Sabtu, 16 Februari 2013

Bagaimana Kebebasan Pers di Iran??

Aku dari dulu bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya gimana sih bentuk pers di Iran. Aku banyak mendengar bahwa di Iran nggak ada yang namanya kebebasan bersuara, kebebasan berekspresi. Orang yang nyeleneh dikit di Iran bisa di penjara dan bisa dituduh sebagai antek asing.

Sebagai orang yang skeptis, aku masih terus menggali informasi bagaimana pers Iran bersuara. Aku tidak pernah merasa harus percaya informasi begitu saja dari orang. Kalau aku cuma ngandelin browsing di Intenet, aku akan mendapati lebih banyak yg kontra sama Pemerintahan Republik Islam Iran daripada yang pro. Sehingga aku sudah menyangka akan menemukan lebih banyak hal-hal buruk tentang Iran. Iyalah, kan embargo dan boikot politik bikin Iran di serang sama media mainstream dunia. 

Penasaranku makin meluap ketika di facebook Pak Zen Aljufri terposting sebuah foto dengan kata-kata yang cukup provokatif dan membuatku tersentak :

"Dibawah rezim tiran Iran saat ini, negara itu nyaris tidak ada yang namanya kebebasan press dalam memberitakan apa yang sebenarnya terjadi. Anda memang bebas bersuara lantang disana, tapi bebas untuk mengkeritik rezim Saudi Arabia dan negara-negara Arab lainya misalnya, anda juga bebas mengkritik Amerika dan Israel sekeras-kerasnya, bohong sekalipun tidak masalah tapi jangan sampai mengritik pemerintah Iran sendiri, misalnya anda menulis laporan semakin banyaknya angka pengangguran di Iran, andapun bisa menganggur bertahun-tahun dalam ruang tahanan dengan tuduhan macam-macam dari mulai mata-mata asing hingga dituduh akan menggulingkan pemerintah yang sah, dan jangan tanya kenapa, pasal anda akan bertambah..!"


Sebagai orang yang bergelut di duni pers, tentu saja kata-kata tersebut akan menyulut "kemarahan". Tapi, kita tidak perlu menamakan diri kita insan pers kalau kita tidak mengecek informasi dari dua sisi.

Maka aku langsung menanyakan hal terkait kebebasan pers di Iran kepada Pak Saleh Lapadi lewat wall Facebook nya. Pak Saleh Lapadi ini adalah wartawan IRIB (Islamic Republic of Iran Broadcasting) yang sekarang masih tinggal di Iran.

Begini jawaban beliau :

Salam, saya termasuk yang jarang mendengar tentang jurnalis pengritik pemerintah yang sering hilang atau dibunuh. Kasus terakhir tentang seorang jurnalis yang kemudian meninggal di penjara juga insiden dan terjadi kesalahpahaman antara sipir penjara dan sang jurnalis itu. Karena dia punya penyakit dan membawa obat. Karena tidak ada resepnya bersama obat-obatan itu makanya kondisinya tambah parah. Memang juga ada pemukulan, tapi bukan karena pemukulan murni yang membuatnya tewas. Ini satu masalah...

Terkait jurnalis yang mengkritik pemerintah. Mungkin orang jarang tahu bahwa di masa Ahmadinejad inilah pemerintah membuka diri dikritik oleh para jurnalis. Sebelum Ahmadinejad tidak ada presiden yang dibuat gambar karikaturnya. Selain itu, setiap harinya kita bisa membaca tentang kritikan para jurnalis kepada pemerintah. Bahkan IRIB yang menjadi media nasional pun setiap malamnya mengritik pemerintah terkait kebijakan maupun pelaksanaan. Saya ingin mengatakan IRIB itu di bawah Rahbar, sementara media pemerintah ada IRNA dan sejumlah koran serta situs. Sementara ketika berbicara tentang situs, maka jangan tanya kritikan terhadap pemerintah.

Masalah ketiga, terkait penangkapan dan pemenjaraan jurnalis atau siapa saja yang bersalah tidak ada hubungan dengan pemerintah. Karena itu kewenangan Pengadilan dan Mahkamah Agung. Penasihat Media Presiden Ahmadinejad saja dipenjara apalagi para jurnalis yang tidak memiliki jabatan, selama melakukan pelanggaran. Saya sendiri heran, mengapa kritikan tidak dialamatkan kepada Mahkamah Agung atau lembaga peradilan Iran.

Masalah keempat, polisi juga tidak dibawah pemerintah, tapi bertanggung jawab kepada Rahbar. Lalu dimana kesalahan pemerintah? Ketidaktahuan birokrasi di Iran ini membuat banyak orang salah paham dan menganggap segalanya merupakan kesalahan pemerintah. Padahal tidak demikian.

Ketika aku menyinggung tentang foto yang di posting oleh Pak Zen Aljufri, beliau menjawab lagi :

Pelanggaran berarti menyalahi aturan dan undang-undang. Saya kira masalahnya sederhana. Dan ini bukan masalah opini, tapi masalah hukum. Berarti yang memutuskan adalah pengadilan. Ini hal pertama. Yang kedua, untuk batasan-batasan pelanggarannya, harus dengan melihat undang-undang. Silahkan mencari mengenai perundang-undangan mengenai masalah ini atau kode etik jurnalistik Iran.

Belum terpuaskan dengan jawaban Pak Saleh, aku pun bertanya tentang kode etik jurnalistik Iran yang berlaku. Karena sebelumnya juga sudah googling, aku malah menemukan situs International Jurnalist Network atau Ijnet. Disana memuat wawancara Masoud Behnoud tentang etika jurnalistik di Iran. Sekarang Behnoud tinggal di UK. 

