cerita tentang remah-remah

Jumat, 20 Maret 2015

Demam

Sebenarnya hari ini perlu ke kampus supaya dapat koneksi internet. Selain itu, ingin juga liputan peristiwa penting di Monas. Akun twitter @InfoHindu mengizinkan kita dari @bebasberagama untuk meliput prosesi Melasti. Melasti adalah kegiatan yang dilakukan umat Hindu di tingkat provinsi sebelum hari raya Nyepi untuk membuang bala bencana kehidupan. Salah satu rangkaian acaranya adalah pawai Ogoh-ogoh di Monas sebagai bagian dari upacara Tawur Agung Melasti tersebut. Kesempatan yang tak datang setiap hari kan?

Aku menghubungi kawan apakah dia bisa menemani pendokumentasian foto maupun video. Sayangnya, dia sedang sibuk. Begitupun kawan lainnya. Akhirnya terpaksa, aku tak berangkat karena tak mungkin bisa mendokumentasikan apapun tanpa beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kawanku. Seperti kamera SLR misalnya…

Saat memutuskan kalau baiknya ke kampus saja, aku baru menyadari kalau kepalaku keliyengan. Lemas sekali. Aku berusaha minum banyak air dan memasak makanan sekedarnya agar punya energi. Ternyata masih juga lemas. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin tekanan darahku turun drastis atau saking panasnya udara siang tadi.

Aku putuskan untuk istirahat. Tidur. Tapi suara berisik dari kamar baru yang dibangun dekat dengan kamar membuatku susah tidur. Udara makin lama makin bertambah panas. Sudah sejak 3 bulan lalu kipas angin di kamar rusak dan aku selalu lupa dan malas menentengnya ke tukang servis. Sudah pernah diservis, tapi sebulan kemudian rusak lagi. Padahal bayar servisnya lumayan mahal. Tidak mungkin juga membuka pintu kamar tidur saat tidur siang karena tukang bangunan mondar mandir di depan kamar dan beberapa pencurian di kamar kostan banyak yang kasusnya karena penghuni kamar tidak menutup pintu saat tidur siang. Sahabatku, si Erton pernah mengalaminya. Laptop yang ada di atas kepalanya raib saat dia ketiduran siang hari tanpa mengunci pintu.

Sementara itu, linikala twitterku penuh dengan Ibu-ibu Rembang yang mendemo UGM. Akademisi dan pemuka agama yang tak jujur selalu menggelisahkan nurani setiap orang berakal. Di kepalaku sudah terpantik banyak kata yang berapi-api. Tapi jaringan internet sama lemasnya dengan tubuhku.

Apa yang lebih menyedihkan dari melihat penindasan, tapi kita tak ambil bagian apapun untuk melakukan perlawanan terhadap itu? Walau aku sering merasa bahwa beraksi di media sosial adalah selemah-lemahnya perlawanan.

Ngomong-ngomong soal dunia akademis yang menghamba pada korporasi, aku jadi geli sendiri dengan kampus sendiri. Wisuda Oktober lalu, kampus mendatangkan Arifin Panigoro dari Medco, bos perkebunan-perkebunan sawit. Salah satu poin orasi ilmiahnya masih sama dengan yang dia bahas di tempat lain, yaitu soal Sawit sebagai energi terbarukan [?]. Ide yang buruk untuk memulai hidup sebagai sarjana jika menjadikan korporasi perusak ekosistem sebagai inspirasi. Ah, tapi siapalah aku ini. Saat protes ke kampus, daripada mempertimbangkan ideku, biasanya akan lebih gampang melakukan ad hominem macam, "Memangnya apa yang sudah kamu lakukan? Berapa buku yang kamu baca? Wisuda aja belum." Itu sih yang biasanya diucapkan ke kawan-kawan aktivis di kampus yang memilih kritis dengan -so called- kebijakan kampus.

Ngomong-ngomong, kampus belum bersuara terhadap isu selain soal korupsi. Padahal, kalau ambil sikap politik soal beberapa hal yang pro sama rakyat kecil, kampus bakal makin disayang semua orang. Siapa sih yang nggak cinta sama keadilan? Bahkan orang yang dzalim tingkat Neptunus pun bakal ngemis keadilan kok di pengadilan.
Suhu tubuhku sepertinya makin naik.

