Selasa, 21 Juni 2022

Cerita Melahirkan

Aku dan Benget adalah orang yang senang merencanakan segala sesuatu. Kita bukan orang yang spontan dan senang dengan gaya hidup mengikuti arus sungai. Kami juga bukan pasangan yang suka menyiapkan kejutan. Jika kita tahu bahwa kita akan melintasi sungai, maka kita akan menyiapkan alat perlindungan diri, sampan, dayung, dan segala yang dibutuhkan untuk bisa survive. Kami juga senang memperkirakan waktu. Menyiapkan diri untuk apapun yang akan terjadi di depan lebih baik daripada menghadapi kejutan yang sulit kita hadapi karena kita tidak punya "tools" apapun untuk menghadapinya. 

Saat memutuskan untuk punya anak, kami menghitung kalender untuk memperkirakan kapan ia akan lahir, berapa uang yang akam kami butuhkan, fasilitas apa saja yang akan kami usahakan untuknya, dan banyak hal lainnya.

Sejak sebelum kehamilan, kami melengkapi vitamin dan cek kesehatan yang dibutuhkan sebagai syarat untuk punya anak yang sehat. Saat hamil, kami melengkapi kebutuhan cek laboratorium, USG 4D setiap bulannya, dan kebutuhan vitamin yang dibutuhkan. Sebagian besar non BPJS.

Kami punya rencana akan melahirkan di mana sejak usia kandungan 5 bulan. Awalnya, kami berniat melahirkan di bidan viral yang terkenal di Tiktok. Pertimbangan satu dan lain hal, kami putuskan untuk melahirkan di Klinik dekat rumah dengan dibantu bidan yang lokasi kliniknya berseberangan dengan rumah sakit. Pikiran kami saat itu adalah, jika ada situasi kedaruratan dalam persalinan normal yang kami pilih, maka kami dekat dengan fasilitas kesehatan yang bisa memberikan pertolongan kedaruratan.

Suatu hari Benget bilang, "sayang, ini kan anak pertama kita. Kita pilih lahiran paling aman ya di RS aja."

Kami mencoba "survey" dengan menghitung jarak antara rumah ke RS sambil melakukan simulasi apakah kontraksi saat melahirkan itu bearable untuk bisa sampai ke RSnya. Ternyata lumayan jauh. Terbayang ketika mulai kontraksi atau ketuban pecah, kami akan lama di jalan karena harus melintas tol Depok-Antasari dan membelah kemacetan Blok M. Sekalipun banyak yang bilang bahwa pembukaan lahir anak pertama itu akan memakan waktu lama sehingga kami akan sempat sampai ke RS tepat waktu, kami masih ragu karena kami menghitung berapa banyak kepanikan yang terjadi jika aku kontraksi sedangkan Benget yang belum lama bisa menyetir mobil juga ikut panik.

Di usia 38 minggu, Obgyn kami bilang bahwa kepala bayi masih jauh. Bayi kami sehat dan bisa dilahirkan weekend minggu depan. Jika ingin persalinan normal, maka kami bisa pakai teknik induksi buatan agar bayi bisa segera lahir. Benget kepikiran bahwa hari minggu ia ada tanggung jawab profesional yang tidak bisa dia tinggalkan. Sehingga sulit jika aku melahirkan weekend sekitar tanggal 21/22 Mei. Awalnya kami menyimpan kebimbangan kami sendiri

Kami mengutarakan kebimbangan kami ke bidan. Lalu bidan tempat kami periksa menyarankan kami ke rumah sakit seberang klinik untuk mendengar pendapat obgyn lainnya soal induksi buatan. Karena menurut pendapatnya, aku bisa menunggu kontraksi alami kapanpun yang diinginkan bayi. 

Kami ke Obgyn yang dimaksud. Obgyn mengecek posisi kepala bayi, katanya masih terlalu jauh untuk bisa dilahirkan segera. Setelah negosiasi soal tanggal, obgyn bilang bahwa bayi kami bisa dilahirkan pada Senin 23 Mei 2022. Kami perlu ke RS pukul 6.30 untuk antigen dan prosedur induksi buatan akan dimulai pukul 07.00. Jika dalam 12 jam tidak ada kemajuan pembukaan, maka prosedur Operasi Caesar akan dilakukan. 

Kami berdua sibuk mengabari handai taulan soal waktu melahirkan. Aku mengurus cuti melahirkan yang dimulai Senin 23 Mei 2022. Dengan santai, aku masih ngantor dan membuat janji pijat induksi dengan bidan pada hari Minggu tanggal 22 Mei 2022. Bidan pijat induksi bilang bahwa kebanyakan ibu hamil yang ia pijat induksi bisa mendapatkan kontraksi alami setelah pijat. Semua terencana. Benget senang sekali bahwa tak disangka kami akan melahirkan di RS dekat rumah sekalipun hanya sekali periksa di sana. "Tuhan baik ya sama kita," katanya. Alih-alih jadi tempat alternatif saat kedaruratan, RS itu justru jadi tempat aku melahirkan.

Jumat tanggal 20, aku datang ke kantor pukul 6.00. Karena masih banyak waktu, aku dan Benget jalan kaki pagi sebentar di sekitar kantor untuk cari sarapan nasi uduk. Aku sudah merasa mulas. Aku pikir itu mulas ingin BAB biasa. Benget pamit berangkat ke Telkom pukul 6.30. Aku merasakan mulas dan memilih untuk "menikmati" mulas itu sambil rebahan di sofa. Aku masih bingung apakah yang aku rasakan adalah kontraksi palsu, kontraksi asli, atau mulas biasa. Pukul 8.45, aku BAB. Anehnya, setelah BAB, mulas itu tidak tuntas. Aku masih menghitung waktu mulas dan 80% yakin bahwa yang aku alami adalah kontraksi.

Kebetulan, staf keuangan KontraS saat itu sudah datang. Aku mendatangi ruangannya untuk bertanya soal yang aku rasakan. Ia menyarankan aku untuk pergi ke Puskesmas untuk mengecek, jangan-jangan aku mulai pembukaan.

Jam 11.51, aku kirim pesan telegram ke Dimas untuk minta diantar ke Puskesmas Kwitang. Di Google Map, Puskesmas itu adalah faskes terdekat di kantor. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Akhirnya Pretty dan Dimas mengantar aku ke Puskesmas naik mobil. Pengecekan bukaan oleh bidan menghasilkan kesimpulan: Aku sudah pembukaan 2, tapi kepala bayi masih jauh sekali. Baiknya aku cek ulang pembukaan ke Puskesmas Senen yang lokasinya di Kramat 7, kurang dari 2km dari kantor. Aku bertanya, apakah aku bisa ke RS besar saja? Bidan bilang, "biasanya kalau masih pembukaan 2 sih suruh pulang dulu. Nanti kalau pembukaannya lebih maju, baru diterima ke RS."

Aku langsung kontak Benget. Ia izin atasan untuk kembali ke kantor. Perjalanan dari Telkom ke KontraS memakan waktu sekitar 1 jam. Aku menunggu Benget di sofa kantor sambil menikmati kontraksi yang masih berlangsung. Begitu sampai, Benget memintaku order makanan online sebelum kita ke Puskesmas Senen.

Sampai di Puskesmas Senen, kami masuk ke ruang isolasi COVID-19 khusus ibu melahirkan. Bidan mengecek ternyata masih pembukaan satu. "Mungkin beda tangan aja sama bidan di Puskesmas Kwitang," kata bidannya. Bidan meminta kami untuk tinggal di sana minimal 4 jam untuk diobservasi. Kalau tidak ada kemajuan pembukaan, ia mempersilakan kami untuk pindah ke RS lainnya.

Pukul 7, tepat 4 jam waktu observasi, bidan bilang aku sudah pembukaan 2. Aku diminta untuk berjalan-jalan, bergerak, goyang kanan kiri, jongkok-berdiri, agar kepala bayi turun. Aku hanya sanggup melakukannya sebentar karena kontraksinya lumayan sakit. Benget sangat cemas. Ia komplain ini itu yang intinya mengajak aku pindah ke RS. Aku yang kesakitan minta dia tenang. Jam 7 malam adalah waktu orang Jakarta pulang kerja, kita akan terjebak macet. Kalau pindahnya naik ambulan ke RS lain, aku bersedia. Tapi kalau hanya naik mobil kami, aku ga sanggup karena aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di jalan. Bagaimana jika jalanan macet dan pembukaan jalan lahir terus berjalan? Aku berusaha untuk meyakinkan Benget bahwa kita bisa melahirkan di sini. Benget kecewa, tapi ia menuruti permintaanku untuk tenang dan menerima jika anak kita lahir di Puskesmas Senen.

Bidan menyarankan jika aku stay sampai pagi, mungkin aku perlu tes PCR agar bisa pindah ke kamar. Sebelumnya, aku hanya ditest antigen saja. Aku dan Benget mencari lokasi PCR, semuanya bilang hasil PCR baru keluar jam 7 pagi. 

Bidan sempat bilang bahwa jika sampai jam 7 pagi tidak ada kemajuan pembukaan, sebaiknya kami pulang. Karena anak pertama memang butuh waktu lama karena masih mencari jalan lahir. karena ada rencana pindah rs jam 7 pagi, maka kami putuskan tak jadi pcr. 

Benget kelelahan. Ia ketiduran sambil duduk di pinggir ranjang. Aku menggenggam tangannya sambil merasakan kontraksi. Jam 10, mulasku mulai tak tertahankan. Aku membangunkan dia dan bilang kalau aku kebelet BAB, "aku ga peduli kalau harus BAB di celana, pokoknya aku pengen BAB sekarang juga."

Aku turun dari ranjang. Tiba-tiba pipisku tumpah. Benget memanggil bidan. Bidan ke kamarku dan bertanya ada apa?

"Saya pengen pup bu bidan. Saya ga tahan. Saya malah pipis di celana."

"Yaaah, malah pipis di lantai ya bu. Pembukaannya kan masih lama."

Belakangan kami tahu bahwa ternyata itu bukan pipis. Tapi ketuban pecah.

Benget langsung membentak bidan, memaksanya untuk mengecek kondisiku. Akhirnya, bidan memintaku buka celana. Benget bilang, "sayang, aku lihat kepalanya."

Bidan bilang, "aduuuh, ini pasti tadi ngeden yaaa... Harusnya jangan ngeden. Bengkak kan vaginanya... Ini pasti ibu angkat pantat ya, jangan angkat pantat bu, nanti robeknya banyak..."

"YA AJARIN DONK BU! ISTRI SAYA KAN GA TAU CARANYA SUPAYA GA ANGKAT PANTAT DAN GA NGEDEN!"

