauzah Ilmiyah Qom, Iran menceritakannya lewat sebuah aplikasi mengobrol sebagai dongeng pengantar tidur. Namun file dongeng sebelum tidur itu hilang. Sehingga aku hanya mengandalkan ingatanku untuk menuliskannya kembali. Sudah lama ingin menulis cerita ini di blog, tapi lupa. Tentu saja ada yang sedikit berubah terutama pada detail cerita. Tapi intinya sama kok. :).

Di Iran, seorang pelajar yang ingin memakai Amameh (penutup kepala mirip surban) dan gamis khas Ulama Iran harus melalui upacara penahbisan khusus. Hanya pelajar-pelajar yang memenuhi syarat yang bisa memakainya sebagai tanda bahwa ia sudah sampai pada tingkatan pelajaran tertentu. Biasanya gelar yang diberikan adalah Hujjatul Islam. Karena untuk menjadi seorang ulama tidak mudah, maka ada banyak pelajar yang berlomba-lomba kecerdasan supaya lolos berbagai ujian agama. Meliputi Fiqih, Ilmu Al Quran, Filsafat maupun Tasawuf/'Irfan. Beda sekali dengan di Indonesia. Asal kamu hafal beberapa ayat Al Quran dan pintar bicara, kamu bisa jadi ustad. Di Indonesia, seseorang bisa menjadi ustad dengan sistem polling SMS. Ketimpangan standarisasi ulama inilah yang membuat banyak sekali orang yang bertindak sewenang-wenang atas nama agama. Karena ia tidak benar-benar memahami agama, atau bisa jadi, sebenarnya ia sama sekali belum pantas menjadi seorang ulama. 

Jumat, 15 Agustus 2014

Di antara Rumah dan Pepohon

Aku belajar, bahwa ada dua jenis keluarga.

Keluarga pertama terdiri dari orang-orang yang memiliki keterikatan darah maupun rahim. Kasih sayangnya tidak perlu dipertanyakan. Itu jadi sebuah kemestian, bahkan kewajiban. Kadang cinta mereka menyakitkan dan gagal kita pahami. Kadang ada kehendak berkuasa, mengatur, mengekang atas nama cinta atau perlindungan sekalipun kita adalah manusia dewasa yang merdeka dalam menentukan sikap.

Kita seringkali teledor dengan menuntut apa yang bukan menjadi hak kita atau yang kita pikir harus kita dapatkan. Barangkali karena kita hidup bersama mereka -terutama orang tua- sepanjang usia kita. Barangkali juga karena segala tindakan kita akan berdampak bagi nama baiknya. Sehingga kita harus tahu diri. 

Kita harus menjaganya. Jangan sampai keluar garis. Jangan sampai melampaui batas. Kita bagian dari mereka, mereka adalah kita. Kita begitu identik sehingga sulit berlepas, atau mestinya, tidak ada yang perlu untuk dilepaskan.

Sebenarnya, garis itu bukan kita yang tentukan. Tapi konsensus sosial. Kita mesti tunduk pada konsensus sekalipun kita tak sepakat. Sekali lagi, kita tak sepakat tapi harus tunduk. Bukan kita yang membuat peraturan, atau kita bukan siapa-siapa untuk dapat membuat sebuah konsensus baru. Suka atau tidak suka, kita terikat kuat. Mau atau tidak mau, kita ada di dalamnya. Jika tidak suka, silakan keluar dan cari konsensus yang sesuai dengan apa yang kita mau. Walau ganjarannya adalah diasingkan, atau dianggap mati sekalipun sekuat tenaga kita terus berusaha hidup. 

Alex Supertramp dalam In to the Wild berkata, "Society! Society! Society!" di sebuah cafe untuk menyuarakan protes yang ditertawakan orang-orang yang sama-sama terasing. Kita akan jadi asing pada waktunya, Apalagi jika kita berada di luar garis konsensus. 

Bahkan kadang kita terasing dari diri sendiri. Setelah lelah mempertanyakan apa yang ada dikepala kita, apa yang baik maupun yang benar dalam pendirian kita. Kita terasing dan butuh istirahat. Keluarga yang pertama adalah rumah yang nyaman dengan orang-orang yang selalu memeluk kita kapanpun kita pulang.

