cerita tentang remah-remah

Jumat, 03 Mei 2013

Seputar Fenomena Melihat

Beberapa dari kita telah terbiasa dengan aktivitas melihat sehingga kita merasa aktivitas itu adalah sebuah aktivitas biasa yang terjadi dengan alami tanpa perlu kita renungkan bahwa ada banyak pelajaran dalam aktivitas melihat.

Bagiku, term melihat tidak hanya berbicara tentang aktivitas indra. Secara langsung, melihat bisa jadi sebuah aktivitas batin. Sehingga membuat aktivitas itu sangat menarik untuk dibicarakan dengan diri sendiri. Sudah berhari-hari aku berdialog dengan diri sendiri tentang aktivitas melihat.

Sebenarnya ini bermula dari pengalaman pribadi. Saat itu aku berfikir, kenapa orang yang pernah jadi penting bagi orang lainnya tiba-tiba menjadi sangat jauh satu sama lain seolah mereka saling tidak melihat satu sama lain. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah dekat secara hati bisa berada di suatu kondisi yang apabila mereka saling melihat, maka hati mereka begitu sakit sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melihat lagi satu sama lain.

Atau barangkali, sebenarnya mereka satu sama lain bisa saling melihat, tapi akhirnya mereka saling membuang muka, atau salah satu memilih sikap membuang muka menghindari tatapan. Ada apa? Apakah hilangnya respect, saling memandang itu aktivitas yang menyakitkan, atau hanya tidak dapat menemukan alasan untuk saling menyelami mata satu sama lain?

Ini semua adalah tentang cahaya.

Salah satu syarat bagi mata kita untuk dapat melihat sesuatu itu karena adanya cahaya. Karena, Ketiadaan cahaya membuat kita tidak bisa melihat apapun.

Aku percaya bahwa setiap orang, memiliki cahaya yang membuat kita dapat melihatnya. Hanya saja, kadang ada beberapa halangan yang membuat kita tidak dapat melihat cahaya seseorang. Misalnya ketidakmampuan "mata" kita, atau cahayanya yang terlalu redup sehingga membuat "mata" kita tidak dapat menangkap "obyek" tersebut dengan sempurna. Bisa jadi, cahaya tersebut sangat gemilang sehingga kualitas mata kita tidak mampu atau tidak memenuhi syarat melihat kegemilangan cahayanya. Yang ada hanya silau, dan mata kita jadi  buta. Barangkali itu malah membuat kita lupa bahwa kita sebenarnya punya mata.

Untuk itu, aku pikir, makin besar rasa simpati kita terhadap seseorang, makin membuat orang tersebut "terlihat" oleh "mata" kita seolah orang tersebut telah diliputi cahaya-cahaya yang selaras dengan mata kita.

Di komik Jepang, sering ada ilustrasi bahwa orang yang disukai oleh tokoh utama itu berubah jadi makhluk bercahaya yang berpendar indah di mata tokoh utama. Apa yang dilakukan oleh orang yang disukai itu selalu benar, selalu indah, selalu jadi alasan untuk menyukainya.

Beberapa orang cahaya nya mulai meredup dari pandangan mata kita. Tapi kita tahu bahwa Ia seharusnya masih layak untuk dilihat. Hanya saja, tidak terpenuhinya syarat-syarat untuk dapat melihat dengan jelas membuat satu sama lain tidak lagi bisa bercahaya. Bisa jadi, barangkali seseorang membuang muka saat seharusnya saling melihat, atau justru tertutup pandangan nya karena sesuatu yang lain.

Bagiku, fenomena melihat tetaplah istimewa. Dengan saling melihat kita bisa tau seberapa besar respect yang kita berikan pada seseorang. Beberapa orang memilih untuk tidak mau melihat. Tapi sudahlah, jangan lagi mengurusi orang-orang yang tidak mau melihat sesamanya jika kita telah berusaha setengah mati membuat dia melihat lagi. Intensitas cahaya seseorang kan berbeda-beda.

Tiba-tiba, ingin mengulang kalimat klasih Filsafat dari Descartes, "Cogito ergo sum" artinya, "Aku berfikir maka aku ada." Kata "ada" adalah menyangkut eksistensi diri. Yang "tidak ada" adalah yang tidak eksis. Dihubungkan dengan hal melihat itu tadi, seseorang yang tidak mau melihat kita barangkali tidak menganggap kita "ada". Tidak menganggap bahwa kita ini sebenernya eksis. Atau barangkali parahnya, kita dianggap hanya kumpulan daging mentah dan beberapa tulang yang tidak dapat berfikir sehingga tidak pantas dianggap ada?

Ayolah, kita saling melihat sesamanya lagi. Untuk apa sih kita menghindari pandangan lagi dengan sesama? Mumpung masih bisa melihat, mumpung semuanya belum terlambat. Mumpung kita masih "ada". Semoga cahaya kita senantiasa terjaga.


Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.