Rabu, 18 September 2013

Tipe-Tipe Mahasiswa Berdasarkan Aktivitasnya

Kalau kamu menganggap semua mahasiswa itu sama saja. Anggapan kamu salah besar! Mahasiswa itu berbeda-beda jenisnya. Nih dikasih tau, jenisnya apa aja.

Tipe Kupu-Kupu
Mahasiswa ini selalu hadir di kelas. Jarang nitip absen. Tapi begitu dia keluar kelas, dia langsung menghilang. Aktivitasnya ya kuliah-pulang-kuliah-pulang. Nggak heran kalau dia nggak banyak dikenal sama junior, senior ataupun yang beda jurusan. Dia langsung ngilang bagai ninja begitu kelas bubar. Bisa jadi dia buru-buru pulang karena mesti ngurusin kucing-kucingnya di rumah atau emang nurut sama pesan mama yang nyuruh langsung pulang tiap habis kuliah. Eh, Tapi bisa juga sih karena dia harus langsung kerja begitu kelar jam kuliah.

Tipe Kunang Kunang
Mahasiswa jenis ini menguasai tempat-tempat nongkrong di kampus atau Mall. Biasanya waktu yang dihabiskan buat nongkrong itu lebih banyak dari waktu kuliah ataupun waktu ngerjain tugasnya. Aktivitasnya ya Kuliah-Nangkring-Kuliah-Nangkring. Biasanya mahasiswa kunang-kunang sering merasa jadi mahasiswa paling gaul dan eksis di kampus. Trus tipe ini juga gampang dapet pacar. Karena banyak dikenal orang dan punya daerah kekuasaan pos di titik-titik tertentu.

Tipe Aktivis Mahasiswa
Kegiatannya seputar organisasi. Dia bisa aja ada di kampus sampai tengah malam buat ngurusin organisasi atau sekedar ngobrol yang topiknya nggak jauh-jauh dari hal yang berbau politik. Kadang pas moment-moment tertentu mereka juga demo. Biasanya, mereka juga kritis dan nggak takut buat ngasih kritik ke manapun, ke siapapun. Mereka lah yang menguasai jabatan di organisasi kampus. Biasanya mahasiswa kayak gini lulusnya lama dan kalau kuliah pagi sering dateng telat. Soalnya mereka sering begadang buat rapat-rapat.

Tipe Aktivis Lomba dan Kontes
Jangan heran kalau tiba-tiba orang yang biasanya ngak pernah nyapa ngajak chat di Facebook dan ngasih link, “vote aku ya, Klik like page dulu, trus buka foto blablabla”. Atau dia tiba-tiba upload foto di sosmed dan bilang, “Mohon doanya, dukung saya jadi Putri blablabla”. Aktifitas nya, ya googling tentang lomba dan kontes apa aja yang bisa diikutin. Dari mulai kontes nulis, fotografi, bikin video, sampai ikutan ajang putri-putrian.

Tipe Banci Konferensi
Jangan heran kalau hari ini dia ada di kelas, tapi besoknya tau-tau dia ada di luar negeri atau luar kota. Misalnya nih, hari ini dia ada di Norwegia buat jadi pembicara di seminar tingkat dunia yang membicarakan tentang punahnya naga Norwegia akibat pemanasan global. Trus sebulan kemudian, dia ada di Yunani buat jadi peserta konferensi pemuda peduli Socrates. Tipe ini sangat menginspirasi generasi muda karena dia jadi kayak leader muda yang sering jadi delegasi Indonesia. O iya, bisa jadi dia juga menjelma jadi sosok populer karena sering bikin orang envy liat dia jalan-jalan ke luar negeri mulu. Aktivitas dia adalah ikutan call for paper, bolak-balik kedutaan negara tujuan buat bikin visa, browsing info konferensi internasional, cek harga tiket pesawat dan bikin proposal sponsorship buat perusahaan-perusahaan potensial yang mau biayain dia ke luar negeri.

Tipe Seleb
Kalau kuliah di Jakarta, kita akan terbiasa liat artis yang biasa kita liat di TV nongol di kampus kita jadi mahasiswa. Tipe kayak gini, sekalipun dia sering mangkir kelas dan jarang dateng ke kampus karena mesti syuting, show, manggung, dll, dia tetep aja punya temen deket yang bisa diandalin buat nanya-nanya kalau pas ada tugas atau ujian. Selalu ada di dunia ini, orang-orang yang seneng punya temen dari kalangan artis. Makanya, kalau kamu udah ngerasa jadi orang baik, cakep, tajir, tapi tetep nggak punya temen, jadi artis aja gih. "Terus, Kalau udah jadi artis tapi tetep nggak punya temen gimana?" Kamu nggak perlu bikin Video di youtube dan bilang, "Buat temen-temen SD gue.., Buat temen-temen kampung gue... Buat...blablabla..." Please, nggak usah gitu ya. Selama masih ada SNSD, hidup akan terasa begitu indah, berwarna, dan semua orang bahagia.

Apalagi kalau Seleb nya kayak gini
(Sumber gambar : wewantkpop.com)
Tipe Diskusi dan Pendebat
Dia ini sering dateng ke acara-acara diskusi apa aja. Dia bisa nguasain banyak topik. Mulai filsafat, politik, agama, seni dan barangkali topik yang nggak kamu pikirkan sebelumnya. Tipe orang kayak gini sering keliatan menonjol di forum-forum karena terbiasa ngomong dan menguasai wacana. Kalau kamu tipe orang yang nggak suka diskusi atau debat, mending jauh-jauh deh. Bisa panjang urusan soalnya. Tipe diskusi dan pendebat ini seringkali bisa muncul sepaket sama tipe aktivis mahasiswa.