Jika saja kita mau tunduk. Jika saja kita mau mengecilkan sedikit ego masing-masing dan bicara lagi soal cinta yang melembutkan hati, bukan mengeraskan kepala.

Tapi jika rumah itu tak lagi terbuka, masih ada keluarga yang kedua.

Keluarga kedua terdiri dari orang-orang yang memiliki keterikatan hati. Dukungan mereka terhadap kita lahir dari adanya kesamaan nasib atau kesanggupan untuk saling mendengar dan membangkitkan. Mereka kta temukan di jalan-jalan intelektual maupun spiritual kita.

Mereka jadi lilin di saat mata kita begitu gelap tak melihat apapun, Jika ternyata ruangan yang kita pijak terang benderang, mereka tetap jadi lilin di altar-altar suci, mengiring doa-doa, menerbangkan harapan. Kadang beberapa orang yang kita anggap keluarga memadamkan lilinnya dan pamit pergi, Beberapa memang pergi tanpa pamit.

Beberapa memang hanya singgah sementara. Kita menoreh namanya di pepohon, dekat dengan jalan setapak tempat kita melanjutkan perjalanan. Pepohon yang tertinggal akan tetap di sana, menyapa pejalan kaki yang akan lewat. Bukan kita. Tapi mereka akan tetap ada.

Setidaknya, untuk dikenang...

Pada akhirnya kita harus memaksa kaki kita untuk berdiri sendiri, sekalipun dalam gulita. Jika tidak begitu, kita akan gagal membantu orang lain untuk berdiri. Kita akan gagal memenuhi cita-cita penciptaan kita.

"Tugas-tugas" yang harus kita selesaikan adalah buah kesadaran yang pada akhirnya harus kita penuhi. Aku lebih senang menyebutnya konsekuensi logis kesadaran. 

Jika tak mampu berlari, berjalan maupun sekedar berdiri tegak, mungkin kita harus memulai segalanya dari awal, dengan bersimpuh atau bersujud. 

Sebelum akhirnya terasing kembali. Menguap. Hilang. Melelah untukNya.

Senin, 28 Juli 2014

"Kapan Nikah?"

"Saat ini aku jatuh cinta terhadap ilmu pengetahuan. Dia memahamiku dan membuatku paham segala sesuatu. Sedangkan lelaki, kebanyakan yang aku temui malah justru membuatku tidak paham dan sulit bagi kami untuk saling memahami.  Aku tidak akan menyebut secara spesifik merujuk ke satu orang lho ya...
Lagipula, aku karena tidak ingin banyak drama lagi. Aku akan mencintai siapapun yang aku nikahi. Bukan semata-mata menikahi orang yang aku cintai. Aku bisa mencintai siapapun yang punya sesuatu untuk diperjuangkan diluar kenyamanan dirinya sendiri dan keluarganya. 
Memiliki pasangan yang memperjuangkan sesuatu untuk masyarakat itu penting. Karena, pada suatu hari, jika dalam pernikahan kita mulai membosankan, aku tetap akan mencintai apa yang dia perjuangkan. Karena bagiku, pernikahan itu bukan soal mengamankan diri sendiri dan membuat area nyaman untuk diri sendiri dan keluarga. Pernikahan itu justru soal mengurangi kenyamanan diri sendiri untuk orang lain, baik untuk yang kita cintai maupun kepada manusia yang bahkan tidak kamu kenali. Kita harus siap membunuh ego kita sendiri setiap saat. 
Kembali ke soal ilmu pengetahuan, untuk mencapai itu, tentu saja dibutuhkan seorang yang intelektual, Dalam ilmu tradisi yang aku pegang, seseorang yang intelektual itu pasti seorang yang spiritual dan sebaliknya. Bukan seorang yang hanya sibuk dengan berbagai ritual pribadinya. Jadi,ya... Seperti itu mauku..."
Pernyataan panjang diatas aku pakai untuk menjawab orang yang tanya 'kapan nikah?' Aku benar-benar sudah mengatakannya ke orang-orang yang bertanya soal itu sekalipun pertanyaan yang mereka ajukan cuma iseng.

Pernikahan, sama sekali bukan hal main-main.

Menghadapi ini, membuatku makin sadar, waktu berlari begitu cepat. Ada banyak hal-hal baru yang datang,

...dan pergi.

