Selasa, 25 Maret 2014

Mereka yang Memilih Penjaranya Sendiri

TINGGAL satu kota dengan bapak tidak menjamin bahwa akan bertemu dengannya setiap hari. Jika bapak ada di wilayah Jakarta Selatan, bapak akan menyempatkan mampir ke kost ku untuk sekedar mengajak makan malam lalu kembali lagi ke tempat kerjanya di daerah Jakarta Barat. Kadang juga ke Cikarang.

Karena disekitarku sedang ada banyak sekali cerita mengenai perceraian atau putusnya hubungan cinta yang masih dalam tahap pacaran ataupun bertunangan, akhirnya aku mencoba berbincang dengan bapak mengenai itu. Aku tahu, pernikahan bapak dan ibu itu tidak selalu berjalan mulus. Banyak bertengkar, walau tidak dengan gaya saling teriak. Bertengkar lucu ala Tom and Jerry minus adegan kejar-kejaran begitulah.

“Bapak pernah berpikir untuk cerai sama ibu nggak?”

Bapak menggeleng sambil mengunyah makan malamnya.

“Kenapa? Ibu kan pernah minta cerai. Ibu juga sering komplain maupun marahan sama bapak. Bapak juga sering merasa Ibu salah. Aku sering dengar Ibu curhat tentang bapak yang nggak peka dan nggak pengertian. Bapak juga begitu, nggak beda jauh.”

“Kebaikan itu sifatnya abadi. Sedangkan kesalahan itu sifatnya hanya kasuistik, tidak perlu diperhitungkan.”

Bapak meminum teh hangatnya dan menyeka mulutnya dengan tissue. Ayam kremesnya sudah habis. Sedang aku, seperti biasa, menyelesaikan makanku dengan sangat lambat.

“Kalau tentang hidup susah sebagai suami istri, siapa sih di dunia ini yang kehidupan rumah tangganya nggak susah? Kalau cerai juga belum tentu bahagia. Malah akan lebih nggrantes karena sendiri itu sepi dan nelongso. Kalau setiap cek cok berujung cerai, akhirnya nanti akan berusaha ketemu orang lain lagi. Kalau ternyata ribut lagi, apa mau cerai lagi buat cari bahagia? Kalau bapak sih, biar lah, yang salah dilupakan, yang senang ya dikenang terus.”

Aku diam dan berpikir tentang konsep pesimisme Arthur Schopenhauer yang menyarankan manusia untuk tidak memiliki kehendak yang muluk-muluk supaya tidak terpuruk nantinya. Karena manusia merdeka adalah manusia yang meniadakan nafsu maupun tuntutan-tuntutan duniawi lainnya. Bapak seperti hendak berkata padaku bahwa sebenarnya hidup itu adalah tentang memilih untuk masuk ke penjara satu ke penjara lainnya. Apapun yang jadi pilihan kita, pasti ada sisi yang membuat kita tidak nyaman dengan itu, termasuk saat memilih pasangan.

Sepertinya  bapak memiliki konsep kebahagiaan yang ditemukannya sendiri. Aku tahu ia tidak membaca berbagai model kebahagiaan untuk menemukan konsep yang cocok untuk diterapkan dalam hidupnya. Dari Plato maupun Aristoteles misalnya.

Aku tahu bagaimana hidup bapak dan ibuku. Menjadi mereka tidak mudah. Kalau harus memilih, aku tidak ingin menjadi wanita seperti ibu dan tidak mau juga mempunyai suami seperti bapak. Mereka bukan hanya tidak menjalani hidup yang ideal. tapi malah serba sulit. Segala yang terjadi dihidup mereka tidak ada yang biasa dan sederhana. Itu yang menjadikan bapak dan ibu jadi pribadi yang menurutku, agak rumit dipahami.

Pakdhe-pakdheku dari pihak ibu sering bilang, sebagai anak bontot ibu adalah perpaduan watak keras, mandiri dan disisi lainnya adalah manja. Ibu juga seorang pendebat dan katanya paling mirip aku dalam hal sikap maupun wajah.

