Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Kita dan Rumah Luka

"Kau beruntung punya keluarga," katanya lirih, sore itu.

Aku mendengarnya mengambil nafas dalam-dalam. Tidak apa-apa jika ia ingin menangis. Tangisan bukanlah tanda kelemahan bagi laki-laki maupun perempuan. Bukankah kita tercipta dengan kelenjar air mata yang memang punya fungsi yang sama? Bukankah hati kita secara tak kasat mata juga bisa begitu tertekan dan terluka? Tapi, aku tak melihat ada tetes di sudut matanya. 

"Aku ingat betul. Di hari kematian Ibuku, orang-orang berusaha mengelus kepalaku hanya karena aku anak yatim piatu. Katanya Rasul senang mengelus kepala yatim piatu. Jika umatnya melakukan hal yang sama, maka akan ada banyak pahala yang didapatkan. Mereka melihatku dengan wajah penuh belas kasihan. Padahal, orang-orang itu juga yang akhirnya memperebutkan warisan dari ayah ibuku. Dengan alasan, aku masih terlalu kecil untuk mengelola harta warisannya. Mereka pikir aku tak pernah tahu bahwa aku punya hak atas warisan itu. Mereka tak peduli jika aku membutuhkan warisan itu untuk hidup, sekolah, melanjutkan cita-cita."

Ada keheningan menyakitkan di sini. Suaranya bergetar.

Mereka adalah penyumbang terbesar dalam kesakitan-kesakitan yang masih aku rasakan sampai saat ini. Apa karena aku anak angkat? Bagaimanapun, mereka seperti orangtuaku sendiri. Mereka hanya punya aku sebagai anaknya. Bahkan sebelumnya, aku tidak tahu bahwa aku bukan anak kandung mereka. Aku merasai pengkhianatan, perasaan sendirian, terbuang, terlunta-lunta dari orang-orang yang tampak selalu baik di depan orangtuaku. Tanah di pemakaman ibuku belum juga kering saat perebutan warisan terjadi. Bukannya menjagaku yang masih kecil dan sendirian, mereka justru menorehkan luka batin dalam kepada anak tersayangnya. Jika mengingatnya, rasanya luka ini masih berdarah."

Ia diam. Aku menahan diri untuk berkomentar. Tepatnya, aku tak tahu harus merespon apa. Aku ingin berkata padanya bahwa ia tak sendirian, ada aku. Tapi, di mana aku saat ia sedang lalui masa lalunya? Aku takut tak ada di dekatnya saat ia membutuhkanku di saat ini atau di masa depan. Jika aku bilang aku tahu perasaannya, maka itu kebohongan. Siapa yang tahu persis kesedihan orang lain di masa-masa tergelapnya? Bahkan dua orang yang mengalami peristiwa yang sama pun akan meresapi kesedihannya dengan kadar yang berbeda. Jelas aku tak ingin melontarkan kata-kata motivasi seolah aku tahu caranya menghadapi apa yang pernah dia hadapi. Aku saja berdarah-darah menghadapi "perang" ku sendiri yang sampai saat ini belum juga aku menangkan.

"Kau tahu, aku sempat mencari orangtua asliku. Bapak kandungku sudah lama meninggal. Aku tidak tahu bagaimana rupanya. Aku diangkat sejak masih orok. Ibu kandungku sendiri sudah menikah lagi. Adik tiri begitu membenciku hanya karena aku anak kampung dari pesantren. Aku tak mungkin bersama mereka. Aku tak mungkin hidup di warung ibu kandung yang terasa sangat asing bagiku itu. Aku merindukan almarhum ibu angkatku setiap hari. Setiap kali aku alami kekecewaan-kekecewaan dengan ibu kandungku. Sekarang ia pun sudah meninggal. Aku mengerti posisiku. Aku tak akan mendapatkan apa-apa lagi bahkan dari ibu kandungku sendiri. Aku benar-benar mengerti makna menjadi terasing dan sendirian. Kau beruntung punya keluarga. Aku tak punya rumah lagi. Aku tak tahu makna pulang."

Entahlah, 

Barangkali memang iya. Barangkali juga, aku terlalu lama menganggapnya biasa-biasa saja. Kadang ada rasa bangga dengan prestasi saudaraku. Seringkali malah terbebani dengan banyak hal. Aku menghitung berapa banyak yang harusnya aku berikan dan betapa sedikit yang ternyata bisa aku penuhi. Akan lebih melegakan jika aku menutup telinga tak peduli. Tapi jika aku tak-bisa-untuk-tak-peduli pada orang yang tak punya ikatan darah denganku,bagaimana mungkin aku bisa tak peduli pada keluargaku sendiri?

Aku ingin berkata padanya, barangkali saat ia sedang punya uang berlebih, ia akan dengan mudah menyenangkan dirinya sendiri untuk makan di resto mahal seperti yang sering ia tampakkan di sosial medianya. Tapi, aku mana bisa begitu. Aku akan membagi berapa uang yang aku butuhkan dan berapa kewajiban untuk adikku yang harus aku transfer. Aku tak akan bisa menabung karena setiap kali ada beberapa rupiah di rekening, selalu saja ada persoalan hidup-mati yang perlu aku tambal. 

Setiap kali aku mulai lelah dengan hidupku sendiri, aku tetap mendengarkan perkelahian ini itu yang melulu berisi keluhan bapak, kekecewaan ibu, dan menyerap setiap tetes sari pati ketidakbahagiaan yang mereka jalani. Aku terlibat di tengah mereka. 

Barangkali aku satu-satunya anak yang bisa diajak bicara oleh bapak sehingga ia menambah lapis demi lapis keluhan-keluhannya di atas kepalaku. Barangkali aku satu-satunya anak yang sifat-sifatnya paling mirip dengan ibu sehingga ibu selalu membanjiri hatiku dengan kekecewaan-kekecewaannya yang muram tentang segala sesuatu. Ibu yang masih mempercayai agama sebagai satu-satunya penyelamat hidup kita merasa begitu takut jika kelak aku tersesat karena ternyata kita punya banyak pandangan hidup yang sangat berbeda. Ibu pernah takut aku mengikuti kelompok keagamaan yang aneh, padahal ibulah yang pernah ikut kelompok agama seperti itu. Ibu takut aku terjebak dalam pergaulan yang salah karena lingkupku teralalu luas. Oh, jelas pergaulanku baik-baik saja. Aku hanya tak ingin seperti ibu saja yang hampir tak punya teman. Aku takut jika kelak aku tumbuh menjadi orang seperti ibuku. Di sisi lain menyadari kemiripan-kemiripan sifat kita berdua. Kau tahu betapa sulitnya mengelola hal kontradiktif semacam itu?

Aku belum pernah mengatakan pergulatan ini kepada temanku. Ia tak akan mengerti rasanya, seperti halnya aku juga tak akan pernah tahu persis apa yang ia rasakan. Aku tidak ingin menjadi seorang bedebah yang merasa bahwa deritaku lebih dalam daripada deritanya. Aku tak mau jadi orang brengsek yang begitu mendengar penderitaaan orang lain langsung merasa lega karena ternyata ada yang jauh lebih menderita. Orang macam apa yang senang karena mendengar orang lain lebih menderita?

"Aku rasa..." kataku, di sela keheningan, "Keluarga ada dua. Keluarga yang terikat darah dan keluarga yang akhirnya kita pilih sendiri." 

Sebenarnya itu adalah kutipan dari sosial media yang pernah aku baca. Barangkali dia juga pernah membacanya di suatu tempat. Tapi aku lupa di mana dan siapa yang mengatakannya.

Ia mengangguk. "Selalu ada orang baik yang menolongku di saat aku terjepit. Kebanyakan memang benar-benar orang yang tidak terduga." 

"Sama. Pun aku."

Kita tersenyum. Bersamaan. 

"Apa kau pernah berpikir untuk bunuh diri saat benar-benar merasa sengsara?"

"Tidak." Kataku terkekeh. "Aku sering merasa tidak sehat. Jika sedang sedih, aku akan merasa semakin tidak sehat. Cepat atau lambat, toh aku akan mati sendiri. Aku bahkan sudah merencanakan apa yang terjadi dengan tubuhku setelah mati."

"Aku pernah mengalami masa-masa ingin bunuh diri setiap hari. Sartre memang sialan."

"Gara-gara Sartre?"

"Iya."

"Hahaha,,, Dasar bodoh."

"Aku menulis kesedihan-kesedihanku di tembok kamar setiap kali mulai mengantuk dan nelangsa. Entah bagaimana kabarnya coretanku itu sekarang. Ada di kamarku yang dulu."

"Aku hanya pernah menulis empat huruf dari nama orang yang aku sukai. Saat aku benar-benar sangat merindukannya tapi aku tahu diri bahwa aku tak punya hak lagi untuk menghubunginya. Ia orang yang menemaniku di masa-masa aku jatuh terhempas sampai palung hidup yang paling dalam. Hampir mati rasanya dulu itu. Gila kalau dipikir-pikir. Aku kok bisa mengalami hal itu."

"Mengalami apa?"

"Suatu hari aku ceritakan. Bukan sekarang. Mentang-mentang kau sudah berbagi selimut gelapmu, apa aku harus membagi punyaku saat ini juga? Siapa yang akan bawa penerangnya dong?"

Dia tersenyum.

Kami menghabiskan minuman kami. Ia menuju wastafel. Sepertinya Mall ini hampir tutup. Beberapa gerai sudah mematikan lampunya.

"Anyway, ini kau yang traktir ya." Ujarnya sambil nyengir jail sekembalinya dari wastafel.

Aku menarik nafas. Pertemuan kita yang lalu, dia yang membayar makanan. Memang saat ini seharusnya aku yang membayar. Wajah adikku terlintas. Aku minta maaf pada bayangannya, barangkali aku harus mentraktir yatim piatu ini lebih dahulu dan menunda transferanku padanya lima hari lagi. Semoga dia bisa bertahan dengan uangnya yang tersisa saat ini. 

"Iya." Jawabku singkat.

Kami berjalan menuju tempat tinggal kami masing-masing. 

Ah, kau tahu, sebenarnya aku juga tak punya rumah. Aku juga sepertimu. Tak tahu makna pulang. Aku berdoa diam-diam, semoga kacau balaunya hidup kita ini segera berakhir. 

Barangkali sebenarnya masing-masing dari kita sudah punya rumah yang kelak akan kita temukan. Hanya saja, kita harus terluka dulu sebelum akhirnya beristirahat di bawah lindngan atapnya. Atau jangan-jangan, luka ini karena paku, gergaji, kayu, bebatuan, dan beton yang kita gunakan untuk mengokohkan rumah yang sedang kita bangun sendiri. Hanya saja kita tak menyadarinya. 

Siapa tahu kan? Siapa sih yang tahu? Tak seorang pun tahu. Tak ada, yang tahu.

Selasa, 10 November 2015

Agama Orangtua = Agama Anak?

Aku sering bertanya-tanya dalam hati. Apakah sepasang manusia yang sedang berkomitmen untuk menikah dan berencana beranak pinak juga membicarakan bagaimana cara mendidik anaknya kelak? Apakah calon orangtua membaca banyak artikel dan buku-buku sebelum memutuskan bagaimana mendidik anak kelak? Yang lebih spesifik lagi, apakah orangtua pernah memikirkan secara khusus bagaimana cara mendidik anaknya dalam beragama? 

Apakah orangtua memilih untuk mengarahkan anak tentang bagaimana caranya memilih agama/kepercayaan yang dapat membawa hidupnya menjadi manusia yang baik. Atau justru orangtua berharap anak mengikuti agamanya saja tanpa pertanyaan sebagai hadiah yang tidak dapat ditolak? Seperti halnya nama pemberian orangtua, garis keturunan, DNA, dan sebagainya yang bersifat otomatis. Barangkali, ada orangtua yang membebaskan anaknya, terserah ia akan beragama atau tidak sampai anak dewasa karena itu adalah urusannya dengan Tuhannya.

Aku menulis ini sambil tersenyum mengingat adegan film India berjudul PK. Di sana. Ada sebuah adegan yang memperlihatkan si PK sedang memeriksa para bayi yang baru lahir di rumah sakit. Ia penasaran, dimana tanda yang memperlihatkan identitas agamanya? Sayangnya, ia tak menemukan tanda itu. 

Sebagai orang yang terlahir di dalam agama Islam dengan orangtua bermazhab Syiah Imamiyah, aku banyak membaca koleksi buku di rumah. Di salah satu buku parenting yang aku baca saat usiaku 15 tahun tertulis bahwa sebaik-baiknya mendidik anak adalah dengan ilmu dari Al Qur'an. Karena itulah, orangtua menyuruhku mengaji kepada Kyai NU di pemilik pondok pesantren, kata Ibu, "Orang NU itu kalau ngaji Makhrajnya dan Tajwidnya paling bagus." 

