Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2017

Resep Japanese Curry Alias Kare Jepang Sederhana

Para penggemar setia Naruto, pasti akan tahu makanan kesukaan Rock Lee dan Guy Sensei. Jika Naruto suka sekali sama Ramen, Ino-Shika-Cho suka Barbaque, maka Rock Lee dan Guy Sensei itu sukanya sama Curry of Life.

Episode soal Curry of Life ini muncul di session 7 episode 4. Di episode itu, baru akan diketahui kalau Neji Hyuga (RIP Neji TT__TT) tidak suka makanan pedas. Sebaliknya, Rock Lee suka sekali makanan pedas. Naruto sih kepedesan ya, tapi dia masih bisa makan sampai habis.

Curry of Life ini pernah menyelamatkan Rock Lee. Jadi, seperti biasa, si Rock Lee latihan lari beribu-ribu kali mengelilingi Konoha. Saking capeknya, dia tumbang di dekat warung Kare. Karashi, cucu si pemilik warung Kare menyelamatkan Rock Lee dengan menyuapinya Kare super pedas berwarna merah menyala.

Begitu makan Kare tersebut, Rock Lee sadar dari pingsannya dan semangat latihan lagi keliling kampung. Kare itu adalah makanan terenak yang pernah ia makan seumur hidup. Ia sangat percaya bahwa hanya orang baiklah yang bisa memasak Kare seenak itu.

Saat menonton adegan itu, aku juga jadi pengen makan Jappanese Curry yang pedas a la Curry of Lifenya Rock Lee. Tapi, karena tidak semua bahan untuk Kare Jepang ada di kostan, maka aku memilih untuk memasak dengan bahan a la kadarnya dengan rasa yang tak jauh beda dengan Kare di Restoran Jepang.

Dari berbagai percobaan, aku sih yakin bahwa Kare bikinanku lebih enak dari Kare di resto Jepang. Kekentalannya pun sama kok. *Kyaaaa, asal klaim.

Minggu, 09 April 2017

Pengalaman Waxing untuk Pertama Kali demi Melawan Trauma.

Warning! Postingan ini tidak cocok untuk kamu yang judgemental dan anti sama awareness seputar kesehatan reproduksi dan kebersihan intim kewanitaan. Tidak cocok juga untuk yang punya otak ngeres tiap kali membahas selangkangan perempuan. 

Hai hai...

Maaf ya jadi jarang ngeblog. Nulis setiap hari di tempat kerja membuatku jadi malas menulis untuk diri sendiri nih. Padahal menulis untuk diri sendiri adalah salah satu cara untuk menyehatkan jiwa. Yhaaaa...

Kali ini, aku mau cerita pengalamanku yang seru dan aku sarankan para perempuan mencobanya juga.

Yak! Kayak di judul. Aku mau bagi pengalaman pertamaku waxing. Nggak cuma bagian underarms alias ketyperi, tapi juga half legs alias betty dan vagina pake Brazilian Monte.

Sebenarnya, aku udah waxing tanggal 9 Februari lalu. Tapi, sengaja belum aku review karena aku perlu nunggu reaksi dewan perbuluan di dalam tubuhku. Biar tahu pasti apa yang terjadi setelah dua bulan masa waxing berlalu.

Kita awali ceritanya dari kondisi perbuluanku yaaa...

Sejarah perbuluan Banu (apaan sih judulnya gini amat)


Jadi, dulunya aku adalah orang yang biasa mengatasi masalah perbuluan dengan cara dicukur. Terutama bagian ketyperi dan betty.

Mungkin mencukur bulu adalah salah satu hal bodoh yang aku lakukan di masa remaja hingga dewasa. Karena hal itulah yang membuat bulu makin lebat dan bertambah tebal. Selain itu, untuk bagian ketyperi, kulitnya juga jadi lebih gelap daripada bagian lain. Sekalipun, menurut orang-orang yang melihat kulit ketyperiku, di bagian ini sih aku ga menghitam ya. Tapi tetep aja, ada rasa insecure yang merayap tiap kali ngaca di bagian itu. Hiks! Lemah!

Aku pernah mencoba krim perontok bulu Veet. Tapi, selain panas di kulitku yang sensitif, krim itu tidak tuntas mencerabut sampai ke akarnya. Jadi si bulu masih sangat meranggas dengan lebatnya. Hanya butuh waktu seminggu untuk tumbuh panjang lagi. Sorry menyori ya 'bok, eike nggak bisa upload fotonya hutan belantara ketyperi.

Kakakku Himma adalah orang yang sering mencabut bulu ketyperi dengan pingset. Memang akan tercerabut sampai ke akarnya. Tapi, setelah rutin melakukan itu, ada masalah di kelenjar payudara yang membuatnya harus dioperasi. Untunglah benjolan itu sudah diangkat dan sekarang dia baik-baik saja. Itu juga yang membuatku tak mau lagi main-main dengan pingset untuk urusan perbuluan. Apalagi untuk daerah ketyperi.

Mencabuti bulu ketyperi dengan pingset itu bahaya! Serius!

Sampai akhirnya, teman kantor ngajakin untuk waxing bareng. Nggak cuma ketyperi dan betty, tapi aku juga ditantangin untuk nyobain Brazilian Monte. Brazilian Monte itu artinya bulu di sekitar vagina kita akan diwaxing sampai bersih mulus seperti bayi lagi.

Sebenarnya aku adalah orang yang jarang sekali ke tempat-tempat perawatan tubuh. Karena aku orangnya sangat pemalu dalam hal buka baju di depan orang lain. Apalagi sampai bagian bawah tubuh.

Misalnya, sampai umur segini pun, aku merasakan yang namanya creambath baru bulan Maret kemarin saat kepala pusing dan ingin dipijat. Itu pun nggak sampai buka seluruh bahuku.

Baru nyobain pijat tubuh di tukang pijat profesional pada umur 24 tahun.

Baru potong rambut di salon umur 25 tahun karena biasanya selalu dipotongin rambut sama ibu atau potong rambut di depan kaca sendiri.

Baru pertama kali facial di skin care umur 22 tahun karena diajak kakak kelas yang sempat prihatin dengan wajahku yang dijajah jerawat. Walau akhirnya aku nggak pernah lagi facial sampai 5 tahun berlalu.

Ya intinya, aku bukan orang yang rempong dengan urusan perawatan tubuh, terutama yang melibatkan orang lain dan bayar :p.

Aku sadar, sebagai perempuan, semakin dewasa kita harus makin memperhatikan kebersihan organ intim kita. Apalagi, aku harus "latihan" untuk berani buka celana demi perawatan.

Iya. Aku benar-benar harus latihan untuk hal sesederhana ini.

Aku punya trauma yang buruk saat periksa obgyn jaman SMP dulu. Ceritanya, aku punya masalah dengan masa menstuasi yang sangat panjang dan sempat mengalami over bleeding. Akhirnya, kakakku ngajak periksa ke obgyn dan diperiksa oleh dokter lelaki. Saat itu prosedur pemeriksaan yang harus aku lalui adalah, aku harus buka celana dan mekangkang lebar-lebar di kasur yang biasa dipakai oleh ibu melahirkan, yang ada jepitan betisnya itu lho.

Nah, dalam keadaan kayak gitu, dokternya mamasukkan kapas di anus untuk mendeteksi kelainan apa yang terjadi di tubuhku.

Saat prosesi itu terjadi, dokter rekannya yang lelaki juga masuk di kamar pemeriksaan dan mereka ngobrol dengan santainya di depan vaginaku yang terbuka lebar!

Sebagai anak SMP polos yang sangat sangat sangat pemalu, hal ini sangat menggangguku.

Beneran deh...

Malu! Malu sekali!!

Kalau dokter obgyn yang memeriksaku adalah seorang lelaki, oke lah ya... Masih bisa dimaafkan karena di rumah sakit itu memang tidak ada dokter perempuan. Terutama, saat itu aku memang butuh pertolongan. Tapi, teman si dokter itu lho! Ngapain sih dia masuk-masuk ruang pemeriksaan juga? Toh dia bukan dokter yang memeriksaku. Apalagi mereka ngobrol dengan santai di depan pasien yang tidak pakai celana selama kurang lebih 5 menit! Bayangkan!!

Maluuuuuu banget!!!

Sejak saat itu aku jadi takut sama semua dokter dan rumah sakit.

Sialnya lagi, di hari itu, aku juga hampir saja menabrak ranjang berjalan berisi jenazah di koridor rumah sakit karena tubuhku terlalu lemas dan anemia membuat pandangan mataku sangat buram sehingga gagal fokus. Horror!

Kenapa ke WaxTime?


Aku pilih di WaxTime karena emang kemarin dulu itu bareng-bareng banget sama temen kantor. Sebagai buruh yang bekerja dari rumah, momen bertemu dengan teman sekantor itu sangat jarang terjadi. Jadi, pas diajakin barengan, ya ayo aja. Apalagi semuanya kumpul.

Lokasinya juga strategis, sebelahan banget sama Pasar Santa. Jadi pas naik Gojek, tinggal cari jalan Cisanggiri 1, udah deh nyampe. Dari Mampang sih cuma bayar IDR 4000 pakai Gopay. Hemat banget kan.

Tempatnya rapi dan cantik banget. Jadi, aku udah terkesan banget sejak pertama kali ke sana.

Kita juga bisa mengira-ngira berapa harga yang harus kita bayar karena mereka mengunggah price list di instagram.


Sebuah kiriman dibagikan oleh WaxTime (waxing & relaxing) (@waxtime_id) pada

Awalnya, aku memang malu-malu. Tapi, aku sudah niat banget mau lawan satu-satu traumaku dan menggantinya dengan kenangan yang lain. Jadilah aku mau-mau aja. Apalagi mbak yang waxing aku orangnya ramah dan sabar banget sama aku yang cerewet ini.

Jadi, ada rasa percaya dan nyaman saat si mbak merawat perbuluanku yang sensitif. Makanya, aku sampai bertekad ingin waxing lagi di sini kalau dijajah bulu lagi,

Sakit nggak?

Untuk bagian ketyperi, wax di WaxTime itu nggak sakit sama sekali. Malah nyaman banget dan enak karena sensasi hangatnya bikin tubuh sangat rileks. Untuk bagian betty, bagian kulit yang empuk rasa cekit-cekit rasanya. Tapi masik oke. Nggak sampai teriak-teriak.

Barulah pas Brazilian Monte ini. Aku merasa sensasinya beda.

Selain soal tantangan buka celana, di bagian kulit yang empuk emang rasanya bikin hemhemhem~. Sempet teriak karena lumayan sakit. Tapi untuk daerah kulit yang nggak begitu empuk, rasanya enak banget kok.

Mbaknya juga telaten mempelajari anatomi tubuh kita, mana yang bagian sensitif untukku, mana yang netral. Jadi, setelah aku kasih tau di bagian situ agak sensitif, mbaknya dengan sigap langsung tahu harus melakukan apa di bagian kulit yang sensitif itu.

Hanya di detik-detik awal sih sensasi sakitnya ada. Tapi selanjutnya, nyaman banget.

Kondisi bulu setelah 2 bulan

Bulu-buluku tumbuh dengan lambat dan malas-malasan. Selain itu, ketebalannya berkurang dan lokasi tumbuhnya juga jadi jarang-jarang.

Aku memutuskan untuk kembali lagi hari Jumat kemarin untuk bagian Ketyperi. Kali ini aku juga ngajakin si Lia, temen kuliah yang bilang kalau dia takut mau Brazilian juga.

