cerita tentang remah-remah

Sabtu, 25 Juli 2015

Tragedi, Fiksi, dan Nyata

"Tiba-tiba da memperhatikan bahwa kecantikan sudah runtuh berantakan pada dirinya, bahwa itu sudah mulai melukainya secara fisik seperti tumor atau kanker. Dia masih ingat bobot hak istimewa yang telah ditanggung oleh seluruh tubuhnya selama masa remaja, yang telah dilepaskannya sekarang. ---- Dia lelah menjadi pusat perhatian, di bawah kepungan pandangan lelaki. Pada malam hari, ketika insomnia menusukkan jarum pada matanya, dia akan menjadi perempuan biasa, tanpa daya tarik istimewa apapun." 
Eva di Dalam Kucingnya, Gabriel Garcia Marquez.
Libur lebaran yang lalu membuatku punya banyak waktu untuk maraton membaca buku-buku Fiksi. Buku yang aku baca diantaranya kumpulan cerpen "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Lewat Mimpi" Karya Eka Kurniawan, kumpulan novel dan cerpen"Innocent Erendira and other stories" karya Gabriel Garcia Marquez -aku membaca terjemahan bahasa Indonesianya-,  "My Sister's Keeper" karya Jodi Picoult yang aku baca dalam bahasa Inggris, dan buku-buku lainnya yang menurutku berhasil memotret kesedihan dengan "Indah".

Sebenarnya, kesedihan itu bukan sesuatu yang indah sih. Malah sebaliknya. Menggoreskan luka. 

Dalam sebuah kuliahnya di kelas kami, Prof Abdul Hadi​ WM pernah berkata bahwa kesedihan manusia itu sifatnya abadi. Kenangan akan kesedihan akan menancap dalam mengalirkan air mata dan darah yang akan terus menyakitkan. Makanya, sastra yang banyak diminati oleh orang sepanjang zaman kebanyakan adalah cerita-cerita yang menggambarkan tragedi. Jujur saja, aku belum mengecek apa kata sastrawan lain soal ini. Yang jelas, aku setuju dengan Pak Hadi.

Saat itu, secara otomatis aku menghitung Novel dan Cerpen favoritku. Memang sih, kebanyakan berkisah seputar tragedi. Atau jangan-jangan, selera bacaanku saja yang cukup muram?

Aku sendiri selalu mengagumi setiap penulis yang berani menceritakan kesedihan-kesedihan yang ia alami langsung. Misalnya Gayatri Wedotami Muthari​ yang bercerita soal penyakit Lupusnya dan soal pelecehan seksual yang menimpanya lewat status facebooknya. Aku juga mengagumi keberanian Ninin Damayanti​ yang bersuara tentang KDRT yang dialaminya. Tentu saja ada nama lain yang punya keberanian menulis tragedinya sendiri untuk publik. Hanya saja, aku tidak bisa menuliskan secara lengkap siapa saja nama yang cukup aku perhatikan.

Sedangkan aku? Aku tidak punya keberanian macam itu untuk diriku sendiri. Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan lewat tulisan tragedi yang pernah terjadi dalam hidupku. Mestinya aku lebih berani untuk bercerita lewat tulisan. Selain untuk terapi, bisa juga dijadikan pelajaran bagi orang lain. 

Tapi aku yang cengeng ini sering menghibur diri sendiri dengan berkata pada pikiranku sendiri, "Suatu hari, akan tiba saatnya aku akan bersuara. Pasti."

Tidak semua orang berani menyuarakan kesedihan-kesedihannya. Sebagian menggantinya dengan kisah fiksi berikut deretan nama-nama samaran dan serangkaian drama. Beberapa penulis melakukan itu karena ada sebuah anggapan bahwa jika kita sering menulis soal diri sendiri, maka kita akan dicap dengan label Self Sentris. Begitukah? 

Aku punya beberapa orang di sekitarku yang merasa perasaannya jadi lebih baik ketika mendengar ada yang lebih menderita daripada dirinya. Ada juga tipe orang yang sering berkata dengan enteng bahwa masalahmu belum ada apa-apanya dibandingkan masalah orang itu yang lebih berat lagi. Ada lagi orang yang merasa lebih menderita dari orang lainnya.

Bagiku, tidak ada kesedihan yang sepele. Jika tidak bisa bersimpati dan memberi solusi, maka seseorang mesti belajar diam dan sekedar mendengar. Bukan mengeluarkan komentar-komentar menyalahkan yang membuat orang yang bersedih itu semakin merasa hidupnya payah. 

Beberapa yang lainnya, justru mengecilkan tragedi orang lain hanya karena ia merasa bahwa ia pernah lalui tragedi lebih dahsyat. Lebih penting. Lebih menyayat. Sehingga tragedi yang dialami orang lain tampak sepele. 

Aku percaya bahwa seseorang punya porsinya masing-masing dalam merasai kesedihan. Tidak ada kesedihan yang sepele. Satu-satunya yang berhak mengatakan kesedihannya lebih berat dari kesedihan yang lain hanyalah individu yang merasakan kesedihan itu sendiri. Bukan orang lain. Ada kaca yang mesti ia bawa terus menerus untuk mengukur apakah kesedihannya memang layak untuk membuatnya ambruk atau tidak.

Aih, ngomong apa sih aku ini...

Tapi ngomong-ngomong. Aku kangen lho sama kamu. Kalau kamu nggak kangen balik, apakah artinya ini sebuah tragedi lainnya? Kalau iya, maka aku sudah berani menuliskannya. 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.