Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Guru : Antara Si Pengemban Tugas Kenabian dan Si Pendikte

Socrates pernah berkata pada murid-muridnya, "Aku tidak dapat membuat semua orang mengetahui segalanya, aku hanya dapat membuat mereka berfikir."

Selama aku hidup, selalu ada sosok guru yang membuatku belajar bagaimana caranya mempelajari sesuatu dan menemukan alasan kenapa aku harus mempelajari hal tersebut. Kadang juga, dengan sangat menyebalkan, aku akan bertemu dengan seorang guru yang hanya membutuhkan kehadiran kita sehingga dengan malas, aku akan memaksa diriku untuk tergopoh-gopoh masuk ke kelasnya dan menahan kantuk sisa begadang semalam.

Bagiku, seorang guru yang baik bukanlah yang dapat menjawab semua pertanyaan muridnya dan meminta kita menghafal berderet penuh mantra asing yang tidak kita ketahui kenapa itu begitu penting.

Guru, di dalam pikiran ideal ku adalah seseorang yang bisa membuat kita memiliki kesadaran untuk lebih banyak belajar dan berfikir. 

Guru itu memiliki tugas seperti para nabi, yaitu seseorang yang memberikan petunjuk dan menyampaikan. Guru mengajarkan bagaimana cara berfikir untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Sehingga kita tidak perlu bertanya ttg pertanyaan partikuler dan remeh-temeh ke guru kita. Tidak mungkin kita menghabisakan waktu seorang Guru dengan pertanyaan, "Apakah jika bertamu, sebaiknya sendal kita sisihkan ke sebelah kanan atau kiri pintu supaya lebih afdol??" Tentu saja, pertanyaan remeh temeh itu, seharusnya membuat jengkel seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam namun dengan terpaksa harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan sepele. 

Kebanyakan guru, hanya menyuruh manusia yang dihadapannya untuk belajar tanpa membuat para insan pembelajar memiliki kesadaran kenapa kita butuh mempelajari hal tersebut. Sebagian guru lainnya, membebani manusia didikannya tentang mantra-mantra asing yang harus dihafal tanpa memberikan celah bagi kita untuk menganalisa mengapa mantra tersebut penting dan relevan untuk kehidupan kita.

Pak Munif benar, guru harus bisa memperlakukan kita seperti manusia. Bukan seperti mesin yang harus patuh terhadap manual book  yang ada di dalam kardus sebuah mesin. Atau, dalam arti lain, manusia itu bukan mesin yang bisa diperlakukan hanya dengan tahap tertentu. Tidak bisa, hanya dengan memencet tombol on, bisa langsung on.

Aku tahu seharusnya semangat belajar ku tidak redup hanya karena barangkali aku kurang cocok dengan caranya mengajar, Semangat seharusnya adalah sebuah elemen terpisah dari kesiapaan . Iya, seharusnya begitu. Tapi akhirnya aku tunduk pada emosi ku. Aku tidak dapat mengingat apapun yang Ia ucapkan. Padahal itu bukanlah sebuah mantra yang teramat sulit. Itu mantra biasa saja. Seharusnya tinggal merapal mantra itu di ujian, tanpa peduli seberapa ampuhnya mantra itu, aku bisa lulus. Aku hanya tidak menemukan alasan, kenapa aku membutuhkan deretan teks ini. Jika aku membutuhkan, mengapa aku tidak tehu mengapa mantra yang satu ini, mengapa bukan mantra yang lain? Jika aku tidak membutuhkan, mengapa aku bisa memilih untuk terkurung di sini bersama seseorang yang menyebalkan dan mengklaim diri sebagai guruku padahal aku tidak pernah belajar apapun darinya? Aku tidak pernah memilihnya. Aku terpaksa bersama nya karena sistem yang ada mengaturku sedemikian rupa. 

Bagaimana jika mantra itu ternyata -di luar pengetahuan ku- benar-benar sakti? Padahal aku terlanjur merapal mantra itu dengan malas-malasan tanpa menyertai jiwa ku di dalamnya? Bagaimana jika mantra itu tanpa aku sadari justru berbalik mengenai kepalaku sendiri? Memantrai semua yang ada di otakku dan semua hal yang tersimpan di dalamnya sehingga semua hal jadi begitu memuakkan seperti perasaan ku atas mantra yang tidak tahu kenapa harus aku hafal.

Akhirnya aku harus berdamai dengan argumen yang ada di kepalaku. Guru meminta aku untuk jadi mesin yang memberikan jawaban kapanpun dia mau dan ada di ruangannya kapanpun. Sekalipun aku harus berada di sana adalah sebuah aturan yang diluar kuasaku -bukan pilihanku-. Barangkali di ruang itu aku harus belajar memahami bagaimana menjaga perasaan seorang pintar yang berharap di dengar. Atau barangkali ini merupakan sebuah siasat dari kepala guru untuk membuatku tahu arti pengendalian diri agar serta merta tidak merusak apapun yang tidak aku sukai. 

Apapun itu, kelak aku juga akan tahu maknanya. Atau, aku mesti berusaha keras agar aku tidak menganggap "penjara" ini sia-sia.

Rabu, 18 September 2013

Tipe-Tipe Mahasiswa Berdasarkan Aktivitasnya

Kalau kamu menganggap semua mahasiswa itu sama saja. Anggapan kamu salah besar! Mahasiswa itu berbeda-beda jenisnya. Nih dikasih tau, jenisnya apa aja.

Tipe Kupu-Kupu
Mahasiswa ini selalu hadir di kelas. Jarang nitip absen. Tapi begitu dia keluar kelas, dia langsung menghilang. Aktivitasnya ya kuliah-pulang-kuliah-pulang. Nggak heran kalau dia nggak banyak dikenal sama junior, senior ataupun yang beda jurusan. Dia langsung ngilang bagai ninja begitu kelas bubar. Bisa jadi dia buru-buru pulang karena mesti ngurusin kucing-kucingnya di rumah atau emang nurut sama pesan mama yang nyuruh langsung pulang tiap habis kuliah. Eh, Tapi bisa juga sih karena dia harus langsung kerja begitu kelar jam kuliah.

Tipe Kunang Kunang
Mahasiswa jenis ini menguasai tempat-tempat nongkrong di kampus atau Mall. Biasanya waktu yang dihabiskan buat nongkrong itu lebih banyak dari waktu kuliah ataupun waktu ngerjain tugasnya. Aktivitasnya ya Kuliah-Nangkring-Kuliah-Nangkring. Biasanya mahasiswa kunang-kunang sering merasa jadi mahasiswa paling gaul dan eksis di kampus. Trus tipe ini juga gampang dapet pacar. Karena banyak dikenal orang dan punya daerah kekuasaan pos di titik-titik tertentu.

Tipe Aktivis Mahasiswa
Kegiatannya seputar organisasi. Dia bisa aja ada di kampus sampai tengah malam buat ngurusin organisasi atau sekedar ngobrol yang topiknya nggak jauh-jauh dari hal yang berbau politik. Kadang pas moment-moment tertentu mereka juga demo. Biasanya, mereka juga kritis dan nggak takut buat ngasih kritik ke manapun, ke siapapun. Mereka lah yang menguasai jabatan di organisasi kampus. Biasanya mahasiswa kayak gini lulusnya lama dan kalau kuliah pagi sering dateng telat. Soalnya mereka sering begadang buat rapat-rapat.

Tipe Aktivis Lomba dan Kontes
Jangan heran kalau tiba-tiba orang yang biasanya ngak pernah nyapa ngajak chat di Facebook dan ngasih link, “vote aku ya, Klik like page dulu, trus buka foto blablabla”. Atau dia tiba-tiba upload foto di sosmed dan bilang, “Mohon doanya, dukung saya jadi Putri blablabla”. Aktifitas nya, ya googling tentang lomba dan kontes apa aja yang bisa diikutin. Dari mulai kontes nulis, fotografi, bikin video, sampai ikutan ajang putri-putrian.

Tipe Banci Konferensi
Jangan heran kalau hari ini dia ada di kelas, tapi besoknya tau-tau dia ada di luar negeri atau luar kota. Misalnya nih, hari ini dia ada di Norwegia buat jadi pembicara di seminar tingkat dunia yang membicarakan tentang punahnya naga Norwegia akibat pemanasan global. Trus sebulan kemudian, dia ada di Yunani buat jadi peserta konferensi pemuda peduli Socrates. Tipe ini sangat menginspirasi generasi muda karena dia jadi kayak leader muda yang sering jadi delegasi Indonesia. O iya, bisa jadi dia juga menjelma jadi sosok populer karena sering bikin orang envy liat dia jalan-jalan ke luar negeri mulu. Aktivitas dia adalah ikutan call for paper, bolak-balik kedutaan negara tujuan buat bikin visa, browsing info konferensi internasional, cek harga tiket pesawat dan bikin proposal sponsorship buat perusahaan-perusahaan potensial yang mau biayain dia ke luar negeri.

Tipe Seleb
Kalau kuliah di Jakarta, kita akan terbiasa liat artis yang biasa kita liat di TV nongol di kampus kita jadi mahasiswa. Tipe kayak gini, sekalipun dia sering mangkir kelas dan jarang dateng ke kampus karena mesti syuting, show, manggung, dll, dia tetep aja punya temen deket yang bisa diandalin buat nanya-nanya kalau pas ada tugas atau ujian. Selalu ada di dunia ini, orang-orang yang seneng punya temen dari kalangan artis. Makanya, kalau kamu udah ngerasa jadi orang baik, cakep, tajir, tapi tetep nggak punya temen, jadi artis aja gih. "Terus, Kalau udah jadi artis tapi tetep nggak punya temen gimana?" Kamu nggak perlu bikin Video di youtube dan bilang, "Buat temen-temen SD gue.., Buat temen-temen kampung gue... Buat...blablabla..." Please, nggak usah gitu ya. Selama masih ada SNSD, hidup akan terasa begitu indah, berwarna, dan semua orang bahagia.

Apalagi kalau Seleb nya kayak gini
(Sumber gambar : wewantkpop.com)
Tipe Diskusi dan Pendebat
Dia ini sering dateng ke acara-acara diskusi apa aja. Dia bisa nguasain banyak topik. Mulai filsafat, politik, agama, seni dan barangkali topik yang nggak kamu pikirkan sebelumnya. Tipe orang kayak gini sering keliatan menonjol di forum-forum karena terbiasa ngomong dan menguasai wacana. Kalau kamu tipe orang yang nggak suka diskusi atau debat, mending jauh-jauh deh. Bisa panjang urusan soalnya. Tipe diskusi dan pendebat ini seringkali bisa muncul sepaket sama tipe aktivis mahasiswa.

Tipe Mahasiswa Misterius
Dia tampak seperti mahasiswa biasa yang dateng ke kampus. Tapi, kita semua nggak tau pas dia ke kampus aktifitasnya apaan. Barangkali dia adalah seorang agen intelegen yang lagi undercover dan sedang menjalankan sebuah konspirasi. Atau barangkali dia adalah seorang hacker hebat, bisa juga dia ini sebenarnya bukan manusia, melainkan alien yang menyamar sebagai mahasiswa Ya namanya aja misterius. Siapa sih yang tau dia ngapain aja. Barangkali Vicky ex Zaskia gotik tu masuk tipe ini karena sampai sekarang, kita sungguh tidak mengetahui mahasiswa macam apa dia. Ada yang tau pas jaman dia masih mahasiswa dia jurusan apa, kuliah dimana, ikut kelas apa aja? Ngakunya sih kuliah di luar negeri gitu soalnya.