Caritanya hari ini pergi waxing di @waxtime_id bareng ama @syahar.banu sekalian jalan bareng setelah sekian lama (re: terakhir pas zaman pilkada Presiden Jokowi). Banu adalah orang pertama yang berhasil ngajak aku Waxing (dulu sering temen2 ngajak aku nyoba waxing tapi gak pernah mau karna takut, haih cemen kali aku ini 😂). Kenapa berani mau nyoba? Karna Banu pinter ngerayu aku, sabar jelasin ini itu. Wah kamu cocok loh jadi marketingnya, karna berhasil buat aku luluh leleh. Hasyeeeekk 😂 . . So, walo cuma berani waxing underarms (masih cemen gak berani yang lebih extreme​). Karna masih coba2, eh ternyata gak sakit. So, akhir bulan Mei (insyaallah), mau nyoba Brazilian ama Banu. Banu uda pernah coba dan katanya cuma sakit dikit aja. Thanks Banu uda ngasih pengalaman baru.💗🙊 . . Sebenernya pengen upload fotonya seluruh badan tapi gak bisa 🙈😔 . #girlstime #girl #waxing #testimoni #sharestories #story #waxtime #waxingjakarta #hangout #girls #indonesiangirl #qualitytime #lfl #instastory #lifestory #potd #loli #chibi #cute
Sebuah kiriman dibagikan oleh otak gesrek (@beibie.jr) pada


Niat awalnya sih aku pengen Brazilian Monte lagi. Tapi apa daya, aku sedang haid. Jadi ditunda sampai haidnya selesai dulu dan sampai ada diskon lagi. Hohoho... Promonya sih kalau kita ulang tahun, maka otomatis kita dapat diskon khusus. Jadi, akhir Mei atau awal Juni nanti, aku pasti balik lagi ke sana! Nantikanlah kedatanganku kembali duhai mbak-mbak WaxTime!

Membuka celana di depan mbak yang mewaxing aku itu adalah pengalaman yang sangat berharga untukku. Karena itu adalah salah satu cara menantang rasa trauma dalam hal memperlihatkan paha beserta isinya di depan orang yang akan merawat kita.

Ini penting sekali untukku. Sebelum aku harus menghadapi obgyn jelang menikah nanti untuk keperluan medical check up. *uhuk*

Oh ya, selain berhasil melewati trauma membuka paha, aku juga berhasil melawan ketakutanku sama dokter dan rumah sakit lho. Karena aku pernah menjaga almarhum keponakan yang sakit Atresia Bilier di RSCM dan sekarang pasanganku pun seorang dokter. Tepatnya, dia adalah seorang dokter gigi yang bercita-cita ingin jadi wartawan. (lho!)

Jadi, begitulah ceritanya pemirsa.

Aku tidak mencantumkan instagramku sendiri ya, karena percuma. Lha wong digembok kok. :p

But, I let you see how happy I'm after waxing in WaxTime.


Sampai ketemu di blogpost lainnya. Aku usahakan untuk menulis pengalaman-pengalaman lainnya ya. :*

Rabu, 27 Mei 2015

Daripada Googling, Mendingan Ducking

Kalau pakai komputer umum di perpustakaan Kampus Paramadina, kita bakal ketemu sama OS Ubuntu dengan browser Mozilla Firefox, sepaket sama search engine Duck Duck Go sebagai defaultnya.

Awalnya, responku adalah, "Duck Duck Go? Ini apaan deh?" -___-

Panca Indraku selalu sensitif kalau menyangkut Bebek. Kemunculan sesuatu yang ada hubungannya dengan Bebek bisa langsung bikin perut laper. Inget, betapa nikmatnya sepiring penuh Nasi Bebek Madura traktiran yang diracik secara ajaib lewat tangan orang Madura sampe dagingnya bisa empuk gitu, plus sambelnya yang pedes, berminyak, dan kehitaman. Mestinya pencipta resep Nasi Bebek Madura dikasih penghormatan setinggi pencipta Nutella. Tapi karena humble, ia lebih milih jadi semacam Zorro di dunia kuliner. Seorang pahlawan bertopeng pembasmi makanan nggak enak yang identitasnya nggak dikenal warga sekitar karena niatnya yang tulus pengen jadi pemadam kelaparan siapa aja yang di kantongnya ada duit sekitar Rp 15.000.

Baiklah, ini bukan mau ngeblog soal makanan, ini mau ngeblog soal Search Engine. Ada baiknya, kita melupakan Nasi Bebek Madura sejenak dan kembali ke Duck Duck Go.

Laman yang ditampilin duckduckgo.com adalah Bebek unyu berdasi kupu-kupu yang bukan Donald Bebek dengan lingkatan warna orange. Background putihnya sih sama kayak google.com ya.

Perhatianku yang awalnya fokus di tanda Bebek berpindah ke jargon bawahnya, "Search engine that doesn't track you"

Wah, menarik!

Aku sadar bahwa google menggunakan informasi yang aku berikan pada mereka untuk iklan dan kepentingan lainnya. Lebih ekstrimnya -kalau menurut Edward Snowden sih- google memang memata-matai aktivitas online kita. Iya. Kerasa kok.

Misalnya, pas Google suka kasih saran bacaan yang ada hubungannya dengan hal-hal yang aku sukai, kayak Taylor Swift. Ada juga soal tempat yang pernah aku cari lokasinya, orang-orang yang pernah aku stalking, gambar yang pernah mampir di HPku dan sebagainya. Ngeri aja jika suatu hari akun googleku -karena satu dan dua hal- tiba-tiba berpindah tangan, orang itu akan tahu sepenuhnya hal-hal privacy yang membuatku penasaran sampe-sampe mesti nyari lewat internet. Padahal, rasa penasaranku yang tinggi terhadap sesuatu kadang membawaku pada hal-hal tabu yang cukup "gelap".

Aku pernah baca, seorang kawan Facebook ikut mempromosikan Duck Duck Go dengan penekanan soal privacy. Nggak banyak yang keliatan minat. Mungkin karena dia emang bukan seleb Facebook macam Jonru.

Berdasarkan pengalamanku saat mengobrol dengan orang lain soal privacy berinternet, kebanyakan orang justru tak peduli hak-hak privacynya sendiri dan malah bilang, "Emang gue sepenting apa sampe segitunya amat ngurusin privacy? Kalau gue orang penting kek pejabat, presiden, intel, baru deh ati-ati. Nggak ada aktivitas gue yang aneh-aneh sampe perlu ngelindungin diri segitunya banget lah."

Kalau kata Edward Snowden, "Kalau elu nggak ngehormatin privacy diri elu sendiri pas internetan dan pasrah gitu aja diintipin sama negara dan korporasi, artinya elu nggak ngehargain diri sendiri."

Aku sendiri, sekalipun sadar soal privacy, masih sering bolong di sana sini. Buktinya, sampe kemaren, aku masih pake google di laptop sebagai default search engine. Cuma karena males utak-atik settingan Google Chrome sik. Bukan alesan lain.

Sampai akhirnya, aku menemukan masalah ini selama berhari-hari tiap kali lagi googling


Kenapa bisa begitu? Kata Mbak Courney yang nulis Support Google, ada lalu lintas tak biasa di jaringanku dengan berbagai penjelasannya. Aku merasa tak ada yang salah dengan lalu lintas, internet, browser, OS, maupun laptopku. Aman. Aku pakai OS Linux Mint yang bebas virus juga kok. Nggak ngerti lah cara benerinnya gimana. Berasa gaptek.

Lama-lama nyadar juga, mungkin solusinya bukan benerin. Mestinya cukup ganti default search enginenya pake yang lain.

Ganti settingan default di laptop juga gampang ternyata.

Klik bagian kanan browser, tepat di bawah tombol close yang ada tanda strip 3. Klik Setting di atas About Google Chrome.

Di menu Search, Duck Duck Go tak ada dalam daftar search engine. Adanya Yahoo, Ask, Bing, Delta, dan sebagainya. Kita mesti ngatur mesin pencari yang dimaksud secara manual.

Klik Manage Search Engine, scroll terus ke bagian paling bawah di bagian Other Search Engines. Ada kolom kosong, ketik aja di sana Namanya pake Duck Duck Go dan Urlnya pake duckduckgo.com.

Setelah itu, arahin kursor ke bagian yang baru aja kita ketik. Muncul tulisan Make default dengan background warna biru di sebelah paling kanan kolom URL. Klik aja tuh.

Berdasarkan pengalamanku, Tulisan Make Defaultnya  nggak langsung muncul di list yang bisa dijadiin default. Eh, pas nyoba besoknya, baru bisa.

Nah, kalau gagal muncul Make Defaultnya, jangan putus asa yak.

Setelah jadiin Duck Duck Go default search engine dalam setting, kita bakal disambut layar kayak gini tiap kali ngetik pencarian di kolom URL pada browser.


Kalau belom yakin soal udah keganti defaultnya apa belom, Duck-Duck Go masih nawarin ke user buat jadiin mereka default search engine di laman depannya. Klik aja, bakal muncul jendela kayak gini. Abaikan URL yang aku ketik di browser yak. Tadi rencananya emang mau cari info soal NPWP (ups! Privacy nih :p). Jangan salah kira kalau itu emang URL buat nyetting Duck Duck Go ya ya ya.



Klik aja bagian "Klik Di Sini". Selesai deh. Udah keganti.

Karena masih penasaran, aku klik Help Spread Duck Duck Go yang posisinya ada di bawah kolom keyword laman depan.

Ketemu laman ini. Khas Open Source, mentingin privacy dan kolaborasi


Sebagai seseorang yang ehm sebisa mungkin melakukan perlawanan terhadap hegemoni ehm, kalimat, "We're up against billion-dollar giants, but we've got awesome people like you on our side" ini menggetarkan sekali.

Gara-gara itu, jadi inget demontrasi 99% nya Occupy Wall Street, Inget kapitalisasi OS Windows yang harganya mahal dan bikin orang mesti ngebajak software karena orang-orang nggak mampu beli OS asli. Dan inget juga banyak hal baik lainnya yang bersifat perjuangan melawan mentalitas populer. Yaitu mental yang berisi hal mainstrem tapi sebenernya nggak mutu.

Gara-gara tergugah sama kalimat itu, aku juga langsung login di website resmi Duck Duck Go.


Ngomong-ngomong, Handphone yang auto-correct nya aktif biasanya nggak akan ngenalin kosa kata "Fucking" sebelum kosa kata itu diinput secara manual. Kata "Fucking" bakal langsung ketulis "Ducking". Gara-gara itulah, kosa kata Slang "Ducking" mulai muncul dan dipake misuh.


Kita selalu nyebut aktivitas nyari informasi lewat mesin pencari Google dengan kata "Googling". Kalau pake Duck Duck Go, aktivitas yang kita lakuin jadi Ducking kali ya. Meskipun ada sih kosa kata "Duckling" dengan arti yang beda. Milih pake kata apa? Ducking apa Duckling?

Aku sih pilih Ducking.

Jadi, kalau pas ditanya orang, "Eh, Lagi ngapain lo? Sibuk amat."

Tinggal dijawab, "Lagi Ducking nih."

Anggep aja mulutnya lagi auto-correct.

Update!

Alternatif aja nih, kalau pakai Google Chrome, sebenarnya bisa langsung add extention via Google store, klik di sini. Tinggal add to chrome aja.

Hasilnya bakal kayak gini, aku tandain pas logonya ya di bagian kanan atas. Ini lebih gampang daripada berbelit kayak cara di atas. :p


Coba gih.

Sabtu, 16 Mei 2015

Rasyid Things

Belakangan ini aku mulai tak suka Mall. Rasanya pusing melihat berbagai macam barang yang sebagian besar diskonnya menipu. Selain itu, seorang kawan yang bekerja di Mall bercerita betapa menyiksanya berdiri sepanjang jam kerja sambil tersenyum kepada semua orang. Jika ketahuan duduk maka ia akan dapat teguran dari supervisor. Aku sangat berempati padanya dan berharap dia segera naik jabatan sehingga bisa duduk kapanpun dia mau. Kondisi di luar Mall yang macet, lingkungan kumuh korban penggusuran Mall. titik banjir sekitarnya dsb menambah kegetiran-kegetiran tiap kali aku melangkahkan kakiku ke Mall.

Aku sendiri bukan orang yang suka belanja. Seringnya jadi orang yang hanya temani belanja. Belanja sering jika hanya butuh. Seringnya sih merasa tak butuh. :p

Salah satu orang yang sering ku temani belanja adalah Rasyid. Aku sampai hafal selera, ukuran baju, parfum, sabun, dan kebutuhan dia yang lainnya.