3 tahun lalu, saat lebaran tiba, aku berpikir tentang kata-kata apa yang tepat untuk dikirimkan ke orang-orang lewat SMS dan sosial media. Apalagi aku adalah tipe orang yang tidak suka menyalin ucapan lebaran yang pernah dikirimkan orang lain sebelumnya. Aku lebih senang memikirkan kalimat-kalimat baru yang tentu saja belum pernah digunakan orang lain sebelumnya. Ternyata sekarang berubah! Aku tidak lagi memikirkan hal itu. Aku malah memikirkan ini karena pertanyaan soal itu makin sering diajukan. Mungkin karena semua kakak sudah menikah dan beranak pinak. Bisa juga arena sebagian teman-teman sebayaku sudah menikah.

Saat menghadapi pertanyaan ini, menjawab dan melihat respon orang yang menanyakan hal ini, aku cuma bisa menyimpulkan satu hal.

Lucu.

Selasa, 15 Juli 2014

Bertanya tentang Pertanyaan

“Bagaimana bentuk hujan sebenarnya? Apakah bentuknya berupa rintik, atau lurus seperti benang?"

Itu adalah dialog dalam sebuah film Korea, aku lupa judulnya. Dialog itu terjadi antara seorang nenek yang buta kepada anak laki-laki kecil di teras rumah. Saat itu hujan sedang sangat lebat. Anak itu terdiam, berpikir, tapi ia gagal menemukan jawabannya. Ia memikirkan ini hingga dewasa. Sampai sang nenek meninggal, ia tidak pernah bisa menjawab, hujan yang deras itu berupa rintik-rintik atau serupa benang yang tak terputus.

Bagaimana meyakinkan seorang yang buta, kapan hujan berupa rintik dan kapan hujan berupa benang tanpa putus? Bagaimana bisa sesuatu yang tampaknya jelas tiba-tiba menjadi sebuah pertanyaan yang sulit dijawab? Yang ada di sekitar kita sehari-hari dan cenderung tak berjarak seringkali luput dari perhatian kita.

Kita juga seringkali abai mengenali sesuatu yang menjadi bagian dari diri kita sendiri. Karena ia tak berjarak, terlalu dekat, maka kita tak melihat atau menyadarinya. Periksalah peglihatan kita, sedekat apa mata kita bisa mengidentifikasikan sesuatu dengan benar? Apakah kita bisa membaca sebuah kertas bertuliskan huruf yang terletak di depan mata kita dengan jarak hanya sepanjang bulu mata kita?

Orang sering meminta afirmasi tentang keadaan dirinya sendiri kepada orang lain. Dia seharusnya tahu apa yang terjadi dengannya tanpa perlu bertanya pada orang lain. Diri dan perasaan maupun pikiran kita adalah sebuah kesatuan yang tak berjarak. Mestinya kita mengenal semuanya. Tapi seringkali, kita abai mengenalnya. Sehingga kita perlu bertanya pada orang lain apa yang terjadi pada diri kita.

Pun kita.

Kita tahu bahwa kita saling peduli. Pertimbangan setelahnya yang jadi serba sulit. Awalnya berupa 'cita saja tak cukup.' Lalu 'Peduli bukan berarti apa-apa. Kadang kita hanya ingin berbuat baik satu sama lain' lalu 'Aku takut jika suatu hari bosan dan tak tahu bagaimana caranya menghadapi ego kita' atau 'bagaimana kalau kamu dan aku ternyata bukan final,waktu masih berjalan dan barangkali kita hanya belum bertemu orang yang lebih tepat. Apa jaminannya bahwa di masa depan tidak akan muncul orang yang lebih cocok dan nyaman?' Lalu segala sesuatu seputarnya hanya jadi wacana. Kita saling menghindar untuk membahasnya lagi.

Bagiku, perasaan yang hadir diantara kita yang kikuk ini adalah sebuah swabukti. Seperti halnya kamu tahu kapan kamu lapar, kapan kamu merasa sakit, kapan kamu merasa sangat lelah. Hanya kamu sendiri yang tahu hal sebenarnya. Kamu tidak memerlukan perantara sesuatu yang lain untuk mengetahui kebenarannya. Kamu tahu. Kamu hanya perlu mengakui lalu berkata padaku.

