Sabtu, 22 Oktober 2011

Tentang Kekasih



Mata itu masih sama. Magnetnya membuatku masuk ke dalam jiwanya dan menelusuri alam keheningan yang mesti aku renungi dari subuh sampai dini hari. Aku mulai mengeja kata dari tatapan yang tersisa. Merangkai kata dari tatapan mata kemarin beserta teks yang beberapa kali terbaris dalam huruf digital.

Aku menyapa malam yang senantiasa aku sapa dengan mata benderang. mencoba mempertanyakan, bagaimanakah kabar kekasih? Aku tak lelah menyapanya karna namanya telah aku daras menjadi doa yang aku harap menelusup dalam dedaunan segar pagi hari, menguap menuju ketinggian oleh hangat mentari, dan beberapa saat kemudian kembali merindukan bumi dalam tetes hujan rakhmat. Tetes itu menyapa ujung rambutnya dan menjadi kawan dalam keluh kesahnya.

Perlahan... Seikat bunga menyeruak dari sanubariku. Apakah ini berkat dari sang Maha Cinta? Harumnya jadi kedamaian di jalan-jalan sempit para musafir cinta. Aku mencoba menapaki bekas kaki para pecinta dalam sunyi sambil tersenyum pada kekasih ku yang berada di singgasana maha mutiara kalbu. Aku bertanya-tanya, apakah keindahan para kekasih telah membuat banyak orang rela menjadi pelayannya walau hanya berurai doa-doa sepanjang hari pada sang Rahim? Aku menoleh kebelakang dan melihat uraian air mata para pecinta telah membawa mereka dalam samudera pengkhidmatan. Ketika darah jadi air mata dan air mata semerah darah membeberkan kesaksiannya atas kedahsyatan Cinta. Ketika Ketajaman pedang adalah muara cahaya. Maka sayatannya jadi permadani yang terhampar jadi tangga menuju langit.

Aku mendaraskan namanya lagi di altar cahaya agar ia mengerlingkan mata cahayanya pada ku, namun urung... Menatapnya telah membakar habis segala tuntutan ku padanya. Tiada sesuatu yang aku inginkan darinya. Ternyata hanya dengan melihatnya dari kerumunan sudah cukup. Aku merindukan penyatuan, Tetapi, aku lebih menginginkan kekasih datang dengan keindahan jiwa yang kelak menuntunnya pada pertemuan jiwa pecinta. Layaknya 2 tetes air tersebut melebur jadi butiran rintik air mata para pecinta yang mendamba kasihnya.

Aku tak hendak menempatkannya sebagai Tuhan, tak pula sebagai berhala. Biarlah Ia hidup sebagai Manusia, menyempurna dengan kemanusiaannya. Ia memang Tak bersayap, tak juga berlari secepat cahaya. Tapi keindahan jiwanya adalah kerlipan gemintang yang dirindukan langit setiap malam. Lalu aku dengar Orang bijak membisik padaku, Bila Ia menjadi manusia seutuhnya di alam akal ku, maka kepalanya dapat meninggi melebihi malaikat.


Garis kehidupan telah memanjang di hadapan para pecinta, bahwa Tiada hal lain yang diinginkan pecinta kepada kekasihnya selain penyatuan. Namun, Aku tak hendak mengaitkan paksa benang sari kasih ini padanya. Aku memilih untuk memulai langkahku menuju jalan cahaya dan berharap kekasih ku menapak jalan cahaya yang sama sampai pertemuan kita di altar Cahaya. Bila langkah cahaya kita berbeda, biarkan sinar mata kita yang pernah bertemu jadi meninggi dan menjadi kerlip kecil dalam kalbu para pendamba cinta.
 


Jumat, 21 Oktober 2011

Moderator (Cerita yang sempet kesimpen di draft Blog lama banget)

5 April 2011.
Hari ini cukup berbeda dengan hari biasanya, Karena pertama kali nya gw jadi moderator di kampus.

Perasaan gw awalnya biasa aja. Walau gw aktivis seminar dan diskusi sejati, Tapi selama ini gw vokal buat jadi penanya alias tukang nanya. Bukan pembicara atau moderator. Pengalaman ini kembali mengevaluasi pergerakan keberdiskusian gw slama ini. 