Menyenangkan sekali bisa memilihkan dia baju dan segala macam kebutuhannya karena dia adalah orang yang tak bermasalah dengan sesuatu yang tampak nyeleneh potongan maupun warnanya. Gitu lah kalau calon Sarjana Seni. Jadi ya oke-oke aja kalau pakai warna pink, ungu, dan paduan cerah lain. Tak pernah mempersoalkan merk juga. Bahan, warna, design dan rasionalitas harga jadi pertimbangan utama.

Karena ketidaknyamananku dengan Mall, kita berdua harus berkompromi untuk tidak belanja di Mall jika ada opsi lain yang bisa ditempuh. Kenapa harus ke Mall jika di toko biasa tersedia? Kenapa harus di Mall jika di pasar tradisional tersedia? Tapi, aku tak bisa memaksakan prinsipku pada sahabat dan orang-orang yang aku sayang juga sih. Apalagi Rasyid adalah seseorang yang tak pernah mengeluarkan jargon-jargon tertentu yang menolak ini itu yang rentan membawanya jadi seorang hipokrit. Jadi, aku sama sekali tak bermasalah jika dia memang minta ditemani belanja. Apalagi jika itu bagian dari kebutuhannya yang memang seorang *ehm* ekskutif muda unyu, yang sering bertemu dengan banyak klien dan jadi image perusahaan.

Yang jadi opsi jika kita tak ke mall salah satunya adalah belanja online. Karena Window Shopping di toko online itu lebih gampang, makanya aku nyoba liat-liat produk Zalora yang cocok buat Rasyid.

Berikut ini adalah daftar belanjaan yang mungkin bisa dipertimbangkan Rasyid. 

Untuk kemejanya, aku pilihkan yang ini, ada pilihan warna merah. Tapi baju terakhir yang kita beli bersama juga warna merah. Jadi, ini juga oke. Dia tak perlu pakai sweeter tambahan karena modelnya udah unik.

Capture gambar dari website Zalora 

Kemeja di bawah ini cocok jika dia ingin tampil kasual. Beberapa event kantor emang nggak mengharuskan karyawan berpakaian yang resmi-resmi amat. Jadi, ini cukup necis untuknya. Seingatku, dia belum punya model yang seperti ini. Ini akan oke kalau dipadukan dengan koleksi sweeternya. Apalagi pas AC kantornya lagi dingin banget.

Capture gambar dari website : Zalora 

Seperti biasa, setelah belanja, aku akan melihat muka bahagianya yang seperti ini. Lucu. Tampang-tampang polos yang minta dijitak setelah ketahuan betapa tengilnya dia.


Tentu saja baju yang aku pilihkan belum final. Zalora juga perlu menambah koleksi baju lelaki yang cerah untuk lelaki kreatif macam Rasyid seperti ini. Menurutku sih lelaki yang pakai baju gelap terus menerus itu sangat membosankan. Warna itu merdeka, bisa melekat di tubuh manapun yang memang menghargai keberagaman dan netralitas.

Tapi ya, terserah aja sih. Karena, soal pakaian itu, yang penting nyaman. percaya diri dan simpel sesuai sikonnya. Gitu...

Kamis, 30 April 2015

Catatan Aksi Kamisan #394

Belum pukul 4 sore. Payung-payung hitam bersablon kasus pelanggaran HAM itu belum terkembang. Bapak-bapak dan Ibu-ibu peserta aksi masih duduk di rerumput di depan gerbang Monas. Berteduh. Sore itu memang agak terik. Aku sampai perlu menyipitkan mata saat memandang bendera merah putih di seberang jalan, tepatnya di halaman Istana Negara. Aku menyalami yang sudah datang satu-satu sekalipun tak semua saling kenal. Ada banyak orang yang datang dan pergi di sini. Asal menyimpan kepedulian yang sama dan mau bersuara, setiap orang bisa bergabung dalam Aksi Kamisan.

Aku bertanya pada Ibu Sunu, salah satu Ibu korban '98, "Apa Bu Sumarsih sudah datang?"

Dia jawab, "Itu bu Sumarsih ada di pos polisi. Nggak tau gimana. Katanya sih tadi kita nggak boleh Kamisan. Auk tuh, ada KAA (Konferensi Asia-Afrika) katanya."

Hah!

"Itu lho dek, di pos itu. Sana aja." Kata Ibu yang lainnya.

Aku mengangguk kepada mereka dan menuju pos Polisi Monas yang dihias dengan 2 ondel-ondel berbaju polisi dan polwan.

Aku mendadak tersenyum di saat yang tidak tepat. Di pikiranku ada pertanyaan iseng, 'Ondel-ondel ini yang mirip polisi ataukah polisi yang mirip ondel-ondel?'

Dari kejauhan, baju hitam dan rambut keperakan Bu Sumarsih terlihat. Dia duduk di depan seorang polisi, dan polisi lain yang mengelilinginya. Ada juga beberapa anak muda yang tidak aku kenali, entah wartawan entah mahasiswa memegang kamera. Memotret dan merekam dengan videonya. Ada seorang lelaki aktivis LBH Jakarta.

"Kami akan tetap Kamisan hari ini seperti biasa. Tidak ada yang bisa melarang-larang kami."

Tubuh Bu Sumarsih tampak bergetar menahan emosi ketika aku menghampirinya di tenda kepolisian Monumen Nasional seberang Istana Negara sebelum Aksi Kamisan ke 394 lalu.

Aksi Kamisan memang belum dimulai, tapi aku jadi merasa datang terlambat karena tak bisa menemani Bu Sumarsih dari awal saat berhadapan dengan para polisi di sana.

Awalnya aku duduk di kursi kosong, selisih satu kursi dengan tempat duduk Bu Sumarsih. Salah satu Presidium JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan) ini belum menyadari kedatanganku. Aku bangkit dari tempat duduk untuk menyentuh bahunya, menguatkan dan memberi isyarat bahwa aku akan menemaninya sampai pembicaraan dengan polisi itu selesai.

Ini tidak biasa, Sejak rutin mengikuti Aksi Kamisan, baru kali ini kami sampai diajak bicara di tenda kepolisian itu. Ada apa?

Aku masih berusaha membaca situasi ketika seorang peutgas berseragam polisi dengan name tag P. Siregar mengulang terus-menerus kalimat, "Kami minta tolong lah sama Ibu kerjasamanya. Hanya hari ini saja bu... Ada banyak tamu negara. Kita kan harus saling membantu. Kan selama ini kami juga melakukan pengamanan."

"Ya nggak bisa. Kami akan tetap Kamisan." Kata bu Sumarsih. Suaranya masih bergetar.

"Masalahnya apa sih kalau kami tetap Kamisan hari ini?" Tanyaku, masih kurang paham apa yang diinginkan oleh polisi ini. 

"Dia larang kita untuk Kamisan. Nggak bisalah kita dilarang-larang. Kita akan Kamisan terus sampai negara menuntaskan kasus HAM yang ada." Jawab Bu Sumarsih.

"Bukan dilarang bu," Polisi itu tampak gusar, "kami cuma minta supaya spanduknya tidak digelar di jalan. Kan kita sudah kendurkan negosiasi. Ibu tetap bisa aksi seperti biasa. Hanya, mundurkan setengah meterlah dari jalanan. Kan ada banyak tamu dari luar negeri. Sekali ini saja lah."

"Nggak bisa, kami tetap mau Kamisan seperti biasa."

"Kalau demonya dilihat sama tamu dari luar negeri emangnya kenapa? Bikin malu? Bikin citra negara nggak bagus?" tanyaku.

"Minggu lalu adek ini hadir di Kamisan apa nggak sih?"

"Hadir dong"

"Nah, minggu lalu kan cuma satu negara yang lihat, bayangkan, ini ada ratusan negara yang melihat lho dek..." Kata Polisi itu padaku.

"Kami akan tetap Kamisan." Potong Bu Sumarsih. "Kami janji, jam 5 sudah selesai."

"Kamisan minggu lalu lebih dari jam 5 lho."

"Kali ini akan tepat jam 5 selesai."

Ia beranjak dari kursinya. Ada raut kesal di wajahnya. Aku mempertimbangkan langkah, mau mengikuti Bu Sumarsih atau tetap di tenda. Karena sepertinya pembicaraan belum selesai.

Aku putuskan tetap di tenda saat polisi itu mulai merepet, menyebut-nyebut soal anggotanya. Aku melihat salah satu sisi taman monas yang dipakai apel banyak polisi. Maksudnya 'anggota' itu mereka?

Aku duduk di kursi yang ditinggalkan presidium JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan) itu, "Lalu kenapa kalau dilihat negara lain?" Tanyaku, menyambung dengan wajah seinnocent mungkin.

"Adek ini gimana sih? Kok nggak paham-paham. Sedang ada banyak tamu. Ini pun saya cuma minta sekali ini saja. Pas KAA aja. Biar situasi kondusif."

"Bukannya bagus kalau negara lain lihat? Kan tujuan KAA itu salah satunya untuk hapuskan penjajahan. Aksi Kamisan ini pun juga tujuannya hapus penindasan. Apanya yang nggak sesuai sama event KAA ini? Siapa tahu kalau negara lain lihat aksi ini, mereka bisa bantu tekan Indonesia biar selesaikan pelanggaran HAMnya. Kalau memang negara malu sama aksi kami, mestinya kan diselesaikan kasusnya. Bukan malah larang aksinya. "

"Kami nggak larang dek. Kami cuma minta mundur dari jalan dan tak usah pasang spanduk. Silakan berdiri pakai payungnya. Mundurnya cuma setengah meter pun nggak apa-apa."

"Siapa yang ngeliat kalau tempat kita biasa berdiri mesti dimundurin?"

"Kan masih bisa dilihat dari sudut lain dek." Dia menunjuk sketsa format Aksi Kamisan kami yang biasanya. "Bisa dilihat dari sini. Dari sini juga bisa. Keliatan lah." 

"Kami ingin tetap seperti biasanya seperti kata bu Sumarsih tadi. Tidak kompromi."

"Gini aja lah, Kami kasih 2 pilihan ya. Kalian milih tetap berdiri di tempat biasa tapi ditutupi sama anggota kami atau milih mundur setengah meter? Mundur kan tetap bisa keliatan dari sini."

'Sini' yang dia maksud adalah arah gedung MK. Tak akan kelihatan dari jalan utama yang tepat di depan Istana Negara.

"Ya kalau mau naruh anggota bapak di mana, silakan aja. Malah makin menonjol Aksi kami kalau dikawal banyak polisi. Kami berdiri di tempat biasa aja. Kami duluan yang selama 8 tahun Aksi di sini kan... Jadi kalian lah yang sesuaikan situasi. Kami ya akan tetap gini selama negara nggak tuntaskan pelanggaran HAM."

"Urusan kalian itu dek..." katanya mulai kelihatan kesal, "...sama negara. Bukan sama kami. Ini kan kami minta baik-baik. Ini juga cuma sekali ini saja."

"Ya udah, urusan bapak nanti juga sama negara. Bukan sama kami. Kami ini sudah ditindas negara, masak iya mau ditekan sama polisi juga?"

"Spanduk kalian jangan digelar di jalan ya. Jangan makan jalan kayak biasa."

"Ya liat nanti aja ya pak..."

"Terserah kalian lah. Saya nggak tanggung jawab sama apa yang terjadi sama kalian nanti."

"Memang kapan sih instansi negara mau tanggung jawab?" Aku bertanya balik. Retoris. "Udah ya pak, makasih."

Aku meninggalkan tenda bersama dengan mahasiswa dari Universitas Sahid bernama Euis Haryati yang merekam kejadian itu lewat kamera DSLR untuk tugas akhir film dokumenternya. Dia bilang hasil akhir film belum tentu dipublikasikan karena target dia saat ini hanya ingin lulus.

"Dia orang Provos." kata aktivis LBH itu  padaku, setelah kami berbaris bersama dengan payung hitam dan spanduk yang tetap kami bentangkan. Tentu saja, "dia" yang dimaksud adalah P. Siregar tadi, "Kami sudah sering urusan sama dia."

Aneh. Kenapa Provos urusi warga sipil? Bukankah harusnya mereka urus Polisi nakal?

