Jumat, 20 Juli 2012

Musim Panas





Kau tahu? Kadang cinta seseorang hadir seperti liburan musim panas. Begitu menyenangkan dijalani, begitu bebas, begitu berharga untuk dinanti. Namun Kau juga harus tahu bahwa musim panas ini akan berakhir. 


Ingatkan lagi ucapanku saat itu, "Kita sama-sama tak berjajanji apapun, tak akan terulang lagi hal yang sama seperti ini, bahkan di musim panas tahun depan." 
Kau tanya, "Mengapa? Biarlah segalanya akan terjadi secara alami."
"Tidak bisa, Karena keadaan kita akan berubah." Jawabku nanar, air mata tertahan di permukaan membuat seolah masa depan begitu memudar di depan mata. Seolah mata ini tak sanggup lagi menahan ada kata yang belum terucap, "tidak bisakah kau mengerti?"
Saat itu, bibirmu buru-buru meminta mataku untuk tak menangis. Kau tidak pernah berhasil menerjemahkan mataku yang jadi kata-kata.

Telah aku katakan, Perubahan itu bukan tentang cintaku atau cintamu yang telah hilang
Hanya saja, pergantian musim telah menebas segenggam keberanian untuk mengungkapkannya
Kita berdua telah terbiasa dalam menjalani musim dingin sendirian, membuat kita beku dalam kekakuan. Membuat kita merasa bahwa kita bisa menjalaninya tanpa satu sama lain saling memandang. Dan mataku telah berjanji kepada bibir mu, aku tidak akan menangis. 


Harus kau tahu, aku tidak menyesal bahwa pertemuan kita hanya sekejap seperti musim panas ini...


Sejak awal kita sepakat bahwa pertemuan kita harus tetap terjadi untuk mengisi sebuah bab dalam buku kehidupan kita. Bab itu bisa jadi milik kita berdua sekaligus, kemudian kita beri judul bab itu dengan "kenangan". Aku ucapkan, selamat memulai bab baru kepadamu atas musim panas yang kita lewati bersama dan perpisahan kita. 


Seperti saat kita pertamakali bertemu, aku bertanya, "Untuk apa kau kemari?" Kau jawab, "Untuk membuat kenangan." Aku ingat bahwa kau tidak pernah mengagendakan sebuah masa depan. Aku pun begitu. Kita terus menamainya kenangan.


Meski tanpa aku, berjanjilah untuk bahagia. Seperti aku yang menjalani perpisahan ini tanpa perlu menangis.


"Kau tak bisa, melepasan sesuatu dan berharap nasib dengan sendirinya akan membawamu kembali lagi. Kau harus mengikat atau menandainya agar Ia dapat menyusuri lagi jalan pulang, ke hatimu." Kataku.
"Kita lihat saja nanti." Jawabmu ringan, seringan rambutmu yang terhembus angin musim panas. Ia juga turut menerbangkan harapan-harapan masa depan seringan kapas. Aku tahu ini adalah saat yang tepat untuk melepas segalanya.

Karena Kadang cinta seseorang hanya hadir seperti liburan musim panas.
Begitu menyenangkan dijalani, begitu bebas, begitu berharga untuk dinanti
dan, musim panas ini memang telah berakhir...

Ps : Aku bahagia dengan yang telah terlewati. 

Jakarta, 20-21 Juli 2012

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.