Jumat, 08 November 2013

Peran Orangtua dalam Psikososial Erik Erikson

Menurut teori psikososial Erik Erikson, setidaknya ada 8 tahapan perkembangan manusia yang harus dilalui untuk dapat mencapai kehidupan yang matang dan layak. Tahap tersebut dimulai dari usia 0-60 tahun keatas. Tahapan yang dimaksud Erikson itu bukanlah sebuah tahapan gradual yang jika gagal di satu tahap, otomatis gagal juga di tahap berikutnya. Karena bisa saja, gagal di fase pertama namun akhirnya menemukan solusi atas kegagalan itu saat menginjak fase kedua. Sehingga anak dapat menempuh tahap selanjutnya dengan baik.

Kesadaran manusia akan dirinya dapat membantu manusia untuk mencapai keberhasilan di tiap tahapan. 6 tahapan pertama adalah tahapan yang membutuhkan peran keluarga inti sebagai pendukung utama. 2 tahapan berikutnya dilakukan oleh manusia yang mulai terpisah dari keluarga inti dan berencana membuat sebuah ikatan keluarga yang baru. Kali ini, yang akan dibahas adalah 6 tahapan awal dalam kehidupan menurut Erik Erikson yang mengharuskan pentingnya pendampingan orangtua di dalamnya.

Tahap Pertama Usia 0-18 Bulan. 
Di fase paling dasar ini kepercayaan, kebergantungan bayi ditentukan oleh kualitas pengasuh bayi tersebut. Jika tahap ini berjalan dengan baik, dia akan merasa aman, selamat dan percaya diri. Jika pengasuhnya tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak untuk memberikan perhatian, maka akan dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada bayi yang diasuh. Selain itu, bayi akan menemukan ketakutan-ketakutan karena merasa ternyata dunia ini tidak konsisten dan susah ditebak. 

Tahap Kedua usia 18 Bulan-3 Tahun
Fase ini menentukan pengendalian diri anak berupa penggunaan toilet, makanan, mainan dan pakaian yang disukai. Hal tersebut penting dilakukan karena berpengaruh pada peningkatan kepercayaan diri balita. Pengasuh/orangtua akan melatih anak untuk memiliki kesadaran pengendalian diri terhadap dirinya sendiri. Kalau gagal dalam fase ini, anak akan merasa selalu tidak cukup, tidak puas dengan apa yang dipunyainya dan ragu-ragu terhadap diri sendiri. 

Tahap Ketiga Usia 3-6 tahun
Fase ini memungkinkan anak untuk memasuki dunianya yang baru dengan interaksi sosial di pra-sekolah atau lewat permainan. Jika pengasuh/orangtua berhasil mendidik anak di fase ini, anak akan memiliki kemampuan inisiatif yang tinggi dan rasa tanggung jawab dalam memimpin. Jika gagal, Ia akan merasakan perasaan bersalah, ragu-ragu dan merasa tidak kreatif atau kurang rasa inisiatif. Anak akan merasa tidak diberi kepercayaan dan merasa cemas. 

Tahap Keempat Usia 6 Tahun-Pubertas
Di fase ini anak akan merasa bangga pada keberhasilan, kemampuan, kompetensi dan berbagai keterampilan yang dimilikinya. Penting bagi mereka untuk terlibat pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka mulai merasa perlu memiliki keluasan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Di sini, orangtua, guru dan lingkungan sekitar sangat berperan penting dalam menumbuhkan potensi-potensinya tersebut. Jika gagal pada tahap ini, anak akan merasa bahwa ia tidak produktif dan tidak berkompeten di bidang yang ia tekuni. Hal ini berimbas pada ketekunan dia di masa yang akan datang. 

Tahap Kelima Usia 10-20 Tahun
Remaja mulai mandiri, membangun kepekaannya, mencari jati diri dan menentukan tujuan-tujuan hidup. Di fase ini, seorang remaja mulai merasakan romantisme, pekerjaan, tanggung jawab dan berperan di lingkungan untuk membentuk diri menjadi seseorang dengan identitas positif. Peran orangtua dalam memberikan kepercayaan dan arahan (bukan dalam bentuk perintah-perintah) penting untuk dapat menjalani masa depan yang positif. Jika identitas diri yang ditemukan oleh remaja tersebut diabaikan dan ditolak oleh orangtua, maka ia akan mengalami kebingungan jati diri yang akut tentang masa depan dan dirinya sendiri. 

Di masing-masing tahapan ada indikator jika fase itu gagal atau berhasil. Nah, jika kita lihat ada orang yang sudah dewasa tapi masih mengalami masalah yang seharusnya bisa diatasi saat anak melalui 5 tahapan awal kehidupannya, berarti ia memang kurang mendapat dukungan dari orangtua dan lingkungan sekitar untuk menemukan dirinya.

Jika kita lihat teori Erikson ini, kita akan mengetahui betapa pentingnya fase awal dalam perkembangan manusia. Apa jadinya jika pada 5 tahap perkembangan itu, anak hanya diasuh oleh seorang baby sitter yang berpendidikan rendah? Untuk jadi orangtua yang bisa menemani fase itu dengan baik pun harus memiliki bekal yang cukup dan kelayakan. Akan beda anak yang diasuh oleh orangtua yang memiliki pengetahuan luas dengan seorang baby sitter lulusan SD. 

