Tampilkan postingan dengan label kerinduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerinduan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Agustus 2013

Keping Rindu untuk Talia Joy Castellano dan Muhammad Syahid Juli Ashari

16 Juli lalu aku dikejutkan dengan sebuah berita duka. Talia Joy Castellano, seorang gadis 13 tahun yang sering menampilkan tutorial make up dan memiliki ratusan ribu Subscribers di Youtube meninggal dunia. Gadis kecil itu pergi  setelah berjuang melawan kanker neuroblastoma dan leukemia yang sudah Ia derita sejak usianya 7 tahun.

Dengan percaya diri, Talia biasa mempraktekkan bagaimana caranya memakai make up sambil berceloteh tentang hal-hal lucu untuk viewers nya. Seolah Ia tidak pernah mengalami rasa sakit. Semangatnya  melawan kanker telah menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah terhadap apapun kesulitan-kesulitan hidup ini.

Saat kepalanya plontos karena kemo, bukannya depresi seperti kebanyakan orang yang terkena masalah besar, Ia justru membangkitkan sendiri kepercayaan dirinya dengan bermain make up sehingga kepala plontos bukan jadi alasan baginya untuk tidak tampil cantik. "Aku tidak suka menggunakan wig, jadi aku memakai make-up karena membuatku merasa cantik, luar dan dalam."

Ketika ditanya oleh Ellen DeGeneres di salah satu tayangan Ellen Show tentang bagaimana caranya agar dapat tetap tampak ceria di sepan semua orang saat menghadapi semua rasa sakit yang menerpanya, Talia justru tertawa dan menjawab, "Memangnya aku harus bagaimana? Depresi?"

Bagi yang belum kenal Talia, ini adalah salah satu tutorial Make up dari Talia. 


Bayangkan jika kita berada di posisi Talia, saat orang bertanya hal yang sama, barangkali kita akan menjawab dengan jawaban klise seperti, "Ya... Saya hanya bisa bersabar," atau jangan-jangan beberapa diantara kita justru menyalahkan Tuhan dengan mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan, saya harus tabah". Caranya menjawab pertanyaan Ellen adalah cermin dari kekuatan yang barangkali tidak kita punya. Hanya dengan memandangnya lewat video-videonya, kita mendapat energi positif dari kecerdasan, kedewasaan, kecantikan dan kekuatannya, hingga itu semua menular pada kita semua.

Senyum ceria Talia
Credit Photo : thesilverpen.com
Saat mendengar perginya Talia karena leukimia, aku jadi teringat seorang kawan bernama Syahid. Syahid sebenarnya adalah sahabatnya sahabatku, Miftah. Karena mereka berdua bersahabat dekat, maka aku jadi temannya juga. Syahid yang biasanya beredar di sekitar Iran Corner UIN Ciputat harus kembali ke rumahnya di Garut karena penyakit leukimia yang menggerogoti kesehatannya mulai berulah tidak biasa. Lagipula, rumahnya berada tepat di depan Rumah Sakit Garut dan kedua orangtuanya dokter. Ia akan lebih terawat jika berada dekat dengan orangtuanya daripada di Ciputat.

Lama tidak bertemu Syahid, akhirnya bulan Mei lalu Aku dan Miftah menjenguknya ke Garut. Syahid yang telah berjuang melawan leukimia sejak Ia berusia 14 tahun tampak lemas dan pucat tapi terus memasang wajah ceria menyambut kedatangan kami. 

Esoknya di Garut, Aku dan Miftah menemani Syahid untuk cek laboratorium. Eh, sama adiknya Syahid juga yang dapet tugas nyetir mobil. Nggak bisa dibilang menemani juga sih, aku sempet bilang ke Syahid juga kalau aku sebenernya pengen jalan muter-muter Garut. Jadi sepertinya Syahid yang justru menemaniku muter-muter Garut, bukan sebaliknya. Akhirnya, Syahid meminta adiknya untuk jalan memutar selesainya kita cek lab supaya aku bisa liat-liat kota Garut dari jendela mobil selama perjalanan pulang. Walau jalan itu memutar, tetep aja, itu berasa deket banget. Cuma semalam di Garut, Tapi rasanya aku seneng banget bisa nengokin Syahid. Miftah bilang, Juni nanti pengen nengokin lagi kalau sempet. Walau akhirnya kita nggak sempet ke Garut lagi. Sedihnya...

Melihat semangatnya untuk tetap sehat, Aku yakin suatu hari Ia akan sembuh atau minimal, Ia akan bertahan lebih lama... 

