cerita tentang remah-remah

Sabtu, 21 Juli 2012

Resensi Buku : Dear You

Judul : Dear You, Demi apa? Demikian aku mencintaimu
Penulis : Moammar Emka
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 382 Halaman Soft Cover



Kesan pertama yang tertangkap di dalam buku ini adalah : Romantis!


Sejak pertama kali melihat buku ini bertengger dengan manis di deretan rak buku Gramedia, pandangan mata langsung tertohok pada cover buku yang eyecatchy. Setelah dibuka, kita akan disambut dengan layout  yang keren banget. Kertas yang digunakan juga ramah mata khas buku-buku Gagas media. Design buku yang tampak out of the box ini memang patut mendapat apresiasi tersendiri. 


Kalau tidak melihat nama "Moammar Emka" -seorang penulis jaminan mutu-, kita akan berfikir kalau buku ini berisi hal menye-menye khas wanita. Padahal jelas, bahwa ini adalah tulisan seorang lelaki yang seolah-olah sedang dilanda virus cinta. 


Membuka halaman-halamannya yang penuh dengan gambar-gambar indah membuat kita berfikir betapa kreatifnya sang ilustrator. Sepertinya orang-orang yang bekerja di balik ini dari mulai kulitnya sampai isinya mungkin memang sedang jatuh cinta. Seperti dalam sampul belakang bukunya, "Dear You, Buku ini dipersembahkan untuk cinta, demi cinta dan kepada cinta." Tata letak buku yang memang lain daripada yang lain ini patut dijadikan inspirasi oleh orang-orang yang memang berniat membukukan sebuah puisi atau sekedar quote cinta. 


Buku ini bukan sebuah novel picisan. Tidak ada nama tokoh di dalamnya. Tidak ada daftar isi. Kutipan-kutipan kata cinta ini memiliki nomer urutan dan selalu diawali puisi dengan kata "Dear You,..." seolah-olah semua puisi memang ditujukan kepada 1 orang yang memang menginspirasi imaginasi seorang Moammar Emka. Berikut ini contohnya :


Dear You, 
Cinta tak pernah cukup

Tak pernah ada kata cukup bagi cintamu
itulah sebab kenapa aku setia mengikuti
jalanmu. Mempercayakan hatiku
dalam genggamanmu. Ikhlaslah yang membuatku 
larut dalam lautan cintamu

I love you

---
49. Seketika aku inginkan
kegelisahan. Di situ aku 
selalu menemukanmu.
Gelisahkanlah aku, dan
masuklah ke rongga 
pikiranku!
(Dear you, hal 59)

---
72. Malam. Aku sudah kehabisan akal. Tapi percayalah, cintaku kekal
(Dear You, hal 100)

----
74. Biarkan rasa menjadi tuan di negeri sendiri. Menjadikanmu rindu di setiap pahatannya
(Dear You, hal 67)

---
49. Cuma ada kata ENTAH, setiap kali kuasamu atas hatiku menggugat rindu ini bangkit lagi, entah untuk yang keberapa kali.
(Dear You, hal 223)

---

Bagaimana? apakah cuplikan diatas cukup romantis? Bagi kamu yang terbiasa mendengar lagu cinta ala Band Wali, ST 12 dan kawan-kawan melayu lainnya, untaian kata dari Moammar Emka ini jelas jauuuuuh lebih romantis dari kata-kata yang ada di pasaran. Mungkin kata-kata di dalam buku ini memang bagus untuk di jadikan sebuah pesan singkat romantis via ponsel kepada kekasih, update status facebook maupun di twitter. Karena kutipan pendek nan penuh cinta hadir di sini dengan nafasnya yang baru. Bukan sebuah kelanjutan dari kalimat sebelumnya sehingga memang bisa kita potong-potong layaknya kutipan cinta romantis. Namun perlu di tegaskan di sini, walaupun dengan nafasnya yang baru, dari awal sampai akhir memang muaranya sama. Kepada cinta. Buku ini juga bukan berisi gombalan konyol ala anjinggombal.com dan juga tidak bisa di bilang lebay. Romantis. Itulah yang memang pantas di sandang oleh Dear You. 


Aku termasuk orang yang percaya bahwa nilai keromantisan sesuatu tergantung subyek yang menilai. Dalam arti lain, buku ini tepat dibaca bagi orang yang sedang kasmaran. Namun bagi mereka yang sedang skeptis apatis terhadap cinta, buku ini hanya menyuguhkan deretan kata-kata bullshit. Apa sih yang memang bagus di mata orang yang sedang membenci sesuatu? 

Bagi aku sendiri, kata-kata cinta yang baik adalah yang membuat siapapun yang membacanya ikut merasakan jatuh cinta. Aku yang terbiasa membaca syair-syair dari Faridduddin Attar, Firdawsy, Rumi, Saadi, Imam Khomeini atau dari sastrawan mesir Musthofa Luthfi al Manfaluti, akan menilai kata-kata di dalam buku ini belum ada apa-apanya di bandingkan syair cinta karya sastrawan atau sufi diatas yang memang bernafaskan irfan atau sufisme. Aku sempat dibuat jatuh cinta akut dengan karya Abdurrahman Jami' dalam Yusuf dan Zulaikha, sebuah roman alegoris yang membuatku seolah merasakan penderitaan rindu Zulaikha dan kebahagiaan penyatuan keduanya. Mungkin karena Moammar Emka masih menggunakan term cinta kepada "Seseorang" bukan kepada "SESUATU"  sehingga aku yang terbiasa membaca cinta kepada "SESUATU"  merasa bahwa perasaan ku biasa saja setelah membaca buku "Dear You,..." ini. Buku ini, belum cukup membuat aku jatuh cinta seperti saat aku membaca Firdawsi atau Attar, Atau mungkin, hanya karena selera ku saja yang memang merasai cinta sebagai sesuatu yang spiritual dan universal. Bisa saja, kita bilang cinta pada Tuhan, tapi juga berlaku cinta pada Manusia. Seperti cinta Qeys pada Layla, cinta Layla pada Qeys. Saling mencintai sebagai manusia. Saling mencintai juga kepada Tuhan dan karena Tuhan. 

Intinya, buku ini bagus untuk mereka yang mencari inspirasi dalam percintaan maupun karya seni. Dengan harga Rp 46.000 dan bonus 2 kartu cinta yang cantik, buku ini layak di miliki sebagai hadiah kepada kekasih pujaan. Buku ini juga tidak menyita waktu kita dalam membacanya. Karena membacanya secara acak dari depan ke belakang, baru ke tengah dan dari manapun, deretan kata puitis nan romantis ini tetap enak di baca. 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.