Benget mulai ngegas. Aku merasa ga angkat pantat sama sekali, cuma otot pantatku memang menegang sehingga sekalipun kulit pantat ga terangkat, otot pantat sudah bergerak melawan gravitasi. Sekitar 3 bidan memberikan instruksi tarik nafas, pegang kaki, dan hal-hal lainnya. Ga lama, Yovela Ailsie Hutabarat lahir pukul 10.54. Setelah dilap sebentar, Yovela ditidurkan di dadaku untuk inisiasi menyusui dini (IMD). Benget menciumi Yovela dan aku, ia bilang kami berdua hebat dan keren. Sembari IMD, bidan mulai menjahit vaginaku. Ia bilang selama hamil aku pasti jarang makan sayur karena jaringan kulitku rapuh dan sulit dijahit. Ia bilang, "ini bukan jahit ya bu, ini obras. Akan ada sakit, tahan ya. Karena ga semua bagian bisa dibius."

Aku menikmati proses jahitan itu. Menurutku tidak begitu sakit. Justru lebih sakit ketika sampai rumah bekas jahitan membengkak dan vaginaku lecet. Sakit luar biasa karena berdiri, duduk, dan rebahan pun tak nyaman. Kakiku yang membengkak saat hamil masih bengkak paska melahirkan. Kata bidan itu kondisi normal hingga 1 bulan setelah bayi lahir.

Semua rencana lahiran kami sebelumnya hancur. Aku yang belajar pernafasan sebelum lahir, pentingnya tidak angkat pantat, pentingnya mengikuti instruksi bidan juga buyar. Aku duga ilmu yang aku peroleh selama proses kehamilan soal melahirkan itu buyar ketika aku salah mengira pembukaan 9 sebagai keinginan BAB.

Kebetulan sekali, aku juga anak yang lahir di Puskesmas. Ibuku bilang, aku lahir hari Jumat pagi tanggal 1 Juni 1990 sekitar pukul 11 siang. Saat melihat foto bayi Yovela, ibu dan kakak perempuanku bilang, Yovela wajahnya persis wajahku saat baru dilahirkan.

Dengan segala keterbatasan fasilitasnya, Puskesmas Senen punya makanan yang enak, keberpihakan pada ibu ASI yang tinggi, dan memberikan pendidikan cara mengurus bayi yang sangat dibutuhkan oleh aku dan Benget. Kak Ari mencandai kita, "waaah... Anaknya Banu jadi anak Jakarta, bukan anak Depok nih karena lahir di Jakarta."

Kami bersyukur dan banyak belajar bahwa sedetail apapun rencana kami, rencana Tuhan itu yang terbaik. Waktu yang kami rencanakan ternyata bukan waktu yang Tuhan rencanakan untuk kami.

Selamat datang di dunia, Yovela!!

Minggu, 01 Agustus 2021

Surat dari Manusia yang Tidak Lulus "Quality Control"

Dear Ais dan Fathimah...

Hai, aku kirim surat lewat blog agar kalau dibaca orang lain, mungkin ada yang merasa relevan dengan ini sehingga membuat mereka tidak sendirian. Pandemi lebih mudah membuat orang kesepian terutama di masa isolasi. 

Aku tahu bahwa Ais tidak kenal Fathimah dan sebaliknya. Aku tidak pernah membicarakan Fathimah di depan Ais dan sebaliknya. Kalian adalah dua lingkaran pertemanan yang berbeda. Kita tidak selalu bertukar kabar dan bahkan tidak semua pesan bisa langsung terbalas. Tapi kita punya tempat aman di hati masing-masing. Rasanya aku perlu masuk ke tempat aman itu sekarang. Di hati kalian yang menyisakan sedikit tempat untukku. Anggap saja seperti teman baik yang mengetuk pintu rumah sambil menangis dan numpang rebahan.

Aku ingin mengawali cerita dari kakak keduaku. Kakakku menjual coklat batang reject yang tidak lulus quality control. Sebagian karena kemasannya yang rusak. Ia menjualnya dengan harga yang lebih murah dari pasaran. Produknya cukup laris. Rasa coklatnya sama saja dengan yang ada di supermarket. Dari barang reject, dia memperoleh profit yang bisa menafkahi keluarganya. 

Aku sering beli coklat itu dan menikmatinya bukan karena harganya yang lebih murah, bukan karena bantu bisnis kakakku. Tapi karena alasan yang ironis: aku mirip dengan coklat itu.

Sejak kecil aku dibesarkan dalam lingkungan yang bilang, "mbaknya cantik, kok adeknya jelek?" Lalu aku berhenti untuk berusaha jadi cantik. Aku berusaha jadi lebih pintar.

Karena gagal jadi juara kelas dan guru matematika bilang, "aku tidak sepintar kelihatannya," maka aku berhenti untuk berusaha pintar. Aku berusaha untuk bahagia dengan level average yang aku punya.

Ketika mencoba bahagia, ternyata aku tidak begitu bagus dalam mengelolanya. Neurotransmitter dan dopamine ku ternyata payah memproduksi kebahagiaan, maka aku  mencoba untuk jadi lebih baik di hal lainnya. 

Aku berusaha untuk jadi orang yang kompeten di dunia kerja. Lagi-lagi aku sering gagal dan tidak ada seorang pun yang bilang bahwa aku harus memaafkan diri sendiri saat berbuat salah. Aku gagal membuat telingaku mendengar bahwa memaafkan diri sendiri juga bagian penting dari penyesalan . Aku terkubur di dalamnya dan dibuat sesak nafas. Aku begitu takut melakukan sesuatu karena terlalu sering meragukan diri sendiri.

Aku berusaha jadi anak, istri, tante, kakak, dan adik yang baik untuk keluarga. Tapi aku tidak pernah cukup baik untuk mereka. Ada hari-hari di mana mereka sedih dan frustasi dengan interaksi yang ada.

Aku terbentuk dari sekian banyak kegagalan-kegagalan. Tak lolos quality control. Aku tahu bahwa manusia bukan benda mati seperti coklat atau barang pabrikan lain. Tapi setiap manusia mestinya punya sesuatu yang bisa ia banggakan. Aku bertanya-tanya apa yang bisa aku banggakan? 31 tahun hidup, aku masih tidak bisa menjawab hal apa yang dapat mendefinisikan: Siapa Syahar Banu?

Ekskstensial krisis di usia ini katanya wajar. Tapi ini tampaknya unbearable. Aku mempertanyakan alasanku hidup dan tidak bisa menjawabnya sekalipun punya pekerjaan, keluarga, dan segalanya baik-baik saja. Ada anjing besar jelek yang menelanku mentah-mentah masuk ke perutnya yang dalam dan gelap. Aku mulai menangis tanpa alasan yang jelas. Aku gagal mengidentifikasi kenapa aku jadi lebih bitter dan rapuh.

Setelah gagal cantik, gagal pintar, gagal bahagia, gagal sebagai istri-anak-kakak-adik-tante, dan gagal mencintai-mengerti diri sendiri, aku mulai marah dengan inkompetensiku sendiri. Jika kakakku bisa mendapatkan profit dari coklat reject, bagaimana caranya aku mendapatkan profit dari kondisiku yang "reject" ini?. 

Oh iya, ini hari yang indah untuk menjalani hidup dengan bitter. Bukan hari terbaikku, bukan yang terburuk. Katanya kita semua setidaknya perlu memvalidasi perasaan kita. Aku tidak tahu perasaan gagal sebelah mana yang perlu aku validasi.

Aku hanya terpaksa menjalaninya karena satu alasan: Rumah sakit terlalu penuh untuk menangani kasus tak penting sepertiku.

PS: Ini tanggal 1 Agustus. Aku tidak jadi mendaftar sebuah beasiswa yang sudah aku tunggu setahun pendaftarannya karena alasan yang tidak ingin aku tulis di sini. Sudahlah...

Rabu, 07 Juli 2021

Dear Ais...

Halo Ais,

Makasih sudah menulis surat yang menyenangkan untuk kado ulang tahunku. Hatiku hangat membacanya.

Ais, Almarhum Mbah Kakung (kakekku dari pihak ibu) katanya dulu juga punya sawah yang lumayan luas. Tapi, setelah masa penjajahan Jepang, Belanda, dan peristiwa 1965 yang juga berkobar di daerah Boyolali, ia mulai punya pikiran untuk menjual sawah untuk biaya sekolah beberapa anak lelakinya yang daftar PNS Departemen Agama, ABRI, dan sekolah agama. Simbah saat itu berprofesi sebagai kyai yang sangat dibutuhkan orang-orang kampung untuk memimpin segala acara sehingga anak-anak lelakinya didukung penuh untuk jadi priyayi kampung seperti dirinya. 

Adik simbah Kakung yang rumahnya di Delanggu Klaten sampai sekarang masih jadi juragan beras yang punya kuli, buruh tani, toko beras, dan bahkan alat-alat pertanian yang komplit. Halaman rumahnya juga sangat luas karena dipakai sebagai tempat jemur gabah. Walau kakak adik dari turunan kyai, adik mbah Kakung lebih milih jadi juragan beras daripada kyai. 

Almarhum Mbah Pati (sebutanku untuk keluarga kakek nenek dari pihak bapak) juga petani. Saat mbah Pati sudah mulai tua, mereka membagikan jatah sawah untuk anak-anaknya. Keluarga Mbah Pati di daerah Batangan, Jawa Tengah punya sawah yang lebih luas daripada sawah milik Mbah Kakung. 

Sayangnya, bapakku tidak tertarik jadi petani. Begitu dapat jatah sawah dari orangtuanya, bukannya menggarap sawah, bapakku malah langsung menjual sawah itu ke saudaranya sebagai bekal untuk sekolah ke pesantren. Bapakku sejak kecil tidak bisa membayangkan bahwa ia adalah seorang petani. Ia lebih suka jadi anak sekolahan, seperti Si Doel. Jadi, bapakku tumbuh sebagai pemberontak kecil dibanding kakak dan adiknya. Ia satu-satunya yang mengenyam pendidikan formal sampai SMA dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Di Jakarta inilah bapakku diperkenalkan oleh teman sepengajiannya dengan ibuku. Aku masih mencoba untuk mencari tahu kenapa bapakku tidak kuliah kalau dia memang senang dengan dunia sekolahan. Aku menduga bahwa ia jadi ikut pengajian tertentu yang membuatnya lebih suka berjihad daripada mengenyam pendidikan formal.

Ibuku anak perempuan bontot nomer 6, pendidikannya tidak terlalu diperhatikan oleh mbah Kakung. Bahkan pas belum lulus SMA, ibuku dipaksa nikah dengan sepupu jauh yang belum terlalu dikenalnya. Pernikahan dini itu melahirkan kakak pertamaku. Pernikahan ibuku berakhir dengan perceraiaan sesaat setelah kakak pertamaku lahir. Dia seperti feminist icon di masanya. Ibuku melakukan perlawanan di saat pemerintah dan orang sekitarnya melakukan represi kepada perempuan berhijab, ibuku berani bercerai di usia 21 tahun setelah menjalani toxic marriage, padahal tahun 70an, perceraian masih sangat tabu di kampung. Derita ibuku tidak berhenti di situ. Pada usia 24 tahun, mendadak ia jadi satu-satunya tahanan politik Tanjung Priok dan mengalami depresi berat. 