Jadi,Setelah gw ditunjuk jadi moderator.. Gw berpikir "Ah...moderator doang, gampang itu mah". Halim temen sekelas gw yang jadi koordinator acara dengan muka nggak yakin nanya "Beneran lho elu bisa jadi moderator, Kalo nggak bisa bilang dari sekarang".

Gw kesinggung. Kalo gw lagi kesinggung, gw bakalan songong. Gw bilang ke Halim sambil nahan kesongongan gw, "Bisa lah... moderator bedah buku kan??? bisa donk..."

Halim mukanya masih nggak yakin. Gw pelototin dia, gw tantangin dia pake bahasa kebatinan. Halim akhirnya bener-bener nyerahin tugas iu ke gw.

3 Hari menjelang Acara, Gw baru baca buku Indonesianya Cak Nur. Baca buku itu aja perjuangan berat karena gw mesti cari mood baca. Gw akhirnya ke taman Surapati, lesehan sendiri di rumput, Kayak orang waras baca buku ditengah taman.

Gw start jam 2 Siang dan gw janji sama dri sendiri nggak akan pulang sebelum bukunya selesai gw baca. Lumayan juga buku lumayan berat. Gw sempet makan Me Ayam, 2 Gelas Nurisari, dan Tahu gejrot. Ternyata Gw bokek. :(. Seelah jajan-jajan baru sadar duit inggal 20.000. Aduuuh... Kalo tiap minggu gw baca buku di taman gini bakalan berat di ongkos dah. Gw menahan diri dari perasaan memelas, kemungkinan nggak bakal makan malam nih.


Jam 5 Sore, Air mancur Taman Surapati nyala. Waktu itu ada angin kenceng. Sialnya air mancur ngarah ke gw. Gw kemuncratan deh. Gw nengok ke arah air mancur, Ada cowok lagi baca buku juga. Ngetawain Gw. Fine!

Babibubabibu....
Cowok iu kenalan. Namanya Wandi. Masih Muda, kerja di Bank. Dia suka baca buku juga di taman. Gw dengerin dia ngomong sambil baca buku. Udah biasa ah Cowok pengen ngobrol sama gw. Gw kan cakep *Alah buseeet... Gw selalu sempet narsis sama penonton*.

Gw mau pamit sama dia. Gw petimbangin, kalo Dinner gw 10000 masih bisa kayaknya. Gw bilang ke wandi kalo gw mau pulang dan makan. Dia nawarin jasa antar. Gw tanya, dia naek apa, Dia bilang naik bis. Gw bru ngeh dia ternyata mau nganterin ke gang bis 20.

Wandi Bilang, Dia laper. Dalam hati "Emang gw mak lu??"
lalalllala...ternyata dia ngajakin makan. Dia pesen nas goreng 2. Jelas lah  dia yang bayar. Gw hemat. Pengen buru2 pulang. Dan gw nggak follow up dia. SMS n telp nya g gw gubris. Males kan cuma ketemu di taman trus ngapain gitu...


Oke, balik ke moderator.
Akhirnya gue jadi juga deh moderatorin kak aan dan pak Bima Arya. Kak aan pesen ke gue kalau gue harus "Lincah" waktu ngasih pertanyaan ke pak Bima itu n ke kak aan. Eh, pas gue tanya tentang perspektif dia dan cak Nur, dia malah bilang, nanti diskusinya malah g jadi. Yah... Gue lempar aja deh ke yang lainnya.

Overall, jadi Moderator nggak begitu susah. Tapi emang beda waktu kita pegang Microfon sama nggak pegang microfon. Rasanya lebih bergetar apalagi saat semua orang mendengar secara detail apa yang kita bicarain.

Akhirnya Gue berhasil bawa buku banyak banget hasil kenang2an terbitan sponsor. FYI, Buku itu masih banyak yang di segel dan g gue baca sama sekali karna emang bukan buku yang mengundang selera. Buat menuhin lemari buku aja. Nanti kalau ada yang mau minta buku itu ya minta ajalah. Gue nggak butuh ini kok... hehhe...

