cerita tentang remah-remah

Senin, 31 Maret 2014

Kronologi Pas Aku Terkunci di Kamar Mandi

Sabtu minggu lalu, tanggal 22 Maret akan jadi hari bersejarah bagiku. Karena aku bisa keluar dari pintu kamar mandi yang terkunci tanpa harus berteriak maupun dibantu orang lain.

Pukul 8.45 menit, ibuku menelpon. Aku bilang ke ibu kalau aku kuliah pukul 9.45, jadi aku mau siap-siap mandi. Ibu mengerti dan menutup telpon. Kita memang suka mengobrol terutama saat ibu punya bonus telpon Telkoms*l.

Aku tidak langsung ke kamar mandi. Malah meneruskan baca buku The Phanton of The Opera dulu 10 menit sebelum mandi.

Lalalala... Aku mandi deh.

Saat akan keluar dari kamar mandi, aneh sekali, pintu gagal dibuka. Padahal aku tidak menguncinya. Kamar mandi dengan pegangan bulat itu tidak pernah aneh-aneh sebelumnya.

Aku berusaha menenangkan diri. Tidak boleh panik. Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan... Kemudian mencoba berpikir tentang solusi-solusi yang biasanya dipakai untuk menyelamatkan orang yang terkunci dari dalam.

Kemungkinan pertama : Berteriak.
Kamar sebelah sedang menyetel musik keras sekali. Kalau aku berteriak dan orang mendengarnya, mereka akan berusaha menyelamatkanku. Padahal aku tidak suka memancing perhatian orang-orang. Lagipula pintu utama kamarku terkunci juga dengan kunci menggantung di dalam. Penjaga kostan harus memanggil tukang kunci untuk membuka dulu kunci kamar ku baru menyelamatkanku. Rasanya tidak enak berteriak heboh. Lagipula, aku tidak berpakaian lengkap. Tidak membawa handphone ke kamar mandi. Berteriak maupun berharap pada orang lain adalah ide yang buruk. Aku mencoret kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua : Mendobrak pintu.
Mustahil. Pintu kamar mandiku mengayunnya ke dalam. Sedangkan kalau aku mendobrak pintu berarti aku menendang pintu itu hingga mengayun ke luar. Dinding kamar mandiku adalah double triplek yang ada rongga di dalamnya. Aku tidak tahu namanya apa. Teman-temanku sih selalu terkejut kalau tahu kamarku ini ternyata berdinding triplek. Karena penampakannya benar-benar seperti tembok. Kalau ditendang, seluruh dinding sepertinya akan rubuh. Kekuatanku mendobrak pintu juga lemah karena otot ku tidak terlatih. Masa kecilku dihabiskan baca buku dan main catur sehingga aku sama sekali tidak punya basis fisik yang kuat untuk mendobrak. Aku juga jarang olahraga sih. Akhirnya aku mencoret kemungkinan kedua ini.

Kemungkinan ketika : Mencongkel pegangan pintu.
Aku memutar-mutar pegangan pintu bulat itu sampai akhirnya menemukan sebuah baut. Dengan tangan kosong, aku berusaha membuka baut itu. Berhasil! Terimakasih Mc Giver atas inspirasinya. Tapi masih ada satu baut lagi. Jari-jariku rasanya sakit karena sempitnya sela-sela gagang pintu itu. Di dalamnya juga berkarat. Kedua baut yang panjangnya seruas jari telunjuk itu berhasil lepas.

Gagang pintu yang aku preteli
Anehnya pintu masih terkunci. Padahal tempat asal gagang pintu sudah bolong semuanya.

Aku jadi lemas dan haus. Rasanya sudah lama sekali aku di kamar mandi.

Aku mengambil handuk di gantungan dan menjadikannya alas untuk duduk. Rasanya ngos-ngosan sekali. Aku harus istirahat dulu.

Selang beberapa menit, aku berdiri dan mengintip ke pintu yang bolong itu. Mengorek-ngorek kaitan kunci di dalam yang macet. Mencoba mencari alasan kenapa gagang pintu terlepas tapi pintunya masih terkunci.

Aku kembali beristirahat. Mengingat-ingat tentang cerita mengenai orang yang terkunci di dalam ruangan.

Di koran kompas bertahun-tahun yang lalu di topik dunia, aku pernah membaca cerita tentang seorang pekerja yang terkunci di dalam lemari penyimpanan makanan. Ruangan itu dingin sekali. Ia terkunci di dalamnya berjam-jam dan kemungkinan bisa mati beku. Karena dia adalah orang yang optimis dan tipe orang yang berjuang untuk bertahan hidup. Dulunya, dia pernah berlatih tentang survival. Dalam teori survival itu, agar dapat bertahan hidup dalam suhu yang sangat dingin, orang yang terperangkap di dalam ruangan dingin itu harus merendam kakinya. Setelah melakukan itu, dia harus berdiri berjam-jam dengan posisi seperti itu. Seorang pekerja lain akhirnya membuka kunci gudang makanan itu dan terkejut menemukannya menggigil kedinginan. Setidaknya dia selamat. Aku lupa nama dan dari negara mana dia berasal. Aku sudah mencoba googling cerita ini. Tapi tidak berhasil menemukannya. Sudah lama sekali.

Cerita kedua adalah tentang magician yang ahli dalam membuka berbagai kunci. Dia tidak pernah gagal sebelumnya. Aku mendengar cerita ini dari pidato Anies Baswedan di kampus di awal kuliah dulu. Aku lupa nama dan negaranya juga. Pokoknya, magician ini diberi tantangan untuk membuka kunci di sel penjara paling aman sedunia yang memiliki sistem kunci dan pengamanan berlapis. Pintu dalam penjara itu banyak sekali dan sulit ditembus bahkan oleh para ahli kunci sekalipun. Magician ini dimasukkan ke dalam sel penjara dan ditantang untuk membuka tiap kunci di penjara sampai ia bisa keluar dari rutan itu. Sipir penjara yang menantangnya menjelaskan dengan detail sistem apa saja yang digunakan penjara itu di setiap pintunya. kemudian si Magician ditinggal di dalam dan hanya diawasi oleh kamera, mirip dalam tayangan dunia lain gitu deh. Ia duduk berpikir di dalam sel begitu lama sampai akhirnya melambai pada kamera bahwa ia menyerah. Setelah itu, sipir menjemputnya di dalam sel sambil berkata bahwa sebenarnya ia tidak mengunci satu pintu pun. Pikirannya lah yang terkunci, bukan pintu itu.

Aku tidak mau pikiranku yang terkunci di dalam kamar mandi.