Saat depresi berat dengan status janda anak satu inilah, akhirnya keluarga merasa bahwa depresinya bisa sembuh kalau ibu menikah. Anehnya, "resep pernikahan untuk menyembuhkan depresi" ini berasal dari dokter penyakit jiwa yang merawat ibuku. Ibuku lagi-lagi menjalani pernikahan yang diatur oleh keluarga. Bapakku pernah cerita bahwa bapak hanya memilih ibu sebagai istrinya lewat foto yang disodorkan oleh seorang ustad. Bagi bapak, sekalipun status ibu adalah janda anak satu dan bapak masih bujangan dengan usia yang lebih muda, ibu adalah perempuan tercantik di antara semua perempuan yang terlihat di foto. 


Patriarkisme agama "bermain" di sini. Di saat bapak diberi pilihan soal wajah calon istri, para perempuan tidak diberi pilihan sama sekali karena hak akad ada di pihak keluarga perempuan. Ibuku kaget ketika pertama kali ketemu bapak dan diperkenalkan dengan lelaki yang disebut sebagai calon suami. Sambil bercanda, ibuku tidak menduga suaminya sejelek bapak, haha! Pertemuan kedua mereka adalah di hari pernikahan mereka. Keduanya tidak saling mengenal, pernikahan dengan metode ta'aruf Islami itu juga bukan pernikahan yang bahagia. Bapak dan ibu jarang sekali akur sampai tua sekalipun bisa punya 6 anak. Aku menyebut mereka Tom and Jerry, mungkin mereka merasa bahwa kehidupan runah tangga mereka tidak akan komplit tanpa perdebatan. Sepertinya mereka memang diciptakan berjodoh dengan cara seperti itu. Kalau bukan jodoh, mestinya mereka cerai seperti pernikahan pertama ibuku kan? Aku sih cukup sering minta mereka pisah. Tapi lama-lama aku merasa kalau itu bukan urusanku. Aku membiarkan mereka seperti Tom and Jerry dan bahkan mulai bisa menertawakan hal-hal kecil yang mereka perdebatkan. Saat aku berdamai dengan kondisi yang ada, aku jadi merasa bahwa itu situasi biasa yang tidak perlu dibikin stres. 

Membaca surat dan menonton vlogmu, aku jadi bertanya-tanya juga soal nasib. Apa yang terjadi jika kakek dan bapakku tidak jual sawahnya? Apakah aku bisa pulang kampung dan berkebun sepertimu juga? Saudara bapakku di Pati sana masih banyak yang jadi petani. Sekalipun tidak berpendidikan formal, mereka jauh lebih kaya dari bapakku. Aku pernah menanyakan pertanyaan itu ke bapak, bapak bilang kalau bapak jadi petani, aku tidak mungkin ada karena bapak tidak akan bisa menikah dengan ibu. Aku ada di dunia ini karena keputusan-keputusan nekat bapak ditambah campur tangan keluarga ibu.

Terus terang aku tidak tahu bagaimana bapak dan ibu menjalani pilihan-pilihan hidupnya. Setelah aku menikah, aku merasa bahwa berdebat dengan pasangan itu sesuatu yang tidak nyaman. Aku dan Ben lebih banyak tertawa. Bahkan aku yang dulu sering mimpi buruk pun bisa mimpi sambil ketawa. Aku dan Ben tidak pernah saling marah lebih dari sehari. Kami akan membahas masalah kami, berlomba untuk minta maaf, dan berpelukan. Kami memilih untuk membicarakan masalah kami daripada menghindari atau justru memperdebatkannya. Aku memilih untuk punya kehidupan pernikahan yang berbeda dengan orangtuaku dan ternyata berhasil. Jadi, selama kita masih punya pilihan-pilihan lebih baik dari yang orangtua kita jalani, aku kira hidup kita akan baik-baik saja. 

Jika di kampung sana banyak yang mendorongmu untuk jadi PNS, tentu kamu punya pilihan-pilihan untuk menjalani hidupmu sendiri. Jadi Liziqi Bugis pun keren. 

Saat ini situasi di Jabodetabek kacau sekali. Semua orang sibuk dan sakit. Jika temanku tidak sakit, pasti dia sedang sibuk urus anggota keluarganya yang sakit. Kami berharap situasi chaos itu tidak dituntut oleh bos yang tidak peduli dengan situasi yang ada, yaitu bos yang merongrong stafnya untuk produktif di saat situasinya parah sekali.

Sekalipun aku dan Ben sehat, tapi banyak teman-teman kita yang positif covid. Bahkan Kak Ari istri Andreas Harsono juga sakit. Kita sempat ngobrol di google meet untuk saling tanya kabarnya. Mereka seperti orangtua angkatku di Jakarta, jadi aku ikut sedih kalau salah satu anggota keluarga mereka sakit. 

Aku dan Ben tidak punya jaring jaminan sosial yang mempuni untuk back up kami jika salah satu atau kami berdua kena covid. Kemana harus isolasi mandiri? Berapa biayanya? Tabungan kami terbatas sekali dan alokasinya untuk kebutuhan perumahan yang sedang kami upayakan. Sistem kesehatan sudah kolaps, yang bisa kita lakukan hanya hati-hati, vaksin, protokol kesehatan, dan tetap bahagia. 

Semoga situasi pandemi di sana tidak separah di sini. 

Aku berharap juga, standar hidup ideal orang di sekitarmu tidak membuat kamu merasa harus melakukan penyesuaian-penyesuaian prinsip yang tidak membahagiakanku. 

Hiduplah dengan lebih percaya diri dan berani.


Selamat ulang tahun Ais!

Depok 7 Juli 2021

Banu.

Rabu, 29 April 2020

Sinta Ridwan

Sekitar tahun 2013, seorang teman chatting mengirimiku paket buku. Dia bilang, penulis buku itu adalah temannya. Ia ingin aku baca buku itu agar jadi orang yang lebih semangat dalam menjalani hidup. Judul bukunya, "Berteman dengan Kematian." Foto di buku itu memperlihatkan seorang perempuan berambut panjang yang tampak berjalan di sebuah hutan. Buku itu aku baca dan selesai dalam sehari. Aku berterima kasih pada teman chattingku itu dan janji padanya untuk cari pertolongan ke psikolog agar hidupku bisa lebih terasa hidup. Beberapa trauma membuatku menjalani hari-hari seperti zombie. Bahkan aku sempat cek darah juga untuk mencari tahu apakah aku menderita auto imun atau tidak karena aku lemas sepanjang hari. Hasilnya, negatif auto imun. Belakangan, aku tahu bahwa rasa lemas itu disebabkan oleh PTSD dan depresi.

Beberapa waktu berselang, aku ikut sebuah organisasi Kiri yang mengelola website. Rupanya, penulis buku "Berteman dengan Kematian" ini juga bergabung di dalamnya. Lama-lama, aku dan dia mulai dekat dan bercerita macam-macam soal hidup yang pernah kita jalani. Kita jarang berkomunikasi, tapi saat ada badai, kita akan saling mengingat satu sama lain. Kita sama-sama ekstrovert yang baru lega setelah bercerita dan mendengar.

Saat aku mulai terasa sesak dan tidak stabil, aku selalu mengingat namanya. Sering juga bertanya-tanya, bagaimana kabarnya? Bagaimana ia menghadapi penyakitnya kini? Bagaimana caranya coping dari satu masalah ke masalah lainnya? Apakah hari ini dia bahagia? Berapa batang rokok yang dihisapnya hari ini? 

Aku sering penasaran, tapi tak selalu bertanya langsung padanya. Terutama saat aku sedang tidak stabil. ku takut ketidak stabilanku akan berdampak buruk padanya. Jadi aku mengingat dalam diam dan mendoakan segala yang baik untuknya. Kadang, aku hanya melihatnya lewat instagram lalu bangga bahwa perempuan kuat ini temanku! 
Selamat atas penayangan film Hidup Harus Hidup yang diangkat dari buku "Berteman dengan Kematian" karya Sinta Ridwan! Bangga sama kamu, mbak! 

*Foto lama, ketemu di Blok M untuk nonton Lenong di GOR Bulungan.

Kamis, 05 Maret 2020

A Story About the Sad One

I woke up again at 3 in the morning from the weird thoughts about things that I actually had to forget right after I opened my eyes. However, if those things were so important, why did I have to forget? If it was not an important matter, why must I be awoken by that?

I texted Ben, and I let him know that I was awakened. He always looked at the time I sent him the message then he would say positive things to me as a form of support. Normally, he wakes up at 5 in the morning – far before me – and then tries to call me.

Unfortunately, that morning he woke up late. I woke up at 5 by the sound of alarm, and immediately rushed to grab veggies from the fridge to make something. I allowed my heart to be sad, but I wanted my body to stay healthy. The best veggies are the ones that are cooked from my own kitchen so I can maintain its freshness and cleanliness, and that’s what I did. I woke up at 5 in the morning to cook for myself and my boyfriend.

Over the phone, Ben told me after he finished his shower that he would immediately come to my place. I didn’t ask him to, but he promised to drop me at my office today. He knew that I wasn’t feeling well, so he made sure that I wasn’t alone. Besides, he took the afternoon shift on that day so he had plenty of time to do that. He said many times that dropping me off was not a burden at all.
Meanwhile, I think that driving me around is so troublesome. It’s because he needs to wake up earlier, take a shower faster, and his house is actually far outside the Jakarta province! (read: Sawangan, Depok). The distance to his house (ehm, actually he prefers to call it “our house” even though he buys it far before he meets me) to my place is around 27 km by motorcycle. The distance from his house (our house! :D) to my office is around 34 km. Meanwhile from my office to his office is around 13 km.

If it’s not love, I don’t know what to call it.

That morning, I did not only want to be healthy, but I also cooked to calm my mind. Cooking has always been a healing therapy for me. But after I tried to make money out of my cooking, it became a very tiring routine. I was also aware that cooking the same thing over and over again did not make it become more delicious. There were times when people said that my food was so delicious and they showered me with compliments. But there were also times that I miscounted the ingredients, or took the wrong step so it lacked a lot of things. If I remembered what I have gone through at that time, I only got traumatized. I am also confused why it is so easy for me to call things as trauma. Ben was the one who threw away the leftovers and other ingredients in my fridge that I did not dare to touch for two months. I told him that I got traumatized, he took it lightly. He said what’s important was that we got many lessons and we did not lose much.