"Ada edaran sih di NGO, Organisasi Buruh, dan BEM kampus. Selama KAA, dihimbau untuk nggak demo gitu. Kemaren aja ada aksi buruh di depan Kedubes Amerika ditangkepin Polisi. Padahal belum mulai nih. Baru mau aksi. Ini baru aja abis dibebasin para aktivisnya."

Aku menghela nafas. Teringat pelajaran sejarah waktu SMP soal Politik Mercusuar ala Soekarno. Tampak sekali masih diterapkan sampai sekarang. Menampilkan yang baik-baik di luar sekalipun aslinya tak karuan.

Kemarinnya, kawan-kawanku bercerita soal orang-orang yang mesti jalan sangat jauh di daerah Sudirman saat jam kepulangan peserta KAA ke hotel masing-masing. Banyak jalan ditutup. Banyak orang tua, Ibu yang menggendong anaknya, dan bahkan pekerja kantoran yang terengah-engah kepayahan di jalanan karena mesti berjalan jauh untuk keluar dari jalan yang ditutup ke jalan yang ada akses transportasi publiknya. Yang punya uang masih bisa naik ojek yang tarifnya saat itu lebih mahal dari taksi. Sniper dan polisi juga ada di mana-mana.

Belakangan juga, aku tahu setelah googling, kalau P Siregar adalah Kanit Provos Polsek Metro Gambir.

Makin tak paham apa urusannya Polisi Provos dengan kami.

Biasanya, foto korban dan beberapa atribut lain digelar di sisi jalan, tapi kali ini mesti dibentangkan. Angin bertiup sangat kencang. Sekalipun sudah dipegang erat, spanduk itu berkibar kencang. Beberapa orang terlihat kerepotan "menjinakkan" spanduk di tangan satu sekaligus memegang payung di sisi tangan yang lainnya.

Hanya ada satu dua anggota kepolisian yang menjaga kami di sisi jalan. Ancaman Polisi Provos tadi rupanya hanya gertakan, atau mungkin ada pertimbangan lainnya. Tampaknya polisi yang menjaga kami dari depan jumlahnya wajar seperti biasanya. Tapi yang ada di belakang dan sisi lainnya, ada lagi. Dengan seragam yang berbeda. Polisi yang tadinya apel di sisi Kebun Monas mulai membubarkan diri. Mungkin mereka bersiap mengamankan jalan untuk KAA. Atau justru... Mengamankan kami?

Sumber foto : Twitter @AksiKamisan (Ayash)

"Baru kali ini lho Banu, Kamisan dijaga sama Polisi, Danramil dan Satpol PP. Biasanya sih cuma intel dan polisi. Baru kali ini juga kita diajak ngomong kayak tadi." Kata Bu Sumarsih padaku setelah kami menyeberang ke Pos Security Istana untuk kirimkan surat Kamisan pada Presiden. Surat itu berisi soal RUU KKR yang mestinya dibatalkan. 

Aku menyampaikan informasi dari aktivis LBH tadi ke Bu Sumarsih, bahwa yang bicara dengan kita di tenda tadi dari Provos. Dia mengangguk pelan, "Tadi mereka mintanya kita mundur 2 meter dari tempat biasanya."

Aku mengangkat bahu, "Tadi pas udah di depanku, dia mintanya mundur setengah meter."

"Wah, berarti dia berharap bisa nego kita."

"Ya nggak papa sih bu kalau diminta mundur setengah meter. Kita ngalah sekali." Pak Franky, salah satu korban '65 ikut nimbrung dalam obrolan kami.

"Wah, nggak bisa dong!" Kata bu Sumarsih tegas, "Anakku mati ketembak, Pak Franky juga pernah disiksa. Mana bisa kita ngalah lagi. Lha pelanggar HAM aja nggak pernah tuh ngalah-ngalah."

Aku sepakat dengan bu Sumarsih. Jika Ibuku ada di sini pun, dia pasti juga akan memilih bertahan daripada memenuhi permintaan polisi.

Di Aksi Kamisan ini, juga ada Pak Suratno, Wakil Danramil yang juga ikut mengawasi kami. Seorang petugas juga tampak sibuk memfoto Aksi kami dari awal sampai akhir. Ini benar-benar Aksi Kamisan yang tak biasa.

Ayash, seorang aktivis KontraS yang biasa mengawal Aksi Kamisan mengumumkan pada kami untuk membentuk lingkaran besar. Bersiap melakukan refleksi. Biasanya, setelah kita berdiri diam, beberapa dari peserta aksi akan berbagi pandangannya soal isu yang diangkat atau soal pelanggaran HAM secara umum. Diutamakan yang bicara adalah mereka yang baru pertama kali bergabung di aksi.

Seorang aktivis yang belum aku tahu namanya memegang toa, siap memimpin aksi.

Yel-yel Kamisan mengudara. Orator dan Massa berbalas Yel.

"HIDUP KORBAN!"

"Jangan diam!!"

"JANGAN DIAM!!"

"Lawan!!"

"JOKOWIII!!"

"Hapus Impunitas!!"

Sudah hampir Kamis ke 400. Kami akan terus begini. Lelah. Tapi tak bosan. Belum akan bosan. Belum boleh.

Berharap, bahwa negara, lewat entitas yang dimilikinya bisa adili pelaku.

Berharap, akhirnya ada keadilan dalam pengadilan HAM.

Berharap...

Terus...

Entah sampai kapan.

Hari itu, sepertinya memang tak terjadi apa-apa pada kami semua walau ada banyak petugas. Tapi, bagaimana dengan hari lainnya?

Senin, 16 Maret 2015

Kacamata vs Lensa Kontak

Mana yang harusnya kita pakai kalau mata kita minus tinggi? Lensa kontak atau kacamata? 

Sahabatku pernah mengirim blog berisi orang yang matanya iritasi parah karena efek buruk lensa kontak. Dia bertanya padaku, "Setelah baca itu, elu masih berani pakai softlens?"

Aku jawab, "Masih dong..."

Bukan berarti aku tak peduli kesehatan. Memang banyak orang langsung bilang akan memilih penggunaan kacamata jika pertimbangannya adalah kesehatan. Sebagiannya -terutama perempuan- mengatakan lebih baik menggunakan lensa kontak dengan manfaat praktis untuk kecantikan. 

Kalau aku? Keduanya! 

Di postingan ini, aku ingin membagi pengalaman soal keduanya.

Kacamata
Awal pakai kacamata adalah waktu hari pendaftaran di SMP. Sebenarnya mataku sudah minus sejak SD, tapi kurang percaya diri memakainya. Malu. Aku tidak nyaman dikomentari orang lain yang tidak terbiasa dengan hal baru. Tidak tahan juga kalau disindir aneh-aneh hanya karena hal sederhana. 

Kacamata pertamaku modelnya tanpa rangka. warna ungu Saat itu model itu sangat aneh karena semua kacamata biasanya berbingkai. Kacamata biasnaya hanya digunakan para orangtua dengan profesi guru, dokter atau pegawai kecamatan.

Aku pernah main ke rumah temanku yang desanya lebih terpencil dari desaku. Tetangga dan keluarga langsung berkomentar. "Koncomu koyo bu Dokter, ngganggo kocomoto."

Mengenang itu sungguh konyol, sekarang setiap orang bebas menggunakan kacamata dengan model apapun yang dia suka. 

Sumber gambar : blog.livedoor.jp
Bahkan, dikalangan murid SMP saat itu, aku adalah pengguna kacamata satu-satunya sampai dikenal guru dan murid sebagai si kacamata. Orang tidak tahu kenapa seorang anak kecil (badanku waktu SMP sangat kecil) sudah butuh kacamata. Aku membaca terlalu banyak bahkan dalam keadaan mati lampu sekalipun karena tidak punya pilihan lain dalam beraktivitas selain baca buku. Buruk di olahraga, tidak bisa bersosialisasi dengan bahasa Jawa, payah di permainan tradisional, tidak punya banyak uang untuk jalan-jalan, dan hal-hal tidak gaul lainnya. Buku adalah pelarian terbaik saat itu. Jadi kalau sampai minus, aku tidak terlalu banyak mengeluh. Harus ada pengorbanan supaya otakku tidak kosong.

Selain bentuknya yang masih dirasa sangat aneh, kacamata tanpa rangka itu sangat ringkih, sekrupnya sering kendor sehingga bagian kaca sering tidak seimbang antara kanan dan kiri. Selain itu, keringat yang mengumpul pada gagang kacamata di lengkungan telinga sering membuat kulitku gatal. Di bagian itu juga, cat kacamata sering mengelupas, warna ungu jadi lama kelamaan jadi berganti dengan warna coklat. 

Kacamata itu berkali-kali pecah. Biasanya tak sengaja terinjak karena memang tak kelihatan dan akunya yang ceroboh. Jadi harus sering-sering ke optik untuk servis kacamata. Dalam hal penampilan, aku merasa kalau kacamata membuat lekukan jilbabku lebih lebar. Aku sebenarnya tak nyaman dengan itu, walau lebih tak nyaman lagi jika pandangan mataku mengabur. 

Lama-lama kakakku bosan mengeluarkan uang untuk urusan servis kacamata, aku diminta mengganti bentuk kacamata dengan yang berbingkai supaya lebih awet. Aku sebenarnya malas dengan sesuatu yang banyak dipakai orang. Sudah terlalu banyak orang yang memakai kacamata berbingkai. Tapi aku tak punya pilihan. Bukan aku yang harus membayar tagihan.

Kacamata berbingkai ini menumbuhkan masalah baru. 

Gara-gara kacamata berbingkai ini, jerawatku mulai tumbuh di area sekitar bingkai kacamata kendati aku sudah membersihkannya berulang kali sebelum dipakai. Memang lebih awet, tapi masalah di lekukan telingaku masih sama. Gatal dan warna framenya luntur. Saat itu aku pikir mungkin piguranya murahan. Tapi optik meyakinkan bahwa pigura kacamataku sama sekali bukan merk KW. Jadi dia menyalahkan kulitku yang terlalu sensitif. 

Selain soal gatal dan jerawat di sekitar mata, aku juga punya masalah dengan penyangga kacamata. Sering ada bekas kemerahan di sana. Seringkali perih karena terlalu terdesak penyangga hidung di kacamata. Masalah itu tidak kelihatan dari luar karena tertutup bingkai kacamata. Hanya aku yang merasakan dampaknya.

Dari segi keamanan, pakai kacamata sangat tidak nyaman jika digunakan saat menyetir motor dalam keadaan hujan karena air akan membuat kacamata kita buram. Kacamata juga sama sekali tak bisa dipakai untuk menonton bioskop yang berformat 3D. Ya mungkin bisa dipaksakan. Tapi tak nyaman.

Dari segi kecantikan, kacamata kurang bisa klop dengan riasan mata. Penggunaan maskara pada mataku yang berkacamata adalah sebuah tindakan sia-sia karena bulu mata akan menabrak lensa. Dan jika kita sudah agak berkeringat, alas bedak di wajah akan luntur terutama pada area sekitar hidung dan sekitar pigura kacamata. 

Sudah berkali-kali aku ganti kacamata karena ingin ganti model, pecah atau patah gagangnya. Sekalipun masa jangka pakainya jauh lebih lama daripada yang tanpa pigura.

Kacamataku sekarang bahannya lebih bagus daripada kacamataku dulu. Harganya memang lebih mahal karena mekanisme pasar membuat barang bagus = mahal. Warna gagang kacamatanya tidak luntur, bahannya lebih bagus, tahan banting, tapi tetap menyebabkan jerawat kecil di sekitar pigura kacamata, kemerahan di pangkal hidung, dan seringkali mengganggu riasan mata. 

Namun, penggunaan kacamata membuatku lebih enjoy dalam membaca. Bagaimanapun, lebih enak baca buku dengan kondisi mata dekat dengan lembaran buku daripada terhalang dengan kacamata. Artinya, aku perlu melepas kacamata saat baca buku. Bukan baca buku sambil berkacamata.