Tapi toh kita sering bertanya tentang diri kita sendiri pada orang lain.

Barangkali karena pernah salah menilai sesuatu sehingga kepercayaan diri untuk meyakini apa yang kita anggap benar jadi begitu sulit. Akhirnya kita sering mempercayakan apa yang terjadi di hati dan pikiran kita pada oranglain. Barangkali kita sering terjebak dengan pendapat-pendapat orang yang menurut kita lebih pakar, malahnya, bagaimana jika dua orang pakar mengomentari satu hal dan hasil yang mereka rekomendasikan berbeda? Bagaimana akhirnya kamu melangkah setelahnya sedang kamu sedang tidak bisa berdiri tegak di tempat yang kamu yakini kekokohannya?

Kita hilang dalam pencarian terhadap diri sendiri. Di depan kita begitu buram, dibelakang kita ada jejak luka, kamu ingin melangkah ke mana? Kamu berdiam diri, berusaha menantang waktu, tapi kamu tahu kalau kamu harus melangkah, Sebelum es yang kamu pijak itu melelah atau retak.

Beri tahu aku setelah selesai bicara pada dirimu sendiri ya. 

Minggu, 15 Juni 2014

Soeharto Bukan Pahlawan!

Kemarin, aku dan Fatimah Zahrah makan malam di sekitar kampus Sanata  Dharma Jogja. Dekat dengan homestay kami. Kami mencari makanan yang sederhana tapi bukan yang edisi masakan Padang. Fatimah ngotot ingin makan sayuran karena dia ingin mempraktekkan Food Combaining, Aku juga ngotot tidak ingin makan di chiness food. Sejak dia di Jogja, dia memang berusaha untuk mempraktekkan food combaining supaya cacing dalam perutnya jadi lebih bahagia. Jadilah, kami makan di warung masakan Jawa.

Warung itu sama sekali tidak menarik. Etalasenya tidak menghadap sisi jalan, agak temaram, dengan televisi di pojok atas. Warung itu menjual bensin, minuman dingin dengan kulkas Coca Cola, dan pulsa. Saat kami datang, mereka sedang menonton TV One.

Aku agak ragu makan di situ. Selain tidak menarik, aku bukan penggemar masakan Jawa maupun warteg. Aku lebih suka makanan Sulawesi, Aceh, maupun Sunda. Sedangkan Fatimah adalah fangirl warteg, masakan Jawa dan warung Burjo. Tapi kami sudah berjalan lebih jauh dari yang biasanya. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di warung itu.

Ternyata pemilik warung itu adalah orang Flores. Menariknya, bapak dan ibu yang ada di warung tersebut menggunakan pin bergambar Prabowo-Hatta di bagian dada kanan bajunya. Dengan wajah sumringah, mereka bilang kalau mereka adalah tim sukses pasangan calon presiden No.1.

Kepada Fatimah, ibu itu bilang, "Sekalipun saya tim sukses capres nomer 1, saya sih tetap ingin mencoblos berdasarkan hati nurani. Jokowi itu orang baik. Dia sudah berbuat banyak dan dicintai rakyat. Terserah orang mau jadi tim sukses siapa. Yang tahu siapa pilihan sesuai hati nurani kita di kotak suara hanya kita dan Tuhan."

Fatimah menyambut pernyataan ibu itu dengan tertawa keras. Dia senang sekali ada orang yang bilang begitu kepada Jokowi. Aku hanya senyum-senyum mendengarnya. Karena tersenyum itu nomer satu. Presidennya nomer 2.

Fatimah dan ibu itu mengobrol seru tentang copras capres, pendidikan, pemberdayaan perempuan, anak, asal tempat tinggal, dan lain-lain.

Aku hanya ikut mengobrol bersama mereka sedikit-sedikit. Bukan karena tidak tertarik dengan tema obrolan. Tapi karena bapak pemilik warung juga mengajakku untuk mengobrol. Sehingga ada 2 forum yang berbeda di satu tempat. Kami sangat berisik. Beruntung tidak ada orang lain di sekitar kami yang ikut bicara maupun sekedar mendengarkan.

