Minggu, 15 Juni 2014

Soeharto Bukan Pahlawan!

Kemarin, aku dan Fatimah Zahrah makan malam di sekitar kampus Sanata  Dharma Jogja. Dekat dengan homestay kami. Kami mencari makanan yang sederhana tapi bukan yang edisi masakan Padang. Fatimah ngotot ingin makan sayuran karena dia ingin mempraktekkan Food Combaining, Aku juga ngotot tidak ingin makan di chiness food. Sejak dia di Jogja, dia memang berusaha untuk mempraktekkan food combaining supaya cacing dalam perutnya jadi lebih bahagia. Jadilah, kami makan di warung masakan Jawa.

Warung itu sama sekali tidak menarik. Etalasenya tidak menghadap sisi jalan, agak temaram, dengan televisi di pojok atas. Warung itu menjual bensin, minuman dingin dengan kulkas Coca Cola, dan pulsa. Saat kami datang, mereka sedang menonton TV One.

Aku agak ragu makan di situ. Selain tidak menarik, aku bukan penggemar masakan Jawa maupun warteg. Aku lebih suka makanan Sulawesi, Aceh, maupun Sunda. Sedangkan Fatimah adalah fangirl warteg, masakan Jawa dan warung Burjo. Tapi kami sudah berjalan lebih jauh dari yang biasanya. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di warung itu.

Ternyata pemilik warung itu adalah orang Flores. Menariknya, bapak dan ibu yang ada di warung tersebut menggunakan pin bergambar Prabowo-Hatta di bagian dada kanan bajunya. Dengan wajah sumringah, mereka bilang kalau mereka adalah tim sukses pasangan calon presiden No.1.

Kepada Fatimah, ibu itu bilang, "Sekalipun saya tim sukses capres nomer 1, saya sih tetap ingin mencoblos berdasarkan hati nurani. Jokowi itu orang baik. Dia sudah berbuat banyak dan dicintai rakyat. Terserah orang mau jadi tim sukses siapa. Yang tahu siapa pilihan sesuai hati nurani kita di kotak suara hanya kita dan Tuhan."

Fatimah menyambut pernyataan ibu itu dengan tertawa keras. Dia senang sekali ada orang yang bilang begitu kepada Jokowi. Aku hanya senyum-senyum mendengarnya. Karena tersenyum itu nomer satu. Presidennya nomer 2.

Fatimah dan ibu itu mengobrol seru tentang copras capres, pendidikan, pemberdayaan perempuan, anak, asal tempat tinggal, dan lain-lain.

Aku hanya ikut mengobrol bersama mereka sedikit-sedikit. Bukan karena tidak tertarik dengan tema obrolan. Tapi karena bapak pemilik warung juga mengajakku untuk mengobrol. Sehingga ada 2 forum yang berbeda di satu tempat. Kami sangat berisik. Beruntung tidak ada orang lain di sekitar kami yang ikut bicara maupun sekedar mendengarkan.

Topik yang dibicarakan oleh si bapak tidak jauh beda. Menariknya, bapak ini tetap akan memilih Prabowo dengan alasan, "Prabowo itu hebat, Sehebat Soeharto. Nanti jika Prabowo menang, akan ada kemandirian pangan seperti jaman Soeharto dulu. Indonesia akan berdaulat kembali."

Aku tersenyum, mengangguk-angguk, dan ber, "Oh ya? hmmm... Oh ya..." karena bapak itu berbicara dengan semangat tanpa bisa di interupsi.

Si bapak bilang, bahwa di jaman Soeharto, ada bayak lahan yang diganti dengan sawah sehingga lebih bermanfaat. Karena itulah, warga di luar pulau Jawa tidak perlu membeli nasi lagi dari Jawa. Dia bercerita bahwa ia termasuk yang kena dampak positif di masa Soeharto lewat program Repelita.

Program Repelita Soeharto diabadikan lewat perangko-perangko yang dikoleksi oleh 2 kakak ku yang memang punya hobi filateli. Saat aku SD, aku lebih tertarik dengan buku dan kertas surat yang lucu-lucu daripada filateli. Penyebutan Repelita membawa ingatanku kembali ke masa  lalu. Kalau tidak melihat koleksi perangko kakakku, barangkali aku tidak akan pernah tertarik dengan tema Repelita. Perangko itu bergambar macam-macam pembangunan Indonesia yang menjadi target peningkatan kualitas di berbagai sektor. Aku jadi tahu apa yang dimaksud oleh bapak dari Flores ini.