Begitulah tipe-tipe mahasiswa. Kamu tipe mahasiswa kayak apa? Ada tipe yang belum disebutin? Share donk.

Jumat, 03 Mei 2013

Never Ending Fighting!!


Kemarin, aku terpenjara jeruji hujan dari jam 6 sore sampai jam 11.30 malam. Hujan  yang deras memberi banyak waktu ngobrol bareng teman-teman kampus yang bernasib sama. Yang cuma bisa pasrah menunggu hujan reda.

Kakak kelas ku yang sudah menikah dan punya anak perempuan berumur 6 bulan menunjukkan foto anaknya di layar BB nya, "Anak gue nih."
"Lucu banget anaknya kak." 
Dia duduk di samping ku sambil mengisi baterai BB nya. "Sekarang sih gue cuma mikir, gimana caranya biar anak gue sejahtera aja. Gimana masa depan dia aja."
"Oh, jadi nggak mikirin lagi tentang konflik timur tengah, perdamaian dunia, Iran Amerika dan Palestina Israel ya kak?" Tanyaku sambil bercanda.
Dia tertawa kecil, "Iya, nggak lagi. hehehe..."

Aku tersenyum dan berfikir, tentu saja semua orang ingin jadi pejuang. Dari yang tingkat mikro atau makro. Perjuangan bisa dalam bentuk apa saja. Yang jelas, asal mengubah sebuah keadaan menjadi lebih baik itu adalah sebentuk perjuangan juga. Hanya saja, seseorang kadang sibuk berjuang untuk diri sendiri dan melupakan sekitar. Kata orang, "Diri sendiri aja belum selesai, masak mau berjuang buat yang lainnya."

Ah iya, sepertinya ucapan itu benar, tapi aku pikir, pada akhirnya, makin lama hidup kita di dunia, urusan-urusan pribadi kita tidak kunjung selesai. Misalnya, bisa jadi, seseorang yang sedang berjuang membuat paper tentang runtuhnya teori Clash of civilitation nya Samuel Huntington sehingga perdamaian antar peradaban itu sangat mungkin terjadi sedang mengalami masalah pribadi sangat berat. Yaitu dia tak kunjung berdamai dengan mantan pacar. Padahal, ia meyakini bahwa apa yang dia tulis itu bukan utopia belaka. Tapi kenapa, berdamai dengan mantan pacar dalam lingkup sosial kemasyarakatan begitu sulit? Bukankah masalah-masalah makro sosial itu berawal dari masalah-masalah pribadi. Sebenarnya, sederhana kan? Apakah akhirnya, kita terkubur dalam masalah pribadi dengan berkata, "Tidak akan mempromosikan perdamaian dunia lagi sebelum selesai urusan dengan mantan pacar" atau berkata, "Okelah, mungkin saya tidak dapat menyelesaikan masalah pribadi saya sendiri dengan mantan pacar. Tapi bisakah saya tetap mengkampanyekan pentingnya perdamaian dunia kepada siapapun yang mau mendengar? Yang penting berusaha." Dua hal itu, lebih cool yang mana?

Contoh lain, seorang ustad di cemooh beberapa orang karena memiliki anak yang nakal sampai ustad itu ragu apakah Ia terus berdakwah atau tidak. Beberapa orang bilang, "Didik anak sendiri aja belum bener kok berdakwah sih?" Kalau aku sih, menanggapi fenomena itu dengan bilang, "Bukan salah ustadnya ngasih tau anak apa nggak. Ada anak yang bisa jadi Yusuf bagi orang tuanya, ada anak yang memilih jadi seperti anaknya nabi Nuh, Ustad, dakwah terus aja, PD aja lagi." Dua hal tanggapan pada ustad itu, lebih cool yang mana?

Pada akhirnya, aku tidak yakin aku benar-benar bisa berkontribusi bagi dunia, bagi negara maupun bagi keluarga karena masalah pribadi ku sendiri tidak kunjung selesai. Hal remeh temeh seperti urusan psikologis (Padahal bukan mahasiswa psikologi), urusan ekonomi (Lagi-lagi, padahal bukan mahasiswa ekonomi), urusan filosofis (Konsekuensi logis mahasiswa filsafat) dan sebagainya. Kalau diturutin fokus hanya masalah pribadi, tentu saja, hidup kita terlalu singkat untuk hanya mengurusi hal-hal pribadi. kapan berbaginya? Kapan kontribusinya buat negara? Kapan berguna buat sesamanya?

Tentu saja, kakak kelas ku harus benar-benar fokus berjuang untuk anaknya karena di saat muda ia sudah kenyang dunia aktivisme, tak lelah mengkritik pemerintah dan melakukan banyak hal berlandaskan idealisme.  Tapi semoga, darah-darah perjuangan itu tidak berhenti. Harus tertular, pada sekitarnya, pada anaknya kelak, pada sesamanya. Makanya dia masih sempat urus HMI walau secara perkataan dia hanya memikirkan bagaimana anaknya besar nanti. Ada lho orang-orang yang menjadikan organisasi itu tempat berjuang. Bukan melulu pragmatisme dan ekonomi. Semoga aja dia memang begitu.

Aku saat ini. bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa dan gerakku seolah-olah tidak mempengaruhi apapun di dunia ini. Tapi suatu hari, aku tidak ingin lelah berjuang, aku tidak ingin apatis dengan apa yang terjadi pada dunia, aku ingin melek peradaban. Aku juga ingin terhindar dari keterisolasian intelektual. Salah satu caranya adalah dengan bersama-sama dengan orang yang punya visi sama. Di bagian ini, cuma bisa bilang : If u know what i mean.

Kita boleh kecewa pada sesuatu, tapi semoga kekecewaan kita terhadap sesuatu tidak membuat kita merusak diri sendiri. Hidup berjalan terus dengan ritme nya dan kita bisa jadi pengatur tempo dalam ritme itu. Pilihan kita kok semuanya. Bagiku, Never ending fighting!!

Minggu, 10 Februari 2013

Surat Undangan Norak buat Senior Jurusan


Dear Kakak-Kakak Senior dan Alumni HIMAFA

Sejarah itu berulang. Masa yang kini sedang dimulai generasi saat ini adalah masa yang juga pernah dilalui oleh generasi masa lalu. Secara sadar, kita pernah mengalami periode yang sama, yaitu kelahiran kita sebagai Mahasiswa Falsafah dan Agama di Universitas Paramadina. Dengan segala dilematikanya, kita juga telah berteduh dalam rumah bernama HIMAFA walau dalam jenjang waktu yang berbeda.

Kak, Mungkin kami memang tidak melihat bagaimana senyum kakak semua saat pertama kali memasuki Kampus Peradaban tercinta yang dibangun lewat fondasi Kitab dan Hikmah oleh Bapak Intelektual kita, Nurcholish Madjid. Pun, mungkin kita juga tidak dapat melihat dengan jelas semua jejak langkah Intelektual kakak di Rumah Peradaban Ini. Kita hanya mendengar sebuah kisah yang diceritakan oleh orang lain mengenai kakak tanpa pernah mendengar langsung cerita kakak karena jarak dan waktu yang memisahkan kita bertahun lalu.

Kami mungkin juga tidakmenyimak bagaimana perjuangan kakak-kakak senior saat mengerjakan proposal skripsi, sidang dan masa-masa sulit lain di tengah perkuliahan. Kita mungkin saat itu belum saling mengenal. Atau kita belum cukup dekat untuk saling memberikan dukungan.

Kak, Kelahiran dan masa pertumbuhan Intelektual kita mungkin tidak dilalui bersama. Namun, alangkah baiknya kita melupakan sejenak siklus kehidupan bernama kematian, terutama kemation emosional  yang dapat memisahkan kita satu sama lain dalam wadah HIMAFA. Bagaimanapun setiap rumah akan merindukan penghuni lamanya walau ada puluhan penghuni baru yang menempatinya.

Tahun ini, ada proses kelahiran calon Intelektual yang akan kita sambut dalam Metamorfosis 2012. Rumah HIMAFA ini merindukan semangat penghuni lamanya agar rumah ini lebih hangat lagi dengan adanya keluarga disana. Bagaimanapun, keluarga HIMAFA tidak akan pernah mati karena kita semua adalah salah satu special case dalam alam yang tidak menginginkan kematian ikatan Emosional satu sama lain.

Untuk itu, Kami panitia Metamorfosis 2012 mengundang kakak semua untuk lebih menghangatkan rumah kita lagi dalam semangat Peradaban. Teman Metamorfosis Kali ini adalah “Menggerakkan Nalar Aktivisme Mahasiswa dari Dekonstruktif menuju Rekonstruktif.”

Metamorfosis ini akan terlaksana pada tanggal 28-30 September 2012 di Villa Puncak Cisarua. Jika kakak-kakak berkenan hadir, mohon tulis alamat email kakak di kolom Comment. Kami akan kirimkan undangan resmi HIMAFA ke email kakak.

Terima kasih telah meninggalkan rekam jejak yang indah selama perjalanan kakak di HIMAFA. Semoga kami dapat melanjutkan perjalanan Intektual kakak di Rumah Himafa menuju secarah-cerahnya peradaban.


Sincerely
Syahar Banu, Ketua OC Metamorfosis 2012

Senin, 26 Desember 2011

Aung Suu Kyi dan Icon Demokrasi Burma


Akhirnya dalam rangka menuju demokrasi baru, pemerintah Myanmar memperbolehkan Aung Suu Kyi mengikuti pemilu lagi setelah menjadi tahanan rumah selama 20 tahun. Namun, Partai NDL (National League for Democracy) yang mengusung Aung Suu Kyi ini tidak lagi menggunakan lambang topi bambu seperti pemilu 1990 lalu yang hasil kemenangannya di tolak oleh junta militer. Karena lambang topi bambu telah dipakai oleh partai lain NDF.

Bintang melambangkan revolusi. Sedangkan merak adalah simbol yang dipersembahkan untuk para mahasiswa dan para aktivis yang melawan militer pada tahun 1988 lalu. Sebanyak 3000 orang aktivis dan mahasiswa tewas dalam perlawanan itu dan ribuan mahasiswa dan aktivis ditangkap termasuk Aung Suu Kyi sendiri. 
Burma yang dulu dikenal dengan Myanmar memang didominasi pemerintahan junta militer. 

Sebentar...
Aku mengajak rekan-rekan melihat sisi lain...

Namun, bagi anda yang tidak suka dengan politik luar negeri Amerika, tentunya tidak akan senang apabila mengetahui fakta bahwa Suu Kyi semakin percaya diri menghadapi pemilu karena mendapat dukungan penuh oleh Amerika. 

Hal itu terjadi sejak Mentri Luar negeri Amerika, Hillary Clinton bertemu langsung dengan pemenang nobel perdamaian ini di Myanmar dan menyatakan dukungannya, Apabila kita terbiasa berfikir dengan konspiratif, pastinya pikiran kita tertuju pada pertanyaan seputar "Deal-deal an apa yang di sepakati oleh Amerika dan Myanmar kelak". Apakah nantinya akan ada intervensi terhadap pemerintahan Myanmar apabila NDL nanti menang? 

