Senin, 16 Maret 2015

Kacamata vs Lensa Kontak

Mana yang harusnya kita pakai kalau mata kita minus tinggi? Lensa kontak atau kacamata? 

Sahabatku pernah mengirim blog berisi orang yang matanya iritasi parah karena efek buruk lensa kontak. Dia bertanya padaku, "Setelah baca itu, elu masih berani pakai softlens?"

Aku jawab, "Masih dong..."

Bukan berarti aku tak peduli kesehatan. Memang banyak orang langsung bilang akan memilih penggunaan kacamata jika pertimbangannya adalah kesehatan. Sebagiannya -terutama perempuan- mengatakan lebih baik menggunakan lensa kontak dengan manfaat praktis untuk kecantikan. 

Kalau aku? Keduanya! 

Di postingan ini, aku ingin membagi pengalaman soal keduanya.

Kacamata
Awal pakai kacamata adalah waktu hari pendaftaran di SMP. Sebenarnya mataku sudah minus sejak SD, tapi kurang percaya diri memakainya. Malu. Aku tidak nyaman dikomentari orang lain yang tidak terbiasa dengan hal baru. Tidak tahan juga kalau disindir aneh-aneh hanya karena hal sederhana. 

Kacamata pertamaku modelnya tanpa rangka. warna ungu Saat itu model itu sangat aneh karena semua kacamata biasanya berbingkai. Kacamata biasnaya hanya digunakan para orangtua dengan profesi guru, dokter atau pegawai kecamatan.

Aku pernah main ke rumah temanku yang desanya lebih terpencil dari desaku. Tetangga dan keluarga langsung berkomentar. "Koncomu koyo bu Dokter, ngganggo kocomoto."

Mengenang itu sungguh konyol, sekarang setiap orang bebas menggunakan kacamata dengan model apapun yang dia suka. 

Sumber gambar : blog.livedoor.jp
Bahkan, dikalangan murid SMP saat itu, aku adalah pengguna kacamata satu-satunya sampai dikenal guru dan murid sebagai si kacamata. Orang tidak tahu kenapa seorang anak kecil (badanku waktu SMP sangat kecil) sudah butuh kacamata. Aku membaca terlalu banyak bahkan dalam keadaan mati lampu sekalipun karena tidak punya pilihan lain dalam beraktivitas selain baca buku. Buruk di olahraga, tidak bisa bersosialisasi dengan bahasa Jawa, payah di permainan tradisional, tidak punya banyak uang untuk jalan-jalan, dan hal-hal tidak gaul lainnya. Buku adalah pelarian terbaik saat itu. Jadi kalau sampai minus, aku tidak terlalu banyak mengeluh. Harus ada pengorbanan supaya otakku tidak kosong.

Selain bentuknya yang masih dirasa sangat aneh, kacamata tanpa rangka itu sangat ringkih, sekrupnya sering kendor sehingga bagian kaca sering tidak seimbang antara kanan dan kiri. Selain itu, keringat yang mengumpul pada gagang kacamata di lengkungan telinga sering membuat kulitku gatal. Di bagian itu juga, cat kacamata sering mengelupas, warna ungu jadi lama kelamaan jadi berganti dengan warna coklat. 

Kacamata itu berkali-kali pecah. Biasanya tak sengaja terinjak karena memang tak kelihatan dan akunya yang ceroboh. Jadi harus sering-sering ke optik untuk servis kacamata. Dalam hal penampilan, aku merasa kalau kacamata membuat lekukan jilbabku lebih lebar. Aku sebenarnya tak nyaman dengan itu, walau lebih tak nyaman lagi jika pandangan mataku mengabur. 

Lama-lama kakakku bosan mengeluarkan uang untuk urusan servis kacamata, aku diminta mengganti bentuk kacamata dengan yang berbingkai supaya lebih awet. Aku sebenarnya malas dengan sesuatu yang banyak dipakai orang. Sudah terlalu banyak orang yang memakai kacamata berbingkai. Tapi aku tak punya pilihan. Bukan aku yang harus membayar tagihan.

