Sabtu, 22 April 2017

Udah deh, Nggak Usah Datang ke Big Bad Wolf 2017

Tahun ini, akhirnya Big Bad Wolf datang juga!

Aku memang penasaran sama serigala ini karena tahun lalu tidak bisa datang ke sana. Beruntunglah, kerja di media membuatku punya kesempatan untuk mendapatkan tiket VIP untuk tanggal 20 April 2017.

Apa keuntungan VIP?

Well, tak banyak. Kita cuma dapat kesempatan untuk masuk arena pameran buku yang luas sehari sebelum BBW 2017 dibuka untuk umum. Tidak ada diskon, tidak ada perlakukan khusus lainnya. Undangan ini adalah untuk para pemenang kuis. blogger, dan media yang memang diberi maupun mendaftarkan diri sebagai VIP.

Aku ke BBW bersama Yusni. Di sanalah aku tahu bahwa dia adalah partner pencari buku yang sempurna untuk diajak belanja ke BBW. Apalagi dia juga punya pengalaman pergi ke BBW tahun lalu.
Ini foto yang aku kirimkan ke Tesa pas dia tanya, "udah berangkat ke BBW?" Baru sampai Stasiun Rawa Buntu



Sebelum memasuki Hall ICE melalui pintu 8, Yusni cerita bahwa tahun lalu antrian sampai ke luar gedung hanya untuk masuk ke dalam.

"Penelitian bilang, literasi orang Indonesia rendah. Kenapa waktu pameran buku kayak gini semua orang jadi heboh? Itu kan tandanya banyak orang masih peduli sama buku," kataku.

"Yang tinggi itu bukan tingkat baca bukunya," jawab Yusni, "tapi konsumerismenya."

Dia benar.

Di BBW, kita akan melihat bahwa semua orang seolah sedang lapar buku. Bahkan, ada yang beli sampai bertroli-troli untuk dijual lagi. Diskon 80% memang menggiurkan.

Tapi aku pikir, tak semua orang bisa ke BBW. Mungkin diantaranya termasuk kamu. 

Kamu harus baca sampai selesai tulisan ini karena siapa tahu kamu ternyata bukan orang seperti di bawah ini sehingga ditakdirkan untuk hadir ke sana. *halah*

Ini 5 alasannya kenapa kamu tidak perlu ikut arus kehebohan BBW.

1. Nggak sabar antri

Kalau kamu orangnya tidak suka budaya antri, suka merebut antrian, dan serba tidak sabaran, maka BBW jelas bukan event yang tepat untukmu. 

Putri, teman sekaligus rekan kerjaku mengaku bahwa ia mengantri selama 3,5 jam. Panjang antrian bisa jadi karena kurangnya kasir yang disediakan, terlalu banyaknya pengunjung, dan banyaknya buku yang harus dihitung di kasir. Selain itu, kadang antrian di depan kita melamun sehingga tiba-tiba saja ada orang yang merangsek masuk di dalam antrian untuk mengisi spasi yang di depan antrian kita. 

Aku dan Yusni juga menghabiskan durasi yang sama panjang hanya untuk membayar. Secara bergantian, kita menjaga barang kita untuk menemukan buku-buku menarik yang ingin kita beli. Jadi, keranjang belanjaan kita bertambah seiring dengan lamanya waktu menunggu antrian. 

Antrian ini memang mendapat banyak kritikan dari pengunjung. Makanya, lewat official Instagramnya, mereka meminta maaf. Aku tidak tahu sih di hari pertama ini mereka sudah memperbaiki diri atau belum. Kalau di komentar-komentarnya sih udah ya...
Sebuah kiriman dibagikan oleh Official Big Bad Wolf ID (@bbwbooks_id) pada

2. Nggak pakai Mandiri

Kalau kamu bukan pengguna produk dari bank Mandiri, ya udahlah. Nggak usah dateng aja. Kecuali kalau kamu mau bawa uang cash banyak untuk memenuhi hasrat belanjamu. Aku sih bukan orang yang nyaman bawa uang cash segepok. Karena terbiasa gesek dan suka takut ilang.

Kecuali kalau kamu punya kartu kredit bank lain. Maka kamu masih bisa gesek kartunya di kasir. Kartu debit selain Mandiri ga guna.

