Jumat, 13 September 2013

Sensasi Baru Ngeblog di Kompasiana

Beberapa waktu lalu, aku nggak sengaja baca banner Iklan di Kompas tentang lomba blogger kompasiana yang menceritakan tentang perjalanan wisata yang berkesan; Sepertinya, hal itu bukan sesuatu yang susah karena aku pernah nulis artikel jalan-jalan juga, 

Akhirnya, aku mengaktifkan kembali akun kompasiana lama ku. Tentu saja, lupa password dan bahkan lupa email mana yang dulu dipakai daftar kompasiana. Setelah urusan teknis sign in beres, mulailah aku menulis.

Di Blogspot, aku biasanya memang hanya membagi tulisan ku di facebook dan twitter. Adapun followe blogger yang masih sedikit dan bukan blogger aktif membuat ku terbiasa dengan tulisan yang dibaca hanya sampai 50 kali dalam sekali posting atau pernah dengan snagat miris hanya 21 kali dengan sekali posting. Apalagi, aku bukan type blogger yang suka blogwalking mengunjungi dan berkomentar dengan blog tetangga. Aku hanya menulis, membagi, dan selesai. Tidak ada target jumlah pembaca. Buat apa? Walau aku cukup senang kalau tulisan ku laris dibaca. Tapi itu bukan hal utama penyebab aku ngeblog.

Kembali ke kompasiana, Waktu aku berhasil masuk ke dashbor kompasiana, ternyata ada 3 orang yang menambahkan aku sebagai temannya. Aku juga baru tau kalau akun itu sudah nganggur dari tahun 2010 tanpa tulisan apapun. Aku sering berfikir, apa sih bagusnya kompasiana? Cuma blogger lokal dari kompas gitu.

Aku pun mulai menulis ceritaku. Untuk pertama, aku masih bingung untuk menambahkan gambar. Tulisan berantakan, papan untuk menulis tulisan kita begitu kecil dan aku sangat merasa tidak nyaman dibandingkan jika dibandingkan tampilan halaman compose pada blogspot. Toh, demi lomba itu, aku mau berlama-lama menulis dengan segala keksulitan format compose nya. Sampai sekarang ada foto yang masih tidak jelas tata letak nya. 

Saat aku klik tombol Publish, 5 menit kemudian sebelum aku sempat share, tulisan ku dibaca lebih dari 50 orang. Saat aku share di facebook, aku justru tidak begitu memperhatikan berapa jumlah pembaca yang bertambah. Aku begitu senang ketika tiba-tiba orang yang tidak mengenal ku dan tidak berteman di kompasiana ikut berkomentar. Beberapa jam setelah itu, tulisan ku menembus 800an pembaca. Padahal aku merasa tidak begitu agresifdalam menshare, Apalagi, twitter bermasalah dengan link yang aku bagi ini http://bit.ly/1awG3Jd

Twitter menganggap link kompasiana ku itu Spam. 

Euforia Kompasiana

Aku yang belum begitu mengenal dunia kompasiana merasa agak terkejut dengan tingginya respon yang diberikan oleh para kompasianer untuk tulisan ku. 

Temen di facebook, namanya Mas Putra memberi selamat padaku kalau tulisan ku ada di kompas. Aku kaget, aku bilang sama dia kalau aku nggak nulis di kompas. Tapi aku nulisnya di kompasiana. Dia bilang, tulisan ku muncul di web kompas. Untuk membuktikannya, dia memberikan link berita online kompas yang dia maksud. Ternyata seperti ini
Ternyata, di Banner blog competition ada nama dan tulisan ku. Karena aku baru aja join kontes blog itu, maka aku masih terdaftar di bagian teratas. Saat aku membuka link Banner itu, aku bersyukur, walau baru bikin tulisannya, hit viewer ku sudah melebihi yang lainnya. walau ada 1 tulisan yang hit nya melebihi hit ku. Setelah mengetahui tentang hal seperti itu, aku jadi lebih sering memantau berapa orang yang mengklik tulisan ku. Aku heran, kenapa jumlah pembaca jadi terasa penting bagiku. Efek kompasianer baru mungkin... Sebenernya setiap yang baru aja posting tulisan emang ditampilin, Jadi nggak perlu kembang kempis juga hidungnya. tapi aku tetep seneng pengalaman pertama di kompasiana nyenengin juga. 

Besoknya, aku membuka lagi kompasiana di kampus. Aku makin kaget, kalau tulisan ku jadi headline dengan pembaca lebih dari 1200 orang. Aku juga di add sama orang-orang. Aku jadi punya temen gitu. hihi, norak abis deh.


Viewer terus bertambah saat aku udah give up nggak bisa share di twitter. Ternyata karena tulisan ku muncul disini juga : 

Aku masih penasaran dengan cara kerja kompasiana dalam menambahkan jumlah pembaca, setelah aku minta tolong seorang teman yang baik gimana caranya buka blokir spam twitter dengan cara kirim email ke twitter support, besoknya, aku bisa share lagi di twitter. Tapi... Nggak banyak yang terjadi. Viewer cuma nambah dikit walau temen kita itu adalah seorang seleb tweet dengan ribuan Follower. Pas aku minta tolong Fatime, viewer tambah 3. Pas minta tolong kak misbah, tambah cuma 2 viewer, pas minta tolong Shei, tambahnya 8 viewer. Nggak banyak berdampak, walau itu udah lumayan banget kalau seandainya kelasnya blogspot.

Ternyata untuk bisa nambah viewer di kompasiana itu, jejaring sosial tidak berpengaruh banyak. Yang pengaruh banyak adalah seberapa lama tulisan kita nangkring di homepage kompasiana dan dikomentari teman-teman. Memang ada banyak orang yang merekomendasikan ke Facebook nya, tapi rekomendasi Facebook yang cuma 74 kali rekomendasi sepertinya tidak begitu banyak pengaruh dibanding 1300an viewer dari kompasiana, 

Aku jadi mempertimbangkan kompasiana sebagai media yang tepat untuk menyampaikan gagasan. jadi, aku memilih untuk menceritakan hal pribadi dan remen temeh di Blogspot dan menulis hal yang agak serius di kompasiana. Menulis itu ternyata tidak sekedar untuk diri sendiri, tapi kita perlu menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kita perlu berbagi ide. Bukan sekedar berapa banyak jumlah pengunjung halaman blog kita, tapi seberapa usaha kita untuk menyampaikan gagasan kita. Bukankah tulisan itu seringkali bisa jadi sebuah gerakan perubahan?

Dan kali ini aku memilih Kompasiana. 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.