Minggu, 25 September 2011

Ngomong sendiri itu kadang menyenangkan

Menyadari bahwa ternyata langkah menutup account Facebook adalah awal Buat nulis lagi di blog. Yah.... senang juga bisa membiasakan lagi walau pastinya lebih kaku dari yang dulu. Terbiasa nulis liputan bergaya straight news buat parmagz ternyata nggak banyak membantu buat bisa nulis lagi dengan gaya yang lebih santai.

Tanda paling nyata dari kekakuan ini adalah, mulai bingung mau mambahasakan diri sendiri dengan apa. Aku, Gue, saya atau beta? Soalnya dirumah bahasa juga campur-campur. Bahasa di Jakarta yang pake lo gue juga udah ngeresep ke otak. Kalau nulis Aku, suka nggak bisa lepas kalau bercanda lewat tulisan. Apalagi pakai saya. help! kayaknya pas SMA udah punya jati diri. Kok malah disorientasi gini....

oke, kali ini akan pakai "Aku" setelah tulisan sebelumnya pakai gue.

Sebenernya aku pernah nulis status di Facebook kalau nggak baik menuangkan masalah pribadi di Internet. Itu berkaitan dengan privasy yang harus di jaga. Facebook ku isinya kebanyakan diskusi karena aku pikir penting bagi orang untuk mengambil manfaat dari diskusi itu. Banyaknya permintaan pertemanan di Facebook karna kebiasaan ini bikin pusing. Nggak kenal, kalau nggak di approve ntar dikira sombong. Kalau di Approve juga menuh-menuhin jumlah pertemanan yang terbatas cuma 5000 itu.

Pernah temen lama pas SMP atau SMA ngambek berat dan bilang ke temen2 yang lain kalau aku sekarang sombong mentang-mentang di jakarta karena permintaan teman nggak di approve. Padahal ya siapa yang tahu kalau pake nama 'baru' bisa tau. Misal pakai nama "Dyanisha cayangkamoecellalu" yang padahal misal nama aslinya Siti anisa. Mana kenal dan nggak di approve lah. Foto nya juga nggak jelas. FYI, temen2 ku rata2 di daerah Solo dan sekitarnya yang menganggap bahwa jaakarta adalah kota yang keren buat kuliah. yah,,, Biasa aja padahal. Malah menderita di jakarta.

Karna kejadian itu, akhirnya aku ngasih password ke shei, sahabatku itu buat approve permintaan pertemanan ku. Ujung-ujungnya dia malah ngamuk-ngamuk karna nggak selesai-selesai. Dia udah approve 600 temen dan masih banyak lagi yang belum di approve. Beruntungnya Twitter nggak pake sistem confirm itu, Kalau pake sistem confirm, pasti dia bakalan balas dendam nyuruh aku confirm ini follower dia. Nggak sangguuuuuppp.... wkwkwk... Secara dia jagoan Twitter dan gue jagoan Facebook.

Oke, balik ke menulis tadi.

Bagi aku waktu masih ala Facebook, Segala yang aku update di status itu adalah hal yang mengandung hikmah. Cieilaaaah... Penting bagi aku untuk menjaga citra sebagai mahasiswa filsafat, Chief Operator Officer Parmagz di depan friends Facebook ku. pokoknya aku nggak suka banget deh liat ada orang bergalau-galau di facebook dan marah-marah., Ih.. Dunia ini udah cukup berat dijalani sama semua orang. Masih aja ada yang nggak nyebar hawa positif gitu. Auranya kan negatif.

Teruuuusss...
Kalau ada yang bilang facebook ku terlalu serius, yah.. Bagiku nggak juga tuh. Biasa aja. Mungkin dia aja yang kapasitas otaknya nggak nyampe. Bahkan sepupuku ada yang bilang, "Aku di facebook mau santai-santai, nggak mau mikir yang berat2. Nggak kayak kamu."

Hello... Aku nggak merasa apa yang aku bicarakan di facebook berat. santai aja kok...

rrrrrrrrrrrrrrrr....

Facebook saat ini udah berhasil.

Dan ternyataaaaa.... Twitter nggak cukup membantu buat melampiaskan kepengenan mau nulis. TTimeline yang cepat itu bikin pusing kepala. Dan nggak bisa banget kayak shei yang eksis gitu. Kala online paling aku merhatiin tweet nya mentri, Sherini, Raditya dika, Nicholas Saputra, dan kadang juga shei. Tweet nya dikit, apalagi followernya. Cm konek sama yang emang kenal aja.

Blog!

Barulah, berhadapan dengan blog membuat ku mengkhianati segala prinsip Facebook!
kenapaaa... Karna akhirnya kerjaannya di blog itu nyurhaaaaattt aja. Kadang sih malu sendiri yabaca tulisan sendiri. Apalagi yang berantakan gitu nulisnya. Tanpa dibaca ulang langsung post! Parah lah. BEner2 seenaknya sendiri tanpa peduli nanti yang baca siapa. Padahal...

kata google pencarian kata syaharbanu teratas adalah blog gueeee

Tapiii... MUngkin syaharbanu bukan nama yang populer. Jadi walaupun jadi web teratas, setiap hari kalau klik Stat juga kok cuman 1, 2, 3... yah... nggak seru. Kadang juga nggak ada yang liat Blog ini sama sekali. Sambil mikir2, kenapa ya... Mau komen dan mampir juga males. Di Facebook juga males komen ke orang lain, di twitter males mention, dan di blog apalagi. rrrrrr...

Akhirnya, aku mencoba menikmati kesendirian ini. Makin nggak pernah diliat orang makin bebas nulis. Karna nggak ada beban mental buat nulis apapun. Lagian, siapa sih aku? Orang nggak penting yang nggak banyak yang pengen tau kabarnya kok.. Santai-santai ajalah...

Nyurhat dan ngomong sendiri itu ternyata sedikit mengurangi beban. Walau kenyataan bahwa nggak banyak yang mencari ku dengan ditutupnya facebook juga kenyataan yang pahit. Huaaaa... Patah hati. Tapi so what gitu, aku juga jarang kasih feedback ke orang. sekali lagi. Santai-santai ajalah...

Mungkin nanti, Tulisan-tulisan sampahku bakal diketawaain sama diri sendiri. Karena nyurhat emang ditulis saat tekanan tinggi, emosional dan dalam kondisi sangat labil. hiks...

Akhirnya, menikmati blog selayaknya diary. Tapi tidak begitu vulgar. Kalau seseorang menemukan blog ku berarti dia telah membaca kesialan ku.

Aku jadi menyesal, kenapa dulu aku bikin labels buat blog banyak amat. Ngeditnya sekarang gimana yak. dan Labels di blog ku itu nggak mutu banget. Bener2 bikinan ABG di tahun 2009. dan kini cm bisa meratapi betapa gapteknya diri ini di tahun 2009....

FYI, Nggak berharap, ada lebih dari 20 orang baca tulisan ini sampai akhir tahun nanti.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.