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tentang dini Hari

Aku mulai hari-hari tidak sehatku dengan terbiasa melek malam. Hey... What is the meaning of "Melek?". Aduh.. Apa ya. Kok jadi lupa ya. Melek itu artinya mata yang terbuka. Bahasa jawa. Penjelasan singkatnya, dalam bahasa nya rhoma irama artinya begadang. Jadi Aku sekarang hobinya begadang. Udah sejak 2010 lah, sejak di Filsafat. 

Orang bilang aku kena insomnia. Nggak juga... Jam tidurnya aja yang  dibalik. Kalau orang tidur itu malem, aku tidur itu pagi setelah subuh. Nggak beda. 6-8 jam juga. Ibu ku suka bilang, "Kamu itu jarang kena matahari. Kalau jam 8 Keluar rumah, jemur badan. Biar sehat."

Sebentar... Umur ku berapa ya? seingatku 21 tahun, Tapi ibuku menganjurkanku mengikuti tradisi bayi. Well, ada benernya juga sih.. Tapi udah ngantuk banget jam segitu, Nggak punya sun block pula. Gimana kalau sinar UV A dan UV B menyengat ku?? Aku bisa melelah karna terpanggang.Taring ku akan hilang begitu saja. Aku takut nggak bisa jadi vampir lagi. Kalau nggak bisa jadi vampir, siapa yang nggantiin peranku di serial twilight??? Berjemur di bawah sinar matahari akan membuat karir kevampiran ku tamat. 

Kecuali ada lowongan pekerjaan jadi vampir untuk shift siang. Ada yang tahu Kemana aku harus kirim CV nya?

Berawal dari kebiasaan diskusi kampus yang anehnya cm berkualitas di atas jam 12. Nongkrong di kios kaki lima penjual soto ceker yang lokasinya diapit sama 7eleven dan starmart. Ngobrol Bareng sama temen kampus lintas jurusan tentang sejarah, agama, politik negara dan kampus, bisa sampe jam 4 Pagi. Semua temen mendadak jadi diplomat ulung dengan segala referensinya. Bahkan yang pendiem pun ikut beretorika sambil makan soto ceker ayam. Lagian. Kita gagah juga kok, nggak jajan ke kios kapitalis. Duit kita milik kios kaki lima deket ceker ayam itu. Duit rakyat kecil...

Setelah punya laptop, kebiasaan begadang berlanjut dengan browsing dan online sampai bosen. Sugguh tidak terpuji. khukhukhu... Trus nonton film, chatting, ngarjain tugas kampus malem. Lho kok jadi nggak bisa tidur tepat waktu lagi. Kalau lagi disenggol malaikat surga, sholat. :(( jarang... :P/ Sungguh terlalu dan nista deh. hueeek.... (Kepikiran buku panduan macam2 shalat sunnah. Subhanallah!!! Mungkinah ini senggolan malaikat surga???)

Mari kita cari lagi biang keladi nya. Gotcha! Aku tau apa yang berhak dipersalahkan dalam hal ini. Tau banget. Menurut referensi dari internet, Cewek gemini itu cerewet. Well... Nggak semua orang cerewet itu punya kebiasaan ngobrolin sesuatu yang berkualitas. Tapi, yang perlu dipersalahkan juga adalah Aku terlahir dengan tahi lalat di bibir bawah kanan, Yang menurut sumber dari internet juga, tandanya adalah orang yang suka berdiskusi. Juga salahin orang-orang yang cm bisa ngobrol berkualitas jam 12 malem. Itu sama aja memaksaku menyesuaikan diri. Kan ciri-ciri makhluk hidup itu menyesuaikan diri dari lingkungan. Inget banget donk pelajaran IPA pas SMP bilang gitu. Jadi menyesuaikan diri ku itu dalam rangka memenuhi ciri sebagai makhluk hidup. Tanpa kopi dan rokok bung!

Catet ya... Bukan salah ku pribadi. Ini adalah kesalahan kolektif dari manusia bernafsu.

Sebenernya tadi aku nggak mau ngomongin tentang begadang ini tadi. Tapi ya sudah lah. Udah adzan subuh. Di akhiri aja lah. Nanti malem lagi, aku mau ngobrolin tentang suasana dini hari di kota-kota yang aku kunjungi kayak Jakarta, Papua, Palu, Bandung, Boyolali.

Anggap lah ini jadi latar belakang begadang itu,

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.