Kacamata itu praktis sekali digunakan terutama saat malas dan lelah. Karena setelah beraktivitas, kita bisa langsung melepaskannya begitu saja di manapun tempat yang terjangkau dengan tangan kita. Kebiasaan buruk sih, biasanya setelah ketiduran setelah melepas kacamata sembarangan itu, aku malah lupa dimana letak kacamataku pas bangunnya. Butuh waktu lagi untuk mencari, meraba-raba di setiap tempat karena mataku siwer. Kacamata juga baik dipakai di perjalanan jauh karena saat tertidur di bus atau kereta, kita bisa melepaskannya begitu saja supaya nyaman. Hal yang tak mungkin dilakukan jika menggunakan lensa kontak. 

Lensa Kontak
Perkenalanku dengan lensa kontak adalah saat lulus SMA. Teknologi lensa kontak sudah populer kendati masih sedikit orang yang memakainya. Lensa kontak pertamaku adalah lensa transparan berdiamer 12 mm dengan kandungan air 60%. Aku sangat tegas memilih lensa kontak transparan karena aku cukup bahagia dengan biji mataku yang berwarna coklat. Jadi tidak perlu warna kamuflase untuk membuat warnanya "bicara". Lensa kontak itu harus diganti sebulan sekali. 

Agak boros saat itu. Lensa kontak masih lumayan mahal. Di Solo, sepasang lensa kontak harganya Rp 120.000. Belum dengan cairannya yang seharga Rp 40.000. Sekalipun mahal, selalu bisa terbeli. Karena kondisi iritasi di telinga akibat gagang kacamata sudah lumayan memuakkan. 

Memakai lensa kontak sebenarnya lebih merepotkan. Dari segi kantong, dan perawatan. Beberapa kali mataku memerah karena iritasi. Karena kering, atau tak sengaja lensanya sobek di dalam tapi aku tak sadar. 

Selain itu soal kebersihan juga. Tempat lensa dan airnya harus selalu diganti karena kalau kotor tapi lambat diganti, akan membuat mata iritasi, bahkan kadang bengkak. Mata juga akan berair terus menerus. Orang bisa salah paham, kenapa kita menangis dikeadaan tertentu. Padahal hanya karena lensa kontak. 

Lensa kontak yang bertujuan untuk membuat mata lebih leluasa dirias akan jadi berantakan karena air mata membuat segalanya luntur. Tidak disarankan untuk dipakai pada musim salju karena mata akan jadi sangat kering dan itu membuat mata kita merah dan berair. Ini pengalaman pribadi sih. Mungkin beberapa orang tidak masalah menggunakan lensa kontak di musim salju. Tapi kalau aku, sangat bermasalah. 

Saat ini merk lensa kontak dan jenisnya makin beragam. Harga lensa kontak yang lebih murah dengan kualitas lebih bagus juga banyak. Soalnya aku mengambil langsung dari distributornya yang biasanya menjualnya ke penjual online atau optik-optik besar. Jika cari lensa kontak di optik biasa, harganya masih lumayan mahal.

Aku sekarang menggunakan lensa kontak berdiameter 12,00mm warna cokelat dengan kualitas air 45% dengan masa pakai 6 bulan. Biasanya, saat memasuki bulan ketiga lensa kontaknya sudah tidak aku pakai karena kurang nyaman. Ternyata mataku lebih cocok dengan lensa ini ketimbang lensa yang transparan. Warna cokelat aku pilih karena warnanya memang sama dengan warna mataku, diameternya pun sama. Aku tak pernah tertarik yang berdiameter 14,00 karena mata asliku sudah terlalu besar sehingga tak butuh efek mata boneka. Aku belum ingin menakuti banyak orang dengan mataku. Belum lho, bukan berarti tidak akan pernah aku coba.

Sahabatku +Falaqie Nila membuat berbagai macam tutorial make up mata di blognya dengan penggunaan lensa kontak 14,00mm. Ada perusahaan yang mengendorsenya untuk membuat beberapa review soal lensa kontak. Lensa kontak yang direview Nila bukanlah favoritku. Jadi aku hanya butuh tutorial make upnya saja. Sayangnya, beberapa kali mencoba tapi gagal meniru sebagus dia. 

Dengan lensa kontak, kita bebas mengeksplorasi riasan mata. Walau aku jadi bagian dari 'pasukan tak becus urus alis'. Jadi sebenarnya urusan rias mata tak begitu darurat. 

Jika  harus berdandan di hari-hari tertentu, aku bertanya ke sahabat lelakiku apakah riasan wajahku aneh atau tidak. Karena mereka akan bicara lebih jujur dan dengan kosa kata yang tak disaring. Ini yang aku butuhkan. 

Perempuan biasanya cukup menjaga perasaan saat menjawab sesuatu yang berkaitan dengan penampilan. Jika riasanku gagal, perempuan cenderung akan menjawab, "Udah cantik kok." 

Sedang lelaki akan menjawab, "Aneh banget dempulnya. Benerin gih, gue tungguin." 

Kalau make up ku sukses, perempuan tetap akan berkata, "Udah cantik kok."

Sahabat lelakiku cuma bilang, "Elu keliatan normal. Kayak cewek beneran kalau gini." 

Begitulah. 

Saranku, saat memutuskan untuk menggunakan lensa kontak, usahakan untuk selalu punya lensa cadangan. Karena kadang lensa kita kotor, rusak, maupun mengering karena tutup lensa sering kurang rapat sehingga airnya tumpah. Sebaiknya juga selalu menyediakan tetes mata anti iritasi khusus pengguna lensa kontak, bukan sembarang tetes mata anti iritasi biasa yang dijual secara bebas di warung. 

Ikuti saja cara merawat lensa kontak yang ada di bungkusnya karena memang itu sudah efektif. 

Oh iya, lensa kontak yang sudah mengering kadang masih bisa tetap dipakai, asal direndam lama dan airnya diganti-ganti sebelum digunakan lagi supaya steril. Beberapa kali kejadian, tau-tau satu lensa kontak lepas dari mata kanan sedangkan lensa di mata kiri masih ada. Makanya punya cadangan lensa yang dibawa kemana-mana itu penting. 

Jika kira-kita jatuhnya lensa itu di kamar dan akhirnya ketemu setelah berhari-hari mengering, kadang memang masih bisa dipakai. Cek baik-baik apakah lensa masih layak pakai atau tidak, jangan sampai pakai lensa yang sobek atau terlalu kotor. Bahaya. Kalau ragu-ragu, langsung buang saja. Jangan sampai tertukar antara lensa lama dan lensa baru. Ingat baik-baik bagian kanan dan kirinya terutama jika minus mata kanan dan kiri berbeda. 

Bagiku, membaca buku dan online di handphone dengan mata lensa kontak kurang nyaman karena sepertinya lensa kontak itu kurang ideal untuk penglihatan jarak dekat. Tidak mungkin kita membongkar pasang lensa kontak terus menerus dalam waktu yang dekat hanya untuk kepentingan melihat detail sesuatu dengan jarak dekat. Memang ada beberapa hal yang detailnya akan lebih jelas dengan mata tanpa kacamata atau lensa kontak. Kalau pakai kacamata, bisa dengan mudah kita lepas. Tapi jika lensa kontak? Itu tadi, susah.

Jika keadaan badan sangat lelah, seringnya lupa atau malas untuk melepas lensa. Akhirnya malah ketiduran dengan kondisi masih pakai lensa kontak. Berlaku juga jika dalam perjalanan jauh yang memungkinkan ketiduran di bus, kereta ataupun pesawat. Keteledoran ini yang membuat mata bengkak dan iritasi. Kalau mata dalam keadaan seperti itu, saatnya istirahat dari lensa kontak dan menggantinya dengan kacamata. Karena cahaya matahari yang masuk mata kita akan menyakitkan. Hidungku akan ikut flu dalam keadaan seperti ini.

Hanya saja, kalau kegiatan di luar ruangan dan cuaca hujan, penggunaan lensa kontak sangat disarankan.

Adik dan sahabat lelakiku sering menggunakan lensa kontak untuk masa-masa penting. Lensa kontak yang mereka gunakan adalah yang jenis transparan sehingga tidak terlihat terlalu menonjol. Tentu saja, pilih yang diameternya sesuai dengan mata normal, 12,00mm. 

Baik kacamata dan lensa kontak ada manfaat positif dan negatifnya. Sebaiknya, jika mata sudah minus cukup besar, punya keduanya penting. Gunakan dikondisi yang tepat. Apalagi jika punya masalah sepertiku. Memakai kacamata terus menerus kulitnya sensitif, memakai lensa kontak terus menerus juga malah membuat mata iritasi. 

Kalau boleh memilih, aku lebih berbahagia jika tak perlu menggunakan keduanya. Tapi Lasik itu muahal sekaliiii.... Dan anak kost sepertiku kurang telaten mengonsumsi wortel. TT__TT

Oh iya, ini wajahku dengan kacamata dan dengan lensa kontak. Yang pakai kacamata adalah pemotretan indoor, di dalam kelas. Yang pakai lensa kontak adalah pemotetan outdoor di kantin kampus, dalam hari dan kondisi kulit berbeda. Lightingnya jadi beda deh. Siapa tau ada yang nyari kemana perginya hidungku di foto lensa kontak. :p

404 Error, Nose not Found :p

Kamis, 04 Desember 2014

Pada Transjakarta Ketiga Tanganku Bergantung

SUDAH 10 menit aku berdiri sendirian di depan loket halte Transjakarta Tegal Perang. Memandang dengan perasaan kecut kepada bus yang seharusnya yang membawaku ke halte Slipi Pertamburan, menatap dengan pandangan muram pada kemacetan pada jam pulang kantor di Jalan Gatot Subroto Jakarta sambil membandingkan kemacetan di Jalan Ahmad Yani Surabaya dan mendongakkan kepalaku ke deretan anak tangga demi menunggu seseorang yang tepat datang. Dalam posisi seperti itu, aku juga memikirkan banyak hal terkait dampak dicabutnya subsidi BBM, operasi tangkap tangan KPK kepada mantan bupati sekaligus Kyai Fuad Amin di Bangkalan yang sempat akan wawancarai terkait persoalan keberagamaan dan demokrasi di Bangkalan yang kondisinya lebih toleran dari Sampang Madura, dan tentu saja terlintas pikiran soal Mas Mas bertemperamen dingin yang entah sedang apa di sana, sambil sebisa mungkin menekan rasa penasaran yang meluap-luap tentang :  bagaimana dia menghadapi hidupnya tanpa berkirim pesan denganku selama beberapa waktu belakangan.

Transjakarta kedua datang 15 menit kemudian. Dengan pasrah aku hanya bisa memandangi bus yang seharusnya bisa membawaku ke halte tujuan, tak bisa begitu saja melompat ke dalamnya. Ada banyak orang tampak berhimpitan di dalamnya, nantinya, kotak berjalan itu akan lebih sesak lagi saat bus itu berhenti di Kuningan Barat yang merupakan halte transit.

Kenapa aku tak segera naik bus itu padahal aku bukan orang yang enggan berdesakan di kendaraan umum?

Oke, jangan salah sangka dulu. Aku begini juga tidak sedang mempraktekkan sebuah analogi drama percintaan yang berbunyi, “Cinta itu seperti menunggu bus.” Bukan, demi Tuhan yang disebut dengan banyak nama, bukan kondisi seperti itu yang sedang terjadi.

Sebenarnya, yang membuatku terhalang untuk menaiki Transjakarta itu hanya karena aku tidak punya kartu e-tiket! Sesederhana itu.

Setelah meninggalkan Jakarta selama hampir satu bulan untuk sebuah penelitian di daerah Jawa Timur, aku tidak tahu bahwa kini hampir di semua koridor bus way diberlakukan penggunaan e-tiket untuk mengganti karcis konvensional berupa sesobek kertas kecil yang begitu diberikan penjaga loket langsung kita buang ke tempat sampah begitu masuk ke dalam haltenya. Sahabatku, si Nila, sudah lama memiliki kartu BNI untuk naik Transjakarta dari halte PGC. Karena sudah lama halte di PGC hanya menerima e-tiket untuk pembayaran karcis. Jadi sangat wajar jika dia yang rutin jadi pengguna layanan Transjakarta itu memilikinya.

