Sabtu, 06 Februari 2016

Tentang Kala Kini dan Nanti

Kau akan mengenang sesuatu yang belakangan ini membuatmu gelisah. Tentang gurat senyum pada garis bibir dan matamu. Tentang garis luka yang menghujam-hujam harga diri serta perasaanmu. Tentang pilihan, kepada apa kau berpihak.

Ingatlah kala kau ingin menangis keras-keras sekaligus tersenyum kecut kepada ironi. Kau sudah memunggungi panggung. Ada berpasang-pasang mata mengawasimu dari seberang punggung. Kau akan tetap tenang karena toh tak ada mata yang perlu kau lihat di depanmu.

Lalu dirimu yang lain akan berusaha untuk membesarkan hatimu sendiri.

"Jangan disesali. Masih ada manfaatnya. Ini yang akan membentukmu kelak."

Dirimu yang lain berkata, "Lihat, betapa sia-sianya waktumu."

Suatu hari -mungkin 5 atau 10 tahun lagi- kau akan membaca ini sambil tersenyum. Betapa cepatnya waktu berlalu. Kau akan mengenang hari yang sangat membosankan ini sambil tercenung karena hari itu kau pernah hampir saja patah karenanya. Kau akan mengeja baik-baik menit demi menit waktu yang telah berjalan dan menelan kenyataan bahwa ada sebuah malam mencekam yang sudah berhasil kau lewati.

Rasanya seperti ada yang menggeram keras-keras di dalam dirimu dan meninju langit-langit di tempurung otakmu sampai menggetarkan seluruh saraf dan membuat jantung begitu berdebar. Kau menggigil hebat.

Kau akan mencari-cari pembenaran atas apa yang sedang terjadi. Kau sendiri belum mengurainya dengan utuh.

Pencarian tentang segala sesuatu memang merepotkan. Tapi itu jalan yang mesti kau tempuh.

"Mencari? Adakah yang hilang?" tanyamu pada diri sendiri. Tapi, kau berkata lagi ke diri sendiri bahwa mencari barangkali adalah sebuah proses yang harus dilewati bukan semata ada yang hilang. Tapi sebuah usaha untuk menggenapi keganjilan-keganjilan diri yang terlalu sayang jika dibiarkan berjalan "normal" dan biasa-biasa saja.

Dalam perjalanan panjangmu, kau akan mencampuradukkan pasrah, harap, dan usaha. Memadukannya dalam pikiranmu yang serba bingung bertopang tubuh lelah yang sulit diajak bekerja maupun istirahat.

"Banyak hal yang belum tercapai... Kau belum berbuat apa-apa." Kata sebuah suara padamu.

"Bisa lebih buruk dari ini. Tapi setidaknya kau telah memerankan dirimu sendiri dengan baik." Kata suara yang lain.

"Lihat dia, betapa briliannya! Lihat dirimu, betapa menyedihkannya."

"Oh tunggu, jangan meremehkan diri sendiri begitu. Bukankah kamu sudah berusaha lebih?"

Kau menghela nafas. Ada tekad untuk tidak mengasihani diri sendiri lebih jauh. Ini perjalanan dan kau pejalannya. Kau pikir kau tidak memikirkan diri sendiri, tapi kebingunganmu adalah sebuah dalil bahwa kau memikirkan diri sendiri. Kau lelah.

Hap! Hap! Hap!

Pikiranmu kembali melompat kemana-mana. Rasanya ada ribuan laba-laba berlarian tepat di atas kepala. Kau merasakan kaki delapannya merayap di kulit kepalamu. Mereka memintal sarangnya sampai membungkus otakmu hingga berhenti bekerja.

Ada getir yang berhamburan. Ada kelu menyergap. "Bodoh! Bodoh! Bodoh!" katamu pada diri sendiri.

Kau merasa sudah terlalu lelah bahkan untuk menyangga dirimu sendiri. Rasanya serba layu. Tapi kau masih bertahan. Setidaknya kau ada. Setidaknya kau begini dan begitu. Ada banyak setidaknya-setidaknya-setidaknya-setidaknya yang lain, dan tetap gagal membuatmu benar-benar tegak menantang.

Kau sadar bahwa kau rapuh.

Kabar baiknya, toh kau masih bertahan.

"Ayo tidur." Katamu pada pikiran, perasaan, tubuh, dan segenap organ tubuhmu, "Hari ini akan segera berlalu."

Sebelum itu, tolonglah -sekali lagi- ingat bahwa suatu hari kau akan tersenyum mengenang betapa mencekamnya malam ini.

Dan kau akan tersenyum sendiri melihat dirimu sekarang.

Ternyata kau masih baik-baik saja.

Karena ternyata... segalanya yang pernah terjadi di kala itu, begitu kecil. Sangat kecil.

Kecil. Kecil sekali.

Sepele.

Kau malu pada dirimu sendiri dan mulai menertawakannya.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.