He eventually came after I finished packing our lunches. Two boxes of red rice, Balinese chicken, and stir-fry kangkung. It seemed that he was glad to see me being productive. He was saying thank you while he took the boxes, then marked his box so it didn’t get mixed up. I did insert some other dishes that he didn’t like, Oseng Paru and Sambal Goreng Kentang Ati ayam. My landlady shared those dishes with her tenants last night. Ben did not want to eat the dishes inside my box since he knew that giblets or anything with high cholesterol was not good for his health. It includes chicken skin! Sometimes, he forbids me to eat certain things for health reasons. But sometimes, he just warned me that I must try to control my own diet.

When we parted ways in front of my office, I said thank you to him. He removed his helmet to show his smile, and told me how beautiful I was that morning. It was his third compliment this morning.
I walked inside, headed to the fingerprint machine. I felt relieved that I had much time to relax before my working hour started. At least, I have prepared myself after I used my sick leave at the beginning of this week to calm down from the unpredictable relapse.

Some time had passed, then Ben said he had arrived. I didn’t check how long he needed to come here. He complained about the traffic, but also felt grateful that he could arrive safely. This man has a good habit for always being grateful after accidentally throwing a complaint.

For example, one day I was complaining about the food quality that I bought from a stall. I simply said it didn’t taste good. But he reminded me that at least we knew how the food tasted like because God allowed us to buy that. We also were not sick when we ate thus we had so many reasons to be grateful. If I couldn’t finish the food, he offered to look for others so I could feel better. He is not the type of guy who will force you to finish your food, he will ask you to stop if you are already full instead. So, if I can not eat some food and am still hungry, he will suggest that I eat any snacks that I like so I will get full. Usually I will express my cynical thoughts whenever he tries to stay positive on things that I think are difficult to get defended. Sometimes, he agrees how the food is not good, yet he still tells me that we should stop complaining about it. Until someday, he expressed his wise opinion, “honey, maybe by the time the cook cooked this, he was already tired. You felt once how cooking was super tiring. His salary might be low, yet his needs were so many. Please forgive the cook.  We’ll find other food to make you satisfied.”

Ben did the right thing to make me stop complaining. I would easily get in tears whenever I imagined that there was someone who was already so tired but got paid in minimum salary. Yes, I could not verify the information on how much was the cook’s salary in every restaurant that we visited. I actually did not know if he received a good salary or not. But, I could be silent just from imagining it. Ben was right, there were so many more things that we should have been grateful for.

I clearly remember that scene. It stucks deep inside my brain. I even remember how he complimented me that day. In his office, Ben said that the lunchbox that I made was so delicious. I smiled. I was happy to do a good thing for him after he dropped me off at my office that morning.

Today, my job wasn’t too complicated as well. I had some money in my bank account, I had good nutritious food. But it seemed that my brain still couldn’t properly produce the amount of endorfin that I needed, no matter how hard I tried.

I am grateful, but doesn’t this sadness go away? I am luckier than many people in this world, but why do I want to keep crying? I have plenty of time to take a rest, but why do I always get tired?

I feel that I have not much problem, but why do I feel that it’s better for me to not exist in this world? If I am the winning sperm cell inside my mother’s ovum, why does this winner have such a very weak mentality?

If often imagined, what if I disappeared from this office? It would be very easy to replace me with someone who was more able and younger than me. My coworkers would hang out with others just like they used to be before my arrival. I also already stepped back from many circles, so slowly my existence became irrelevant in many places.

Ben is a very kind, handsome, hard worker, funny, and talented guy. There will be a lot of women who want to get to know him. He also has a strong mentality. He would be fine.

I am really small. Insignificant and replaceable.

I think, if there is someone who gets sad, they will have a reason why they get sad in the first place.

Unfortunately, in my current situation I don’t have any.

Halo doctor, is it the time for us to meet again?

Halo Banu, are you ready to go through more therapy and long medication again?

January, 29th 2020 

Origina Blog post : Cerita tentang Si Sedih
Translated by Yusni Aziz

Oh no, it seems that I have to visit the doctor again

Hi,

My condition right now is quite good. Mentally, physically. At least, that’s what I’ve been thinking. There’s no life events that can become a reason to be desperate. My boyfriend is very supportive, my friends are kind, and my family is quite harmonious (at this moment).

But there is one thing that keeps bothering me. I don’t know why. I always get sleepy in many situations. I will sleep during work, or when I hear others’ talk. Everywhere. I really want to wake up early in the morny. But everytime I successfully get up at 5, I will be sleepy again around 8 am, and I will wake up around 11. After that, I will get sleepy again around 3 pm.

This is unhealthy and unproductive. It bothers me a lot. I had been trying hard to sleep at 11 pm, or maximum 1 am. But I would get sleepy in the morning, even though I did not much with my phone the night before.

Because of this situation, many things were abandoned. I started to feel that I was really unprofessional.

But relax, I eventually decided to visit the doctor again. For the last 8 months, I stopped my medication without informing him. I felt healthy, until this annoying habit of sleepiness kept coming. I needed to find a way out of this. I asked my doctor if there was a chance it was a symptom of relapse, blood pressure, or anything with my blood sugar level. Or maybe, I was just simply lazy.

My doctor said that situation was actually a sign that I was about to relapse. I was shocked. How was it possible for me to relapse when I felt everything was doing fine?

So, I will be more diligent on drinking my medicine and psychotherapy. I hope I will change this habit of sleeping everywhere in a short time. Since our life can not be spent only by sleeping. I am also a normal human being who needs a productive time and creating something.

My doctor also said, since I stopped my medication for quite a long time, I had to adjust myself with the medicine by taking dose far smaller than before. This is the third week after my first check up, and now I can take half of the pill, from the quarter as recommended before. He said, later on I could take the whole pill. So hopefully, my body can adapt fastly with this med he gives me.

Stay healthy everyone!

July, 9th 2019

Original blog post: Waduh! Ternyata Aku Perlu ke Dokter Lagi
Translated by Yusni Aziz

My Post-Hijab Life

Hi, how are you?

For some people, my decision to take off my hijab was quite controversial. I think it was related to my own experiences as an activist who had fought for the acceptance of hijab in public places and legal letters (for example: diploma). Also my religious background is kinda …. Well, you know. Shia.

Thanks to you if you are one of those people who think that this is all my own personal decision that must be respected. Among those disappointed messages that I received from family and friends. As a person who is not talented in ignoring people’s opinions, those negative comments really affected my mental wellbeing. So, if you want to advise me on certain things, just make sure I ask you to do so. If not, then you will only be a noise inside my head.

After taking off my hijab for a while, I realized that I had never been respectful to my own body. I was not aware how my thigh and stomach had grown in an unexpected direction. I realized that the excessive fat around my body was not healthy, no matter how many campaigns on body positivity that I saw. My desire to be healthy made me a bit ashamed of myself. In the past, those body parts were always covered with some loose fabrics, so it didn’t attract my attention. I did not know I started to have cellulite within those areas.

I rarely used body lotion because I thought my skin was always moist (when it was my own sweat!) under the fabric. Post-hijab. Whenever I wanted to wear a more tight or a bit open dress, I became aware that my body size, or skin appearance was far from the beauty that I saw in the media. It is not about chasing their beauty standard, because it will be a never ending journey. But their simple healthy standard. I felt sad that my skin felt a bit rough. It might need months and bottles of body lotion to make it smooth and moist again.

I got disappointed with my own ignorance. I was so used to doing nothing much after a shower. I did not dry my hair, comb it, and I did not put any lotion on my skin. I simply wore my clothes, and hijab then took off. Since I thought, no one ever gonna see those parts of my body. When actually taking care of it was actually our token of gratitude to God for giving us a healthy body. So if you read this post and do the same thing, please, those excessive fat could be a hotbed for disease, and not wearing lotion could create a problem for our skin.

Without my hijab, I could do an outdoor sport by wearing more comfortable clothes (and more space inside my bag). Goodbye to my hot and heavy clothes. When I travel, my small backpack could carry clothing stock for a few days, as before I had to bring 5 pieces of clothing to wear for once. Undershirt + bra, outer shirt, hijab, pants and panties. I mean, I thought that this whole time I was not good at packing, but it turned out that I had to bring so many to go out of town. Now, my backpack becomes lighter since I do not have to bring long and layered outfits to go around.

As a religious person, I understand that practicing our belief requires us to be ready with the consequences of the truth that we choose. So for example, when I still had faith that hijab was compulsory, I did not feel burdened at all when I swam with 5 pieces of clothing in accordance with the sharia standard that I trusted. When I already understand the diversity of interpretation on what are intimate parts and hijab from many ulama, I became more flexible in wearing a swimsuit that I thought was more practical and comfortable. Of course, when I was wearing my hijab, I wore 5 layers of clothings without any complaints. But when I imagined what I had to go through, it felt so…. Complicated. No wonder I always had a big pile of clothes to wash. Our faith indeed makes us normalize things that others might see as complicated. For many, eating while wearing a niqab is a very complicated thing to do, meanwhile for niqab wearer that is very normal. It is just a matter of habit and belief that we choose.

Just like what Qurays Shihab says, if Allah asked us what are the numbers you have to add to make 10? The answers will be varied, but all will sum up to 10.  That speaks a lot about our world that is filled with many interpretations of beliefs and faiths.

My post-hijab life makes me realize that I am a minority. How difficult it is to be a woman in this era. Everybody will tell you that a girl is prettier with hijab or the other way around. It seems we exist only to fulfill the piety standard of others, and they will tell you as “prettier.” A celebrity who decides to change her outlook by wearing hijab will receive a lot of compliments, meanwhile those who remover her hijab will get massive hatred that it seems she will make herself and her family go to hell anytime soon. Religious people are not aware how toxic their comments are. Maybe it is the effect of being too fanatic, so whoever that doesn’t follow their standards automatically accused of heresy.

Just read the comments on Nia Ramadhani’s account. So many people whose avatar wearing hijab always mocks the way she dresses. If wearing a hijab makes you a better person, why do those people like to write bad comments for the sake of reminding? Are they have the capacity to be teachers for someone else? See the comments on Salmafina’s, you will see how evil people can be on behalf of “sending reminders.” I am not sure if I were in her position, I would be as strong as she was.
I often heard those toxic comments from women who wore wider hijab compared to mine. She would tell me that my way of dressing was not Islamic enough. I can not imagine how this wave of Indonesian Islamic populism is not providing justice to those who are oppressed, but instead giving birth to moral policies who push people around them to dress just like them. For me, correcting other people's way of dressing is truly a low act and it will not gain you any respect.

This moral police attitude only even makes us move away from their toxic behaviour. As a consequence, we will not become like what they expected us to be. Evenmore, why would you expect someone to be like what you want them to be? When parents’ expectations of children can become a starting point of depression to the kids, let alone a stranger who expects a unified society.