Karena tempat ngaji yang terlalu jauh, beberapa waktu kemudian Ibu menyuruhku mengaji ke rumah adiknya kakek yang Muhammadiyah. Sekalipun aku cucunya, di sana aku didik keras dengan bentakan setiap kali salah ucap. Aku takut sekali dengannya. Dari dulu aku tak cocok dididik dengan keras. Lama-lama aku tak tahan dengan cara itu dan berjanji pada ibu akan mengaji di Rumah ustad Muhammadiyah dekat Mushalla sehabis shalat jamaah Maghrib. Ibu setuju. Walau akhirnya toh aku berhenti mengaji padanya setahun kemudian karena sudah mulai dewasa. Anak-anak seusiaku mulai berhenti mengaji pada ustad itu, diganti dengan anak-anak kecil yang lain. Kemudian, aku membuat janji yang lain dengan ibuku. Aku akan mengaji keras-keras di rumah setelah Maghrib. Ibuku hafal beberapa juz Al Qur'an. Makanya, ibu sering menyimak dan mengoreksi bacaan mengajiku sambil bikin kue dan melakukan aktivitas lainnya. Buat yang awam dan termakan propaganda situs intoleran, tentu saja Al Qur'annya Syiah sama dengan Al Qur'annya Sunni. 

Aku yakin bapak dan ibuku tidak sempat berdiskusi tentang bagaimana mereka mendidik anak-anaknya kelak. Dulu bapak dan ibu dijodohkan di sebuah komunitas pengajian Wahabi. Mereka belum bermazhab Syiah ketika bertemu. Bapak maupun Ibuku sudah yakin sekali bahwa mereka satu visi dalam Islam dan pasti sama pandangan soal mendidik anak-anak. Begitu sederhana. Mereka punya kesamaan, sama-sama penggemar majelis ta'lim dan berpikir cukup kritis terhadap agama. Makanya mereka memutuskan untuk hijrah mazhab. 

Namun, tidak semua anak-anaknya punya kebiasaan yang sama. 

Kakak pertamaku belajar dengan cara yang mirip ibuku, tetap Syiah, tapi pandangan kesyiahannya beda dengan ibuku dan beda juga denganku. Kakak keduaku tak begitu tertarik dengan wacana agama. Kakak ketigaku cukup tertarik dengan wacana agama, namun hanya membaca bacaan seputar Syiah saja. Aku sendiri, memulai perjalanan intelektualku dengan buku-buku Syiah di rumah, ikut pengajian tafsir Qur'an, ikut pengajian fiqih, ikut pengajian filsafat. Dari sana mulai membaca banyak buku soal berbagai filsafat yang dikritik oleh filsafat Islam, meminati pemikiran filsafat Perennialisme lebih dari Hikmah Muta'aliyah ala Shadra, tertarik Marxisme, belajar soal agama lain, dan itu semua membentuk pemikiranku yang sekarang. Adikku beda lagi, dia dulunya sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren yang bercirikan Wahabi. Kata Ibu, "Wahabi itu bagus dalam hal hafalan Qur'an." Benar, hafalan Qur'an dan bahasa Arab adikku terus meningkat. Setelah masuk ke lembaga pendidikan Syiah, mulai terlihat bahwa dia menyukai hal-hal teologis daripada filosofis. Kami sering berbeda pendapat soal agama, tapi pada akhirnya mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang patut diperdebatkan. Dia tahu bahwa kita cara beragama kita adalah soal tanggung jawab pribadi antara kita dengan Tuhan. Adik keenamku masih SMA. Anak gaul dan tentu saja sekuler. Pemikirannya sederhana dan bagiku hal itu sangat menggemaskan. Adik terakhir belum terlihat akan jadi seperti apa, sepertinya dia akan jadi orang Syiah juga karena ada di lembaga pendidikan Syiah. Syiah macam apa juga belum tahu. Siapa yang tahu sih? 

Dari ketujuh bersaudara, jelas orangtua punya pola yang berbeda dalam mendidik anaknya. Seingatku Ibu tak pernah membujuk kakak kedua dan kakak ketiga mengaji seperti saat Ibu menyuruhku mengaji. Kakak Pertama cukup cerdas untuk mendidik dirinya sendiri sesuai dengan hal yang ibu senangi. Ibu mendidik ketiga adik lelakiku dengan keras juga soal mengaji. Tapi adik keenamku yang pintar merayu sering memanfaatkan keinginan Ibu untuk mendengar anaknya mengaji demi duit. Misalnya dia telepon Ibu, "Bu... Aku nggak punya duit, transferin aku... Aku ngaji deh... Nih aku ngaji. Bismillahirrahman... nirrahimmm..." Lalu dia akan merapalkan beberapa surat dalam Juz Amma yang dihafalnya. Ibu yang berada jauh dari kota adikku akan senang mendengar suara ngajinya. Dengan perasaan tidak tega juga, biasanya ibu akan mentransfer uang untuk adikku. Transaksi selesai. Semua senang.

Dari tadi aku berbicara soal peran ibuku, bagaimana dengan Bapak? 

Jadi begini, sedari kecil, bapakku terbiasa mandiri dengan mencari pengetahuan sendiri dan punya etos belajar yang bagus. Jadi dia berharap anaknya juga akan menemukan jalannya sendiri sebagaimana dia. Jarang sekali Bapak berdebat soal agama dengan anak-anaknya. Sedangkan Ibuku, selalu menyisipkan topik agama di setiap pembicaraan. Cara mereka mendidik pada akhirnya berbeda. Begitulah pernikahan, berisi kumpulan individu yang bersama-sama untuk menyatukan darah, tapi bukan berarti juga punya keterikatan pikiran. 

Ibu tak setuju dengan caraku beragama dan caraku berpikir. Tapi dia mencintaiku. Ibu bilang dia selalu mendoakanku setelah sholat, bahkan lebih dari yang lainnya. Aku juga mencintai Ibu. Tapi bagaimanapun, aku punya konsekuensi logis pengetahuan yang membentuk caraku berpikir dan aku minta maaf jika ternyata kita berbeda. Karena aku bukan orang yang pintar berpura-pura sama dengan siapapun agar lebih dicintai, maka aku tidak tahu bagaimana caranya menyembunyikan perbedaan ini. Barangkali akulah yang kurang bijaksana. Tapi, entahlah. Aku juga penasaran kemana perjalanan ini akan bermuara.

Dari pengalaman pribadi menjadi anak kedua orangtuaku, akhirnya aku paham, seperti apapun modal pengetahuan agama yang dimiliki oleh orangtua, belum tentu anak akan seperti dia. Tak masalah juga jika kelak anakku punya pemikiran yang beda denganku. Aku belajar merayakan perbedaan sejak dini.

Aku pernah mendengar pemilik kontrakanku mengelus kepala anaknya yang masih umur 3 tahun. Dia dan suami mendiskusikan akan les apa anaknya nanti. Ibunya ingin anaknya les ngaji, silat, robotic. Bapaknya ingin anaknya les wayangan, bahasa daerah, dan nembang. Mereka sepakat untuk mendaftarkan anaknya ke semua les tersebut. Walau bapaknya sering mabuk, ia senang juga lihat anaknya mengaji. Anak ini tumbuh dengan serangkaian kegiatan yang tak pernah berhasil dicapai orangtuanya ketika masih kecil. Berapa dari kita yang membesarkan anak kita dengan cara seperti itu?

Sumber Gambar

Dari fenomena yang aku amati, aku pikir pada akhirnya anak akan menemukan jalannya sendiri. Sekalipun orangtua sering berdoa semoga kelak anaknya bisa jadi anak yang patuh pada orangtua dan berguna untuk agamanya.

Ada orangtua yang mendidik anaknya dengan serangkaian pelajaran agama dari pesantren. Saat dewasa, anak tersebut pada akhirnya memilih jadi seorang sekuler liberal. Ia kritisi banyak teks yang ia pelajari di pesantren dulu dan tak segan menyebutnya sebagai dogma belaka. Ia kritik cara mayoritas dalam beragama. Ia keluhkan betapa membosankannya kelompok agama tertentu yang baginya tidak rasional, fanatik, kurang punya nilai kemanusiaan universal, dan sebagainya.

Ada orangtua yang sejak dini mendidik anaknya untuk rajin mengikuti misa dan berbagai kegiatan di gereja, siapa sangka saat dewasa dia justru tumbuh sebagai orang yang apatis dan sinis terhadap gereja. Ia mulai tak percaya dengan para pastur. Ia mulai bosan janji gerejawi.

Ada orangtua yang mendidik anaknya dengan santai tanpa kecenderungan agama tertentu. Ternyata, di masa dewasanya, anak tersebut justru ikut gerakan radikal dan tak segan berkata bahwa orangtuanya itu masih jahiliyah.

Ada anak yang selalu rajin sembahyang mengaji bersama orangtuanya. Ketika akhirnya mengalami masa merantau, ia lama-lama merasa malas untuk melakukan ritual tersebut. Namun, untuk menjaga hati orangtuanya, ketika ia pulang ke rumah nantinya, ia akan kembali jadi anak patuh kepada orangtua dan agama. Orangtua bangga dan bersyukur punya anak yang sesuai harapannya. Anak ini pun aman di balik topengnya. 

Seorang kawan bahkan mengajarkan anak-anaknya dengan agama yang berbeda. Hasilnya, dengan pilihannya sendiri, anak-anaknya memeluk 3 agama yang berbeda. Orangtuanya begitu bangga anaknya bisa memilih agama yang mengantarkannya ke jalan kebaikannya sendiri. Dia bilang, "Kelak, mereka akan membela agama saudaranya jika ada yang terdiskriminasi atas nama agama. Kemanusiaan haruslah melampaui agama."

Ada pula orangtua yang memiliki anak dengan agama yang seperti pendahulu sebelumnya. Tanpa pertanyaan, tanpa banyak perbandingan. Yang ia tahu, orangtuanya bilang bahwa agama merekalah yang paling benar. Itu sudah cukup untuk menjadi bekal dari awal kehidupan sampai kematian. Jika sudah memegang agama yang paling benar, untuk apa mencari-cari yang lain?

Orangtua -yang menurut standar masyarakat- telah berhasil mendidik anaknya juga banyak. Anak terlihat jelas telah mewarisi kealiman orangtuanya. Tanpa banyak percekcokan dan pemberontakan. Anak tumbuh sesuai dengan harapan orangtua. Konon itu berkat doa-doa orangtua. Atau faktor lain. Aku tak tau. Bahkan tak bisa membayangkan ada anak yang pemikirannya dicetak sama persis dengan orangtuanya. Aku kenal dengan teman yang seperti ini. Dia bilang, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Lha kamu kira aku harus mirip pemikiran siapa?" Entahlah ya.

Kisah-kisah yang memuat tentang orangtua yang sedih karena merasa tak dapat mendidik anaknya banyak. Ada kekhawatiran bahwa ia nantinya tak bisa bersama-sama dengan anaknya di surga. Betapa kecewanya orangtua yang tak bisa memiliki anak patuh terhadap orangtua. Di sisi lainnya, ada kisah-kisah yang berisi kebanggaan orangtua dengan pencapaian anaknya. Beberapa orangtua berharap anak dapat menjadi sesuatu yang tidak pernah bisa dicapainya saat masih muda. 

Beberapa lagi berharap, sekalipun dia bukanlah orang beragama yang baik, dengan memilih pasangan yang lebih alim darinya atau menyekolahkan anak ke sekolah agama, maka otomatis ia akan punya anak-anak religius yang kelak dapat menebus dosa orangtuanya dengan doa-doa.

Saat anak lahir, orangtua sering memberikan cap agama tertentu. Seolah agama adalah sesuatu yang mesti diterima begitu saja oleh anak sampai kematiannya kelak. 

Aku pernah mendiskusikan dengan sahabat perempuanku soal ini. Sambil tersenyum geli, dia bilang, "Ah, kalaupun suatu hari nikah, aku mah nggak mau punya anak. Melahirkan itu sakit kayaknya. Lagian dunia udah over populated. Kasian anak yang lahir di saat bumi udah rusak gini. Mending ngadopsi anak yang udah terlanjur lahir di dunia. Atau mendingan melihara anjing atau kucing. Hehehe..." 

See? Nggak semua orang menilai bahwa punya anak adalah ide yang bagus kan? Sebagai orang yang biasa mendengar perdebatan antara kaum Pro Choice dengan kaum Pro life, aku tidak kaget sih mendengar ada orang yang bahkan tidak ingin punya anak dan pro terhadap aborsi. Bahkan Richard Stallman -founder GNU- juga menolak untuk punya anak dan menyarankan orang-orang untuk tidak perlu punya anak demi kemanusiaan. Soal pandangan dia, bisa dibaca di artikel Why is it Important not to have Children.

Aku penasaran ingin bertanya lagi. Pernahkah ada yang memutuskan untuk tidak jadi menikah dengan calonnya setelah tahu bahwa ternyata kalian tak sepakat dengan cara mendidik anak? Ya siapa tau ya ada yang apes ngalamin. 

Jadi, cara kamu mendidik anak nanti gimana? Udah dipikirin?

Minggu, 05 Juli 2015

Jadi Saksi Kanonik Pernikahan Islam-Katolik

Kemarin malam, aku menjadi saksi Kanonik untuk pernikahan beda agama antara sahabatku yang Islam dan tunangannya yang Katolik.

Sahabatku seorang perempuan Islam berjilbab. Sedangkan tunangannya seorang Katolik taat yang sempat menempuh pendidikan calon Imam tingkat satu di Malang. Alih-alih jadi Romo, ia lebih memilih untuk jadi programmer yang hadapi algoritma daripada umat.

