Syahar Banu

Sabtu, 11 November 2017

Sebuah Usaha Mencari Celah Positif

Bisa dibilang, dalam tiga tahun terakhir ini aku jadi orang yang ingatan soal ketidakberuntungannya lebih kuat daripada ingatan soal hal-hal baik. Kebiasaan itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari. Aku merasa saat ada keberuntungan, maka itu adalah satu hal yang lumrah aku dapatkan setelah beberapa kali sial. Sudut pandang itu mengkristal seperti liontin yang memberatkan leherku dan harus aku bawa kemana-mana.

Tiga tahun belakangan, aku sulit menemukan ingatan indah. Selalu ada badai setelah bunga-bunga. Hal itu terus terjadi hingga aku tak ingat lagi kapan terakhir kali aku bahagia tanpa takut ada hantaman badai setelahnya.

Aku bergumul dengan kesedihan dan babak belur dibuatnya.

Aku tahu pengkhiatan orang yang pernah kita percaya sudah berakhir. Yang lalu biarlah berlalu. Hari baru bersama orang-orang baru. Orang yang ditemui tidak akan sejahat dia. Aku merapal itu berkali-kali di kepala hingga aku rasa aku mulai bisa menerapkannya secara nyata di kehidupan sehari-hari.

Aku belajar untuk mempercayai orang lain lagi. Namun, pengkhianatan kembali berulang. Sial masih membebani dadaku yang selama ini kesulitan bernafas.

Kadang aku merasa bahwa barangkali beberapa orang diciptakan dengan kantung kebahagiaan besar dan orang sepertiku hanya diberi sekantung kecil bahagia. Saking kecilnya sampai lupa kalau punya.

Seharusnya masa lalu yang kelam menjadikan kita jadi makin kuat. Itu benar. Aku merasa tiga tahun lalu aku adalah orang yang kuat. Namun kini tenagaku sudah habis. Bahkan untuk sekedar tampak segalanya baik-baik saja pun aku tak mampu. Sudah terlalu lama "berperang" dengan diri sendiri dan saat ini rasanya lelah luar biasa.

Namun aku tidak menyerah.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin mengubah perspektif nelangsa jadi sesuatu hal yang patut disyukuri akan bisa membuatku jadi lebih kuat.

Aku mulai mengingat satu-satu derita yang barangkali bisa aku ubah jadi rasa syukur.

Saat masih kecil, keluarga kami sangat miskin. Bapak dan ibu yang ada di Bekasi tak mampu mengirimkan uang pada tiga anaknya yang masih usia SMP dan SD. Kami harus survive sendiri tanpa mengharap pada siapapun. Sekolah tak terbayar, seragam pun tak punya. Tapi kami tetap menebalkan muka dengan berangkat sekolah sekalipun diejek teman dan dipermalukan guru.

Setiap hari usai pulang sekolah, aku selalu keliling dari satu kebun ke kebun lain, dari satu comberan ke comberan yang lain untuk mencari bayam liar. Bayam itu nantinya kami masak jadi sayur bening. Kadang ada beras kadang tidak. Asal ada bayam dan garam, maka hari itu kami bisa makan.

Di awal cari bayam, aku berebut daun bayam dengan ayam-ayam milik tetangga. Daun bayam yang aku petik tumbuh pendek dengan daun berlubang di mana-mana. Jika ada ayam di sekitar bayam itu, maka bayam itu akan penuh sobekan di sana-sini karena habis dipatuk. Rasa lapar membuat kami tak pernah jijik berebut daun dengan ayam-ayam itu. Aku dan kakakku pun tak pernah memikirkan bahwa bayam itu mungkin subur karena adanya air kencing dan cairan lain dari kamar mandi tetangga yang mengaliri tanah bayam liar itu.

Aku mencoba bersyukur bahwa Tuhan menitipkan ketegaran pada daun bayam yang aku petik. Bahkan di tempat yang dipandang rendah oleh orang lain di sana, ada rezeki tiga anak yang kelaparan di situ. Untung ada bayam tumbuh.

