Senin, 09 April 2012

Max Scheler : Wanita, Fenomonologi dan Cinta


Kehidupan Max Scheler

Max Scheler lahir di Munchen Jerman selatan pada tanggal 22 Agustus 1874. Ibunya Yahudi dan ayahnya protestan. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat Scheler kecil yang berusia 15 tahun rela kehilangan harta warisan dari seorang paman Yahudi yang kaya untuk menuntut ilmu di Gereja Katolik.

Kehidupan dan pemikiran Max Scheler tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya yang berliku mengenai karir, wanita dan pergulatan intelektualnya. Walau ia kurang banyak dikenal. Pemikirannya menjadi inspirasi bagi pemikir lain seperti Nicolai Harimann, Dietrich von Hildebrand dan Hans reiner. Ia pernah berkata bahwa “Untuk mengembangkan segala filsafat yang ada dalam diriku, aku seharusnya memerlukan setidaknya 7 wanita”. Kehidupannya yang sering berkaitan dengan wanita membuat para intelektual membuat periodisasi hidupnya dengan kehidupan percintaannya dengan wanita.

Saat belajar ilmu kedokteran di Muenchen, Ia pindah ke Berlin dan Jena untuk belajar filsafat dan sosiologi hingga pada akhirnya di tahun 1893 Ia terpesona dengan Amelie von Dewitz yang Delapan tahun lebih tua darinya dan telah bersuami. Scheler akhirnya berhasil menikah dengan Amelie pada tahun 1989 setelah Amelie bercerai dari suaminya. Setelah itu ia menjadi dosen di Jena dan bertemu dengan Edmund Husserl yang merupakan bapak fenomenologis dan menginspirasinya untuk menemukan metode fenomenologiisnya sendiri. Pernikahan pertama Scheler dan pertemuannya dengan Husserl menandakan periode pertama dalam filsafatnya dimulai.

Namun, karena skandal perselingkuhannya dengan seorang istri penerbit, Ia meninggalkan Jena dan menjadi asisten dosen di Universitas Muenchen berkat bantuan Husserl. Penyebab kepindahan lainnya adalah Amelie yang menceritakan keburukan suaminya kemana-mana sebagai sarana balas dendam karena Scheler telah selingkuh. Mereka bercerai secara resmi pada tahun 1912 walaupun sebenarnya mereka telah berpisah dari tahun 1908. Sebelum resmi bercerai, Scheler pun sudah jatuh cinta lagi dengan Marit Furtwangler yang merupakan adik dirigen terkenal. Sayangnya, pada tahun 1910 Scheler berhenti dari universitas Muenchen dan tidak berhak memberikan kuliah. Selanjutnya, Ia hanya memberikan kuliah di cafe dan restoran untuk para mahasiswa yang mngagumi pemikiran Scheler.

Periode kedua dalam Hidupnya dimulai saat Ia akhirnya menikah dengan Marit Furtwangler dan mulai tinggal di Berlin. Ia hanya hidup dari uang muka yang diterima dari penerbit atas penulisan bukunya. Dalam periode ini, Ia berhasil menulis 3 buku tentang sentimen yang berjudul Das Ressentimen im Aufbau der Moralen, edisi pertama dari Wesen und Formen der Sympathie (Hakikat dan bentuk-bentuk Simpati) dan terutama karya nya yang terkenal Der Formalismus in der Ethik die Matrealie Wer Ethik dalam bidang etika.

Kehidupannya yang jauh dari gereja membuatnya merasa bahwa moment perang dunia 1 pecah di tahun  1914 adalah saat yang tepat untuk kembali pada kehidupan rohani yang telah lama ditinggalkannya. Ia mulai memberikan ceramah dan pengabdiannya membuat ia mendapatkan kesempatan baru setelah Perang Dunia 1 berakhir. Setelah Walikota Koln, Konrad Adenauer membuka lagi universitas Koln, Scheler diangkat menjadi profesor di Institut Ilmu-Ilmu sosial dan mengajar etika serta teologi Keuskupan Agung Koln.

Ia berhasil membuat Karya a.l Die Wissensformen und die Gelllschaft (Bentuk-bentuk Pengetahuan dan Masyarakat), Die Formen des Wissens und der Bildung (Bentuk-bentuk Pengetahuna dan Masyarakat), Von Ewigen im Menschen (Tentang Abadi dalam Manusia). 2 karya terakhir tersebut merupakan karya filosofis nya.

