cerita tentang remah-remah

Selasa, 20 Desember 2011

MIMAMSAKA, ALIRAN UTAMA FILSAFAT INDIA (Makalah Abdul Hadi WM)



            Dalam tradisi filsafat India terdapat enam sistem atau madzab yang diakui sebagai sistem yang baku atau ortodoks. Disebut demikian karena sumbernya kitab Veda. Keenam sistem itu dapat dikatakan saling melengkapi satu dengan yang lain karena membicarakan bidang persoalan berbeda-beda. Dari enam sistem inilah kemudian berkembang aliran-aliran filsafat yang aneka ragam sepanjang sejarah.



           Keenam sistem itu disebut Sad Darsana Samgraha atau Enam Madzab Kearifan. Pertama, filsafat Nyaya; kedua, filsafat Vaiseshika; ketiga filsafat Samkhya; keempat filsafat Yoga; kelima filsafat Mimamsaka atau Purva Mimamsa; dan keenam filsafat Vedanta atau Uttara Mimamsa. Filsafat Nyaya menumpukan pembicarakan pada logika atau argumentasi logis. Filsafat Vaishesika pada fisika. Filsafat Samkhya disebut teori evoolusi. Filsafat Yoga membicarakan masalah bertalian dengan disiplin diri. Mimamsaka ada penafsiran hermeneutk terhadap kitab Veda bagian permulaan. Vedanta membicarakan masalah ketuhanan dan metafisika dan didasarkan atas bagian terakhir dari kitab Veda.

           Jika filsafat Nyaya dipasangkan dengan Vaishesika, Samkhya dengan filsafat Yoga, Mimamsaka dipasangkan dengan Vedanta. Mimamsaka disebut juga dengan Purva Mimamsa. Kata mimamsa artinya tafsir, disebut Purva Mimamsa karena merupakan tafsir terhadap kitab Veda yang lama/awal (purva).Sekalipun tidak seperti Vedanta yang terus berkembang hingga abad ke-20 M, filsafat Mimamsaka memilki ciri yang menarik sebagai sebuah sistem filsafat.

Pendiri sistem filsafat ini ialah Rsi Jamini (abad ke-2 SM), Kitabnya yang terkenal ialah Mimamsa Sutra.Melalui bukunya itu dia merumuskan kembali ajaran filosof sebelumnya yang masyhur yaitu Maharesi Vyasa yang hidup pada abad ke-3 SM. Adapun filosof kemudian yang mengembangkan sistem filsafat ini hngga mencapai bentuknya yang muktamad atau definitif ialah Upavarsa (w. 350 M), Sabarasvamin (w. 400 M), Prabhakara (w. 650 M) dam Kumarila Bhatta (w. 700 M). Yang terakhir inilah, yaitu Kumarila Bhatta, yang membuat kokoh sistem ini. Ajaran filsafatnya dituangkan dalam buku-bukunya seperti Sloka Vartika, Tantra Vartika dan Tuptika. Di kemudian hari sistemini dikembangkan olehMandana Misra, seorang murid Kumarila Bhatta yang sangat terkemuka . Karya Mandana Misra ialahVidhi Vivka dan Bhavana Viveka. Pada masa yang agak akhir sistem ini dikembangkan olehParthasarathi (w. 1350 M) dan Kandhadeva (w. 1650 M).

            Sistem atau darsana ini secara umum menganggap bahwa kitab suci Veda merupakan sumber kebenaran yang tidak dapat diragukan keabsahannya. Masalahnya bagaimana mengkaji dan menafsirkan gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya. Untuk keperluan itu harus dicari hubungan antara kata-kata yang diungkapkan dalam kitab Veda dengan pikiran tersembunyi yang berada di belakang kata-kata tersebut. Dalam upayanya itu maka diteliti hubungan psikologi dan filologi. Di bawah para filsosof Mimamsa maka ilmu bahasa, khususnya semantik, berkembang pesat.

            Filsafat dikembangkan berdasarkan penelitian terhadap bagian permulaan kitab suci Veda, yaitu doktrin tentang upacara keagamaan yang berhubungan dengan mantra dan penafsirannya, yaitu Brahmakanda. Disebut Ciri sistem pemikirannya terletak pada ulasannya yang kritis terhadap kitab Brahmana atau Brahmakanda, yang merupakan tafsir atas kitab Veda, khususnya berkenaan masalah upacara keagamaan dan kurban.