Ibu sendiri sering berusaha keras meyakinkan aku maupun orang-orang lainnya bahwa kita sama sekali tidak mirip karena dia lebih cantik dari aku. Aku mewarisi beberapa bagian fisik bapak yang tidak begitu bagus –hidung yang tidak mancung misalnya- sedangkan ibu mewarisi semua bibit yang baik dari kakek dan nenekku yang memang terkenal sebagai pasangan priyayi ganteng dan cantik sempurna. Ini jadi agak lucu karena aku lihat bahwa orangtua lainnya justru sering berkata pada semua orang bahwa anaknya cantik sehingga pantas dipamerkan. Ibuku malah berbuat sebaliknya.

Bapak sendiri dulu sering berkata di depanku, bahwa di matanya, yang cantik itu ibu, baru setelahnya mbak Umu dan mbak Ima. Di depan mbak Umu, bilang yang cantik itu ibu, barulah aku dan mbak Ima. Di depan mbak Ima, bapak bilang yang cantik adalah ibu, dan mbak Indah adalah anak yang paling mirip ibu secara fisik. Sehingga sebagai anak akhirnya kita bosan membandingkan, siapa yang lebih cantik dari lainnya.

Baik bapak maupun ibu sering “berebut” simpati anak-anaknya.

Ibu selalu berkata pada anak perempuannya, “Bapakmu nggak pernah mencintaiku.”

Bapak juga bilang ke aku maupun anak lelakinya, “Ibu selalu saja merasa kurang. Slalu saja mengungkit kesalahan…”

Bagiku, sebagai lelaki, bapak memang kurang peka. Kurang bisa mengekspresikan kasih sayangnya. Ibu juga mengidamkan banyak hal yang tidak dimiliki bapak, terutama tentang sikap-sikap ideal yang diimpikan ibu selama ini. Di mataku, pernikahan Ibu dan Bapak sungguh epik. Aku sering menjadi penonton saat mereka ngambek dan pada akhirnya akan berkata, “Cerai aja sih, daripada ribut.”

Entah harus bersyukur atau bagaimana, yang jelas, saranku tidak pernah terjadi. Sampai sekarang.

IBUKU sakit-sakitan saat usia 35 tahunan. Asam urat melemahkan tubuhnya, tidak dengan semangatnya. Krisis moneter 98 melemahkan perekonomian kami. Siapa sih yang tidak sulit saat itu? Aku saja yang saat itu masih berusia 8 tahun merasakan sendiri imbas krisis moneter yang menghancurkan perekonomian kami. Mesti berpisah dengan orangtua, punya 6 saudara yang semuanya sekolah, bapak yang pengangguran sampai sesekali ngojek, Ibu banting tulang cari uang sana sini, Mbak Indah yang juga mati-matian di masa semester akhir kuliahnya. Jika mengenang itu, aku agak tidak percaya sekarang ini ternyata semuanya baik-baik saja.

Menjadi Ibu pasti susah. Harus bercerai di usia muda dengan satu anak –Mbak Indah-. Setelahnya malah jadi korban pelanggaran HAM berat Tanjung Priok ’84. Satu-satunya wanita pula. Aku sudah pernah bercerita tentang latar belakang Ibu di sini kan?

Menjadi bapak juga pasti susah. Seperti melihat opera sabun jaman dulu dimana keluarga petani hanya menginginkan anak-anaknya mengurus sawah saja. Namun ada satu anak dari 6 bersaudara yang ngotot ingin sekolah daripada jadi petani karena ia ingin mengubah nasibnya sendiri dengan pergi ke kota. Setelah sampai di kota ternyata hanya bisa sekolah sampai SMA, tidak bisa kuliah dan dalam keadaan tidak punya apa-apa sedangkan saudara kandungnya yang tidak sekolah justru punya uang, ternak dan sawah. Mau buat apa ijazah? Mau buat apa jadi santri? Nggak bikin kaya. Kata mereka.