Di film action, tokoh-tokohnya sering menyusup di dalam gedung yang diawasi dengan ketat lewat lubang angin yang ada di sekitar gedung. Aku mencari-cari lubang angin yang mungkin. Ini rumah lantai 3. Agak ngeri juga kalau lubang angin yang aku temukan ternyata mengarah keluar rumah dan aku harus melompat, Membayangkannya saja ngeri.

Ternyata ada lubang angin di pintu yang letaknya sejajar dengan siku ku. Lubang angin itu bisa dilepas, terbuat dari bahan plastik tanpa baut sama sekali. Ukurannya kira-kira 40x25 cm.

Aku melepasnya hingga pintu itu bolong.

Aku menemukan kemungkinan keempat : Lubang angin!
Aku mencoba memasukkan kepalaku ke lubang angin. Tidak muat. Kalau kepalaku muat, belum tentu bagian tengah tubuhku muat. Ada kemungkinan di bahu, dada atau pinggul akan sulit keluar. Jika ternyata macet di tengah, aku akan kembali ke kemungkinan pertama. Berteriak. Untuk itu, aku mencoba berpakaian seadanya. Tidak ada kerudung di kamar mandi. Aku bisa menggunakan handuk yang tadinya aku pakai buat alas untuk kerudung nantinya. Sekuriti kostan lelaki. Aku tidak mau dia menyelamatkan aku dalam keadaan tidak pakai kerudung. Sekalipun ini darurat.

Aku mencoba mengatur kepala. Posisiku sudah siap merangkak seperti yang biasanya diajarkan pas pramuka jaman sekolah dulu.

Kepalaku bisa masuk lubang. Tinggal bahuku. Tapi aku sulit bergerak ke depan karena tanganku masih ada di dalam kamar mandi semua. Maka, setidaknya, tanganku harus keluar lebih dahulu dari bahu.

Siku ku lecet. Tak apa, asal bisa keluar. Tangan kanan sudah keluar, saatnya tangan kiri sehingga nanti kaki ku akan berkoordinasi dengan tangan untuk merangkak di tengah lubang angin.

Tangan kiri berhasil keluar.

Bahuku lolos juga, di bagian dada cukup sulit. aku menahan nafas dan berusaha memipihkan tubuh sambil bershalawat untuk menenangkan diri.

Berhasil.

Sekarang pinggul. Ini terasa lebih mudah dari bagian kepala, bahu dan dada. Tapi justru lecetnya semakin banyak.

Seluruh tubuhku, sedikit demi sedikit akhirnya keluar juga. Yeeeey!!!!

Aku langsung minum dan rasanya seperti dehidrasi. Kemudian mengirim SMS ke mbak Wahyu yang kamarnya ada di lantai bawah, memberitahunya aku baru saja keluar dari kamar mandi yang terkunci dan sekarang sudah berhasil keluar. Itu sekitar jam 10.20. Mbak Wahyu yang saat itu libur kerja baru membalas pesan pukul 11.01 karena sedang mencuci, dia bertanya apakah aku masih terkunci atau sudah keluar. Aku jawab kalau aku sudah berhasil keluar.

Dia menelepon. Menanyakan keadaanku. Aku memintanya membawa obat-obatan yang dia punya karena seluruh tubuhku lecet dan tergores semua. Dia bilang sebentar lagi akan ke kamarku di lantai 3.

Aku masih ngos-ngosan dan memandang pintu. Tak lama, mbak Wahyu datang membawa alkohol dan plester luka sambil tertawa bagaimana ceritanya aku bisa terkunci. Dia cukup kaget aku bisa muat di lubang angin sekecil itu. Mbak Wahyu membersihkan luka-lukaku dengan alkohol. Perihnya luar biasa!

Ini lubang anginnya, Lihat lubang di bagian pegangan pintunya
Setelah aku berpakaian lengkap, aku memanggil security kostan untuk membuka pintu yang masih terkunci.

Dia datang dan tertawa, kok bisa-bisanya aku keluar dari lubang angin sekecil itu. Ia mencoba membuka pintu yang terkunci. Gagal. Dia bilang akan memanggil tukang kunci.

Tukang kunci datang. Mengecek pintu itu dan tertawa bagaimana mungkin aku bisa keluar dari lubang angin itu. Dia menggunakan alat-alatnya untuk membuka pintu itu. Berhasil. Pintu kamar mandi terbuka.

Dia bilang akan mengganti jenis pengunci pintunya dengan yang plastik. Pegangan maupun kuncinya.

Aku menyerahkan sepenuhnya urusan kunci ini pada security kostan dan tukang kunci. Aku lemas dan gemetaran. Mbak Wahyu bilang sebentar lagi sarapan sudah siap. Dia masak ayam kecap dan tumis kangkung.

Aku lapar sekali.

Ternyata ayam kecapnya pakai saus tiram. TT____TT

Aku tidak bisa makan sesuatu yang mengandung tiram sekalipun cuma dalam bentuk saos. Sudahlah, makan tumis kangkung saja sudah membuatku bahagia.

Karena, percayalah bahwa makan kangkung memang jauh lebih enak daripada terkunci di dalam kamar mandi.

Minggu, 30 Maret 2014

Kereta Api

Kau bilang kalau suka dengan kereta dan hal-hal yang ada di dalamnya. Kau suka lampu kereta yang menyala terang di sepanjang rel di malam hari. Suka suaranya, kompartemennya, perlintasannya, stasiunnya, penjual pecel, hiruk pikuk orang tiap musim lebaran dan segala tentangnya.

Kau beberapa kali tidur di stasiun saat kelelahan dalam perjalanan pulangmu. Iya, tidur begitu saja di peron berbantal tas tanpa alas apapun. Aku menyebutnya ngawur, kau menyebutnya kesederhanaan. Bagiku tidur dengan cara seperti itu adalah cara jenius untuk memberikan kesempatan pada pencuri untuk merampokmu. Kau bilang bahwa lelah dan ngantuk tidak akan mengurangi kewaspadaanmu dalam menjaga tas yang isinya hanya beberapa helai kaos, satu celana jeans, buku, sikat gigi dan sabun saja. Kau bilang toh kau berpakaian gembel saat itu sehingga mustahil pencuri akan berminat untuk mencuri barangmu.

(source www.wallwuzz.com)
Kau tertawa jail sambil berkata, “Malah kasihan pencopetnya kalau nyuri aku. Udah susah-susah nyuri dapetnya barang nggak berharga.”

Aku lupa bertanya apakah kau sempat ditegur petugas peron atau tidak jika sedang tertidur di lantai peron. Aku sibuk memandangi asap rokokmu.

Karena sudah sering mendengar ceritamu tentang kereta dan beberapa hal memang diulang-ulang. Aku akan menceritakan padamu tentang cerita kereta yang aku tahu untuk mengimbangi ceritamu.

