Selasa, 24 Mei 2011

My First Time : Naik Pesawat Komersil!


November akhir lalu, Aku mencicipi pengalaman naik pesawat Herculesnya TNI AU ke Papua. Sebenarnya pesawat ini nggak boleh dikomersilkan. Tapi, penyelewengan apa sih yang nggak mungkin bagi negara bernama Indonesia ini? Waktu itu aku naik dari Bandara Halim Perdana Kusuma bareng rombongan BEM Nusantara. 

FYI, Karena di Desain untuk Kapal perang atau pengangkut prajurut-prajurit,  Pesawat Hercules nggak punya pengatur suhu sehingga kita pasti menggigil kedinginan waktu pesawat nabrak awanatau hujan. Kita serasa berada di dalam Oven besar saat mendarat, di bawah terik matahari.

Ups! Bukan mau cerita tentang Hercules sih sebenernya...

Aku Mau cerita tentang Naik Pesawat Komersil! Iyeeee....!!

Bermula dari SMS pagi hari. Ternyata SMS itu dari Hendra, Teman dari Kepulauan Riau yang jauh-jauh hari ngajakin ikiutan ke Palu. SMS itu isinya kode booking pesawat. Nggak ngerti deh birokrasi kode booking itu gimana. Hm... Bahkan Aku nggak punya ide gimana caranya ke Bandara. Katanya Shei disuruh ke Blok M dulu. Trus naik damri ke bandara. Aku tahu sih tempatnya. Tapi males ke blok M. Pengennya dianterin.  Tapi aku pikir, jauh amat yak dari Tegal Parang.

Aku meneliti daftar orang baik yang aku kenal, Akhirnya Aku menemukan 1 orang baik masih ada di dunia ini. Yaitu, Mas Heru!! Aku langsung membayangkan dia dengan baju spiderman Menolong putri cantik yang lagi kebingungan. Yaitu aku! Mas Heru bilang, dia mau antar ke Bis Damri Jurusan bandara. Huuhuhuu... Terharunya diriku ini, Ternyata nggak perlu jauh-jauh ke Blok M. Tapi cukup di Halte Pancoran. Deket banget kalau naik motor. Di samping Markas AURI itu lho... hhehhe... Makasih mas Heruuuu....
Mas Heru yang Baik Hati. hhihihi

Gotcha! Nggak nunggu lama, Datanglah Bis DAMRI nya. Bis DAMRI itu bayar Rp 20.000 sampai Bandara . Wait! Gawatnya aku belum tahu mau turun terminal berapa dan naik pesawat apa. Karena Hendra Cuma kirim kode booking. Tanpa tahu pesawatnya apa. Hell yeah... Okay, Hasil dari kuliah di filsafat membuatku mendalami juga ilmu firasat. Dengan ngawur, aku bilang kalau aku mau di penerbangan domestik. Kondektur bis bilang aku nanti turun terminal 1 A. Apapun yang terjadilah... aku jangan sampai masang tampang yang terlalu polos. Nanti kena tipu lagi... 

Didalam Bis DAMRI yang nyaman, tentu saja, tak lengkap rasanya kalau nggak tidur di perjalanan. Hobiku tidur dan aku pengen di setiap momen besar dalam hidupku ada sesi tidurnya. Kecuali waktu di pelamina nanti. Wkwkwk... Tidur bentar...masuk tol... Tau-tau udah di Tol yang arah ancol. Cepatnya...
Turun dari DAMRI, aku Cuma celingak-celinguk dan mencoba bertampang PD. Kata ibu, kalau di terminal itu jangan sampai kayak orang bingung. Nanti dikerjain. Emang jadi ada yang nanyain sih aku mau kemana. Aku sok cuek dan mencoba mempelajari lingkungan Bandara. Nggak ada tampang Hendra di Bandara. Hoooh... Sial, aku bingung! Aku masih berusaha nggak bertampang polos.

Aku nggak ngerti kode bookingku mau dikemanain. Aku pikir nggak masuk akal juga kalau aku langsung masuk ke dalam. Aku lihat banyak yang antri di depan ruang kaca. Sambil nunjukin sobekan kertas atau HP nya. Aku langsung curiga kalau kode booking dituker disitu. Langsung aja aku antri. Mengambil resiko, Kalau-kalau petugasnya bilang, “Maaf Mbak, ini bukan kode booking Lion Air”.

Shit!  Hendra yang beliin aku tiket belum keliatan juga. Aku cari-cari rambut jabrik dan tampang songong sok ngebos nya. Tetep nggak ada! Huh... kesal. Aku harus menjalani ini semua sendiri. Antrian Makin panjang, Check in jam 5 dan ini jam 4.45. wah... Cari Mati Hendra nih. Jangan-jangan ni anak ngerjain aku lagi! Awas yaaa ndraaa......!!! Kalau udah sejauh ini aku di kerjain, Aku cincang kamu jadi selusin!