Berbagai macam gambar perangko Repelita.
(Sumber foto : http://kolektorperangko.blogspot.com/)
Setelah memuji-muji Soeharto, ia tampak sangat senang. Sesekali ia tertawa mengenang kejayaan Orde Baru dan kenyamanan hidupnya di masa lalu.

Aku bilang ke bapak itu, "Saya sih nggak suka sama Soeharto. Soalnya Ibu dan Bapak saya jadi tahanan politik tanpa proses pengadilan. Di jaman Orde Baru, semua yang tampak kritis dan berbahaya akan langsung dipenjara sekalipun tapa bukti yang kuat. Jangankan bapak ibu saya, Iwan Fals yang cuma nyanyi-nyanyi aja juga dipenjara."

Bapak itu memelankan tawanya, dengan agak kikuk, dia berkata, "Oh gitu ya, jadi saya salah sasaran ngomong ya. Hehehe, maaf..."

Kemudian aku bercerita tentang bapak dan ibu. Sudah pernah aku tulis kisahnya di blog. Aku tidak ingin menuliskan detail pembicaraan tentang bapak di postingan ini. Karena aku ingin membahas hal selain soal pemenjaraan.

"Soeharto sama sekali bukan Pahlawan. Dengan program Repelita, Indonesia yang awalnya memiliki makanan pokok bermacam-macam jadi disuruh makan beras semua. Pembukaan lahan itu untuk ditanami padi kan? Itu juga terjadi lho di Indonesia bagian Timur yang masyarakatnya makan sagu. Padahal Sagu itu lebih sehat daripada beras. Sagu punya karbohidrat seperti nasi, tapi dengan kadar gula yang rendah sehingga penderita diabetes aman mengonsumsinya. Dampak politik beras terasa sekali sekarang, kita semua jadi terbiasa makan nasi. Padahal pupuk sangat mahal. Lahan banyak yang sudah rusak karena musim tidak menentu. Gagal panen di mana-mana. Kita terpaksa ambil beras dari Thailand. Coba kalau dulu tidak menjalankan politik beras, ketergantungan kita terhadap nasi tidak akan separah ini."

"Oh iya?"

Si bapak kemudian bercerita bahwa dia lebih suka beras dari pada sagu. Di Flores, hanya orang yang sangat miskin yang mengonsumsi sagu. Sagu di Flores biasanya hanya untuk makanan ternak. Mereka baru tahu kalau sagu bisa dioleh menjadi makanan dari orang Irian Jaya (sekarang Papua dan Papua Barat) dan Maluku. Jika tidak ada nasi, maka mereka akan makan umbi. Jika tidak ada umbi, barulah mereka makan sagu. Sagu sudah ada di hutan-hutan. Tak perlu menunggu panen ataupun menanamnya. Tanaman sagu sudah tumbuh liar sehingga masyarakat Flores dulu mengiranya sagu itu hanya makanan babi.

"Di masa Soeharto juga, ada sebuah bendungan yang sangat besar bernama Kedung Ombo. Kedung Ombo ini ada di wilayah Boyolali, Sragen, Semarang dan banyak kabupaten lain. Saya ini numpang lahir di Boyolali pak, salah satu Kabupaten yang kena dampak Kedung Ombo juga. Saya pernah ke Kedung Ombo dan waduk itu seperti lautan. Sangat luas."

"Wah, ada kayak gitu ya? Sampai kayak Danau?"

"Benar. Sampai kayak Danau. Sampai detik ini, warga yang dulunya tinggal di wilayah Kedung Ombo banyak yang tidak dibayar tanahnya. Kalaupun dibayar, harga tanahnya juga terlalu murah. Tidak akan bisa membeli luas tanah yang sama di daerah lain berikut bangunannya. Orang-orang banyak yang mendadak miskin dan tidak punya apapun. Mereka tidak punya pilihan lain. Waduk akan tetap di bangun sekalipun mereka tidak mau pindah. Seperti Lapindo itu lho pak, saat sudah terbenam, warga bisa apa? Aliran air yang berasal dari sungai-sungai itu akan tetap membanjiri. Sudah puluhan tahun pak, belum dapat ganti rugi. Kalau lihat peta Jawa tengah, akan sangat jelas terlihat ada waduk besar bernama Kedung Ombo."