Pergolakan hidupnya dengan wanita kembali dimulai saat Ia mulai mencintai Maria Scheu walau tetap mencintai Marit dengan pernikahan yang bahagia. Ini disebut periodisasi ketiga dalam hidupnya. Ia terpaksa meninggalkan Marit saat Maria mengancam akan meninggalkannya. Tidak hanya berpisah dari Marit ditahun 1924, tapi Ia juga berpisah dari gereja tahun 1922. Dari pengalamannya itulah, Ia mengungkapkan hal fenomenal “Wanita sempurna harus mengkombinasikan 4 sosok: Ibu, kekasih, biarawati dan pelacur”.

Ia meningggalkan Koln dan pindah ke Frankfrut dan arus pemikirannya berubah menjadi pantheisme. Ia berfikir bahwa ada dualisme antara roh yang mengerti tetapi tidak berdaya dan dorongan ingstingtual buta yang menentukan kelakuan kita. Ia meninggal pada 19 Mei 1928 karena serangan jantung dan dmakamkan di Koln dalam sebuah upacara Katolik


2.       Pemikiran Max Scheler

Seperti yang disebutkan diatas, pemikiran fenomonologis Scheler banyak terpengaruh oleh gurunya Edmund Husserl. Menurut Husserl, filsafat jangan bertolak dari segala macam teori, prinsip pengandaian, keyakinan dan sebagainya. Melainkan harus memperhatikan apa yang nyata-nyata memperlihatkan diri dalam pemikiran kita. Yang memperlihatkan diri adalah fenomen. Sang filosof senantiasa was-was jangan sampai fenomen yang muncul menampakkan diri didistorsi oleh pikiran, kepercayaan, prasangka dan prinsip-prinsipnya. Ia harus menghindari generalisasi dan kesimpulan yang terlalu cepat. Yang perlu adalah mengumpulkan semua kekhasan dan keunikan fenomen yang dihadapi.

Dengan itu, Scheler belajar untuk menghindari berfikir reduktif yang dengan gampang mengembalian kenyataan yang satu pada kenyataan yang lain. Metode ini juga disebut “Dogma” dalam filsafat bahwa intuisi harus sama dengan pengetahuan indrawi. Namun, intuisi tidak diartikan menurut konsep apriori kita.

Scheler tidak murni mengikuti Husserl karena Ia mengembangkan metode Fenomonologisnya sendiri. Beginya, pendekatan fenomonologis adalah memperhatikan semua aneka sudut dan warna pada segala macam kenyataan. Metode Schelen adalah enbelen yang bisa berarti penghayatan segar terhadap pengalaman. Kebenaran bukanlah hasil pikiran atau pertimbangan, melainkan harus dicari dengan membuka diri. Atas dasar keterbukaan terhadap kenyataan yang menyatakan diri itu lalu sang filosof berefleksi dan mencoba untuk memahami lebih dalam.

Etika filsafat Scheler adalah tentang manusia, persona, agama dan Tuhan yang berakar dalam sebuah pengalaman dasar, pengalaman akan nilai. Buku tentang Etika nya adalah Der Formalismus in der Ethik die Matrealie Wer Ethik (Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material. Percobaan baru Pendasaran Personalisme Etis) pada tahun 1913. Ia adalah lawan pemikiran dari Kant dan Nietzhe.

Kant Berfikir bahwa moralitas seseorang bersifat Formalisme. Karena bergantung pada situasi dan kondisi , tidak Mutlak. Sebuah perbuatan baru bernilai Moral kalau tindakan itu adalah berbentuk murni karena merupakan kewajiban. Scheler membantah hal tersebut karena menurutnya apa yang Kant pikirkan tersebut bukanlah hakikat moralitas yang sebenarnya. Sebuah tindakan berbilai secara moral karena merupakan kewajiban. Melainkan merupakan kewajiban karena bernilai secara moral. Nilai mendahului kewajiban. Inti moralitas bukanlah kesediaan untuk memenuhi kewajiban, melainkan kesediaan untuk merealisasikan apa yang bernilai. Sehingga untuk dapat mengusahakan nilai-nilai moral, manusia tidak perlu diperintahkan karena manusia dengan sendirinya tertarik oleh apa yang bernilai. Nilai menjadi pusat moralitas.

Nilai itu sendiri adalah kualitas atau sifat yang membuat apa yang bersifat bernilai jadi berniai. Nilai tidak sama dengan yang bernilai. Apa yang bernilai menjadi wahana Nilai. Apa yang bernilai menjadi pembawa atau wahana nilai. Apa yang bernilai adalah kenyataan dalam hhidup kita. Karena tindakan dan perbuatan itu bisa saja tidak ada.