Saat dipermalukan guru karena tidak bisa bayar sekolah dan tidak beli seragam, aku jadi sadar betapa mahalnya pendidikan. Aku selalu minta surat resmi tentang dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu bayar sekolah. Tentu saja sekolah tak akan mengeluarkan surat macam itu. Karena itulah aku tetap berangkat sekolah sekalipun tak pernah menerima rapor dan selalu menggunakan kartu ujian sementara setiap hari.

Kemiskinan mendidikku untuk berempati pada sesama. Aku mulai belajar arti priviledge. 

Bullying saat kecil menyadarkan aku bahwa di dunia ini ada orang yang memang jadi kelompok rentan diskriminasi. Ada orang-orang yang memang diperlukan tidak adil, jika orang kuat di sekitarnya tidak angkat membela, maka ia akan habis dilindas sendirian. Saat itu aku memang dilindas sendirian. Tapi aku belum habis. Hidupku masih berlanjut. Bahkan aku bisa kuliah.

Aku masih mencari memori-memori sial yang mestinya aku syukuri. Apa yang terjadi tidak akan sia-sia. Pasti ada hal yang tak sekedar berkontribusi melemahkan. Pasti ada hal-hal yang bisa menguatkan aku saat ini.

Aku menemukan ingatan itu. Peristiwa ini baru yang terjadi beberapa hari lalu.

Jadi ceritanya, pasanganku baru pulang dari Bangladesh untuk menjalankan misi kemanusiaan pada pengungsi Rohingya. Aku yang excited menyambut kedatangannya berniat untuk masak makanan spesial.

Aku membeli ayam dan meracik bumbunya dengan baik. Tentu saja aku memasaknya dengan penuh cinta. Sekalipun belum makan seharian, aku bertekad menunda rasa lapar agar bisa makan bersama dengan pasanganku jam berapapun ia datang nantinya.

Saat dia datang tengah malam, aku menghidangkan masakan itu. Rasanya perutku luar biasa lapar. Aku bisa merasakan jemariku yang mulai gemetar saat memegang sendok. Namun ada yang aneh, ada semut di dalam masakanku. Tak hanya satu. Jumlahnya banyak.

Aku melihat piringnya. Dia juga menyadari ada semut di sana. Aku bilang padanya untuk tak meneruskan makan karena semutnya terlalu banyak.

Dia bilang, "tidak apa-apa kok. Semua masakanmu akan saya makan. Semutkan protein. Daritadi saya makan semua semutnya."

Aku sendiri tidak sanggup meneruskan makan karena semut itu sampai masuk ke sela-sela daging. Sulit untuk bisa memisahkan semut dan dagingnya. Aku melihatnya terus makan sampai tandas. Ia tak mengajukan komplain apapun tentang makanan yang aku sajikan. Di sana aku menyadari bahwa lelaki ini memang benar-benar mencintaiku. Aku menyembunyikan wajahku yang menangis haru di balik pintu sebelum aku kembali bertatap muka dengannya.

Besoknya aku menelepon ibu untuk menceritakan kejadian itu. Aku bilang pada ibu bahwa mungkin aku tidak teliti saat menuangkan kecapnya. Aku tidak menyadari ada banyak semut berenang di dalam kemasan kecap yang aku gunakan.

Ibu bilang, "tidak apa-apa dibuang. Niatkan untuk memberi rezeki pada bakteri yang akan menghabiskannya."

Aku membungkus masakanku pelan-pelan sambil minta maaf padanya. Kemudian aku letakkan dengan hati-hati di pojok tempat sampah. Aku minta maaf pada semua orang yang lapar di hari itu karena aku membuang makanan enak yang bercampur ribuan semut hitam di dalamnya. Aku merapal maaf berulang-ulang seharian. Sebagai orang yang pernah merasakan derita menggigil berhari-hari karena lapar dan tak punya uang, membuang makanan adalah hal yang sangat emosional bagiku.