Kepada pak Saleh, aku mengutip pernyataan penting yang diucapkan Behnoud terkait kebebasan pers ini. Di wawancara itu, Behnoud berkata : kalau di luar negeri, ada jurnalis yang salah mengutip presiden, jurnalis itu cukup meminta maaf. Tapi kalau di Iran, jurnalis bukan hanya bisa dipenjarakan. Tapi kantor berita nya juga bisa di bekukan.

Ketika aku tanya tanggapannya, Pak Saleh menjawab :

Belum pernah mendengar koran dibredel di dunia ini, selain Iran? Saya kira tidak. Ini adalah hal yang wajar terjadi di mana-mana. Di Iran menyinggung SARA dibredel dan tidak main-main. Karena dampaknya tidak kecil. Dan ketika ada media, apapun itu, akan ditutup. Tidak ada itu yang namanya "Wani Piro" untuk masalah ini. Belum lagi, bila pemerintah tidak menutup izin penerbitannya, maka pengadilan akan turun tangan memperkarakannya. Jadi, ketika sudah masuk masalah hukum, tidak ada lagi opini. Mengapa para jurnalis ini ditangkap dan dipenjarakan. Anda melanggar dan kalau melanggar akan ditindak dan dipidanakan. Selesai. Nah, masalah HAM akan muncul ketika diperlakukan tidak benar, tidak diberi pembela dan lain-lain. Tapi siapa saja ketika melanggar harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Perbandingan yang disebutkan juga sangat TIDAK ADIL. "Ketika di luar Iran ada yang salah mengutip presiden, jurnalis itu cukup meminta maaf. Tapi kalau di Iran, jurnalis bukan hanya bisa dipenjarakan" Ini sebuah perbandingan yang sangat TIDAK ADIL. Karena di Iran salah mengutip presiden bila tidak diadukan tidak masalah. Ketika diadukan dan meminta maaf juga tidak seperti yang dianggap bakal dipenjarakan. Bila sampai dipenjarakan juga tidak lama. Dia bukan membunuh sehingga harus digantung atau dipenjarakan 15 tahun misalnya. Saya kira terlalu dibesar-besarkan saja. Sama satu yang tidak pernah dikaji bahwa kebanyakan para jurnalis ini adalah AGEN ASING...

Setelah sampai pada kata AGEN ASING yang ditulis dengan huruf kapital dan aku pertegas lagi dengan bold, maka, kita menemukan jawabannya. Bahwa yang paling tahu tentang hal ini sebenarnya hanyalah Intelegen. Karena kinerja Intelegen tidak dapat diketahui. Dan Intelegen Iran punya standar tersendiri tentang keamanan stabilitas negara. 

Jika menyangkut AGEN ASING, Iran adalah juaranya dalam "mengadili" orang yang terbukti sebagai agen asing. Intelegen Iran adalah orang yang dilatih khusus untuk menjaga semangat Revolusi  di Republik Islam Iran. Konon, Intelegen Iran adalah salah satu lembaga yang paling kuat disana.

Seputar Kontroversi Boikot dan Oposisi
Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman yang pernah belajar di Iran dan menanyakan bagaimana pendapat dia tentang kaum oposisi yang sering ditahan oleh pemerintah Iran. Dia jawab, "Kaum oposisi ini kebanyakan adalah mayoritas orang kaya yang merasa dirugikan secara bisnis kalau Iran independen secara ekonomi. Karena bisnis mereka jadi mati karena embargo. Diskusi sama mereka itu ngeselin. Kebanyakan cuma mikir kantong pribadi. Nah, orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak mengerti cita-cita luhur Revolusi Islam Iran. Sekali lagi, permasalahan mereka hanya seputar mikir kantongnya sendiri. Tapi lihat kelas menengah dan miskin Iran, kebanyakan mereka senang dengan Republik Islam Iran. Jangan lupa bahwa 98% penduduk Iran saat referendum memilih Republik Islam sebagai bentuk negara. Nah, yg suka protes-protes ini adalah yang 2% nya."

Sebenernya, aku masih belum puas dengan pendapat-pendapat diatas. Aku sendiri masih diombang-ambingkan dengan diskusi yang pernah terjadi di kelas tentang kebebasan berekspresi. Saat Pak Ihsan Ali Fauzi bertanya ke mahasiswa apa isu utama yang sedang terjadi di dunia ini yang berhubungan dengan kelas kita, aku menjawab tentang isu bahwa Press TV yang merupakan saluran berita punya Iran itu di boikot di seluruh Eropa sampai ada gerakan #SavePressTV.

Pak Ihsan saat itu bilang bahwa kebebasan berpendapat sangat penting. Seharusnya Press TV tidak boleh di bredel. Walau dia kurang tahu bagaimana proses sebuah satelit tertentu memboikot tayangan TV, tapi masalah kebebasan pers adalah sesuatu yang penting dan harus diperjuangkan. Tapi poin pentingnya adalah, jika Iran tidak mau Press TV di boikot di Eropa, seharusnya pemerintah Iran juga tidak sering memboikot atau melakukan filter-filter tertentu yang menghalangi proses kebebasan pers disana. Kalau nggak mau diboikot, ya jangan suka memboikot. Sederhananya gitu.


Well, masalah ini masih berputar-putar di kepalaku. Aku masih belum menemukan titik temu tentang kebebasan pers ini. Tulisan ini di turunkan bukan untuk membela pendapat siapa-siapa. Juga bukan ingin mengatakan bahwa aku lebih tahu situasi disana daripada orang lain. Tulisan ini justru menunjukkan bahwa aku tidak tahu. Dan dengan ini, aku ingin mengetahui kebenarannya bagaimana kebebasan pers berlaku disana. Untuk apa? Karena aku...

Penasaran

Itu aja.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.