Aku hanya punya satu cerita tentang kereta yang aku dengar kisahnya dari orang lain. Barangkali orang yang bercerita padaku itu mendengarnya dari orang lain lagi dan begitu seterusnya. Aku tidak begitu peduli apakah cerita ini nyata atau fiksi. Kau hanya perlu mendengar. Tidak perlu mempercayainya. Tapi jika kau percaya bahwa kejadian ini nyata, aku akan berterimakasih padamu karena itu berarti kemampuanku dalam bercerita meningkat. Kau harus tahu bahwa melihat kereta api melintas di depan mata setiap hari itu belum tentu memahami segala sesuatu tentang kereta. Aku tetap saja tidak tahu banyak tentang kereta. Aku minta maaf jika aku kurang detail dalam menggambarkan kereta yang aku maksud.

Aku akan mulai ceritanya.

Ada sebuah kereta yang berada di stasiun Gambir. Kau tahu kereta macam apa yang ada di sana kan? Tidak mungkin kereta-kereta ekonomi. Menjadi kereta ekonomi saja sudah bisa memaksa kendaraan lain berhenti saat ia melintas di jalanan, apalagi kereta ini adalah sebuah kereta argo yang membuat kereta ekonomi berhenti dan menunggu untuk membiarkan argo melintas lebih dulu di jalur tunggal.

Kereta ini hendak menuju Stasiun Tugu di Yogyakarta. Jadwal sudah dipastikan. Rel juga aman dari genangan air maupun kendala lainnya. Semuanya tampak baik-baik saja.

Kereta itu hanya perlu melaju terus ke tujuannya.

Ia adalah kereta istimewa. Ada banyak orang penting di negara ini yang pernah menaiki kereta itu atau orang biasa yang hanya sekedar ingin naik kereta api karena jenuh dengan pesawat. Ia begitu menarik dan menjanjikan perjalanan yang menyenangkan dengan kesejukan kompartemen dan pramugari kereta (adakah julukan khususnya?) yang cantik dan selalu tersenyum. Kereta itu sadar betul bahwa ia istimewa, oleh karena itu, ia tahu cara untuk menarik orang-orang untuk melakukan perjalanan bersamanya.

Ditengah jalan, kereta itu keluar dari relnya. Begitu saja.

Ia menerobos rel yang bukan jalannya. Ia pikir rel yang akan ia lewati sudah sempurna. Ia mendengar orang berkata bahwa perlintasan itu sudah aman dilintasi. Namun beberapa orang berkata rel itu jalurnya masih terputus. Ia selalu penasaran dengan perlintasan baru hingga akhirnya memilih untuk mengambil risiko jika ternyata perlintasan itu memang belum boleh dilewati. 

Sayang sekali, ia melanggar aturan tepat disaat ada mobil yang melintas dekat rel.

Melencengnya kereta dari jalur membuat jadwal kereta, mekanik maupun pihak stasiun yang sudah mengatur segalanya jadi panik.

Saat dihubungi oleh penjaga stasiun tentang apa yang terjadi, dengan enteng ia bilang bahwa ia hanya ingin mencoba, sekali-kali, bagaimana rasanya berjalan diatas aspal seperti mobil atau motor, tanpa rel, tanpa kerikil. Ia sudah bosan dengan segala macam konsensus perkereta apian yang memaksanya untuk berjalan hanya di rel. Ia berbohong, tentu saja. Ia tahu dirinya istimewa sehingga merasa berhak melakukan itu.

Mobil yang dihantamnya hancur.

Mobil itu, adalah mobil dengan mesin dan cat yang sudah dimodifikasi. Berjalan sendirian karena ia selalu mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan dan berbagai kerumunan.

Kereta itu membunyikan klaksonnya sedemikian keras untuk menunjukkan kemarahannya hingga membuat mobil itu makin merasa terpojok dan sendirian. Kereta merasa bahwa mobil itu adalah penghambat perjalanannya ke Jogja. Ia menabrak mobil itu sekali lagi dan meyakinkan pihak stasiun bahwa mobil itu yang telah memecah perhatiannya untuk mencapai stasiun tujuan. Ia bohong lagi. Alasan yang berganti-ganti tiap menit itu tidak dapat diterima pihak manapun.

Pihak stasiun Tugu berkata bahwa keterlambatannya memenuhi kedatangan dengan jadwal yang seharusnya membuat ia dalam masalah besar. Mereka menyarankan kereta ini berhenti di stasiun mana saja yang mau menerima kesalahan kereta yang teledor.

Mobil itu terluka dan ia justru menghukum dirinya sendiri. Mobil berkata, bahwa seandainya jika ia mengikuti kerumunan yang macet dan tidak melewati jalan di sisi rel itu, barangkali… Barangkali ia masih akan baik-baik saja.

Tak ada siapa-siapa lagi di jalan itu. Sepi. Sedangkan kereta harus segera sampai di stasiun. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong kereta itu kembali ke jalurnya dan berkata bahwa kereta itu harus terus melaju, jangan berpindah jalur, jangan penasaran dengan apa yang tidak dianjurkan oleh stasiun maupun pihak mekaniknya.

Perlahan-lahan, kereta kembali ke jalurnya, ia melaju kencang mengejar keterlambatan sambil menggerutu. Kereta itu masih bisa berjalan dengan normal. Agak mengherankan, bukan? Sudah dikatakan dari awal bahwa kereta itu adalah sebuah kereta istimewa.

Kereta akhirnya sampai pada stasiun.

Kelanjutan kisah ini adalah, kereta itu baik-baik saja. Melanjutkan hidupnya sebagai kereta argo yang istimewa.

Seharusnya kita mengkhawatirkan mobil itu. Bagaimana keadaannya? Sampai aku menceritakan ini padamu, tidak ada yang tahu tentang mobil ini. Barangkali, seperti halnya si kereta, akan melanjutkan hidupnya juga. Memangnya mobil yang malang itu punya pilihan lain selain melanjutkan hidup dengan sisa tenaga yang ada? Ia bukan pengecut yang melajukan mobilnya kencang-kencang supaya jatuh jurang.

Kau tertawa mendengar ceritaku. Dari awal aku sudah bilang kau tidak perlu percaya.

Kau membuang puntung rokokmu di bawah meja dan pergi. Kau bilang, “Aku ada urusan.”

Aku tahu. Ini saat yang tepat bagimu untuk pergi mengunjungi stasiun lainnya. Menceritakan kekagumanmu pada kereta-kereta ke siapa saja yang mau mendengarkannya. Kau sudah terlalu lama berdiam di sini. Aku pun bukan orang yang mencegah orang yang ingin pergi.

Kita saling berjabat tangan, tersenyum, dan mengucapkan sedikit basa-basi perpisahan.

Sampai bertemu, di perlintasan selanjutnya. 