Setelah Amerika membantu Viet Nam yang berselisih dengan China karena perbatasan wilayah laut, akankah Amerika juga mengambil bagian dalam hiruk pikuk perpolitikan Myanmar nantinya? Wah, apakah semua negara ASEAN akan berada di ketiak Amerika nantinya?



Mencoba menghindar dari pemikiran negatif deri alur konspirasi dan sebagainya, kita patut mengapresiasi perjuangan seorang aktivis yang terus menyuarakan tentang demokrasi sampai rela di penjara. Ia adalah wanita kuat yang berjuang demi negaranya.

Kita juga patut mengapresiasi cara penghormatan kepada pejuang demokrasi Begitu dikenangnya perjuangan mahasiswa dan aktivis sampai di jadikan lambang partai NDL. 

Hey Pemuda Indonesia....
Bagaimana dengan indonesia nanti? Bagaimana laku mahasiswa dan aktivisnya terhadap pemerintahan yang otoriter? Perlukah ada musuh bersama agar kita menyamakan isu saat aksi? Bagaimana laku pelaku politik di negeri ini menanggapi aksi mahasiswa dan para aktivis?

Selasa, 20 Desember 2011

MIMAMSAKA, ALIRAN UTAMA FILSAFAT INDIA (Makalah Abdul Hadi WM)



            Dalam tradisi filsafat India terdapat enam sistem atau madzab yang diakui sebagai sistem yang baku atau ortodoks. Disebut demikian karena sumbernya kitab Veda. Keenam sistem itu dapat dikatakan saling melengkapi satu dengan yang lain karena membicarakan bidang persoalan berbeda-beda. Dari enam sistem inilah kemudian berkembang aliran-aliran filsafat yang aneka ragam sepanjang sejarah.



           Keenam sistem itu disebut Sad Darsana Samgraha atau Enam Madzab Kearifan. Pertama, filsafat Nyaya; kedua, filsafat Vaiseshika; ketiga filsafat Samkhya; keempat filsafat Yoga; kelima filsafat Mimamsaka atau Purva Mimamsa; dan keenam filsafat Vedanta atau Uttara Mimamsa. Filsafat Nyaya menumpukan pembicarakan pada logika atau argumentasi logis. Filsafat Vaishesika pada fisika. Filsafat Samkhya disebut teori evoolusi. Filsafat Yoga membicarakan masalah bertalian dengan disiplin diri. Mimamsaka ada penafsiran hermeneutk terhadap kitab Veda bagian permulaan. Vedanta membicarakan masalah ketuhanan dan metafisika dan didasarkan atas bagian terakhir dari kitab Veda.

           Jika filsafat Nyaya dipasangkan dengan Vaishesika, Samkhya dengan filsafat Yoga, Mimamsaka dipasangkan dengan Vedanta. Mimamsaka disebut juga dengan Purva Mimamsa. Kata mimamsa artinya tafsir, disebut Purva Mimamsa karena merupakan tafsir terhadap kitab Veda yang lama/awal (purva).Sekalipun tidak seperti Vedanta yang terus berkembang hingga abad ke-20 M, filsafat Mimamsaka memilki ciri yang menarik sebagai sebuah sistem filsafat.

Pendiri sistem filsafat ini ialah Rsi Jamini (abad ke-2 SM), Kitabnya yang terkenal ialah Mimamsa Sutra.Melalui bukunya itu dia merumuskan kembali ajaran filosof sebelumnya yang masyhur yaitu Maharesi Vyasa yang hidup pada abad ke-3 SM. Adapun filosof kemudian yang mengembangkan sistem filsafat ini hngga mencapai bentuknya yang muktamad atau definitif ialah Upavarsa (w. 350 M), Sabarasvamin (w. 400 M), Prabhakara (w. 650 M) dam Kumarila Bhatta (w. 700 M). Yang terakhir inilah, yaitu Kumarila Bhatta, yang membuat kokoh sistem ini. Ajaran filsafatnya dituangkan dalam buku-bukunya seperti Sloka Vartika, Tantra Vartika dan Tuptika. Di kemudian hari sistemini dikembangkan olehMandana Misra, seorang murid Kumarila Bhatta yang sangat terkemuka . Karya Mandana Misra ialahVidhi Vivka dan Bhavana Viveka. Pada masa yang agak akhir sistem ini dikembangkan olehParthasarathi (w. 1350 M) dan Kandhadeva (w. 1650 M).

            Sistem atau darsana ini secara umum menganggap bahwa kitab suci Veda merupakan sumber kebenaran yang tidak dapat diragukan keabsahannya. Masalahnya bagaimana mengkaji dan menafsirkan gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya. Untuk keperluan itu harus dicari hubungan antara kata-kata yang diungkapkan dalam kitab Veda dengan pikiran tersembunyi yang berada di belakang kata-kata tersebut. Dalam upayanya itu maka diteliti hubungan psikologi dan filologi. Di bawah para filsosof Mimamsa maka ilmu bahasa, khususnya semantik, berkembang pesat.

            Filsafat dikembangkan berdasarkan penelitian terhadap bagian permulaan kitab suci Veda, yaitu doktrin tentang upacara keagamaan yang berhubungan dengan mantra dan penafsirannya, yaitu Brahmakanda. Disebut Ciri sistem pemikirannya terletak pada ulasannya yang kritis terhadap kitab Brahmana atau Brahmakanda, yang merupakan tafsir atas kitab Veda, khususnya berkenaan masalah upacara keagamaan dan kurban.

Dasar Ajaran

            Kitab Veda dipandang sebagai Tuhan sendiri yang mengejawantah dalam kitab. Karena itu dalam pemikiran pendiri awal dari sistem ini masalah Tuhan tidak mendapat perhatian. Dalam sistem persoalan Tuhan baru dibicarakan kemudian. Sebagai pengejawantahan Isvara atau Tuhan, kitab suci Veda merupakan satu-atunya sumber pengetahuan tentang dharma. Sutra pertama karangan Jaimini dimulai dengan judul: Athato Dharmajijnasa, artinya ’hasrat mengenal dharma atau kewajiban agama’. Hasrat tersebut dan maknanya terkandung dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan kurban itu telah dikemukakan secara tersirat dalam kitab Veda. Pahala yang diperoleh tersembunyi dalam dharma itu sendiri. Masalahnya ialah bagaimana mengetahui sifat-sifat dari dharma itu sendiri.

           Jika dharma dilaksanakan berdasarkan perintah kitab Veda maka kebahagiaanlah yang akan diperoleh. Pertama, Veda adalah sruti (kitab yang diwahyukan) dan sebagai sruti tidak diragukan otoritas dan kebenarannya. Jika ada kewajiban yang diperintahkan Sruti, maka kewajiban yang diperintahkan dalam kitab Smriti dapat diabaikan. Seorang Hindu harus menjalani hidup sesuai syariah kitab Veda.

           Darsana ini menganggap segala pekerjaan semestinya dilakukan sebagai perwujudan ibadah, yaitu pengabdian kepada Isvara sebagai Keberadaan Tertinggi. Jaimini tidak percaya pada moksa. Dengan taat menjalankan ibadah, menurutnya, manusia akan masuk surga, bukan mencapai moksa.

           Pekerjaan melaksanakan kurban  atau upacara kurban yang dilakukan secara mekanis tanpa rasa yang dalam, tanpa sraddha (keyakinan) dan bhakti (kepatuhan) tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Yang dikehendaki dalam upacara kurban sebenarnya ialah pengurbanan kepentingan diri, rasa keakuan (asmita) dan raga dvesa (rasa senang dan benci), bukan kurban itu sendiri. Kurban itu sendiri tidak ada artinya bagi Tuhan.

           Melaksanakan kurban adalah melaksanakan apurva, yaitu mata rantai penghubung kerja dengan hasil yang diperoleh dari kerja (phala). Apurva ialah adrsta (kecerdasan) yang merupakan kekuatan tak nampak. Ia memiliki sifat positif yang diciptakan oleh kegiatannya sendiri yang dilandasi kecerdasan rohani. Tetapi para filosof Mimamsaka yang kemudian memandang bahwa adrsta sebagai penjelmaan apurva tidak memiliki kesadaran dan kecerdasan, karena itu mana mungkin memberikan pahala. Apurva tidak dapat berbuat tanpa digerakkan oleh Brahman, Yang Maha Tinggi. Untuk keperluan ini maka masalah Tuhan dimasukkan sebagai bagian utama ke dalam Mimamsaka. Karena itu kemudian dinyatakan bahwa upacara kurban dilakukan untuk menghormati Brahman, Sang Keberadaan Tertinggi, darimana pahala dan surga diperoleh.

          Dalam pemikiran filosof Mimamsaka Atman atau Diri tidak sama dengan badan, indera-indera kecerdasan. Ia adalah pelaku aktif kehidupan, yang mengalami kehidupan itu sendiri. Badan adalah tempat sang Diri mengalami apa yang dilakukannya. Indera-indera yang terdapat dalam tubuh adalah peralatan Diri untuk menikmati atau mengalami hasil atau akibat perbuatan. Tetapi Atman hanya bisa merasakan pengalamannya apabila menyatu dengan pikiran (manas). Badan berperan sebagai pelayan Atman, bukan sebaliknya. Atman disamakan dengan apurva, sebab tak terikat waktu dan kekal adanya.  Jaimini tidak percaya pada moksa. Ia hanya percaya pada adanya surga.

           Surga (svarga) dapat dicapai melalui karma, yaitu pelaksanaan upacara kurban dan menjadikan seluruh perbuatan kita sebagai ibadah dan upacara kurban. Prabhakara berpandangan bahwa kelepasan dan svarga tidak dapat dicapai hanya melalui karma. Untuk mencapai kelepasan diperlukan pengetahuan (jnana) tentang Diri. Pengetahuan yang dimaksud di sini pengetahuan yang mendalam tentang Diri dan timbunan karma (perbuatan) yang menghalangi pengetahuan seseorang tentang hakikat dirinya. Bilamana seseorang memiliki jnana semacam itu maka ia dapat membebaskan dirinya dari kelahiran kembali.

           Kumarila Bhatta, tokoh yang lebih kemudian dari sistem ini, memiliki pandangan yang mirip dengan pandangan Monisme Vedanta (Advaita Vedanta). Advaita Vedanta memandang bahwa kitab Veda disusun oleh Brahman dan merupakan Brahman dalam wujud Svara (suara). Kelepasan (moksa) merupakan keadaan positif dari upaya realisasi diri. Pengetahuan (jnana) tidak cukup untuk mencapai kelepasan, ia harus dilengkapi dengan karma yang baik, serta pelaksanaan dharma (kewajiban agama). Di antara karma yang harus dilakukan ialah nitya karma (perbuatan yang diwajibkan) dannisiddha karma (perbuatan yang dilarang).

           Jaimini menganggap bahwa kepatuhan menghindar dari perbuatan yang dilarang oleh agama merupakan sadhana atau cara mencapai svarga, sebab nisiddha karma membelenggu seseorang dalam dosa yang menyebabkan samsara. Jaimini tidak percaya pada penciptaan dunia dan hanya meyakini derajat kebahagian di surga dan sad-acara (perilaku yang benar). Sad acara yang dimaksud ialah:Satyam Vada (berbicara benar) dan Dharmam Cara (melaksanakan kewajiban agama).