So, if you think you are disappointed in how others are practicing their religion, check yourself. Do you deliver those expectations in the right place? I feel, those critics that want me to use wider hijab fabric, with darker color are the one who push to not even follow their standard. I ask God, do you really want your human to only dress like that? If so, how narrow is the heaven that He creates that only those who dress like that are the one who deserve to stand next to Him.


Obviously, you don’t have to agree with me. My point is celebrate your own uniqueness without expecting others to do the same. Each person has their own spiritual journey that he/she experiences.

Let’s respect that. 

July, 25th 2019

Original blogpost: Aku pada Post Hijab
Translated by Yusni Aziz

This is Not The End

I thought my life would have been over last year. At that time, my hopes turned into ashes, and it was difficult to put my head up high. I did not have any dreams. The structure of any plans that I made collapsed, fell onto my body and I had difficulty getting up from my bed. The hands that tried to pull me up from the rubbles felt not enough to bring me back to life.

But right now, things are already better. So much better.

There were times, one or two days, I felt so overloaded after remembering how beautiful the architecture of my plans was. Even reminded myself of its rubbles could pull the tears out of my tired eyes. Things are indeed alright now, even though it is not always good. I still have to fight hard the misleading whispers inside my head. Sometimes, I successfully avoided those voices through doing some activities, yet also quite often, those voices brought me down.

But this time, I won't give up.

I know, fighting it is very difficult. I can get so exhausted even though it seems I don’t do anything from the outside. But it is the consequence of my life. Our breathing does not come for free. It comes with daily efforts that we have to do to support this body. Our body needs food, sport, clothing, love, place to live and money. So, no matter how difficult are the things that I have to go through, they are only the consequences of my personal choices. And not all consequences are sweet. I hope someday the bitter ones will become medicine that can help me rebuild my hopes and plans. Slowly… until someday I will stand on my own feet, and smile at the collapsed building that has become the historic monument of my life. I will tell it that she already forgives, so let’s find a way back home to our own happiness.

My current steps are not as light as my writing. Better does not mean truly well. My way of life offers me difficult choices that when others see it they will look down on it. For example, when others start to appreciate when I rise from the ashes, at the same time I have to be ready to receive a rock throw from them if they know the situation. Sometimes I am also confused with my own life. Can I simply take a normal route, that is free from controversy, and get approval from all creatures on this earth?I am so tired with labels. Yet, I am cursed to live with them forever. It feels like I have to move from one tightly sealed jar to another that has a mark of a certain word. So, anyone who looks at me will directly see, what kind of label that I look from there?

By the way, let me tell you an irony. So whenever I struggle hard to build my own safe space brick by brick, I accidentally destroy another wall of hope. I must be a great sinner that anything I do always turns out bad. Yes, we can not make everyone happy. But, isn’t it also seems very ungrateful if we don’t repay the people who once pull me up? I am sure, even though their hearts are filled with love for me, I will always have something that I accidentally do to hurt them. I am a thorny plant who has difficulty compromising with many situations, so I will never look beautiful and look okay because of the consequences that I choose.

So, this is my current situation.

How about you? Are you okay now?

May, 6th 2019
Original Blogpost Belum Berakhir
Translated by Yusni Aziz



Sadness

Maybe, some people weren't allowed to be happy. I'm one of them. Period.

Parents’ Religion = Children’s religion?

I often ask myself. Is a committed couple who wants to get married and have kids  ever talk about how they will educate their kids? Are prospective parents reading a lot of articles and books on how to raise their children? And to be more specific, are parents ever think specifically in how to tell their little ones how to practice their religion?
Do parents choose to direct their children in how to choose religion/belief that can make them a better human being? Or, are parents even hoping that their kids will follow their religion as an unavoidable gift? Just like names, bloodline, DNA and others that seem automatically given. Maybe, there are parents who give freedom to their children to choose their own religion because it is actually their personal connection to God.
I am writing this with a smile in my mouth. It’s because of a scene from an Indian movie, PK that stucks in my head. The main actor, PK, an innocent alien, checks all babies in the hospital. He is curious if there is any sign that shows the religious identity of every kid. Unfortunately, he finds nothing.
As a woman who was raised with Shia Islam from birth, I read a lot of books in my home. Within one of the parenting books that I read when I was 15, I found that the best way to educate children was through the knowledge from Al-Qur’an. I think that was the reason why my parents pushed me to learn how to recite Al-Qur’an from an NU Cleric. My mom said, “when they pray, NU people often have the most beautiful makhraj and tajweed.”
After finding out how far was the place that I should have went to learn from the NU cleric, my mom moved my study to my grandfather’s brother’s house who was a Muhammadiyah. Even though I was his granddaughter, he taught me harshly. He yelled at me every time I spelled something wrong. I was so afraid of him. I have never been the one who suited for this kind of tough teaching. I then asked my mom if it was possible that I moved to another Muhammadiyah Ustad near the mushalla, everyday after the maghrib prayer. She agreed. I eventually stopped coming at him for a year after I had grown up. Well, many kids who were my age did the same thing, we were replaced by the younger ones. I then made another promise to my mom. I would recite the Al-Qur’an loudly at home after the Maghrib prayer. She herself remembered many Al-Qur’an juz. Therefore, she would listen to me, and correct me whenever I spelled something wrong, while making cookies or doing other activities. To any of you who got brainwashed by the intolerance propaganda, of course Shia’s Al-Qur’an is the same with Sunni’s Al-Qur’an.
I am very sure that my father and mother never had any discussion in how they would raise their children. They were united through an arranged marriage that happened within a Wahabi recitation community. Before, they were not Shia. However, both had agreed that they would raised the kids under Islam. It was that simple. Both had similarities, which they were big fans of majelis taklim, and had always been critical with religion. That's why they decided to change their madhab.
However, not all of their children have similar habits.
My oldest sister learns things just like my mom. However, her way of thinking about it is different compared to my mom or even myself. My second oldest sister is not really into religious discussion. My third sister is into religious issues, but she only loves reading about i. I myself started my intellectual journey by reading Shia books at home, joined Al-Quran interpretation study group, fiqh study group, and also philosophy study group. From those journeys, I started to read a lot of philosophy books that were heavily criticized by Islamic philosophers. I started to enjoy perennialism more than al-hikmah al-muta’āliyah from Mulla Sadra. I got attracted to Marxism, learned about other religions, and all of those things had shaped me for who I am today.
My brother has another story. Once, he studied at a Wahabi Islamic Boarding School. My mom said, “Wahabi is very good at memorizing the Qur'an.” It was true though. My brother could memorize and speak Arabic very well. However, after he moved to Shia educational institution, it got clearer that he was more into the theological side of things instead of philosophical. We started to argue a lot, but eventually we understood if that was not something that we should debate much. He knew, how we practiced our religion was our personal responsibility between us and God. My sixth brother who is still in high school, is the cool kid and of course, with a more secular way of thinking. His way of thinking was so simple, and sometimes so adorable. Meanwhile my youngest brother? I don’t know what kind of person that he is going to be. Maybe he will be a Shia, since he is learning in their educational institution, but I don’t know what kind of Shia. Who knows anyway?
Out of all the seven siblings, it is clear that our parents apply a different way of educating each child. I clearly remember that my mom never asked my second and third sister to do Quran recitation just like how she liked to push me. My oldest sister was smart enough to educate herself in things that my mom liked to see. My mom has always been very hard on my younger brothers as well in terms of quran recitation. But the smart sixth brother was always successful to gain some material benefits in case mom asked him to do what she wanted. Once he called her and said, “mom, I don’t have enough money. Please send some to me. I promise I will recite. See, now you will hear me recite the Quran. Bismillahirrahman...nirrahimmm..."
Then he would read loudly over the phone the Juz Amma that he memorized clearly. My mom, who lived far from my brother at that time, would be happy to hear that, and then sent him some money. Transaction complete. Everyone was happy.
I realized that I’ve been talking about my mom this whole time. How about my dad?
So here is the story. Since I was a little girl, my dad had always been an independent person who taught himself and had a good learning ethic. Therefore, he hoped that his kids would have found their own way just like how he used to do it. It was quite rare for him to discuss religion with others. Meanwhile, my mom liked to insert religious ideas within any discussion. They had totally different ways of raising kids.  But maybe that is marriage, it is a group of people who are united by blood, but not necessarily have similar mindset.
My mom does not agree with how I practice and how I think. But she loves me. She said that she always prayed for me after her prayer, even more than the others. I love her too. However, I understand the logical consequences of every knowledge that I absorb and shape me as who I am, and I apologize if we are different. I am not good at pretending to gain more love, I don’t know how to hide this difference. Maybe I am not wise enough, but I don’t know. I am also curious where this is going to lead.
From my personal experiences with my parents, I finally understand that no matter how deep is the religious knowledge that parents have is not necessarily going to shape their kids to be like they are. It doesn’t matter to me if someday my kids are going to have a different mindset to mine. I have been trying to embrace it since early stage.
Once I heard my landlord stroked the head of her 3 years old child. Her husband and she discussed what non scholastic course that he must take. The mother wanted her son to learn Quran recitation, martial arts and robotics. The father wished that he would learn the arts of shadow puppets, local dialects, and traditional singing. They agreed to enroll their kid in those courses. Even though his dad loved to get drunk, he also loved to see his kid recite the Quran. This kid grew up with a list of activities that his parents wished they had when they were little. How many of us raise our kids in this manner?
From the phenomenon that I observed, I think a child will finally find their own way. No matter how strong a mother’s prayer is for hoping that their child will be a person who obeys everything they say, and will be useful to their religion.
Some parents love to educate their kid with religious lessons from Islamic boarding school. When the kid grows up, she eventually decides to be a person who is secular and liberal. She criticizes many texts that she learned at the boarding school, and she doesn’t hesitate in calling it out as dogmatic. She criticizes the majority’s way of practicing. She complains how boring some religious groups that she thinks are irrational, fanatics, do not embrace the universal human values, and many more.
There are parents who like to bring their kid to join the Sunday mass, and other church activities. Who knows that when he grows up he will be someone that is apathetic and cynical to the church. He begins to distrust the priest. He starts to get bored with the church promises. 
There are also parents who prefer to raise their kid without any inclination in religion. Later on, when he grows up, that kid joins a radical movement, and doesn’t hesitate to call out his parents as a bad example.
There is a child who always prays and recites the Quran diligently with his parents. When he moves outside the city, he starts to get lazy in doing those rituals. Yet, in order to make his parents’ happy, he will be the person like he used to whenever he is home. His parents are proud and thankful for having him. This kid is safe under his mask.
My friend taught her children the values of many religions. As a result, by their own personal choice, her kids practice three different religions. She is so proud knowing her kids are able to choose their own spiritual. She said, “someday they will fight for their siblings’ religion if any discrimination happened. Humanity must extend beyond religion.”
There are also parents with kids who practice the religion that they get since birth. Without any question, nor comparison. What they know is that their parents say that this religion is the most correct. It is enough to be a guidance from their birth until death. If it is already enough, why would they be looking for something else?
There are also parents who are successful in educating their children – according to societal standards. The kids look very calm, without many fights or rebellions. They grow just like how their parents wish. Probably, it is because of the parents’ prayers. Or other things. I don't know. I can't even imagine that there is a child who thinks exactly like his parents. I know someone who is like that. He just replied, “a fruit will not fall far from the tree. Who do you think I should be similar to?” Well, I don't know either.
There are plenty of stories about parents who are disappointed for thinking that they can not raise their children properly. There is worry that they will not meet them in heaven. How disappointed these parents are for not having children who are not obedient. On the other side, there are stories about parents who are proud of their kids’ achievements. Some hope that they could be someone they wished for when they were young. 
Some hope, even though they are not religious, by picking someone who is more devoted compared to him, or putting his kids into a religious school, it would create a religious kid that someday could redeem his parents’ sins with prayers.
When a child is born, parents love to stamp him with a certain religion. It seems that religion is something that is taken for granted and must be held until the child passes away.
Once, I discussed this situation with my best friend. She said to me, while giggling, “well, if I had to get married someday, I would not want to have a child. Giving birth looks very painful. This world is overpopulated already. What a poor kid who is born in this collapsing earth. I prefer adopting an orphan, or even taking care of dogs and cats. Hehehehe…”
See? Not everyone thinks that having kids is a good idea. As someone who is used to hear debates between pro-choice and pro-life people, I am not surprised to know a person who does not want a kid or even supporting abortion. Even Richard Stallman –GNU founder- also prefers to not have kids and suggests many people do the same for humanity. You can read his opinion in Why is it Important not to have Children.
I am very curious, and I want to ask more things. Have you ever thought to stop your marriage with your potential partner after knowing that you have disagreement in the way you would raise your kids? Well, who knows there is someone out there who has this experience.
So, how will you educate your children? Have you ever thought about it?
November, 10th 2020
Original Blog Post: Agama Orangtua = Agama Anak?
Translated by Yusni Aziz

