Syahar Banu

Senin, 12 Februari 2018

Tentang Proses Belajar yang terus Berjalan

Hari Sabtu lalu, aku ngajak Tesa untuk kondangan ke temen kuliahku. Karena lokasinya di Depok, Tesa ngajak naik KRL.

Tentu saja, seperti janjian kami biasanya, dia terlambat. Nyaris satu jam. Karena masih ada waktu, maka aku tidak marah. Aku merasa bersyukur bahwa setidaknya kami bisa berangkat.

Ya sebenarnya kondangan naik KRL itu ribet. Karena aku pake bawahan batik pasangan kebaya dan wedges. Turun tangga kosan saja susah melangkah. Tapi aku yakin bisa.



Lagipula, kalau dia ngajaknya naik KRL, masak aku mau maksa minta naik Go-Car? Dia punya uang, aku juga punya. Dia rasa, lebih efisien naik kereta. Ya sudah.

Kami janjian di stasiun. Dia show up pake baju batik dengan sneakers dan ransel.

Aku tanya isi ranselnya apa, dia jawab, "laptop". Dalam hati mikir, 'kan mau kondangan. Kok bawa laptop...?'

Aku tanya kenapa bawa laptop, katanya, "ga tenang aja kalau ga bawa."

Iya, aku paham dia pasti mikirin kerjaan. Orang dengan 3 pekerjaan sekaligus memang hectic.

Baju kami tidak serasi seperti pasangan lainnya. Namun aku sama sekali tidak mengeluh dengan gayanya. Dia memang seperti itu apa adanya. Orangnya memang tidak pernah beli sepatu baru sebelum sepatu lamanya rusak. Dia tak pernah punya sepatu selain sneakers dan ga punya jas selain jas dokter yang biasa dia pakai praktek. Dia memang bukan orang yang dandy soal penampilan. Padahal adik dan ayahnya cukup necis lho.

Aku merasa, selama dia nyaman dengan dirinya yang sederhana, aku tak perlu mengeluh apapun. Dia pernah bilang bahwa dia tak bisa membelanjakan uangnya untuk penampilan.

Sebagian besar pengeluarannya adalah untuk beli buku bacaan dan CD musik favoritnya. Sekalipun ada spotify, Tesa adalah orang yang masih senang membeli CD karena ia merasa perlu mendukung musisi-musisi favorit dan pedagang CD yang mulai digerus arus segala macam digitalisasi. Ia juga orang yang rajin beli merchandize musisi seperti kaos dan jaket. Bahkan, kadang dia hanya berkaos saat layani pasien. Sampai-sampai BPJS Kesehatan pernah tegur dia langsung karena ada pasien yang mengeluh bahwa dokter gigi yang menanganinya kurang meyakinkan karena bersepatu sneakers dan berkaos band metal warna hitam. Sejak saat itu dia baru disiplin pakai jas dokter warna putih itu.

Aku melihat bahwa kami mulai bertumbuh. Tesa memang masih terlambat kalau janjian, tapi dia selalu berusaha. Sedangkan aku sudah bisa menggunakan pilihan ekspresi terbaikku dalam menyikapinya.

Dia mengapresiasi responku yang menurutnya manis sekali saat dia buat kesalahan datang terlambat. Kami pernah sangat telat datang kondangan sahabatku dan aku menangis sepanjang jalan karenanya. Dia pasti masih ingat betapa ekspresi kecewaku padanya itu membuat dia cukup kewalahan.

Aku tidak marah kali ini. Sebaliknya, aku justru mengapresiasi Tesa yang mau luangkan waktu di tengah hectic urusan kerjaan dan kongres HMI yang sudah mau dekat tanggalnya. Dia ada kegiatan, tapi dia mengutamakan kepentinganku.

Setelah dari kondangan pun, aku bilang padanya bahwa dia tak perlu mengantarku. Aku bisa pulang naik gojek. Dia setuju.

Aku tahu dia harus menyelesaikan agendanya hari ini. Aku tanya padanya, bukankah sebagai pasangan, aku ini tak pernah merepotkan dia? Aku tak minta antar jemput. Aku tidak minta ditelepon tiap hari. Aku tidak minta kami setiap hari berkabar secara instens.