Topik yang dibicarakan oleh si bapak tidak jauh beda. Menariknya, bapak ini tetap akan memilih Prabowo dengan alasan, "Prabowo itu hebat, Sehebat Soeharto. Nanti jika Prabowo menang, akan ada kemandirian pangan seperti jaman Soeharto dulu. Indonesia akan berdaulat kembali."

Aku tersenyum, mengangguk-angguk, dan ber, "Oh ya? hmmm... Oh ya..." karena bapak itu berbicara dengan semangat tanpa bisa di interupsi.

Si bapak bilang, bahwa di jaman Soeharto, ada bayak lahan yang diganti dengan sawah sehingga lebih bermanfaat. Karena itulah, warga di luar pulau Jawa tidak perlu membeli nasi lagi dari Jawa. Dia bercerita bahwa ia termasuk yang kena dampak positif di masa Soeharto lewat program Repelita.

Program Repelita Soeharto diabadikan lewat perangko-perangko yang dikoleksi oleh 2 kakak ku yang memang punya hobi filateli. Saat aku SD, aku lebih tertarik dengan buku dan kertas surat yang lucu-lucu daripada filateli. Penyebutan Repelita membawa ingatanku kembali ke masa  lalu. Kalau tidak melihat koleksi perangko kakakku, barangkali aku tidak akan pernah tertarik dengan tema Repelita. Perangko itu bergambar macam-macam pembangunan Indonesia yang menjadi target peningkatan kualitas di berbagai sektor. Aku jadi tahu apa yang dimaksud oleh bapak dari Flores ini.

Berbagai macam gambar perangko Repelita.
(Sumber foto : http://kolektorperangko.blogspot.com/)
Setelah memuji-muji Soeharto, ia tampak sangat senang. Sesekali ia tertawa mengenang kejayaan Orde Baru dan kenyamanan hidupnya di masa lalu.

Aku bilang ke bapak itu, "Saya sih nggak suka sama Soeharto. Soalnya Ibu dan Bapak saya jadi tahanan politik tanpa proses pengadilan. Di jaman Orde Baru, semua yang tampak kritis dan berbahaya akan langsung dipenjara sekalipun tapa bukti yang kuat. Jangankan bapak ibu saya, Iwan Fals yang cuma nyanyi-nyanyi aja juga dipenjara."

Bapak itu memelankan tawanya, dengan agak kikuk, dia berkata, "Oh gitu ya, jadi saya salah sasaran ngomong ya. Hehehe, maaf..."

Kemudian aku bercerita tentang bapak dan ibu. Sudah pernah aku tulis kisahnya di blog. Aku tidak ingin menuliskan detail pembicaraan tentang bapak di postingan ini. Karena aku ingin membahas hal selain soal pemenjaraan.

"Soeharto sama sekali bukan Pahlawan. Dengan program Repelita, Indonesia yang awalnya memiliki makanan pokok bermacam-macam jadi disuruh makan beras semua. Pembukaan lahan itu untuk ditanami padi kan? Itu juga terjadi lho di Indonesia bagian Timur yang masyarakatnya makan sagu. Padahal Sagu itu lebih sehat daripada beras. Sagu punya karbohidrat seperti nasi, tapi dengan kadar gula yang rendah sehingga penderita diabetes aman mengonsumsinya. Dampak politik beras terasa sekali sekarang, kita semua jadi terbiasa makan nasi. Padahal pupuk sangat mahal. Lahan banyak yang sudah rusak karena musim tidak menentu. Gagal panen di mana-mana. Kita terpaksa ambil beras dari Thailand. Coba kalau dulu tidak menjalankan politik beras, ketergantungan kita terhadap nasi tidak akan separah ini."

"Oh iya?"

Si bapak kemudian bercerita bahwa dia lebih suka beras dari pada sagu. Di Flores, hanya orang yang sangat miskin yang mengonsumsi sagu. Sagu di Flores biasanya hanya untuk makanan ternak. Mereka baru tahu kalau sagu bisa dioleh menjadi makanan dari orang Irian Jaya (sekarang Papua dan Papua Barat) dan Maluku. Jika tidak ada nasi, maka mereka akan makan umbi. Jika tidak ada umbi, barulah mereka makan sagu. Sagu sudah ada di hutan-hutan. Tak perlu menunggu panen ataupun menanamnya. Tanaman sagu sudah tumbuh liar sehingga masyarakat Flores dulu mengiranya sagu itu hanya makanan babi.

