cerita tentang remah-remah

Minggu, 16 Juni 2013

Ibu Aminah, Saksi Hidup Potret Suram Tragedi Tanjung Priok ‘84 (Bagian 1)

Tatapan wanita itu masih tajam dan wajahnya tidak setua usianya. Wanita yang lahir pada tanggal 4 Januari 1958 itu tidak terlihat sama sekali bahwa Ia dulunya adalah seorang bekas narapidana yang karena mendapat tekanan psikis, akhirnya masuk rumah sakit jiwa. Menjadi tahanan tanpa proses pengadilan sama sekali di penjara umum dan menjadi satu-satunya korban wanita memang bukan hal mudah. Apalagi saat itu, ada banyak suara-suara teriakan kesakitan dari narapidana laki-laki yang dipaksa mengaku oleh aparat.

“Setiap ada teriakan, saya selalu berfikir, mungkin itu adalah kakak saya yang sedang di interogasi.  Saya selalu bertanya-tanya, mungkinkah besok saya akan mengalami penyiksaan itu Apakah kakak saya masih hidup? Kapankah saya akan bertemu dengan keluarga saya lagi? Memikirkan itu sudah membuat saya stress berat.” Tuturnya dengan pandangan menerawang.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa peristiwa di Tanjung Priok tahun 1984 masih menyisakan banyak kisah yang luput ditulis oleh buku-buku sejarah. Saat itu, ada satu wanita yang ikut ditahan dan mengalami tekanan berat dari aparat militer. Ia adalah Aminatun Najariyah.

Ibu Aminah –begitu biasanya Ia disapa- adalah saksi hidup kelamnya persoalan HAM di Indonesia pada masa Orde Baru yang sampai sekarang belum juga selesai. Bagaimana tidak? Dipenjara tanpa bukti yang kuat dan tanpa pengadilan saja sudah merupakan pelanggaran HAM yang berat, apalagi ditambah dengan penyiksaan psikis. “Di dalam penjara milter itu, saya tidak bisa mandi karena ada saja petugas yang iseng bersiul-siul setiap kali saya ingin ke kamar mandi, membuat saya merasa tidak aman. Takut diintip. Apalagi itu adalah penjara umum yang saat itu isinya semua laki-laki. Setiap kali mandi, saya akhirnya menggunakan pakaian lengkap dengan air yang kadar kapurnya sangat tinggi. Tidak ada peralatan kebersihan tubuh yang bisa saya gunakan, akhirnya saya tidak pernah sikat gigi sama sekali maupun membersihkan tubuh yang lain. Gusi saya juga jadi busuk.” Ujarnya nanar.

Dibalik Rusuhnya Tanjung Priok

Saat tragedi berdarah Tanjung Priok bergemuruh, Ibu Aminah sedang berada di rumah yang Ia tinggali bersama kakak kandung beserta istrinya. Tiba-tiba rumah didobrak oleh sekelompok petugas berseragam militer dan mencari kakaknya Abdul Bashir. Mereka mengacak-acak rumah berdalih mencari tanda bukti pemberontakan kepada negara dengan tujuan mendirikan negara Islam dan membubarkan NKRI. Saat itu, isu tentang asas tunggal Pancasila memang sedang ramai dibicarakan.

“Kakak saya saat itu ditangkap. Padahal Ia tidak tahu apa-apa. Memang beberapa kali Ia mengikuti pengajian di Masjid bersama Amir Biki, namun setahu saya sama sekali tidak membahas tentang negara Islam. Hanya pegajian masjid biasa. Saat mereka akan meninggalkan rumah, saya dan kakak Ipar saya yang ketakutan dan menggunakan jilbab seadanya saat itu dihampiri juga oleh petugas. Saya akhirnya ikut diangkut, dipaksa ikut ke dalam mobil petugas. Saya semakin takut ketika mereka mulai memandangi saya dengan tatapan nakal dan beberapa kali berbisik tentang ‘cantik’ ‘bagian bos’ dan sebagainya.”

