cerita tentang remah-remah

Minggu, 08 September 2013

Amanda, Seorang Non-Muslim Amerika yang Memilih untuk Berjilbab

Wanita ini bernama Amanda. Saat ini Ia tinggal di Sacramento, California. Dia adalah lulusan dari University of Utah dan meraih gelar BA dalam Studi Internasional dan Arab. Amanda kini sedang mengejar gelar Ph.D. di jurusan Kebudayaan Dunia.

Sekilas, memang tidak ada hal baru yang kita lihat dari fotonya. Apa anehnya jika seorang wanita berwajah kearab-araban berjilbab? Bukankah jilbab seperti ini identik dengan muslim atau budaya Arab?

Sebenarnya, Amanda ini bukan berasal dari negara Arab. Tapi Ia adalah seorang wanita non-Muslim asal Amerika yang memilih untuk mengenakan jilbab. Ia sudah memutuskan secara permanen bahwa Ia hanya akan menampilkan wajah dan tangan di depan umum. Ia sangat menikmati pilihan hidupnya tersebut.

Ketika Ia masih muda, ia menemukan fakta bahwa berjilbab adalah sebuah cara bagi seorang wanita untuk tampak lebih cantik. Di sisi lainnya, Ia juga memikirkan tentang adanya banyak mitos seputar jilbab yang membuatnya jadi takut untuk mencari tahu lebih lanjut tentang itu. 

Dimasa kuliah itulah ia mulai belajar dari teman-teman Arab Muslim di kelasnya tentang jilbab. Beberapa gadis juga mengenakan jilbab. Meskipun ia menyukai tampilan dan menghormati hak mereka untuk memakainya, ia berpikir bahwa memakai jilbab adalah sebentuk penindasan kepada wanita.

Disaat yang bersamaan, Amanda mulai risih saat mendapati bahwa beberapa lelaki di universitasnya secara terang-terangan berbicara tentang teman wanita sekelasnya sedemikian rupa seolah-olah wanita hanyalah sebuah potongan daging yang bergerak. Ia mulai sering mendengar cerita yang tidak ingin didengarnya tentang apa yang ingin lelaki tersebut lakukan untuk gadis ini atau itu sehingga Ia mulai memperhatikan bagaimana wanita disekitarnya menampilkan dirinya. Dari waktu ke waktu, ia juga sering memergoki banyak laki-laki yang menatapnya dengan cara tidak pantas. Namun Ia hanya mengabaikannya. Begitu mendengar percakapan para lelaki dan memperhatikan pandangan lelaki terhadap seorang perempuan, ia tidak bisa mengabaikannya lagi hal tersebut.

Ia bertanya kepada teman sekelsanya bagaimana pendapatnya tentang para lelaki yang memandang wanita dengan cara seperti itu. Tanggapan yang sering Ia dapat adalah “boys will be boys,” atau “it’s just their biology, they can’t help their behavior.” Ia merasa bahwa hal itu ada benarnya juga. Sehingga Ia berpikir bahwa ketidaknyamanannya terhadap hal tersebut hanya masalah pribadi dengan dirinya sendiri. Ia mencoba memahami bahwa orang-orang memang memiliki hak untuk berperilaku dengan cara mereka dan sehingga Ia tidak punya hak untuk menghentikan mereka. 

Namun, pandangannya mulai berubah ketika ia sudah bertunangan.

Baginya, tunangannya adalah belahan jiwanya. Ia dan tunangannya bertemu di SMP dan berteman selama bertahun-tahun sebelum mereka mulai berkencan. Ketika sedang kencan, tunangannya selalu memperlakukannya dengan rasa hormat. Perlakuan hormat dari tunangannya itulah yang membuat Ia akhirnya mantap untuk menikah. Pernikahan tersebut adalah hal terindah dalam hidupnya. 

Setelah Ia membuat keputusan untuk hanya berkomitmen kepada suaminya, ia merasa bahwa tidak ada yang memiliki hak untuk memperlakukannya seperti objek seks mereka. Setiap kali ia mendapati ada lelaki yang menatapnya dengan cara tidak tepat, ia tidak lagi merasa nyaman, bahkan ia merasa jadi ingin marah. Tapi Ia masih tidak tahu apa yang bisa ia lakukan saat itu terjadi.

Akhirnya, suatu hari Amanda melihat seorang teman perempuan berjilbab di kampusnya. Ia berlari untuk menyapa wanita berjilbab itu. Tanpa disangka, wanita itu berjalan mendekatinya dan untuk beberapa alasan, Amanda malah minder dengan wanita itu. Padahal wanita itu cuma mengenakan scraft (kain panjang yang biasanya digunakan untuk jilbab) dan memakai abayaa (pakaian panjang berbentuk jubah) seperti yang biasa wanita itu kenakan. Dengan pakaian itu wanita tersebut tampak anggun dan kuat dimatanya. 

Amanda berfikir, "Wow, Suatu hari saya ingin terlihat seperti itu!" 

Akhirnya Ia pun mulai mencari tahu tentang jilbab. Ia belajar lebih banyak tentang alasan mengapa Muslim mengenakan jilbab, bagaimana jilbab bisa memenuhi syarat sebagai sebuah jilbab dan cara memakai jilbab yang benar. Ia juga menonton tutorial hijab di youtube dan browsing di toko jilbab online. Sehingga dengan itu Ia makin terkesan dengan bagaimana para perempuan berjilbab itu memancarkan sesuatu yang berkelas dan anggun. Ia jadi ingin sekali menjadi seperti wanita seperti itu. Hingga akhirnya Ia sama sekali tidak dapat mengalihkan pikirannya dari Jilbab. Jilbab  telah jadi bagian dari mimpinya.