BEBERAPA pengguna ATM BCA memang memiliki kartu BCA Flazz. BCA ini bisa digunakan untuk berbelanja seperti kartu debet namun dengan penggunaan yang lebih luas tanpa -kalau tidak salah- minimum pembelian. Saat masih kuliah  semester tiga, setelah mata kuliah Anti Korupsi di gedung S2 Paramadina, aku sempat menemani kakak kelas di kampus mengisi ulang kartu Flazz BCA di ATM center The Energy Building SCBD. Saat aku tanya kenapa dia merasa perlu menggunakan kartu Flazz, dia bilang, “Kakak harus nabung dek, mumpung masih awal bulan.”

Aku tidak tahu korelasinya mengisi kartu Flazz dan menabung itu apa. Karena kartu Flazz itu untuk berbelanja. Sedang definisi menabung di kepalaku adalah menyimpan uang selama mungkin agar tak dibelanjakan. Lagipula, sebagai anak kost, aku lebih senang makan di warung betawi dekat pasar Tegal Parang yang masih menggunakan alat pembayaran konvensional daripada makan di restoran yang menerima pembayaran dengan Flazz.

Menurutku, penggunaan kartu Flazz untuk segala macam transaksi itu membuat kita tidak memberi kesempatan berputarnya uang di kalangan pedagang bermodal cekak di kelas bawah. Kalaupun uang bisa berputar di kalangan bawah, siklus yang dilalui akan lebih panjang. Tidak mungkin kan beli cimol keliling pakai kartu Flazz? Jika kartu Flazz dijadikan sebuah tabungan “mumpung awal bulan” dengan saldo, katakanlah 500.000, maka saat kepepet tak punya uang cash pun, uang kita yang tersimpan di Flazz itu larinya akan ke pengusaha yang punya banyak modal. Bukan pedagang kecil. Aku lebih senang mendukung pedagang bermodal kecil yang berjualan dengan cara konvensional daripada pemodal yang memiliki minimarket dan supermarket. Jika barang yang aku butuhkan juga dijual di toko kelontong -sekalipun harganya akan sedikit berbeda dengan yang dijual di minimarket atau supermarket- aku akan lebih memilih berbelanja di toko kelontong. Bukan di supermarket. Tak bisa seperti itu kan kalau kita hanya punya simpanan uang akhir bulan di Flazz?

Belum lagi risiko yang kita tanggung jika kartu Flazz itu hilang.

Di dalam brosur kecil Syarat dan Ketentuan Penggunaan Kartu Flazz disebutkan bahwa kartu tersebut bisa dipindah tangankan ke siapa saja. Penggunaan kartu tidak memerlukan PIN atau tandatangan sehingga penggunaannya tidak perlu dibuktikan kewenangannya oleh BCA.

Artinya, jika kita menggunakan Flazz untuk menabung tadi, misal dengan saldo RP 500.000 dan kartu tersebut hilang, kartu itu bisa dipakai sampai habis oleh orang yang menemukan kartu kita tanpa kita bisa mencegahnya lewat pemblokiran kartu seperti halnya kartu debit maupun kartu kredit. Tidak ada identitas kita yang tercantum di sana sehingga kalaupun kartu tersebut ditemukan oleh orang baik, tidak ada cara juga untuk mengembalikannya pada kita. Hilang ya hilang saja.

Seandainya saja kenangan tentang mantan dan cemceman kita itu bisa diconvert dalam bentuk Flazz. Dunia akan lebih tenang, kegalauan juga akan musnah.

Oke, kembali ke soal e-tiket.

Sebagai orang yang  masih jarang berpergian dengan Transjakarta, aku kurang tertarik juga memiliki kartu macam itu, dan toh di halte kecil seperti Tegal Parang, kita masih bisa membeli tiket secara manual.

Ternyata aku salah! Karena, sejak 1 November di seluruh koridor Transjakarta kecuali Halte Dukuh Atas dan Ragunan, sudah menggunakan sistem e-tiketing untuk pembelian tiket Transjakarta.

Pasti hal seperti ini sudah diberitakan di media online. Kurang informasi seperti ini memang merugikan. Ini gara-gara bulan November ku disibukan dengan membaca beragam artikel soal kebebasan beragama, pencabutan subsidi BBM, peristiwa Ferguson #BlackLivesMatter, kontroversi pamer bokongnya Kim Kadarshian dan segala macam soal Taylor Swift yang baru saja meluncurkan video klip Blank Space. Sehingga, berita soal pemberlakuan e-tiketing untuk Transjakarta ini terlewat! Sama sekali tidak aku baca.

Jadi, setelah menuruni tangga pada jembatan busway menuju loket tiket dan menyodorkan uang Rp 5000 ke petugas loket, dia bilang, “Maaf, sekarang hanya bisa menggunakan e-tiket.”

Baru saja aku ditolak.

Huft, hidup memang berat dan penuh perjuangan, tapi aku harus selalu tampak tegar dan lapang dada. Aku harus menenangkan hati bahwa semua akan baik-baik saja sekalipun banyak luka di dalam dada. ~~Owoooowooo…

Aku kembali menegakkan badan sambil membaca poster promosi yang digantung di canopy jembatan Transjakarta. Bahwa dengan harga Rp 40.000 kita akan mendapatkan kartu perdana e-tiket berisi nominal Rp 20.000.
Aku mengingat-ingat, berapa uang cash yang aku bawa. Rp 50.000 kurang dikit. Untuk beli e-tiket cukup, tapi tidak cukup karena setelah di halte Slipi nanti aku masih harus naik angkot. Belum tentu juga di Slipi ada ATM BCA sehingga aku bisa menarik tunai di sana.

Aku menunduk ke kaca loket lagi, “Bisa beli kartu perdana pakai debit nggak mbak?”

“Tidak mbak, kalau isi ulang kartu bisa pakai debit. Tapi kalau beli kartu perdana tidak bisa.”

“Kenapa gitu?”

“Sudah aturannya gitu mbak.”

Jawaban default khas costumer service di Indonesia.

Baiklah. Dia bilang sudah aturannya begitu. Sekalipun aku belum bisa menerimanya secara logis, mau nggak mau aku harus patuh kan? Memangnya aku punya pilihan? Masak mau pindah naik taxi di tengah kemacetan seperti ini atau naik ojek yang mahalnya minta ampun.

Aku mencoba mengkalkulasi segala kemungkinan. Jika aku harus naik turun anak tangga Transjakarta lagi untuk ke ATM BCA yang lokasinya di Starmart samping gedung Trans TV, aku akan memboroskan energi dan waktu.

Kegiatan yang akan aku hadiri adalah acara makan-makan ulang tahun anak seorang kawan. Jadi sedari awal aku sudah mengosongkan perut supaya tuan rumah senang aku makan banyak. Nggak gitu juga sih, Cuma demi penghematan pengeluaran anak kostan aja. Masak iya sebelum berangkat acara makan-makan mau makan dulu.

Hal yang mungkin dilakukan saat itu hanyalah menunggu di depan loket Busway. Menunggu seseorang yang tidak aku kenali datang, mau menerima aku apa adanya serta bersedia membantu tanpa perlu mempertanyakan latar belakang kehidupanku seperti apa. Loh, loh, loh, tadi kan niatnya di sini bukan mau menemukan pasangan hidup. Cuma mau nunggu orang yang punya kartu e-tiket dan mau membantuku untuk ikut masuk ke dalam halte berpintu elektronik.

Dilihat sekilas dari penampilannya, kebanyakan pengguna Transjakarta sore itu adalah para karyawan yang kemungkinan berkantor di sekitar Jalan Gatot Subroto dan Jalan Tendean. Sebagai pengguna tetap Transjakarta, mereka pasti memiliki kartu e-tiket itu. Ada banyak orang yang lewat. Tapi aku tak kunjung mendapatkan seseorang yang aku pikir bisa membantuku.

Kenapa?

Kebanyakan dari orang yang lewat itu berjalan sambil menunduk ke gadgetnya. Sebagian lagi memakai masker anti polusi dan yang lainnya terdiri dari orang-orang yang terlihat menyumpal telinganya dengan headset sehingga akan sulit jika diajak komunikasi.

Aku mencari seseorang tanpa masker, tanpa menunduk di gadget dan tanpa headset. Kriteria sederhana yang baru aku sadari begitu langka saat itu. Belakangan aku menambahi kriteria lain : seseorang yang jalannya tidak tergesa-gesa.

AKHIRNYA datanglah seorang ibu paruh baya berwajah Tionghoa berkaus merah dengan kriteria yang aku idamkan. Aku tersenyum padanya, dia berhenti dan membalas senyumku.

“Bu, maaf, bisa minta waktunya sebentar?” Sapaku untuk menghentikan langkahnya.

“Ya?”

Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat itu. Tiba-tiba saja aku langsung teringat volunteer Green Peace atau WWF yang suka minta sumbangan dana kepada orang yang lewat dan para missionaris penyebar buletin Saksi Jehovah.

“Bisakah saya minta tolong sama ibu? Saya belum punya kartu karena saya tidak biasa naik Transjakarta. Sedangkan saya tidak bawa uang cash, masih di ATM. Bisa saya ikut masuk ke dalam bersama ibu? Nanti saya bayar tiketnya ke Ibu.”

Tanpa pikir panjang, ibu itu mengiyakan dan mempersilakan aku masuk lebih dulu melewati pintu elektronik halte.
Setelah kami berdua masuk ke dalam halte, aku segera mengangsurkan selembar uang 5000an. “Tidak usah kembali bu.”

“Nggak bisa begitu. Biasanya tarifnya berapa?”

“3500 bu…”

“Ini, saya ada kembalian.”

“Loh, nggak perlu bu.”

Ibu itu membuka dompetnya mencari-cari recehan yang tampaknya bersembunyi di dasar dompet yang cukup besar. Karena sulit, ia menjungkirbalikkan isi dompet dan menadahinya dengan telapak tangan. Mengangsurkan recehan berupa 5 logam uang receh Rp 100 dan 2 keping Rp 500.

Aku menerimanya dengan kikuk sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Tak lama, Transjakarta ketiga datang. Lebih penuh daripada dua armada sebelumnya. Aku tak punya alasan lagi untuk tidak melompat ke dalamnya. Lagipula sudah terlalu sore, acara pasti akan segera dimulai saat aku sampai di sana nantinya.

Aku meraih gantungan tangan di dalam kotak ber AC itu agar tidak oleng saat bus berjalan. Tersenyum kecut teringat iklan hand sanitizer di televisi yang menggambarkan perpindahan kuman lewat telapa tangan. Berbaur dengan orang-orang yang sebagian besar laki-laki karena aku memang memilih naik di bagian belakang bus gandeng yang pemberhentian terakhirnya di Grogol ini.

Aku sudah bertekad akan membeli kartu Flazz Transjakarta saat pulang nanti di halte Slipi Pertamburan. Agar tak perlu menunggu lama di depan loket dan tak perlu merepotkan orang lagi.

Setelah menghembuskan nafas lega, tiba-tiba saja dialog awal film komedi romantis berjudul First Kiss yang jadi salah satu film Thailand kesukaanku terngiang-ngiang di kepala.

“…cinta itu seperti menunggu bus, kadang bus yang datang bukanlah bus yang kau harapkan. Dan saat bus yang kau harapkan datang, akan ada hambatan yang menghalangimu menaikinya…"

Selasa, 23 September 2014

Melawan Intoleransi lewat Literasi Media

Ruangan kecil tanpa AC itu bukan masjid atau pura, namun kita harus melepas sepatu sebelum memasukinya. Menurut ingatan dan daya ukurku yang payah, ruangan itu berukuran sekitar 4x7 meter. Bagi "pemakan buku", tempat itu adalah salah satu potongan "surga" ilmu pengetahuan di kota Jogja jika dimanfaatkan dengan baik. Apalagi tidak perlu membayar sepeserpun untuk meminjamnya. Otak para pecinta buku akan dimanjakan dengan ribuan koleksi buku di sana. Aku sendiri merasa tak puas jika hanya sekali dua kali menelusuri deretan judul-judul buku yang tertera di sana dan bingung mau membaca yang mana dulu. Sebagian besar adalah buku cetakan lama yang sudah langka dan penting. Kadang ada satu dua orang yang mampir ke perpustakaan ini untuk mencari referensi ataupun sekedar membaca di tempat. Aku dan Alesia biasanya mesti berbagi meja dengan pengunjung perpustakaan, dengan tempat duduk di sekeliling meja menghadap atau membelakangi kaca depan yang dulu pernah dirusak massa intoleran saat diskusi bersama Irsyad Mandji dulu dilaksanakan. Dari kaca itu, kita bisa memandang pendopo LKiS, tempat diskusi yang biasanya dianggap "meresahkan" kelompok tertentu sehingga harus dijaga dengan ketat dengan intel dan kepolisian. 