Yusni yang menyelamatkan aku soal kartu mandiri ini. Karena dia lah aku bisa tetap bayar dan makan di BBW. Di food court yang tersedia pun, pembayaran yang tersedia hanya dengan kredit, debit, dan e-money Mandiri. Bakalan bingung lah kalau uang cash yang kamu bawa kurang, ATM bank lain jauh, dan ditambah kamu laper.

Ada antrian khusus kartu Mandiri yang konon lebih cepat daripada yang bayar tunai. Daripada kamu nangis di sana saking nelangsanya, ya ga usah dateng aja.

3. Nggak Sebanding

Kalau kamu cuma ngincer 5 buku di BBW hasil dari stalkingan di IG, maka sebaiknya kamu pake jasa #TitipBeliBBW aja daripada datang langsung. Ga akan worth it lah kalau kamu belanja di bawah 1 juta rupiah dengan pengorbanan berupa jauhnya lokasi, lamanya antri, dan capeknya badan karena muterin bak buku.

Melihat lewat Instagram tak akan sememuaskan kalau kita berburu buku sendiri. Tapi, daripada kamu harus kecapekan dan bikin kantong jebol untuk bayar ongkos pijet setelahnya, mendingan kamu bayar uang titip yang rata-rata 5000-15.000 ribu/buku ke para penyedia jasa titip jual itu.
Antrian VIP kemarin mengular kayak gini.

4. Capek

Kalau kamu gampang capek, encok, lagi hamil, dan stamina ga fit banget, ada baiknya ga perlu datang ke sana. Masih berkaitan sama poin 1 soal antrian panjang yang bikin capek, kamu juga akan lemas di sana. Butuh banyak minum dan makan untuk memulihkan tenaga. Apalagi kalau kamu nggak punya kartu mandiri untuk jajan di sana dan ga bawa makanan apapun, bubar jalan ajalah.

Aku dan Yusni baru kelar belanja jam 3 pagi. Padahal kami berdua berangkat dari Stasiun Palmerah jam 4.30 pm. Berarti myaris 12 jam kita habiskan untuk BBW. Aku sangat lelah dan pegal-pegal sampai sekarang. Rencana nulis artikel ini begitu selesai belanja batal. Selain karena aku harus menulis artikel kerjaan, badannya terlalu capek untuk diajak kerjasama lagi.

Jadi, pertimbangkan baik-baik soal ketahanan fisik kalau mau ke BBW ya. Apalagi buat orangtua yang pada belanja sambil gendong anak, pasti beraaaat banget mobilisasinya. Emang sih anak bisa diajak main ke Play ground, tapi kan anak juga bisa capek main juga dan akhirnya minta gendong lagi sama orangtuanya. Untuk orangtua, bawalah stoller atau gendongan yang nyaman ya. Bawa pasangan atau siapapun yang bisa ganti gendong anak.

5. Males

Tesa -pasanganku- adalah orang yang akan capek duluan kalau mendengar kata BSD. Dia pernah ke BSD untuk urus STNK motor. Sebagus apapun tata kota BSD, tetap saja komentar yang ia bilang adalah, "Jauh banget. Bikin trauma dan capek,"

Walau sudah jauh-hari hari akunya antusias ngomongin BBW. Tapi dia yang juga seorang penggemar buku ternyata tak menampakkan antusiasme sama sekali untuk datang. Selama ini sih hampir semua buku yang ia beli didapatkan lewat online.

Sekalipun aku tanya apakah dia nanti akan menemaniku belanja di BBW atau tidak, dia selalu jawab, "iya, saya mau kok ke BBW," atau, "iya, saya antusias sih sama BBW..."

Dari intonasinya saja, aku tahu bahwa dia sama sekali tidak antusias. 

BBW memang tidak untuk semua orang. Tak semua orang harus datang dan merasakan rasa capek, kesal antri, dan encok untuk mendapatkan buku yang ia inginkan.

Awalnya sempet mikir bahwa budget yang aku sediakan akan membuatku bisa belanja banyak buku sehingga bisa dijual lagi. Ternyata budgetku hanya bisa untuk belanja 10 buku. Itu pun tak seluruhnya untukku sendiri karena di tengah sesi belanja, Tesa kirim WhatsApp untuk titip beli buku yang ia screen capture dari Instagram.