KEINGINAN bapak untuk belajar agama dengan baik malah membuatnya ada dalam komunitas OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) yang diisi oleh para jamaah Dalalip (sebutan untuk yang bergabung di gerakan negara Islam Indonesia saat itu) di tahun ‘84. Bapak diajak bergabung oleh temannya, diberi ajaran tentang sejarah Islam dan Indonesia, diberitahu tentang konsep negara Islam ala Kartosuwiryo, diindoktrinasi habis-habisan dan sampai pada tahap terakhir. Yaitu di bai'at.

Di OTB ini, bapak bertemu dengan Abu Bakar Baasyir, Abdullah Sungkar dan Abu Jibril. Lama-lama bapak menyadari bahwa ternyata ini adalah gerakan NII sekalipun trainer maupun para jamaahnya tidak pernah mengatakan secara terang-terangan kalau mereka ini NII.

Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar sempat pindah ke Malaysia karena rezim Soeharto memang sedang mengejar para penggugat asas tunggal Pancasila. Saat itu memang marak penculikan dan petrus (penembakan misterius). Bapak bersama 15 ikhwan lainnya, termasuk Abdullah Hehamahua yang sekarang ini menjadi penasehat KPK ikut mengantar ke sana. Hanya untuk memastikan bahwa pemimpinnya aman.

Bapak sempat ditawari untuk ikut berlatih jadi serdadu di Afghanistan. Tapi karena kondisi fisik bapak kurang bagus untuk hal-hal yang bersifat kemiliteran, akhirnya bapak batal menjadi jihadis fisik dan diminta menjadi kontributor majalah Al Irsyad dan Arrisalah. Media resmi NII yang dewan redaksinya adalah adiknya Abu Jibril.

BERKAT jaringan para ikhwan ini, bapak dijodohkan dengan ibu. Saat itu ibu  baru saja keluar dari penjara karena tragedi Tanjung Priok. Perjodohannya sederhana. Hanya lewat foto. Umurnya saat itu 24 tahun. Umur Ibu 27 tahun.

Bapak dan Ibu di Sebuah Acara
Bapak bilang, sekalipun janda anak satu, bapak melihat ibu adalah kandidat wanita paling cantik diantara semua kandidat perempuan siap menikah yang ada di foto. Bapak merasa bahwa ia adalah seorang lelaki dari desa terpencil di Pati, kulitnya hitam dan hidungnya pesek. Jika menikah dengan wanita keturunan priyayi yang cantik, berkulit putih dan berhidung mancung, barangkali akan memperbaiki keturunannya. Untuk apa sekolah di kota, bergaul di kota, tapi gagal memperistri wanita cantik untuk membanggakan orangtua di kampung? Kenyataannya, orangtua bapak memang senang dengan istri pilihan bapak Mereka memang tidak hadir di pernikahan karena ijab kabul hanya dilakukan di internal Dalalip. Tanpa resepsi.

Mereka menikah pada bulan Desember ’84. Nama bapak sebenarnya Muhsin Sukandar, tapi teman-teman Dalalipnya memanggilnya Ahsin atau Sakir. Nama Ibu sebenarnya adalah Aminatun Najariyah, demi keamanan pasca Tanjung Priok, Ibu mengubah namanya menjadi Mawaddah. Mereka tinggal di Cempaka Putih. Intel terus mengawasinya.

Saking militannya bapakku, anak pertama dari pernikahan Bapak dan Ibuku diberi nama Himmati Mulkiyah Islamiyah. Artinya cita-citaku mendirikan negara Islam.

Di surat kelahiran mbak Himma, nama ibu ditulis dengan nama Mawaddah. Terntu saja itu berbeda dengan nama ibu di akta kelahiranku. Karena inilah, mbak Himma sempat ingin kabur dari rumah pada usia 13 tahun karena mengira dia adalah anak pungut dari pernikahan bapak dengan wanita lainnya. Ia mengira Aminatun Najariyah sebenarnya adalah ibu tirinya. Atau nama Mawaddah adalah nama wanita yang menitipkan bayinya dulu ke bapak untuk dipungut. Karena tidak tahu siapa nama bapaknya, maka di surat kelahiran ditulis nama bapak. Dia sampai menduga-duga banyak versi tentang darimana dia berasal dan siapa orangtuanya yang sebenarnya dengan sangat dramatis.