"Di masa Soeharto juga, ada sebuah bendungan yang sangat besar bernama Kedung Ombo. Kedung Ombo ini ada di wilayah Boyolali, Sragen, Semarang dan banyak kabupaten lain. Saya ini numpang lahir di Boyolali pak, salah satu Kabupaten yang kena dampak Kedung Ombo juga. Saya pernah ke Kedung Ombo dan waduk itu seperti lautan. Sangat luas."

"Wah, ada kayak gitu ya? Sampai kayak Danau?"

"Benar. Sampai kayak Danau. Sampai detik ini, warga yang dulunya tinggal di wilayah Kedung Ombo banyak yang tidak dibayar tanahnya. Kalaupun dibayar, harga tanahnya juga terlalu murah. Tidak akan bisa membeli luas tanah yang sama di daerah lain berikut bangunannya. Orang-orang banyak yang mendadak miskin dan tidak punya apapun. Mereka tidak punya pilihan lain. Waduk akan tetap di bangun sekalipun mereka tidak mau pindah. Seperti Lapindo itu lho pak, saat sudah terbenam, warga bisa apa? Aliran air yang berasal dari sungai-sungai itu akan tetap membanjiri. Sudah puluhan tahun pak, belum dapat ganti rugi. Kalau lihat peta Jawa tengah, akan sangat jelas terlihat ada waduk besar bernama Kedung Ombo."

"Saya tidak pernah tahu ada Kedung Ombo sebelumnya. Jasa Soeharto banyak di Flores. Saya tidak tahu bahwa di daerah lain dan orang lain mengalami hal yang sebaliknya."

"Yang terkena dampak baik hanya segelintir orang pak. Banyak orang yang terkena dampak buruknya sampai sekarang. Kepemimpinan ala militer seperti yang dilakukan oleh Orde Baru dampak buruknya terasa sampai sekarang. Misal tentang apa yang menimpa bapak dan ibu saya. Apa yang menimpa warga yang dulu tinggal di Kedung Ombo. Dan ada banyak hal lain lagi yang bertentangan dengan akal sehat dan kemanusiaan kita."

Setelahnya, aku dan Fatimah berbicara kepada mereka bahayanya jika era Soeharto kembali berjaya. Termasuk gerakan, "Piye Kabare? Penak Jamanku To?"

Sudah pukul 20.30 saat itu. Sudah lebih dari satu jam kami mengobrol. Agak sulit menghentikan pembicaraan soal ini karena bapak dan ibu yang sejak tahun 91 sudah tinggal di Jawa ini begitu antusias dengan tema obrolan kita.

Aku dan Fatimah pamit. Kami membayar makanan yang harganya murah sekali, lalu bersalaman dengan mereka. Mereka bilang mereka senang berbicara dengan kami. Kami mengatakan hal yang serupa sambil berkata bahwa lain waktu, kami ingin makan di sana lagi.

Kemudian kami berpisah.

Dalam perjalanan menuju homestay, Fatimah bilang, "Si ibu itu pinter banget ya orangnya. Dia itu berpendidikan gitu lho. Open minded banget."

Aku mengiyakan. Ibu itu memang bercerita bahwa dia pernah menempuh pendidikan sekretaris. Tapi aku rasa ibu itu memiliki pengetahuan luas bukan karena pendidikan tingginya. Tapi karena ibu itu memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap keadaan sosial dan politik. Aku banyak menemui orang-orang yang berpendidikan tinggi tapi tak tahu apa-apa selain kenyamanan hidupnya sendiri. Bapak itu juga teman diskusi yang sangat baik. Lebih baik daripada orang-orang yang biasanya berdebat di twitter maupun facebook. Jauh lebih baik juga daripada anak-anak kuliahan yang sering berdebat dengan kata, "Pokoknya blablabla..." dengan sederetan ad hominem yang menjengkelkan.

Pulang makan malam itu, kami sangat bahagia. Tidak hanya soal harga makanan yang sangat murah. Tapi pembicaraan dengan ibu dan bapak pemilik warung memang benar-benar menyenangkan.

Kami benar-benar ingin kembali ke warung itu. Lain waktu.

***
Note : 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.