Senin, 18 Agustus 2014

Pereda Rasa Nyeri

"Di sini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Ini cuma obat pereda rasa nyeri saja." Kata perempuan berjilbab putih itu singkat dan dingin. Nyaris tanpa ekspresi, diantara bau obat dan berbagai multivitamin, ia mengangsurkan 10 kapsul pereda rasa nyeri berwarna pink padaku. Menurutnya, itu pereda nyeri terbaik di tokonya. 

"Jadi nanti setelah aku minum, sakitnya berkurang, tapi setelah reaksi obatnya habis, akan sakit lagi?"

"Sakitnya hilang, bukan berkurang. Tapi iya, memang nanti sakit lagi."

"Oh, begitu..."

Ia membungkusnya dengan plastik bening. Transaksi begitu singkat. Ia dapat uang sedangkan aku dapat kapsul pink yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan keperempuanan.

Siang ini, dari penjaga apotek tanpa ekspresi itu, aku belajar bahwa beberapa orang hadir di dunia ini memang hanya bertugas sebagai pereda rasa nyeri. Ia memang menghilangkan nyeri-nyeri, tapi memang hanya untuk sementara. Tidak bisa benar-benar menyembuhkan.

Ironisnya, aku -si pembenci perpisahan ini- juga kadang hadir di dunia orang-orang tertentu hanya sebagai pereda rasa nyeri sementara juga. Jika nyeri itu datang lagi untuk mengadukan banyak hal soal ketidakadilan, keterasingan dan kesedihan-kesedihan lain, aku memberinya beberapa hal. Ia akan merasa lebih baik, melompat riang gembira kegirangan, lalu pergi. Beberapa saat kemudian ia akan datang lagi dengan nyeri yang berada di tempat yang sama. Nyeri itu timbul lagi, ditenangkan lagi, sakit lagi, ditenangkan lagi. Seperti siklus, Terus berulang. Entah sampai kapan.

Kadang aku menjadi nyeri itu sendiri dan kewalahan mencari-cari, siapa yang sedang membawa kapsulku.

Berapa aneh ketika ketenangan, kebahagiaan, kelegaan dan semangat untuk terus bergerak yang disuntikkan dengan susah payah akan habis dilibas kesepian dan ketakutan-ketakutan setelahnya. Begitu saja. Terus menerus, tanpa ampun.

Dalam hal ini, rupanya pesimisme Arthur Schopenhauer berlaku.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.