Beberapa hari ini, aku merebus air lewat teko air listrik berbahan stainless steel yang aman untuk makanan. Teko ini juga yang aku pakai masak masakan sederhana. Seperti Sup, Sayur Asem, Sambel Goreng Santan, Mie, dan lainnya. Tapi karena aku sedang tak enak badan, tubuhku jadi terlalu lemas untuk mencuci teko listrik yang kotor. Aku heran dengan tubuhku hari ini. Pagi tadi begitu semangat ingin liputan ke Monas, tapi siangnya mendadak loyo begini.

Akhirnya aku kehausan karena air minumku sudah habis. Aku kesulitan mendapatkan air galon karena kamar kostku ada di lantai 3 dan tidak semua penjual galon mau angkat air ke kamar. Sahabat lelakiku pun mendadak kehilangan kekuatan ototnya jika berurusan dengan angkat galon ke lantai 3. Makanya, jika aku lupa beli air mineral di luar atau tidak merebus air seperti ini, aku akan alami krisis air minum.

Aku menghibur diri dengan membaca buku Email dari Amerika karya Prof Janet Steele, salah satu guru Jurnalistikku di kursus Narasi Pantau yang sangat aku hormati. Aku hanya perlu menghabiskan beberapa halaman saja karena sudah membacanya kemarin-kemarin. Sudah berhasil menamatkan buku itu sore ini sampai halaman epilog dari Mas Imam. Saat membaca Epilognya, yang terbayang adalah kepala gundul Kembang, anak mas Imam yang katanya sudah mulai bisa duduk. Aku jadi kangen sekali padanya.

Setelahnya, aku mengulang baca buku Kosmologi karya William Chittick. Aku senang sekali mengulang-ulang bagian perbedaan ilmu nukilan dan ilmu intelek. Ilmu nukilan menekankan seseorang untuk mentaati dogma dan otoritas. Ilmu intelek menekankan kesadaran diri dan proses afirmasi kebenaran lewat diri sendiri. Ilmu yang sejati adalah yang intelek, kita harus berefleksi dan membuktikan kebenaran serta kebijaksanaan ilmu yang kita dapat lewat jalur swabukti. Bukan karena kitab suci, otoritas, maupun dogma-dogma. Apalagi tujuan utama dari pencarian intelektual bukanlah untuk mengumpulkan informasi atau 'fakta-fakta' maupun sekedar memberikan kemajuan pada dunia sains. Tapi pencarian intelektual adalah untuk memperbaiki pemahaman manusia, melatih pikiran dan menjernihkan hati manusia. Sehingga pencari pengetahuan selalu merealisasikan pengetahuannya itu lewat aksi nyata. Aku lebih senang menyebutnya dengan memenuhi konsekuensi intelektual manusia. Karena, jika menuruti dogma, otoritas, maupun kitab suci saja, maka kita akan jadi sekedar peniru. Peniru bukanlah seseorang yang bisa bijak menetapkan sesuatu. Kalau kita lihat saintis yang menghamba pada catatan kakinya atau para ulama yang menetapkan berbagai fatwa secara spesifik seolah umatnya tak bisa berpikir sendiri hal yang baik untuknya, maka itu yang disebut Chittick sebagai penguasa ilmu nukilan.

Jelang Maghrib, tetangga kost depan rumah pulang kerja. Dia adalah seorang wanita keturunan Ambon beragama Kristen Protestan. Kepulangannya bersamaan dengan hujan yang mulai deras dengan petir menyambar-nyambar. Udara yang aku rasa panas mendadak jadi dingin sekali. Mungkin karena efek demam. Karena aku buka pintu kamarku dan bertanya apakah dia kedinginan, dia jawab tidak, malah panas karena AC di kamarnya mati. Listrik di kamar kami memang sengaja dimatikan penjaga kostan karena perbaikan bangunan dekat kamar kami membuat beberapa kabel listrik terbuka dan rentan konsleting jika listrik tidak dimatikan. Aku sempat meminta air minum padanya. Kemanusiaan memang tak kenal suku maupun agama. Dia baik sekali padaku.

Walau lampu kamarku mati, aku masih terus membaca Chittick dengan bantuan senter handphone jadulku.