Dia bilang, “Pantes aja aku jadi anak yang paling disuruh kerja keras di rumah ini!”

Aku terlalu kecil untuk mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Lagipula aku sibuk dengan bermain catur dan membaca buku-buku. Adik-adikku tinggal di Jakarta sedangkan aku dan kakak-kakakku tinggalnya di Boyolali. Otomatis seolah aku menjadi anak paling bontot di rumah. Mbak Umu malah merasa seumuran denganku. Padahal selisih umur kami 3 tahun. Sedang selisih umurnya dengan mbak Himma adalah satu tahun. Mbak Indah sibuk kuliah dan ngekost di dekat kampusnya, jauh dari rumah. Jadi mbak Ima lah yang menjalani peran sebagai anak sulung yang bekerja dan bertanggung jawab paling banyak dibandingkan lainnya. Ia memasak, mencuci, membersihkan rumah sedangkan adik-adiknya merasa masih berhak bermanja.

Saat menemukan surat kelahiran itu, aku dan mbak Umu sempat mencegah mbak Ima kabur dari rumah. Kami bilang, walaupun bukan saudara, kami tetap menyayanginya seperti saudara sendiri. Aku berjanji akan belajar masak supaya bisa membantu pekerjaannya. Janji yang akhirnya tidak aku penuhi karena setelah mendengar penjelasan ibu, kami lega karena mbak Himma ternyata tetap saudara kandung kami. Jadi aku tetap membiarkannya mengerjakan pekerjaan rumah paling banyak.

KALAU ibu pernah dipenjara karena tragedi Tanjung Priok, bapak dipenjara karena kesetiaannya pada Abu Jibril.

Awalnya bapak ingin menyusul Abu Jibril mencari visa di kedutaan besar Iran. Ada sekitar 5 orang anggota NII yang akan pergi ke Iran saat itu. Semangat revolusi Islam Iran ingin sekali mereka tiru. Belum ada sinisme anti Iran sebagai negara dengan mayoritas penduduk bermazhab Syiah saat itu. Abu Jibril yang shalat Isya di masjid Sunda Kelapa yang lokasinya tak jauh dari Kedubes Iran dari awal sudah dibuntuti oleh intel. Kemudian dia ditangkap, koper yang berisi buku-buku dan perlengkapan lainnya disita.

Bapak merasa bahwa Abu Jibril yang datang dari Yogyakarta itu adalah tamu yang harus dikawalnya. Maka sebagai tuan rumah, ia berusaha mencarinya ke polsek Menteng. Ikatan persaudaraan antar ikhwan memang kuat sekalipun mesti bertaruh nyawa.

Dari awal, anggota OTD sudah diajari untuk tidak memberikan informasi apa-apa jika ada penangkapan. Sekalipun diintrogasi dengan siksaan fisik. Bapak juga begitu. Karena dianggap ada hubunganya dengan gerakan Abu Jibril, bapak ikut ditangkap dan mengalami siksaan fisik. Seperti ditendang, disetrum, dipukuli, kedua lubang telinganya juga dimasuki oleh pensil sampai berdarah. Karena itulah, sekarang ini kualitas pendengaran bapak berkurang walau tidak sampai tuli.

Dipenjara itu, bapak berada satu sel dengan NT Siregar. Ketua gerakan Petisi 50 yang membeberkan pelangggaran konstitusi oleh Soeharto. Yang ikut ditahan di sana adalah HR Dharsono mantan Pangdam Siliwangi. Sedangkan Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta tidak ditahan, tapi diboikot kegiatan ekonomi dan politiknya.

Kata bapak, "Orang-orang sudah banyak yang lupa kalau ada peristiwa petisi 50 itu."