Syahid yang aku kenal selalu berwajah ceria, cerdas, sangat baik, juga memiliki energi positif yang membuat orang-orang di sekitarnya nyaman dan tidak punya alasan untuk tidak mencintainya. Ia bercerita tentang transfusi darah, suntik, minum obat, hasil laboratorium dan segala hal tentang penyakitnya tanpa di sensor sehingga kadang aku bergidik ngeri mendengarnya. Ia bercerita biasa saja seolah itu semua bukan sebuah kesakitan. Seolah itu sebuah running news di televisi yang disikapi dengan biasa. 

Tanggal 18 Juli, 2 hari setelah perginya Talia, Syahid akhirnya sembuh. Ia menemui kekasih yang biasa Ia sebut dalam doa-doa pengharapannya. Ia tidak lagi kesakitan, tidak harus berkali-kali cek laboratorium, tidak perlu lagi menghadapi jarum suntik dan infus. Ia pergi dengan jejak-jejak kebaikan yang akan dikenang semua orang yang mengenalnya. Begitu banyak saksi yang telah merasakan kebaikannya. Syahid, telah menancapkan kenangan abadi di hati semua orang yang pernah mengenalnya.

Syahid Juli Ashari
Credit photo : Miftah Fadlullah

Baik Talia maupun Syahid, adalah orang yang barangkali tidak pernah benar-benar kita kenal. Kita tidak bisa dengan lancar mendeskripsikan seberapa besar makna mereka dalam kehidupan kita. Kita juga tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana sosok sebenarnya. Masing-masing memiliki Talia atau Syahid dalam dunia idenya. Walau dengan berbagai sudut pandang, kita memiliki satu kesamaan. Semua yang kita tahu adalah kepingan-kepinggan kenangan indah yang berkilauan di jalan cahaya. 

Surakarta, 19 Juli-14 Agustus 2013.
Rest In Peace Thalia Joy Castellano and Muhammad Syahid Juli Ashari
We Love You...

Sabtu, 22 Desember 2012

Berhari Ibu


Di Hari Ibu ini, Ibuku -untuk kesekian kalinya- harus menjalani operasi lagi. Operasi sebelumnya sempat membuat Ibu dalam keadaan koma selama 2 hari di ruang ICU. Untunglah Ibu sekuat harapan nya dalam menjalani berbagai kesulitan. Selama hampir 3 bulan ibu di RS, aku sering mendengarnya menangis, bermanja, merintih kesakitan. Rintihan sakitmu melukai ku juga. Cinta, tanpa komando siapapun, membuat penderitaan kekasih jadi penderitaan kita juga. 

Aku ingat, dulu Ibu selalu bilang bahwa aku harus belajar pakai Higheels. Ibu bilang juga, seorang perempuan itu harus cantik! Harus bisa dandan dan merawat diri, harus bisa tampil feminin. Karena wanita mesti jadi penyejuk mata buat suami kelak. Ibu terus mengulang-ngulang nasehat itu sepanjang waktu dari aku umur belasan sampai duapuluhan karena Aku tidak pernah mau belajar memakai higheels. Aku terus menerus berjalan cepat tanpa kelembutan atau berlari-lari dengan sepatu sport. Hal sederhana yang sangat diperhatikan Ibu dan mengubah hidupku selanjutnya.  Sekarang, aku sudah bisa pakai higheels bu. Tapi, Aku jadi sedih mengingat, Kaki Ibu yang dioperasi berkali-kali itu belum bisa pakai sepatu apapun dalam waktu yang lama. :( 


Ibu juga prihatin kalau aku berjerawat. Ibu selalu sibuk memberikan tips-tips jitu pencegah jerawat yang tidak secara telaten aku ikuti. Mulai dari maskeran teratur sampai makan sayuran. Saran yang cukup sederhana dari seorang Ibu. Urusan perawatan fisik saja sulit sekali melaksanakannya. Padahal itu untuk kebaikanku sendiri, kenapa begitu berat? Apalagi untuk urusan moral, agama, hal-hal baik, belum semua aku laksanakan. Dan beberapa amanah, belum baik aku laksanakan. Maaf ya bu...

Aku mencintai mu bu. Nanti, aku akan berusaha mencari seseorang yang mencintaiku sekaligus mencintaimu supaya cinta ini paripurna. Separipurna cintamu padaku yang belum sempat aku balas.

Selamat Hari Ibu ya bu...
Dari Anak Keempat mu yang cerewet dan tidak pernah secantik dirimu

Syahar Banu

Rabu, 30 Maret 2011

Rekaman...