Hujan makin deras, petirnya makin mengerikan. Aku memikirkan warga di Kampung Duri, daerah Kebon Pala yang beberapa hari lalu aku sambangi. Pasti mereka -yang memang tinggal di bantaran Kali Ciliwung- mulai kebanjiran. Mereka membentuk komunitas bernama Ciliwung Merdeka. Aku dan Dhana sempat mewawancarai Romo Sandyawan, tokoh keren di balik berdirinya Ciliwung Merdeka. Semoga saja tulisanku soal ini segera selesai. Jika aku sudah sehat pastinya.

Listrik kostan akhirnya dinyalakan juga.

Aku mengecek linikala twitter dan sudah ada kabar soal banjir di mana-mana. Bahkan dua sahabatku sudah mengabari kalau mereka terjebak banjir di rumahnya. Katanya, air mulai masuk rumah. Aku agak cemas walau tahu bahwa mereka akan baik-baik saja. Mereka kan lelaki dewasa yang bisa menjaga diri.

Lalu aku ingat juga Uda penjual Sate Padang dekat kostan. Aku pernah menulis soal dia di blog ini. Pintu kamar kostan yang terbuka membuatku bisa mencium aroma Sate Padang dagangannya. Jadi aku tahu pasti bahwa malam ini dia pasti berjualan.

Aku bertanya padanya lewat whatsapp, hujan sudah sederas ini, bagaimana dengan dagangannya?

Dia menjawab, "Hujan mah biasa mbak. Udah romantikanya begini."

Dulu waktu SMA, aku pernah berjualan kerajinan tangan boneka felt secara kaki lima dari satu pasar malam ke pasar malam lain. Hujan begini pasti dagangan jadi tak laku karena bahkan menggelar dagangan pun tak mungkin karena dagangan rentan rusak jika terkena air hujan. Hujan akan membawa dampak merugi karena stand dagangan sudah dibayar ke pemborong pasar malam.

Bagiku, hujan begini sangat tidak romantis untuk penjual outdoor. Mungkin Sapardi tak pernah merasakan sulitnya musim hujan bagi pedagang kaki lima, baik pagi, siang, senja ataupun malam. Sehingga hujan selalu saja romantis di matanya. Adikku saja masih berjualan produk yang sama di Ngarsopuro Night Market Solo tiap malam Minggu.

Hujan, bagiku, selalu pahit rasanya.

Aku bilang ke Uda kalau aku sangat malas keluar karena hujan begini bahkan untuk cati makan malam. Karena aku masih harus ke ATM, lalu cari warung untuk makan. Aku tak bilang padanya soal demam karena tak ingin buat dia khawatir.

Dia menawarkan diri untuk mengantar makanan ke kamar kost ku. Dia juga bertanya apa makanan yang aku inginkan, Pempek, Nasi Goreng, Mie Goreng, Martabak, ataukah makanan lainnya. Aku bilang aku memang tergoda Sate Padangnya, tapi aku bersikeras menolak kebaikannya karena tak mau merepotkan. Lagipula dia sedang jualan di gerobaknya.

Dia bilang, saat ini sedang sepi pelanggan, dan soal pembayaran gampang saja. Besok juga tak apa.

Aku jadi malu dengan penawarannya. Dia tanya aku ada di kamar nomer berapa karena kostanku sangat besar dengan puluhan kamar dan berlantai 3. Dia juga bilang sudah ada di bawah. Aku menyebutkan nomer kamar dan sebentar kemudian dia mengantarkan Sate Padangnya yang enak sekali. Sate Padang terenak di Jakarta bagiku!

Dengan sangat tak enak hati aku mengucapkan terimakasih padanya berkali-kali. Ini pertama kalinya aku berhutang dengan penjual makanan di Jakarta. Padahal aku sudah tinggal di Jakarta bertahun-tahun. Nyaliku selalu kecil dalam masalah piutang ke pedagang.

Udara makin dingin. Aku sudah minum, sudah makan malam, dan kini mulai berkeringat. Aku merasa sudah sehat walau kepalaku masih keliyengan.

Hari ini aku memang tak keluar kamar sama sekali tapi ternyata cukup memikirkan banyak hal. Tentu saja ada hal-hal yang tak mungkin ditulis di sini.

Seharusnya besok sudah sembuh. Biar aku tak hanya sekedar bisa berpikir, tapi mampu juga berbuat.

Amin.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.