"Saya tidak pernah tahu ada Kedung Ombo sebelumnya. Jasa Soeharto banyak di Flores. Saya tidak tahu bahwa di daerah lain dan orang lain mengalami hal yang sebaliknya."

"Yang terkena dampak baik hanya segelintir orang pak. Banyak orang yang terkena dampak buruknya sampai sekarang. Kepemimpinan ala militer seperti yang dilakukan oleh Orde Baru dampak buruknya terasa sampai sekarang. Misal tentang apa yang menimpa bapak dan ibu saya. Apa yang menimpa warga yang dulu tinggal di Kedung Ombo. Dan ada banyak hal lain lagi yang bertentangan dengan akal sehat dan kemanusiaan kita."

Setelahnya, aku dan Fatimah berbicara kepada mereka bahayanya jika era Soeharto kembali berjaya. Termasuk gerakan, "Piye Kabare? Penak Jamanku To?"

Sudah pukul 20.30 saat itu. Sudah lebih dari satu jam kami mengobrol. Agak sulit menghentikan pembicaraan soal ini karena bapak dan ibu yang sejak tahun 91 sudah tinggal di Jawa ini begitu antusias dengan tema obrolan kita.

Aku dan Fatimah pamit. Kami membayar makanan yang harganya murah sekali, lalu bersalaman dengan mereka. Mereka bilang mereka senang berbicara dengan kami. Kami mengatakan hal yang serupa sambil berkata bahwa lain waktu, kami ingin makan di sana lagi.

Kemudian kami berpisah.

Dalam perjalanan menuju homestay, Fatimah bilang, "Si ibu itu pinter banget ya orangnya. Dia itu berpendidikan gitu lho. Open minded banget."

Aku mengiyakan. Ibu itu memang bercerita bahwa dia pernah menempuh pendidikan sekretaris. Tapi aku rasa ibu itu memiliki pengetahuan luas bukan karena pendidikan tingginya. Tapi karena ibu itu memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap keadaan sosial dan politik. Aku banyak menemui orang-orang yang berpendidikan tinggi tapi tak tahu apa-apa selain kenyamanan hidupnya sendiri. Bapak itu juga teman diskusi yang sangat baik. Lebih baik daripada orang-orang yang biasanya berdebat di twitter maupun facebook. Jauh lebih baik juga daripada anak-anak kuliahan yang sering berdebat dengan kata, "Pokoknya blablabla..." dengan sederetan ad hominem yang menjengkelkan.

Pulang makan malam itu, kami sangat bahagia. Tidak hanya soal harga makanan yang sangat murah. Tapi pembicaraan dengan ibu dan bapak pemilik warung memang benar-benar menyenangkan.

Kami benar-benar ingin kembali ke warung itu. Lain waktu.

***
Note : 

Jumat, 13 Juni 2014

Ahmadiyah : "Love for All, Hatred for None"

Tempo pernah memuat liputan tentang sejumlah Masjid Ahmadiyah yang disegel oleh golongan tertentu maupun pemerintah melalui SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Menteri. Konsep kerukunan beragama SBY yang melahirkan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) memang membuat minoritas makin terjepit oleh arogansi mayoritas. Pembangunan rumah Ibadah minoritas makin dipersulit. Rumah ibadah yang sudah berdiri jauh lebih lama dari SKB 3 menteri pun ikut terkena dampaknya. Penyegelan rumah ibadah dan persekusi terhadap komunitas Ahmadiyah terus terjadi. Terutama di Jawa Barat.