Teori Pengetahuan

            Teori pengetahuan Mimamsaka cenderung realis. Ini tampak dalam pemikiran dua tokohnya yang terkemuka, Prabhakara dan Kumarila Battha. Menurut mereka tidak ada pengetahuan yang tak memiliki hubungan dengan obyek di luar dan di sebalik pengetahuan. Semua pengetahuan pada dasarnya memiliki kebenaran sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, namun demikian verifikasi diperlukan sebab tidak jarang validitas suatu pengetahuan menimbulkan keraguan. Jenis pengetahuan yang tidak memerlukan verifikasi ialah ingatan, sebagaimana juga mimpi yang dialami seseorang pada waktu tidur.

           Menurut Kumarila ingatan yang tidak valid merupakan kondisi yang diperlukan bagi validitas pengetahuan. Suatu kebenaran pengetahuan tidak selamanya harus tidak bertentangan dengan “pengetahuan yang muncul sesudahnya” (abadhíta), namun bisa juga tertuju pada sesuatu “ yang sebelumnya tidak diketahui” (anadhigata). Sedangkan Prbhakara berpendapat bahwa semua ‘pengalaman’ (anubhuti) – apakah mengenai obyek yang sudah diketahui atau belum – memiliki validitas dengan sendirinya. Bahkan apa yang disebut dengan kesalahan dalam pengetahuan, sering memiliki syarat bagi validitas. Tetapi Prabhakara membedakan antara ingatan dan anubhuti. Ingatan bukanlah pengalaman dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sesuatu yang tergantung pada sapeksa, yaitusesuatu yang mendahului. Pengalaman tidak tergantung pada sesuatu yang mendahului. Jika semua pengalaman dalam kodratnya benar, mengapa kesalahan bisa terjadi? Prabhakara dan Kumarila mengajukan dua konsep sebagai penjelasan, yaitu Akhyati dan Viparita khyati.

             Pertama. Kata akhyati dibentuk dari kata-kata ’a’ (tidak) dan ’khyati’ (pengetahuan), secara harfiah berarti ’bukan pengetahuan’. Prabhakara menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa kesalahan bukan satuan dari pengetahuan, melainkan gabungan dari dua jnana (pengenalan) yang tak sepadan. Apabila kita melihat kerang lantas menyangka benda dari perak, secara aktual ini disebabkan karena kita melihat kerang yang menyerupai perak. Gambaran demikian terjadi karena sebelumnya kita melihat perak yang berbentuk kerang. Jadi dipengaruhi oleh sebuah kondisi psikologis, yaitu ingatan atau kesan mendalam atas pengalaman terdahulu. Ketika kita melihat kerang yang bukan perak, namun memiliki warna seperti perak, maka kita mengatakannya sebagai perak. Kesalahan yang terjadi ialah karena kita memiliki dua jnana yang berpadu tanpa bisa dibedakan, yaitu pencerapan indera yang segera ditimpali oleh ingatan. Kesalahan yang timbul bukanlah kesalahan logis, sebab secara logis bisa saja benar. Kesalahan terletak pada kegagalan memisahkan dua obyek yang sekaligus muncul dalam ingatan dan pengalaman sesaat. Kegagalan semacam itu tidak ada kaitannya dengan kesalahan logika atau pemikiran, sebab bilamana hal itu dianggap sebagai kesalahan maka mimpi yang kita alami dalam tidur lebih merupakan kesalahan lagi. Padahal yang sebenarnya terjadi pada waktu kita bermimpi hanya ’ketidakhadiran pengetahuan’.  Untuk mendapat pengetahuan yang benar, karena itu diperlukan kondisi psikologis yang baik, bukan semata-mata penguasaan logika. Pemikiran standard ganda pemerintah Amerika tentang HAM dan terorisme merupakan kesalahan disebabkan latar belakang dan kondisi psikologis, bukan disebabkan tidak adanya penguasaan logika tentang yang benar dan tidak benar.

           Kedua, tentang viparila-khyati. Kumarila juga mengemukakan bahwa pengetahuan selalu menunjuk pada sesuatu obyek di seberang dirinya. Dalam hal kerang dan perak, terdapat sesuatu obyek yang secara langsung bisa diamati (yaitu kerang) dan sesuatu yang ada di luar pengamatan, yaitu perak. Disebabkan tersugesti oleh pengalaman sebelumnya, maka kita menyebut sebuah kerang sebagai perak. Bedanya dengan akhyati ialah, dalam akhyati kegagalan terjadi disebabkan hilangnya kesadaran atas fakta yang ada dan adanya faktor bahwa dua hal yang berbeda dicampuradukkan semata-mata berdasarkan penampakan sekilas. Viparila khyati merupakan samsarga-graha, yaitu sinthesa yang salah tentang keduanya, yaitu kerang dan perak.

           Mimamsaka dikatakan realis sebab meyakini keberadaan kekal dravya (substansi) beserta sifat-sifatnya, tidak semata-mata melihat sesuatu berdasarkan penampakannya pada indera. Sekalipundravya, yaitu intipati segala sesuatu itu kekal, begitu pula tatanan dan tertib yang berlaku padanya, namun bentuk dan sifatnya bisa berubah. Perubahan itu terjadi dalam rangka hukum dan tatanan yang tetap. Sistem falsafah ini juga digolongkan sebagai pluralis karena meyakini bahwa keanekaragaman merupakan akar dari kejadian alam semesta dan isinya.

          Sumber Pengetahuan: Prabhakara menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang benar ada 5: (1) Pratyaksa Pramana, yaitu pengetehuan yang diperoleh melalui pengamatan atau persepsi indera. Pengetahuan jenis ini disebut pengetahuam empiris; (2) Anumana Pramana, pengetahuan ini diperoleh melalui penyimpuan logis mengggunakan metode rasional; (3) Upamana Pramana, pengetahuan yang diperoleh dengan melakukan perbandingan; (4) Sabda Pramana, pengetahuan yang dperoleh dengan penafssiran terhadap ajaran kitab suci (5) Arthapatti Pramana, penyimpulan berdasarkan keadaan yang diamati. Misalnya jika kita menyaksikan orang yang tidak pernah makan pada siang hari, tetapi badannya tidak kurus malahan tambah gemuk, maka kita bisa mengambil simpulan bahwa orang tersebut pasti makan pada sore atau malam hari.

            Kumarila Bhatta menambahkan satu sumber pengetahuan lagi, yaitu An-upalabdhi atauabhava-pratyaksa, yaitu pengamatan ketidakadaan obyek dengan cara membuktikannya secara langsung.Misalnya jika kita mengatakan pada kawan kita, “Cobalah lihat apa ada seekor kancil di kandang belakang rumah untuk membuktikan bahwa memang tidak ada kancil seperti didesas-desuskan orang. Karena tidak tampak adanya kancil di kandang belakang rumah, kecuali kelinci, maka kita baru bisa menarik kesimpulan bahwa memang tidak ada kancil.”

           Empat metode atau kaedah yang dikemukakan Mimamsaka hampir sama dengan yang dikemukakan dalam sistem Nyaya. Bedanya terletak pada persoalan Upamana Pramana. Filosof Mimamsaka menyatakan bahwa perbandingan yang digunakan tidak harus sama dengan contoh yang diketahui.Misalnya membandingkan kera dengan siamang atau lutung, banteng dengan bison.

Jumat, 21 Oktober 2011

Moderator (Cerita yang sempet kesimpen di draft Blog lama banget)

5 April 2011.
Hari ini cukup berbeda dengan hari biasanya, Karena pertama kali nya gw jadi moderator di kampus.

Perasaan gw awalnya biasa aja. Walau gw aktivis seminar dan diskusi sejati, Tapi selama ini gw vokal buat jadi penanya alias tukang nanya. Bukan pembicara atau moderator. Pengalaman ini kembali mengevaluasi pergerakan keberdiskusian gw slama ini. 

Jadi,Setelah gw ditunjuk jadi moderator.. Gw berpikir "Ah...moderator doang, gampang itu mah". Halim temen sekelas gw yang jadi koordinator acara dengan muka nggak yakin nanya "Beneran lho elu bisa jadi moderator, Kalo nggak bisa bilang dari sekarang".

Gw kesinggung. Kalo gw lagi kesinggung, gw bakalan songong. Gw bilang ke Halim sambil nahan kesongongan gw, "Bisa lah... moderator bedah buku kan??? bisa donk..."

Halim mukanya masih nggak yakin. Gw pelototin dia, gw tantangin dia pake bahasa kebatinan. Halim akhirnya bener-bener nyerahin tugas iu ke gw.

3 Hari menjelang Acara, Gw baru baca buku Indonesianya Cak Nur. Baca buku itu aja perjuangan berat karena gw mesti cari mood baca. Gw akhirnya ke taman Surapati, lesehan sendiri di rumput, Kayak orang waras baca buku ditengah taman.

Gw start jam 2 Siang dan gw janji sama dri sendiri nggak akan pulang sebelum bukunya selesai gw baca. Lumayan juga buku lumayan berat. Gw sempet makan Me Ayam, 2 Gelas Nurisari, dan Tahu gejrot. Ternyata Gw bokek. :(. Seelah jajan-jajan baru sadar duit inggal 20.000. Aduuuh... Kalo tiap minggu gw baca buku di taman gini bakalan berat di ongkos dah. Gw menahan diri dari perasaan memelas, kemungkinan nggak bakal makan malam nih.


Jam 5 Sore, Air mancur Taman Surapati nyala. Waktu itu ada angin kenceng. Sialnya air mancur ngarah ke gw. Gw kemuncratan deh. Gw nengok ke arah air mancur, Ada cowok lagi baca buku juga. Ngetawain Gw. Fine!

Babibubabibu....
Cowok iu kenalan. Namanya Wandi. Masih Muda, kerja di Bank. Dia suka baca buku juga di taman. Gw dengerin dia ngomong sambil baca buku. Udah biasa ah Cowok pengen ngobrol sama gw. Gw kan cakep *Alah buseeet... Gw selalu sempet narsis sama penonton*.

Gw mau pamit sama dia. Gw petimbangin, kalo Dinner gw 10000 masih bisa kayaknya. Gw bilang ke wandi kalo gw mau pulang dan makan. Dia nawarin jasa antar. Gw tanya, dia naek apa, Dia bilang naik bis. Gw bru ngeh dia ternyata mau nganterin ke gang bis 20.

Wandi Bilang, Dia laper. Dalam hati "Emang gw mak lu??"
lalalllala...ternyata dia ngajakin makan. Dia pesen nas goreng 2. Jelas lah  dia yang bayar. Gw hemat. Pengen buru2 pulang. Dan gw nggak follow up dia. SMS n telp nya g gw gubris. Males kan cuma ketemu di taman trus ngapain gitu...


Oke, balik ke moderator.
Akhirnya gue jadi juga deh moderatorin kak aan dan pak Bima Arya. Kak aan pesen ke gue kalau gue harus "Lincah" waktu ngasih pertanyaan ke pak Bima itu n ke kak aan. Eh, pas gue tanya tentang perspektif dia dan cak Nur, dia malah bilang, nanti diskusinya malah g jadi. Yah... Gue lempar aja deh ke yang lainnya.

Overall, jadi Moderator nggak begitu susah. Tapi emang beda waktu kita pegang Microfon sama nggak pegang microfon. Rasanya lebih bergetar apalagi saat semua orang mendengar secara detail apa yang kita bicarain.