Hanya dengan melihat mereka sekilas, kita akan tahu bahwa mereka adalah dua orang yang sedang jatuh cinta.

Ditunjuk jadi saksi Kanonik awalnya adalah hal mendebarkan. Aku perlu meyakinkan diri sendiri apakah mungkin seorang muslim bisa jadi saksi Kanonik? Aku kontak Romo sahabatku untuk menanyakan keabsahan "syariatnya". Romo bilang, saksi Kanonik itu yang penting mengenal calon mempelai non Katoliknya. Tidak harus beragama Katolik. Aku jadi lega. Setidaknya, sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama, ternyata aku berguna juga.

Aku ke gereja Katedral Jakarta bersama pasangan pengantin dan teman SMA sahabatku yang juga berperan sebagai saksi Kanonik. Setelah shalat Maghrib di Istiqlal, kami menyeberang ke Gereja Katedral dan buka puasa di depan pasturan. Misa Jumat Malam belum usai. Jadilah kami menunggu sampai Romo selesai memimpin Misa.

Tepat saat Misa Jumat usai, kami berempat dipersilakan masuk ke ruang tamu Pasturan. Kedua mempelai masuk lebih dulu ke ruang kerja Romo. Romo yang menangani pernikahan ini bernama Romo Broto, Pr. Kesanku padanya, Beliau seseorang yang murah senyum dan ramah.

"Siapa yang akan jadi saksi pertama?" Tanya Romo Broto pada aku dan teman sahabatku saat kami berdua ada di ruangannya.

"Dia saja Mo, yang lebih tua." Kataku.

Romo dan teman sahabatku tertawa.

Romo memulai pertanyaan seputar sejauh mana kami mengenal calon mempelai perempuan. Dia juga bertanya soal asal wilayah, pekerjaan, alamat, dan lainnya. Kami harus mengisi selembar formulir setengah halaman kertas HVS yang isinya adalah kesaksian kami berdua bahwa mempelai perempuan non Katolik tersebut memang belum pernah menikah.

Setelah mengisi formulir, kami berdua tanda tangan di bawah kalimat sumpah yang ditutup dengan, "Demi Allah". Bukan demi Yesus dan bukan pula demi Roh Kudus. Aku senang dengan pilihan kata di dalam surat kesaksian tersebut.

"Di Katolik memang ada dispensasi dalam hal pernikahan. Kami meyakini bahwa yang namanya iman itu tak dapat dipungkiri oleh hati. Bisa saja seseorang bohong di KTP dalam hal agama hanya untuk menikah. Tapi yang namanya iman dalam hati, sulit untuk diganti-ganti. Jadi, Disparitas Cultus ini untuk memudahkan, bahwa pernikahan tak pernah jadi penghalang keimanan seseorang dan sebaliknya. Untuk apa yang Katolik pindah Islam jika hatinya tetap Katolik? Dan untuk apa yang Islam pindah Katolik jika yang nyaman baginya adalah beragama Islam? Ini adalah solusi yang diberikan gereja untuk umatnya."

Kami mengangguk mendengar penjelasannya.

Saat melakukan penelitian di gereja Santo Alfonsus Paroki Nandan, Jogja pada tahun lalu, aku sudah diberi penjelasan oleh Romo Kris mengenai hukum pernikahan dalam gereja Katolik.

Oh ya, Romo Kris ini ketua Paroki Nandan. Tema Disertasi S3 nya adalah tentang Disparitas Cultus. Saat aku menyebut bahwa aku kuliah di Paramadina, dia langsung bertanya soal pernikahan beda agama yayasan Paramadina. Aku tak tahu banyak soal pernikahan beda agama di yayasan. Jadi aku berjanji padanya untuk mencarikan info seputar itu.

Romo Kris lah yang memberi penjelasan padaku bahwa di dalam gereja Katolik memang tak ada perceraian. Adanya pembatalan pernikahan yang harus diurus sampai Vatican. Seseorang yang beragama non Katolik yang pernah menikah sebelumnya, lalu bercerai baik secara agama maupun secara negara tidak dapat lagi menikah dengan seorang Katolik karena punya halangan pernikahan. Makanya, salah satu fungsi diumumkannya pernikahan setelah Misa, selama tiga kali Misa adalah untuk mendeteksi adanya halangan pernikahan itu tadi.

Aku bercerita kepada Romo Broto soal sedikit interaksiku dengan Romo Kris yang mengenalkan aku pada konsep disparitas kultus. Dia tampak girang.

"Walaupun satu kampung sudah tahu bahwa calon mempelai belum pernah menikah, kesaksian kanonik ini tetap harus dilakukan. Ini sebagai formalitas saja." Lanjut Ketua Paroki Katedral ini.

Di tengah diskusi singkat kami, Romo memujiku dengan berkata, "Wah, kamu sudah banyak tahu Katolik."

Aku tersenyum geli.

Sebenarnya aku tak banyak tahu soal Katolik. Seorang kawan yang mengaku sebagai Katolik sesat karena tak beribadah lagi ke Gereja pernah memberikan banyak penjelasan soal kekatolikan padaku sebagai bahan riset. Selain itu, aku sering berdiskusi dengan Romo dan Frater kenalanku dan membanding-bandingkan penjelasan mereka dengan tradisi agama Samawi yang ada.

Tentu saja aku masih sering bingung dengan istilah-istilah spesifik yang dipakai orang Katolik. Jelas banyak sekali hal yang belum aku tahu soal agama lain. Bahkan aku baru tahu kalau di Katolik sunat untuk lelaki itu bukan sebuah keharusan setelah nonton film bareng di kampus yang memuat sebagian sejarah gereja Katolik abad pertengahan. Tentu saja, tidak penting untuk mengetahui apakah pengikut agama tertentu punya tradisi sunat untuk lelakinya atau tidak. Tapi, aku akhirnya paham bahwa ternyata aku tidak banyak tahu.

Mengetahui ketidaktahuan adalah sebuah pengetahuan yang berharga juga.

Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk jadi seorang saksi Kanonik. Tunangan sahabatku bilang, waktu yang dibutuhkan tiap orang beda-beda. Tergantung Romonya juga.

Tunangan sahabatku heran, kenapa beberapa kali terdengar tawa kami.

"Kamu becandain Romo ya Ban?" Tanyanya.

Aku menggeleng. Memang ada banyak lelucon yang menyenangkan selama kami ngobrol dengan Romo sambil mengisi formulir tadi.

Sangat berbeda saat sahabat dan tunangannya menghadapi Romo. Suasananya serius. Mereka bilang, mereka ditanyai Romo dengan hal-hal yang sudah mereka pelajari saat Kursus Pernikahan.

Aku sempat bertanya pada tunangan sahabatku, kenapa dia tak membawa saksi Kanonik juga. Dia jawab, "Saksi Kanonik itu cuma dibutuhin calon mempelai non Katolik. Data diriku kan udah ada di parokiku."

Oh, begitu. Tuh kan, aku baru tahu.

Bagiku, mereka pasangan yang lucu, saling melengkapi dan menjaga. Tunangannya selalu menyarankan sahabatku untuk konsisten berjilbab. Sahabatku sering meminta tunangannya untuk membawa serta dirinya tiap Misa. Aku berbahagia untuk mereka.

Tentu saja, pernikahan beda agama masih jadi pro dan kontra di kalangan umat beragama. Keluarga sahabatku juga masih banyak yang menentang terjadinya pernikahan tersebut. Tapi, ayah sahabatku sungguh hebat. Dia berani pasang badan demi kebahagiaan anaknya. Dengan senang hati, ayahnya mengantarkan anaknya menikah di Gereja Katolik tanpa perlu pindah agama. Dulunya, ayahnya adalah seorang Kristen Protestan yang masuk Islam karena menikah dengan ibunya.

Aku mengikuti perjalanan cinta mereka. Beberapa kali, aku ikut membantu untuk menjawab setiap pertanyaan dan hujatan dari keluarga yang menentang pernikahan mereka.

Seorang yang sedang berusaha mengikuti laku sebagai seorang Sophia Perennis sepertiku, memang tidak memiliki masalah yang ada hubungannya dengan syariat pernikahan beda agama. Tentu saja, ada banyak sekali orang yang bilang betapa salahnya pandanganku. Betapa kelirunya pilihan hidup yang aku pilih.

Tapi, aku meyakini, bukankah tiap orang sedang menjalani Dharmanya masing-masing? Jika memungkiri konsekuensi pengetahuanku, alih-alih menjalankan dharma, aku malah menjalankan adharma.

Aku menerima risiko apa kata orang terhadap apa yang aku lakukan dengan hati gembira. Aku memaklumi, beberapa orang yang menghujatku memang senang menjadi juru bicara kebenaran "tuhan" yang diyakininya. Aku sih tak pernah memaksa mereka meyakini apa yang aku yakini.

Orang yang pernah dekat denganku pernah cerita bahwa beberapa kali dia berpisah karena agama dengan orang yang dia cintai. Aku sangat sedih mendengarnya. Rasanya aku ingin hadir di masa lalunya dan meyakinkan orang yang dicintainya agar tak perlu merasa berdosa mencintai orang yang berbeda iman. Cinta itu indah. Agama dan kasih Tuhan juga indah. Keindahan hanya akan bersatu dengan sesamanya. Kenapa harus ada perpisahan karena agama?

Yang aku yakini, Tuhan yang disebut dengan berbagai nama, Tuhan seluruh umat manusia, telah memberikan potensi cinta pada siapa saja tanpa memandang agamanya apa.

Kita hanya perlu menjaga pijarnya, agar jadi terang bagi sesama.

Jumat, 20 Maret 2015

Demam

Sebenarnya hari ini perlu ke kampus supaya dapat koneksi internet. Selain itu, ingin juga liputan peristiwa penting di Monas. Akun twitter @InfoHindu mengizinkan kita dari @bebasberagama untuk meliput prosesi Melasti. Melasti adalah kegiatan yang dilakukan umat Hindu di tingkat provinsi sebelum hari raya Nyepi untuk membuang bala bencana kehidupan. Salah satu rangkaian acaranya adalah pawai Ogoh-ogoh di Monas sebagai bagian dari upacara Tawur Agung Melasti tersebut. Kesempatan yang tak datang setiap hari kan?

Aku menghubungi kawan apakah dia bisa menemani pendokumentasian foto maupun video. Sayangnya, dia sedang sibuk. Begitupun kawan lainnya. Akhirnya terpaksa, aku tak berangkat karena tak mungkin bisa mendokumentasikan apapun tanpa beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kawanku. Seperti kamera SLR misalnya…

Saat memutuskan kalau baiknya ke kampus saja, aku baru menyadari kalau kepalaku keliyengan. Lemas sekali. Aku berusaha minum banyak air dan memasak makanan sekedarnya agar punya energi. Ternyata masih juga lemas. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin tekanan darahku turun drastis atau saking panasnya udara siang tadi.

Aku putuskan untuk istirahat. Tidur. Tapi suara berisik dari kamar baru yang dibangun dekat dengan kamar membuatku susah tidur. Udara makin lama makin bertambah panas. Sudah sejak 3 bulan lalu kipas angin di kamar rusak dan aku selalu lupa dan malas menentengnya ke tukang servis. Sudah pernah diservis, tapi sebulan kemudian rusak lagi. Padahal bayar servisnya lumayan mahal. Tidak mungkin juga membuka pintu kamar tidur saat tidur siang karena tukang bangunan mondar mandir di depan kamar dan beberapa pencurian di kamar kostan banyak yang kasusnya karena penghuni kamar tidak menutup pintu saat tidur siang. Sahabatku, si Erton pernah mengalaminya. Laptop yang ada di atas kepalanya raib saat dia ketiduran siang hari tanpa mengunci pintu.

Sementara itu, linikala twitterku penuh dengan Ibu-ibu Rembang yang mendemo UGM. Akademisi dan pemuka agama yang tak jujur selalu menggelisahkan nurani setiap orang berakal. Di kepalaku sudah terpantik banyak kata yang berapi-api. Tapi jaringan internet sama lemasnya dengan tubuhku.

Apa yang lebih menyedihkan dari melihat penindasan, tapi kita tak ambil bagian apapun untuk melakukan perlawanan terhadap itu? Walau aku sering merasa bahwa beraksi di media sosial adalah selemah-lemahnya perlawanan.

Ngomong-ngomong soal dunia akademis yang menghamba pada korporasi, aku jadi geli sendiri dengan kampus sendiri. Wisuda Oktober lalu, kampus mendatangkan Arifin Panigoro dari Medco, bos perkebunan-perkebunan sawit. Salah satu poin orasi ilmiahnya masih sama dengan yang dia bahas di tempat lain, yaitu soal Sawit sebagai energi terbarukan [?]. Ide yang buruk untuk memulai hidup sebagai sarjana jika menjadikan korporasi perusak ekosistem sebagai inspirasi. Ah, tapi siapalah aku ini. Saat protes ke kampus, daripada mempertimbangkan ideku, biasanya akan lebih gampang melakukan ad hominem macam, "Memangnya apa yang sudah kamu lakukan? Berapa buku yang kamu baca? Wisuda aja belum." Itu sih yang biasanya diucapkan ke kawan-kawan aktivis di kampus yang memilih kritis dengan -so called- kebijakan kampus.