Selasa, 25 Maret 2014

Mereka yang Memilih Penjaranya Sendiri

TINGGAL satu kota dengan bapak tidak menjamin bahwa akan bertemu dengannya setiap hari. Jika bapak ada di wilayah Jakarta Selatan, bapak akan menyempatkan mampir ke kost ku untuk sekedar mengajak makan malam lalu kembali lagi ke tempat kerjanya di daerah Jakarta Barat. Kadang juga ke Cikarang.

Karena disekitarku sedang ada banyak sekali cerita mengenai perceraian atau putusnya hubungan cinta yang masih dalam tahap pacaran ataupun bertunangan, akhirnya aku mencoba berbincang dengan bapak mengenai itu. Aku tahu, pernikahan bapak dan ibu itu tidak selalu berjalan mulus. Banyak bertengkar, walau tidak dengan gaya saling teriak. Bertengkar lucu ala Tom and Jerry minus adegan kejar-kejaran begitulah.

“Bapak pernah berpikir untuk cerai sama ibu nggak?”

Bapak menggeleng sambil mengunyah makan malamnya.

“Kenapa? Ibu kan pernah minta cerai. Ibu juga sering komplain maupun marahan sama bapak. Bapak juga sering merasa Ibu salah. Aku sering dengar Ibu curhat tentang bapak yang nggak peka dan nggak pengertian. Bapak juga begitu, nggak beda jauh.”

“Kebaikan itu sifatnya abadi. Sedangkan kesalahan itu sifatnya hanya kasuistik, tidak perlu diperhitungkan.”

Bapak meminum teh hangatnya dan menyeka mulutnya dengan tissue. Ayam kremesnya sudah habis. Sedang aku, seperti biasa, menyelesaikan makanku dengan sangat lambat.

“Kalau tentang hidup susah sebagai suami istri, siapa sih di dunia ini yang kehidupan rumah tangganya nggak susah? Kalau cerai juga belum tentu bahagia. Malah akan lebih nggrantes karena sendiri itu sepi dan nelongso. Kalau setiap cek cok berujung cerai, akhirnya nanti akan berusaha ketemu orang lain lagi. Kalau ternyata ribut lagi, apa mau cerai lagi buat cari bahagia? Kalau bapak sih, biar lah, yang salah dilupakan, yang senang ya dikenang terus.”

Aku diam dan berpikir tentang konsep pesimisme Arthur Schopenhauer yang menyarankan manusia untuk tidak memiliki kehendak yang muluk-muluk supaya tidak terpuruk nantinya. Karena manusia merdeka adalah manusia yang meniadakan nafsu maupun tuntutan-tuntutan duniawi lainnya. Bapak seperti hendak berkata padaku bahwa sebenarnya hidup itu adalah tentang memilih untuk masuk ke penjara satu ke penjara lainnya. Apapun yang jadi pilihan kita, pasti ada sisi yang membuat kita tidak nyaman dengan itu, termasuk saat memilih pasangan.

Sepertinya  bapak memiliki konsep kebahagiaan yang ditemukannya sendiri. Aku tahu ia tidak membaca berbagai model kebahagiaan untuk menemukan konsep yang cocok untuk diterapkan dalam hidupnya. Dari Plato maupun Aristoteles misalnya.

Aku tahu bagaimana hidup bapak dan ibuku. Menjadi mereka tidak mudah. Kalau harus memilih, aku tidak ingin menjadi wanita seperti ibu dan tidak mau juga mempunyai suami seperti bapak. Mereka bukan hanya tidak menjalani hidup yang ideal. tapi malah serba sulit. Segala yang terjadi dihidup mereka tidak ada yang biasa dan sederhana. Itu yang menjadikan bapak dan ibu jadi pribadi yang menurutku, agak rumit dipahami.

Pakdhe-pakdheku dari pihak ibu sering bilang, sebagai anak bontot ibu adalah perpaduan watak keras, mandiri dan disisi lainnya adalah manja. Ibu juga seorang pendebat dan katanya paling mirip aku dalam hal sikap maupun wajah.

Ibu sendiri sering berusaha keras meyakinkan aku maupun orang-orang lainnya bahwa kita sama sekali tidak mirip karena dia lebih cantik dari aku. Aku mewarisi beberapa bagian fisik bapak yang tidak begitu bagus –hidung yang tidak mancung misalnya- sedangkan ibu mewarisi semua bibit yang baik dari kakek dan nenekku yang memang terkenal sebagai pasangan priyayi ganteng dan cantik sempurna. Ini jadi agak lucu karena aku lihat bahwa orangtua lainnya justru sering berkata pada semua orang bahwa anaknya cantik sehingga pantas dipamerkan. Ibuku malah berbuat sebaliknya.

Bapak sendiri dulu sering berkata di depanku, bahwa di matanya, yang cantik itu ibu, baru setelahnya mbak Umu dan mbak Ima. Di depan mbak Umu, bilang yang cantik itu ibu, barulah aku dan mbak Ima. Di depan mbak Ima, bapak bilang yang cantik adalah ibu, dan mbak Indah adalah anak yang paling mirip ibu secara fisik. Sehingga sebagai anak akhirnya kita bosan membandingkan, siapa yang lebih cantik dari lainnya.

Baik bapak maupun ibu sering “berebut” simpati anak-anaknya.

Ibu selalu berkata pada anak perempuannya, “Bapakmu nggak pernah mencintaiku.”

Bapak juga bilang ke aku maupun anak lelakinya, “Ibu selalu saja merasa kurang. Slalu saja mengungkit kesalahan…”

Bagiku, sebagai lelaki, bapak memang kurang peka. Kurang bisa mengekspresikan kasih sayangnya. Ibu juga mengidamkan banyak hal yang tidak dimiliki bapak, terutama tentang sikap-sikap ideal yang diimpikan ibu selama ini. Di mataku, pernikahan Ibu dan Bapak sungguh epik. Aku sering menjadi penonton saat mereka ngambek dan pada akhirnya akan berkata, “Cerai aja sih, daripada ribut.”

Entah harus bersyukur atau bagaimana, yang jelas, saranku tidak pernah terjadi. Sampai sekarang.

IBUKU sakit-sakitan saat usia 35 tahunan. Asam urat melemahkan tubuhnya, tidak dengan semangatnya. Krisis moneter 98 melemahkan perekonomian kami. Siapa sih yang tidak sulit saat itu? Aku saja yang saat itu masih berusia 8 tahun merasakan sendiri imbas krisis moneter yang menghancurkan perekonomian kami. Mesti berpisah dengan orangtua, punya 6 saudara yang semuanya sekolah, bapak yang pengangguran sampai sesekali ngojek, Ibu banting tulang cari uang sana sini, Mbak Indah yang juga mati-matian di masa semester akhir kuliahnya. Jika mengenang itu, aku agak tidak percaya sekarang ini ternyata semuanya baik-baik saja.