Pretty Girl

There is tragedy, there is despair, there is upheaval. Then, that woman ends the curse of her miserable life in front of a passing train.

Few hours later, people and the media will talk about her as the pretty girl who died from suicide. That pretty girl will appear on the front page of a yellow press newspaper. They will portray her as a pretty girl who is always overly dramatic. They will write how this pretty girl –unfortunately- is not very talented in being grateful.

The people who know her will remember her as a pretty girl who died too young. The people who don’t know her will remember a pretty girl who root in hell.

Meanwhile, the memory of that pretty girl is only about pain.

Pain,

Yeah, only pain.

March, 13th 2018
Original blog post: Gadis Cantik
Translator: Yusni Aziz

When I Got Sick

A dietitian came to visit me. He asked me why I didn’t finish my breakfast for the last two days. I told him that it was too heavy. The rice, meat and vegetables menu in the morning always made my stomach bloated. I wanted a lighter menu like bread, milk and fruit.

Of course I could get what I wanted. In that hospital, they really considered their patients’ appetite. Once I said that I got so bored from eating rice and picked a steamed potato as my carbs replacement. The day after, I got what I wanted. Yet I felt so disappointed for asking that potato, since the food that they cooked tasted better when it was eaten with rice.

In order to change the food menu, they had to do an interview. The dietitian asked the nurse about my appetite, especially if I finished my food or not. Afterwards, they measure my height and weight. He was surprised knowing that I actually had an ideal body weight. My blood pressure was also normal.
The next morning, they gave me a thick bread filled with very tasty strawberry jam, with some oranges and boiled egg. There was also a glass of milk that didn't taste that good, but I finished it anyway out of my respect to the dietitian’s attention.

I actually never took any special diet to get my ideal body weight. It just happened. I never counted how many calories that I took, or any other things. I only did some sit ups in the morning since sometimes I felt so annoyed looking at the fat in my belly.

In this hospital, I was one of those patients with less visitors. The other visitors usually questioned what kind of disease that people had on this place. Almost everyday, I received a questioning and admiring stare. Those visitors for other patients usually tried to talk to me and told me how beautiful I was. They asked where I came from, what did I get so I had to end up here, and some other questions such as did I get any inheritance from foreign people because of my white skin and red hair really looked good on me. I answered them shortly. Deep down, I felt they pitied me for the situation that I went into and wondered what kind of “craziness” that I got so I had to end up here.

I was so insecure that those complimenting remarks could not go inside my head. Actually, I had always been an insecure person that any form of chit-chat that telling me how smart, slim and beautiful I was made me kinda bored. Someone who always told me how beautiful I was turned out looking for a kiss from another woman. It made me even more insecure.

Everyday, the nurse and the doctor asked about my condition. Did I sleep well? What kind of dream came last night? Did I drink enough? Did my cognitive already recover (the answer was of course not yet)? Or, did I worry about some things?

I answered them honestly. About the unusual dreams that brought a man that I missed so much. A dream about those monsters that chased me. Another dream on how desperate I was to continue my life. The night before, I also had a dream of meeting a celebrity in a gathering, only later it turned out into another misfortune by the coming of my junior high school friends who once bullied me. Later on, it became another meeting with a man that I missed very much. He acted so sweet, and even carried me on his back. Meanwhile in reality, he could not do that and it made me think that I was fat when actually my weight was okay. He was just too skinny and didn’t like to do sport.

Of course I had worries. My worries about the outside world made me stay there for a longer time. Actually, I could just lie by telling them that I got far better than before. But it would have made my situation more complicated. I had to admit that I did need their help. I wanted to get better.

I also got anxious from thinking about who I should share my taste in music and movies with. Or about who I should ask for help whenever loneliness struck me when I ran my unproductive life. Together with the financial problems that had been strangling me everyday.

This sickness made me confused. My doctor said it was part of the symptom, and what I felt was truly valid. In this place, no one asked me to deny what I felt. No one said that everything that I had been through was only me being dramatic. Everyone was so understanding and they made me feel safe. Yet, it also increased my fear of how I would face the outside world later on.

I felt like I was Naomi from Murakami’s Norwegian Woods. She was also desperate. But, I didn’t want to end my life just like her. Reading that novel made me think that the person I loved was not like Watanabe, but more like Nagasawa who was very selfish, loved to hunt women and planned to leave his lover without considering her feelings.

I was so tired to get through that pain. I wanted to get well. I ate, slept and swallowed my medicines regularly. I woke up, finished my breakfast, took a shower and around 11-12 pm, I would play with my cell phone that was normally being taken away by the nurse. After that, I got some afternoon nap or read some books. Normally, I would wake up around 4 or 5 pm, then I asked if there was anyone who came to visit me. I would hold my phone again from 6-9 at night. I played some games, replied whatsapp messages and scrolled my instagram feeds.

Mbak Umu was my regular visitor. She would bring me clean clothes, and took my dirty clothes for washing. I felt so guilty for being her burden, but I had no other choice. She was the most reasonable person that I could hang on to at that moment.

I truly forget how to live a normal day in the outside world. I still felt stuck in many ways. But I felt that I had tried to get better. Someday, I would be very healthy that I could pay back all the good deeds that I received when I was sick.

May, 29 2018

Original Indonesian Post: Ketika Sakit 
Translator: Yusni Aziz

1am Thoughts

People say, “if you don’t love yourself, how can you be loved by others?”

Yes, that sentence seems valid.

So, how about the depressed people who fail to love themselves?

How about the depressed people who at any time are afraid that others will see them with bad 
judgments, as they have seen themselves all this time?

Are they not entitled to be loved by others?

June, 29th 2017

Translator: Yusni Aziz

Rabu, 29 Januari 2020

Sebuah Cerita tentang Si Sedih

Aku terbangun lagi pada pukul 3 pagi oleh pikiran-pikiran aneh tentang hal yang sudah aku lupakan sesaat setelah membuka mata. Jika hal itu penting sekali, kenapa aku harus lupa? Jika itu bukan persoalan penting, kenapa aku harus sampai terjaga?

Aku menghubungi Ben, melaporkan padanya bahwa aku terbangun. Ia selalu memperhatikan jam berapa aku mengirim pesan padanya sehingga ia bisa mengatakan sesuatu yang menguatkan. Biasanya, ia akan bangun pada pukul lima pagi -jauh lebih dulu dari aku- dan berusaha meneleponku. 
Sayangnya, pagi itu ia telat bangun. Aku bangun pada pukul lima saat alarm berdering dan dengan sigap mengeluarkan sayuran dari kulkas untuk aku masak. Aku mengizinkan hatiku sedih, tapi setidaknya, aku ingin tubuhku sehat. Sayuran terbaik adalah yang dimasak dari dapur sendiri sehingga kesegaran dan kebersihannya terjamin. Maka inilah yang aku lakukan. Bangun pukul lima pagi demi memasak bekal untuk diri sendiri dan pasangan.

Di telepon, Ben bilang bahwa begitu selesai mandi, ia akan bergegas menuju kostku. Aku tak memintanya, tapi ia berjanji akan mengantarku ke kantor hari ini. Ia tahu suasana hatiku sedang tak bagus, maka ia ingin memastikan bahwa aku tak merasa sendirian. Lagipula, hari itu ia masuk siang sehingga punya banyak waktu mengantarku. Ia mengatakan berkali-kali bahwa mengantarku tidak merepotkan sama sekali.

Menurutku, mengantarkan aku ke kantor sangat merepotkan. Karena ia harus bangun lebih pagi, mandi lebih cepat, dan rumahnya bahkan ada di luar provinsi Jakarta! (baca: Sawangan, Depok). Jarak rumahnya (Ehm, sebenarnya dia selalu menyebut rumahnya sebagai "rumah kita berdua" sekalipun ia membelinya jauh sebelum bertemu denganku) ke kostanku kira-kira 27km dengan motor. Jarak rumahnya (rumah kita! :D) ke kantorku kira-kira 34km. Sedangkan dari kantorku menuju kantornya sekitar 13km. 

Kalau bukan cinta, aku tak tahu lagi dengan apa menamakannya.