Ngomong-ngomong, kampus belum bersuara terhadap isu selain soal korupsi. Padahal, kalau ambil sikap politik soal beberapa hal yang pro sama rakyat kecil, kampus bakal makin disayang semua orang. Siapa sih yang nggak cinta sama keadilan? Bahkan orang yang dzalim tingkat Neptunus pun bakal ngemis keadilan kok di pengadilan.
Suhu tubuhku sepertinya makin naik.

Beberapa hari ini, aku merebus air lewat teko air listrik berbahan stainless steel yang aman untuk makanan. Teko ini juga yang aku pakai masak masakan sederhana. Seperti Sup, Sayur Asem, Sambel Goreng Santan, Mie, dan lainnya. Tapi karena aku sedang tak enak badan, tubuhku jadi terlalu lemas untuk mencuci teko listrik yang kotor. Aku heran dengan tubuhku hari ini. Pagi tadi begitu semangat ingin liputan ke Monas, tapi siangnya mendadak loyo begini.

Akhirnya aku kehausan karena air minumku sudah habis. Aku kesulitan mendapatkan air galon karena kamar kostku ada di lantai 3 dan tidak semua penjual galon mau angkat air ke kamar. Sahabat lelakiku pun mendadak kehilangan kekuatan ototnya jika berurusan dengan angkat galon ke lantai 3. Makanya, jika aku lupa beli air mineral di luar atau tidak merebus air seperti ini, aku akan alami krisis air minum.

Aku menghibur diri dengan membaca buku Email dari Amerika karya Prof Janet Steele, salah satu guru Jurnalistikku di kursus Narasi Pantau yang sangat aku hormati. Aku hanya perlu menghabiskan beberapa halaman saja karena sudah membacanya kemarin-kemarin. Sudah berhasil menamatkan buku itu sore ini sampai halaman epilog dari Mas Imam. Saat membaca Epilognya, yang terbayang adalah kepala gundul Kembang, anak mas Imam yang katanya sudah mulai bisa duduk. Aku jadi kangen sekali padanya.

Setelahnya, aku mengulang baca buku Kosmologi karya William Chittick. Aku senang sekali mengulang-ulang bagian perbedaan ilmu nukilan dan ilmu intelek. Ilmu nukilan menekankan seseorang untuk mentaati dogma dan otoritas. Ilmu intelek menekankan kesadaran diri dan proses afirmasi kebenaran lewat diri sendiri. Ilmu yang sejati adalah yang intelek, kita harus berefleksi dan membuktikan kebenaran serta kebijaksanaan ilmu yang kita dapat lewat jalur swabukti. Bukan karena kitab suci, otoritas, maupun dogma-dogma. Apalagi tujuan utama dari pencarian intelektual bukanlah untuk mengumpulkan informasi atau 'fakta-fakta' maupun sekedar memberikan kemajuan pada dunia sains. Tapi pencarian intelektual adalah untuk memperbaiki pemahaman manusia, melatih pikiran dan menjernihkan hati manusia. Sehingga pencari pengetahuan selalu merealisasikan pengetahuannya itu lewat aksi nyata. Aku lebih senang menyebutnya dengan memenuhi konsekuensi intelektual manusia. Karena, jika menuruti dogma, otoritas, maupun kitab suci saja, maka kita akan jadi sekedar peniru. Peniru bukanlah seseorang yang bisa bijak menetapkan sesuatu. Kalau kita lihat saintis yang menghamba pada catatan kakinya atau para ulama yang menetapkan berbagai fatwa secara spesifik seolah umatnya tak bisa berpikir sendiri hal yang baik untuknya, maka itu yang disebut Chittick sebagai penguasa ilmu nukilan.

Jelang Maghrib, tetangga kost depan rumah pulang kerja. Dia adalah seorang wanita keturunan Ambon beragama Kristen Protestan. Kepulangannya bersamaan dengan hujan yang mulai deras dengan petir menyambar-nyambar. Udara yang aku rasa panas mendadak jadi dingin sekali. Mungkin karena efek demam. Karena aku buka pintu kamarku dan bertanya apakah dia kedinginan, dia jawab tidak, malah panas karena AC di kamarnya mati. Listrik di kamar kami memang sengaja dimatikan penjaga kostan karena perbaikan bangunan dekat kamar kami membuat beberapa kabel listrik terbuka dan rentan konsleting jika listrik tidak dimatikan. Aku sempat meminta air minum padanya. Kemanusiaan memang tak kenal suku maupun agama. Dia baik sekali padaku.

Walau lampu kamarku mati, aku masih terus membaca Chittick dengan bantuan senter handphone jadulku.

Hujan makin deras, petirnya makin mengerikan. Aku memikirkan warga di Kampung Duri, daerah Kebon Pala yang beberapa hari lalu aku sambangi. Pasti mereka -yang memang tinggal di bantaran Kali Ciliwung- mulai kebanjiran. Mereka membentuk komunitas bernama Ciliwung Merdeka. Aku dan Dhana sempat mewawancarai Romo Sandyawan, tokoh keren di balik berdirinya Ciliwung Merdeka. Semoga saja tulisanku soal ini segera selesai. Jika aku sudah sehat pastinya.

Listrik kostan akhirnya dinyalakan juga.

Aku mengecek linikala twitter dan sudah ada kabar soal banjir di mana-mana. Bahkan dua sahabatku sudah mengabari kalau mereka terjebak banjir di rumahnya. Katanya, air mulai masuk rumah. Aku agak cemas walau tahu bahwa mereka akan baik-baik saja. Mereka kan lelaki dewasa yang bisa menjaga diri.

Lalu aku ingat juga Uda penjual Sate Padang dekat kostan. Aku pernah menulis soal dia di blog ini. Pintu kamar kostan yang terbuka membuatku bisa mencium aroma Sate Padang dagangannya. Jadi aku tahu pasti bahwa malam ini dia pasti berjualan.

Aku bertanya padanya lewat whatsapp, hujan sudah sederas ini, bagaimana dengan dagangannya?

Dia menjawab, "Hujan mah biasa mbak. Udah romantikanya begini."

Dulu waktu SMA, aku pernah berjualan kerajinan tangan boneka felt secara kaki lima dari satu pasar malam ke pasar malam lain. Hujan begini pasti dagangan jadi tak laku karena bahkan menggelar dagangan pun tak mungkin karena dagangan rentan rusak jika terkena air hujan. Hujan akan membawa dampak merugi karena stand dagangan sudah dibayar ke pemborong pasar malam.

Bagiku, hujan begini sangat tidak romantis untuk penjual outdoor. Mungkin Sapardi tak pernah merasakan sulitnya musim hujan bagi pedagang kaki lima, baik pagi, siang, senja ataupun malam. Sehingga hujan selalu saja romantis di matanya. Adikku saja masih berjualan produk yang sama di Ngarsopuro Night Market Solo tiap malam Minggu.

Hujan, bagiku, selalu pahit rasanya.

Aku bilang ke Uda kalau aku sangat malas keluar karena hujan begini bahkan untuk cati makan malam. Karena aku masih harus ke ATM, lalu cari warung untuk makan. Aku tak bilang padanya soal demam karena tak ingin buat dia khawatir.

Dia menawarkan diri untuk mengantar makanan ke kamar kost ku. Dia juga bertanya apa makanan yang aku inginkan, Pempek, Nasi Goreng, Mie Goreng, Martabak, ataukah makanan lainnya. Aku bilang aku memang tergoda Sate Padangnya, tapi aku bersikeras menolak kebaikannya karena tak mau merepotkan. Lagipula dia sedang jualan di gerobaknya.

Dia bilang, saat ini sedang sepi pelanggan, dan soal pembayaran gampang saja. Besok juga tak apa.

Aku jadi malu dengan penawarannya. Dia tanya aku ada di kamar nomer berapa karena kostanku sangat besar dengan puluhan kamar dan berlantai 3. Dia juga bilang sudah ada di bawah. Aku menyebutkan nomer kamar dan sebentar kemudian dia mengantarkan Sate Padangnya yang enak sekali. Sate Padang terenak di Jakarta bagiku!

Dengan sangat tak enak hati aku mengucapkan terimakasih padanya berkali-kali. Ini pertama kalinya aku berhutang dengan penjual makanan di Jakarta. Padahal aku sudah tinggal di Jakarta bertahun-tahun. Nyaliku selalu kecil dalam masalah piutang ke pedagang.

Udara makin dingin. Aku sudah minum, sudah makan malam, dan kini mulai berkeringat. Aku merasa sudah sehat walau kepalaku masih keliyengan.

Hari ini aku memang tak keluar kamar sama sekali tapi ternyata cukup memikirkan banyak hal. Tentu saja ada hal-hal yang tak mungkin ditulis di sini.

Seharusnya besok sudah sembuh. Biar aku tak hanya sekedar bisa berpikir, tapi mampu juga berbuat.

Amin.

Ada Baiknya Punya Sedikit Cinta untuk Diri Sendiri

Ada baiknya menjalani hidup dengan sedikit cinta untuk diri sendiri. Seperti ini.

Jika cinta pada diri sendiri banyak, ia tak akan membiarkan derita gerogoti nafas hidupnya lebih lama. Pikiran tentang segera akhiri kegetiran ini akan memenuhi rongga mimpi paling sadar yang datang di setiap malam.

Ternyata, ada baiknya juga jalani hidup dengan sedikit cinta untuk diri sendiri. Karena, jika cinta diri menguasainya, hal paling waras yang dipikirkan adalah tentang derita yang mesti diakhiri sekarang juga. Sekarang. Tak bisa nanti. Tak perlu ditunda. Selagi yang dipunya adalah ketiadaan yang bukan apa-apa beserta sejumput harga diri yang sewaktu-waktu bisa ditawar para bajingan.

Memang…

Dirasa, ada baiknya juga punya sedikit cinta untuk diri sendiri.

Kau bisa ambil segala sesuatu yang tak kau punya namun kupunya. Mungkin keberadaannya selama ini tak begitu terasa. Ada ginjal, hati, otak, jantung, otot, darah, buku, rasa, air mata, pikiran, jiwa. Ambillah segalanya yang kau butuhkan selagi bisa. Barangkali kau lebih membutuhkannya untuk menyambung nafas. Menambal hidup. Menyambangi hari esok. Merasai debar yang paling keras dalam jantung kehidupan. Toh, sudah sejak lama segalanya tak lagi terasa utuh. Maka tak mengapa jika kau ambil segala yang tersisa. Tak perlu lagi bercemas diri dengan sesuatu yang tak pernah dipunya.

Karena memang, itulah baiknya punya sedikit cinta untuk diri sendiri.

Kamis, 12 Maret 2015

Teman adalah…

Tadi sore, aku memprotes seorang dosen yang tidak membalas emailku. Aku benar-benar penasaran, apa susahnya sih membalas emailku di saat wifi tersedia gratis di kampus. Dia bukan dosen yang mengajar di jurusanku sih. Tapi aku benar-benar menunggu responnya terhadap project pribadi yang aku bicarakan beberapa waktu lalu dengannya. Dia sudah setuju dan hanya perlu mengubah beberapa hal yang jadi keahliannya. Aku mendengarkan baik-baik alasannya dan mengerti.

Tidak membalas email bukan berarti tidak setuju, sengaja tidak ingin menanggapi atau hal-hal buruk lainnya. Semuanya berjalan dengan baik dan terkendali.

Pembicaraan kami beralih dari email ke topik yang sering kami bicarakan. Mengenai persoalan-persoalan dasar yang biasanya dianggap mapan oleh orang lain.

Kali ini soal konsep pertemanan.

"Teman," katanya, "adalah orang yang tidak ada ketika kita perlukan."

"Kok bisa? Harusnya sebaliknya."

"Ya bukan, pertemanan itu terjadi ketika seseorang mengalami kesamaan nasib. Kalau nasib kita lagi buruk, siapa yang mau senasib sama kita?"

Aku tertawa. Ya bayangkan saja aku sedang tertawa sinis seperti biasa.

"Lha kok, malah ketawa. Aku serius lho Nu. Teman adalah mereka yang tidak ada ketika kita sedang susah. Karena tahu betul kalau kita lagi susah itulah, dia tak mau dekat-dekat."

"Harusnya, karena tau susah itulah seorang teman harus menemani. Mungkin yang harus mengerti kita adalah sahabat? Bukan teman."

"Halah! Pemikiranmu normatif. Teman, sahabat, pacar, istri itu sama aja. Siapa sih yang mau dekat-dekat sama orang susah? Kalau ada kesusahan-kesusahan, orang cenderung akan menjauh. Sederhana saja. Orang kan lebih suka sesuatu yang happy. Suatu keadaan yang bahagia."

Dia balik menertawakanku.

Aku meresponnya dengan senyuman sinis dan menunggu sarkasmenya soal hidup berlanjut.

Sepertinya dia teringat dengan sesuatu yang harus dia lakukan dan membalikkan badannya, menghampiri sepedanya yang terparkir di dekat undakan kantin. Pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa menjanjikan kapan akan membalas email, dan kapan mulai mengerjakan project kami.