Menjadi Ibu pasti susah. Harus bercerai di usia muda dengan satu anak –Mbak Indah-. Setelahnya malah jadi korban pelanggaran HAM berat Tanjung Priok ’84. Satu-satunya wanita pula. Aku sudah pernah bercerita tentang latar belakang Ibu di sini kan?

Menjadi bapak juga pasti susah. Seperti melihat opera sabun jaman dulu dimana keluarga petani hanya menginginkan anak-anaknya mengurus sawah saja. Namun ada satu anak dari 6 bersaudara yang ngotot ingin sekolah daripada jadi petani karena ia ingin mengubah nasibnya sendiri dengan pergi ke kota. Setelah sampai di kota ternyata hanya bisa sekolah sampai SMA, tidak bisa kuliah dan dalam keadaan tidak punya apa-apa sedangkan saudara kandungnya yang tidak sekolah justru punya uang, ternak dan sawah. Mau buat apa ijazah? Mau buat apa jadi santri? Nggak bikin kaya. Kata mereka.

KEINGINAN bapak untuk belajar agama dengan baik malah membuatnya ada dalam komunitas OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) yang diisi oleh para jamaah Dalalip (sebutan untuk yang bergabung di gerakan negara Islam Indonesia saat itu) di tahun ‘84. Bapak diajak bergabung oleh temannya, diberi ajaran tentang sejarah Islam dan Indonesia, diberitahu tentang konsep negara Islam ala Kartosuwiryo, diindoktrinasi habis-habisan dan sampai pada tahap terakhir. Yaitu di bai'at.

Di OTB ini, bapak bertemu dengan Abu Bakar Baasyir, Abdullah Sungkar dan Abu Jibril. Lama-lama bapak menyadari bahwa ternyata ini adalah gerakan NII sekalipun trainer maupun para jamaahnya tidak pernah mengatakan secara terang-terangan kalau mereka ini NII.

Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar sempat pindah ke Malaysia karena rezim Soeharto memang sedang mengejar para penggugat asas tunggal Pancasila. Saat itu memang marak penculikan dan petrus (penembakan misterius). Bapak bersama 15 ikhwan lainnya, termasuk Abdullah Hehamahua yang sekarang ini menjadi penasehat KPK ikut mengantar ke sana. Hanya untuk memastikan bahwa pemimpinnya aman.

Bapak sempat ditawari untuk ikut berlatih jadi serdadu di Afghanistan. Tapi karena kondisi fisik bapak kurang bagus untuk hal-hal yang bersifat kemiliteran, akhirnya bapak batal menjadi jihadis fisik dan diminta menjadi kontributor majalah Al Irsyad dan Arrisalah. Media resmi NII yang dewan redaksinya adalah adiknya Abu Jibril.

BERKAT jaringan para ikhwan ini, bapak dijodohkan dengan ibu. Saat itu ibu  baru saja keluar dari penjara karena tragedi Tanjung Priok. Perjodohannya sederhana. Hanya lewat foto. Umurnya saat itu 24 tahun. Umur Ibu 27 tahun.

Bapak dan Ibu di Sebuah Acara
Bapak bilang, sekalipun janda anak satu, bapak melihat ibu adalah kandidat wanita paling cantik diantara semua kandidat perempuan siap menikah yang ada di foto. Bapak merasa bahwa ia adalah seorang lelaki dari desa terpencil di Pati, kulitnya hitam dan hidungnya pesek. Jika menikah dengan wanita keturunan priyayi yang cantik, berkulit putih dan berhidung mancung, barangkali akan memperbaiki keturunannya. Untuk apa sekolah di kota, bergaul di kota, tapi gagal memperistri wanita cantik untuk membanggakan orangtua di kampung? Kenyataannya, orangtua bapak memang senang dengan istri pilihan bapak Mereka memang tidak hadir di pernikahan karena ijab kabul hanya dilakukan di internal Dalalip. Tanpa resepsi.

Mereka menikah pada bulan Desember ’84. Nama bapak sebenarnya Muhsin Sukandar, tapi teman-teman Dalalipnya memanggilnya Ahsin atau Sakir. Nama Ibu sebenarnya adalah Aminatun Najariyah, demi keamanan pasca Tanjung Priok, Ibu mengubah namanya menjadi Mawaddah. Mereka tinggal di Cempaka Putih. Intel terus mengawasinya.

Saking militannya bapakku, anak pertama dari pernikahan Bapak dan Ibuku diberi nama Himmati Mulkiyah Islamiyah. Artinya cita-citaku mendirikan negara Islam.

Di surat kelahiran mbak Himma, nama ibu ditulis dengan nama Mawaddah. Terntu saja itu berbeda dengan nama ibu di akta kelahiranku. Karena inilah, mbak Himma sempat ingin kabur dari rumah pada usia 13 tahun karena mengira dia adalah anak pungut dari pernikahan bapak dengan wanita lainnya. Ia mengira Aminatun Najariyah sebenarnya adalah ibu tirinya. Atau nama Mawaddah adalah nama wanita yang menitipkan bayinya dulu ke bapak untuk dipungut. Karena tidak tahu siapa nama bapaknya, maka di surat kelahiran ditulis nama bapak. Dia sampai menduga-duga banyak versi tentang darimana dia berasal dan siapa orangtuanya yang sebenarnya dengan sangat dramatis.

Dia bilang, “Pantes aja aku jadi anak yang paling disuruh kerja keras di rumah ini!”

Aku terlalu kecil untuk mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Lagipula aku sibuk dengan bermain catur dan membaca buku-buku. Adik-adikku tinggal di Jakarta sedangkan aku dan kakak-kakakku tinggalnya di Boyolali. Otomatis seolah aku menjadi anak paling bontot di rumah. Mbak Umu malah merasa seumuran denganku. Padahal selisih umur kami 3 tahun. Sedang selisih umurnya dengan mbak Himma adalah satu tahun. Mbak Indah sibuk kuliah dan ngekost di dekat kampusnya, jauh dari rumah. Jadi mbak Ima lah yang menjalani peran sebagai anak sulung yang bekerja dan bertanggung jawab paling banyak dibandingkan lainnya. Ia memasak, mencuci, membersihkan rumah sedangkan adik-adiknya merasa masih berhak bermanja.

Saat menemukan surat kelahiran itu, aku dan mbak Umu sempat mencegah mbak Ima kabur dari rumah. Kami bilang, walaupun bukan saudara, kami tetap menyayanginya seperti saudara sendiri. Aku berjanji akan belajar masak supaya bisa membantu pekerjaannya. Janji yang akhirnya tidak aku penuhi karena setelah mendengar penjelasan ibu, kami lega karena mbak Himma ternyata tetap saudara kandung kami. Jadi aku tetap membiarkannya mengerjakan pekerjaan rumah paling banyak.