Kacamata berbingkai ini menumbuhkan masalah baru. 

Gara-gara kacamata berbingkai ini, jerawatku mulai tumbuh di area sekitar bingkai kacamata kendati aku sudah membersihkannya berulang kali sebelum dipakai. Memang lebih awet, tapi masalah di lekukan telingaku masih sama. Gatal dan warna framenya luntur. Saat itu aku pikir mungkin piguranya murahan. Tapi optik meyakinkan bahwa pigura kacamataku sama sekali bukan merk KW. Jadi dia menyalahkan kulitku yang terlalu sensitif. 

Selain soal gatal dan jerawat di sekitar mata, aku juga punya masalah dengan penyangga kacamata. Sering ada bekas kemerahan di sana. Seringkali perih karena terlalu terdesak penyangga hidung di kacamata. Masalah itu tidak kelihatan dari luar karena tertutup bingkai kacamata. Hanya aku yang merasakan dampaknya.

Dari segi keamanan, pakai kacamata sangat tidak nyaman jika digunakan saat menyetir motor dalam keadaan hujan karena air akan membuat kacamata kita buram. Kacamata juga sama sekali tak bisa dipakai untuk menonton bioskop yang berformat 3D. Ya mungkin bisa dipaksakan. Tapi tak nyaman.

Dari segi kecantikan, kacamata kurang bisa klop dengan riasan mata. Penggunaan maskara pada mataku yang berkacamata adalah sebuah tindakan sia-sia karena bulu mata akan menabrak lensa. Dan jika kita sudah agak berkeringat, alas bedak di wajah akan luntur terutama pada area sekitar hidung dan sekitar pigura kacamata. 

Sudah berkali-kali aku ganti kacamata karena ingin ganti model, pecah atau patah gagangnya. Sekalipun masa jangka pakainya jauh lebih lama daripada yang tanpa pigura.

Kacamataku sekarang bahannya lebih bagus daripada kacamataku dulu. Harganya memang lebih mahal karena mekanisme pasar membuat barang bagus = mahal. Warna gagang kacamatanya tidak luntur, bahannya lebih bagus, tahan banting, tapi tetap menyebabkan jerawat kecil di sekitar pigura kacamata, kemerahan di pangkal hidung, dan seringkali mengganggu riasan mata. 

Namun, penggunaan kacamata membuatku lebih enjoy dalam membaca. Bagaimanapun, lebih enak baca buku dengan kondisi mata dekat dengan lembaran buku daripada terhalang dengan kacamata. Artinya, aku perlu melepas kacamata saat baca buku. Bukan baca buku sambil berkacamata.

Kacamata itu praktis sekali digunakan terutama saat malas dan lelah. Karena setelah beraktivitas, kita bisa langsung melepaskannya begitu saja di manapun tempat yang terjangkau dengan tangan kita. Kebiasaan buruk sih, biasanya setelah ketiduran setelah melepas kacamata sembarangan itu, aku malah lupa dimana letak kacamataku pas bangunnya. Butuh waktu lagi untuk mencari, meraba-raba di setiap tempat karena mataku siwer. Kacamata juga baik dipakai di perjalanan jauh karena saat tertidur di bus atau kereta, kita bisa melepaskannya begitu saja supaya nyaman. Hal yang tak mungkin dilakukan jika menggunakan lensa kontak. 

Lensa Kontak
Perkenalanku dengan lensa kontak adalah saat lulus SMA. Teknologi lensa kontak sudah populer kendati masih sedikit orang yang memakainya. Lensa kontak pertamaku adalah lensa transparan berdiamer 12 mm dengan kandungan air 60%. Aku sangat tegas memilih lensa kontak transparan karena aku cukup bahagia dengan biji mataku yang berwarna coklat. Jadi tidak perlu warna kamuflase untuk membuat warnanya "bicara". Lensa kontak itu harus diganti sebulan sekali. 