Dasar Ajaran

            Kitab Veda dipandang sebagai Tuhan sendiri yang mengejawantah dalam kitab. Karena itu dalam pemikiran pendiri awal dari sistem ini masalah Tuhan tidak mendapat perhatian. Dalam sistem persoalan Tuhan baru dibicarakan kemudian. Sebagai pengejawantahan Isvara atau Tuhan, kitab suci Veda merupakan satu-atunya sumber pengetahuan tentang dharma. Sutra pertama karangan Jaimini dimulai dengan judul: Athato Dharmajijnasa, artinya ’hasrat mengenal dharma atau kewajiban agama’. Hasrat tersebut dan maknanya terkandung dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan kurban itu telah dikemukakan secara tersirat dalam kitab Veda. Pahala yang diperoleh tersembunyi dalam dharma itu sendiri. Masalahnya ialah bagaimana mengetahui sifat-sifat dari dharma itu sendiri.

           Jika dharma dilaksanakan berdasarkan perintah kitab Veda maka kebahagiaanlah yang akan diperoleh. Pertama, Veda adalah sruti (kitab yang diwahyukan) dan sebagai sruti tidak diragukan otoritas dan kebenarannya. Jika ada kewajiban yang diperintahkan Sruti, maka kewajiban yang diperintahkan dalam kitab Smriti dapat diabaikan. Seorang Hindu harus menjalani hidup sesuai syariah kitab Veda.

           Darsana ini menganggap segala pekerjaan semestinya dilakukan sebagai perwujudan ibadah, yaitu pengabdian kepada Isvara sebagai Keberadaan Tertinggi. Jaimini tidak percaya pada moksa. Dengan taat menjalankan ibadah, menurutnya, manusia akan masuk surga, bukan mencapai moksa.

           Pekerjaan melaksanakan kurban  atau upacara kurban yang dilakukan secara mekanis tanpa rasa yang dalam, tanpa sraddha (keyakinan) dan bhakti (kepatuhan) tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Yang dikehendaki dalam upacara kurban sebenarnya ialah pengurbanan kepentingan diri, rasa keakuan (asmita) dan raga dvesa (rasa senang dan benci), bukan kurban itu sendiri. Kurban itu sendiri tidak ada artinya bagi Tuhan.

           Melaksanakan kurban adalah melaksanakan apurva, yaitu mata rantai penghubung kerja dengan hasil yang diperoleh dari kerja (phala). Apurva ialah adrsta (kecerdasan) yang merupakan kekuatan tak nampak. Ia memiliki sifat positif yang diciptakan oleh kegiatannya sendiri yang dilandasi kecerdasan rohani. Tetapi para filosof Mimamsaka yang kemudian memandang bahwa adrsta sebagai penjelmaan apurva tidak memiliki kesadaran dan kecerdasan, karena itu mana mungkin memberikan pahala. Apurva tidak dapat berbuat tanpa digerakkan oleh Brahman, Yang Maha Tinggi. Untuk keperluan ini maka masalah Tuhan dimasukkan sebagai bagian utama ke dalam Mimamsaka. Karena itu kemudian dinyatakan bahwa upacara kurban dilakukan untuk menghormati Brahman, Sang Keberadaan Tertinggi, darimana pahala dan surga diperoleh.

          Dalam pemikiran filosof Mimamsaka Atman atau Diri tidak sama dengan badan, indera-indera kecerdasan. Ia adalah pelaku aktif kehidupan, yang mengalami kehidupan itu sendiri. Badan adalah tempat sang Diri mengalami apa yang dilakukannya. Indera-indera yang terdapat dalam tubuh adalah peralatan Diri untuk menikmati atau mengalami hasil atau akibat perbuatan. Tetapi Atman hanya bisa merasakan pengalamannya apabila menyatu dengan pikiran (manas). Badan berperan sebagai pelayan Atman, bukan sebaliknya. Atman disamakan dengan apurva, sebab tak terikat waktu dan kekal adanya.  Jaimini tidak percaya pada moksa. Ia hanya percaya pada adanya surga.

           Surga (svarga) dapat dicapai melalui karma, yaitu pelaksanaan upacara kurban dan menjadikan seluruh perbuatan kita sebagai ibadah dan upacara kurban. Prabhakara berpandangan bahwa kelepasan dan svarga tidak dapat dicapai hanya melalui karma. Untuk mencapai kelepasan diperlukan pengetahuan (jnana) tentang Diri. Pengetahuan yang dimaksud di sini pengetahuan yang mendalam tentang Diri dan timbunan karma (perbuatan) yang menghalangi pengetahuan seseorang tentang hakikat dirinya. Bilamana seseorang memiliki jnana semacam itu maka ia dapat membebaskan dirinya dari kelahiran kembali.