Manalah pula buku yang ia cari bukan judul dan genre yang cukup familiar denganku. Mohon maaf ya sayangku... Aku memang tidak mengerti di mana harus mencari buku soal Martin Scorsese, Alan Mc Gee, Nick Hornby-High Fidelity.

Dari tiga buku yang dia inginkan, aku hanya menemukan Martin Scorsese di bagian buku film, dan Alan Mc Gee di bagian biografi. 

Mencari buku yang dititip orang seperti itu susah sekali. Apalagi selama pameran, signal sangat buruk dan baterai HP hampir habis. Sekalipun menggandeng Telkomsel sebagai sponsor, entah kenapa internet Telkomsel busuk sekali di sana. Hal ini juga terjadi pada signal Indosat dan Bolt. Karena itulah, aku kesulitan mengecek buku genre apa yang dititip Tesa. Petugas di sana kebanyakan tidak tahu juga lokasi buku yang kita cari.
Pokoknya lokasinya lebih luas dari yang terlihat ini deh.
Aku sebenarnya malas dan kesal sekali harus mencari buku yang dipesan Tesa. Entah berapa jam aku keliling genre musik, film, biografi, literature, dan general hanya untuk mencari buku titipannya. Tapi somehow, kekuatan cinta dan caranya membujukku supaya mau mengusahakan buku yang dia inginkan membuatku punya kekuatan lebih dan pantang pulang sebelum dapat buku yang dia minta.

Padahal aku udah bilang, "tauk ah, pusing nyarinya," "Males, cari aja sendiri bukumu," dan keluhan lain, tetap aja aku sangat berusaha untuk mencari buku yang dia mau.

Jadi, kalau kamu adalah orang yang tidak punya kekuatan cinta, maka kamu tidak perlu datang ke BBW. Entah cinta sama orang, buku, ilmu, atau... duit. Karena tanpanya kamu hanya akan dapat nelangsa dan sia-sia. Belum-belum udah bakal lemes duluan.

Apalagi kalau kerjamu a la shift malam kayak Tesa. Dia baru pulang praktek di klinik jam 11 malam setiap harinya. Besoknya pasti jadi super capek sampai bikin males kerja. BBW emang buka 24 jam sih, tapi kalau maksain diri ke sana habis praktek malam sampai pagi, istirahatnya nanti kapan? Kan siang juga harus aktivitas lainnya.

Jadi, BBW memang bukan untuk didatangi orang yang kerjaannya padat dan males sama BSD kayak Tesa. Tesa, udahlah sayang. Kamu nggak usah datang.

Ini saran yang aku berikan kalau kamu emang udah niat ingsun mau ke BBW menerjang semua kesulitan yang ada.

1. Bawalah makan dan minuman sendiri

Nggak akan ada orang yang melototin kamu di food court cuma karena kamu bawa bekal sendiri. Lagian, mending duitnya buat beli buku kan daripada buat beli makanan.

Sayangnya, botol minum yang aku isi dengan penuh cinta sejak di kantor hilang di BBW. Aku menaruhnya di saku tas samping, kemungkinan jatuh kesenggol orang saat berdesakan di sana. RIP my tumbler.

2. Siap-siap budget ekstra

Banyak yang jadi over budget karena kalap belanja. Sayang kan kalau buku yang udah kamu cari dengan susah payah terpaksa harus dikembalikan pas penghitungan di kasir. Kalau kamu emang niat datang lagi untuk beli buku yang belum sempat terbeli karena keterbatasan dana kemarin, maka kamu terpaksa harus melewati penderitaan yang sama dengan kemarin. Good luck ya!

3. Pakai alas kaki yang nyaman

Bagiku, sepatu yang nyaman adalah sepatu sport. Bagi Yusni, alas kaki yang nyaman adalah sendal jepit. Pakai heels emang bikin penampilanmu stand out. Tapi itu hanya akan membuat kakimu tersiksa saat kamu berburu buku dan mengantri.