Agak boros saat itu. Lensa kontak masih lumayan mahal. Di Solo, sepasang lensa kontak harganya Rp 120.000. Belum dengan cairannya yang seharga Rp 40.000. Sekalipun mahal, selalu bisa terbeli. Karena kondisi iritasi di telinga akibat gagang kacamata sudah lumayan memuakkan. 

Memakai lensa kontak sebenarnya lebih merepotkan. Dari segi kantong, dan perawatan. Beberapa kali mataku memerah karena iritasi. Karena kering, atau tak sengaja lensanya sobek di dalam tapi aku tak sadar. 

Selain itu soal kebersihan juga. Tempat lensa dan airnya harus selalu diganti karena kalau kotor tapi lambat diganti, akan membuat mata iritasi, bahkan kadang bengkak. Mata juga akan berair terus menerus. Orang bisa salah paham, kenapa kita menangis dikeadaan tertentu. Padahal hanya karena lensa kontak. 

Lensa kontak yang bertujuan untuk membuat mata lebih leluasa dirias akan jadi berantakan karena air mata membuat segalanya luntur. Tidak disarankan untuk dipakai pada musim salju karena mata akan jadi sangat kering dan itu membuat mata kita merah dan berair. Ini pengalaman pribadi sih. Mungkin beberapa orang tidak masalah menggunakan lensa kontak di musim salju. Tapi kalau aku, sangat bermasalah. 

Saat ini merk lensa kontak dan jenisnya makin beragam. Harga lensa kontak yang lebih murah dengan kualitas lebih bagus juga banyak. Soalnya aku mengambil langsung dari distributornya yang biasanya menjualnya ke penjual online atau optik-optik besar. Jika cari lensa kontak di optik biasa, harganya masih lumayan mahal.

Aku sekarang menggunakan lensa kontak berdiameter 12,00mm warna cokelat dengan kualitas air 45% dengan masa pakai 6 bulan. Biasanya, saat memasuki bulan ketiga lensa kontaknya sudah tidak aku pakai karena kurang nyaman. Ternyata mataku lebih cocok dengan lensa ini ketimbang lensa yang transparan. Warna cokelat aku pilih karena warnanya memang sama dengan warna mataku, diameternya pun sama. Aku tak pernah tertarik yang berdiameter 14,00 karena mata asliku sudah terlalu besar sehingga tak butuh efek mata boneka. Aku belum ingin menakuti banyak orang dengan mataku. Belum lho, bukan berarti tidak akan pernah aku coba.

Sahabatku +Falaqie Nila membuat berbagai macam tutorial make up mata di blognya dengan penggunaan lensa kontak 14,00mm. Ada perusahaan yang mengendorsenya untuk membuat beberapa review soal lensa kontak. Lensa kontak yang direview Nila bukanlah favoritku. Jadi aku hanya butuh tutorial make upnya saja. Sayangnya, beberapa kali mencoba tapi gagal meniru sebagus dia. 

Dengan lensa kontak, kita bebas mengeksplorasi riasan mata. Walau aku jadi bagian dari 'pasukan tak becus urus alis'. Jadi sebenarnya urusan rias mata tak begitu darurat. 

Jika  harus berdandan di hari-hari tertentu, aku bertanya ke sahabat lelakiku apakah riasan wajahku aneh atau tidak. Karena mereka akan bicara lebih jujur dan dengan kosa kata yang tak disaring. Ini yang aku butuhkan. 

Perempuan biasanya cukup menjaga perasaan saat menjawab sesuatu yang berkaitan dengan penampilan. Jika riasanku gagal, perempuan cenderung akan menjawab, "Udah cantik kok." 

Sedang lelaki akan menjawab, "Aneh banget dempulnya. Benerin gih, gue tungguin." 

Kalau make up ku sukses, perempuan tetap akan berkata, "Udah cantik kok."

Sahabat lelakiku cuma bilang, "Elu keliatan normal. Kayak cewek beneran kalau gini." 

Begitulah. 