Ada sebuah kecenderungan bahwa di dunia ini ada banyak orang yang membenci apa yang tidak diketahuinya. Orang yang tidak tahu Syiah akan membenci Syiah. Orang yang tidak tahu Ahmadiyah akan membenci Ahmadiyah dan hal-hal lainnya. Ketidaktahuan membawa seseorang pada perilaku intoleransi. Riset dari Kemenag pada tahun 2010 tentang Kekerasan atas Nama Agama menyimpulkan bahwa semakin sedikit ilmu seseorang tentang agama, semakin membentuk perilaku intoleran. Jadi, silakan bercermin, saat seseorang mengkafirkan orang lain, apakah ilmunya sudah tinggi? Jika ada sebuah lembaga yang mengkafirkan umat beragama lain, apakah ia sudah benar-benar meneliti tentang agama/kepercayaan yang ia kafirkan?

Kata Rumi, dengan mata cinta, segalanya jadi indah. Bagaimana jika kita melihat dengan mata kebencian? Bukankah akan terjadi sebaliknya? Itulah mengapa, sebaiknya orang yang ingin tahu lebih jauh tentang ajaran yang hendak ia tentang mengetahui langsung dari sumber pertama berita. Bukan sekedar kata mereka. Kata ulama. Atau desas desus belaka. Gunakan prinsip verifikasi sekalipun anda bukan jurnalis. Toh agama sudah mengajarkan tentang konsep tabayyun.
Di depan masjid dan perpustakaan Masjid Ahmadiyah Arief Rahman Hakim Yogyakarta
Hari ini aku berkunjung dan sholat Jum'at di satu-satunya masjid Ahmadiyah Jogja. Masjid ini bernama Masjid Arif Rahman Hakim. Arif Rahman Hakim adalah seorang pemuda dalam puisi "Karangan Bunga" karya Taufik Ismail yang ditembak aparat di depan Istana Negara pada 25 Febuari 1966. Belum banyak orang yang tahu bahwa dia adalah seorang muslim Ahmadiyah.

Jamaah Ahmadiyah di masjid ini ramah-ramah. Mereka tidak memandangku dengan aneh saat shalat dengan menggunakan turbah untuk bersujud. Mereka juga tidak mempersoalkan aku yang sholat tanpa bersedekap. Berbeda jika aku shalat di masjid biasa. Orang biasanya akan memandangku dengan aneh dan bertanya ini itu mengenai perbedaan fiqih. Beberapa kali juga pernah langsung dituduh macam-macam hanya karena berbeda dalam fiqih. Bukankah ada perbedaan fiqih juga di tubuh Ahlussunah Waljamaah antara Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali? Sedikit perbedaan itu juga seharusnya bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan lebih jauh. Karena sebanyak apapun tafsir maupun intepretasi umat terhadap agama, sumbernya tetap Satu. Kita menyebutnya Tuhan, Allah dan nama-nama Agung lainnya.

Jamaah Ahmadiyah tata cara sholatnya sama seperti Ahlussunah Waljamaah. Dari takbiratul ihram, bersedekap, rukuk, sampai bersujud. Mereka juga bershahadat, melakukan shalat, berpuasa, zakat dan haji. Persis seperti Muslim Sunni. Sayangnya, pemda Tasikmalaya sudah memberlakukan aturan bahwa jamaah Ahmadiyah dilarang melakukan ibadah Haji. Tentu saja ini merupakan pelanggaran terhadap kebebasan melakukan ibadah.

Khatib Shalat Jumat Ahmadiyah siang tadi berbicara tentang pentingnya pertemuan-pertemuan rohani untuk memperkuat silaturahmi antar anggota Ahmadiyah. Tidak ada khotbah kebencian terhadap pengikut aliran lain atau kepada capres tertentu. Wajar, Ahmadiyah memang menjunjung tinggi perdamaian. Di tembok masjid Ahmadiyah ini terpampang motto yang selalu dijunjung tinggi oleh para jamaah Ahmadiyah. "Love for All, Hatred for None."

Siapa yang siang tadi dapet khotbah sholat Jumat yang berisi kebencian dan provokasi? Mau pindah tempat sholat Jumat nggak? :))

PS :
Terimakasih untuk sahabat Ahmadi ku Fatimah Zahrah, yang memperbolehkan aku ikut mengunjungi sekaligus beribadah di masjid Arif Rahman Hakim ini. Terimakasih juga untuk Sita Magfira , mbak-mbak Filsafat UGM yang mau mengantar kami berdua ke masjid ini dan kemana-mana seputar Jogja di tengah kesibukan seputar perkuliahan dan perpacarannya. *peluk satu-satu*