KALAU ibu pernah dipenjara karena tragedi Tanjung Priok, bapak dipenjara karena kesetiaannya pada Abu Jibril.

Awalnya bapak ingin menyusul Abu Jibril mencari visa di kedutaan besar Iran. Ada sekitar 5 orang anggota NII yang akan pergi ke Iran saat itu. Semangat revolusi Islam Iran ingin sekali mereka tiru. Belum ada sinisme anti Iran sebagai negara dengan mayoritas penduduk bermazhab Syiah saat itu. Abu Jibril yang shalat Isya di masjid Sunda Kelapa yang lokasinya tak jauh dari Kedubes Iran dari awal sudah dibuntuti oleh intel. Kemudian dia ditangkap, koper yang berisi buku-buku dan perlengkapan lainnya disita.

Bapak merasa bahwa Abu Jibril yang datang dari Yogyakarta itu adalah tamu yang harus dikawalnya. Maka sebagai tuan rumah, ia berusaha mencarinya ke polsek Menteng. Ikatan persaudaraan antar ikhwan memang kuat sekalipun mesti bertaruh nyawa.

Dari awal, anggota OTD sudah diajari untuk tidak memberikan informasi apa-apa jika ada penangkapan. Sekalipun diintrogasi dengan siksaan fisik. Bapak juga begitu. Karena dianggap ada hubunganya dengan gerakan Abu Jibril, bapak ikut ditangkap dan mengalami siksaan fisik. Seperti ditendang, disetrum, dipukuli, kedua lubang telinganya juga dimasuki oleh pensil sampai berdarah. Karena itulah, sekarang ini kualitas pendengaran bapak berkurang walau tidak sampai tuli.

Dipenjara itu, bapak berada satu sel dengan NT Siregar. Ketua gerakan Petisi 50 yang membeberkan pelangggaran konstitusi oleh Soeharto. Yang ikut ditahan di sana adalah HR Dharsono mantan Pangdam Siliwangi. Sedangkan Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta tidak ditahan, tapi diboikot kegiatan ekonomi dan politiknya.

Kata bapak, "Orang-orang sudah banyak yang lupa kalau ada peristiwa petisi 50 itu."

Kemana vespanya saat Ia ditahan? Ternyata dipakai oleh salah satu petugas penjara Salemba bernama Rosyad. Penjara Salemba atau biasa disebut dengan Penjara Laksus (Pelaksana Khusus) adalah sebuah tahanan berisi para aktivis politik yang dianggap ekstrim kanan maupun ekstrim kiri.  Penjara itu juga biasa disebut dengan penjara Laksusda Jaya Kramat. Dipimpin oleh seorang Panglima bernama Soedomo.

Setelah 1,5 bulan menahan bapak dan tanpa bukti yang jelas dan tidak memperoleh informasi apa-apa, bapak dibebaskan. Tentu saja bapak mengaku hanya mengenal Abu Jibril sebagai rekan bisnis semata. Tidak ada hubungannya dengan paham keagamaan tertentu apalagi gerakan Negara Islam Indonesia. Bapak sudah terlatih untuk menyimpan rahasia gerakan walau nyawanya terancam.

Untunglah, setelah keluar dari penjara, bapak masih bisa mengambil vespanya yang dipinjam Rosyad ke penjara Salemba tapi gagal mendapatkan kembali isi dompetnya yang juga ditahan. Padahal di dompetnya masih ada sejumlah uang.

Selama berkumpul dengan jamaah dalalip itu, ibu sering ditinggal-tinggal tanpa uang di rumah. Sekalipun sering dikunjungi anggota jamaah lainnya yang memberi uang karena menganggap bapak memang sedang berjihad, jadi sebagai perempuan Ibu harus bersabar, ikhlas dan bersyukur memiliki suami yang berkontribusi untuk agama Allah. Bahkan saat Ibu mengandung mbak Himma. Bapak seringkali tidak di rumah.

BAPAK memang senang membaca buku. Ia sempat membaca buku Madzhab Syiah : Rasionalisme dalam Islam karya Abu Bakar Atjeh terbitan Tiga Serangkai setelah keluar dari penjara. Dari buku itu bapak baru tahu bahwa ternyata ada banyak alternatif dalam beragama. Untuk dapat menjalani agama tidak hanya melalui jalur Dalalip yang selama ini dijalaninya. Ia juga membaca buku-buku terbitan Mizan seperti buku tentang ikhwanul Muslimin, Hassan Al Bana, Yusuf Qardawi dan lain-lain. Mulai dari situ, bapak sering mengajak diskusi ikhwan Dalalip lainnya tentang alternatif beragama. Karena itulah, bapak dianggap mengingkari baiatnya pada Imam karena mulai membangkang dan mempertanyakan seolah-olah tidak lagi mempercayai doktrin NII. Jabatan bapak sebagai logistik dan keuangan di NII juga dicopot dan juga mendapat pengawasan ketat sampai pada tahap dikuntit. Saat mengalami masa-masa itulah, maka bapak dianggap keluar dari jamaah. Tidak lagi menjadi bagian dari pejuang berdirinya negara Islam Indonesia bersama dengan beberapa orang yang juga merasa mendapatkan alternatif lain dalam beragama.

Bapak dan ibu mulai berpindah haluan dan komunitas mengaji. Mereka tertarik dengan tawaran Islam Rasional yang ditulis oleh Abu Bakar Atjeh itu. Karena tertarik dengan ajaran Ahlulbayt, maka mereka menamakan anak ketiga dengan nama Umu Salamah. Salah satu Istri Rasul yang ikut hadir saat keluarnya hadist al Kisa. Memang, penamaan nama anak itu adalah salah satu ciri ideologi orang tua. Jika saat masih Dalalip nama anak yang dipilih adalah nama berbahasa Arab yang dapat diterjemahkan sesuai harapan orangtua yang saat itu mengidamkan Negara Islam Indonesia. Berbeda dengan nama khas pecinta Ahlulbayt biasanya disandarkan pada para tokoh-tokoh dalam sejarah Ahlulbayt agar dapat bertabaruk dan meneladani kehidupan tokoh yang dimaksud. Seperti namaku juga, Syahar Banu, putri Persia yang jadi istri Imam Husain yang syahid di Karbala, ibunda dari Imam Ali Zainal Abidin yang memiliki doa-doa indah yang termasyhur bernama Sahifah Sajjadiyah. Adik lelakiku juga diberi nama-nama yang ada unsur Ahlulbaytnya. Kecuali anak ketujuh, karena bapak dan ibu mengalami perpindahan keyakinan dalam beragama lagi. Nabi yang bapak dan ibu yakini saat itu adalah nabi yang sempat menjadi sampul cerita majalah Gatra berjudul Nabi Baru dari Bekasi. Aku akan menceritakannya lain kali tentang ini karena aku, mbak Ima dan mbak Umu sempat putus sekolah karena ini. Baru kemudian, di anak terakhir, bapak dan ibu kembali ke jalur keagamaan Ahlulbayt, sehingga adik terakhirku juga mendapatkan nama tokoh Ahlulbayt lagi.