Kemana vespanya saat Ia ditahan? Ternyata dipakai oleh salah satu petugas penjara Salemba bernama Rosyad. Penjara Salemba atau biasa disebut dengan Penjara Laksus (Pelaksana Khusus) adalah sebuah tahanan berisi para aktivis politik yang dianggap ekstrim kanan maupun ekstrim kiri.  Penjara itu juga biasa disebut dengan penjara Laksusda Jaya Kramat. Dipimpin oleh seorang Panglima bernama Soedomo.

Setelah 1,5 bulan menahan bapak dan tanpa bukti yang jelas dan tidak memperoleh informasi apa-apa, bapak dibebaskan. Tentu saja bapak mengaku hanya mengenal Abu Jibril sebagai rekan bisnis semata. Tidak ada hubungannya dengan paham keagamaan tertentu apalagi gerakan Negara Islam Indonesia. Bapak sudah terlatih untuk menyimpan rahasia gerakan walau nyawanya terancam.

Untunglah, setelah keluar dari penjara, bapak masih bisa mengambil vespanya yang dipinjam Rosyad ke penjara Salemba tapi gagal mendapatkan kembali isi dompetnya yang juga ditahan. Padahal di dompetnya masih ada sejumlah uang.

Selama berkumpul dengan jamaah dalalip itu, ibu sering ditinggal-tinggal tanpa uang di rumah. Sekalipun sering dikunjungi anggota jamaah lainnya yang memberi uang karena menganggap bapak memang sedang berjihad, jadi sebagai perempuan Ibu harus bersabar, ikhlas dan bersyukur memiliki suami yang berkontribusi untuk agama Allah. Bahkan saat Ibu mengandung mbak Himma. Bapak seringkali tidak di rumah.

BAPAK memang senang membaca buku. Ia sempat membaca buku Madzhab Syiah : Rasionalisme dalam Islam karya Abu Bakar Atjeh terbitan Tiga Serangkai setelah keluar dari penjara. Dari buku itu bapak baru tahu bahwa ternyata ada banyak alternatif dalam beragama. Untuk dapat menjalani agama tidak hanya melalui jalur Dalalip yang selama ini dijalaninya. Ia juga membaca buku-buku terbitan Mizan seperti buku tentang ikhwanul Muslimin, Hassan Al Bana, Yusuf Qardawi dan lain-lain. Mulai dari situ, bapak sering mengajak diskusi ikhwan Dalalip lainnya tentang alternatif beragama. Karena itulah, bapak dianggap mengingkari baiatnya pada Imam karena mulai membangkang dan mempertanyakan seolah-olah tidak lagi mempercayai doktrin NII. Jabatan bapak sebagai logistik dan keuangan di NII juga dicopot dan juga mendapat pengawasan ketat sampai pada tahap dikuntit. Saat mengalami masa-masa itulah, maka bapak dianggap keluar dari jamaah. Tidak lagi menjadi bagian dari pejuang berdirinya negara Islam Indonesia bersama dengan beberapa orang yang juga merasa mendapatkan alternatif lain dalam beragama.

Bapak dan ibu mulai berpindah haluan dan komunitas mengaji. Mereka tertarik dengan tawaran Islam Rasional yang ditulis oleh Abu Bakar Atjeh itu. Karena tertarik dengan ajaran Ahlulbayt, maka mereka menamakan anak ketiga dengan nama Umu Salamah. Salah satu Istri Rasul yang ikut hadir saat keluarnya hadist al Kisa. Memang, penamaan nama anak itu adalah salah satu ciri ideologi orang tua. Jika saat masih Dalalip nama anak yang dipilih adalah nama berbahasa Arab yang dapat diterjemahkan sesuai harapan orangtua yang saat itu mengidamkan Negara Islam Indonesia. Berbeda dengan nama khas pecinta Ahlulbayt biasanya disandarkan pada para tokoh-tokoh dalam sejarah Ahlulbayt agar dapat bertabaruk dan meneladani kehidupan tokoh yang dimaksud. Seperti namaku juga, Syahar Banu, putri Persia yang jadi istri Imam Husain yang syahid di Karbala, ibunda dari Imam Ali Zainal Abidin yang memiliki doa-doa indah yang termasyhur bernama Sahifah Sajjadiyah. Adik lelakiku juga diberi nama-nama yang ada unsur Ahlulbaytnya. Kecuali anak ketujuh, karena bapak dan ibu mengalami perpindahan keyakinan dalam beragama lagi. Nabi yang bapak dan ibu yakini saat itu adalah nabi yang sempat menjadi sampul cerita majalah Gatra berjudul Nabi Baru dari Bekasi. Aku akan menceritakannya lain kali tentang ini karena aku, mbak Ima dan mbak Umu sempat putus sekolah karena ini. Baru kemudian, di anak terakhir, bapak dan ibu kembali ke jalur keagamaan Ahlulbayt, sehingga adik terakhirku juga mendapatkan nama tokoh Ahlulbayt lagi.