           Kumarila Bhatta, tokoh yang lebih kemudian dari sistem ini, memiliki pandangan yang mirip dengan pandangan Monisme Vedanta (Advaita Vedanta). Advaita Vedanta memandang bahwa kitab Veda disusun oleh Brahman dan merupakan Brahman dalam wujud Svara (suara). Kelepasan (moksa) merupakan keadaan positif dari upaya realisasi diri. Pengetahuan (jnana) tidak cukup untuk mencapai kelepasan, ia harus dilengkapi dengan karma yang baik, serta pelaksanaan dharma (kewajiban agama). Di antara karma yang harus dilakukan ialah nitya karma (perbuatan yang diwajibkan) dannisiddha karma (perbuatan yang dilarang).

           Jaimini menganggap bahwa kepatuhan menghindar dari perbuatan yang dilarang oleh agama merupakan sadhana atau cara mencapai svarga, sebab nisiddha karma membelenggu seseorang dalam dosa yang menyebabkan samsara. Jaimini tidak percaya pada penciptaan dunia dan hanya meyakini derajat kebahagian di surga dan sad-acara (perilaku yang benar). Sad acara yang dimaksud ialah:Satyam Vada (berbicara benar) dan Dharmam Cara (melaksanakan kewajiban agama).

Teori Pengetahuan

            Teori pengetahuan Mimamsaka cenderung realis. Ini tampak dalam pemikiran dua tokohnya yang terkemuka, Prabhakara dan Kumarila Battha. Menurut mereka tidak ada pengetahuan yang tak memiliki hubungan dengan obyek di luar dan di sebalik pengetahuan. Semua pengetahuan pada dasarnya memiliki kebenaran sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, namun demikian verifikasi diperlukan sebab tidak jarang validitas suatu pengetahuan menimbulkan keraguan. Jenis pengetahuan yang tidak memerlukan verifikasi ialah ingatan, sebagaimana juga mimpi yang dialami seseorang pada waktu tidur.

           Menurut Kumarila ingatan yang tidak valid merupakan kondisi yang diperlukan bagi validitas pengetahuan. Suatu kebenaran pengetahuan tidak selamanya harus tidak bertentangan dengan “pengetahuan yang muncul sesudahnya” (abadhĂ­ta), namun bisa juga tertuju pada sesuatu “ yang sebelumnya tidak diketahui” (anadhigata). Sedangkan Prbhakara berpendapat bahwa semua ‘pengalaman’ (anubhuti) – apakah mengenai obyek yang sudah diketahui atau belum – memiliki validitas dengan sendirinya. Bahkan apa yang disebut dengan kesalahan dalam pengetahuan, sering memiliki syarat bagi validitas. Tetapi Prabhakara membedakan antara ingatan dan anubhuti. Ingatan bukanlah pengalaman dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sesuatu yang tergantung pada sapeksa, yaitusesuatu yang mendahului. Pengalaman tidak tergantung pada sesuatu yang mendahului. Jika semua pengalaman dalam kodratnya benar, mengapa kesalahan bisa terjadi? Prabhakara dan Kumarila mengajukan dua konsep sebagai penjelasan, yaitu Akhyati dan Viparita khyati.

             Pertama. Kata akhyati dibentuk dari kata-kata ’a’ (tidak) dan ’khyati’ (pengetahuan), secara harfiah berarti ’bukan pengetahuan’. Prabhakara menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa kesalahan bukan satuan dari pengetahuan, melainkan gabungan dari dua jnana (pengenalan) yang tak sepadan. Apabila kita melihat kerang lantas menyangka benda dari perak, secara aktual ini disebabkan karena kita melihat kerang yang menyerupai perak. Gambaran demikian terjadi karena sebelumnya kita melihat perak yang berbentuk kerang. Jadi dipengaruhi oleh sebuah kondisi psikologis, yaitu ingatan atau kesan mendalam atas pengalaman terdahulu. Ketika kita melihat kerang yang bukan perak, namun memiliki warna seperti perak, maka kita mengatakannya sebagai perak. Kesalahan yang terjadi ialah karena kita memiliki dua jnana yang berpadu tanpa bisa dibedakan, yaitu pencerapan indera yang segera ditimpali oleh ingatan. Kesalahan yang timbul bukanlah kesalahan logis, sebab secara logis bisa saja benar. Kesalahan terletak pada kegagalan memisahkan dua obyek yang sekaligus muncul dalam ingatan dan pengalaman sesaat. Kegagalan semacam itu tidak ada kaitannya dengan kesalahan logika atau pemikiran, sebab bilamana hal itu dianggap sebagai kesalahan maka mimpi yang kita alami dalam tidur lebih merupakan kesalahan lagi. Padahal yang sebenarnya terjadi pada waktu kita bermimpi hanya ’ketidakhadiran pengetahuan’.  Untuk mendapat pengetahuan yang benar, karena itu diperlukan kondisi psikologis yang baik, bukan semata-mata penguasaan logika. Pemikiran standard ganda pemerintah Amerika tentang HAM dan terorisme merupakan kesalahan disebabkan latar belakang dan kondisi psikologis, bukan disebabkan tidak adanya penguasaan logika tentang yang benar dan tidak benar.

