Kamis, 25 Oktober 2012

Detik Pertemuan


Suatu hari, aku akan tahu bahwa kau pura-pura lupa atau benar-benar lupa tentang suatu hal di depanku. 

Kita berpapasan tanpa kata, tanpa kilat mata. Begitu saja seolah setiap daun yang jatuh di musim gugur sama artinya dengan daun yang terhembus angin pada musim panas bulan Juli. 


Aku mengingatkanmu lagi bahwa kita pernah berbincang bersama setelah sekian lama kita terlalu malu untuk saling melempar senyum dari seberang meja. Pertemuan kita seperti udara dingin sisa gerimis. Ditemani sepotong roti hangat yang dibagi berdua beserta 2 gelas teh manis panas dengan rasa yang agak mengerikan. Mungkin karena si pembuat teh sudah diserang kantuk tak tertahankan. Saat itu malam juga hampir usai. 

Kita bercerita tentang akhir pekan yang sibuk khas orang kota, tentunya dengan kegiatan masing-masing. Seolah-olah kita begitu sibuk sehingga tidak mungkin kesibukan itu dikorbankan untuk hal lain. Misalnya semacam janji pertemuan rutin kita berdua.

Intinya, kita tidak perlu sering bertemu. Titik.

Tak lama, kita akhiri pertemuan dengan kata terima kasih untuk menunjukkan kesopanan atas waktu yang tersita karena sebuah pertemuan.

Jangan mengira bahwa aku ingat peristiwa itu sampai ke hal terkecilnya karena aku slalu merindukan masa2 itu atau aku terlalu bermimpi untuk terus bersamamu. 

Aku ingat segalanya hanya karena ingatan ku masih bagus. Itu saja! Bukankah kau pernah berkata dengan lugas bahwa kemampuan otak ku adalah salah satu hal yang membuatmu merasa perlu untuk berbicara hal-hal tertentu yang tidak perlu kita bagi pada orang lain atau yang tidak perlu orang lain tahu kadar keseriusannya?

Dengan itu aku memahami cara berfikirmu dalam beberapa hal. Aku tahu juga bahwa kau sempat menduga ada hal lain dibalik itu semua. Sikap-sikap ku padamu belakangan atau senyum yang masih aku lemparkan sewaktu kita berpapasan dan kau membalas senyum dengan gugup sambil mengalihkan wajahmu pada buku yang tidak begitu penting untuk dilirik sebenarnya saat itu. 

Aku tahu bahwa kau sempat berfikir aku menghabiskan waktu semalam suntuk memikirkanmu hingga ada pengulangan-pengulangan terhadap peristiwa di antara kita yang coba kau lupakan. Aku ingatkan kau, bila kau berfikir bahwa aku sedang memikirkanmu, sepertinya kau yang mulai bermimpi macam-macam bung!

Sudahlah, 25 Oktober 2012

Selasa, 16 Oktober 2012

Melangitkan kita

Kau api
Aku air
Kita butuh bejana, lalu menyebutnya cinta
Bejana antara kita adalah perantara membaramu dan gelora didih ku
kau ciptakan asap, aku hasilkan uap

Suatu hari akan sampai masanya kita berdua tiada,
untuk dapat melangit

Kau Api
Aku Air
Dan bejanalah yang membuat kisah kita
Sampai PadaNya

Tengah malam, 131012

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.