Aku melihatnya dari tempat dudukku. Sama sepertinya, aku juga tak mengucapkan apapun padanya. Sibuk memikirkan ulang ucapannya, mencocokkan dengan das sein yang ada.

Ya.

Aku pikir, dia benar.

Jumat, 13 Februari 2015

Surat, Coklat, dan Cinta Pertama

AKU pikir, orang yang gampang heran sama sesuatu itu karena kurang pengalaman. Istilah jawanu melihat orang-orang pada he dari mulai yang kasih surprise ulang tahun, sampai yang status Facebook aneh-aneh.

Aku sih tak akan heran lihat itu. Karena pernah menemui hal macam itu dimasa lalu. Bedanya adalah, tidak ada social media yang mengumumkan pada dunia apa yang terjadi saat itu. Sehingga tak masuk berita.

Surat cinta pertama yang aku terima adalah dari teman sekelas waktu SD kelas 3, namanya Mustofa. Dia sudah naksir sejak aku jadi murid baru di kelas 2 SD. Dulu aku anak Jakarta yang sekolahnya di Cibitung Bekasi, pindahnya ke SD Andong Boyolali.

Surat yang aku terima panjang  intinya adalah, "Aku mencintai kamu, aku ingin kita berdua bisa bahagia, menikah dan punya anak. Aku akan berusaha untuk punya rumah demi anak-anak kita."

Agak malu rasanya membaca surat itu. Aku sendiri merasa masih anak-anak, tidak bisa membayangkan ada anak-anak lain yang akan aku hasilkan. Keluar lewat mana? Bagaimana caranya? Mana aku bisa tahu?

Aku menyerahkan surat itu ke mbak Ima yang waktu itu masih SMP. Dia baca surat itu sambil ketawa-tawa. Mungkin dia ingat, waktu SD kelas 5, dia juga ditaksir sama teman sekolahnya. Namanya Gatot. Kita dulu sama-sama sekolah di SD Cibitung. Gatot  suka datang ke kompleks perumahan kami demi ketemu Mbak Ima. Dia akan duduk bersama teman-temannya di rumah pojok perumahan yang masih kosong dan bernyanyi lagu dangdut sambil menabuh kaleng kosong sebagai gendang. Lagunya Setangkai Mawar Merah dan lagu dangdut lain yang asing bagiku. Aku biasa menemani mbak Ima untuk duduk di seberang jalan, melihat apa yang Gatot dan teman-temannya lakukan. Mendengarkan lagu-lagu yang sama setiap hari. Tentu saja Mbak Ima juga menerima surat cinta dari Gatot. Walau mereka tak pacaran. Mbak Ima juga masih polos waktu itu sekalipun teman-teman SDnya sudah sangat dewasa dan bertubuh besar seperti anak-anak SMP SMA. Dia termasuk yang lambat pubernya.

Aku yang pindah sekolah dari kota ke desa ternyata mengalami hal yang mirip dengan Mbak Ima. Aku pikir desa maupun kota tidak menjadi persoalan di sini. Tinggal di pedesaan tidak membuat iklim percintaan anak SD berbeda jauh. Padahal saat itu belum ada gadget dan internet. Sinetron yang ada adalah Tersanjung beserta serial kolosal sebangsa Misteri Gunung Merapi. Telenovela yang diputar adalah Amigos yang tidak aku ikuti jalan ceritanya. Karena aku lebih suka Maria de Angel. Band idola adalah Westlife dan saat itu Britney Spears masih jadi mbak-mbak perawan yang sangat cute.

Iklim percintaan masa SDnya sama di dua wilayah gang punya budaya yang berbeda. Desa dan kota. Sehingga tampaknya kita harus menyingkirkan kotak-kotak antara desa dan kota.

Lha terus, anak-anak SD ini cinta-cintaan dapat pengaruh dari mana?

Lingkungan?

Mungkin saja.

Anak muda di sekitar juga pacaran. Jamanku SD dan jaman SD nya mbak Koen juga sudah ada hamil sebelum nikah, sama banyaknya seperti sekarang. Padahal jarakku dengan kakak pertamaku itu jauh. Saat aku SD, mbak Koen sudah kuliah S 1.

Jaman yang aku alami waktu masih kecil sebenarnya tak banyak berubah di masa kini. Bedanya, orang lebih mudah untuk merespon sebuah kabar dari jauh. Semua bisa jadi komentator dan punya klaim bahwa masa SDnya yang tanpa Social media serta Sinetron Ganteng Ganteng Serigala itu lebih baik.

Baiklah, Ganteng Ganteng Serigala memang sinetron sampah yang tak mendidik. Sama seperti tayangan lain berbentuk berita politik, reality show atau infotaiment itu. Tapi itu bukan jadi faktor utama kenapa anak SD sudah cinta-cintaan. 

Jika anak SD yang diberitakan media online itu menulis status percintaan di Facebook atau mengunggah foto mereka berdua, Mustofa dulu sering mencorat-coret jalanan dengan kapur yang dicuri dari kelas. Jalanan di depan sekolah atau di depan rumahku ditulisi, "Mustofa ♥ Ayu" besar-besar. Tak punya wall Facebook, jalanan pun jadi.  FYI aja buat yang belum tahu, panggilanku waktu masih kecil memang Ayu walau kini aku tak nyaman dengan panggilan itu.

Biasanya aku akan malu dan berusaha menghapus coretan kapur itu dengan sepatuku saat sekolah sudah agak sepi. Menggosok-gosokkan alas sepatuku ke jalanan, alih-alih menghapus coretan itu, sepatu-sepatu masa SD ku malah jadi tipis. Risiko keselamatannya juga tinggi. Aku harus hati-hati juga karena kendaraan yang lalu lalang banyak. Sekolahku lokasinya di pinggir jalan jalur Kacangan-Simo. Banyak bus dan truk yang lewat. Baik pembuat tulisan maupun yang menghapusnya sama-sama bertaruh nyawa saat melakukan itu. Aku kan tidak kepikiran menyiram coretan itu dengan air.

Aku tidak menanggapi Mustofa dan sebisa mungkin menghindarinya. Sampai Mustofa memutuskan berhenti naksir aku di kelas 4 SD. Jika saat jatuh cinta dia bilang aku cantik, pintar dan putih, saat mulai membenciku, dia mulai menemukan keburukanku. Mataku waktu SD sangat kero atau bahasa Indonesianya adalah juling. Juling ini cukup signifikan dalam penampilanku karena mataku sangat besar. Dia terus menerus bilang aku kero tiap kali kita berpapasan. Tingkahnya juga tak beda jauh sama orang dewasa masa kini yang saat ditolak cintanya, dia akan berbalik menjelek-jelekan atau membenci yang dulu pernah dicintainya.

Sekarang aku masih juling sedikit. Kadang-kadang kelihatan, kadang-kadang tidak. Dan aku tak akan menutup-nutupi itu. Karena aku tahu akan sia-sia bagiku untuk tampak menarik secara fisik. Yang jauh lebih cantik dari aku akan lebih banyak. Sehingga aku tak ingin terlalu berusaha keras dengan standar cantik yang ditetapkan oleh pasar atau masyarakat pada umumnya. Sartre juga juling, tapi tak berarti dia punya daya tarik kan?

Aku tak tahu dan tak ingin tahu Mustofa ada di mana sekarang. Sudah terlalu lama.


KEPONAKAN dan adik kandungku yang terakhir itu seumuran. Mereka sekolah SD kelas 5, di tempat yang sama, di desa yang menurutku agak pelosok, daerah Bangsri Jepara. Masalah SD mereka juga sama. Masih ada yang naksir-naksiran antar teman.

Adikku yang kata teman-temannya seganteng pemeran Kian Santang juga ada yang naksir. Tapi dia masih sangat kekanak-kanakan. Masih suka bikin senjata Palugada dari bola yang diisolasi dengan kayu, atau masih suka mengikat lehernya dengan sayap ala Superman, sambil mainan mobil Hot Wheels koleksinya yang banyak sekali.

Berbeda dengan keponakan perempuanku yang mulai puber. Dia sudah mulai tersipu-sipu jika aku goda soal pacar-pacaran. Sama usia, beda perkembangan kedewasaan. Keponakanku suka bilang padaku, "Khale, jangan godain Hana to le… Hana nggak pacar-pacaran sih… Tenanan ini le… Ini SMSnya dari temanku cewek kok le. Bukan dari cowok kok. Serius."

Aku tahu kadang dia berbohong, tapi aku melihat, apa yang terjadi padanya masih dalam batasan wajar.

COKLAT Valentine pertamaku dari cowok itu waktu SMP kelas 1. Namanya Lukman. Dia kasih Silver Queen besar berpita pink dengan secarik kertas bertuliskan, "I Love You." Dia menyerahkannya di depan kelasku saat pulang sekolah. Kelas kami berdampingan, aku kelas B, dia kelas C. Di rumah, aku makan coklat itu bersama mbak Umu dan mbak Ima yang tak dapat coklat dari siapapun. Kasihan ya mereka.

Aku juga tak menanggapi Lukman dan mencoba menghindar. Sampai dia lama-lama membenciku dan jadi orang yang sok nakal karena caper. Aku tak peduli. Aku sibuk beraktifitas. Menjahit boneka demi cari duit buat makan, sekolah, dan baca buku. Mana aku sempat mengurus hati orang.

Untuk cinta pertama, terjadinya di kelas 3 SMP. Aku tak mau sebut namanya karena kini kita berteman di Facebook. Dulu naksir dia karena sahabatku di tempat les terlalu sering cerita hal-hal keren soal dia. Jadi aku jatuh cinta dengan persona orang yang belum pernah aku temui. Kita SMSan, telepon hampir tiap hari, dan baru kopi darat waktu aku menjelang SMA kelas 2. Dia tidak pakai Social Media karena Friendster pertamanya aku yang bikinkan saat pertemuan ketiga kami. Kami tetanggaan kota. Aku di Solo, dia di Gemolong. Naksir dia sih sampai kuliah semester 2. Aku dulu suka menulis cerpen dengan tulisan tangan. Dia adalah inspirasi karyaku selama bertahun-tahun. Tidak pacaran juga karena kami gengsian. Jadi tidak ada yang mau nembak. Tapi itu tetap masa yang indah dan ada banyak hal lucu yang terjadi.

Aku masih anggap bahwa itu terjadi di masa puberku. Saat aku masih selucu monyet. Tidak pacaran, tapi sempat putus. Hal yang aneh sebenarnya. Tapi memang terjadi. Mau gimana lagi.

Walau belum ada social media,  jatuh cinta dengan orang yang belum ditemui ternyata juga bisa terjadi. Aku masih menemui orang yang heran jika ada yang jatuh cinta dengan orang yang belum pernah ditemui. Bagiku, itu adalah hal yang sangat mungkin. Kemungkinannya sama banyak dengan orang yang bertemu setiap hari, berinteraksi, bahkan berkencan, tapi tak juga saling jatuh cinta. 

Kemungkinan ditipu sama orang yang di social media juga sama besar dengan sikap manipulatif orang yang ditemui di dunia nyata. Kalau sial mah ada aja waktunya. Entah maya, entah nyata. Sama saja.


KADANG masih menunggu-nunggu, isu apa sih yang cukup bisa membuatku nggumun? Kadang aku bilang heran dengan ini dan itu, tapi bukan karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya, tapi karena hal itu sudah sering terjadi dan jadi heran mengetahui fakta bahwa kita seringkali gagal belajar dari masa lalu.

Berefleksi itu susah. Mengumpulkan kesadaran juga bukan hal yang gampang. Mungkin itu yang membuat banyak kesalahan berulang terjadi. Gagal mempelajari pola-pola kegagalan. Strategi hidup yang buruk dibiarkan tanpa komando akal yang sehat. Hasilnya? Hidup serba kocar kacir.

Kira-kira begitulah. Anggaplah ini sebagai catatan soal hari Valentine dariku.

Sabtu, 31 Januari 2015

Literasi dalam Berislam

Beberapa waktu lalu saya hadir di sebuah acara Sastra. Musisi yang hadir di acara tersebut menampilkan beberapa musikalisasi puisi yang menurut saya cukup bagus. Saya berbisik ke kawan yang duduk di sebelah, “Puisinya bagus ya?”

“Biasa aja sih sebenarnya.” Katanya,

Saya mempertajam pandang pandangan mata. Tak juga menemukan apapun yang biasa di lirik itu.

"Coba perhatikan bait dan caranya mengawali kalimat. Puisi itu ditulis dengan gaya yang mirip dengan puisi Sapardi yang ‘Aku Ingin’. Memang tampak lebih bagus setelah dimusikalisasi.”

Saya kembali memperhatikan bait demi bait yang terpampang di layar. Oh iya, benar juga. Kalau tidak diberitahu, mungkin saya tak akan menyadarinya. Kawan saya ini adalah seorang editor sastra yang sudah mendidik selera maupun kepekaannya terhadap karya yang benar-benar bagus. Saya tak punya kepekaan semacam itu karena selama ini hanya memosisikan diri sebagai penikmat sastra yang paling banter hanya memperhatikan diksi dan mencerna makna. Pertimbangan saya sebagai penikmat hanya sampai pada ketersampaian pesan dan kedekatannya dengan perjalanan hidup saya.