           Kedua, tentang viparila-khyati. Kumarila juga mengemukakan bahwa pengetahuan selalu menunjuk pada sesuatu obyek di seberang dirinya. Dalam hal kerang dan perak, terdapat sesuatu obyek yang secara langsung bisa diamati (yaitu kerang) dan sesuatu yang ada di luar pengamatan, yaitu perak. Disebabkan tersugesti oleh pengalaman sebelumnya, maka kita menyebut sebuah kerang sebagai perak. Bedanya dengan akhyati ialah, dalam akhyati kegagalan terjadi disebabkan hilangnya kesadaran atas fakta yang ada dan adanya faktor bahwa dua hal yang berbeda dicampuradukkan semata-mata berdasarkan penampakan sekilas. Viparila khyati merupakan samsarga-graha, yaitu sinthesa yang salah tentang keduanya, yaitu kerang dan perak.

           Mimamsaka dikatakan realis sebab meyakini keberadaan kekal dravya (substansi) beserta sifat-sifatnya, tidak semata-mata melihat sesuatu berdasarkan penampakannya pada indera. Sekalipundravya, yaitu intipati segala sesuatu itu kekal, begitu pula tatanan dan tertib yang berlaku padanya, namun bentuk dan sifatnya bisa berubah. Perubahan itu terjadi dalam rangka hukum dan tatanan yang tetap. Sistem falsafah ini juga digolongkan sebagai pluralis karena meyakini bahwa keanekaragaman merupakan akar dari kejadian alam semesta dan isinya.

          Sumber Pengetahuan: Prabhakara menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang benar ada 5: (1) Pratyaksa Pramana, yaitu pengetehuan yang diperoleh melalui pengamatan atau persepsi indera. Pengetahuan jenis ini disebut pengetahuam empiris; (2) Anumana Pramana, pengetahuan ini diperoleh melalui penyimpuan logis mengggunakan metode rasional; (3) Upamana Pramana, pengetahuan yang diperoleh dengan melakukan perbandingan; (4) Sabda Pramana, pengetahuan yang dperoleh dengan penafssiran terhadap ajaran kitab suci (5) Arthapatti Pramana, penyimpulan berdasarkan keadaan yang diamati. Misalnya jika kita menyaksikan orang yang tidak pernah makan pada siang hari, tetapi badannya tidak kurus malahan tambah gemuk, maka kita bisa mengambil simpulan bahwa orang tersebut pasti makan pada sore atau malam hari.

            Kumarila Bhatta menambahkan satu sumber pengetahuan lagi, yaitu An-upalabdhi atauabhava-pratyaksa, yaitu pengamatan ketidakadaan obyek dengan cara membuktikannya secara langsung.Misalnya jika kita mengatakan pada kawan kita, “Cobalah lihat apa ada seekor kancil di kandang belakang rumah untuk membuktikan bahwa memang tidak ada kancil seperti didesas-desuskan orang. Karena tidak tampak adanya kancil di kandang belakang rumah, kecuali kelinci, maka kita baru bisa menarik kesimpulan bahwa memang tidak ada kancil.”

           Empat metode atau kaedah yang dikemukakan Mimamsaka hampir sama dengan yang dikemukakan dalam sistem Nyaya. Bedanya terletak pada persoalan Upamana Pramana. Filosof Mimamsaka menyatakan bahwa perbandingan yang digunakan tidak harus sama dengan contoh yang diketahui.Misalnya membandingkan kera dengan siamang atau lutung, banteng dengan bison.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.