Akhirnya Gue berhasil bawa buku banyak banget hasil kenang2an terbitan sponsor. FYI, Buku itu masih banyak yang di segel dan g gue baca sama sekali karna emang bukan buku yang mengundang selera. Buat menuhin lemari buku aja. Nanti kalau ada yang mau minta buku itu ya minta ajalah. Gue nggak butuh ini kok... hehhe...

Kamis, 16 Juni 2011

Sekilas Tentang Logika

Pengantar

-       Pengetahuan adalah hasil dari aktifitas mengetahui sehingga tidak ada keraguan terhadapnya (menangkap tanpa ragu kenyataan sesuatu)
-       Ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang tersusun secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya. Ilmu menuntut lebih lanjut dari sekedar pengetahuan.
Contoh :
Pengetahuanà gabus pelampung kail selalu terapung di air
Ilmuà Berat Jenis pelampung lebih kecil dari berat jenis air, dan ini mengakibatkan pelampung itu selalu terapung.
-       Logika adalah ilmu dan kecakapan menalar untuk berpikir dengan tepat.
-       Dengan demikian, bidang logika adalah kegiatan pikiran. Logika menilai pemikiran secara serius dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran.
-       Berpikir adalah kegiatan akal untuk “mengolah” pengetahuan yang telah kita terima melalui pancaindera dan ditunjukan untuk mencapai suatu kebenaran.
-       Berpikir merupakan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah.
-       Sebagai ilmu, logika  merumuskan aturan-aturan untuk pemikiran yang tepat. Logika mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir
-       Mungkinkah kita mempelajari barang gaib yang disebut pikiran ini? Kita memahami pikiran seseorang melalui ucapan, tulisan atau isyarat.
-       Sebagian orang mengira bahwa logika tidak jauh berbeda dengan psikologi. Padahal diantara keduanya terdapat perbedaan yang jauh berbeda. Perbedaan antara logika dengan pikologi tersebut  adalah Logika menyangkut urusan benar-salah, psikologi tidak.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-       Dalam Logika dikenal adanya Ukuran kebenaran, Yaitu :
1.       Benar pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan
§  Contoh Proposisi yang salah: batu lebih ringan dari kapuk, alqur’an diturunkan kepada Nabi Adam, SBY adalah presiden Indonesia pertama, Kalkulator bisa disebut sebagai laptop.
§  Contoh Proposisi yang benar: Bumi bergerak mengelilingi matahari, Napoleon adalah panglima perang yang ulung, besi lebih berat daripada air tawar, Mata uang Indonesia adalah rupiah
2.       Ukuran kebenaran kedua adalah adanya persesuaian atau tidak adanya pertentangan dalam dirinya (Kontradiksi).
  • Contoh Kontradiksi :
Ia adalah seorang jujur yang suka menipu
ia adalah seorang bisu yang pandai berdebat
SBY adalah pemimpin tegas yang sering ragu-ragu
  • Contoh salah cara berpikir
Semua filosof itu cerdas à aristoteles adalah filosof à maka ia bodoh
(salah kesimpulannya)
Syarat air wudhu adalah suci dan mensucikan à Air jeruk suci dan boleh diminum àMaka kita boleh berwudhu dengan air kelapa (Kesalahan berfikir karena keliiru memahami)
Internet termasuk penyebar informasi à Video porno banyak tersebar lewat internet à Maka segala sesuatu tentang internet adalah pornografi (Kesimpulan keliru yang di generalisir)

Objek Material dan Objek Formal Logika
-          Berpikir adalah obyek material logika
Objek Material adalah menyangkut tentang “Apa yang di maksudkan….”
Contoh : seorang perempuan, Sebuah patung
-          Berpikir lurus/tepat merupakan obyek formal logika
Obyek Formal logika adalah menyangkut tentang “Sudut mana yang ditunjuk...”
Contoh :  Mata, kaki, tangan
-          Manusia adalah objek material logika
-          objek material suatu ilmu ialah suatu lapangan, bidang, atau materi yang benar-benar konkrit dan dapat diamati dengan panca indra
-          Berpikir lurus/ tepat merupakan objek formal logika.
Hubungan antara Dua Hal
-          Kalimat berita atau putusan
Contoh :  pohon2 tumbang, gunung api tidak meletus
-          Hubungan sebab akibat (Kausalitas)
Contoh :  pohon2 tumbang karena tanah longsor
-          Hubungan maksud tujuan (final)
Contoh : pohon2 ditebang untuk membuat jalan
-          Hubungan bersyarat (kondisional)
Contoh : kalau membangun jln disana, maka pohon2 perlu ditebang

Menguji Suatu Penalaran atau Suatu Jalan Pikiran
-          Tujuan pemikiran manusia adalah mencapai pengetahuan yang benar atau sedapat mungkin pasti
-          Ukuran untuk menentukan apakah suatu pemikiran atau ucapan itu benar atau tidak adalah apakah cocok atau tidak dengan realitas atau fakta.
Tiga Syarat Pokok agar Suatu pemikiran menelorkan Kesimpulan yang Benar
-          Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar
Contoh
                Semua orang birokrat itu koruptor
                Para koruptor harus dihukum
                Jadi, semua birokrat harus dihukum

                Semua yang berjenggot teroris
                Semua teroris harus dihukum
                Semua yang berjenggot harus dihukum
(jalan pikiran logis, tapi kesimpulan salah, karena titik pangkal salah)
-          Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat
Contoh :             
Tetangga saya mempunyai mobil, oleh karena itu saya pun harus mempunyai mobil
Teman saya berprofesi artis, karena itu saya pun harus menjadi artis
-          Jalan pikiran harus logis atau lurus (‘sah’)
Contoh:
Semua Orang syiah itu manusia
                Semua pencopet itu manusia
                Jadi Orang Syiah itu pencopet
:. (Kalimat pertama benar, Kalimat kedua benar, Namun Kesimpulan salah karena jalan pemikiran keliru)
                Orang syiah itu orang Islam
                Orang sunni itu orang Islam
                Orang syiah itu orang sunni
:. (kalimat pertama dan kedua benar, tapi kesimpulan salah karena jalan pikiran keliru)

Berdasarkan titik pangkal dalam proses pemikiran, dapat dibedakan dua pola dasar:
Induksi
ð  Proses pemikiran dari pengetahuan yang lebih konkret dan khusus untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih umum.
Contoh :
Besi dipanaskan memuai, seng dipanaskan memuai, emas dipanaskan memuai, timah dipanaskan memuai à semua logam jika dipanaskan memuai
Kayu berpotensi rusak, batu berpotensi rusak, besi berpotensi rusak à alam berpotensi rusak
Keuntungan Berfikir Induksi
1.        Dapat berpikir secara ekonomis
2.       Memungkinkan proses penalaran selanjutnya.
Contoh : Semua benda memuai jika dipanaskan
Deduksi
ð  Proses pemikiran dari pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus
Contoh :
Semua logam bila dipanaskan memuai à Tembaga adalah logam, jadi, tembaga bila dipanaskan memuai.
-          Hampir setiap ilmu berpangkal dari kenyataan konkrit dan dengan jalan induksi , kita mencoba merumuskan hukum-hukum umum, berdasarkan pengetahuan yang bersifat umum itu kemudian menerapkan lagi pada hal-hal yang konkret dalam proses pemikiran yang disebut deduksi.
Contoh:
Mendengar beberapa anjing menggonggong à anjing itu menggonggong à ada suara gonggongan maka harus ada anjing

Sekilas Tentang Logika
-       Pengetahuan adalah hasil dari aktifitas mengetahui sehingga tidak ada keraguan terhadapnya (menangkap tanpa ragu kenyataan sesuatu)
-       Ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang tersusun secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya. Ilmu menuntut lebih lanjut dari sekedar pengetahuan.
Contoh :
Pengetahuanà gabus pelampung kail selalu terapung di air
Ilmuà Berat Jenis pelampung lebih kecil dari berat jenis air, dan ini mengakibatkan pelampung itu selalu terapung.
-       Logika adalah ilmu dan kecakapan menalar untuk berpikir dengan tepat.
-       Dengan demikian, bidang logika adalah kegiatan pikiran. Logika menilai pemikiran secara serius dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran.
-       Berpikir adalah kegiatan akal untuk “mengolah” pengetahuan yang telah kita terima melalui pancaindera dan ditunjukan untuk mencapai suatu kebenaran.
-       Berpikir merupakan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah.
-       Sebagai ilmu, logika  merumuskan aturan-aturan untuk pemikiran yang tepat. Logika mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir
-       Mungkinkah kita mempelajari barang gaib yang disebut pikiran ini? Kita memahami pikiran seseorang melalui ucapan, tulisan atau isyarat.
-       Sebagian orang mengira bahwa logika tidak jauh berbeda dengan psikologi. Padahal diantara keduanya terdapat perbedaan yang jauh berbeda. Perbedaan antara logika dengan pikologi tersebut  adalah Logika menyangkut urusan benar-salah, psikologi tidak.
-       Dalam Logika dikenal adanya Ukuran kebenaran, Yaitu :
1.       Benar pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan
§  Contoh Proposisi yang salah: batu lebih ringan dari kapuk, alqur’an diturunkan kepada Nabi Adam, SBY adalah presiden Indonesia pertama, Kalkulator bisa disebut sebagai laptop.
§  Contoh Proposisi yang benar: Bumi bergerak mengelilingi matahari, Napoleon adalah panglima perang yang ulung, besi lebih berat daripada air tawar, Mata uang Indonesia adalah rupiah
2.       Ukuran kebenaran kedua adalah adanya persesuaian atau tidak adanya pertentangan dalam dirinya (Kontradiksi).
  • Contoh Kontradiksi :
Ia adalah seorang jujur yang suka menipu
ia adalah seorang bisu yang pandai berdebat
SBY adalah pemimpin tegas yang sering ragu-ragu
  • Contoh salah cara berpikir
Semua filosof itu cerdas à aristoteles adalah filosof à maka ia bodoh
(salah kesimpulannya)
Syarat air wudhu adalah suci dan mensucikan à Air jeruk suci dan boleh diminum àMaka kita boleh berwudhu dengan air kelapa (Kesalahan berfikir karena keliiru memahami)
Internet termasuk penyebar informasi à Video porno banyak tersebar lewat internet à Maka segala sesuatu tentang internet adalah pornografi (Kesimpulan keliru yang di generalisir)

Objek Material dan Objek Formal Logika
-          Berpikir adalah obyek material logika
Objek Material adalah menyangkut tentang “Apa yang di maksudkan….”
Contoh : seorang perempuan, Sebuah patung
-          Berpikir lurus/tepat merupakan obyek formal logika
Obyek Formal logika adalah menyangkut tentang “Sudut mana yang ditunjuk...”
Contoh :  Mata, kaki, tangan
-          Manusia adalah objek material logika
-          objek material suatu ilmu ialah suatu lapangan, bidang, atau materi yang benar-benar konkrit dan dapat diamati dengan panca indra
-          Berpikir lurus/ tepat merupakan objek formal logika.
Hubungan antara Dua Hal
-          Kalimat berita atau putusan
Contoh :  pohon2 tumbang, gunung api tidak meletus
-          Hubungan sebab akibat (Kausalitas)
Contoh :  pohon2 tumbang karena tanah longsor
-          Hubungan maksud tujuan (final)
Contoh : pohon2 ditebang untuk membuat jalan
-          Hubungan bersyarat (kondisional)
Contoh : kalau membangun jln disana, maka pohon2 perlu ditebang