Pada pukul 4 pagi keesokan harinya, aku belanja ceker ayam dua porsi di tukang sayur dekat rumah. Aku mengolah segalanya dengan baik. Aku pastikan kali ini tidak ada semut. Sambil menunggu ceker ayam empuk, aku mengabari temanku bahwa aku berniat memberinya sup ceker ayam masakanku. Dia merasa tidak enak hati jika aku repot-repot memasakkan untuknya.

Aku tetap membungkuskan masakan untuknya. Bumbu sup itu pas dan cekernya pun terasa lumer di mulut. Temanku mengucapkan terima kasih sambil bilang bahwa sebenarnya ia memang sedang tak punya uang untuk makan. Kami ngobrol seharian sampai dia komplain soal tetangga sebelah yang membakar sampah. Kami batuk-batuk. Parahnya adalah, adegan di dalam paragraf ini sebenarnya terjadi di dalam mimpiku.

Nyatanya, aku ketiduran setelah memberitahu temanku bahwa aku masak sup ceker. Asap sampah yang membuat kami batuk-batuk berasal dari sup cekerku yang sudah gosong jadi arang di dalam wajan. Seluruh kamar penuh asap. Tak terasa, aku tidur lebih dari 5 jam karena semalaman tak bisa tidur. Aku segera berlari sambil batuk-batuk ke dapur untuk mematikan kompor.
Sup cekerku yang jadi arang
Aku buka pintu kamar lebar-lebar untuk mendapatkan udara segar. Segalanya bau asap. Termasuk mukena yang aku gantung di pintu kamar yang menggabungkan pintu dapur.

Untung saja aku segera bangun sebelum terjadi kebakaran. Untung saja kondisi gas dan komporku sedang baik-baik saja. Untung saja tidak ada benda apapun yang menyambar kompor. Aku menangis di depan kompor dengan wajan berasap itu karena bersyukur tidak terjadi kebakaran di kost ini. Karena beberapa hari lalu, warung bakso langganan yang lokasinya di tikungan Mampang 2 sudah habis dipanggang api.

Aku masih mencari-cari lagi hal yang bisa membuatku bersyukur.

Aku sadar kali ini, dalam masa penyembuhan ini, aku masih bisa menulis. Tentu saja bukan tulisan dengan deadline ketat dan jam kerja yang padat. Dengan segala keterbatasanku, setidaknya aku tetap berkarya.

Aku bersyukur bahwa kali ini aku punya laptop. Aku tahu deritanya tak punya laptop saat passion utama kita adalah menulis. Aku bersyukur selalu ada orang-orang terdekat yang mengingatkan bahwa aku tak seburuk monster yang ada di pikiranku. Aku bersyukur masih bisa berkarya di tengah keterbatasan. Aku bersyukur bahwa kali ini aku bisa dengan lega mengungkapkan perasaanku tanpa beban tanpa takut bahwa akan ada yang terganggu dengan tulisanku.

Aku bersyukur bahwa kali ini, aku merasakan hidup. Aku merasakan baik-baik hembusan nafas, debar jantung, air mata, lengkap dengan rasa lelah yang terus menerus aku rasakan. Karena artinya aku masih jadi bagian dari kehidupan ini.

Aku tahu bahwa pada akhirnya aku memilih untuk hidup setelah berkali-kali mengusir pikiran liar yang selalu mengajakku untuk mengakhirinya.

Aku memilih hidup dan aku harap kehidupan memelukku erat-erat di dalamnya. Sampai saatnya tiba.