Karena mengalami perpindahan mazhab keagamaan inilah, bapak dan ibu juga memberi kebebasan pada anaknya untuk berpindah dan memilih mana saja keyakinan yang dianggap rasional. Karena indoktrinasi dan ekstrimisme sama sekali bukan hal yang bijak dalam beragama.

Sampai sekarang, aku senang bapak terus menerus belajar. Dia sedang banyak belajar tentang Hermeneutika secara otodidak, padahal itu adalah salah satu ilmu yang menjadi mata kuliahku di kampus. Sedangkan ibu, lebih senang menghabiskan waktunya untuk membaca doa tawassul, kumayl dan lainnya untuk ketenangan hati. Ia juga tidak pernah melewatkan diri untuk menonton sinetron Kian Santang tiap malam untuk menghibur diri.

Aku membayangkan jika bapak membatasi diri dengan tidak membaca buku diluar keyakinannya, maka bapak akan terus di NII, menjadi loyalis Abu Bakar Baasyir atau setia pada Abu Jibril. Jika bapak memilih Abu Jibril, maka tentu saja aku juga akan berteman dengan anaknya Abu Jibril dan ikut menjadi kontributor atau reporter di situs Arrahmah dot com yang termasyhur itu. Atau barangkali, di usia segini aku sudah menikah dengan lelaki bercelana cingkrang dan berjenggot lewat perjodohan foto antar jamaah seperti jaman bapak dulu.

Membayangkannya saja sudah membuatku geli.

--

Disclaimer : Jika ada kesalahan nama dalam sejarah, akan di revisi dikemudian hari. Cerita ini hanya mengandalkan ingatan bapak sebagai sumbernya. Mohon maklum kalau salah ya ^^,

Update :
Sebelumnya ditulis bahwa Ali Sadikin dipenjara dalam kasus Petisi 50. Bang Andreas Harsono mengingatkan lewat twitter bahwa Ali Sadikin tidak pernah dipenjara. Hanya dimatikan hak perdatanya, Beberapa menit kemudian aku menelepon bapak untuk bertanya tentang itu. Bapak bilang dia memang tidak bilang Ali Sadikin dipenjara. Bapak hanya bilang Ali Sadikin dibatasi kegiatan-kegiatannya, misalnya, dia tidak boleh berhutang di bank dan hal administratif lainnya. Yang dipenjara adalah Dharsono, bukan Ali Sadikin. Aku salah data (maaf ya ^^). Nama lain yang bapak sebut adalah AM Fatwa yang dulu menjadi sekretaris Petisi 50. Tapi AM Fatwa dipenjaranya lebih ke kasus tentang pidato-pidatonya di mimbar yang menentang rezim Soeharto. Saat itu AM Fatwa juga menjadi salah satu pejabat MUI. Bapak menyuruhku menulis tentang Petisi 50 yang dilupakan orang-orang, bahkan bersedia mengantar ke rumah AM Fatwa untuk wawancara atau sekedar melihat-lihat dokumennya. Aku bilang, "Iya, kapan-kapan ya pak." :D

Kalau ada kesalahan sejarah atau apapun, silakan mengingatkan. Dengan senang hati akan verifikasi ulang.

Jumat, 14 Maret 2014

Puisi dan Hidupku Setelahnya

Aku kira aku bisa menulis puisi. Di sekolah dasar aku senang menulis puisi, teman-teman ku ikut menulis juga sejak aku menulis. Ada sebuah persaingan ketat saat itu. Kata mereka puisiku tidak sebagus puisi temanku yang lain. Apalagi puisi itu ditulis dalam bahasa Inggris. Harus aku akui, puisi yang ditulis temanku itu memang bagus. Karena itu adalah karya Kahlil Ghibran. Teman-teman tidak tahu temanku plagiat. Apa yang bisa kita harapkan dari anak-anak ingusan itu? Aku tahu tapi aku diam. Siapa yang mau dipermalukan? Aku tak ingin menambah musuh. Lagipula aku hanya anak pindahan yang tidak punya teman saat itu.

Aku sempat mengira aku bisa menulis puisi. Curahan hati bisa jadi puisi. Kegembiraan jadi puisi, kemarahan jadi puisi, olok-olok jadi puisi. Semua orang yang membacanya bilang puisi yang aku tulis bagus. Semua orang ingin dibuatkan puisi saat pelajaran Sastra atau Bahasa Indonesia. Orang meyakini aku bisa membuat puisi dan itu membuat aku yakin aku bisa membuat puisi. Puisi dan aku adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Belakangan, aku membaca ulang puisiku dan menemukan kedangkalan yang konyol setelahnya.

Aku kira aku akan terus hidup dengan puisi.

Memang, pada suatu hari, aku patah hati dan aku menangis semalaman ditemani puisi-puisi Hafidz dan Fariddudin Attar. Aku tidak punya apa-apa sebagai penghibur. Perasaanku menggelegak dan rongga dadaku kembali dipenuhi cinta. Aku tak mengizinkan dendam bersemayam. Hafidz dan Attar menuntunku ke altar kelayakan. Aku kira, saat itu aku memang diselamatkan oleh puisi.

Aku kira aku bisa menulis puisi. Aku menulis untuk kekasihku lalu ia mendebatnya habis-habisan. Percuma saja banyak orang memuji karyamu tapi bukan orang yang kau cintai yang memujinya. Percuma saja dipuji banyak orang yang tidak punya selera berpuisi dan bukan penikmat puisi. Aku mundur beberapa langkah. Menghitung kemungkinan terburuk. Sepertinya aku memang tidak bisa menulis puisi.

Aku membuka buku-buku puisi. Dulu aku sangat menikmati Neruda, Sutardji, Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, Sarojini Naidu, Syirazi, Rumi, Ghibran, dan lain-lain. Suatu hari aku temukan diriku di tumpukan buku-buku puisi dan membaca beberapa syairnya. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari puisi itu. Aku berusaha mencari kritik atas puisi itu di internet. Ternyata puisi itu dipuji oleh para kritikus. Aku jadi meragukan seleraku. Bahkan sekarang aku tidak tahu apa-apa soal puisi. Aku tidak bisa membaca dan kepekaan ku dalam memilah puisi bagus dan jelek menghilang begitu saja. Aku mencoba memaafkan diriku sendiri atas ini. Bahwa ternyata hidupku bukan lagi mesti bersama puisi.