Ternyata firasatku benar kalau loket kaca itu untuk penukaran kode booking. Kode booking dan ID card di tunjukin ke peugasnya yang akan dituker sama selembar kertas yang aku nggak ngerti apa namanya. Dan firasat lain yang benar adalah dugaan kalau aku bakalan naik Lion Air. Oh..  Ibuu dulu ngidam apa ya... bisa melahirkan aku yang cerdas ini. Bahkan Cuma coba-coba pun aku benar. Hhohoho..  Seseorang, Tolong banggalah padaku *evil laugh :D* (Menghibur diri mode : on)

Selesai dengan kode booking, aku masuk ke ruang tiket. Kertas tadi di periksa sama petugas. Habis itu tas ku ditaruh di mesin pemeriksaan tas. Ada tulisan loket “Penukaran tiket berlaku untuk semua penerbangan”. Ada lagi tulisan, “Tanpa Bagasi” dan “Dengan bagasi”. Aku nggak ngerti yang mana. God, Hamba tahu, ini bukan karena kebodohan. Tapi emang belum pernah ada yang nyeritain tentang tata cara nya di bandara. Untuk cari aman, aku milih yang tanpa bagasi. Takut disuruh bayar kalau pilih yang pakai bagasi. Tas Carir yang aku pinjem dari tetangga kost tetep aja aku gendong. Padahal Orang-orang udah nggak pada bawa tas travelnya. Ah, Nggak masalah, Enteng kok... 

Aku diarahkan Petugas  untuk menuju ruang tunggu A 6 menuju keberangkatan Palu. Sialnya Hendra belum keliatan. Padahal dia bilang bakalan 1 pesawat. Dari pada telat naik, aku milih untuk duluan. Sambil Berdoa, Semoga Aku beruntung...

Aku lihat, Ada eskalator yang diapit tangga yang culup tinggi. Sial... aku harus bayar 40.000 buat dapet Passenger Service charge. Padahal tadi aku udah ngeluarin duit 10.000 buat beli fres tea. Mahalnyaaaa.... Di kampus dengan ATM minuman, Fres tea Cuma 6000. Di bandara malah 10.000. aku nyesel nggak bawa bekal minum.  Inget juga perutku keroncongan. Nyesel lagi nggak bawa makanan. Oh...Aku udah bokek juga. Help!!  God, jangan lanjutkan berbagai kesialan...

Aku naik ke atas. Ternyata sebelum ke ruang tunggu ada juga toko buku, restoran, toko baju dan lain-lain. Kebayang harganya pasti mahal. Nggak minat buat sekedar liat-liat juga tuh. Udah biasa liat gituan di Mall.
Aku ketemu lagi sama tempat pemeriksaan tas. Mau diperiksa berapa kali lagi sih? Kali ini pemandangan cukup menonjol adalah kotak transparan berisi gunting. Banyak banget guntingnya. Ternyata di dalam tas nggak boleh bawa gunting. Aku liat layar monitor nunjuki secara transparant isi tasku. Pantesan aja ketauan kalau ada guntingnya. Padahal aku suka bawa gunting lho. Tapi kali ini nggak bawa. Mungkin aku nggak berfikir untuk membela dirri ya...

Langkah selanjutnya adalah membaca rambu. Aku menuju ruang A 6 keberangkatan Palu. Ini juga ruang tunggu untuk yang ke makasar, Jogja dan lainnya lagi. Aku tahau itu dari mbak-mbak yang bacain pengumuman pesawat akan berangkat itu...

Hendra belum bisa dihubungi. Daripada nganggur aku nulis ini aja... dan setelah lama nunggu, SMS gagal terkirim, Hendra dan rombongan BEM Kepulauan Riau nya belum datang.

Yes! Ada 1 sms terkirim buat Hendra. Nggak lama Hendra telpon dengan bilang mereka ketinggalan pesawat karena mobilnya kecelakaan. Mereka masih di batam. Shit! Percuma aja celingak celinguk dari tadi nyari tampang songongnya yang menyebalkan itu. Kenapa aku juga menganggung kesialannya Hendra deh... Kalo gitu kan, Aku beneran sendirian melalui penerbangan pertama ku ini. Hendra bilang, Mereka baru nyusul besoknya.Tekor tiket  donk! Ah, its not my bussiness! Oke... Fine.
Benerkan? Tampang Hendra Emang Songong!

Ada satu masalah, Pertanyaan nya adalah, aku mau kemana setelah sampai bandara Mutiara Palu? Banyak nama di otakku untuk dihubungi. Tapi siapa ya?? Naggak mungkin aku ketemu panitia acara tanpa hendra. Tanpa Kepri. Shei udah Wanti-wanti jangan bawa-bawa Paramadina lagi. Ah... Shei, Kamu itu mikir nggak sih kalau nglarang-larang orang itu bikin Fatal ha?? Kalau aku terlantar di negri orang gimana hayo?? Kamu akan kehilangan sahabat yang lucu imut dan menggemaskan sepertiku tahu!? Mikir Sheiii... Mikiiiirrrr...!!!

Ini Aku dan Shei Pas Di Papua, Saat Kita Rukun Dulu
Kita liat aja nanti deh. Ah... Aku lapar sekali....

Orang di depanku makan Donat. Aku juga pengen. Hiks, Ibuku... anakmu kelaparan di Bandara. Bukan salah anakmu lapar di bandara ini bu... tapi salah Hendra, Shei dan segenap Pemerintah terkait yang membuat generasi mudanya miskin begini. 

Pesawatku baru datang jam 6. Semoga semua baik-baik aja dan perut laparku tertolong...
Amin...

Ditulis pertamakali di Ruang tunggu A 6  Soekarno Hatta International Airport (SHIA)
18.50 PM
23 April 2011.

Diselesaikan Di Kamar Kost No. 4
Tegal Parang
24 Mei 2011

Ini Pesawatku! Masih Di SHIA

Akhirnya sampai juga DI BAndara Mutiara Palu! Yeeee!!!
Ini Di pantai Taman Ria Palu Malam Hari! Akhirnya!!!

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.