cerita tentang remah-remah

Minggu, 12 Juli 2015

Apa Kabarmu, Satu Tahun?

Sebenarnya, ada hal menyenangkan yang terjadi pada tanggal 11 Juli tahun lalu. Hari tersebut tak pernah direncanakan akan seperti apa. Hari yang tak pernah aku duga akan datang.

Entah bagaimana alurnya, hal kecil yang terjadi di hari itu bisa jadi sebuah kenang yang ikut menentukan bagaimana situasi yang terjadi sampai hari ini.

Namun, seperti hari yang lainnya yang tertelan oleh kesibukan, luka, dan hantu-hantu, 11 juli akan berlalu begitu saja. Sangat mungkin jika suatu hari terlupa. Aku memang ingat persis apa yang terjadi. Hanya saja, aku hampir lupa kapan harinya.

Aku sengaja menyimpan jejak dalam-dalam sebagai sebuah monumen yang setiap saat bisa aku kunjungi. Jika terlupa, aku akan tahu bagaimana cara menemukannya. Tepat di sana, di jantung kenang yang hampir terlupa, aku akan menunduk dalam-dalam sambil memejamkan mata. Demi menziarahi setiap debar yang lahir begitu saja. Entah dari mana.

Aku membayangkan, kau akan berkata padaku bahwa hari ini bukanlah sesuatu yang cukup penting hingga perlu jadi drama. Seolah-olah kisah yang terjadi adalah cerita penuh konflik klimaks anti-klimaks dengan sederet picisan.

Ini memang bukan kisah soal apapun. Ini sama sekali bukan apa-apa. Anggaplah begitu.

Rasanya seperti cookies manis yang telah habis dinikmati seorang anak kecil gemuk nan lucu. Dan kita tahu bahwa yang akan ia tinggalkan di sekitarnya hanyalah remah-remahnya saja.

Aku masih ingat, kita telah sampai pada satu hari yang melelahkan, yang akhirnya membuatmu berkata bahwa ini semua tak berguna untukmu. Tak berarti apa-apa.

Lagi pula, kau selalu punya satu toples cookies lezat yang bisa kau bagikan ke orang lain sambil bercerita tentang apapun.

Dengan debar yang tak kunjung padam, setiap serpih remah-remah yang tersisa -entah bagaimana- masih terasa.

Oh ya, halo. Apa kabar?

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.