cerita tentang remah-remah

Rabu, 27 Mei 2015

Daripada Googling, Mendingan Ducking

Kalau pakai komputer umum di perpustakaan Kampus Paramadina, kita bakal ketemu sama OS Ubuntu dengan browser Mozilla Firefox, sepaket sama search engine Duck Duck Go sebagai defaultnya.

Awalnya, responku adalah, "Duck Duck Go? Ini apaan deh?" -___-

Panca Indraku selalu sensitif kalau menyangkut Bebek. Kemunculan sesuatu yang ada hubungannya dengan Bebek bisa langsung bikin perut laper. Inget, betapa nikmatnya sepiring penuh Nasi Bebek Madura traktiran yang diracik secara ajaib lewat tangan orang Madura sampe dagingnya bisa empuk gitu, plus sambelnya yang pedes, berminyak, dan kehitaman. Mestinya pencipta resep Nasi Bebek Madura dikasih penghormatan setinggi pencipta Nutella. Tapi karena humble, ia lebih milih jadi semacam Zorro di dunia kuliner. Seorang pahlawan bertopeng pembasmi makanan nggak enak yang identitasnya nggak dikenal warga sekitar karena niatnya yang tulus pengen jadi pemadam kelaparan siapa aja yang di kantongnya ada duit sekitar Rp 15.000.

Baiklah, ini bukan mau ngeblog soal makanan, ini mau ngeblog soal Search Engine. Ada baiknya, kita melupakan Nasi Bebek Madura sejenak dan kembali ke Duck Duck Go.

Laman yang ditampilin duckduckgo.com adalah Bebek unyu berdasi kupu-kupu yang bukan Donald Bebek dengan lingkatan warna orange. Background putihnya sih sama kayak google.com ya.

Perhatianku yang awalnya fokus di tanda Bebek berpindah ke jargon bawahnya, "Search engine that doesn't track you"

Wah, menarik!

Aku sadar bahwa google menggunakan informasi yang aku berikan pada mereka untuk iklan dan kepentingan lainnya. Lebih ekstrimnya -kalau menurut Edward Snowden sih- google memang memata-matai aktivitas online kita. Iya. Kerasa kok.

Misalnya, pas Google suka kasih saran bacaan yang ada hubungannya dengan hal-hal yang aku sukai, kayak Taylor Swift. Ada juga soal tempat yang pernah aku cari lokasinya, orang-orang yang pernah aku stalking, gambar yang pernah mampir di HPku dan sebagainya. Ngeri aja jika suatu hari akun googleku -karena satu dan dua hal- tiba-tiba berpindah tangan, orang itu akan tahu sepenuhnya hal-hal privacy yang membuatku penasaran sampe-sampe mesti nyari lewat internet. Padahal, rasa penasaranku yang tinggi terhadap sesuatu kadang membawaku pada hal-hal tabu yang cukup "gelap".

Aku pernah baca, seorang kawan Facebook ikut mempromosikan Duck Duck Go dengan penekanan soal privacy. Nggak banyak yang keliatan minat. Mungkin karena dia emang bukan seleb Facebook macam Jonru.

Berdasarkan pengalamanku saat mengobrol dengan orang lain soal privacy berinternet, kebanyakan orang justru tak peduli hak-hak privacynya sendiri dan malah bilang, "Emang gue sepenting apa sampe segitunya amat ngurusin privacy? Kalau gue orang penting kek pejabat, presiden, intel, baru deh ati-ati. Nggak ada aktivitas gue yang aneh-aneh sampe perlu ngelindungin diri segitunya banget lah."

Kalau kata Edward Snowden, "Kalau elu nggak ngehormatin privacy diri elu sendiri pas internetan dan pasrah gitu aja diintipin sama negara dan korporasi, artinya elu nggak ngehargain diri sendiri."

Aku sendiri, sekalipun sadar soal privacy, masih sering bolong di sana sini. Buktinya, sampe kemaren, aku masih pake google di laptop sebagai default search engine. Cuma karena males utak-atik settingan Google Chrome sik. Bukan alesan lain.

Sampai akhirnya, aku menemukan masalah ini selama berhari-hari tiap kali lagi googling


Kenapa bisa begitu? Kata Mbak Courney yang nulis Support Google, ada lalu lintas tak biasa di jaringanku dengan berbagai penjelasannya. Aku merasa tak ada yang salah dengan lalu lintas, internet, browser, OS, maupun laptopku. Aman. Aku pakai OS Linux Mint yang bebas virus juga kok. Nggak ngerti lah cara benerinnya gimana. Berasa gaptek.

