cerita tentang remah-remah

Sabtu, 21 November 2015

Cristiano Ronaldo, Rana, dan Jilbab


Kabarnya, Cristiano Ronaldo akan berkunjung ke Lebanon. Kunjungan ini dilakukan khusus untuk menemui Haidar, seorang anak yang kedua orangtuanya syahid saat bom di Bourj Al Barajneh Beirut meledak.

Berkat twitter dengan tagar #CR7MeetHaidar dan #CristianoMeetHaidar inilah CR jadi tahu bahwa ia punya fans cilik di Beirut yang perlu dikunjungi. Salah satu orang yang berada di balik layar viralnya tweet itu adalah Rana Harbi (@RanaHarbi). Dalam tweetnya, Rana menulis, "I know this won't bring back his parents but at least it will help restore his faith in humanity.
#CristianoMeetHaidar #Cr7MeetHaidar 🙏🏻". Tweet itu diretweet ratusan orang. Tweet yang mencantumkan foto Haidar diretweet ribuan orang.



Rana Harbi ini Jurnalis koran Al Akhbar Lebanon. Jika tertarik, tulisan-tulisannya bisa dibaca di blog ranaharbi.wordpress.com.

Mbak Rana ini Syiah lho. Tapi dia juga seorang yang Sekuler, feminis pula. Tulisan Rana soal relevannya feminisme dan Islam bisa dibaca di
https://ranaharbi.wordpress.com/2015/03/17/islamic-feminism-fighting-theology-with-theology/ .

Untunglah mbak Rana ini tinggalnya di Lebanon. Sekalipun termasuk Arab juga, tapi agama dan budayanya heterogen. Aku membayangkan gimana kalau dia ada di negara yang mewajibkan perempuannya berjilbab dan di negeri yang kalau jilbabnya nggak sama kayak temen di majelis ta'lim, bakal digunjing?

Bisa-bisa, ga peduli sebanyak apapun kontribusinya, dia akan tetap digunjing oleh para polisi fashion bersyariah yang terhormat. Ya cuma karena bajunya seksi. Ya aku ga suudzon lho ya. Aku maupun beberapa orang di sekitarku juga mengalaminya (haiyah, curhat 😛). Lha wong aku aja yang jilbaban gini masih sering diomongin dari belakang karena suka pakai celana jeans, berjilbab terang, dan kainnya kurang gede kok. Ada juga nih, seorang kawan Syiah perempuan yang awalnya berjilbab rapat. Kemudian, karena perjalanan spiritualnya sendiri, dia jadi lebih melonggarkan jilbabnya ala wanita NU jaman dulu. Sayangnya, temenku ini jadi dibully karna dianggap kurang berjilbab rapet. Padahal, kontribusinya udah banyak juga untuk komunitas. Lha terus apa jadinya kalau kami pakai baju kayak Rana ya 😁.

Aku sih -aku lho ya- Bakal malu kalau jadi orang 'serba syariah' tapi kontribusinya ga lebih banyak dari yang pakaian dan pemikirannya lebih sekuler.

Mengampanyekan jilbab itu ya silakan aja, tapi sebaiknya tanpa mendeskreditkan mereka yang punya cara berbeda dalam

berjilbab. Tak perlu juga menyudutkan mereka yang memilih untuk tidak berjilbab. Yakini saja model dan panjang jilbab untukmu sendiri. Tanpa perlu menganggap yang tidak sepertimu tidak baik, salah, dan berdosa. Rayakan keimanan dan keberagaman ini dalam refleksi keagamaan yang menyejukkan. Pakai saja syariah yang kamu yakini untukmu sendiri, jangan meminta orang lain mengikuti apa yang kamu yakini. Itu baik untukmu, belum tentu bisa cocok untuk orang lain. Seseorang punya perjalanan spiritual dan intelektualnya masing-masing kok. Istri bisa beda sama suami, ibu bisa beda sama anak, anak bisa beda sama bapaknya, kakak bisa beda sama adiknya. Wajar, wong akalnya aja beda-beda kok.

Jika kepada yang berbeda masih suka menyudutkan, maka bisa jadi agama yang dianut belum berhasil menjadi madrasah karakter bagi pengikutnya. Atau mungkin, pengikutnya saja yang kurang berefleksi terhadap ajaran kasih dalam beragama? Bahkan, beberapa orang justru tak perlu agama untuk sekedar jadi orang baik. Bisa banyak kemungkinan. Pikir aja deh sendiri. 😁

Aku sih mikirnya gitu aja ya.

Sumber foto : Twitter Rana Harbi

posted from Bloggeroid

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.