Nilai merupakan tindakan apriori. Keberadaannya tidak bergantung pada apakah perbuatannya ada atau tidak. Nilai kejujuran tidak bergantung dari adanya orang jujur. Nilai itu sendiri mendahului segala pengalaman walau suatu tindakan tersebut bernilai. Scheler menyebut etikanya sebagai Etika Nilai Material. Jujur, vital, enak, adil, indah, kudus dan semua nilai yang kita langsung tau “apanya”. Sedangkan kalau kewajiban akan jadi tidak dimenegerti karena kita tidak tahu apa yang wajib kita lakukan. Kant tidak melihat bahwa Nilai mendahului segala pengalaman dan tidak tergantung dari sebuah konteks dan bernilai apriori serta mutlak.

Pandangan Scheler juga berseberangan dengan Nietzhe yang berpandangan relativisme pada etika. Nietzhe berfikir bahwa nilai tidak diciptakan, melainkan ditemukan.  Nilai memiliki objektivitas yang sama dengan hukum logika. Manusia bisa saja buta nilai atau tidak menyadari sebuah nilai, tetapi nilai itu tetap “ada”.

Scheler menilai bahwa nilai itu tidak dapat dipikirkan, tetapi hanya dapat dirasakan. Itu merupakan pendapat Scheler yang benar-benar baru. Filsafat barat jarang membicarakan tentang rasa. Karena biasanya akan kalah antara pengetahuan rohani dengan pengalaman indrawi. Merasa bukan merupakan hasil dari pengalaman Indrawi, tapi merupakan suatu yang khas dimiliki manusia. Dengan itu Scheler membuat sumber pengetahuan yang baru berupa apriori emosional. Objek Indrawi ditangkap, konsep dipikirkan tetapi nilai dirasakan. Ia menilai bahwa perasaan sebagai keadaan subyektif kita sendiri.

Max Scheler juga mengembangkan nilainya tentang persona dan cinta. Dengan persona manusia berbeda dengan binatang karena binatang buta akan nilai. Manusia yang juga merupakan makhluk ingstingtual akan menyadari betul arti dari nilai dan mengetahui juga apa yang pantas diusahakan mana yang tidak. Ia tidak mengambil sikap tentang dorongan-dorongan buta dan semakin terbuka oleh nilai-nilai rohani. Roh membebaskan manusia dari penentuan dunia karena Ia menghubungkan dengan alam ideal kebenaran dan nilai-nilai. Di belakang penghayatan nilai mesti ada persona yang memungkinkan tatanan alam tentang nilai itum yang di tingkat kerohaniawan menjamin kesatuan dunia dan membuat mungkin bahwa persona-persona saliang memahami. Yaitu Allah.

Persona tidak dapat identik dengan sesuatu karena persona dapat diketahui dari luar. Tetapi kita dapat masuk ke dalam hati persona itu membuka diri dalam cinta. Itulah sebabnya hanya orang yang mencintai yang dapat mengerti orang lain karena hanya dalam cinta masing-masing saling membuka. Hanya orang-orang yang betul-betul mencintai kita seperti Ibu, kekasih, atau sahabat yang betul-betul mengenali kita. Karena cinta membuka mata hati.

Bagi orang yang mencintai, alam nilai akan membuaka diri dan nilai menjadi tajam. Cinta menyatukan tindakan manusia dengan nilai-nilai. Scheler memahami bahwa persona sebagai makhluk yang berhasrat dan mampu untuk mencintai. Hasrat terdalam manusia adalah masuk kedalam keselarasan dengan cinta persona asali. Yaitu Allah. Ia menolak menyatakan bahwa cinta kasih adalah sublimasi nafsu. Cinta bukan mau merebut melainjan mau memberikan. Cinta adalah gerakan naik dari nilai-nilai rendah ke nilai-nilai tinggi yang semakin menyatakan diri.

Sentimen membuat kita buta terhadap tataran nilai yang sebenarnya. Ia menganalisis bahwa sentimen sebagai peracunan dari jiwa. Apapun yang keluar dari hati orang yang bersentimen menjadi bengkok dan negatif serta penilaiannya akan terkena distorsi. Sentimen juga mengancam keutuhan batin seseorang. Manusia menjadi baik apabila Ia memilih nilai yang tinggi. Namun kita seringkali memilih nilai yang rendah. Jika kita bertindak bertentangan dengan hakikat kita sendiri, kita akan berdosa.

Pemulihan sikap terjadi pada penyesalan. Penyesalan adalah kekuatan yang dapat membebaskan kita dari penentuan oleh masa lampau. Ia adalah rasa sakit atas kejahatan yang kita lakukan. Tanpa penyesalan kita telah membuat diri kita menjadi jahat. Penyesalan merupakan kekuatan alam moralitas yang paling revolusioner.

Scheler berpendapat bahwa nilai itu mendahului sebuah kebenaran. Sifat-sifat yang mencerminkan keindahan dan kebenaran adalah sesuatu yang positiif, bukan akibat dari pengalaman melainkan mendahului pengalaman. Orang yang tidak melihatnya disebut Buta nilai. Begitupun dengan anti-nilai yang menunjukkan diri sebagai negatif. Nilai yang muncul dalam kehidupan manusa tanpa melalui pengalaman itu disebut apriori.