Selasa, 31 Oktober 2017

Negara yang Melukai, Negara lah yang harus Bertanggung Jawab

Ibuku, Aminatun Najariyah (59) adalah satu-satunya wanita korban pelanggaran HAM berat Tanjung Priok 1984. Ia pernah merasakan dingin dan mencekamnya sel penjara yang terpaksa ia tempati tanpa proses pengadilan. Pakdhe ku Abdul Bashir (69) juga jadi korbannya. Berbeda dengan ibu yang banyak mengalami siksaan psikis, Pakdhe mengalami siksaan psikis dan fisik. Padahal, saat ditangkap itu ibu dan Pakdhe tak mengikuti organisasi tertentu. Ibu hanya sering shalat dan pengajian di Musholla Saidah, tempat awal bermula kejadian Tanjung Priok 1984.

Saat itu, usia ibuku masih 26 tahun, sedangkan Pakdhe 36 tahun. Mereka sedang berada di usia produktif dalam menggerakkan ekonomi keluarga. Penjara dan siksaan sempat "melumpuhkan" keduanya.

Mendengar suara siksaan tahanan lelaki lain dan teror dari sipir penjara membuat mental ibu sangat hancur. Sipir penjara selalu berkata pada ibu bahwa Pakdhe sudah meninggal setelah habis disiksa. Belum lagi siulan dan pelecehan seksual verbal yang harus ibu terima setiap harinya dari petugas sekalipun saat itu ibu sudah memakai berjilbab besar.

Setelah 3 bulan dipenjara, ibu dilarikan ke poli jiwa karena sudah mulai sulit diajak berkomunikasi. Orang sekitarnya mendengar ibu terus mengigau. Karena itulah ibu perlu dirawat di rumah sakit dalam beberapa waktu.

Ibu bilang, ia merasa baik-baik saja setelahnya. Ia berkata bahwa selama ibu berpegang teguh pada agama, maka tak akan ada yang bisa "menggoda" ibu.

Ibu bercerita bahwa selama di penjara sampai di rumah sakit jiwa, ia sering "diganggu" oleh makhluk halus yang membujuknya agar mau jadi istri simpanan seorang atasan militer yang saat itu berkuasa. Ibu menolak bisikan-bisikan itu dengan ayat-ayat Al Qur'an hafalannya. Namun, ayat-ayat yang ibu baca bagi orang lain hanyalah gumaman yang tak ada artinya apa-apa. Ibu melawan semua yang ia rasakan sendirian karena orang di sekitarnya hanya akan berkata, "Amin sudah gila."

Keadaan sebagai mantan tahanan politik yang dianggap menolak asas tunggal Pancasila di jaman Orba memang membuat hidup tak pernah baik-baik saja setelahnya. Alat-alat pembuat kuenya sudah disita tentara sebagai barang bukti makar pada negara, ibu harus memulai segalanya dari awal. Rumah yang ditempati olehnya pun seringkali digeledah tentara. Dari penggeledahan itu, ibu kehilangan sertifikat salon, ijazah, dan beberapa surat berharga lainnya. Pakdhe juga terpaksa menjual rumahnya di Cempaka Putih dan membeli sebuah rumah di sebuah kampung di daerah Bekasi Selatan. 

Belum selesai dengan itu semua, bertahun-tahun setelahnya pun duka terus berdatangan. Ibu yang sebenanrnya adalah anak pejuang kemerdekaan RI dicap sebagai musuh pemerintah. Tetangga sekitar dan orang-orang kampung halaman ibu di Boyolali memberikan label buruk pada ibu. Apalagi ibu sama sekali bukan orang Golkar.

Almarhum Cak Munir ikut memperjuangkan agar korban Tanjung Priok mendapat keadilan. Persidangan demi persidangan yang dijalani ibu menemui jalan buntu. Mahkamah Agung menganulir putusan pengadilan HAM tentang kompensasi, rehabilitasi, dan restitusi yang seharusnya menjadi hak korban. 

Terlepas dari proses persidangan yang panjang dan tanpa hasil hingga kini, mimpi buruk ibu tak pernah berakhir. Bisa dibilang, aku adalah anak yang dibesarkan oleh ibu yang seringkali berteriak-teriak di dalam mimpinya soal dikejar tentara, diinjak oleh sepatu lars, maupun ditembak oleh polisi. 