Lama-lama nyadar juga, mungkin solusinya bukan benerin. Mestinya cukup ganti default search enginenya pake yang lain.

Ganti settingan default di laptop juga gampang ternyata.

Klik bagian kanan browser, tepat di bawah tombol close yang ada tanda strip 3. Klik Setting di atas About Google Chrome.

Di menu Search, Duck Duck Go tak ada dalam daftar search engine. Adanya Yahoo, Ask, Bing, Delta, dan sebagainya. Kita mesti ngatur mesin pencari yang dimaksud secara manual.

Klik Manage Search Engine, scroll terus ke bagian paling bawah di bagian Other Search Engines. Ada kolom kosong, ketik aja di sana Namanya pake Duck Duck Go dan Urlnya pake duckduckgo.com.

Setelah itu, arahin kursor ke bagian yang baru aja kita ketik. Muncul tulisan Make default dengan background warna biru di sebelah paling kanan kolom URL. Klik aja tuh.

Berdasarkan pengalamanku, Tulisan Make Defaultnya  nggak langsung muncul di list yang bisa dijadiin default. Eh, pas nyoba besoknya, baru bisa.

Nah, kalau gagal muncul Make Defaultnya, jangan putus asa yak.

Setelah jadiin Duck Duck Go default search engine dalam setting, kita bakal disambut layar kayak gini tiap kali ngetik pencarian di kolom URL pada browser.


Kalau belom yakin soal udah keganti defaultnya apa belom, Duck-Duck Go masih nawarin ke user buat jadiin mereka default search engine di laman depannya. Klik aja, bakal muncul jendela kayak gini. Abaikan URL yang aku ketik di browser yak. Tadi rencananya emang mau cari info soal NPWP (ups! Privacy nih :p). Jangan salah kira kalau itu emang URL buat nyetting Duck Duck Go ya ya ya.



Klik aja bagian "Klik Di Sini". Selesai deh. Udah keganti.

Karena masih penasaran, aku klik Help Spread Duck Duck Go yang posisinya ada di bawah kolom keyword laman depan.

Ketemu laman ini. Khas Open Source, mentingin privacy dan kolaborasi


Sebagai seseorang yang ehm sebisa mungkin melakukan perlawanan terhadap hegemoni ehm, kalimat, "We're up against billion-dollar giants, but we've got awesome people like you on our side" ini menggetarkan sekali.

Gara-gara itu, jadi inget demontrasi 99% nya Occupy Wall Street, Inget kapitalisasi OS Windows yang harganya mahal dan bikin orang mesti ngebajak software karena orang-orang nggak mampu beli OS asli. Dan inget juga banyak hal baik lainnya yang bersifat perjuangan melawan mentalitas populer. Yaitu mental yang berisi hal mainstrem tapi sebenernya nggak mutu.

Gara-gara tergugah sama kalimat itu, aku juga langsung login di website resmi Duck Duck Go.


Ngomong-ngomong, Handphone yang auto-correct nya aktif biasanya nggak akan ngenalin kosa kata "Fucking" sebelum kosa kata itu diinput secara manual. Kata "Fucking" bakal langsung ketulis "Ducking". Gara-gara itulah, kosa kata Slang "Ducking" mulai muncul dan dipake misuh.


Kita selalu nyebut aktivitas nyari informasi lewat mesin pencari Google dengan kata "Googling". Kalau pake Duck Duck Go, aktivitas yang kita lakuin jadi Ducking kali ya. Meskipun ada sih kosa kata "Duckling" dengan arti yang beda. Milih pake kata apa? Ducking apa Duckling?

Aku sih pilih Ducking.

Jadi, kalau pas ditanya orang, "Eh, Lagi ngapain lo? Sibuk amat."

Tinggal dijawab, "Lagi Ducking nih."

Anggep aja mulutnya lagi auto-correct.

Update!

Alternatif aja nih, kalau pakai Google Chrome, sebenarnya bisa langsung add extention via Google store, klik di sini. Tinggal add to chrome aja.

Hasilnya bakal kayak gini, aku tandain pas logonya ya di bagian kanan atas. Ini lebih gampang daripada berbelit kayak cara di atas. :p


Coba gih.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.