Ada 4 gugus nilai yang menjadi perhatian Scheler
  1. Nilai yang menyangkut tentang Badani atau fisik yang menghasilkan rasa nikmat dan sakit
  2. Nilai yang menyangkut tentang kehidupan dan keutuhannya dan tidak berkaitan dengan indrawi dan dirasakan juga oleh manusia dan hewan. Contohnya adalah takut dan berani
  3. Nilai yang menyangkut tentang nilai-nilai Ruhani, orang rela mengorbankan nilai-nilai dimensi kehidupan. Sedangkan Nilai Rohani ada 3 Macam, Nilai estetis, Nilai benar dan tidak benar dan nilai pengetahuan murni
  4. Nilai tertinggi adalah nilai yang tinggi dan yang profan. Sikap yang menjawab nilai-nilai kudus adalah “kepercayaan” dan “tidak mau percaya”. Nilai-nilai lanjutan “yang kudus” adalah benda-benda suci dan bentuk-bentuk ibadat yang terdapat yang terdapat dalam liturgi (Kult) dan sakramen-sakramen.


Sedangkan tinggi rendahnya nilai memiliki 5 kriteria, yaitu :
  1. Makin lama nilai bertahan, makin tinggi kedudukannya
  2. Makin tinggi nilai makin tidak dapat dibagi dan tidak perlu dibagi atau tidak habis dibagi kalau disampaikan pada orang lain
  3. Nilai makin tinggi Ia mendasari nilai-nilai lain dan sendiri tidak berdasarkan nilai makin tinggi kedudukannya.
  4. Makin dalam kepuasan yang dihasilkan oleh sebuah nilai makin tinggi kedudukanya
  5. Makin relatif sebuah nilai makin rendah kedudukannya, Makin mutlak makin tinggi nilainya.

Sedangkan sosok nilai persona telah menghasilkan lima sosok, yaitu Orang Kudus, jeni, pahlawan, tokoh pemikir dan seniman.

Selain itu Scheler juga menghayati dasar pembentukan komunitas yang khas. Scheler membedakan sosok komunitas murni  seperti komunitas keselamatan, komunitas hukum, komunitas budaya dan komunitas hidup yang terbentuk berkat nilai yang kudus dan rohani. Yang kedua adalah komunitas tidak murni, yaitu gugus nilai yang dibentuk demi komunitas kepentingan dan komunitas sasaran.

Manusia mencapai hakikatnya apabila Ia mentransendensi dirinya sendiri. Transendensi itu adalah sifat khas manusia dalam mencapai tujuannya dalam membuka diri kepada Tuhan. Dalam keterbukaan manusia itulah ia menghayati bahwa Tuhan juga akan membuka diri terhadap manusia. Bila manusia beriman, maka secara hakiki Ia harus beribadat dengan agamanya.

Dalam alam semesta, ada 2 kekuatan yang berlawanan, roh dan energi, pikiran dan naluri, keteraturan dan dinamika buta, cita-cita dan alam. Melalui rohnya manusia terbuka pada alam kebenaran dan nilai-nilai. Tetapi apa yang dilakukan manusia tidak ditentukan oleh kesadaran rohani melainkan oleh nalurinya. Hanya dengan seakan-akan memanfaatkan kekuatan naluri dari dalam manusia dapat membawa nilai-nilai kerohanian ke dalam realitas. Roh dan dorongan ingstingtual merupakan dua sifat Yang Ilahi. Dalam perjuangan manusia untuk memenangkan cita-cita roh terhadap dorongan insting, yang Ilahi bergulat mencari perpaduan dua kekuatan itu yang harmonis.

Kritik terhadap Scheler disini adalah, Ia tidak menyebutkan bahwa sebenarnya cinta juga dapat menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Bila seseorang sedang menaruh kebencian pada orang lain, maka tidak ada yang terlihat selain keburukan. Sebaliknya, jika seseorang menaruh rasa cinta ke seseorang, maka seseorang tersebut tidak dapat melihathal lain selain keindahan sehingga baik cinta maupun benci memiliki persamaan. Yaitu tidak dapat melihat sesuatu itu sebagaimana adanya,

Daftar Pustaka :

Magnis-Suseno,Franz. 2000, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius
http://plato.stanford.edu/entries/scheler/ Diakses tanggal 5 Maret 2012 Pukul 15.05
http://www.phenomenologyonline.com/scholars/scheler-max/ Diakses tanggal 15 Maret 2012 Pukul 15.10

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.