Aku pernah membawa jiwa seseorang dalam puisi. Saat itu dini hari dan dadaku sesak, Mataku berurai air mata mengenangnya. Tiba-tiba rasa rindu yang sangat dan berbaai kenangan muncul. Tapi bukan sebuah kutukan ataupun rutukan yang ingin aku ungkapkan pada kenangan yang lumayan pahit itu. Tapi rasa syujur luar biasa dengan cinta yang meledak-ledak utuk mengingatNya.

Bisa jadi ini adalah peristiwa Spiritual. Saat kita belajar tentang Jiwa dalam kajian mulla shaddra, akan dikenal bahwa manusia dapat membus batas materi dalam alam malakut. Jiwa ku saat itu tertarik pada sesosok manusia yang mengikat hatiku berbulan-bulan yang lalu. Aku merasa sangat dekat dengannya sampa aku menangis sesenggukan dan menulis. Tapi bukan dia yang aku pikirkan, tapi DIA. Aku hanya membawa jiwanya untuk bisa menyampaikan gejolak meledak-ledak. 

Entah, sulit diungkapkan. Aku tidak pernah benar2 membuat puisi sufistik. Tapi terjai begitu saja tanpa editing. Pastinya seperti dalam puisi sufi lain, mungkin selain pengarang yang mengalami pengalaman spiritual tersebut, Pembaca tidak akan faham. Yang jelas, menulis ini membuatku tidak tidur dan esoknya tidak mengantuk sama sekali.

Mungkin kesalahannya adalah percampuran bahasa Indonesia dan Inggris pada judul. Tapi itu kata pasangan yang terpikir dalam otakku saat itu.

Rekaman...Recomment


Di tahta tangkai penopang indah mawar itu adalah Kelopak Nya
Lalu menyobek , terkirimlah berbait-bait syair kerinduan sepanjang sungaiNya
Bawa ranum pesonakan jernih nan mewangi sepanjangNya sampai samudra kasihNya
SurgaNya didapati , mengarahkan bahtera bertuliskan Illah, Illah, Illahi….
Nan selalu berkompas gugusan bintang gemintang , Maka tersampaikan pada muara, penyair berkata Ialah surga….
Tempat pertemuan kelak…
Selama masih ada gunung Nya, Sungai Nya yang kan kirimkan kerinduan terpandu pun dalam deru badai memilu…

Sebagai petani semestinya rindukan hujan, bukan bandang apatah lagi gersang

Sebagai si sakit maka semestinya rindukan obat, bukan kerat
Sebagai mana semestinya nelayan tunggu tuk dapati ikan dalam jejaringnya
Sebagaimana hina itulah rindukan Layak dalam RumahNYA

Sesayup harapan teramat muda dalam bingkisan Nya yang terelok

Tersampailah….
Dimana TanganNya menepuk tegakkan pundak kita agar berjalan terus ikuti arah gemintang

Oh si pengemispun bencikan lapar nan makin bertambah sukar terperi

O…tahulah bahwa sang penyair tak pernah puas arak secawan untuk bersajak kelangitan
Mengertilah, dalam PialaNya termabuklah para alim dalam Kedai-kedai Nya
Maka dapatkah dalam larian itu pergi dari RahmatNya?
Sedangkan terpangku sudah di haribaanNya…

Berbukit kerikil tertakluk sudah

Pandang sebrang bukit tak terlihat…
…..selain daripada kabutNya….
Dingin ini telah memeluk dalam gigilan sendu kecintaanNya
Oh bukankah Janji itu adalah satu dari Anggur Nya?Mabuknya hinakan Raja bak pengemis
Maka singgasanalah pertanda kerajaannya nan rabun dikenal
Terserekan Ia dalam kepapaan nya?
Saat Cawan-cawannya telah kosong, sedang tenggorok managih untuk terbakar Arak asmaraNya?

Untukmu selalu, dalam keterlindungan Nya…

Tertitip salam termanis nan melangit


Jakarta, dalam sesak haru

Pukul 03.21 wib
Hari ke 19 bulan ke sebelas masehi
2010

SYAHARBANU

Senin, 14 Maret 2011

Dimensi Harmoni

Padahal...

Aku terlanjur mengira jarum jam telah berlari ditiap tarik nafas

Ternyata ia hanya merotasi angka yang sama namun menantang kita ukir langlangan yang berbeda


Ah...Kau harus tahu sesungguhnya Ia tidak benar2 berlari selama putaran jam masih bertiktok sambil bersimfoni mengenai pengulas kekinian bernama kita, kurasa...

semesta hanyalah sekepal saksi

bahwa nun disini telah terhadirkan sesosok hati yang tak bertepi
Selalu, aku telah menolak tunduk!!
Pada kemestian, 
juga pada rasa yang tak mungkin dapat dilawan dengan sempurna

Aduh Tuhan...kenapa mesti ada kata ‘dilawan’?