Aku berhenti menulis puisi. Aku tidak bisa menulis puisi lagi dan bahkan tidak sanggup lagi membacanya. Aku seringkali mendengus keras begitu membaca puisi seseorang karena aku tidak mendapatkan apa-apa. Bukan karena puisi itu jelek. Tapi aku hanya tidak mengerti apapun yang tertulis. Salahku yang tidak mengerti. Bukan salah penulis puisinya. Aku ingin berkata puisi itu jelek dan puisi ini bagus. Tapi aku tidak punya pisau apapun untuk menilainya. Lagipula, siapa aku hingga berani menilai sebuah puisi? Aku tak punya apa-apa untuk mengakrabi lagi puisi. Tak punya.

Salahku adalah, selama ini aku tidak berada di tengah orang yang menulis puisi sehingga kemampuanku mengolah rasa jadi tumpul. Aku tidak punya selera lagi.

Bahkan aku tidak lagi punya minat berkencan dengan penyair lagi. Aku merasa sedang mengkhianati puisi yang pernah sangat aku cintai. Aku sedang berusaha memaafkan diri sendiri yang terlalu mudah tersentuh dan dimanipulasi oleh penyair dengan puisi-puisinya. Aku pikir seseorang itu semulia puisinya. Aku pikir puisi adalah konsekuensi logis dari jalan pikiran pembuatnya. Aku gagal melihat bahwa kini, puisi seringkali hanya jadi lipstik untuk menutupi bibir yang menghitam karna dusta dan kebobrokan.

Inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri hubunganku dengan puisi. Aku tidak menjamin bahwa aku mampu tahan berjauhan dengan puisi. Tapi setidaknya, aku ingin tegas berkata bahwa jarakku dengan puisi setara jutaan tahun cahaya. Yang kau lihat setelahnya hanyalah masa lalu.

Aku patah hati pada puisi.

Maaf.

Selasa, 11 Maret 2014

Kenapa Belakangan ini Aku Tidak Produktif Nulis?

Sebenarnya aku punya target dalam menulis. Secara profesional maupun sekedar di blog. Beberapa orang menagih tulisanku di blog. Terharu sekali ketika salah satu follower blog mengirimkan email yang isinya bertanya kenapa alu jadi jarang sekali menulis.

Itu terjadi karena beberapa faktor. Anggaplah ini sebagai sebuah pembelaan diri. Faktor-faktor itu adalah :

1. Laptopku mulai ngambek.
Usianya sudah 3 tahun. Baterainya sudah mati. Pun wifinya. Parahnya lagi, setiap kali tersenggol atau berubah posisi, layar laptop blank atau kursornya macet. Pernah di servis dan habisnya banyak. Setelah garansi servis habis, laptopnya ngadat lagi. Hal itu bikin aku...

2. Malas
Tentu saja, saat sedang asik nulis tiba-tiba laptop mati. Lalu aku kesal dan ide ku seketika meleleh semua. Aku harus menyambungkan internet lagi. Kadang tidak selalu lancar. Modem mesti di uninstal dulu dan instal lagi untuk bisa berselancar lagi. Biasanya juga mati lagi setelahnya. Bikin malas luar biasa. Bahkan untuk sekedar buka laptop pun aku benar-benar malas. Itu mengakibatkan...

3. Kehilangan Kepercayaan Diri Menulis
Menulis itu mesti biasa. Apa saja bisa dijadikan tulisan postingan di blog. Semudah kita tulis status Facrbook atau ngetwit. Cukup dipanjangin dikit biar tjakep. Tapi aku sekarang kehilangan kepercayaan diri. Logika menulisku dan kemampuan berargumentasiku melemah. Daya risetku ditentukan sekali oleh kinerja internet dan laptopku. Aku jadi miskin data dan perspektif. Apalagi aku sekarang menghabiskan banyak waktu di twitter yang isinya penulis-penulis bagus. Aku jadi minder, siapalah aku ini :((

4. Blogger, Gmail dan kawan-kawannya
Blog ku awalnya terkunci. Bisa menulis tapi gagal diterbitkan. Lalu setelah dibuka, temanku yang servis blog ku bilang layoutnya harus diganti. Layout ku yang dulu sangat indah dan manis. Bikinan mantanku. Dan terpaksanya ganti layout. Setelahnya, aku tidak bisa kirim email entah kenapa. Aku merasa didiskriminasi google dan aku juga jadi merasa gaptek. Karena orang lain tidak pernah mengalami apa yang terjadi di akun ku sehingga mereka pikir aku yang salah. Aku malah ditanya macam-macam hal teknis yang tidak aku tahu.

5. Bosan Kuliah
Kuliahku semester ini sangat menjenuhkan. Aku ingin skip semester ini tapi aku pikir itu percuma karena toh nanti harus ikut mata kuliah itu lagi. Rasanya aku tidak dapat apa-apa di kelas. Bahkan aku tidak bergairah untuk baca buku. Rasanya hari-hari kuliah hanyalah mengejar absensi dan restu dosen belaka. Benar-benar menyebalkan.Bosan kuliah ini sangat memengaruhi mood ku. Karena itu akan membawaku pada poin nomer 2.

6. Menahan diri untuk tidak curhat
Setiap kali aku ingin menulis blog, aku menyimpan hasrat di dalam dada untuk curhat. Karena kondisi ku sedang tidak stabil dan aku rasa tidak tepat jika menampakkannya di muka publik. Ah sial  ini curhat juga. Tapi apa boleh buat.

7. Suka Tidur
Karena tidur adalah solusi dari lelahnya pikiran. Aku juga heran, setiap kali pulang kuliah rasanya lelah sekali padahal otakku tidak sedang diajak berlari kencang. Mungkin karena memang jenuh kuliah sehingga aku mencari pelarian dengan tidur. Tidur mengurangi waktu baca ku juga. Dan aku merasa sangat bodoh. Tapi aku lelah dan tak tahan untuk tidak tidur. Kecuali kalau terpaksa ada kegiatan di luar. Tapi aku akan lelah juga setelahnya. Dan tidur lagi...

8. Ignoring
Kalau sedang melewatkan sesuatu yang seharusnya aku perjuangkan, aku pura-pura seolah tidak butuh. Biasanya aku tulis semuanya tapi kini tidak. Lalu aku tersiksa dirajam rindu. Ah... Sudahlah...

9. Nulis lewat android nggak enak
Iya, layarnya kurang gede. Touchscreen nya bikin typo mulu. Huft banget!

Itu aja deh. Udah kebanyakan alasan. Hihihi...

Love you Lov!!

Ps : Lihat mukaku... Ekspresi pusing tiap hari. Hiks...

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.