Selain ingin lebih sehat, pagi ini aku masak untuk menenangkan pikiran. Dulu masak selalu jadi sarana untuk healing. Namun, setelah aku mengkomersialisasikan masakanku untuk dijual, masak jadi rutinitas yang melelahkan. Bahkan, mengolah makanan yang sama berkali-kali tak membuat masakanku makin hari makin enak. Ada kalanya masakanku sangat enak dan mendapat pujian banyak orang. Ada kalanya aku salah takar dan salah langkah sehingga ada kekurangan di sana-sini. Jika ingat soal lelah dan apa yang aku hadapi saat itu, yang tersisa hanya trauma. Aku juga heran kenapa terlalu mudah menyebut sesuatu dengan trauma. Ben yang membuang semua sisa makanan dan bahan-bahan warung yang tersisa di kulkas setelah dua bulan tak berani aku sentuh sama sekali. Aku bilang padanya bahwa aku trauma, Ben menanggapinya dengan santai. Toh ada banyak pelajaran dan kita tidak rugi.

Ia datang saat aku selesai membungkus bekal untuk kita berdua. Nasi Merah, Ayam Bumbu Bali, dan Tumis Kangkung. Sepertinya ia senang melihatku tampak baik-baik saja. Sambil mengucapkan terima kasih, ia membawa bekal makan kami baik-baik sambil menandai tempatnya agar tak tertukar. Aku memang memasukkan lauk lain ke dalam bekalku, lauk yang Ben tidak ingin memakannya: Oseng Paru dan Sambel Goreng Kentang Ati ayam. Ibu kost yang memberiku lauk itu ke semua anak kost semalam. Ben tak akan mau memakan lauk di dalam bekalku karena ia memang sangat menjaga kesehatan dengan tidak makan jerohan dan segala yang berkolestrol tinggi. Termasuk kulit ayam! Kadang ia melarangku makan makanan tertentu agar aku selalu sehat. Tapi kadang ia bilang aku harus bisa mengatur pola makanku sendiri. 

Saat berpisah dengannya di depan kantorku, aku mengucapkan banyak terima kasih padanya. Ia melepas helm full facenya untuk memperlihatkan senyum dan mengatakan bahwa aku terlihat sangat cantik. Itu pujian cantiknya yang ketiga sepagi ini. 

Aku melangkahkan kaki ke kantor dan segera menuju mesin absensi untuk menyerahkan sidik jari ibu jariku di sana. Aku lega bahwa aku punya banyak waktu bersantai hari ini sebelum jam kerja dimulai. Setidaknya untuk menyiapkan mental setelah aku menggunakan izin sakitku di awal minggu untuk menenangkan diri dari relaps yang tak jelas triggernya.

Beberapa waktu berlalu, Ben bilang, ia sudah sampai. Aku tidak mengecek berapa lama perjalanannya. Ia mengeluhkan soal macet tapi bersyukur bahwa ia bisa sampai dengan selamat. Lelaki itu memang punya kebiasaan baik dengan selalu mengucap rasa syukur setelah ia secara tak sengaja melontarkan kalimat keluhan. 

Misalnya, pernah suatu hark aku mengeluh makanan di sebuah warung yang tidak enak. Aku mengatakan apa adanya bahwa makanan itu tidak enak. Tapi ia langsung mengingatkan bahwa setidaknya kita sekarang tahu rasa makanan itu karena kita sudah dimampukan Tuhan untuk membelinya, lagipula kita tidak sakit saat makan makanannya sehingga kita makin punya banyak alasan untuk tetap bersyukur. Jika aku tak menghabiskan makanan karena memang tidak enak, ia akan menawarkan makanan lain yang rasanya lebih enak agar membuatku merasa lebih baik. Ia bukan orang yang memaksa orang lain untuk menghabiskan makanan, ia tipe yang meminta seseorang berhenti makan jika sudah kenyang. Maka, jika aku belum kenyang karena tidak sanggup menghabiskan makanan yang mengerikan, ia akan menyarankan aku untuk makan kudapan yang aku suka agar lebih kenyang. Aku biasanya akan memperlihatkan mimik yang tampak mencibir dia yang terlalu positif dalam memandang sesuatu yang menurutku sulit untuk dibela. Kadang ia setuju bahwa makanan itu tidak enak, tapi tetap saja sebaiknya kita tidak terus menerus mengeluhkannya. Hingga suatu hari dia bilang, "sayang, mungkin pas masak ini, kokinya udah lelah. Kamu kan pernah merasakan bahwa masak itu melelahkan. Gaji dia mungkin juga kecil, kebutuhannya banyak. Maafkan kokinya ya. Nanti kita cari makanan lain buat kamu biar kenyang."

Cara Ben tepat untuk membuatku berhenti mengeluh. Aku mudah menangis saat membayangkan bahwa ada seseorang yang sudah lelah bekerja hanya dibayar dengan upah minim. Aku memang tak bisa memverifikasi informasi seputar besarnya gaji si koki di resto/warung makan yang kami kunjungi. Aku tak tahu apakah ia dibayar layak atau tidak. Tapi membayangkannya saja sudah cukup membuatku diam. Ben benar, masih ada banyak hal yang patut disyukuri.

Aku mengingat baik-baik adegan itu. Menanamkan lekat-lekat di ingatan. Aku mengingat pujiannya hari ini padaku. Aku belum melakukan hal buruh hari ini. Hari ini masih terlalu pagi untuk dirusak dengan hal-hal yang tidak baik.

Di kantornya, Ben bilang bahwa bekal makan yang aku buat juga sangat enak. Aku tersenyum senang karena bisa berguna untuknya setelah ia berbaik hati mengantarku ke kantor.

Hari ini pekerjaanku juga tidak sulit. Rekeningku sangat aman, makananku  bergizi. Tapi sepertinya otakku masih gagal memproduksi endorfin, sekeras apapun aku mencobanya.

Aku bersyukur, tapi kenapa kesedihan ini tak pergi? Aku lebih beruntung dari banyak orang di dunia, tapi kenapa aku masih ingin terus-terusan menangis? Aku punya banyak waktu untuk istirahat, tapi kenapa aku selalu lelah? 

Aku merasa tidak punya masalah apapun, tapi kenapa aku merasa bahwa akan lebih baik aku tidak ada di dunia ini? Jika aku merasa jadi sel sperma pemenang di dalam ovum ibuku, tapi kenapa si pemenang ini punya mental yang sangat lemah? 

Aku membayangkan jika tiba-tiba saja aku tak muncul lagi selamanya di kantor ini lagi? Dengan mudah, aku akan mulai tergantikan dengan seseorang yang lebih muda dan lebih kompeten daripada aku, rekan kerja akan bergaul dengan sesamanya seperti biasa, mirip situasi kantor sebelum kedatanganku di sini. Ditambah, aku sudah mundur di banyak lingkaran pergaulan sehingga kehadiranku tak pelan-pelan tidak signifikan lagi di manapun.

Ben adalah lelaki yang sangat baik, ganteng, pekerja keras, lucu, dan bertalenta, akan ada banyak perempuan yang mau dengannya. Mentalnya juga sangat kuat, dia akan baik-baik saja.

Sungguh aku kecil. Tak signifikan, dan mudah tergantikan. 

Aku pikir, jika seseorang memang harus merasakan sedih, setidaknya ia harus punya alasan mengapa perlu bersedih dan menangis. 

Sayangnya, dalam situasi sekarang, aku tak menemukan sebabnya.

Halo Dokter, apakah sudah waktunya kita bertemu lagi?

Halo Banu, apakah kamu siap menjalani terapi dan medikasi panjang lagi?

Selasa, 14 Januari 2020

Soal Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu di Film Frozen 2

Ini adalah sebuah tulisan yang sangat terlambat untuk sebuah review film. Tapi, sebagai sebuah sikap politik, tak ada yang terlambat dari penyelesaian sebuah kasus.

Belakangan ini, Menkopolhukam lagi cari formula yang tepat untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu. Makanya, ujug-ujug Mahfud mulai ngomongin soal menghidupkan kembali Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) untuk kasus pelanggaran HAM masa lalu. Sayangnya, Mahfud nggak menjelaskan KKR seperti apa yang ia maksud. Apakah seperti Undang-Undang KKR tahun 2004 yang dibatalkan Mahkamah Konstitusi tahun 2006 itu? Emang sih, RUU KKR masuk dalam Prolegnas DPR tahun 2020 nanti, tapi konsepnya kayak apa, belum ada kejelasan. Bahkan bentuk RUUnya kayak apa juga belum keliatan barangnya.

Sebenarnya, buat gambaran penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu ini, kita bisa jadiin film Frozen 2 sebagai inspirasi.

Di film, ratu Elsa dan Putri Anna dari kerajaan Arendelle menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang dilakukan kakeknya ke suku ingenious Northuldra lewat proses non yudisial. Kalau di Indonesia sih, UU no 26/2000 pasal 43 bilang kalau kasus pelanggaran HAM masa lalu mestinya diselesaikan lewat pengadilan HAM Ad Hoc. Ada alternatif penyelesaian kasus lewat jalur ekstrayudisial dengan pengungkapan kebenaran dan pemenuhan hak asasi korban berupa hak atas kebenaran, keadilan, dan pemulihan.

Buat yang jadi mengernyit kenapa film Frozen malah soal pelanggaran HAM masa lalu, baiknya kalian memperhatikan detail saat Anna dan Elsa melakukan penyelidikan masa lalu deh.

Kakek Runeard dan pasukannya bersenjata lengkap saat memerangi suku Northuldra. Pihak yang mengawali pembantaian dan pembangunan infrastruktur bendungan yang tak sesuai amdal itu adalah kerajaan Arendelle. Pembangunan itu merusak alam, hubungan antar suku dan kerajaan, dan seperti yang dibilang anak muda Northuldra, “sudah 34 tahun kami tidak bisa lihat langit yang cerah.” Suku Northuldra sebagai korban pelanggaran HAM ini terlihat masih trauma dalam banyak hal karena kondisi hutan mereka yang indah belum pulih seperti dulu. Karena peristiwa 34 tahun lalu, anak cucu yang tak mengalami kejadiannya ikut kena getahnya.

Kondisi hutan Enchanted itu mirip sama kasus pelanggaran HAM masa lalu Indonesia, berkabut, gelap, dan tak ada yang tahu kebenarannya. Seolah tak ada harapan bagaimana cara untuk memperbaikinya sebelum ada inisiatif (political will) dari Ratu Arendelle untuk memperbaiki kerusakan yang dilakukan oleh pendahulunya.

Elsa yang gelisah mendengar suara-suara aneh mengorbankan dirinya sendiri demi terjadinya peristiwa pengungkapan kebenaran. Ia harus menerjang laut, terperosok ke dalam ruang gelap dan bahkan sang ratu es pun sempat membeku. Anna juga nggak tinggal diam. Setelah tahu fakta sejarah bahwa yang salah adalah kakeknya, ia menyadari bahwa harus ada yang bertindak. Tidak mungkin menunggu Elsa dulu. Anna berusaha menghancurkan bendungan dan meyakinkan militer kerajaan untuk lebih loyal pada kemanusiaan dibanding legacy kakeknya.