Menguji Suatu Penalaran atau Suatu Jalan Pikiran
-          Tujuan pemikiran manusia adalah mencapai pengetahuan yang benar atau sedapat mungkin pasti
-          Ukuran untuk menentukan apakah suatu pemikiran atau ucapan itu benar atau tidak adalah apakah cocok atau tidak dengan realitas atau fakta.
Tiga Syarat Pokok agar Suatu pemikiran menelorkan Kesimpulan yang Benar
-          Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar
Contoh
                Semua orang birokrat itu koruptor
                Para koruptor harus dihukum
                Jadi, semua birokrat harus dihukum

                Semua yang berjenggot teroris
                Semua teroris harus dihukum
                Semua yang berjenggot harus dihukum
(jalan pikiran logis, tapi kesimpulan salah, karena titik pangkal salah)
-          Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat
Contoh :             
Tetangga saya mempunyai mobil, oleh karena itu saya pun harus mempunyai mobil
Teman saya berprofesi artis, karena itu saya pun harus menjadi artis
-          Jalan pikiran harus logis atau lurus (‘sah’)
Contoh:
Semua Orang syiah itu manusia
                Semua pencopet itu manusia
                Jadi Orang Syiah itu pencopet
:. (Kalimat pertama benar, Kalimat kedua benar, Namun Kesimpulan salah karena jalan pemikiran keliru)
                Orang syiah itu orang Islam
                Orang sunni itu orang Islam
                Orang syiah itu orang sunni
:. (kalimat pertama dan kedua benar, tapi kesimpulan salah karena jalan pikiran keliru)

Berdasarkan titik pangkal dalam proses pemikiran, dapat dibedakan dua pola dasar:
Induksi
ð  Proses pemikiran dari pengetahuan yang lebih konkret dan khusus untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih umum.
Contoh :
Besi dipanaskan memuai, seng dipanaskan memuai, emas dipanaskan memuai, timah dipanaskan memuai à semua logam jika dipanaskan memuai
Kayu berpotensi rusak, batu berpotensi rusak, besi berpotensi rusak à alam berpotensi rusak
Keuntungan Berfikir Induksi
1.        Dapat berpikir secara ekonomis
2.       Memungkinkan proses penalaran selanjutnya.
Contoh : Semua benda memuai jika dipanaskan
Deduksi
ð  Proses pemikiran dari pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus
Contoh :
Semua logam bila dipanaskan memuai à Tembaga adalah logam, jadi, tembaga bila dipanaskan memuai.
-          Hampir setiap ilmu berpangkal dari kenyataan konkrit dan dengan jalan induksi , kita mencoba merumuskan hukum-hukum umum, berdasarkan pengetahuan yang bersifat umum itu kemudian menerapkan lagi pada hal-hal yang konkret dalam proses pemikiran yang disebut deduksi.
Contoh:
Mendengar beberapa anjing menggonggong à anjing itu menggonggong à ada suara gonggongan maka harus ada anjing

Pemikiran Murthada Muthahhari diantara Kaum Asyariah dan Mu’tazilah

Syahid Murthada Muttahari merupakan murid terdekat dari Allamah Thabathabai, seorang Mufassir syiah yang menyusun kitab tafsir Al Mizan dan juga murid terdekat Imam Khomeini. Ia Lahir pada tanggal 2 Febuari 1920 di Fariman, sebuah desa yang berjarak 60 kilometer dari kota suci Masyhad. Ulama terkenal dari Fariman, Muhammad Husain Muthahhari, adalah ayah sekaligus gurunya pertamanya. [1]

Murthada Muthahhari  sendiri awalnya meminati bidang Filsafat dan Irfan. Ia mengikuti kuliah-kuliah filsafat dan irfan semenja kedatagannya di Qom pada tahun 1944 sampai keberangkatannya ke Teheran pada tahun 1952.[2] Namun setelah Ia menulis karyanya yaitu Al-‘Adl Al Illahiy berbahasa Persia yang diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Inggris, Arab dan Indonesia, Sebagian cendekiawan menggolongkannya sebagai ahli Kalam yang erkonsentrasi pada keadilan Ilahi atau seputar takdir. Hal yang banyak dipertentangkan oleh kaum jabbariah dan mu’tazilah.

Saat mendalami filsafat, Ia meminati bidang filsafat materialis, khususnya Marxisme, tak lama setelah mempelajari secara resmi ilmu-ilmu rasional. Menurut hematnya, ia mulai, pada sekitar 1946, mempelajari terjemahan-terjemahan Persia literatur Marxis yang diterbitkan oleh partai Tudeh, organisasi Marxis besar di Iran dan ketika itu merupakan suatu kekuatan penting di arena politik. Selain itu, ia membaca tulisan-tulisan Taqi Arani, teoritisi utama partai Tudeh, maupun penerbitan-penerbitan Marxis dalam bahasan Arab yang berasal dari Mesir. Mulanya ia agak sulit memahami teks-teks ini, sebab ia belum mengenal terminologi filsafat modern. Dengan terus-menerus berupaya keras termasuk dengan menyusun sinopsis buku Elementary Principles of Philosophy karya George Pulitzer –akhirnya ia menguasai filsafat materialis. Sejumlah besar penolakan terhadap Marxisme telah dieseikan di dunia Islam, baik di Iran maupun di lain tempat, namun hampir semuanya tak lebih berkisar pada ketidaksesuaian Marxisme dengan keyakinan keagamaan serta ketidakkonsistenan dengan kegagalan politis parta-partai politik Marxis[3].
Dalam menjelaskan mengenai keadilan Tuhan dan konsep-konsep takdir, Murthada Muthahhati menggunakan pendekatan filosofis sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya yang berupa filsafat. Murthada Muthahhari menemukan bahwa masih amat sedikit yang membahas persoalan takdir yang merupakan ranah alam ataupun teologi dalam kalam syiah maupun dalam kalam yang lain. Padahal sebuah golongan seringkali dapat dibedakan dengan pemahaman kalamnya berupa takdir yang akan bermuara pada keadilan Ilahi. Bagaimana Tuhan memperlakukan manusia sebagai Makhluk.

Pada abad pertengahan, diskusi tentang kebebasan dan predestinasi dimulai dengan awal mula adalah tentang manusia, lalu berlanjut ke persoalan ketuhanan. Apakah Allah memaksa manusia melakukan hal-hal yang diperbuatnya atau Allah telah membebaskan manusia untuk berbuat sekehendak akalnya.

Maka kelompok besar yang mempersoalkan itu adalah kaum Assyariah dan kaum Mu’tazilah. Kaum Assyariah adalah kaum yang membela predestinasi. Sedangkan Mu’tazilah adalah kaum yang membela kebebasan manusia dalam berkehendak. Hal ini menjadi dilematis ketika argumentasi kedua belah pihak disandarkan pada Al quran. Keduanya mengambil ayat dari Al Quran yang mendukung argumentasi keduanya.

Persoalan makin pelik ketika menguraikan perdebatan antara assyariah dengan mu’tazilah. Assyariah menganggap bahwa Allah penentu mutlak segala sesuatunya. Mulai yang partikular hingga yang universal. Kita semua ada di bawah kendaliNya. Para wali di nusantara dulu mengajarkan paham assyariah ini dengan perumpamaan bahwa manusia ini hanya bagaikan wayang yang dimainkan dalang sehingga kita tidak dapat berbuat apapun untuk tidak patuh. Segalanya merupakan ketentuan Nya yang tidak dapat dirubah dan dilawan. Baik itu hal bbaik maupun hal buruk. Semuanya itu dari Nya. Tidak ada peranan akal di dalamnya.

Sedangkan kaum mu’tazilah disebut sebagai yang menjunjung tinggi keadilan Ilahi. Segala sesuatu dariNya adalah adil. Mereka beranggapan bahwa keadilan bukanlah tolok ukur perbuatan Allah SWT, melainkan perbuatan Allah adalah tolok ukur keadilan. Seperti kata pepatah : “Setiap dari khasru adalah manis”.[4] Akal telah dirasa mampu untuk mempersepsikan realitas kebenaran sehingga bertindak mandiri atas apa yang dilakukan.

Maka perbedaan paling mendasar dari keduanya adalah terletak pada keyakinannya terhadap perbuatan Allah. Bila kaum assyariah meletakkan fondasi keimanannya pada al quran dan hadist menolak otoritas akal, maka kaum mu’tazilah menjunjung tinggi  akal, rasionalitas dan hikmah.
Murthada Muthahhari mencoba untuk melakukakn pendekatan filosofis terkait persoalan kalam yang telah berlangsung berabad tahun yang lalu dan membuat dua kelompok ini berseteru. Pasalnya keduanya sama-sama tidak dapat menjatuhkan dalil pembenaran secara tepat karena sama-sama bersandar pada Al Quran. Muthahhari menawarkan  konsep rasionalitas syiah.

Apabila asyariah dan Jabbariah berasal dari mazhab sunni atau ahlu sunnah wal jamaah, maka Syiah adalah aliran dari cabang furu yang lain. Dalam pandangannya mengenaipandangan ilahi, Syiah lebih cenderung pada kaum mu’tazilah. Dalam soal kebebasan syiah tidak memaknainya dengan konsep tafwidh (pelimpahan wewenang) mutlak pada manusia, sehingga bisa dipandangsebagai penafian atas kebebasan berkehendak Zat Al Haqq dan penuhanan manusia, serta penyekutuannya pada tugas-tugas Allah. Syiah menafsirkan kebebasan itu dalam ungkapan yang terkenal dari imam-imam mereka yang berbunyi: “bukan jabr, bukan pula tafwidh. Tapi pilihan tengah diantara dua ekstrem”[5]

Syiah meyakini bahwa ia menjunjung tinggi kesejatian keadilan, otoritas akal, sosok manusia yang bebas memilih (free will). Hal itu juga berlaku pada kosmologi atau sistem alam yang brsifat bijaksana tanpa harus sedikitpun menodai prinsip tauhid dalam zat atau perbuatan Allah kepada makhlukNya.

Dalam mazhab syiah yang dituturkan Muthahhari, persoalan keadilan Ilahi dibahas lebih dulu dari masalah-masalah lainnya bahkan sebelum persoalan fiqih. Masalah keadilan ilahi juga menjadi topik yang cukup hangat di perpolitikan islam. Karena dalam setiap kesempatan, dari zaman dahulu sampai sekarang, diantara umat sering mempertanyakan tentang keadilan. Baik itu sesama manusia atau keadilan menyangkut hal ketuhanan.

Menurut pandangan kalam Murthada Muthahhari, keadilan menjadi semacam pandangan dunia dalam Al quran. Sedangkan keadilan dalam kenabian dipandang sebagai barometer untuk memahami undang-undang. Dalam hal ini, Al quran mamberi peluang akal untuk menentukan pemikiran terhadap kriteria tersebut. Dengan akal, manusia dapat menemukan di bagian al quran atau al hadist mana yang dapat menjadi sandaran bagi fiqih dan istinbath (penyimpulan hukum).