Sebagai dalih penangkapan itu, para tentara militer menyita peralatan Ibu Aminah yang saat itu merupakan pengusaha pembuat kue. Segala macam pisau, gunting mixer dan berbagai peralatan yang ada di pabrik kue diambil oleh para militer itu sebagai barang bukti makar. Padahal, aktivitas Bu Aminah selama ini memang hanya memproduksi kue dan kakak kandungnya yang akan memasarkannya. Ia tidak pernah terlibat dalam pengajian apapun.

Di saat bersamaan, suasana di luar semakin malam semakin panas. Masih terdengar tembakan di mana-mana. Pasca di bubarkan secara paksa, massa yang berdemonstrasi di depan Polres Tanjung Priok menuntut pihak Polres untuk mengembalikan Amir Biki. Amir Biki merupakan tokoh masyarakat saat itu yang biasanya menjadi penceramah dalam pengajian di Musholla Assa’adah. Ia ditahan tanpa proses pengadilan juga karena ingin membebaskan pengurus musholla Assa’adah dan warga Priok yang bertikai dengan Babinsa.

Pasalnya, Babinsa yang berseragam militer tersebut masuk ke masjid tanpa melepas sepatu dan merobek pamflet pengajian jumat membuat marah warga. Apalagi setelah Babinsa tersebut menyiram papan pengumuman mushalla dengan air selokan. Jamaah langsung menegur Babinsa tersebut dan terjadilah cek cok mulut. Karena kesal, warga membakar motor Babinsa tersebut dan setelahnya pelaku pembakaran motor ditangkap. Itulah yang menyebabkan banyak warga yang ikut andil dalam peristiwa tersebut. Apalagi setelah Amir Biki, yang ingin beraudiensi dengan pihak kapolres justru ditangkap. Terjadilah gerakan massa yang besar dan dibubarkan dengan moncong peluru militer. Ribuan nyawa melayang, bahkan yang tidak tahu apa-apa sebelumnya. Ibu Aminah adalah salah satunya korban tak bersalah yang dilibatkan dalam kasus ini.  

Ibu Aminah ditahan di sel yang berbeda dengan kakak kandungnya. Begitu memasuki penjara, suara-suara penyiksaan dan teriakan para narapidana yang juga tidak melalui proses pengadilan mulai menghantuinya. Ibu yang kini memiliki 7 orang anak tersebut juga menolak untuk melepas jilbabnya. IIa terus-menerus menanyakan dimana kakak kandungnya pada petugas dan para petugas biasanya hanya tertawa menanggapi pertanyaannya.

Keadaan penjara semakin buruk ketika ada salah seorang Kapten bernama Budi Utomo yang mengatakan bahwa apabila Ibu Aminah menjadi Istrinya, maka Ia bisa langsung dibebaskan dari penjara. Karena menolak untuk dijadikan istri itulah, suara-suara aneh mulai muncul. Seperti ada bisikan bahwa Ia akan mati jika tidak menerima Budi Utomo. Untuk melawan suara-suara bisikan itu, mulut Ibu Aminah mulai berdoa, mulai dari membaca surat yasin sampai shalawat-shalawat. Namun, orang-orang yang melihatnya justru melihat bahwa Ibu Aminah sedang sakit jiwa karena tidak henti-hentinya meracau.

“Saya sadar betul tentang kondisi di sekeliling saya. Saya juga memperhatikan apa yang diucapkan oleh para militer yang menjaga sel saya. Sampai akhirnya saya bertemu kakak saya di dalam penjara. Petugas mengira saya stress berat dan untuk meminimalisir stress saya, akhirnya kami dipertemukan. Kakak saya menangis memeluk saya. Ia juga berfikir bahwa saya ini sudah tidak waras karena saya terus menerus menggumam. Apalagi kondisi penjara yang memprihatinkan membuat penampilan saya, yang walaupun masih berjilbab, menjadi sangat kacau balau. Kakak saya membisikkan, ‘Jangan khawatir, secepatnya, kita akan segera pulang’. Saat itu saya berfikir apakah maksudnya sebentar lagi kita semua akan ditembak mati seperti tahanan lainnya? Namun saya tidak menanggapi apa-apa karena bisikan-bisikan untuk menerima pinangan Kapten Budi Utomo terus menggema ditelinga saya.” Ucapnya sambil menerawang jauh ke masa lalu, saat usianya 27 tahun.

Baca Bagian Kedua di sini

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.