Kamis, 28 Juni 2012

Nasehat Pernikahan

Menjelang dewasa, sebagai wanita yang memasuki usia "Matang", aku mendapat banyak nasehat-nasehat pernikahan dari orang-orang sekitar. Sebenarnya dari aku mulai puber, Nasehat itu sering mampir di telinga. Tidak semuanya di telan mentah-mentah pastinya. Ada yang lucu, ada yang ngawur, ada yang penuh hikmah. Nasehat bagaimana cara memilih suami itu diantaranya adalah sebagai berikut :


"Suami dari desa atau dari kota itu nggak masalah. Asal dia mau berpikiran luas dan terbuka dengan pendidikan. Karena hanya dengan pendidikan, Ia akan jadi suami berakhlaq dan tau apa yang harus dilakukan sebagai pemimpin keluarga."  Bapakku Muhsin Sukandar


"Kamu kan nggak pernah bapak omeli karena kamu paling nggak bisa diomeli. Makanya, cari suami yang lebih sayang sama kamu daripada kasih sayang bapak ke kamu. Minimal, orang yang bisa menjaga emosinya waktu marah." Masih Nasehat Bapakku.
Habis pakai Baju pernikahan gini terus ngapain?? Apa kita harus pakai baju  Indah yang lainnya untuk dilihat semua orang?? hehehe


"Jangan menikah sama orang yang suka mengungkit masa lalu, kamu nggak akan bahagia." Bapakku lagi. hehehe...


"Cari suami itu yang besar Ridho nya, supaya nggak ada halangan bagimu untuk menghadap Allah." Ibuku, Aminatun Najariyah.


"Jangan menikah sama lelaki yang tinggalnya di sekitar daerah pantura, biasane keset (-biasanya pemalas). Nggak bisa diajak kerja sama. Kecuali bapakmu itu, bapak kan perantauan dan sekarang udah jadi lelaki Solo." Ibuku, hehehe.... FYI, bapakku berasal dari daerah Pati Jawa Tengah yang notabene jalur pantura. :D



"Ya... Kalau bisa, jangan nikah sama lelaki Sunda, ntar kamu ditinggal kawin lagi. Lelaki Sunda kan suka kawin." Pak Dhe Zamzaini, mengomentari kedekatanku dengan seorang pebisnis Sunda.


"Pokoknya, kalau ada banyak pilihan lelaki, kamu harus cari yang paling pinter. Orang pinter itu nggak akan bikin kamu susah." Ibu Emilia Az, setelah bercerita kenapa dia memilih untuk menikah dengan Ust Jallalludin Rachmat.


"Kalau cari Suami itu, pilih yang carinya kebenaran, bukan cari seneng. Kalau cari seneng, secantik dan sebaik apapun kamu, kalau nggak sesuai sama hawa nafsu lelaki itu, kamu akan ditinggalkan. Kalau cari bener, segala marah dan pujinya dilandaskan pada pencarian kebenaran yang fitri." Mas Kist. Kakak Ipar.


"Kalau kamu dominan di otak kanan, cari suami yang dominan di otak kiri, biar kecerdasan anak nantinya berimbang." Mbak Indah, Kakak Pertama.


"Yo cari yang mancung dan bule lah, biar memperbaiki keturunan." Mbak Himma, kakak kedua.


"Jangan nikah sama lelaki yang giginya berantakan. Menurut ilmu psikologi, biasanya dia tidak setia." Pak Arifin, Guru Bahasa Indonesia pas SMP.


Pangeran Misterius berkuda Hitam pembasmi kejahatan mungkin Calon Suami yang keren. hehehe...


"Seng penting, cah lanang iku iso ngemban ngelmu. Simbahmu loro-lorone ki putro kyai kabeh, mulo yen iso, golek bojo seng iso ngemban amanahe poro simbah. Nerosne kesolehane poro simbah. (Yang penting, lelaki itu bisa mengemban Ilmu. Kakek nenekmu itu anaknya kyai. Makanya, kalau bisa, cari suami yang bisa mengemban amanah dari para eyang, Meneruskan tradisi kesholehan para eyang.)" Mbah Ahmad Khatami, Adiknya Mbah kakung Thohir. 


"Untuk ahkwat, sebaiknya cari suami yang dari kalangan pecinta ahlulbayt. Malah, saya mewajibkan hal itu." Seorang ustad yang aku lupa namanya.


"Jangan cari suami yang malesan. Bikin susah." Ibu-ibu pengajian kemaren setelah nanya apakah aku sudah menikah atau belum.




Ada yang mau ngasih nasehat penikahan lain??? Silahkan.... :)

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.