Sebagian Rak Buku di Perpustakaan LKiS

Aku dan Alesia mendapat jatah magang Yayasan LKiS Yogyakarta selama 3 minggu. Saat itu, kami berdua belum begitu yakin kegiatan apa yang akan kami lakukan di LKiS. Pihak LKiS sendiri mengatakan bahwa yayasan sedang tidak memiliki kegiatan lagi sampai September. Kami berdua harus memikirkan apa yang harus kami lakukan selama 3 minggu di sini.

Aku meminati dunia jurnalistik, media, kebebasan beragama, politik dan HAM. Sebagai mahasiswa S1 Political Science untuk major dan Psychology di Haverford College US, Alesia meminati di politik, psikologi, kebebasan agama, dan HAM. Kami harus mencari sesuatu yang sama sesuai dengan minat kami berdua agar dapat bekerjasama dengan baik selama magang. 

“Ceritakan soal literasi media di Amerika.” tanyaku pada Alesia memulai pembicaraan di hari pertama magang kita.

“Well, aku pikir kita di Amerika tidak menyebutnya secara khusus. Mungkin memang disebut literasi media di beberapa tempat, aku hanya akan mengatakan sesuai dengan pengalamanku. Dari SD kita sudah diajari untuk menulis, membaca, mengapresiasi dan mengkritik karya teman kita di kelas. Dimulai dari hal sederhana. Misalnya puisi, kemudian prosa, sampai di SMA, kita mulai mengkritisi jurnal ilmiah dan teori-teori lainnya. Tulisan-tulisan terbaik di sekolah hasil dari kelas bahasa itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku. Jadi setiap anak berlomba-lomba untuk membuat karya terbaiknya," Ia berhenti sejenak untuk mengikat rambut panjang hitam khas Meksikonya, "Saat aku berusia 13 tahun, sudah ada puisi karyaku hasil dari latihan menulis di sekolah yang diterbitkan bersama dengan banyak puisi lain yang sudah melewati seleksi ketat dan diseleksi.” lanjutnya dalam bahasa Inggris beraksen Amerika dengan ritme Spanyol yang cepat. 

Dari obrolan selanjutnya, kami merasa bahwa mengadakan lokakarya literasi media yang berbasis anti intoleransi sepertinya menarik. Mengingat bahwa di Indonesia, agama bukanlah ranah privat sampai-sampai kita harus mencantumkannya dalam kartu identitas. Alesia sempat tidak percaya bahwa di Indonesia, agama yang dianut warga negara juga sempat diwajibkan untuk tertulis di KTP, ia baru percaya setelah aku memperlihatkan KTP ku. Ia tetap beranggapan bahwa seharusnya negara tidak perlu tahu keyakinan paling privat warganya. Aku mengatakan bahwa kekerasan atas nama agama di Indonesia menempati urutan kedua terbanyak setelah konflik agraria. Kami berdua membaca berbagai artikel di internet dan menonton video kekerasan atas nama agama di Youtube. Fakta-fakta soal apa yang terjadi pada minoritas beragama di Indonesia membuatnya merinding. Ia membayangkan jika ia tinggal di Indonesia, pasti ia juga akan mengalami kesulitan-kesulitan beribadah dengan adanya larangan pendirian gereja. Aku menceritakan soal Pendeta Bennhard Maukar dari Kristen Pantekosta Rancaekek yang dipenjara 3 bulan karena dianggap punya gereja yang tak berizin. Sedangkan, mengurus perizinan gereja di wilayah mayoritas Islam itu susahnya minta ampun. Sebagai pengikut Kristen Pantekosta, Alesia jadi sedih mendengarnya. Ia jadi lebih merinding ketika aku menceritakan soal jemaat Ahmadiyah Lombok dan pengikut Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya. Belum lagi yang terbunuh dan diintimidasi karena dianggap kafir.

Alesia Lujan-Hernandez adalah partner magang dan risetku di program ini. Dia bersama dengan 5 mahasiswa lain dari Amerika mengikuti program Summer School dari VIA (Volunteer in Asia) dan Haverford College Program,  6 mahasiswa dari Indonesia juga terpilih untuk mengikuti program ini bersama mereka untuk kelas pelatihan riset, magang dan kolaborasi riset selama 2 bulan di Yogyakarta. Kami ber-12 terbagi menjadi 6 grup magang yang masing-masing grupnya terdiri dari 2 orang. Di Program ini, ada 2 mahasiswa dari Haverford College, 4 mahasiswa dari Bryn Mawr College, 3 mahasiswa UGM, 2 mahasiswa Universitas Paramadina, dan 1 Mahasiswa dari UNIPA (Universitas Negeri Papua) di Papua Barat. 

Mas Hairul Salim, direktur Eksekutif Yayasan LKiS berkata pada kami berdua, “Di lantai atas ada ruang kosong yang bisa dipakai. Silakan kalau ingin membuat diskusi dan semacamnya. LKiS tidak punya kegiatan secara khusus sampai bulan September.”

Kami merasa tertantang mendengarnya. Bukankah menyenangkan jika bisa membuat sebuah kegiatan suka-suka kita dengan fasilitas lengkap?

Awalnya kami berpikir untuk membuat diskusi kecil seputar intoleransi dan literasi media. Tapi kami khawatir bahwa sebenarnya diskusi yang kami adakan hanya untuk orang-orang yang sudah setuju dengan isu anti intoleransi beragama. Kami tidak ingin menggelar sebuah diskusi yang hanya bicara dan didengar oleh umatnya sendiri. Kami ingin sesuatu yang saat didiskusikan menjadikan tema tersebut menjadi hal baru bagi peserta diskusi.

Aku dan Alesia memutuskan untuk membuat program Literasi Media ke Siswa SMA dengan dibantu pers mahasiswa dari kampus-kampus di Jogja sebagai mentor. Namun, sebelum itu, kami harus merumuskan, literasi media macam apa? Apa fokus utama kami? Bagaimana cara kami untuk dapat memperoleh daftar sekolah yang harus kami kunjungi? Aku dan Alesia tidak memiliki jaringan sekolah di Jogja. Selain itu, bagaimana dengan materi, sekolah dan pelatihan literasi dapat diwujudkan dalam waktu 3 minggu sedangkan waktu liburan sekolah karena libur nasional bulan Ramadhan untuk siswa mengejar di belakang kami?

Yang pertama kami lakukan adalah membuat linikala dan list to do, apa saja hal yang harus kami lakukan dalam minggu pertama, minggu kedua, dan minggu terakhir. Jadwal yang kami buat membuat kami sendiri kerepotan hingga kami harus berangkat sangat pagi ke LKiS untuk magang dan baru pulang saat sore hari. Sambil bercanda, di tengah kelelahan kami mempersiapkan segalanya, Alesia berkata, "Banu, we took this internship too seriously." Aku terkekeh, kami berdua memang selalu pulang paling akhir dan berlagak sok sibuk diantara teman-teman yang magang di LSM lainnya. Apalagi ketika Izzy Roads, direktur VIA Program mengirimi kami inbox lewat Facebook yang isinya meminta materi literasi media kami untuk teman-temannya di Burma yang mengakibatkan kematian hanya karena beredarnya berita palsu yang disebarkan lewat facebook tentang Mandalay. Padahal saat itu, materi kami belum sepenuhnya siap dan isinya hanya relevan untuk Indonesia.

Rencana kami, minggu pertama adalah membuat materi literasi media, menghubungi pers mahasiswa mana saja yang bisa diajak kerjasama, mencari SMA, Training of Trainer (ToT) dengan para pers mahasiswa dan sebagainya.

Beruntunglah, Mas Salim mengajak aku dan Alesia untuk datang ke seminar yang pesertanya ternyata guru agama dari SMA se Yogyakarta yang diadakan oleh Kementerian agama. Usai seminar itu,  aku mengumumkan akan mengadakan pelatihan literasi media yang berbasis anti intoleransi. 4 guru agama  dari SMA yang berbeda menghubungi kami untuk mengikut sertakan sekolahnya dalam lokakarya literasi media. Lucunya, sebagian besar dari mereka tidak tahu literasi media itu artinya apa. Saat itu aku juga kesulitan untuk menjelaskan dengan kalimat yang singkat lokakarya yang akan kami adakan karena materinya juga belum siap. Sedangkan Alesia tidak bisa bahasa Indonesia sehingga menghambat dirinya dalam menjelaskan secara detail kepada guru SMA yang bertanya langsung padanya. 

Untunglah, para guru tersebut tak butuh penjelasan yang terlalu rinci saat itu juga. Mereka mendaftarkan sekolahnya dalam lokakarya ini karena mereka senang apapun yang membuat para muridnya maju. Aku jadi terharu karena menemui PNS yang mau bekerja dengan maksimal demi siswanya. Selama ini aku sering memandang sebelah mata para PNS yang bekerja asal-asalan dengan gaji tetap beserta berbagai keuntungan pensiuan dan gadai SK di bank. 

Aku dan Alesia mencoret list to do mencari sekolah. Kami sudah berhasil mendapatkan SMA 1 Piri, SMK 2 PI Ambarukmo, SMAN 1 Kalasan, dan SMAN 2 Wates sebagai daftar sekolah yang akan kami beri materi lokakarya literasi media. Kami menuliskan daftar SMA tersebut untuk dikunjungi sebelum lokakarya berlangsung di minggu kedua to do list karena kami perlu memastikan ada fasilitas yang kami perlukan beserta berbagai berbagai kesepakatan lainnya.

Selanjutnya kami menghubungi pers mahasiswa. Mas Wisnu Prasetyo, seorang teman yang jadi alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Balairung UGM memberikan koneksi untuk dapat berhubungan dengan pengurus yang sekarang. Seorang teman dari twitter memberikan kontak Pers Mahasiswa Ekspresi UNY yang beberapa waktu lalu tabloidnya sempat dibredel rektor. Lewat koneksi LKiS, kami mendapatkan kontak ke LPM Arena UIN Yogyakarta. Setelah kontak berlangsung lewat SMS, dan sempat berkunjung, yang dipastikan bisa mengikuti ToT adalah LPM Balairung dan LPM Arena. LPM Ekspresi sedang sibuk menyiapkan materi majalah dan beberapa anggotanya masih KKN. Kami mengerti dengan kesibukan mereka.

Di jadwal kami, sudah tertera akhir pekan minggu pertama kami adalah ToT untuk teman-teman LPM. Kami menekankan bahwa di sini kami tidak ingin menjadi guru, tapi mau belajar bersama. Tentu saja sangat kikuk mengajar literasi media di depan mahasiswa yang sehari-hari sudah bergelut seputar media. Sehingga mungkin saja akan ada banyak koreksi dan itu adalah hal baik. 

Rasanya hari berjalan terlalu cepat. Sampai hari kamis minggu pertama, kami belum selesai menyelesaikan materi presentasi. Kami juga menyiapkan jadwal dan isu-isu yang akan dibahas di lokakarya. Untuk menyusun itu semua, kami harus begadang sampai akhir pekan.

Aku membuat materi seputar 9 elemen jurnalisme dari buku karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sedangkan Alesia membuat materi yang diambil dari buku Verification Handbook karya banyak jurnalis dari media internasional yang bisa diunduh di sini. Sedangkan presentasi yang dibuat oleh Alesia bisa diunduh di sini.

Pada hari Training of Trainer, sekitar 15 orang dari 2 Pers Mahasiswa Balairung UGM dan Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta datang. Karena agak nervous berbicara soal media di depan awak media juga, kami berkali-kali meminta saran maupun koreksi teman-teman LPM jika ada yang keliru dari presentasi yang kami sampaikan.

