Minggu, 16 Juni 2013

Ibu Aminah, Saksi Hidup Potret Suram Tragedi Tanjung Priok '84 (Bagian 2)

Setelah pertemuan dengan kakak kandungnya, Bu Aminah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Masa tahanan 45 hari dengan kondisi sel yang sangat buruk membuat psikis dan mentalnya dianggap terganggu, saat ditanya apa yang saat itu dirasakannya saat memasuki RSJ, Ibu Aminah dengan yakin menjawab, “Saat itu saya sadar betul bahwa sebenarnya saya tidak gila. Namun saya harus bersikeras untuk melawan bisikan-bisikan tentang Kapten Budi Utomo. Saya selalu berkata ‘Laa! Uhibbullah Faqat!’  (Tidak! Saya hanya mencintai Allah) setiap kali bisikan tentang, ‘Terima saja Kapten Budi, kamu bisa hidup enak nanti’ itu datang. Istilah jawanya, saat itu saya dipelet. Namun tidak ada yang mengetahui hal itu. Orang hanya melihat bahwa saya gila. Bahkan orangtua saya pun demikian. Bahkan sampai sekarang, apa yang saat itu saya rasakan tidak dipercayai oleh orang. Karena menurut mereka, hal mistis seperti itu tidak dapat diterima akal sehat.” Ungkapnya, sambil menggelengkan kepala.

Pasca dirawat di RSJ selama 1 bulan dan dinyatakan sembuh, Bu Aminah akhirnya dibebaskan. Anehnya, semua yang disebut para militer sebagai barang bukti pemberontakan terhadap asas tunggal Pancasila malah lenyap tak bersisa. Tanpa pengadilan apapun, Ia dikembalikan lagi ke rumah. Sedangkan Abdul Bashir, masih dipenjara sampai 2 tahun kedepan tanpa proses pengadilan juga.

Saat kembali ke rumah, kondisi telah berubah. Semua modal membuat kue, Ijazah sekolah, barang-barang lainnya juga raib dijadikan barang bukti penangkapannya dulu. Ia harus memulai dari awal. Karena tidak punya apa-apa, akhirnya Ia pulang ke rumah orangtuanya di Boyolali. Dengan status mantan tahan politik. Tentu saja, hal itu dianggap aib dalam masyarakat yang tidak tahu secara pasti apa yang terjadi sebenarnya.  Apalagi saat itu, wanita berjilbab masih dianggap tabu oleh masyarakat. Selain itu, Ibu Aminah tidak lagi dapat bekerja dimanapun maupun melanjutkan pendidikannya. Beban psikis semakin bertambah karena Ia adalah seorang Janda dengan 1 anak yang menjadi bahan pembicaraan orang.

Akhir tahun 1985, Ibu Aminah menikah lagi dengan teman kakaknya bernama Muhsin Sukandar. Saat itu, Ia sudah kembali lagi ke Jakarta, bersama dengan suami inilah Ia mulai merintis lagi roda ekonomi yang dilemahkan oleh kasus Tanjung Priok tersebut. Ia mulai berdagang kecil-kecilan sebagai pengemas makanan ringan dan bisa bertahan sampai Reformasi tahun 1998 pecah.  Pasca Reformasi, bisnis yang Ia kembangkan bersama suaminya tidak lagi dapat berjalan, akhirnya, Ia kembali lagi ke Boyolali sebelum akhirnya menetap di Solo dan menjalani bisnis kerajinan tangan untuk souvenir pernikahan.

Barulah pada masa Pemerintahan SBY dan atas desakan almarhum Munir lewat KontraS, para Jenderal yang terlibat dalam pecahnya Tragedi Tanjung Priok diadili. Ibu Aminah turut memberikan kesaksian. Jumlah korban Tanjung Priok yang masih hidup hanya tinggal sedikit karena sebagian besar nya memilih jalur Islah dengan iming-iming sejumlah uang dari para Jenderal, termasuk mantan ketua MPR AM Fatwa. Karena apabila islah dijalankan, maka akan memperingan hukuman yang akan dijatuhkan kepada para Jenderal. Ibu Aminah dan 13 orang lainnya tetap menempuh jalur hukum, walau ketukan palu sudah menyepakati bahwa para Jenderal akan ditahan dan negara harus membayar kompensasi pada korban, persidangan berhenti begitu saja di tengah jalan tanpa ada kejelasan. Hingga sekarang. Nama-nama seperti Mantan Presiden Soeharto, Wiranto, Tri Sutrisno, LB Moerdani dan Jenderal lainnya yang terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut tidak lagi pernah disebut-sebut.

Ketika ditanya harapannya, Ibu Aminah menjawab bahwa Ia masih ingin tetap melanjutkan proses hukum jika memungkinkan. Namun, Ia tidak memiliki daya apapun untuk melakukannya. Apalagi semenjak kepergian almarhum Munir. Ia berkata ini bukan soal uang, tapi Ia ingin Indonesia sebagai negara hukum memberikan keadilan untuk semua warganya, termasuk Ia. Karena apabila kasus ini di lenyapkan atau dihentikan, maka akan rentan terjadi pelanggaran HAM lain karena pelaku masih bebas berkeliaran. Bahkan pelanggar HAM berat masih bisa mencalonkan diri sebagai calon presiden RI.

“Nanti biar anak-anak saya yang teruskan jika proses hukum akhirnya diteruskan.” Saat ditanya tentang apakah Ibu Aminah sampai sekarang masih mengalami trauma terhadap peristiwa itu, sambil bergurau, Ia menjawab, “Saya tidak ingin anak saya jadi Militer, polisi, tentara atau semacamnya. Saya juga tidak ingin anak-anak saya menikah dengan militer. Sampai kapanpun. Tapi saya sadar bahwa hidup saya sudah berjalan sejauh ini. Saya harus jalan terus sampai bertemu dengan Nya nanti.”


Di Indonesia, sekarang ini, ada banyak orang lain selain Ibu Aminah yang tidak melanggar persoalan hukum apapun di negeri ini namun hak-haknya diabaikan oleh negara. Melupakan kisah-kisah yang ada dalam suramnya potret HAM kita hanya akan membuat efek jera pada pelaku hilang. Tentu saja, kita tidak ingin ada lagi Ibu Aminah-Ibu Aminah lainnya. Mari kita menolak lupa. 

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.