4. Jangan datang sendirian

Selama mengantri, kamu bisa sambil berburu buku yang lain. Selain itu, sayang banget kalau di antrian kamu kebelit pipis tak tertahankan. Yakin deh, kamu ga akan rela meninggalkan antrian yang sudah kamu usahakan dengan keringat dan air mata itu. Hiks.

5. Bawa koper

Ini dilakukan oleh Yusni. Yap, dia memang bawa koper kayak orang traveling. Tentu saja dia tak sendiri, ada banyak orang yang bawa koper kosong sebagai wadah belanjaan nanti.

Aku cuma bawa plastik kresek ekstra. Tetap aja berat banget. Aku juga ga punya koper sih. Udah rusak parah. Untunglah aku tidak perlu menenteng kresek itu lama-lama

6. Bawa powerbank

Baterai ponsel kamu bisa jadi habis saat sedang mengantri sehingga kamu tidak bisa ke charging area. Aku dan Yusni mengalami krisis baterai yang sama. Akhirnya, aku membuka laptop dan mengubahnya sebagai power bank. Laptopnya aku taruh di keranjang belanja saat charge HP. Baterai HP itu krusial ya, terutama untuk mereka yang pulangnya naik layanan transportasi online.

7. Borong buku sekalian

Rugi banget kalau nggak beli banyak sekalian. Buku impor itu paling nggak harganya 30.000. Tapi buku lokal ada juga kok yang harganya 15.000. Aku sih males ya ngecek buku lokal ada apa aja. Kebanyakan terbitan Mizan yang udah diobral lagi. Ya gitu, kalau kamu udah bayangin mau beli 20 buku yang rata-rata impor, maka dana yang harus kamu siapkan minimal adalah 2 juta. Serius.
Iyalah. Rugi banget beli dikit. Abaikan protes di socmed soal jasa titip. Kolektor buku pun bisa borong banyak juga kok.

8. Beli e-money

Kalau kamu bukan pengguna bank Mandiri, lebih baik beli kartu e-money dan isi yang banyak. Lumayan buat beli makanan atau minum selain di sana. Saranku, isi minimal 150 ribu karena makanan di sana lumayan mahal.

9. Jangan bawa barang banyak

Aku berangkat dari kantor, jadi otomatis bawa laptop yang cukup berat dan perabot lainnya di tas. Itu bikin tasku berat dan makin bikin tambah encok selama di BBW. Untunglah bawa laptop ada gunanya karena akhirnya buat charge HP. Jadi aku ga bete-bete amat jadinya karena keberatan bawa tas. Apalagi bawaan setelah belanja juga akan makin berat.

10. Jangan mau dititipin buku sama temen kecuali kalau emang buka jasa titip

Aku bilang sama temen lho ya, kalau dititipinnya sama pasangan sendiri ya Good luck deh stresnya. Misal emang terpaksanya dititipin temen, lebih baik kamu yang udah on the spot di sana dan temanmu yang harus pilih buku yang kamu tunjukin lewat video WhatsApp Call atau kamera, sehingga kamu udah pasti tahu di mana letak buku tersebut berada. Bukan sebaliknya malah dia yang justru suruh kamu untuk cari-cari dari hasil stalkingan IG. 

Pusingnya cari buku itu akan membuat mood mu jadi buruk. Mending kalau kamu bakal dapet untung, kalau nggak, maka kamu akan terasa capeeeek banget. Yang nitip juga harus tahu diri ya. cari buku itu bukan hal yang susah.

Kayak yang aku alami. Salah satu buku yang aku beli adalah Pinball nya Murakami. Saat antri, ada 2 mbak mbak yang nanya sama aku di mana aku bisa dapat Murakami itu. Aku tunjukkan lokasinya di bagian Literature. Mereka girang banget dong bisa dapat. Padahal keranjang belanja mereka sudah penuh, dan mereka nyaris gagal menemukan buku karya penulis favoritnya.

Poin penting lain, struk jangan langsung dibuang di tempat sampah sesaat setelah meninggalkan kasir. Karena pas keluar, satpam periksa struk dan akan distempel. Yusni sempat membuang struknya karena toh judul bukunya tak tercatat di lembaran itu. Akhirnya dia harus balik lagi mencari-cari serpihan kertas yang tadinya dia buang.

Sampai ketemu di postingan selanjutnya.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.