Setelah proses pengungkapan kebenaran dilakukan, Elsa melakukan rehabilitasi ke suku Northulda sesuai dengan permintaan mereka, yaitu tinggal di hutan tempat asal ibunya itu. Seolah Elsa sedang melakukan tanggung jawabnya bahwa proses pemenuhan hak korban harus sesuai dengan keinginan dan memenuhi kepuasan korban pelanggaran HAM.

Di Arendelle, Anna juga bikin patung memorialisasi bapak dan ibunya sebagai pengingat bahwa peristiwa antara Arendelle dan Northuldra pernah terjadi.

Cara penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu yang dipraktekkan oleh Elsa dan Anna ini sesuai juga dengan rekomendasi PBB soal perlunya membentuk Komisi Kebenaran setelah sebuah negara mengalami konflik. Selain itu, pengungkapan kebenaran juga harus memberikan hak asasi korban berupa pelurusan sejarah, pemulihan secara personal, psikososial, dan kolektif, jaminan ketidakberulangan peristiwa, serta membangun ulang hubungan tanpa kekerasan antar-individu.

Survey Komnas HAM dan Litbang Kompas bilang, kalau sebagian besar rakyat Indonesia (99,5%) pengen pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan. Survey yang dirilis Rabu (4/12/2019) lalu ini bikin ingatan publik kembali ke komitmen awal Jokowi tahun 2014 lalu soal penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Saking pentingnya isu itu, Jokowi sampai mengukuhkannya dalam agenda Nawacita. Walau ya… Nggak ada progres sama sekali.

Banyak orang yang menunggu presiden untuk ngomongin penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu di periode 2 kepresidenan ini. Rasanya, periode kedua ini beda banget dari yang pertama karena penyelesai an kasus pelanggaran HAM masa lalu nggak disebut-sebut lagi dalam rencana program kerja capres, debat presiden, bahkan nggak ada di dalam pidato kepresidenan Jokowi laiknya Nawacita dulu. Abstainnya Pak Jokowi dari topik pelanggaran HAM masa lalu ini bikin kita semua bertanya-tanya. Jadi, masalah pelanggaran HAM masa lalu ini cuma jadi bahan kampanye aja?

Jangan sampai, bentuk KKR itu kaya Deklarasi Damai kasus Talangsari yang kata Ombudsman maladministrasi karena nggak sesuai UU no 26 tahun 2000 soal penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu. Mana mungkin ada deklarasi damai kalau tidak melibatkan korban dan keluarga korban pelanggaran HAM itu sendiri?

Karena Indonesia nggak punya Elsa dan Anna, maka Indonesia perlu Komnas HAM yang lebih aktif cari alternatif gimana caranya berkas penyelidikan kasus pelanggaran HAM masa lalu ini bisa ditindaklanjuti sama eksekutif dan yudikatif. Kalau kejaksaan menolak berkasnya karena alasan yang nggak jelas, maka menkopolhukam dan presiden mesti bertindak tegas. Butuh banyak pengorbanan, keberanian, dan lebih dari sekedar political will untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang menumpuk di Indonesia ini.

Ayo Pak Jokowi dan Mahfud, berani nggak?

Minggu, 22 Desember 2019

Bagaimana Mungkin

Pukul 2 pagi, wajahmu melintas di pikiran. Ini sangat aneh. Pikiran itu timbul di saat aku ingin merawat baik-baik yang sudah ada. Aku berusaha keras merapal kembali rasa syukur dan memegang erat segala sesuatu yang sudah ada di genggaman.

Kenangan memaksaku untuk melintasi hari-hari yang kita lewati dengan canggung. Pagi hari tanpa ucapan selamat pagi, tengah hari tanpa ajakan makan siang, dan kepulangan tanpa salam perpisahan.

Terlalu lelah untuk menghindarinya. Tapi harus.

Aku membayangkan kita berdua bisa menjelaskan kenapa interaksi kita jadi terlalu canggung satu sama lain. Aku tidak ingin gelisah sendirian dan ingin menemukan jawabannya. Sementara aku menjalani peranku di realita, aku akan melipat baik-baik gambarmu di pikiranku dan mendaras doa-doa baik untukmu. Itu semua aku lakukan demi membelokkan pikiranku yang sering mempertanyakan, "kenapa baru sekarang?" 

Aku perlu lebih keras pada diri sendiri bahwa ini adalah skenario terbaik yang bisa aku jalani.

Begitulah, pada akhirnya aku harus bilang pada diri sendiri, "Pikiran tentangmu sangat sia-sia dan aku ingin segera mengakhirinya."

Rabu, 16 Oktober 2019

Takut

Aku takut pada kesendirian pukul 12 malam. Waktu di mana kepalaku riuh di saat seharusnya aku tidur. Kesendirian merengkuhku erat-erat hingga tubuhku sakit dan leherku tercekik. Percayalah, aku tak berniat sama sekali merasakan ini semua.

Aku berusaha mengusir riuh di dalam pikiranku hingga tertidur kelelahan. Esoknya, alarm ponsel akan bunyi pada pukul lima pagi. Aku akan mematikan alarm tersebut sambil mengetik, "selamat pagi sayang," pada Ben. Lelah sisa semalam akan membuatku mengantuk lagi pada menit selanjutnya. Siklus itu sudah berlangsung selama dua minggu dan aku kesepian makin meluluh lantakkan etos kehidupan. Kini aku serupa daging yang tak pernah meninggalkan pembaringan dan takut pada terik matahari.

Aku hanya kesepian.

Aku tahu bahwa Ben akan menelepon setiap pulang kerja, akan tidur, dan bangun tidur nanti. Tapi kehadiran virtual tak bisa menuntaskan kesepianku yang membutuhkan eksistensi seseorang secara nyata di sini. Karena hanya dengan kehadiran, kepalaku bisa benar-benqr tenang.

Aku tak mengerti kenapa harus seperti ini. Ini adalah sebuah dilema tanpa solusi. Rasanya aku ingin tidur panjang dan terbangun di pertengahan tahun 2020 di saat aku tidak perlu menelan pahit kesepian seperti ini.

Aku terdengar manja, tapi bukan ini mauku sebenarnya. Tidak ada satupun yang bisa menolongku dari perasaan mencekam ini.

Aku sudah terlalu lelah untuk bisa menolong diri sendiri.

Jumat, 11 Oktober 2019

Noceur*

Malam ini aku berjanji pada Ben akan tidur tepat waktu. Kami sudah saling mengucapkan selamat tidur lewat telepon sambil berjanji bahwa besok akan berjumpa pada pukul delapan pagi, sebelum ia berangkat kerja. Berbeda denganku yang jadwalnya sering tidak menentu, Ben selalu mengantuk pada pukul 10 dan akan mulai tidur pada pukul 11 malam. Pada pukul 4:30, ia akan bangun tidur dengan rasa syukur dan mengucapkan selamat pagi padaku lewat whatsapp. Hal itu sudah dilakukannya hampir setiap hari selama setahun lebih kami bersama.

Setiap hari aku berjanji pada diri sendiri akan hidup lebih baik dari hari kemarin. Aku membayangkan diriku akan tidur tepat waktu seperti jam tidur Ben dan bangun dengan bugar pada pukul lima pagi untuk hidup lebih produktif. Badan dan mataku lelah, pikiranku tak mau istirahat. Selalu ada peristiwa-peristiwa buruk yang terlintas yang melumpuhkan kemampuanku untuk menuntaskan komitmen pada diriku sendiri.

Ada perasaan gagal sebagai manusia yang mestinya bersetia pada ucapnya sendiri. Seperti malam ini, aku gagal tidur tepat waktu lagi. Persoalan sepele namun begitu fundamental untuk kesehatanku.

Aku mencoba berkompromi pada kepala agar ia mau diajak tenang dan istirahat. Setiap kali ada pikiran buruk, aku merapal mantra yang dibisikkan Ben tiap kali situasinya mencekam. "Banu rajin. Banu cerdas. Banu mampu menghadapinya. Banu berharga. Banu cantik. Banu disayang sekali sama Benget. Benget sayang sekali sama Banu. Banu masakannya enak. Banu baik sekali. Banu perempuan kuat. Banu kesayangan Benget. Banu beruntung. Banu sehat..." dan seterusnya. Seringkali Ben membimbingku untuk mengucapkannya pelan-pelan.

Hari ini ada beberapa peristiwa besar yang melintas di media sosial. Aku mengucapkan ulang tahun pada Naruto, bergembira dengan kemenangan tolak reklamasi Teluk Benoa, dan bersedih dengan meninggalnya Akbar Alamsyah yang jadi martir demokrasi. Menyebalkannya lagi, aku membaca sebuah poster "budaya" di mana Sitok Srengenge satu panggung dengan Gus Mus yang mengingatkanku pada rasa getir bahwa senelangsa apapun korbannya, pemerkosa dan pelaku pelecehan seksual akan tetap baik-baik saja. Aku jadi benci pada diri sendiri kenapa aku tidak mampu jadi baik-baik saja sementara orang yang menyakitiku mungkin sedang bahagia dengan karir dan segala privilesenya. Padahal aku sudah bersama seseorang yang jauh lebih baik, tapi kenapa luka tetap menganga tak lekas pulih.

Ada banyak hal prioritas di dunia ini. Aku terlalu kerepotan menjalani prioritas dasarku seputar makan cukup, tidur teratur, dan kerja dengan semestinya. Aku merasa gagal, tapi lagi-lagi Ben akan mengingatkan "Banu mampu, Banu pintar, Banu sehat, Banu cantik..." sampai aku berhenti menangis.

Pikiran liar soal hal-hal minor menyanderaku sampai pukul tiga pagi dini hari. Aku bukannya ingkar janji pada Ben untuk tidur pada pukul 11 malam ini, kali ini aku hanya kalah pada keriuhan pikiranku.

Besok lagi, aku berjanji lagi akan lebih bisa menjinakkan pikir dan mengistirahatkan tubuh. Agar aku tak perlu minta maaf padanya soal mengingkari janji pada diri sendiri dan padanya bahwa aku baik-baik saja.

Aku akan sangat mengantuk saat ia datang nanti. Sedangkan dia akan selalu maklum dan mengerti. Ceritanya selalu seperti itu.

Setidaknya, besok, dalam sejenak, hidup akan terasa baik-baik saja sampai punggungnya hilang di pintu kamar pada pukul sepuluh pagi dan deru motornya makin menjauh.

Lalu, saat pikiranku mulai mengatakan hal aneh lainnya, aku akan kembali merapal kembali mantra Benget padaku, "Banu baik-baik saja. Banu kuat. Banu mampu. Benget sayang sekali sama Banu. Banu bisa bertahan. Banu hebat..."

)* Noceur : Noun, one who stays up late