Minggu, 24 Juni 2012

Kisah Puteri Raja dengan Darwis*


Seorang raja mempunyai seorang putri secantik bulan, yang dicintai oleh setiap orang. Nafsu terbangkit oleh matanya yang mengantuk sayu dan bius manis kehadirannya. Wajahnya seputih kapur barus, rambutnya hitam-kesturi. Kecemburuan bibirnya mengeringkan permata air terindah, sedang gula pun cair di sana karena malu. 


Karena kehendak nasib seorang darwis sempat melihat putri itu sepintas, dan roti yang dipegangnya pun jatuh dari tangannya. Putri itu melintasinya bagai nyala api, dan ketika melintas, putri itu tertawa. Melihat ini, darwis itu jatuh di atas debu, hampir mati. Ia tak dapat merasa tenang, baik siang maupun malam, dan ia menangis berkepanjangan. Bila teringat akan senyum putri itu, ia mengucurkan airmata bagai awan menjatuhkan hujan. Cinta yang garang ini berlangsung terus tujuh tahun lamanya, dan selama itu ia hidup di jalanan bersama anjing-anjing. Akhirnya para pengiring sang putri memutuskan untuk membunuhnya. Tetapi putri itu bicara padanya dengan diam-diam; katanya, "Mana mungkin akan ada hubungan yang mesra antara kau dengan aku? Pergilah lekas, atau kau akan dibunuh nanti; jangan tinggal lagi di pintuku, tetapi bangkitlah pergi."


Darwis malang itu menjawab, "Pada hari ketika hamba jatuh cinta pada Tuanku Putri, hamba bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri ke haribaan keindahan Tuan. Karena para pengiring Tuan hendak membunuh hamba secara tak adil, maka jawablah kiranya pertanyaan yang biasa ini. Pada hari ketika Tuan menjadi sebab bagi kematian hamba, mengapa Tuan tersenyum pada hamba?"


"O kau si dungu," kata putri itu, "Ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan martabat dirimu sendiri, aku tersenyum karena kasihan. Aku sengaja tersenyum karena kasihan bukan karena hendak mencemooh." Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri.






)*Cerita ini diambil dari Parlemen Burung atau Musyawarah Burung Fariddudin Attar.
"Aku Merasa Jatuh Cinta Membacanya...."

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.