cerita tentang remah-remah

Rabu, 19 Desember 2012

Teman Baru yang Tidak Benar-Benar Baru Membawa Pengetahuan Baru


Beberapa hari yang lalu di tengah derasnya hujan dan dinginnya ruangan ber AC, aku berdiskusi dengan seorang mahasiswa Agama yang berkuliah di luar negeri. Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengannya maupun berkomunikasi langsung sebelumnya dengan orang itu. Tapi kita saling mengetahui nama masing-masing begitu bertemu muka. Mungkin karena kita sudah berteman di Facebook sejak lama walau tanpa komunikasi apapun.

Saat itu ia sedang mengurus beberapa administrasi sehingga perlu pulang sebentar ke tanah air. Sedangkan aku ada di tempat itu karena sebuah pekerjaan yang harus aku kejar sampai tempat itu sambil berjumpa dengan seorang teman akrab. Topik kita saat itu macam-macam. Dari mulai politik, teman yang sama-sama kita kenal, filsafat, kebudayaan dan akhirnya kita membahas tentang sufisme.

Saat itu dia bertanya padaku, "Menurutmu, mungkin nggak orang kaya -dengan mobil dan hartanya berlimpah- serta punya istri banyak itu bisa jadi seorang sufi?"

Aku berfikir sebentar. Dilihat dari jenis pertanyaan dan caranya bertanya, jawabannya pasti mungkin. Karena aku pikir Ia akan berbicara ttg hal yang sering salah dimengerti oleh orang banyak dan Ia ingin memberitahuku argumentasinya. Walau sebenarnya tidak yakin dengan argumentasi dalam kepalaku sendiri tentang apa yang memungkinkan seorang bergelimang harta jadi sufi, lebih baik aku memberikan Ia kesempatan untuk menjelaskan. Saat itu aku menjawab dengan singkat dan nada yang menggantung, "Mungkin saja..."

"Iya, betul! Sangat mungkin orang tersebut jadi Sufi. Karena pada hakikatnya, saat Ia tidak memiliki keterikatan dengan hal-hal fana yang Ia punya, maka Ia bisa jadi seorang yang menempuh jalan sufi. Sufi kan tidak selalu memakai baju compang camping dan miskin."

Merasa berterimakasih atas pengetahuan baru itu, aku bercerita gantian padanya -cerita yang aku dapatkan juga dari orang lain-, "Ada kisah tentang seorang sufi yang suka mengenakan pakaian bagus dan mahal. Saat orang mempertanyakan hal tersebut padanya karena orang mengetahui bahwa Ia seorang penempuh jalan ruhani, Sufi yang berpakaian bagus itu menjawab 'aku memakai pakaian bagus dan mahal supaya orang-orang tidak akan pernah mengasihaniku'."

Pelajar itu diam sejenak dan berkata, "Cerita itu sangat dalam dan bermakna."

Aku senang mendengar cara Ia menghargai ceritaku. Aku menebak bahwa  Ia pernah mendengar cerita aslinya berserta tokoh dalam cerita yang sebenarnya bukan seorang sufi anonim. Hanya saja, kebiasaan burukku timbul. Aku sering lupa dengan nama-nama tokoh sehingga cerita itu terpaksa anonim.

Saat itu, hujan belum reda, pembicaraan kita belum benar-benar usai, tapi Taksi dan pekerjaan ku sudah menanti. Kita berpisah dengan salam dan lambaian tangan yang sangat singkat. Terimakasih teman baru yang sebenarnya sudah kenal lama :)

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.