cerita tentang remah-remah

Selasa, 15 Januari 2013

Pesimisme Metafisis : Arthur Schopenhauer


Kehidupan

Semula Schopenhauer diharapkan menggeluti dunia bisnis sesuai dengan keinginan Ayahnya. Namun setelah kematian ayahnya Iaberpindah ke Filsafat dan mengagumi filsafat Plato dan Kant. Ia juga mendengarkan kuliah fichte Namun tidak pernah terpengaruh pada nasionalisme sempit yang menjangkiti kebanyakan Intelektual Jerman. Ia adalah seorang kosmopolitan.

Tahun 1814-1818 Schopenhauer tinggal di Dresden dan menghasilkan karya Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai kehendak dan presentasi). Pada tahun 1844 buku tersebut baru laku dengan 60 bab tambahan. Tahun 1820 dia memberikan kuliah di Berlin dan banyak mengecam Hegel. Tema yang Ia angkat saat itu adalah tentang kesia-siaan, penderitaan dan kejahatan.

Schopenhauer adalah filsuf jerman paling menonjol pada abad 19. Ia adalah putra dari tuan tanah di Danzig yang lahir pada tanggal 22 Febuari 1788. Ayahnya berharap Ia menyukai bisnis seperti dirinya sehingga Ia memfasilitasi Schopenhauer untuk mengembangkan bidang bisnis ke negara lain. Untuk menyenangkan Ayahnya, Schopenhauer menjalankan apa yang diharapkan ayahnya.

Setelah ayahnya meninggal, Schopenhauer meneruskan studinya ke Universitas Gottugen dan mempelajari kedokteran. Lalu ia lebih tertarik ke filsafat. Selama mempelajari filsafat, Ia mengagumi Plato dan Kant, Tahun 1811-1813 Ia melanjutkan studi ke Berlin dan mendengarkan kuliah Fichte. Karena itu Ia tidak terpengaruh pada sikap nasionalistis sempit yang menjangkiti para intelektual Jerman. Nasionalisme Sempit yang dimaksud saat itu adalah tentang gerakan Nazi, Ia adalah seorang kosmopolitan.

Ia sangat terpengaruh oleh Kant. Hal itu terlihat jelas pada karyanya Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai Kehendak dan Presentasi) yang terbit tahun 1819. Karena kurang laku, maka Ia menambahkan 60 bab tambahan pada tahun 1844. Tahun 1820 Ia juga sempat mengecam Hegel di kuliah-kuliahnya.

Saat kegagalan revolusi, orang mulai merenungkan tentang tema penderitaan, kesia-siaan dan kejahatan dalam filsafat Schopenhauer. Ia juga tidak menyukai perempuan walau penggemarnya banyak dari kalagan perempuan. Ia selalu berpikir bahwa perempuan adalah “Makhluk bawah”, “Semacam tahap menengah antara anak-anak dan laki-laki dewasa.” Ia meninggal pada tahun 1860.

Pemikiran Filsafat Schopenhauer
Seperti yang disebutkan diatas, Schopenhauer sangat dipengaruhi oleh Kant. Ia berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita alami ini adalah objek bagi subjek. Artinya dunia fenomenal adalah presentasi-presentasi mental kita yang tersusun teratur dan dinamakan ilmu pengetahuan. “Prinsip alasan yang memadai” adalah asas umum yang mengatur susunan presentasi itu. Dengan ini, Ia mengakui adanya das Ding an Sich.

4 prinsip yang mengatur itu antara lain adalah :
1.       Prinsip alasan memadai mengenai menjadi”, yaitu Pikiran kita mengatur objek intuitif dan empiris menurut kategori kausalitas. Dengan Ini, sesuatu untuk jadi memadai, harus ada pengalaman empirik sebelumnya. Ia mereduksi konsep a priori menjadi satu, yaitu kausalitas.
2.       Prinsip alasan yang memadai mengenai mengetahui”, yaitu keputusan tidak ditentukan sekedar dari logika kita. Melainkan juga tentang asas lain yang memungkinkan sintesis putusan tersebut.
3.       Prinsip alasan memadai mengenai ada, yaitu pikiran kta menangkap objek intuitif hubungan ruang dan waktu yang menghubungkan kita dengan kebenaran hakiki.
4.       “Prinsip alasan memadai untuk bertindak”, yaitu, untuk menghasilkan pengetahuan yang memadai, subjek ketiga asas itu bukan hanya subjek pengetahuan, tapi ada juga subyek kehendak atau motivasi.

Dalam Die Welt alas Wille und Vorstellung Ia menulis, “dunia adalah ideaku.” Yang artinya bahwa dunia adalah presentasi ku. Ia ingin mengatakan bahwa seluruh kenyataan yang tampak adalah presetasi/objek bagi subjek. Ia ingin menegaskan bahwa kenyataan itu tidak ideal seperti yang dikatakan hegel. Melainkan yang ideal adalah yang ada dalam ruhani. Prinsip tersebut mengacu pada prinsip Kant. Setelah mempelajari filsafat India karena pengaruh Frederich Meyer yang membuatnya berfikir bawa dunia hanyalah penampakan. Dunia yang maya inilah yang menjadi pembahasan filsafat Schopenhauer selanjutnya, mengungkap apa dibalik maya itu sendiri.

