cerita tentang remah-remah

Minggu, 16 September 2012

Polemik berkepanjangan The Innocence of Muslim


Banyaknya reaksi atas Film The innocence of Muslim membuat dunia seolah memiliki musuh bersama, yaitu si pembuat film ini. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Amerika dan Israel lah yang harus bertanggung jawab atas beredarnya Film ini. Umat dari berbagai Mazhab meneriakkan protes terhadap Amerika dan pembuat film ini. Kata the Hufftington post dot com, Google sang pemilik youtube telah mengabulkan permintaan Pemerintah Amerika untuk menutup akses Trailer film Innocence of Muslim ini di Negara mayoritas Islam seperti Indonesia, India, libya dan Mesir. Namun tetap saja, setiap hari ada banyak unggahan ulang di youtube tentang film ini. Beberapa channel yang menayangkan video ini pun hari ini gagal di akses di Indonesia, padahal kemarin (14/9) beberapa channel masih bisa di akses. Penutupan tersebut adalah untuk menghindari amukan muslim kepada Amerika atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Film ini disamping merugikan Islam karena menghina Nabi Muhammad, juga telah merugikan Pemerintah Amerika sendiri karena dibunuhnya dubes Amerika di Libya dan berbagai gelombang Anti Amerika di berbagai belahan di dunia. Atas dasar undang-undang kebebasan berekspresi, Pemerintah Amerika tidak dapat melarang pembuatan film ini. Hanya saja, sanksi sosial dari berbagai pihak pasti ada berupa tekanan pada pembuat film ini.


Protes Anti Amerika di Kashmir


Misalnya, seperti dikutip Tempo dot Co, Hillary Clinton pun menyebut "Kami tidak bisa menghentikan warga negara untuk berpendapat, betapa pun menjijikkan pendapat itu." Dalam Konferensi persnya saat proses pemakaman dubes beserta staf yang meninggal di Libya karena serangan atas reaksi dari film tersebut. Hillary juga bilang, "Islam seperti agama lainnya, menghargai martabat umat manusia." Dengan pernyataan tersebut kita bisa melihat bahwa pemerintah Amerika sendiri tidak senang dengan adanya film ini. 

Menurut Steve Klein, Sam Bacile yang tinggal di California ini bukan orang Israel maupun dari Yahudi. Ia mengataan pada the Atlantic bahwa Sam Bacile kemungkinan adalah orang Mesir karena Bacile punya saudara dari Mesir dan lancar berbahasa Arab. Bahkan hingga kini sebenarnya belum di ketahui pasti siapa nama asli Sam Bacile dan apa kewarganegaraannya. Tapi orang-orang akan tetap mengajukan protes ke kantor Kedubes Amerika. Bagaimanapun, Sam Bacile tinggal di California, sehingga membuat Amerika jadi bulan-bulanan demonstran Muslim yang mengecam film penistaan terhadap Rasulullah ini. Keterlibatan Amerika sebagai sebuah negara yang dihuni si pembuat film tak terhindarkan lagi. Orang sudah terlanjur menganggap film ini adalah suara Amerika.


Bukan hanya kaum muslim yang tidak suka dengan isi film. Aktris film ini pun shock dengan hasil editing film ini yang telah berganti dialog dan berbagai dubbing. Selama Syuting, masih dikutip dari Tempo dot co, Cindy Lee salah satu aktris bilang kalau Ia tidak tahu kalau film ini adalah tentang Nabi Muhammad, Karena selama syuting, pemeran utama bernama Master george yang berlatar belakang Mesir 2000 tahun lalu. 

Film ini konon di danai sekitar 100 orang yahudi. Kita tahu bahwa Yahudi (Mungkin yang dimaksud Zionist) punya kerajaan bisnis besar di seluruh dunia. Dengan dana dari 100 orang yahudi, seharusnya film ini bisa jadi film berkualitas tinggi minimal memiliki efek visual yang pantas untuk jadi film internasional. Kita tidak dapat membayangkan bahwa ada 100 Yahudi menggalang aksi "saweran" dengan uang receh untuk pembuatan film ini kan? Tapi nyatanya, film ini hanya tampak layaknya serial opera sabun yang minim teknologi dan dibuat dengan asal-asalan dan tanpa riset yang mendalam. Dengan kualitas film seperti itu, orang tidak akan repot-repot menontonnya ke Bioskop bahkan membelinya. Karena ada banyak film hollywood yang mengedepankan teknologi tinggi dan efek visual maksimal di sana yang lebih layak untuk di tonton. Film The Innocence of Muslim sebagai film telah gagal menampilkan kualitasnya.
Salah satu adegan Film The Innocence of Muslim

Sepertinya, selain bermotif ekonomi karena adanya sumbangan dana dari donatur, film ini juga bagian dari Islamophobia untuk memprovokasi dunia. Kita semua dibuat repot dengan adanya film yang trailernya hanya berdurasi 13 menit ini. Sebagai Pecinta Nabi Besar Muhammad SAW, kita pasti merasa terhina dengan adegan dan jalan cerita di dalam film tersebut. Namun, yang perlu di tekankan dalam menyikapi film ini, apakah demonstrasi di depan kedubes AS di seluruh dunia ini adalah hal yang sudah benar dilakukan? Mengingat pemerintah AS pun cenderung lepas tangan dan mengatakan bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan film ini.

Kita pikir ulang, kenapa muslim dunia tidak marah ketika yang mencintai Nabi dimusuhi oleh yang mengaku menegakkan agama Nabi? Kenapa ketika Amanah Nabi untuk saling bersaudara sesama manusia diabaikan, seluruh dunia tidak bereaksi? Jika kita lalai mengemban amanahnya, apakah tiba-tiba kita dengan percaya diri melakukan aksi heroik membelanya padahal secara nyata kita membuatnya kecewa karena kita muslim dan kita belum jadi representasi kedamaian agama yang Beliau SAW sebarkan di muka bumi?

Apabila anda, masih berpegang pada hadist bahwa Nabi menikahi Aisyah ra pada usia 7 tahun, nabi bermuka masam, nabi melakukan kesalahan konyol karena Ia adalah manusia biasa yang sering salah dan lupa, maka sebagai muslim anda adalah salah satu orang yang membuat orang-orang non Muslim gagal menghormati Nabi besar Muhammad SAW. Karena berdasarkan riwayat Asma bin Abu Bakar, Nabi Menikah dengan Aisyah ra saat Aisyah umur 17 atau 18 tahun sehingga Nabi terhindar dari tindakan pedophilia. Terjemahan Quran Departemen agama juga mesti di reformasi karena disana tercantum yang bermuka masam adalah Nabi. Dan yang lebih penting, Hanya seorang Insan Sempurnalah yang dapat membawa agama yang telah di sempurnakan seperti tercantum dalam pidato haji wada', dengan kitab yang sempurna, dan dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Namun, apapun pembelaan kita pada sosok Rasulullah, semoga Rasul menyambut kita karena Ia lah Rahmatallial 'alamin.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.