Ia mengakui bahwa ada banyak hal yang Ia sukai tentang jilbab. Ia sepakat bahwa jika tubuhnya tertutup oleh jilbab, maka akan ada lebih banyak kontrol atas tubuhnya sendiri dan Ia juga mempelajari adanya perbedaan sudut pandang dunia luar melihat hal tersebut. Tapi di sisi lain, pemikiran feminisnya yang kuat membuatnya yakin bahwa wanita dan pria harus memiliki hak yang sama dalam masyarakat. Sehingga Ia berfikir jika lelaki memperlakukan wanita sebagai obyek seks, maka hal tersebut merupakan bentuk ketidakadilan. Apalagi Ia juga mendapati fakta bahwa perempuan dalam masyarakat Amerika dipandang rendah jika mereka tidak berpakaian dengan pakaian yang atraktif di mata para lelaki. 

Menyikapi itu, ia berkata, "Saya percaya bahwa para wanita tidak harus mengikuti sebuah standar konyol kecantikan yang mengawang-awang. Jilbab adalah cara untuk bebas dari itu."

Baginya, cara berjilbab baik adalah dilengkapi dengan keyakinan feminis tentang keyakinan bahwa jilbab itu lebih dari sebuah pakaian wanita. Karena yang Ia pahami, jilbab adalah tentang bagaimana pria dan wanita seharusnya berinteraksi di ranah publik. Toh Pria juga berpakaian dengan menutupi area tertentu tubuhnya. Hingga akhirnya laki-laki dan perempuan dapat memperlakukan satu sama lain dengan penuh hormat sehingga satu sama lain dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Itulah cita-cita jilbab yang Ia pahami.

Di titik ini, Ia yakin bahwa keinginannya adalah memakai jilbab. Tapi, ia memiliki masalah. Ia takut jika Ia mengenakan jilbab sebagai non-muslim, Ia akan menyinggung ajaran Islam. Ia juga takut untuk meminta saran dari teman-temannya. Hingga akhirnya Ia menemukan sebuah video youtube menjelaskan bahwa hal seperti itu bukalah hal yang menyinggung ajaran Islam. Namun hal tersebut belum membuatnya yakin dengan keputusannya. 
Amanda dengan Suaminya
Setelah berminggu-minggu memikirkan jilbab, Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu temannya tentang kegelisahannya itu. Temannya mengatakan bahwa dia maupun ajaran Islam tidak akan merasa tersinggung dengan non-muslim yang mengenakan jilbab. Temannya tersebut menunjukkan bahwa Muslim bukanlah satu-satunya ajaran yang menganjurkan pemeluknya untuk memakai jilbab. Karena ada banyak wanita Yahudi dan Kristen yang memakainya juga. 

Saat Ia mulai memakai Jilbab selama beberapa minggu. Ia merasa nyaman dan selalu memakainya ketika Ia akan meninggalkan rumah. Waktu Ia magang di Yordania, Ia sempat khawatir kalau Yordania tidak akan menerima jika seorang non-muslim memakai jilbab. 

Ternyata, setelah Ia turun dari pesawat, yang terjadi malah sebaliknya! Ketika Ia memberitahu orang-orang bahwa Ia adalah seorang non-Muslim Amerika, mereka malah sangat senang. Orang-orang mengatakan bahwa jilbab memang bagus untuk Amanda. Beberapa orang justru bersimpati karena dengan memakai jilbab Amanda telah menunjukkan rasa hormat terhadap budaya mereka. Hal terbaik yang dirasakan Amanda adalah ketika ada seorang lelaki yang melompat saking gembiranya saat mengetahui bahwa Ia adalah seorang non-muslim berjilbab! Orang-orang tersebut lah yang memberinya kekuatan ekstra saat Ia merasa canggung ataupun merasa marah jika ada orang yang memberikan pertanyaan seputar jilbabnya. 

Kadang-kadang Amanda masih mendapati ada lelaki yang menatapnya dengan cara tidak sopan. Tapi akhirnya Ia mengambil hal positif dari hal tersebut bahwa meskipun para lelaki itu mencoba untuk "melihatnya", mereka masih tidak bisa "melihat" apa yang mereka inginkan. Jilbab membuatnya mengerti bahwa tubuh adalah hak pribadinya. Ia berkata, "Selamanya saya akan berterima kasih kepada para wanita Muslim yang mengajarkan jilbab padaku"

---

Disarikan dari hautehijab.com dengan perubahan seperlunya. Haute Hijab adalah sebuah website yang menjual jilbab secara online dan memberikan kesempatan kepada pelanggannya untuk menceritakan pengalaman berjilbab mereka. Cerita ini adalah sebuah surat yang dikirim oleh Amanda yang ingin berbagi pengalamannya saat memutuskan berjilbab. Sayangnya, Amanda tidak menyebutkan nama lengkap, agama/kepercayaan apa yang Ia anut atau data lainnya yang memungkinkan kita memverifikasi ceritanya lebih lanjut. Tapi, cerita Amanda -terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut- tetap memberikan sebuah pandangan logis mengapa seseorang menganggap bahwa Jilbab adalah sesuatu yang penting, terlepas dari apapun ajaran agamanya. Kini kita bisa melihat, banyak orang berjilbab tanpa memiliki argumen yang kuat mengapa Ia memutuskan untuk berjilbab. Karena kini jilbab hanya dianggap sebagai fashion belaka tanpa menyentuh makna filosofis tentang makna jilbab itu sendiri. 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.