Dalam karya agungnya, Keadilan Ilahi, Murthada Muthahhari menjelaskan mengenai konsep keadilan itu sendiri. Kata adil digunakan dalam 4 hal :
1.      Keseimbangan
Adil disini berarti keadaan yang seimbang. Apabila kita melihat suatu sistem atau himpunan yang memiliki beragam bagian yang dibuat untuk tejuan tertentu, maka mesti ada sebuah syarat, entah ukuran yang tepat pada bagian dan pola kaitan antar bagian tersebut. Dengan terhimpunnya semua syarat itu, himpunan ini bisa bertahan memberikan pengaruh yang diharapkan darinya dan memenuhi tugas yang telah diletakkan untuknya.[6]
Dalam hal ini kita biasa menerapkannya dalam pemahaman sehari-hari misalnya hak harus seimbang dengan kewajiban. Apabila salah satunya timpang, maka akan terjadi kekacauan.

2.      Persamaan dan non diskriminasi
Pengertian keadilan yang kedua ialah persamaan dan penafian terhadap deskriminasi dalam bentuk apapun. Ketika dikatakan bahwa “Si fulan adlaah orang yang adil”, yang dimaksudkan adalah bahwa fulan itu memandang semua individu secara sama rata, tanpa melakukan pembedaan dan pengutamaan. Dalam hal ini keadilan sama dengan persamaan.[7]
Dalam politik kita biasa menemui bahwa apabila ada relasi natara pihak birokrat dengan rakyat, maka urusan-urusan akan dengan cepat diselesaikan. Maka ini melanggar asas keadilan persamaan karena yang lain juga berhak diberi kemudahan birokrasi. Hal ini seringkali membuat urusan politik kenegaraan timpang dan rasialisme.

3.      Pemberian hak pada yang berhak
Pengertian keadilan yang ketiga ialah pemeliharaan hak-hak individudan pemberian hak pada setiap objek yang layak menerimanya. Dalam artian ini kezaliman adalah pelenyapan dan pelanggaran terhadap hak-hak pihak lain. Pengertian ini yaitu keadilan sosial adalah keadilan yang harus dihormatidi dalam hukum manusia dan setiap individu benar-benar harus berjuang untuk menegakkannya.[8]
Dalam keadilan ini ada 2 hal sandaran yang diperhatikan, yaitu hak prioritas dan karakter khas manusia.

4.      Pelimpahan wujud berdasarkan tingkat dan kelayakan
Setiap maujud mengamil wujud dan kesempurnaan wujudnya sesuai dengan yang layak dan yang mungkin untuknya. Para teosof meyakini bahwa tiap maujud tidak memiliki hak atas Allah. Sedemikian sehingga pemberian hak itu merupakan sejenis pelunasan utang atau pemberian kewajiban.[9]

Dengan adanya prinsip keadilan tersebut, maka manusia akan mengetahui bagaimana adil tersebut. Namun keadilan Ilahi lebih pelik lagi pembahasannya. Saking pentingnya pembahasan mengenai keadilan Ilahi ini, bagi kaum Mu’tazilah dan Syiah, keadilan Ilahi menempati Ushuluddin yang kedua.

Keadilan Ilahi begitu penting karena bisa saja kaum syiah dan sunni berbeda pendapat mengenai hal tersebut, tidak dengan sifat Allah yang lainnya.  Bisa jadi, dalam hal keadilan ini lah yang membedakan antara keyakinan kaum syiah dan kaum sunni. Ia menjadi pembeda yang nyata diantara kedua golongan.

Sifat Allah menurut Murthada Muthahhari yang berdekatan dengan kemusykilan adalah keadilan dan kebijaksanaan. Keadilan adalah bahwa Ia pasti tidak akan mengabaikan kapasitas maujud dalam kehidupan. Dan Ia juga bijaksana dengan pengertian bahwa apa yang telah diberikanNya adalah yang terbaik dari sisiNya.

Kebijaksanaan Ilahi sendiri merupakan konsekuensi sifat Maha Mengetahui dan Maha berkehendak Allah dan menjelaskan prinsip kuasa final Allah.[10]

Allah telah mengatur alam sedemikian rupa sehingga tidak mungkin terjadi sesuatu diluar itu. Mukjizat bukanlah sesuatu yang melanggar sunnatulah karena menurut Murthada Muthahhari, tidak ada pengecualian terhadap hukum Allah. Sehingga tidak dapat disebut mukjizat adalah pelanggaran terhadap sunnatullah. Perubahan yang terjadi pada mukjizat dapat terjedi karena berubahnya syarat-syarat yang tersedia.

Sedangkan hukum bukanlah obyek terpisah yang padanya dikaitkan konsep universal dan rekaan mental. Hukum alam bukanlah perkara artifisial. Ia adalah fakta yang diturunkan dari kenyataan wujud eksternal. Karena manusia tidak mengetahui seluruh hukum alam, maka manuasia seringkali mempertanyakan konsep keadilan ilahi. Apalagi apabila peristiwa dalam hidup itu merugikannya, ia akan terjebak pada mempertanyakan keadilan ilahi. Padahal apabila ia memahami betul hukum, ia tidak akan melakukan kesalahan dengan menyandarkan segala keburukan nasib padaNya.
Kebebasan memilih adalah bagian tidak terpisahkan dari wujud manusia, sehingga mustahil ada manusia yang tidak memiliki ikhtiar untuk memilih perbuatannya. Kalau ada manusia yang meyakini bahwa ia tidak memiliki kebebasan memilih, maka itu bertentangan dengan ilmu azali Allah. Menurut Murthada Muthahhari, pendapat yang menyatakan bahwa sebab kemaksiatan adalah ilmu Allah yang azali, dikalangan orang berakal terblang sebagai puncak kejahilan dan ketololan.[11]

Dalam pembahasan keadilan ilahi, masalah keburukan yang sering dipertanyakan oleh manusia adalah mengambil bentuk lainnya. Misalnya buta, bodoh, lemah, miskin, penyakit merupakan bentuk noneksistensial. Kejahatan atau keburukan ditinjau dari sisi hubungan sisitem ontologisnya adalah tidak lebih dari ketiadaan potensi dan keterbatasan kementakan (possibility). Yaitu setiap maujud dalam sistem penciptaan yang menderita kekurangan adalah karena kekurangan kapasitasnya untuk menerima (karunia Ilahi), bukan karena dihambatnya kebaikan sehingga menjadi penyebab dari munculnya keburukan-keburukan. Alam semesta ini merupakan satuan yang tidak terpisahkan sehingga adanya hukum sebab akibat disini.

Keburukan itu penting bukan hanya karena Ia merupakan bagian dari sistem sempurna dan tatanan ruh alam.  Kemestian terhadap terjadinya hukum alam juga untuk menjelmakan hal-hal inidah. Karena ada yang buruk dan jelek itu menandakan kemestian bahwa ada hal yang indah. Kalau semua orang tampan dan cantik, niscaya tidak ada hal apapun di dunia ini yang tampan dan cantik karena semua sama. Maka terhapuslah hal tersebut. Tidak ada lagi yang dapat disebut cantik karena tidak ada perbandingannya. Orang tampan dan cantik sangat berhutang budi kepada orang jelek karena adnaya penilaian terhadap ketampanan dan kecantikan adalah karena daya tarik yang dihasilkan berkat orang jelek tersebut. Keadilan bukan berarti serupa karena itu akan menghilangkan segala sifat-sifat yang menuju kesempurnaan.

Eksistensi musibah dan kemalangan adalah pemanifestasian dari keseluruhan alam yang indah ini. Seandainya sesuatu yang jelek tersebut tidak mewujud, niscaya tidak ada sesuatupun yang akan dapat disebut indah. Sebab adanya kesadaran tentang makna keindahan tersebut adalah karena eksistensi dari jelek itu sendiri.

Sedangkan dalam menanggapi tentang cobaan, murthada muthahhari mencoba menerangkan bahwa itu merupakan pembangkit sebuah umat. Kesulitan hidup diharapkan dapat membuat seseorang bertekad dan bangkit. Kesulitan adalah pendidikan bagi umat untuk naik lagi pada tingkat yang lebih tinggi. Eliksir kehidupan memiliki dua unsur yaitu cinta dan guncangan. Keduanya memiliki kehangatan menjadi cahaya yang terang benderang.[12]

Oleh sebab itu apabila cobaan dan karunia dapat dipandang sebagai karunia, maka seorang manusia akan mengambil manfaat darinya. Jiwanya akan menyempurna. Sedangkan bila Ia menghindar atau sekedar berkeluh kesah tentangnya, ia akan betul-betul menjadi musibah yang berlipat ganda. Penderitaan adalah dampak dari perbuatan manusia sendiri. Karena perbuatan apapun adalah hasil dari kehendak manusia itu sendiri dan juga segala apa yang diperbuat buakna merupakan pengantar menuju kebaikan dan kesempurnaan.

Yang perlu kita renungi adalah, sifat bijaksana Allah berbeda dengan sifat bijaksana manusia. Kebijaksanaan bagi manusia adalah bersikap rasional dan dengan tujuan-tujuan paling baik. Sedangkan Allah itu bersifat tidak butuh pada siapapun sehingga Ia bersifat sempurna dari perbuatan apapun.

Keadilan Ilahi tidak hanya berlaku kepada mereka yang Muslim. Karena rahmat Nya mendahului murkanya. Bukan berarti orang yang non muslim akan masuk neraka dan amalnya sia-sia hanya karena tidak beragama Islam. Karena Allah lebih mengetahui hati dan niat seseorang sehingga kita tidak dapat menghukumi apakah seseorang tersebut akan masuk surga atau neraka. Keadilan Allah akan tetap berlaku pada kaum non muslim karena Kasih sayang Allah merata pada semua hambaNya. Baik yang islam maupun non islam. Karena tidak ada satupun hal yang sia-sia.


[1] Muhsin Labib, Para Filosof. (Jakarta: Islamic Center Jakarta al-Huda, 2005), hal.278

[2] Ibid, hal 280

[3] Hamid Algar, Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari, dalam Haidar Bagir (Penyunting), Murtadha Muthahhari Sang Mujahid, Sang Mujtahid (Bandung: Yayasan Muthahhari 1988), hal 32-33

[4] [4] Murthada Muthahhari, Keadilan Ilahi. (Jakarta: Mizan, 2009), hal. 17


[5] Ibid, ha 31

[6] Ibid, hal 60

[7] Ibid, hal 62

[8] Ibid, hal 63

[9] Ibid, hal 65

[10] Ibid, hal 73

[11] Ibid, hal 134

[12] Ibid, 173

Jumat, 25 Maret 2011

Biografi Allamah Thabathabai


Karena ngefans berat sama Filosof, Ilmuan, Ulama, tokoh pejuang sejati ini dan sekalian bikin makalahnya tentang Al mizan, Aku publish aja biodatanya. Silahkan dibaca-baca... barangkali mau ikutan ngefans juga sama beliau. Nggak pernah rugi kan meneladani dan mengidolakan Tokoh yang Baik dan pinter banget gini...

Nah...ini pembahasannya . Cekidot! 

Allamah Thabathabai lahir pada tanggal 29 Dzulhijjah 1321 H dengan nama Thabathaba'i At-Tabrizi al-Qadhi di desab Shadegan (Profinsi Tabriz) dalam satu keluarga Sayyid (Keturunan Nabi Muhammad Jalur Ja'far Shadiq). Thabathaba'i lahir dididik dalam lingkungan ulama dan religius. Sehingga sebelum ayahnya wafat, Thabathabai memperoleh pendidikan langsung dari Ayah dan Kerabatnya. Namun setelah Ayahnya wafat, Ia dididik oleh guru Privat yang datang kerumah untuk mengajar bahasa Parsi dan Ushuluddin.