Alesia mengawali workshop Literasi Media dengan Identity walk games dengan menggunakan bahasa Inggris. Aku menerjemahkan apa yang dia katakan dan apa yang peserta sampaikan padanya. Materi Identity walk yang tujuannya untuk mempraktekkan bagaimana bias media bekerja. Materi Identity walk ini bisa diunduh di sini.

Mas Hairul Salim membantu kami mengisi materi terakhir, praktik verifikasi pemberitaan di media lewat fasilitas google image.

Intellectual Social Responsibility (ISR), bukan Volunteering
Saat mempersiapkan teman-teman pers mahasiswa untuk menjadi trainer, aku menjelaskan kepada mereka bahwa menjadi trainer dalam literasi media ini bukanlah kegiatan volunteering biasa seperti kebanyakan gerakan lain. Apalagi, saat ini ada banyak orang melakukan kegiatan volunteering dengan setengah hati. Maksudnya, kebanyakan kegiatan volunteering saat ini dijalankan dengan tidak konsisten. Karena pelaksanaannya hanya didasarkan sesuai dengan waktu yang seadanya dengan kemauan yang naik turun sesuai dengan kepentingan dan kesempatan ala kadarnya. Jika ada waktu dan sesuai mood, maka sebuah program akan dijalankan. Jika tidak ada mood dan waktu, maka tanpa beban apapun sebuah program akan ditinggalkan.

Bayangkan apabila atmosfer volunteering ala kadarnya ini benar-benar diterapkan oleh banyak orang, konsistensi gerakan akan terhambat. Menurutku, tanggung jawab terhadap gerakan bukan didasarkan pada rasa senang semata ataupun iseng-iseng berhadiah. Gerakan adalah sebuah tanggung jawab sosial yang harus dimiliki oleh orang-orang yang sudah memiliki kesadaran dari dirinya sendiri untuk menggerakkan. Orang tersebut sudah memiliki bekal dalam hal intellectual sehingga gerakan adalah konsekuensi logis perjalanan intelektual dan spiritualnya. Aku menamakan gerakan ini sebagai Intellectual Social Responsibility (IRS). Orang hanya perlu mengaktualkan kesadaran dirinya sendiri kemudian melakukan gerakan untuk menularkan tren kesadaran tersebut kepada orang lain. Orang yang belum merasa memiliki tanggung jawab sosial tidak perlu ikut andil dalam gerakan karena justru akan menghambat pergerakan itu sendiri.

Awalnya, gerakan literasi media ini menggandeng LLPM dari kampus di Yogya karena aku dan Alesia berharap bahwa setelah aku kembali ke Jakarta dan Alesia kembali ke Amerika, akan tetap ada mahasiswa-mahasiswa yang memberikan pelatihan literasi media yang berbasis kebebasan dan kerukunan beragama di SMA se-Yogya. Sayang sekali, mahasiswa UGM sedang sibuk-sibuknya KKN (Kuliah Kerja Nyata) sehingga tidak dapat menjadi trainer literasi media untuk SMA.

Yang membantu kami adalah 2 orang anggota pers mahasiswa dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka bernama Lugas dan Faksi. Lugas adalah Pemimpin Redaksi LPM Arena. Dia lelaki tinggi berwajah manis dengan rambut panjang bergelombang yang tampak pendiam dan cerdas. Selera musiknya juga bagus, ia memberikan rekomendasi musik beraliran Postrock dari youtube yang menjadi musik favorit Alesia menjelang tidur. Sampai hari terakhir di Jogja, Alesia masih tidur sambil menyetel Youtube channel rekomendasi Lugas. How Cute! Faksi adalah anggota LPM Arena yang asalnya dari Madura, Faksi juga manis kok, rambutnya pendek dan sering mengatakan hal-hal lucu di luar dugaan. Sekalipun dia tidak bisa bahasa Inggris dengan lancar, dia selalu berusaha mengajak Alesia bicara dan menceritakan hal-hal yang dianggapnya lucu. Alesia sering bertanya padaku diam-diam, "Dia tadi nyeritain apa sih sebenarnya? Apakah itu benar-benar lucu?" Kami juga sering memainkan namanya dengan ejaan 'Fuck See' alih-alih Faksi sambil bercanda. Saat aku bertanya pada Faksi soal nasib pengikut Syiah Sampang yang terusir dari desanya, Faksi buru-buru membantah keterlibatan dirinya dengan kelompok intoleran di sana. Aku dan Alesia senang bahwa akhirnya kami dibantu oleh 2 orang yang memiliki kepedulian yang sama di bidang kebebasam beragama dan anti intoleransi.

Lokakarya di 4 SMA
Kami melakukan banyak revisi soal materi yang harus diberikan pada siswa SMA. Materi itu berbeda dengan materi ToT. Kami tidak lagi menggunakan presentasi Verification Handbook karena keterbatan waktu yang disediakan sekolah. Kami juga masih menggunakan Identity Walk Games di awal lokakarya.

Lugas dan Faksi belum bergabung menjadi mentor di SMA pertama yang kami kunjungi.

Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SMA 1 Piri. Dikutip sepenuhnya dari laman resmi  SMA PIRI 1, berdirinya SMA PIRI 1 Yogyakarta tidak dapat lepas dari keberadaan Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) Yogyakarta, yang lahir dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) aliran Lahore yang diprakarsai oleh H. Minhadjurrahman Djojosugito. Yang kemudian beliau disebut sebagai Peletak dasar Yayasan PIRI. Sekitar 25an siswa anggota OSIS mengikuti lokakarya kami.

Aku dan Alesia juga belum menjadi pengajar yang baik saat itu. Ada banyak evaluasi dalam hal metode dan materi yang kami lakukan setelahnya. Misalnya, bagaimana caranya menghadapi siswa menolak berbicara di kelas? Bagaimana caranya menghidupkan interaksi di kelas? Bagaimana caranya supaya Alesia yang tidak bisa bahasa Indonesia tetap dapat berkomunikasi aktif dengan siswa dan memahami celotehan siswa di kelas? Bagaimana supaya suasana yang kami bangun tidak terlalu formal? Bu Anis, guru Agama yang mengundang kami ke sana menceritakan tentang beberapa siswa dengan latar belakang yang beragam dan menarik. Kami jadi mengerti mengapa respon siswa terhadap kehadiran kami masih sangat malu-malu.

Karena sulitnya menyesuaikan jadwal sekolah yang mulai liburan kenaikan kelas sekaligus libur bulan Ramadhan, aku dan Alesia akhirnya mengajar literasi media secara terpisah. Aku ditemani Lugas ke SMK PI Ambarukmo, sedangkan Alesia dan Faksi ke SMAN 1 Kalasan yang lokasinya dekat dengan Candi Prambanan. 

Di SMK PI Ambarukmo, pada awal pertemuan, peserta lokakarya literasi media yang mengikuti kelas kami ada sekitar 25 orang termasuk dengan mahasiswa keguruan yang sedang KKN di SMK tersebut. Namun, setelah istirahat shalat Jumat, peserta lokakarya berkurang drastis hingga hanya tersisa 15 orang. Aku dan Lugas tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menyikapi hilangnya beberapa peserta lokakarya selain melanjutkan materi selanjutnya. Di akhir lokakarya, kami mengobrol dengan Pak Sa’dun guru Agama SMK PI Ambarukmo yang mengundang kami datang. Kami terkesan dengan pandangan-pandangannya soal kerukunan umat beragama yang dia tanamkan pada siswanya selama ini. Dia selalu berharap dengan literasi media berbasis anti intoleransi ini, siswa-siswanya tidak hanya memperoleh materi yang itu-itu saja ala pelajaran SMK, tapi juga bisa mendapatkan wawasan lain yang membuat siswa hidup rukun antar umat beragama.

Di SMAN 1 Kalasan, Alesia dibantu oleh guru bahasa Inggris untuk menerjemahkan apa yang ingin dia ajarkan karena Faksi merasa kesulitan untuk menerjemahkan bahasa Inggris Alesia yang pengucapannya sangat cepat. Pak Samijo, Guru Agama Katolik di sekolah itu menjelaskan pada Alesia dan Faksi, peserta lokakarya yang mereka ajar adalah siswa Kristen dan Katolik yang tidak mengikuti pesantren kilat Ramadhan di sekolah. Sehingga ada siswa muslim di kelas saat itu.

Lokasi lokakarya terakhir kami adalah SMAN 2 Wates. Kali ini kami berlima, aku, Alesia, Lugas, Faksi dan ditemani oleh Mas Hairul Salim. Wates masuk dalam kabupaten Kulon Progo DIY, lokasinya sangat jauh dari pusat kota. Kami datang terlambat karena sempat salah jalan. Anggota OSIS dan mahasiswa magang yang KKN di sana tampak lebih antusias mengikuti kegiatan ini dibanding sekolah-sekolah sebelumnya. SMA ini dulunya adalah SMA standar internasional yang biasa menerima pertukaran pelajar dari luar negeri. Ketika sekolah standar internasional dihapuskan, SMA ini tetap menjadi sekolah favorit lulusan SMP. Baik mahasiswa keguruan dan siswa berinteraksi dengan aktif di kelas. 

Foto Bersama Usai Lokakarya di SMA 2 Wates
Lugas membantu kami mengedit dan menerjemahkan diagram soal posting atau tidak posting di Facebook sebagai salah satu materi dalam literasi media di kelas. Edisi bahasa Inggrisnya bisa dilihat di sini, sedangkan edisi bahasa Indonesianya bisa dilihat di sini.

Awalnya, kami ingin kembali ke 4 sekolah itu untuk melakukan riset etnografi dengan metode partisipasi observasi, kuesioner dan wawancara soal pemahaman literasi media dan dampaknya terhadap interaksi antar umat beragama. Namun, semua sekolah terlanjur libur Ramadhan sehingga aku dan Alesia terpaksa mencari cara lainnya untuk mendapatkan research participant. Memang, saat kami berkunjung ke 4 SMA itu, status kami masih magang di Yayasan LKiS. Penelitiannya belum dimulai. Sehingga lokakarya dan penelitian tidak dapat dijalankan secara bersamaan saat itu juga.

Target kami dalam literasi media adalah membuat siswa dapat berpikir kritis dalam menerima informasi apapun. Dengan pemahaman yang baik mengenai media, siswa akan bersikap skeptis dan mencari alternatif informasi sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pemberitaan media yang tidak berimbang apalagi dalam kaitannya dengan pemberitaan soal keagamaan di media massa. Mereka diharapkan dapat membuat berita sendiri dengan prinsip-prinsip sederhana dalam jurnalistik.

Karena belum berhasil membentuk komunitas literasi media di Yogya, dari awal kami ingin membagikan materi literasi media yang sudah direvisi sebelumnya. Materi ini sifatnya copyleft, siapapun boleh menggunakannya secara bebas, mengunduh maupun memodifikasinya sesuai dengan kepentingan masing-masing pengajar. Bahkan tidak menyertakan nama pembuatnya tidak apa-apa, tapi aku menyarankan sebaiknya mencantumkan nama pembuat materinya agar kesalahan dalam materi bisa menjadi tanggung jawab kami.

Beritahu juga jika ada komentar maupun saran agar materi literasi media ini lebih efektif untuk diajarkan terutama kepada siswa SMA atau komunitas lainnya. Berikut tautan materi presentasi literasi medianya berbasis kerukunan beragama. Dropboxnya harus di download ya supaya videonya bisa dimainkan Jika ingin membuat lokakarya serupa, kami juga membagikan instrumen praktek literasi media yang masih sangat perlu direvisi. Untuk sesi ini, pengajar literasi media memilih 2 berita dengan topik sama tapi dengan framing pemberitaan yang berbeda dan membedahnya secara kritis. Selain itu, kami juga menyertakan contoh proposal permohonan ijin pengajaran literasi media untuk diberikan ke sekolah, silakan download di sini.

Membuat lokakarya literasi media dalam waktu singkat itu tidak mudah, tapi itu juga bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Teman-teman juga bisa berdiskusi lebih lanjut soal literasi media dan kaitannya dengan gerakan anti intoleransi beragama denganku via email syaharbanu.ayu@gmail.com.