cerita tentang remah-remah

Kamis, 15 Agustus 2013

Lebih dari Sekedar Lembaran Hari-Hari Liburan Lebaran

Akhirnya, punya waktu dan energi juga buat nulis blog lagi!

Aku mau share sesuatu...

Tentang, Sepinya Lebaran kali ini. 

Aku lebaran di Solo. Bareng bapak, Mahdi dan Tarell. Kita cuma berempat karena Ibu ada di Jepara bareng keluarga Mbak Indah kakak pertama ku yang juga ngurusin adek bontot ku Ruhi. Mbak Ima yang hamil muda masih di Cikunir dan Mbak Umu juga nggak Mudik karena suaminya emang nggak punya jadwal buat mudik ke Solo. 3 tahun lalu, semua anak-anak Ibu dan Bapakku masih bisa kumpul di Solo dan ngelakuin sungkeman. Ini ya bedanya punya kakak yang satu persatu udah "mentas" sama punya keluarga yang belum pada "mentas". Buat yang belom tau arti dari kata mentas, mentas itu istilah Jawa, yang artinya sudah menikah.

Di rumah waktu lebaran nggak masak, Nggak blanja dan nggak ada makanan apa-apa selain roti tawar. Nggak ada kue-kue kering, baju baru maupun tamu. Selain Sholat Ied di Rumah Almarhum Ami Segaff, g ada yang istimewa. Bukannya nggak bisa masak. Hanya saja, memang tidak ada kesempatan untuk itu.

Mahdi sama Tarell hari ini tetep jualan kayak biasa. Bahkan sehari ini jualan boneka Felt di tiga tempat. Jurug (Kebun Binatangnya Solo), Taman Balekambang (Taman Surapati ala Solo dengan versi yang lebih keren lagi) dan Ngarsopuro Night Market. Mereka pasti capek jualan sampe 3 kali di 3 tempat berbeda dengan nyeret gerobak seng di belakang Motor dan menata dagangan. Tapi mereka tahu bahwa mereka punya tanggung jawab untuk biaya hidup mereka sendiri. Aku lihat, mereka nggak banyak ngeluh. Bahkan, Tarell yang tampaknya manja dan males tetep punya kesadaran untuk berangkat jualan, secapek atau sengantuk apapun dia. Dalam hal ini, aku salut sama mereka.

Dulu, pas aku masih SMP dan SMA, tiap malam Ibu atau Mbak Ima harus jualan di setiap pasar malam dan di setiap bazaar rakyat. Jualannya dari jam 6 Malam sampe jam 12 Malam. Kadang formatnya Mbak Ima-Ibu, Ibu-Aku, Aku-Mbak Ima. Pernah bertiga juga. Tapi emang ibu-Mbak Ima lebih sering karena aku masih sekolah. Aku dulu capek banget jualan kayak gitu. Kadang belajarnya juga di pasar malem karena kalau nggak jualan, malah nggak bisa sekolah. Hehehe...

Sekarang Mahdi dan Tarell yang dulu sering aku tuduh sebagai anak-anak manja lah yang meneruskan tradisi itu. Walau lokasi jualan dan frekuensinya nggak sesering kayak dulu. Tapi tetep aja, jualan di pinggir jalan gitu capek banget. Aku bersyukur bahwa mereka mau dididik oleh keadaan. Di dalam pikiran mereka juga terpikir, "Kalau bukan kita, siapa lagi?"

Ada sepupu tanya pas aku silaturahmi ke sana cuma sama bapak, nggak sama adek-adek, "Lebaran-lebaran kok masih jualan aja sih?"

Aku jawab, "Iya donk, Mahdi kan tahun ini atau tahun depan mau kuliah, Tarell juga masih sekolah. Harus gitu kalau hidup mau terus jalan."

Sebenernya aku mau jawab, adekku kan wiraswasta, bukan pegawai kantoran kayak kamu yang punya hari cuti. Jadi yang menentukan libur atau nggak nya liburan itu bukan waktu, tapi diri sendiri. Tapi supaya damai, aku bilang gitu aja.

Kan Ibu sakit. Jadi harus ada yang menggantikan pekerjaan utama Ibu, Karena sebelumnya Bapak dan Ibu emang kerja. Bapak tetep di kerjaannya, Ibu harus ada yang gantiin. Pewaris tahtanya yang ada adalah Mahdi dan Tarell. Alhamdulillah mereka mau. Tarell dan Mahdi bisa membiayai hidupnya sendiri. Dibantu mbak indah yang suplay barang dari produksi Jepara. Karena kakak sendiri, pasti ada kelonggaran-kelonggaran tertentu buat Mahdi. Karena, kalau Mahdi jadi Sales yang g punya hubungan darah sama Mbak Indah, pasti udah di pecat deh karna sering telat setor. :P

Barangkali, beberapa orang menyayangkan, kenapa anak sekolah harus tetap bekerja padahal seharusnya mereka fokus belajar. Bagiku dan bagi keluargaku, sedari kecil seorang anak harus diajarkan untuk memahami kondisi perekonomian keluarganya. Agar Ia tumbuh jadi anak yang tidak penuntut dan tidak iri terhadap kemudahan-kemudahan finansial yang didapatkan oleh teman sebayanya. Anak juga harus diajari mandiri dan survive agar kelak Ia tidak jadi generasi memble dan bermental pejuang. Sebenernya, kami bukan keluarga yang miskin secara finansial, tapi kami hanya harus berusaha lebih keras dalam hal finansial. Apalagi sejak Ibu sakit dan harus selalu di kursi roda.