Setelah dirasa memiliki dasar-dasar agama, pada tahun 1344 H Ia melanjutkan Studi tentang Al Quran dan pelajaran agama lain di kota Tabriz. Selama 7 tahun Ia belajar Bahasa Arab dan mengkaji ajaran agama dan teks klasik Islam. Setelah selesai tingkat pelajaran awal pada tahun 1344 H Ia hijrah ke hauzah Najaf untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam bidang ilmu tekstual Ia berguru pada Mirza Muhammad Husain Na'ini di An Najaf Al Asyraf. Berguru juga dengan Syekh Muhammad Husain Isfahani (putra Syaikhul Islam Al Mirza Abdurrahim) hingga mencapai Mujtahid sempurna. Ia telah mencapai tingkat ilmu makrifah. 1Gelar Al Allamah artinya Yang sangat Pandai disematkan padanya oleh para cendekiawan dan orang pada zamannya.

      Keduanya ini bersama Asy Syaikh Dhiyaudin (putra Maula Muhammad) Iraqi sangat dihormati di dunia Syiah. Mereka termasuk di antara ulam-ulama paling menonjol bukan saja di bidang-bidang yurispendensi Syiah dan prinsip-prinsip dasar yurispendensi, namun jugha dalam studi Islam. Pendapat-pendapat yang mereka paparkan dan teori-teori yang mereka kemukakan diikuti oleh para ulama setelah mereka. Mereka mendirikan mazhab berfikirnya sendiri-sendiri. Mereka mendidik ribuan ulama dan ahli hukum Syiah dan semua marja’ taqlid (otoritas tertinggi untuk fiqh, yurispundensi, aturan-aturan syariat yang putusan-puutusannya diikuti oleh umat) dunia syiah hingga dewasa ini merupakan murid-murid mereka. Isfahani merupakan filosof yang tak tertandingi pada zamannya, seorang penulis dan penyair Arab dan Persia yang piawai. Ia adalah genius yang prestasi-prestasinya membuat orang memandang dirinya sebagai ideal. 2

Sedangkan gurunya dalam bidang Matematika tradisional adalah Sayyid Abul Qasim Khunsari. Dari hasil belajar dengan gurunya inilah Allamah Thabathabai menulis buku tentang beberapa topik matematika tinggi yang memuat teori-teori khusus dari gurunya.

Dalam bidang Filsafat dan metafisika Islam Ia dibimbing oleh Sayyid Husain Bad-Kubai. Di bidang etika dan spiritual, Ia dididik oleh keluarganya sendiri yaitu As Sayyid Ali Agha Thabathabai yang merupakan seorang ulama yang memiliki sekolah etika dan yang hingga kini masih kuat hingga kini.

      Dengan pengaruh guru-gurunya tersebut Allamah Thabathabai memiliki otoritas terpandang di bidang studi keagamaan seperti fiqih dan dasar-dasarnya. Dikatakan bahwa prestasi akademisnya direduksi oleh kemasyhuran dan reputasinya sebagai seorang filosof dan sekaligus insan spiritual. Religius dan mistis lagi transenden.3

Dalam menelaah karya-karya para pendahulu seperti Asy syifa karya Ibn Sina, Al Asfar Al Arbah karya Mulla Shaddra dan Tamhid al-Qawa'id karya Ibnu Kurkah di bawah bimbingan Sayyid Bad-Kubaiy. Selain itu, Ia juga menjadi murid dua Ulama besar Tehran saat itu, Yaitu Sayyid Abul Hasan Jelwah dan Agha Ali Mudarris Zununi.

Allamah Thabathabai mencapai derajat Ijtihad tahun 1354 H dan saat itu Ia kembali ke kota kelahirannya di Tabriz. Sekembalinya di Tabriz, Ia bertani sampai 10 Tahun dan benar-benar jauh dari kegiatan ilmiah dan dunia pemikiran. Di tahun-tahunnya sebagai petani, meletuslah perang dunia kedua yang menyebabkan Iran mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Saat itu dibawah rezim Reza Pahlevi Irang memiliki hubungan diplomatik dengan Jerman dan menghindari hubungan diplomatik dengan Inggris. Rezim Reza Pahlevi yang dekat dengan Jerman dan semena-mena tersebut telah membuat bangsa Iran saat itu sulit. Pembantaian terhadap sipil marak dan dengan kondisi tersebut dan Iran jatuh pada pendudukan asing. Dengan situasi demikian, Allamah Thabathabai terpanggil untuk pindah ke Qum pada tahun 1946. sejarah telah mencatat bahwa Ia juga turut dalam terjadinya Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini pada tanggal 11 Febuari 1979.

Sejak Perang dunia II, Faham Marxisme menjadi mode pemikiran sebagian generasi muda Tehran. Dari sini Allamah thabathabai mencoba menawarkan pemikiran Islam yang bertujuan menyembuhkan kebobrokan moral para generasi muda. Allamah Thabathabai gencar menyampaikan pesan Intelektual yang disampaikan untuk membangun basis metafisis religius dan berusaha menyingkirkan pandangan dunia Materialisme. Ia tekun mempelajari dasar pemikiran filsafat komunisme. Hasil kajian itu dituangkannya dalam buku berjudul Usul e Falsafeh va Rawesh e Realism. Buku ini dijadikan bahan acuan pengajaran dan bimbingan bagi kalangan generasi muda di hawzah Qom.4

Ketika beliau membuka pegajaran Al Asfar Mulla Shaddra, Ulama berpengaruh saat itu, Allamah Burujirdi mengancam akan memotong beasiswa murid-murid Thabathabai. Ayatullah Burujirdi mengakui bahwa dia sendiri pernah mempelajari al asfar secara diam-diam. Dia tidak berkeberatan atas pengajaran filsafat secara privat, tapi filsafat dinilainya sebagai membahayakan. Berujirdi khawatir apabia filsafat diajarkan secara terbuka, kepercayaan-kepercayaan mursal (unorthodox) akan menyebar. Thabathabai menanggapi bahwa setelah “berkonsultasi” dengan kumpulan puisi Hafidz yang diundinya secara acak (istikharah-pen) , dia sepenuhnya teryakinkan untuk tidak menghentikan pengajarannya. Syair yang diperolehnya ialah sebagai berikut :

Aku bukanlah berandalan
Yang meninggalkan keindahan dan cawan
Sang pujangga sangat tahu
Aku takkan berbuat seperti itu

      Lagi pula, lanjut Thabathabai, murid-murid hauzah tidak sedang berada dalam kemurnian ideologi, tetapi sejak semuila telah membutuhkan pengajaran macam itu guna menghilangkan keragu-raguan mereka dan menyiapkan mereka untuk memerangi materialisme. Atas dasar itu thabathabai berniat meneruskan pelajarannya kecuali bilamana Ayatullah Burujirdi secara resmi memintanya berhenti. Setelah itu Ayatullah Burujirdi tak lagi mencoba urusan pelajaran Allamah Thabathabai malahan memperlakukan Allamah dengan rasa hormat dan memberinya hadiah Al Quran yang mewah.5

     Beliau mengenal dunia barat dan suasana kejiwaan orang barat. Salah satu contohnya dalam pengenalan tersebut adalah terbitnya buku Shia yang merupakan salah satu usulan dari orientalis barat bernama Kenneth Morgan dari Universitas Colgate. Morgan saat itu ingin menyuguhkan agama timur kepada barat dengan sudut pandang tokoh terkemuka dari agama tersebut. Setelah berkonsultasi dengan Sayyed Husein Nasr, ditetapkanlah bahwa Allamah Thabathabai adalah yang paling layak untuk menulis buku tersebut. Buku berjudul Shi’a (dalam bahasa Indonesia berjudul Islam Syiah) memenuhi harapan dan keinginan Morgan.

Buku tersebut ditu;is dengan prinsip-prinsip Intelektual dan dari sudut pandang Syiah yang otentik. R.M Burrel dan D.O Morgan menilai buku Thabathabai tesebut sebagai buku yang menjelaskan ajaran Islam Syiah dengan sebuah pendekatan sintesis berdasarkan pendapat-pendapat ahli-ahli barat dan pendapat kalangan Syiah sendiri. Oleh karena itu buku tersebut menjadi rujukan para penulis tentang syiah sendiri baik dari kalangan Islam maupun dari kalangan Barat.6

       Karya Allamah Thabathabai yang paling penting adalah Al Mizan fi Tafsir al Quran sebanyak 20 jilid. Karyanya yang lain adalah Ushhul-e Falsafah wa Rawesy-e Realism (Prinsip-prinsip Filosofi dan doktrin Realisme) yang merupakan studi komparatif filosofi islam dan berbagai mazhab pemikiran anti islam khususnya marxisme dalam 5 Jilid. Hasyiah bar asfar yang berisi buku catatan pinggir atas al asfar al arbaah yang kini dianggap penafsiran paling modern terhadap karya terbesar Mulla Shaddra. Mushahabeh ba Ustad Corbin yang merupakan tanya jawab antara Thabathabai dan Henry Corbin mengenai Fundamental dalam Islam yang terdiri dari 2 jilid. Quran dar Islam atau kedudukan Al Quran dalam Islam dan berbagai karya lainnya berupa essay dan buku yang mencapai 96 buah.

     Berkat kegigihannya mengajar Filsafat di Hauzah Qom Iran kini secara umum telah sejajar dengan Fiqh dan Ushul Fiqh. Dan bidang filsafat yang awalnya kurang populer di Qom menjadi Pelajaran yang disegani hingga kini. Karena konsentrasi mengajarnya itulah Ulama ini rela mengorbankan karir fiqihnya sehingga tidak menjadi marja atau menyandang gelar Ayatullah Al Uzhma sebagaimana rekan-rekan semasanya.

Dari kegigihannya mengajar, telah tercetak para pemikir dan ulama yang mengembangkan studi Irfan, Filsafatm Politik, tafsir, dan sebagainya. Diantaranya ialah Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Murthada Muthahhari, Ayatullah Mehdi Haeri Yazdi, Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ayatullah Ali Khamenei, Ayatullah Ibrahim Amini, Prof. Dr. Henry Corbin, Prof. Dr. Sayyed Hossein Nasr, Prof. Dr. William Chithick dan sebagainya.


     Allamah Thabathabai wafat pada tahun 1981 dalam Usia 81 tahun dan dimakamkan di sisi Hazrat Ma’shumah kota Qom Iran.


Footnote : 
1 Thabathabai, “Tafsir Al Mizan Mengupas Ayat-ayat Kepemimpinan” (Jakarta, CV Firdaus, 1991) hal. 1
2 Thabathabai, “Tafsir Al Mizan”, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta : Lentera, 2010) hal. 12
3 Ibid, hal 13
4 Muhsin Labib, “Para Filosof” (Jakarta : Al Huda 2005) hal 260
5Muhammad Taqi Misbah Yazdi “Buku daras Filsafat Islam” (Bandung : Mizan 2003) hal xx, merujuk pada Allamah Ayatullah Sayyid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Mir-e Taban (Teheran: Baqir Al-Ulum,11), hh 60-62-penrj. Inggris
6 Muhsin Labib, “Para Filosof” (Jakarta : Al Huda 2005) hal 262