Pertimbangan seorang editor mencakup hampir segala aspek.

Ketika saya bilang padanya bahwa saya tak punya kepekaan semacam itu, kawan saya bilang, “Bisa dilatih kok.”

Dia benar. Kepekaan seperti itu bisa dilatih.

Seperti itulah literasi.

Kita mendidik diri kita dengan selera yang bagus. Meneliti dan membandingkan segala pilihan yang ada di depan mata. Memilih yang terbaik sambil menemukan alasan paling masuk akal kenapa kita sebuat itu bagus dan menyebut yang tidak kita pilih sebagai biasa, atau jelek.

Selama ini budaya literasi sering dikaitkan hanya seputar baca dan tulis. UNESCO sendiri membuat definisi bahwa literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengintepretasi, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan sesuatu dari sebuah teks ke berbagai variasi konteks. Khusus untuk bagian ini, terimakasih kepada ensiklopedia gratis kesayangan kita semua, Wikipedia.

Saya adalah orang yang meyakini bahwa dalam seluruh aspek hidup kita yang berisi pilihan-pilihan ini, pada dasarnya merupakan kerja-kerja literasi. Bahkan hingga ke hal yang paling sederhana sekalipun.

Misalnya, saat ingin makan Sate Ayam, pilihan nomer satu di kepala saya adalah Sate Pasar Santa. Saat ingin memilih OS komputer, pilihan utama saya adalah Linux diantara Windows dan Apple. Dalam memilih film yang akan ditonton di bioskop, biasanya pertimbangan rating, pemain dan sutradara muncul. Bahkan dalam memilih pasangan, hubungan sebelumnya akan memunculkan sebuah standar baru untuk hubungan selanjutnya karena kita sudah banyak belajar dari kesalahan. Untuk poin yang terakhir ini, maaf maaf aja ya buat yang belum pernah punya hubungan sebelumnya.

Saat membaca kata-kata Bill Kovach yang berbunyi, “Journalism is the closest thing I have to a religion,” saya langsung mengingat proses verifikasi hadits yang sangat rumit. Ada banyak teks, pendalaman bahasa, penalaran, verifikasi data dan sejumlah pekerjaan rumit lain yang hasil akhirnya menghasilkan kualitas hadits dengan label Shahih, Dhaif, dan Hasan. Adalah hal yang sangat biasa jika ahli hadist satu dengan yang lain akhirnya memberi label berbeda pada satu hadits. Ada ulama yang menilai bahwa satu buku hadits itu seluruhnya shahih, ada yang berpendapat dalam kitab yang shahih itu, masih terdapat hadist dhaif di sana sini. Ulama yang mengumpulkan dan mempelajari hadits telah melakukan kerja-kerja literasi, umat beragama yang mengonsumsinya juga melakukan proses literasi tersendiri dalam memilih versi ulama mana yang akan dijadikan pedoman hidup sehari-hari.

Belum lagi jika kita bicara mengenai penafsiran al Quran maupun fiqih dengan berbagai mazhab Islam yang berbeda. Perdebatan para Ulama hebat dari ribuan tahun yang lalu rasanya belum juga selesai karena perdebatan itu diteruskan oleh orang-orang awam yang tidak hobi membaca perdebatan keagamaan di masa lalu. Semua ilmu ini yang sumbernya teks ini disebut Ilmu Kalam. Ilmu kalam yang menyumbang banyak untuk perkembangan peradaban manusia ini kadang digunakan sebagai alat perang sebagai sebuah pembenaran alih alih sebuah kebenaran.

Perdebatan kalam ini seringkali melahirkan generasi dogmatis yang merasa paling benar saat menafsirkan teks. Bukan hanya merasa paling benar. Tapi mulai memaksa yang lainnya untuk mempercayai apa yang mereka imani.

Saya percaya bahwa kebenaran itu absolut. Tapi persepsi kita terhadap kebenaran inilah yang relatif. Tindakan ngotot merasa memegang tafsir paling benar ini sama saja dengan menyamakan kedudukan dirinya sendiri sejejar dengan Nabi. Karena hanya Sang Penerima Wahyu lah yang dianugerahi kecerdasan sebagai yang paling mengetahui maksud Tuhan dalam ayatNya.

“Aku melihat ada Islam di Barat tapi tak ada muslim. Dan ada Muslim di Arab, tapi tak ada Islamnya.” Muhammad Abduh melihat bahwa Islam secara general adalah sebuah kata sifat daripada kata yang merujuk pada Agama. Mereka yang berislam, belum tentu muslim.

Secara garis besar, Islam Mazhab apapun akan sepakat bahwa Islam adalah Rahmatallil ‘alamin. Saat beberapa orang membawa Islam yang ramah, yang lainnya membawa Islam yang lemah nan insecure.

Katakanlah, seseorang tak tahu ilmu hadist sama sekali untuk melakukan verifikasi shahih atau tidaknya sebuah hadist. Tapi ia memiliki budaya literasi. Jika menemui hadist Abu Dawud yang berbunyi, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka termasuk golongan mereka,” minimal ia tak akan panik takut keluar dari Islam secara otomatis begitu dia meniru kaum non Islam. Karena hadist itu biasanya digunakan sebagai dalil larangan untuk mengucapkan selamat atas hari raya untuk umat beragama lain, larangan pakai topi sinterklas, pemakaian Hijab dan sederet pelarangan yang dibuat dengan argumentasi yang dangkal.

Karena boleh atau tidaknya ucapan Natal sudah jadi tema perdebatan musiman setiap tahun, maka saya tidak akan membahasnya lagi. Menghabiskan energi. Lagipula orang yang melarang ucapan selamat itu belum tentu tahu kalau Hari Natal 25 Desember adalah hari rayanya umat Katolik, karena Kristen tidak menentukan tanggal pasti kelahiran Yesus selain bahwa Yesus lahir antara tanggal Desember-Januari.

Katolik juga tidak pernah menggambarkan Santa Claus sebagai sosok gemuk seperti yang kita lihat karena tokoh yang sebenarnya bernama Santa Nikolas ini aslinya adalah seorang bertubuh kurus yang membagikan hadiah pada anak-anak dari pintu ke pintu. Ada banyak gereja Katolik yang tidak menggunakan Santa Claus edisi gendut sebagai simbol natal. Sosok gendut dengan kereta salju, baju dan topi merah putih khas natal itu sesungguhnya adalah penggambaran Santa Claus di iklan Coca Cola pada 1881. Jadi, kalau ada pelarangan memakai topi Santa Claus dengan dalil hadist di atas, mungkin karena si Uni tidak ingin kalian jadi generasi Coca Cola. Barangkali kalau Pepsi yang akan membuat Santa Claus, pasti seragam Santa bukan merah putih, tapi biru.

Sekarang soal Jilbab. Jilbab ini sudah menjadi identitas banyak umat beragama lain seperti Biarawati Kristen Ortodoks Yunani, Biarawati Kristen Koptik, Yahudi Ultra Ortodoks, Biarawati Katolik, beberapa Zoroaster dan kelompok beragama lain yang menggunakan tutup kepala serupa model hijab walau disebut dengan nama yang berbeda-beda. Sama halnya seperti mbak-mbak Hijabers yang tampil dengan berbagai gaya. Lalu jika hadist di atas menjadi sandaran hukum, apakah lantas orang Islam itu serupa Yahudi, Nasrani dan Zoroaster? Takut nanti kurang Syar’I jika hijabnya kurang begini dan begitu. Tentu boleh-boleh saja memakai jilbab model apapun. Tapi jika sampai melabeli yang ini Syar’I dan yang itu tak Syar’I, maka seseorang sudah menganggap dirinya yang paling tahu tentang maksud Tuhan. Lagipula, yang diajarkan dalam Islam adalah kesederhanaan seperti yang dicontohkan oleh keluarga Nabi. Dalam hal ini, tidak ada perdebatan karena semua sepakat bahwa Nabi tidak pernah bermewah-mewahan.

Terlalu mudah diprovokasi dengan isu adalah salah satu ciri lemahnya kemampuan literasi seseorang. Terlalu cepat menghakimi tanpa jalur silogisme yang benar adalah ciri kebodohan.

Beberapa argumentasi sekilas terlihat sangat ilahiah karena bersandar pada dalil-dalil. Jika punya kendala teknis seputar teks sehingga tidak bisa mencari dalil bantahannya, maka masih bisa digunakan jalur lainnya. Lagipula, bisa bahasa Arab dan bisa mengakses banyak kitab penting dalam agama sama sekali tidak menjamin bahwa seseorang akan berpikir dengan silogisme benar soal agama. Buktinya, ada Fatwa yang dikeluarkan oleh kumpulan Ulama Saudi dan Dubai yang dirilis Febuari 2014 lalu soal larangan untuk tinggal di Planet Mars. Mereka bilang tinggal di Mars itu sama saja dengan usaha bunuh diri dan bunuh diri dilarang oleh agama. Itu pun baru satu dari 2 juta fatwa yang diproduksi ulama tersebut sejak 2008.

Lebih baik susah-susah belajar supaya bisa bertindak simple daripada malas belajar tapi gampang dibikin ribet.

Almarhum Gusdur adalah contoh Ulama yang mau belajar dengan tekun untuk bisa bertindak dengan simpel. Saya membayangkan, jika beliau sampai dengar fatwa itu, Ia akan tertawa sambil berkata, “Kamu mau tinggal di Mars? Gitu aja kok repot!”

Agama yang saat ini kita pilih adalah hasil dari belajar, merenung, berefleksi, mengkaji, mengomparasikan satu dengan yang lainnya, dan terus disesuaikan sesuai dengan semangat jaman

Jika Pram bilang Hidup itu sederhana, yang rumit hanya tafsir-tafsirnya. Maka saya ingin bilang bahwa Beragama itu sederhana, yang rumit hanyalah tafsir-tafsirnya.

Senin, 26 Januari 2015

Di antara Islam yang Lebih "Islam"

Seorang kawan berkata padaku kalau dia sedang berminat untuk jadi mualaf. Dia bilang, ajaran al Qur'an sebenarnya bagus. Makanya dia tertarik.

Kami berdiskusi soal keinginannya itu, walaupun tidak lama karena keterbatasan waktu dan padatnya aktivitas.

Di sini, aku menuliskan tanggapanku terhadapnya sambil menambahkan hal-hal yang belum sempat kita bahas saat itu. Kemudian mengirim ini ke emailnya. Tentu saja, aku harus merahasiakan identitasnya demi keamanan.

--

Seperti pembicaraan kita saat itu, aku masih memintamu untuk memikirkan ulang keinginanmu sebagai mualaf sebelum mempelajari betul-betul ajaran Islam.

Saat seseorang masuk ke dalam sebuah agama, katakanlah Islam, akan ada orang-orang yang mengajak untuk lebih berislam daripada orang Islam lainnya. Sebagai contoh, fenomena yang ada di 2 mazhab besar Islam. Di tubuh Sunni Ahlussunah Wal Jamaah dan Syiah Imamiyah.

Ketika seseorang memutuskan untuk jadi Sunni, maka akan ada orang yang mengajak untuk meninggalkan segala bid'ah, ada yang mengajak kita untuk mendirikan negara Islam, ada yang sedikit-sedikit mewaspadai aliran agama lain yang dianggap sesat, ada yang mengajak berjihad dengan pedang, ada yang mengatur cara berpakaian sedemikian ketat dan ada juga yang berislam dengan tradisi-tradisi yang ada sesuai dengan kultur masyarakat. 

Ada yang lebih sibuk membangun masjid di mana-mana sedangkan banyak umat lainnya miskin tanpa tempat tinggal. Mereka tidak boleh tinggal di Rumah Tuhan itu, mungkin dipikirnya Tuhan akan marah kalau ada orang miskin yang tidur di sana. Tapi, jika ada umat agama lain membantu orang miskin beragama Islam, akan ada isu soal Kristenisasi, Hinduisasi, Budhaisasi dan lain-lain yang menyeruak. Serba salah ya? Hal ini kelihatannya buruk, kamu boleh menduga bahwa mungkin saja hal ini tidak ada dalam Islam yang sebenarnya. Tapi fenomena ini memang ada di Islam. Apa boleh buat?

Untuk perempuan, Islam akan tampilo lebih rumit lagi. Setelah menyatakan keislamanmu, kamu akan diajak banyak orang untuk berjilbab. Berjilbab saja tidak cukup, akan ada yang mengajak lagi untuk berjilbab syar'i dengan kain yang lebih panjang. Jika kamu menuruti hal itu, tetap akan ada saja ajakan untuk lebih "Islami" lagi dengan penggunaan cadar.

Apakah sudah selesai? Tidak. Ada kok yang melarang perempuan untuk memakai kosmetik jika tidak ada cap halal MUI nya sekalipun lembaga MUI ini bukan lembaga yang cukup kredibel sebagai rujukan dalam beragama. MUI tak puas menjadi lembaga yang memberi cap halal, karena mereka juga memberi cap sesat juga untuk aliran tertentu. Ada juga yang justru melarang sama sekali penggunaan kosmetik kecuali di depan suami.

Dari itu semua, ada NU yang menyampirkan kerudung saja sudah cukup untuk bisa disebut muslimah. Tapi kamu lihat sendiri, ada banyak orang Islam yang tidak berjilbab dan mereka masih muslimah.