Wanita-wanita pintar dan berpendidikan tinggi semestinya mau fokus mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak demi menyiapkan gen unggul untuk bangsa ini. Karena jika tidak, negara kita ini akan terus menerus berada di lingkaran setan karena kekurangan SDM berkualitas. 

Untuk itu. jika ingin mendidik anak, kita harus mendidik diri sendiri dulu. Sebaik-baiknya, setinggi-tingginya. Mengukir masa muda  dengan pengalaman semanis-manisnya dan petualangan sebanyak-banyaknya. Berjalan sejauh-jauhnya, membaca buku sesering mungkin, belajar sekeras-kerasnya, bergaul seluas-luasnya, mengikuti organisasi sematang-matangnya, bekerja serajin-rajinnya, bahkan, tidak masalah jika kita mencoba berbuat senakal-nakalnya asal kita tahu kapan harus berhenti. Jangan lupa, apapun, ada tanggung jawab yang diemban dan konsekuensi yang harus dijalani. 


Jika itu semua sudah dilakukan, barulah kita siap untuk menjalani kehidupan pernikahan dan berkeluarga. Jika tidak, bagaimana kita akan membicarakan dunia ini kepada anak? Anak, atas petunjuk kita (sekali lagi, bukan perintah-perintah) akan menemukan jati dirinya sendiri yang sesuai dengan perkembangan jamannya. Tugas kita adalah mempersiapkan dengan baik apa yang menjadi jalan mereka kelak. Bahkan, persiapan-persiapan mendidik anak dimulai sebelum pernikahan itu sendiri terjadi. 

Di jaman modern, wanita berada di persimpangan antara mengejar karir (atau bekerja saja, tanpa harus mengejar karir) di luar rumah dengan fokus di keluarga. Ini adalah soal pilihan dan seberapa matang kita mempersiapkan pilihan-pilihan itu. Subhi-Ibrahim, seorang dosen filsafat Paramadina berkata, "Bayangkan jika sejak awal seorang anak dididik oleh seorang Ibu yang Sarjana Filsafat. Bayangkan nantinya anak ini akan secerdas apa." Ia juga menambahkan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang wanita, maka tangung jawab untuk fokus mengurusi anak-anaknya sendiri juga seharusnya, semakin tinggi. 

Menjadi Ibu rumah tangga tidak hanya sibuk dengan urusan-urusan domestik di dalam rumah. Seorang Ibu, tetap berkewajiban untuk memberikan kontribusi pada komunitasnya, membangun masyarakatnya. Ibu rumah tangga juga bisa jadi penulis, wirausaha di rumah atau apapun yang menghasilkan. Bukan berarti diam dan membiarkan suami menghandle semua urusan material sendiri. Apalagi jika ternyata penghasilan suami belum terlalu mencukupi untuk keluarga.

Berkat seorang Psikososial berkebangsaan Jerman ini, kita dapat memahami bahwa pilihan menjadi seorang Ibu rumah tangga tidak melulu karena alasan-alasan agama yang sering disebut para feminist sebagai pengecilan peran perempuan. Justru dengan menjadi Ibu rumah tangga, seorang wanita menemukan dirinya dan tanggung jawab besarnya kepada negara, untuk melahirkan generasi terbaik, putra peradaban yang dididik dari rahim yang berkualitas. 

Di dalam tulisan lama berjudul Wanita dan Kemanusiaan, ada pandangan Imam Khomeini tentang bagaimana menjadi perempuan sejati. Jangan sampai, sebagai perempuan kita akhirnya melahirkan generasi yang cengeng, yang takut melakukan perlawanan pada kedzaliman dan takut menyuarakan kebenaran.

Jika kita menengok teori Hegel tentang "Back to Nature" nya, maka kita akan lebih sepakat pada pola pendidikan yang diajarkan oleh Erikson. Karena Hegel meminta kita untuk membiarkan anak dirawat oleh alam, tanpa campur tangan orangtua sekalipun anak tersebut masih di usia dini. Bagi Hegel, dengan cara itulah anak menemukan dirinya. Prinsip itu diterapkan kepada anak dari hubungan incest nya dengan Christiane Burkhardt yang menjalani kehidupan yang miskin dan terlunta-lunta. Sampai akhirnya Ludwig -anak Hegel- yang berkebangsaan Jerman, mendaftarkan diri dalam militer Belanda, bertempur membela kolonial Belanda melawan Pangeran Diponegoro dan meninggal di tanah Jawa. Jauh dari ayahnya yang dibenci sekaligus sangat dirindukannya. 

Nah, sama-sama pemikir Jerman, yang satunya adalah seorang psikososial dan yang satunya adalah seorang filosof, pola mana yang akan kita pilih?

Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormat kepada para Ibu yang terpaksa bekerja di luar rumah sehingga dengan berat hati harus menyerahkan pengurusan anak pada orang lain (Baby sitter, tetangga, nenek dll). Bagaimanapun, memang selalu ada yang dikorbankan dengan pilihan-pilihan kita. Semoga anak-anak kita dapat melewati tahap-tahap itu dengan baik nantinya.

---
PS :
Tulisan ini dibuat setidaknya karena 3 hal :
  • Iseng nulis dalam tekanan deadline transkip wawancara
  • Kangen nulis untuk majalah keluarga
  • Tentang sebatang rindu yang baru saja dipatahkan kekasih


Mampang, 8 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Kamu?