Saat aku tanya apakah ibu membutuhkan dukungan psikologis untuk membuat mimpi buruknya tak datang lagi, ibu bilang, "tidak perlu. Ibu baik-baik saja. Asal kita mencintai Allah, maka hidup kita akan damai."

Ibu memang pernah "mencicipi" proses terapi psikologi. Tetapi ibu tak merasakan adanya perubahan signifikan dalam hidupnya. Ia lebih memilih untuk tetap konsisten memegang teguh agama sebagai solusi atas rasa traumanya. Sekalipun, mimpi buruknya memang tak pernah benar-benar berakhir.

***

Ibu adalah seorang wanita yang tangguh. Sekalipun putusan sidang tak menghasilkan apa-apa, ia bertekad melanjutkan hidup sehormat-hormatnya. Apalagi, paska kerusuhan Mei 1998, bapak adalah salah satu pengusaha kecil pengemas makanan yang kena dampak hancurnya perekonomian negara. Banyak toko langganannya yang merugi tanpa bisa membayar tagihan makanan kemasan yang dipasok dari usaha bapak.

Di saat bapak jatuh, ibu yang jadi tulang punggung suami dan 7 orang anaknya. Usaha ibu macam-macam. Mulai dari jualan nasi uduk, jualan nastar, onde-onde, ayam goreng, kerajinan tangan manik-manik, membuat tas payet, hingga membuat berbagai macam kerajinan tangan dari kain flanel. Ia meminta semua anaknya, dari yang paling besar sampai yang terkecil untuk ikut berkontribusi membantu. Ada yang ikut produksi, ada yang ikut jualan. Ibu bilang tanpa bantuan anak-anak sebagai pegawai, kami tak akan bisa makan. Dengan pegawai anak-anaknya sendiri inilah, ibu membiayai kontrakan selama di Solo, transport untuk anak-anak sekolah, dan makan sehari-hari.

Dengan motornya, ibu sanggup berkendara hingga lintas kabupaten dengan beban dagangan yang tak sedikit. Dulunya kami menggunakan terpal kain sehingga yang ikut menemani ibu jualan harus rela kakinya pegal karena posisi mengkangkang sepanjang jalan. Kemudian sekitar tahun 2005, kami mulai memiliki sebuah gerobak seng dua roda yang ditarik oleh motor Suzuki GX yang bermesin dua tak.

Ibu sering jadi supir gerobak, bergantian dengan kakak kedua, Mbak Himma. Kegiatan jualan pernak pernik berbahan flanel kami berjalan setiap hari dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya di sekitar Solo, Sukoharjo, dan Sragen secara kaki lima. Khusus hari minggu, lapak jualan kaki lima kami digelar di Stadion Manahan Solo.

Sebagai pedagang kaki lima, kami memang sering diusir oleh satpol PP, terutama di Stadion Manahan Solo. Kami sampai kehilangan beberapa pelanggan setia karena harus pindah lapak. Lucunya adalah, seringkali, adu argumen ibu dengan satpol PP berujung pada pengungkitan ibu atas kasus yang pernah menimpanya.

Ibu bilang di depan para Satpol PP, "sampai kapan saya jadi korban HAM terus. Dulu saya didzolimi negara dengan kasus Priok! Sekarang ekonomi saya diganggu negara lagi. Kalian ini orang-orang berseragam yang menindas sesama warga sendiri!!"

Tentu saja omelan ibu hanya membuat Satpol PP melongo. Mereka tak tahu kasusnya. Mereka merasa tak ikut bertanggung jawab. Satpol PP juga tak ikut andil dalam Tanjung Priok. Tapi dalam perspektif ibu, semua petugas berseragam pada dasarnya adalah orang-orang yang ditugaskan negara untuk menyakiti rakyatnya sendiri.