Jika dunia bersifat presentas, maka dunia itu fenomenal. Kenyataan pada dirinya persesi kita yang artinya bahwa dunia numenal adalah X yang dapat diketahui. Dan dari kesemua itulah disebut dengan Kehendak. Agar sampai pada kesimpulan tersebut, Schopenhauer menggunakan intuisi. Dalam pandangannya, Kehendak akal dan gerakan tubuh adalah sesuatu yang identik. Karena gerakan tubuh adalah “Kehendak yang diobjektifkan”. Namun, karena segala sesuatu itu terikat dengan ruang dan waktu, maka ia bersifat fenomenal. Padahal Das Ding an Sich mestilah tunggal. Maka kehendak bersifat metafisis. Jadi segala atribut di dunia ini bersumber dari penampakan dari Kehendak metafisis yang tunggal.

Kehendak diperinci sebagai “Kehendak untuk hidup” atau sebagai sesuatu yang buta atau suatu kehendak purba, Kehendak untuk hidup lahir dari nafsu hewani yang paling rendah. Secara biologis, rasio manusia memiliki fungsi untuk memuaskan kebutuhan hidupnya. Ia tidak sepakat dengan Hegel yang hanya berpegang bahwa manusia dapat hidup hanya dengan rasio. Tapi ia mengatakan bahwa manusia hidup karena ditunjang oleh Kehendak.

Pesimisme Metafisis Schopenhauer 
Kehendak metafisis adalah dorongan buta untuk tidak pernah mencapai kepuasan dan tujuannya. Ia terus beruang tapi tak pernah mencapai apa-apa. Manusia melakukan jerih payah untuk bahagia padahal ia tidak akan menghasilkan apa-apa. Dalam hal ini, kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan “pemadaman hasrat” dan “pelepasan rasa sakit.”. Kebahagiaan tidak bersifat positif, tapi justru negatif. Yang positif adalah kehendak. Kehendak buta juga sumber konflik dan penderitaan. Sehingga kehendak metafisis adalah kehendak yang menganiaya. Sehingga pandangannya disebut pesimisme. Ia menilai bahwa manusia berjuang mencapai kedamaiannya, padahal semua itu akan jadi sia-sia. Sehigga apabila tercapai satu tujuan, maka ia akan menuju pada kebosanan yang lain dan itu membuat tujuan untuk bahagia itu tidak pernah tercapai. Filsafat Pesimisme Schopenhauer inilah yang dipelajari oleh gerakan Romantisme abad 19.

Schopenhauer yang telah belajar filsafat India mengajarkan bahwa untuk terlepas dari kehendak buta ini, kita perlu mengikuti 2 jalur. Jalur pertama adalah dengan kontemplasi estetis yang membimbing manusia untuk memadamkan hasratnya. Manusia bisa menjadi makhluk tanpa pamrih. Jika subyek dapat memandang objek-objek estetis bukan sebagai nafsu, maka manusia dapat terbebas dari perbudakan kehendak yang menimbulkan nafsu. Namun ini adalah sebuah pelepasan sementara saja. Setelah beberapa waktu jiwa yang tenang tersebut akan menderita lagi.

Jalur kedua adalah lewat jalur etis. Yaitu jika eksistensi kehidupan dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang buruk. Bukan berarti bunuh diri sebagai pengakhiran dari eksistensi yang hidup memiliki moralitas tinggi. Ia berpendapat, keinginan untuk bunuh diri adalah ungkapan tersembunyi dari Kehendak untuk hidup. Seharusnya orang mengatasi permasalahan hidupnya dengan moralitas yang dijunjung setinggi-tingginya.

Schopenhauer juga menilai bahwa manusia bebas hanya secara fenomenal. Sejatinya manusia adalah budak dari Kehendak butanya, oleh sebab itu Ia menganut prinsip determinisme. Manusia bisa saja menembus maya dengan menabstraksi kenyataan fenomenal denga berbuat baik dengan cinta kasih atau agape pada manusia lainnya dan memberikan simpati etis. Manusia juga harus menolak Kehendak agar ketika Ia mati dapat mencapai Nirvana. Nirvana bisa dicapai apabila ia benar-benar mematikan kehendak. Jika kehendak itu lenyap maka dunia yang maya juga akan menjadi ketiadaan. Pemahamannya terinspirasi dari paham Hinduisme dan Budhisme.

Etika Schopenhauer bersifat etika bela rasa yang melahirkan hal yang baik. Sebaiknya, dari egoisme lahirlah yang jahat. Karena semua mansuaia berasal dari Kehendak Purba, maka manusia adalah budak dari Kehendak metafisis itu. Dari penderitaan makhluk lain, kita dapat melihat penderitaan diri sendiri. Kehendak yang melahirkan kesengsaraan dapat diatasi dengan bela rasa terhadap semua makhluk di dunia ini.

Schopenhauer mengkritik Hegel yang menyatakan kenyataan pada akhirnya bersifat rasional dengan mengatakan bahwa kenyataan itu adalah dorongan buta yang irasional. Dengan pemahamannya, ia menolak adanya perbudakan, penindasan dan eksploitasi buruh di era industri abad 19. Irasionalisme metafisis Schopenhauer juga merupakan sikap perlawanan terhadap optimisme metafisis Hegel. Menurut Schopenhauer, segala sesuatu adalah manifestasi kehendak buta yang tidak ada habisnya.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.