Jika memutuskan untuk menjadi Syiah, kamu akan disodori versi sejarah yang berbeda dengan buku sejarah versi umum. Setelah mencintai Nabi dan keluarganya, akan ada saja kelompok yang menganggap bahwa kamu belum Syiah. Sekalipun ada puisi dari Imam Syafii yang bilang "Jika mencintai keluarga Nabi dianggap Syiah, maka saksikanlah bahwa aku adalah Syiah." Kamu akan diajak belajar Fiqih. Fiqih ini akan mengantarkanmu pada pilihan marja'. Marja' ini adalah ulama yang menjadi rujukan hukum fiqih sehari-harimu. Tak perlu pusing. Semuanya bisa dipelajari.

Jika kamu mencintai Nabi dan Keluarganya, akan ada saja golongan Syiah yang menganggap bahwa kamu belum benar-benar Syiah jika belum bermarja'. Ada lagi yang bahkan menghukumi bahwa kamu itu belum Syiah jika belum berwilayatul Faqih pada Rahbar yang di Iran sana. Belum lagi, Syiah yang tidak sekuler ini membuatmu punya sikap politik seperti anti Amerika, pro Palestina, Anti Zionist, mendukung Hizbullah dll. Seperti halnya di Katolik, Syiah juga menganut hierarki keilmuan. Kamu akan melihat bahwa umat Syiah yang lebih Syiah itu akan menurut total pada ustad, ulama, marja' dan lain-lain. Kamu akan jarang menemui ada orang Syiah yang memiliki pandangan berbeda dengan ustad/ulama yang diikutinya.

Jika orang Sunni sibuk membangun masjid, beberapa orang Syiah akan sibuk berziarah ke luar negeri, terutama Irak dan Iran dengan biaya ribuan dolar. Kita harus maklum karena barangkali mereka tidak tahu bahwa ada orang miskin yang barangkali lebih membutuhkan uang mereka. Orang-orang miskin ini adalah orang-orang yang dicintai oleh Nabi dan para Ahlulbaytnya.

Filsafat juga ada sebagai kekayaan intelektual dalam peradaban Syiah. Kebanyakan orang bilang, filsafat Islam itu lebih susah dari filsafat barat. Makanya banyak orang Syiah sendiri malas belajar filsafat. Lebih suka sama pelajaran Sejarah dan Fiqih supaya bisa dipakai debat. Kalau debat lalu menang kan lebih mudah disebut pintar daripada harus susah-susah belajar filsafat. Al Qurannya sama kayak Sunni kok, jangan khawatir. Yang kamu baca di internet soal Al Qur'an Syiah dan Sunni berbeda itu salah semua.

Kamu pusing sama semua soal Sunni dan Syiah ini? Tenang. Nanti bisa dipelajari. Itu pun kalau kamu penasaran.

Beberapa ulama sudah mengupayakan supaya ada persaudaraan Sunni dan Syiah. Mengecilkan perbedaan, memperbanyak persamaan. Namun, ada juga ulama yang justru membuat Sunni dan Syiah ini ribut terus. Semuanya juga mendaku sebagai Islam yang benar. Yang katanya Rahmatallil alamin. Islam yang damai dan penuh kasih sayang. Islam cinta. Katanya.

Tidak adanya dialog dan niat mempelajari ajaran agama tertentu membawa prasangka aneh-aneh pada umat beragama. Akhirnya mereka mudah untuk diprovokasi dengan kebencian dan pikiran sektarian.

Nah, kalau kamu mau jadi mualaf, kamu harus belajar tentang ini semua. Kamu juga harus memastikan bahwa ajaran lamamu sudah benar-benar dipelajari dan kamu menemui kebuntuan di dalamnya. Soalnya, maaf saja, ada banyak orang memutuskan keluar dari agamanya hanya karena trauma sama tingkah orang-orang beragama dalam lingkarannya. Sehingga dia ingin ganti suasana dengan lingkaran barunya.

Aku sih yakin ya, antara ajaran agama dan pengikut agama itu adalah hal yang berbeda. Misalnya tidak ada ajaran agama yang memperbolehkan korupsi. Tapi kok ada petinggi agama yang korupsi? Itu terjadinya karena dia tidak menjalani konsekuensi logis keberagamaannya. Bukan karena dia sebagai penganut agama tertentu.

Suatu hari, jika kamu sudah mulai belajar ajaran Islam, kamu akan menemui banyak hal-hal baik yang diajarkan di dalamnya. Seperti halnya jika kamu belajar agama lainnya. Kamu juga bisa mencocokkan apakah ajaran yang ada bisa diterapkan umatnya. Jika kamu menemui bahwa hal-hal luhur dalam ajaran agama ternyata tidak bisa diterapkan umatnya, agama ini nasibnya akan seperti paham-paham ideologi yang akhirnya dianggap konsep utopia semata.

Bukannya menghalangimu untuk menjadi mualaf. Tapi di Islam, beberapa mualaf lebih sibuk menjelekkan agama lamanya daripada belajar Islam dengan baik. Ada juga yang hobi mengajak anak-anak muda untuk mendirikan negara Islam karena konon nasionalisme itu tak ada dalilnya sambil jualan hijab syar'i tanpa selfie. Ada juga mualaf yang hobi mengomentari persoalan politik di sosial medianya sekalipun dengan segambreng fallacy yang hanya bisa diketahui oleh orang yang mau repot-repot belajar logika.

Ada juga mualaf keren seperti Frithjof Schuon dan Rene Guenon yang mengabdikan diri sepenuhnya pada filsafat dan tasawuf. Mereka bisa bicara seni, tradisi, kosmologi, cinta, dan lain-lainnya. Pengetahuan mereka indah sekali.

Kamu sendiri mau jadi mualaf seperti apa? Ada banyak pilihan. Kamu memang bebas memilih, tapi kamu tak bisa bebas dari konsekuensinya.

Kalau ini membuatmu bingung, maka kamu tidak sendiri. Ada banyak orang Islam yang lahir di keluarga Islam dan memeluk agama Islam sejak kecil yang masih bingung mereka ada di Islam sebelah mana. Jika menyebut Islam yang biasa-biasa saja, mungkin yang dimaksud adalah Islam yang biasa ada di masyarakatnya. Jika masyarakatnya kebanyakan adalah NU, maka dia jadi Islam NU, jika kebanyakan di sana adalah Muhammadiyah, maka dia adalah Muhammadiyah. Mendefinisikan Islam yang biasa-biasa saja sendiri agak sulit bagi semua orang. Beberapa orang tak sempat memilih mazhabnya karena hanya tahu satu mazhab dalam beragama. Jika dia lahir di Iran yang kebanyakan Syiah, dia akan jadi Syiah dengan tata cara shalat seperti Syiah. Jika dia lahir di Indoneesia uang kebanyakan Sunni, maka dia akan jadi Sunni dengan tata cara shalat ala Sunni. Kebanyakan orang beragama sesuai dengan agama yang dianut orangtuanya.

Berpikir, merenung, berefleksi, kemudian mengaplikasikannya ke kehidupan sehari-hari memang bukan hal yang mudah. Tapi jika pengikut agama tak melakukannya, maka dia hanya akan jadi bigot-bigot yang mendaku sebagai pemilik sah kebenaran.

Bayangkan saja, apakah Nabi Muhammad akan membuat umatnya bingung dengan detail-detail keagamaan yang ada saat ini? Apakah beliau jadi orang yang mudah mengkafirkan orang lain ataukah sosok penuh kasih yang menggerakkan umat untuk berpihak pada orang miskin. Bayangkan jika Nabi Muhammad hidup di jaman sekarang, apakah Ia akan mengajak umat sibuk dengan ritual ibadah pribadi yang penuh aturan halal haram atau justru mengajak umat mengurusi hal-hal terkait perubahan sosial di masyarakat? Jangan-jangan malah keduanya?

Aku lampirkan gambar satire cover majalah Charlie Hebdo yang kontroversial itu. Di sini seolah Nabi berkata, "Susahnya punya umat yang bodoh…" Kamu bisa menyimpulkan, apakah gambar ini menghina Nabi Muhammad ataukah menyindir pengikut ajaran Nabi Muhanmad. Kalau aku sih tersindir. Rasanya mak jleb gitu deh. Soalnya sebagai pengikut Nabi Muhammad, aku pun masih bodoh dan payah. Aku juga khawatir kalau Nabi Muhammad benar-benar malu punya umat sepertiku. Soal larangan penggambaran sosok Nabi, itu hal yang debatable dalam Sunni maupun Syiah. Jika aku menggambar sosok unyil berudel bodong dan menuliskannya sebagai sosokmu, bukan berarti itu memang gambaran tentangmu. Masak kamu mau marah, sensitif amat. Bukankah puncak dari komedi adalah menertawakan diri sendiri? Aku memilih untuk membela Nabi dengan menjaga nama baiknya sebagai penyebar kedamaian semampuku daripada sebagai pengecam atau pembunuh orang-orang yang menghinanya.

Selamat menjelajah ya…

Salam,
Banu

Rabu, 14 Januari 2015

Kongres Ketuhanan

Atheist Rasionalist kepada Blaise Pascal :
Tuhan itu tidak ada. Ibadah itu sia-sia.

Blaise Pascal kepada Atheist : Kalau aku mati, dan ternyata di akhirat tidak ada Tuhan, aku tidak rugi karena telah beribadah dan berbuat baik sesuai dengan ajaran Tuhan. Dengan mengimani Tuhan, nanti saat mati aku bisa bergabung denganNya. Dengan berbuat baik, aku membahagiakan orang-orang disekitarku. Berbeda denganmu, jika kau mati dan ternyata di sana ada Tuhan, maka kau rugi karena terlanjur tidak pernah beribadah kepadaNya.

Polytheist kepada Pascal : Baiklah Pascal, kita sepakat bahwa Tuhan itu ada. Tapi, kamu tetap bakalan tekor. Coba kamu pikir, bagaimana kalau ternyata kamu menyembah Tuhan yang salah karena Tuhan yang kamu pikir menjanjikan keselamatan itu cuma berdiam di satu gereja? Jangan salahkan siapapun kalau akhirnya kamu stuck sama satu Tuhan yang belum tentu bener itu. Kalau sampai salah sasaran pas nyembah Tuhan, pas kamu meninggal gabungnya bakal sama orang yang kamu sebut Atheist Rationalist itu. Tuhan yang sebenarnya bisa jadi ngerasa nggak pernah kamu sembah. Mendingan aku dong, nyembah banyak Tuhan sambil berbuat baik sesuai dengan perintah para Tuhan. Setidaknya aku memperkecil prosentase salah sasaran pas beribadah ke Tuhan. Siapa tahu dari sekian banyak Tuhan yang aku yakini, ada 1 yang benar.

Scriptualis kepada Mereka : Guys Guys, jadi gini guys. Nggak perlu ngobrolin Tuhan. Dia itu Maha Besar. Lebih besar dari otak dan jangkauan pikir kalian. Nah, udah pada bisa baca kan? Udah, imani aja apa yang ada di kitab suci. Iman akan menyelamatkan kalian dengan sendirinya. Nggak usah mikir berat-berat. Nanti pada gila. Nggak perlu mempermasalahkan hal yang udah jelas dalilnya. Kitab nggak mungkin salah. Itukan SabdaNya. Adanya alam semesta ini itu udah jadi bukti kuat kalau Tuhan itu ada.

Habermas kepada Scriptualis : Dalilnya jelas gimana? Menurut lu fungsinya ilmu hermeneutik itu apa? Ya karena tafsiran sebuah teks itu nggak tunggal. Harus relevan sama konteks saat teks dibuat, dan ditinjau sama konteks kekinian.

Agnostik kepada Mereka : Ada apa sih ribut-ribut soal Tuhan. Gini ya, nggak ada yang benar-benar bisa memverifikasi soal ada atau nggaknya Tuhan. Nggak ada yang menjamin bahwa teks udah ngelewatin proses verifikasi yang bener. Berbuat baik aja sih. Hidup damai sama alam. Coba sini tunjukin siapa yang udah beneran ketemu sama Dia? Nggak ada kan? Percaya sama Tuhan itu hal personal, kalau beriman ya beriman aja, nggak usah koar-koar. Itu pengalaman spiritual pribadi kalian. Nggak usah norak deh ya. Namanya juga pencarian. Soalnya, kalau ada yang ngaku punya otoritas soal Tuhan apalagi sampai berani bilang udah ketemu Tuhan dan segala macemnya, artinya dia apa Freud…?

Freud kepada Agnostik : …orang gilak! Plus kayak anak kecil cemen yang dikit-dikit butuh ngadu ke Bokapnya.

Dijah Yellow kepada Mereka semua : Say No Dangdut, No Agnezmonica, No Raisa, No Ayu Ting Ting, No Syahrini, No Yuna, Say no to them. Say yeah to Dijahyellow I'm Hodijah I'm Not Artis

Freud kepada Dijah Yellow : Diaaaaam!!!

Felix Siaw kepada Mereka : Makanya, saya bilang juga apa, Khilafah adalah Solusi segala permalasahan ini!! Khusus buat Freud, "Udah, putusin aja!"