Dia bilang, "iya. Makasih ya."

Kami bicara banyak hal saat bertemu. Termasuk soal video Instagram sebuah klinik kecantikan yang menawarkan filler hidung. Aku bilang padanya bahwa kalau hidungku mancung sedikit, aku pasti tampak lebih cantik. Dia bilang, "kamu sudah cantik kok sayang. Cantik sekali."

Siapa yang tidak suka dibilang cantik?

Oh, ada lagi.

Setiap aku merasa mulai gendut, dia selalu bilang, "ah gendut darimana? Kamu cantik kok. Sudah ideal."

Padahal perutku kadang memang agak buncit. Dia tahu itu. Seingatku, dia tidak pernah mengeluh soal fisikku.

Nah, ini lagi.

Suatu hari aku merasa gigiku terlalu kuning. Aku meminta Tesa untuk melakukan bleaching gigi agar warnanya lebih cerah. Dia bilang, "sayang... Kulitmu itu kan putih. Kulit warna putih itu memang punya warna gigi serupa gading. Gigi kamu tidak kuning karena jorok, tapi karena warna aslinya memang seperti itu. Kan saya sendiri yang periksa gigimu."

Tesa pernah bengong lihat perempuan yang pakai baju seksi. Aku merasa bahwa apa yang dilakukannya wajar. Aku sering juga kok memuji soal cowok lain sebagai orang yang ganteng saat sedang jalan sama Tesa. Kami berdua memang bersikap santai soal memuji lawan jenis dengan cantik maupun ganteng.

Tapi ternyata dia tidak bengong karena baju seksiny. Dia berbisik, "saya seringkali bersyukur karena kamu tidak ikut tren membentuk alis-alis seperti perempuan lain. Saya tidak suka. Tidak tampak alami."

Aku memang tidak membentuk alisku sama sekali. Bukan berarti aku menghina mereka yang bersusah payah dengan alisnya. Alasanku sederhana, aku tidak bisa seni membentuk alis sama sekali. Sama sekali.

Jadi wajar bukan kalau alisku masih alami.

Kembali ke hubungan kami.

Sekarang aku menyadari bahwa makin ke sini, kami mulai bisa mengenali satu sama lain. Aku bisa mengendalikan emosi dan lebih apresiatif. Dia juga lebih ekspresif mengungkapkan apa yang ia mau sehingga kami tidak bertengkar hanya karena aku banyak bicara sedangkan dia diam. Kami memang pernah saling marah, kecewa, putus, dan lainnya. Tapi ternyata kecewa dengan sikap pasangan yang tidak sesuai bayangan ideal itu rasa sakitnya tidak ada apa-apanya dibanding harus berpisah.

Lagipula, setiap kali insecurity ku timbul, dia selalu bilang, "kamu baik sekali sama saya. Baiiiik sekali." Lalu Tesa akan membuatku seolah aku adalah perempuan tercantik di matanya.

Dia menjalankan tugas sebagai pasangan dengan baik. Dia membuat aku merasa beruntung. Dia membuat aku begitu mudah mensyukuri apa yang aku punya.

Dalam perjalanan ke kosan setelah kita berpisah di stasiun, aku menerima pesan Tesa di WhatsApp. Dia bilang, dia beruntung sekali dapat pasangan baik yang juga bisa menjaga orangtuanya. Ia merasa tidak bisa menjadi anak yang cukup berbakti pada orangtuanya. Bahkan, tante dan seluruh keluarganya pun menyayangiku. Hal seperti ini tidak pernah dia duga karenanya sebelumnya tidak ada yang disukai oleh keluarganya.

Bahkan, di awal kita jadian, dia sempat beri warning bahwa aku tidak boleh kecewa kalau keluarganya tidak menyukaiku. Karena semua mantannya memang tidak disuka. Saat akhirnya bertemu sama mama dan papanya, mereka lovable sekali. Bahkan waktu aku dan Tesa bertengkar, mamanya lebih sering membelaku. Mama bilang aku lebih dewasa dari anaknya. Aku bilang padanya bahwa sekalipun aku lebih dewasa, anaknya punya kesabaran yang lebih banyak dari aku.