Karena mengalami perpindahan mazhab keagamaan inilah, bapak dan ibu juga memberi kebebasan pada anaknya untuk berpindah dan memilih mana saja keyakinan yang dianggap rasional. Karena indoktrinasi dan ekstrimisme sama sekali bukan hal yang bijak dalam beragama.

Sampai sekarang, aku senang bapak terus menerus belajar. Dia sedang banyak belajar tentang Hermeneutika secara otodidak, padahal itu adalah salah satu ilmu yang menjadi mata kuliahku di kampus. Sedangkan ibu, lebih senang menghabiskan waktunya untuk membaca doa tawassul, kumayl dan lainnya untuk ketenangan hati. Ia juga tidak pernah melewatkan diri untuk menonton sinetron Kian Santang tiap malam untuk menghibur diri.

Aku membayangkan jika bapak membatasi diri dengan tidak membaca buku diluar keyakinannya, maka bapak akan terus di NII, menjadi loyalis Abu Bakar Baasyir atau setia pada Abu Jibril. Jika bapak memilih Abu Jibril, maka tentu saja aku juga akan berteman dengan anaknya Abu Jibril dan ikut menjadi kontributor atau reporter di situs Arrahmah dot com yang termasyhur itu. Atau barangkali, di usia segini aku sudah menikah dengan lelaki bercelana cingkrang dan berjenggot lewat perjodohan foto antar jamaah seperti jaman bapak dulu.

Membayangkannya saja sudah membuatku geli.

--

Disclaimer : Jika ada kesalahan nama dalam sejarah, akan di revisi dikemudian hari. Cerita ini hanya mengandalkan ingatan bapak sebagai sumbernya. Mohon maklum kalau salah ya ^^,

Update :
Sebelumnya ditulis bahwa Ali Sadikin dipenjara dalam kasus Petisi 50. Bang Andreas Harsono mengingatkan lewat twitter bahwa Ali Sadikin tidak pernah dipenjara. Hanya dimatikan hak perdatanya, Beberapa menit kemudian aku menelepon bapak untuk bertanya tentang itu. Bapak bilang dia memang tidak bilang Ali Sadikin dipenjara. Bapak hanya bilang Ali Sadikin dibatasi kegiatan-kegiatannya, misalnya, dia tidak boleh berhutang di bank dan hal administratif lainnya. Yang dipenjara adalah Dharsono, bukan Ali Sadikin. Aku salah data (maaf ya ^^). Nama lain yang bapak sebut adalah AM Fatwa yang dulu menjadi sekretaris Petisi 50. Tapi AM Fatwa dipenjaranya lebih ke kasus tentang pidato-pidatonya di mimbar yang menentang rezim Soeharto. Saat itu AM Fatwa juga menjadi salah satu pejabat MUI. Bapak menyuruhku menulis tentang Petisi 50 yang dilupakan orang-orang, bahkan bersedia mengantar ke rumah AM Fatwa untuk wawancara atau sekedar melihat-lihat dokumennya. Aku bilang, "Iya, kapan-kapan ya pak." :D

Kalau ada kesalahan sejarah atau apapun, silakan mengingatkan. Dengan senang hati akan verifikasi ulang.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.