Sementara ada harmoni, bahwa aku menulis tentangmu dan kau menulis tentangku
Dengan dimensi yang berbeda kita telah saling berbicara dan bercerita
Tentang gelisah di penghujung bulan antara jeda dan kerutinan





Hanyutan ibukota, 10 Maret 2011

Masih Sekelebat tentang Kau

Tahukah kau?

bukannya aku mengetuk pintu kalbumu untuk meminta izin masuk


Aku terpaksa mengetuk pintu yang dulu pernah terbuka itu karena gemuruh kegaduhan di dalamnya menyebut2 namaku...

Bila kita harus kembali ke istana masing2



mengapakah kudengar kau memanggil namaku di bait sendumu?

Aku bertanya padamu,Bukankah cukup kita saling sapa
dr sebrang jalan


seperti orang kebanyakan?

kamu hadir lagi di simpangan Jakarta, 12 Maret 2011

Kamis, 29 Juli 2010

cintaku obyektif

Dalam satu titik dimana aku rasakan cintaku benar2 obyektif.
bahwa aku mencintai apa yang melekat padanya, bukan pada materi yang terkandung di dalam dirinya. lebih dari itu, dia addalah keindahan dimana aku harapkan membawa kecerahan padaku akan kehausan2 setelah perjalanan panjang intelektual dan spiritual.







aku selalu menyapanya dalam lembut alunan doa yang dimana air mata menjadi kawan dalam kesepian bahagia ku karna terpenuhi energi-energinya.
dia selalu hadir dalam bening embun yang bila matahari datang dengan lembut sinarnya, dia akan menguap dan menyempurna menuju alam yang basahnya akan tetap menyapaku lewat tetesan hujan nan menyuburkan...







diamnya adalah ritme dalam petikan dawai persia yang apabila terpetik, mabuklah para penyair di kedai anggur dan akan terpesona hingga hilanglah dirinya dan lupa bahwa dialah penyair terhormat yang termabuk dan tak dapat terbedakan dengan para gelandangan kotor..







bila dirimu adalah apa yang terlekat padamu kekasihku... maka apabila hilang sudah cahaya yang melekat padamu, salahkah bila aku mencari lagi cahaya lain yang adalah butuhku untuk tetap pada Kecerahan? bukan karna aku tak memahami segalamu, tapi apakah yang membuat sinarmu hilang itu dapat membewa ku pada keadaan yang mencerahkan?






oh...dahaga, apakah pernah puas pemabuk mencicip sesendok anggur padahal si Pemilik Kebun Anngur telah sediakan anggur terbaik dalam Kerajaan Nyua dan pilihan kita lah untuk memilih mabuk seperti apa yang kita ingin kan?







kepada Sang Sumber Maha Cahaya ku persembahkan cinta dengan tetes darah dan air mata untuk menyambutmu datang, dalam tangan yang terangkat ingin belas kasihan dari KeSempurnanya.... Kepada Pemilik KeCintaan yang menaungi seribu Pecinta yang terisak memohon cinta aku bersimpuh pada Nya untuk memohon kasih sayang nya temukan dirimu dalam ketersesatanku...




dengan asma Nya yang segala Ke maha -an yang terbaik aku alirkan tangis yang tak kan memadamkan api neraka karna kedurhakaan Ku Padanya Namun dengan Tidak tahu diri aku Mohonkan ampun padaNya untuk tak Kekalkan aku didalamnya dan aku akan menatapmu dengan sembab mataku untuk kau Raih kekasihku.... yang padanya terlantun selalu Doa...







kepadamu kekasihku, untuk datang tepat pada waktunya sebelum aku Lumpuh tak mampu berlari sehingga emggau bisa genggam tanganku ntuk menerobos belantara keangkuhan. karna apabila aku terlampau lumpuh, dapatkah engkau memapahku pelan2 padahal angkuhku dan diriku yang aku kira nyata ini lebih berat dari gugusan bukit tandus yang tak pernah dilalui sang musafir....






kekasihku... aku khawatir tak dapat menjadi pecinta yang semestinya maka biarlah aku menjadi kekasihmu dengan cinta yang entah sekuat apa....





kekasihku adalah kekkasihku dan jadikan aku kekasihmu...dapatkah begitu?