Yusuf Mansyur untuk Mereka : Yang Solusi atas semuanya adalah Sedekah. Jadi, tolong itu kotak kencrengnya diputerin dulu. Insyaallah Tuhan akan melipat gandakan kebaikan ente semua.

Freud kepada Yusuf Mansyur : Gila apa! Siapa yang mau ada double Dijah Yellow di muka bumi ini. Satu aja udah berisik gini. Ada masalah sama alam bawah sadarmu tuh!

Determinis kepada Mereka : Melihat kalian debat begini indah ya. Kalian nggak sadar apa kalau sesungguhnya debat ini adalah bagian dari takdir Tuhan. Tuhan sudah merencanakan hal ini. Kayaknya aja ini keliatan panas, tapi yakinlah bahwa ada rencana yang indah dibalik ini semua.

Free Will kepada Determinis : Ya terserah kalian aja mau dilanjut apa nggak bahasannya. Kan hidup itu pilihan. Tanggung konsekuensinya aja sih. Kalau selesai ya selesai aja. Tuhan mah nggak ikut campur dalam hal ini. Tuhan punya hal yang lebih besar dan penting untuk dikerjakan daripada soal-soal printilan cem kongres ini. GR banget deh dikit-dikit ngerasa urusannya diikut campurin sama Tuhan. Ntar kalau kena musibah nyalahin Tuhan pulak! Kek gitu mah udah hukum sebab akibat. Kalian bebas milih kok. Kalau mau lanjut ya monggo, tapi konsekuensinya kalau lanjut bahas Tuhan apa Goen? Yang pernah kamu bilang itu lho…

Goenawan Mohamad pada Free Will : …Tuhan dan hal-hal yang tak selesai?

Free Will kepada Goenawan Mohammad : Nah! Iya. Itu!

Sufi pada Mereka semua: Hadirin sekalian, tidak perlu bertengkar. Sesungguhnya Tuhan adalah Cinta. Cinta adalah Tuhan. Apakah kalian bisa merasakan Cinta? Jika tidak, maka hati kalian telah keras. Masih ada jalan untuk melembutkannya kembali.

Chu Pat Kay kepada Sufi : Cinta… Deritanya tiada akhir…

Band Sisir Tanah kepada Chu Pat Kay : Yang wajib dari cinta adalah mesra; Yang wajib dari mesra adalah rasa; Yang wajib dari rasa adalah luka.

Abdul Hadi WM kepada Mereka : Izinkan saya berpuisi untuk menenangkan ini semua; Tuhan, Kita begitu dekat; Sebagai api dengan panas: Aku panas dalam apiMu;

Tukang dagang Minuman : Panas pak? Mangga pak, Mijonnya Mijon Mijon. Yang dingin, yang dingin. Mijonnya pak.

Perenialis pada Mereka : Begini ya kawan-kawan. Kebenaran akan Tuhan itu adalah sebuah konsekuensi logis Cosmos. Dia bagai sumber cahaya, yang sinarnya ditangkap dengan media yang berbeda oleh para umatNya. Apapun medianya toh sumbernya tetap Tuhan. Jika ditanya bagaimana kita bisa tahu mana media itu menampung terang yang berasal dari Tuhan dan mana yang terangnya itu dari bohlam abal-abal? Jawabnya, cari yang ada kesamaan tradisi antar satu media dengan media lainnya. Jadi, pintar-pintar kalian ajalah pilih media penyembahan Tuhan kayak apa. Tergantung kecocokan jiwa kalian aja terhadap yang kalian anut. Orang intelektual itu pasti spiritual. Kalau kalian emang kaum intelek, pasti yang kayak gini udah selesai. Kalau landasan berpikirnya masih justifikasi kitab suci, dijamin deh, sampai kapanpun akan terus berpolemik.

Postmodern kepada Mereka semua : Coba ngana pikir, ngapain kita buang-buang energi ngebahas beginian? Lalu dapat apa di sini? Kalian nggak akan dapat kesimpulanya. Kalaupun dapet kesimpulannya, lalu apa? Setelah ini semua selesai, buat apa? Udah sih, kalian semua itu bener menurut kalian. Segala sesuatu itu sifatnya relatif. Hargai aja.

Gusdur kepada Mereka Semua : Tuhan tak perlu dibela. Gitu aja kok repot!

Selasa, 23 September 2014

Dini Hari, di Kafe

Mahasiswa Filsafat : Di kampus lu ada KKN nggak sih?
Mahasiswa Teknik : Ada, tapi kalau jurusan gue sih namanya kerja praktek, di perusahaan.
Mahasiswa Filsafat : Gue nggak pernah ngalamin hal macam itu.
Mahasiswa Teknik : Oh, di kampus lu nggak ada KKN ya?
Mahasiswa Filsafat : KKNnya sih nggak ada, tapi jurusan tertentu emang ada kerja praktek, magang gitu.
Mahasiswa Teknik : Terus jurusan elu ngapain dong?
Mahasiswa Filsafat : Kita mah kerjaannya melayani Tuhan dan prentilan-prentilan di sekitarnya. Bukan melayani company.
Mahasiswa Teknik : Anjrit!
Mahasiswa Filsafat : *nyeruput moccacino*

credit

Senin, 25 Agustus 2014

Bukan Remis

Butuh waktu lama sekali untuk bisa menjawab pesanmu.

Aku harus berguling-guling dan membolak-balik ratusan lembar buku agar dapat menemukan kata-kata yang cukup pantas untuk disalin. Mencoba berpikir keras, menangis -kadang-, mengutuki diri sendiri, memaksa otak untuk memanggil ingatan, menuliskannya, menghapusnya lagi karena kata-kata tersebut tampak terlalu drama. 

Bahkan untuk menjawab pesanmu pun, aku tak cukup baik. Apalagi untuk bisa memahamimu, mematuhi selusin aturan main yang kau tentukan.

Aku seperti seorang gadis yang sedang duduk sendirian. Kelelahan dan mencoba menghindari tatapan orang-orang dengan segala konsensus yang mereka buat. Dari mulai keluarga, agama, sosial, dan segala hal yang terdiri dari kumpulan otoritas yang seringkali dianggap berhak untuk menentukan sebuah standar kepantasan berpikir dan bersikap.

Akhirnya kau datang. Berjalan lurus ke arahku dengan sebuah papan catur di genggaman. 

Kau tahu bahwa catur dan buku adalah sarana paling ampuh untuk membunuh kebosanan yang mencekam.

Aku pernah bilang padamu, membaca dan bermain catur adalah aktivitas yang sangat menyenangkan bagiku. Rasanya aku tidak keberatan jika harus melakukannya berulang-ulang.

Lewat buku kita bisa membangun dunia dan imaginasi kita, kita bisa melarikan diri dari kehidupan-kehidupan yang tidak kita inginkan. Melalui catur kita bisa membangun kerajaan kita sendiri. Bertarung sampai akhir dengan pasukan yang loyalitasnya tidak diragukan lagi. Tidak ada politisi di dalam catur yang memuakkan. Kita hanya punya para martir. Tidak ada prajurit pengecut di sana, kita cuma punya pemberani.

Kau menata biji catur itu dan mempersilakan aku memainkannya lebih dulu. Iya, kau memberiku warna putih dan kau adalah hitam. Tidak ada metafora soal baik atau buruknya putih dan hitam dalam catur. Kau dan aku sangat paham bahwa perbedaan warna hanya sebagai pembeda.

Aku pikir, relasi dalam catur mengajarkan kita prinsip kesetaraan. Ada dua kubu biji catur dengan kekuatan yang sama. Setidaknya kita sudah memulai permainan ini dengan sangat baik.

Aku memajukan satu bidak catur di depan ratu satu langkah. Kau tahu, aku adalah orang yang sulit mengubah keadaan. Aku lebih senang jika sesuatu itu tidak banyak berubah dari pola awal. Jalan pikiranku memang begitu. Aku khawatir sekali kau telah berhasil menemukan koneksi keduanya dan menebak langkahku. 

Kau memajukan bidak di depan kudamu. 

Seharusnya aku mengeluarkan Menteri atau Rajaku untuk mengincar Benteng atau sekedar memporak-porandakan pertahananmu di sana. Tapi aku juga sudah menebak bahwa kau akan tahu apa yang aku incar. Aku memilih strategi lain. Aku hanya ingin mengeluarkan kudaku untuk mengancam kerajaanmu. Teknik Skak antara Ratu dan Benteng atau Ratu dengan yang lainnya adalah salah satu hal favoritku.

Saat aku melangkahkan kudaku, kau berkata, "Kau harus menggerakkan minimal 4 bidakmu dulu sebelum menggerakkan kuda itu."

Aku belum pernah mendengar aturan main seperti itu. Aku tahu bahwa sangat aneh menggunakan aturan-aturan di permainan yang kita suka. Aku punya pilihan untuk memprotes maupun membatalkan permainan. Tapi aku tak ingin sendirian. Aku bisa mati bosan. Aku terlalu takut jika kau akan sigap mengemasi papan caturmu dan melangkah pergi begitu saja begitu aku tak setuju dengan caramu. 

Rasanya kau seperti berkata, "Aku yang membuat kita memainkan permainan ini. Aku lah yang boleh membuat aturannya."

Tapi, di dalam hatiku, aku yakin bahwa kau tidak pernah bermaksud untuk mempersulit keadaanku atau menambah bebanku. 

Aku juga tidak tahu darimana datangnya pikiran-pikiran baik tentangmu dalam keadaan seperti ini.

Baik. 

Aku menggerakkan lagi bidak di depan Ratu. Dua langkah. Tapi kau bilang, dalam permainan kita kali ini, kau tidak akan mengijinkan ada bidak yang melangkah dua langkah di permulaan. 

Aku mengangguk patuh sekalipun aku tidak mengerti mengapa permainan ini jadi begitu sulit. Namun aku percaya padamu bahwa kau hadir untuk membantuku hindari tindakan melamun yang sia-sia. 

Kau menjalankan bidakmu yang lain. Di depan Ratu. Pada permainan catur normal, aku akan mulai menggerakkan Rajaku untuk meneror pasukanmu. Tapi aku tak punya pilihan lain selain mematuhi aturan main atau permainan selesai tanpa penentuan pemenang. 

Bukan soal remis yang aku maksud. Yang aku maksud adalah salah satu dari kita memutuskan untuk berhenti begitu saja tanpa akhir yang jelas.

Setelahnya, masih ada selusin aturan main lain yang gagal aku pahami mengapa. Tapi aku ingin tetap bermain sampai akhir. Jika prajurit catur ini dicipta untuk jadi martir, mengapa aku harus mudah menyerah?

Tapi, yah... Sebenarnya, aku duduk di sini untuk menghindari otoritas-otoritas yang menyudutkanku. Tapi aku tak punya mental yang cukup kuat untuk meninggalkan segalanya yang ada di sekitarku. Aku tidak seberani itu. Aku tidak seberani kau untuk meninggalkan segala yang tidak berpihak padamu. 

Aku memang bukan pemberani sepertimu. Aku begitu takut benar-benar sendirian. Aku takut dengan masalalu dan tidak tahu bagaimana caranya menghadapi masa depan. Andai saja ada kesempatan untuk remis saat terpojok…

Kau, tiba-tiba saja hadir jadi otoritas baru dalam hidupku. Aku begitu ketakutan untuk tidak bisa patuh padamu. 

Aku melanggar banyak peraturan otoritas yang membuatku tersingkir, aku tak bisa dipaksa patuh. Aku hanya sanggup menjalani satu dua aturan tapi selalu menolak untuk tunduk sepenuhnya pada itu. Otakku selalu bertanya soal alasan-alasan dibalik adanya aturan-aturan itu. Sekuat mungkin otoritas itu, aku selalu punya hal lain yang bisa aku tawarkan sekalipun aku tahu bahwa responku akan diganjar dengan serangkaian penolakan-penolakan.

Kau masih jadi orang pertama yang paling ingin aku hubungi saat keadaan terlalu menyakitkan untuk dijalani. Kau begitu heroik dalam segala hal, sebaliknya, aku begitu lemah dalam segalanya. 

Kau lelah menunggu aku yang tak kunjung menggerakkan bidak. Kau lelah dengan aku yang tak ingin mengakhiri permainan tapi tak ingin meneruskan permainan ini juga. 

"Bisakah kita menyingkirkan papan catur ini dan mulai membaca buku bersama saja? Siapa tahu, nantinya akan ada sesuatu yang bisa kita tulis bersama-sama." Kataku putus asa.

Kau memandangku dengan tatapan tak setuju, kau mengangguk pelan. Tapi bukan tanda setuju. Tanpa mengemasi papan catur itu, kau berdiri, membelakangiku, dan melangkah pergi.

Kau memintaku untuk mengerti. Tapi, anggap saja aku tak cukup cerdas untuk melanjutkan permainan.

Pada akhirnya, kita harus saling memaklumi dan juga memaafkan. 

Jika harapan akan berbuah kecewa, aku tetap ingin kecewa dengan cara yang indah, dengan sebuah harapan, bahwa, di suatu hari nanti, kita masih akan bertemu. 

Kelak.

Sekalipun di dunia yang berisi kenyataan-kenyataan, yang tak mengizinkan harapan untuk tumbuh…