Kalau ada yang nanya lagi, emang nggak kasihan kalau adek-adekku harus jualan? Aku akan jawab, kasih sayang ku bahkan bertambah-tambah pada mereka. Bukan sekedar rasa kasihan. Kalau mereka nggak begitu, aku malah kasihan sama mereka, nggak bisa ngikutin jejak kakak-kakaknya yang pas seumuran mereka juga bantuin Ibu jualan. Kalau nggak kenal dunia jualan, bisa jadi mereka nanti akan susah berkembang kedewasaannya, kesadarannya, keteguhannya dalam menghadapi kerasnya dunia. Memang ada cara lain selain jualan untuk mengembangkan hal-hal diatas, tapi yang sekarang ada di depan mata ya jualan. Kalau mereka ada pilihan lain, mereka juga dibebaskan untuk memilih sesuai dengan passion mereka.

Waktu Ibu masih sehat pun, malam lebaran, hari lebaran dan setelah lebaran, kita juga jualan. Karena memang waktu hari-hari itulah dagangan kita bisa laris manis. Sayang sekali kalau dilewatkan. Jadi, disaat orang-orang menghabiskan uangnya untuk belanja hari Raya, kami berusaha "menangkap" uang yang mereka belanjakan.

Kembali ke topik lebaran.

Kini, walau lebaranku biasa aja. Belum sungkeman sama Ibu yang di Jepara, nggak punya foto keluarga saat lebaran seperti orang lain, nggak silaturahmi ke banyak tempat seperti keluarga lain, aku tetap bersyukur. Bahwa kita semua (keluarga Pak Muhsin Sukandar) bisa rukun dan menyadari tugas kita masing-masing. Antar saudara kandung tidak ada yang menuntut harus melakukan ini dan itu satu sama lain, bahkan, kita merasa bahwa kita juga tidak pantas untuk menuntut sesuatu ke orangtua sekalipun. Kita telah dewasa, kita adalah tuan dari segala tanggung jawab dan kehidupan kita. Kata Ibu, Ibu memang sengaja memerdekakan anak. Jadi kalau anak mau ikut jualan atau tidak, mau kerja atau tidak, itu adalah konsekuensi logis dari kematangan pemikiran dan kesadaran anaknya dalam memahami keadaan keluarga. Walau tetap saja, Ibu dan bapak sering mengingatkan betapa pentingnya ikut andil dalam pekerjaan-pekerjaan rumah yang membantu keluarga.

Walau ada aku di rumah, mereka -adik-adikku- nggak nyuruh buat gantiin jualan, melakukan pekerjaan rumah, atau yang lainnya. Saat aku menawarkan diri bantuin mereka, mereka bilang aku nggak perlu bantuin mereka jualan. Aku pikir, kalau aku memang merasa memiliki kesadaran tertentu untuk melakukan sesuatu, maka aku harus melakukannya. Aku memang kikuk saat pertamakali jualan lagi setelah sekian lama nggak jualan. Tapi akhhirnya aku bisa hafal juga semua perubahan harga. Emang, harga produk beberapa ada yang mengalami kenaikan.

Habis silaturahmi ke rumah keluarga terdekat, aku telpon Ibu sebentar, di kepala ku udah muter-muter jutaan kata buat Ibu, akhirnya aku cuma bilang, "Bu, maafin Ayu ya..." Habis itu nggak tau mau ngomong apalagi. Kayak nelpon pacar habis kita bikin kesalahan fatal. Kikuk, bingung... Tapi lega.

Ya Rabb.. Apapun yang terjadi, semoga Engkau merahmati keluarga kami.
Terimakasih Engkau telah mengirimkan kami orang tua yang mendidik kami untuk jadi pejuang.

Ps :
Kita juga lagi mau bikin website jual beli dan Insyallah lagi nyusun bikin Buku Tutorial Felt sekaligus mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan khusus untuk kerajinan dari bahan Felt di Jepara. Semoga g cuma omong doang ini.
Oh iya, bagi yang belum tau keluarga kami punya dagangan macam apa, Ini foto-fotonya, sekalian promosi.

Pensil WisudaRp 5000/pc
Boneka Wisuda  Rp 35.000/pc

Jualannya lesehan gini deh

Jenis Barang Dagangannya Buanyaaak...
Macam-Macam jenis Boneka Bulet. Banyak Varian

Boneka Bulet Rp. 3.000/pc atau Rp 20.000/Lusin

Boneka ukuran tanggung Rp 5.000/pc atau Rp 35.000/lusin

Boneka Pengantin 12cm Rp 50.000/pasang

Boneka Adat Ukuran 12 cm Rp 50.000/pasang

1 Set Kotak Tisue Rp 150.000

Tempat HP @Rp 10.000
Ditulis tanggal 8 Agustus 2013 dan baru selesai ditulis tanggal 15 Agustus 2013, ditemani Tarell yang Ragu-ragu menentukan apakah dia sedang lapar atau tidak, apakah jam sekarang ini (Sekitar jam 2 pagi) aku harus masak  atau tidak. Dia akhirnya tertidur ssetelah sekian lama menimbang-nimbang keputusannya, sekejap mata, hilanglah keragu-raguannya. hehehe :P 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.