Aku mencintai mereka seperti orangtua kandungku sendiri. Senada dengan keluargaku, mereka pun mencintai Tesa seperti anak sendiri.

Aku tidak tahu perjalanan kami akan sampai mana. Yang pasti, aku selalu bersyukur saat kami ada masalah besar ddi antara kami, dia mau meluangkan waktu untuk konseling agar hubungan kami tak jadi toxic. Tidak semua lelaki mau tempuh jalur ini.

Aku bersyukur bahwa di masa-masa sulit dia tidak pergi. Aku selalu mendapatkan suntikan energi lebih saat ia bilang betapa kerennya aku sambil beri semangat kecil.

Kami tidak tahu apakah kami akan ditakdirkan bersama atau tidak. Saat ini, aku tidak punya rencana yang tidak melibatkan dia di dalamnya. Dia juga sama.

Jika saja -semoga tidak terjadi- kami berpisah pun. Aku ingin mengenang hari-hari bersamanya sebagai masa yang membahagiakan. Dia adalah salah satu alasan yang membuatku yakin bahwa orang dengan banyak kesedihan sepertiku pun masih layak untuk bahagia dan dibahagiakan.

Terima kasih ya, Tesa.

Sabtu, 09 Desember 2017

Dini Hari, Pukul 2 Pagi

Sudah berhari-hari rasanya, tidur dalam keadaan sangat lelah pada pukul 11 malam dan bangun dalam keadaan sakit pada pukul 2 pagi. Alih-alih membuat hidup jadi lebih produktif seperti anjuran orang untuk "bangun sebelum orang lain terbangun agar jadi orang sukses", aku akan terbangun sambil meratapi tubuh yang sakit di sana-sini. Kadang perut yang melilit perih sekalipun sudah makan sebelum tidur, kadang tentang sakit kepala sebelah kanan, tak jarang soal punggung maupun pinggang yang jadi sakit sekalipun tak sedang datang bulan.

Beberapa kali, aku menghabiskan waktu terbangun dini hari untuk meratapi pesan-pesan yang tak terbalas, cinta yang bertepuk sebelah tangan, masa lalu yang mendadak datang, sakitnya jadi orang yang tak signifikan, dan batas tipis hidup mati yang jadi pertimbangan untuk terus bertahan.

Aku tahu bahwa setiap tubuh punya alarm peringatannya masing-masing. Tapi soal ini, aku selalu gagal memahami. Apa sih sebenarnya yang ingin diperingati tubuh pada jam 2 pagi yang mencekam setiap harinya? Bisa jadi aku dibangunkan oleh mesin waktu yang mengajakku menyanyikan hymne pada duka pada jam 2 pagi. Mungkin akan ada peristiwa luar biasa pada jam 2 pagi di masa depan yang memintaku untuk selalu waspada pada waktu-waktu ini.

Setiap orang memang punya prioritas masing-masing. Makin tak signifikan kehadiranmu di kehidupan orang lain, dirimu akan makin tak mendapat urutan prioritas di sisinya. Bisa jadi orang-orang yang aku anggap penting menganggapku bukan apa-apa. Otakku pada pukul 2 pagi justru berisi nama orang-orang yang punya banyak alasan menghindari pertemuan dan ratusan pesan tak terbalas.

Aku memang tak harus peduli tentang orang yang tak mempedulikan aku. Tapi bagaimanapun, aku tak ingin orang-orang itu merasakan sakitnya terabaikan dan tak signifikan. Karena dalam hidup, kita mesti banyak memanjangkan rasa maklum dan sabar.

Hidup harus dijalani dengan tabah, sesakit apapun itu. Maka dari itu, saat berada di titik kesakitan yang sulit ditoleransi, secara otomatis amigdala yang sudah hancur babak belur ini bertanya, "bagaimana kalau kita akhiri saja drama rasa sakit ini selamanya?"



via GIPHY

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.