Saranku, saat memutuskan untuk menggunakan lensa kontak, usahakan untuk selalu punya lensa cadangan. Karena kadang lensa kita kotor, rusak, maupun mengering karena tutup lensa sering kurang rapat sehingga airnya tumpah. Sebaiknya juga selalu menyediakan tetes mata anti iritasi khusus pengguna lensa kontak, bukan sembarang tetes mata anti iritasi biasa yang dijual secara bebas di warung. 

Ikuti saja cara merawat lensa kontak yang ada di bungkusnya karena memang itu sudah efektif. 

Oh iya, lensa kontak yang sudah mengering kadang masih bisa tetap dipakai, asal direndam lama dan airnya diganti-ganti sebelum digunakan lagi supaya steril. Beberapa kali kejadian, tau-tau satu lensa kontak lepas dari mata kanan sedangkan lensa di mata kiri masih ada. Makanya punya cadangan lensa yang dibawa kemana-mana itu penting. 

Jika kira-kita jatuhnya lensa itu di kamar dan akhirnya ketemu setelah berhari-hari mengering, kadang memang masih bisa dipakai. Cek baik-baik apakah lensa masih layak pakai atau tidak, jangan sampai pakai lensa yang sobek atau terlalu kotor. Bahaya. Kalau ragu-ragu, langsung buang saja. Jangan sampai tertukar antara lensa lama dan lensa baru. Ingat baik-baik bagian kanan dan kirinya terutama jika minus mata kanan dan kiri berbeda. 

Bagiku, membaca buku dan online di handphone dengan mata lensa kontak kurang nyaman karena sepertinya lensa kontak itu kurang ideal untuk penglihatan jarak dekat. Tidak mungkin kita membongkar pasang lensa kontak terus menerus dalam waktu yang dekat hanya untuk kepentingan melihat detail sesuatu dengan jarak dekat. Memang ada beberapa hal yang detailnya akan lebih jelas dengan mata tanpa kacamata atau lensa kontak. Kalau pakai kacamata, bisa dengan mudah kita lepas. Tapi jika lensa kontak? Itu tadi, susah.

Jika keadaan badan sangat lelah, seringnya lupa atau malas untuk melepas lensa. Akhirnya malah ketiduran dengan kondisi masih pakai lensa kontak. Berlaku juga jika dalam perjalanan jauh yang memungkinkan ketiduran di bus, kereta ataupun pesawat. Keteledoran ini yang membuat mata bengkak dan iritasi. Kalau mata dalam keadaan seperti itu, saatnya istirahat dari lensa kontak dan menggantinya dengan kacamata. Karena cahaya matahari yang masuk mata kita akan menyakitkan. Hidungku akan ikut flu dalam keadaan seperti ini.

Hanya saja, kalau kegiatan di luar ruangan dan cuaca hujan, penggunaan lensa kontak sangat disarankan.

Adik dan sahabat lelakiku sering menggunakan lensa kontak untuk masa-masa penting. Lensa kontak yang mereka gunakan adalah yang jenis transparan sehingga tidak terlihat terlalu menonjol. Tentu saja, pilih yang diameternya sesuai dengan mata normal, 12,00mm. 

Baik kacamata dan lensa kontak ada manfaat positif dan negatifnya. Sebaiknya, jika mata sudah minus cukup besar, punya keduanya penting. Gunakan dikondisi yang tepat. Apalagi jika punya masalah sepertiku. Memakai kacamata terus menerus kulitnya sensitif, memakai lensa kontak terus menerus juga malah membuat mata iritasi. 

Kalau boleh memilih, aku lebih berbahagia jika tak perlu menggunakan keduanya. Tapi Lasik itu muahal sekaliiii.... Dan anak kost sepertiku kurang telaten mengonsumsi wortel. TT__TT

Oh iya, ini wajahku dengan kacamata dan dengan lensa kontak. Yang pakai kacamata adalah pemotretan indoor, di dalam kelas. Yang pakai lensa kontak adalah pemotetan outdoor di kantin kampus, dalam hari dan kondisi kulit berbeda. Lightingnya jadi beda deh. Siapa tau ada yang nyari kemana perginya hidungku di foto lensa kontak. :p

404 Error, Nose not Found :p

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.