Di usianya yang menginjak 50an tahun, ibu masih gagah mengendarai motornya. Sampai pada suatu hari, saat berboncengan motor dengan bapak dalam perjalanan Jepara-Solo, mereka kecelakaan di Salatiga. Truk gandeng yang dikendarai oleh supir mengantuk membuat sepeda motor yang disupiri bapak oleng. Kaki ibu tersangkut ban truk dan tergiling saat truk terus melaju berusaha kabur. Daging betis kanannya nyaris habis di dalam ban belakang truk.
Ibu sekarang, tetap semangat walau kemana-mana harus pakai kursi roda
Ibu menjalani prosedur operasi hingga lebih dari 20 kaki untuk kakinya. Ia dirawat di Rumah Sakit Ortopedhi Solo dan dr. Muwardhi Solo. Bantuan dari para aktivis HAM dan Jamkesmas tak dapat menutupi sebagian besar dananya. Apalagi pengobatan yang harus ibu tempuh sifatnya jangka pan

IKAPRI (Ikatan Keluarga Tanjung Priok) dengan IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia) menginformasikan bahwa ibu bisa mendapatkan jaminan kesehatan BPJS tingkat 1 dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) sekalipun kecelakaan yang ibu alami bukan dari peristiwa dari kekerasan Tanjung Priok itu. 

Sebagai anak korban, bapak, aku dan saudaraku yang lain juga bisa mendapat layanan pemulihan psikologis jika diperlukan. Namun, hingga kini belum ada anggota keluarga kami yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Sebenarnya, semua korban HAM di Indonesia bisa mendapatkan layanan jaminan kesehatan dari LPSK ini. Hanya saja, belum banyak yang tahu. Bawalah surat pengantar berupa keterangan sebagai korban HAM dari KOMNAS HAM, maka Anda dan keluarga yang jadi korban HAM bisa mendapatkan BPJS dari LPSK. Hingga kini, BPJS ibu terpisah dari BPJS milik bapak dan anak-anaknya. Karena LPSK lah yang akan menanggung biaya bulanannya.

Sekalipun negara belum benar-benar menuntaskan kasus pelanggaran HAMnya, setidaknya lewat LPSK ini, negara sudah bisa sedikit bertanggung jawab dalam menanggung ongkos medis korban HAMnya.

Sebagai anak dari korban HAM berat Tanjung Priok, saya merasa bahwa #DiamBukanPilihan. Saya akan terus bersuara untuk membuat banyak orang ingat peristiwa memilukan tersebut dan menyadari bahwa pelanggaran HAM berat dari negara kepada warganya bisa berdampak sedemikian panjang untuk korbannya. Jika ibu saya tidak pernah semena-mena dipenjara, bisa jadi ekonomi kami lebih baik karena ibu bisa mengejar impiannya untuk kuliah atau minimal memanfaatkan ijazahnya.

Namun bagaimanapun caranya, negara harus bertanggung jawab menuntaskan semua kasus pelanggaran HAM Beratnya, mulai dari peristiwa 1965, Tanjung Priok 1984, Talang Sari 1989, Mei 1998, hingga operasi militer Aceh. Lembaga seperti LPSK dan Komnas HAM harus terus ada untuk jadi teman bagi korban. Agar korban tahu bahwa setidaknya ada lembaga negara yang berpihak pada mereka tanpa diskriminasi apapun,


Catatan:
1. Suara korban tragedi Tanjung Priok pernah dibukukan dalam sebuah buku berjudul "Mereka bilang di sini Tidak Ada Tuhan." Unduh bukunya di sini.
2. Aku pernah membuat catatan soal ibu yang lebih lengkap di dalam tulisan berikut Ibu Aminah, Saksi Hidup Potret Suram Tragedi Tanjung Priok ‘84 (Bagian 1)Ibu Aminah, Saksi Hidup Potret Suram Tragedi Tanjung Priok '84 (Bagian 2).
3. Besarnya kompensasi negara yang harus dibayarkan kepada korban Tanjung Priok dapat dilihat dalam surat berikut ini.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.