Tipe Mahasiswa Misterius
Dia tampak seperti mahasiswa biasa yang dateng ke kampus. Tapi, kita semua nggak tau pas dia ke kampus aktifitasnya apaan. Barangkali dia adalah seorang agen intelegen yang lagi undercover dan sedang menjalankan sebuah konspirasi. Atau barangkali dia adalah seorang hacker hebat, bisa juga dia ini sebenarnya bukan manusia, melainkan alien yang menyamar sebagai mahasiswa Ya namanya aja misterius. Siapa sih yang tau dia ngapain aja. Barangkali Vicky ex Zaskia gotik tu masuk tipe ini karena sampai sekarang, kita sungguh tidak mengetahui mahasiswa macam apa dia. Ada yang tau pas jaman dia masih mahasiswa dia jurusan apa, kuliah dimana, ikut kelas apa aja? Ngakunya sih kuliah di luar negeri gitu soalnya.

Begitulah tipe-tipe mahasiswa. Kamu tipe mahasiswa kayak apa? Ada tipe yang belum disebutin? Share donk.

Jumat, 13 September 2013

Sensasi Baru Ngeblog di Kompasiana

Beberapa waktu lalu, aku nggak sengaja baca banner Iklan di Kompas tentang lomba blogger kompasiana yang menceritakan tentang perjalanan wisata yang berkesan; Sepertinya, hal itu bukan sesuatu yang susah karena aku pernah nulis artikel jalan-jalan juga, 

Akhirnya, aku mengaktifkan kembali akun kompasiana lama ku. Tentu saja, lupa password dan bahkan lupa email mana yang dulu dipakai daftar kompasiana. Setelah urusan teknis sign in beres, mulailah aku menulis.

Di Blogspot, aku biasanya memang hanya membagi tulisan ku di facebook dan twitter. Adapun followe blogger yang masih sedikit dan bukan blogger aktif membuat ku terbiasa dengan tulisan yang dibaca hanya sampai 50 kali dalam sekali posting atau pernah dengan snagat miris hanya 21 kali dengan sekali posting. Apalagi, aku bukan type blogger yang suka blogwalking mengunjungi dan berkomentar dengan blog tetangga. Aku hanya menulis, membagi, dan selesai. Tidak ada target jumlah pembaca. Buat apa? Walau aku cukup senang kalau tulisan ku laris dibaca. Tapi itu bukan hal utama penyebab aku ngeblog.

Kembali ke kompasiana, Waktu aku berhasil masuk ke dashbor kompasiana, ternyata ada 3 orang yang menambahkan aku sebagai temannya. Aku juga baru tau kalau akun itu sudah nganggur dari tahun 2010 tanpa tulisan apapun. Aku sering berfikir, apa sih bagusnya kompasiana? Cuma blogger lokal dari kompas gitu.

Aku pun mulai menulis ceritaku. Untuk pertama, aku masih bingung untuk menambahkan gambar. Tulisan berantakan, papan untuk menulis tulisan kita begitu kecil dan aku sangat merasa tidak nyaman dibandingkan jika dibandingkan tampilan halaman compose pada blogspot. Toh, demi lomba itu, aku mau berlama-lama menulis dengan segala keksulitan format compose nya. Sampai sekarang ada foto yang masih tidak jelas tata letak nya. 

Saat aku klik tombol Publish, 5 menit kemudian sebelum aku sempat share, tulisan ku dibaca lebih dari 50 orang. Saat aku share di facebook, aku justru tidak begitu memperhatikan berapa jumlah pembaca yang bertambah. Aku begitu senang ketika tiba-tiba orang yang tidak mengenal ku dan tidak berteman di kompasiana ikut berkomentar. Beberapa jam setelah itu, tulisan ku menembus 800an pembaca. Padahal aku merasa tidak begitu agresifdalam menshare, Apalagi, twitter bermasalah dengan link yang aku bagi ini http://bit.ly/1awG3Jd

Twitter menganggap link kompasiana ku itu Spam. 

Euforia Kompasiana

Aku yang belum begitu mengenal dunia kompasiana merasa agak terkejut dengan tingginya respon yang diberikan oleh para kompasianer untuk tulisan ku. 

Temen di facebook, namanya Mas Putra memberi selamat padaku kalau tulisan ku ada di kompas. Aku kaget, aku bilang sama dia kalau aku nggak nulis di kompas. Tapi aku nulisnya di kompasiana. Dia bilang, tulisan ku muncul di web kompas. Untuk membuktikannya, dia memberikan link berita online kompas yang dia maksud. Ternyata seperti ini
Ternyata, di Banner blog competition ada nama dan tulisan ku. Karena aku baru aja join kontes blog itu, maka aku masih terdaftar di bagian teratas. Saat aku membuka link Banner itu, aku bersyukur, walau baru bikin tulisannya, hit viewer ku sudah melebihi yang lainnya. walau ada 1 tulisan yang hit nya melebihi hit ku. Setelah mengetahui tentang hal seperti itu, aku jadi lebih sering memantau berapa orang yang mengklik tulisan ku. Aku heran, kenapa jumlah pembaca jadi terasa penting bagiku. Efek kompasianer baru mungkin... Sebenernya setiap yang baru aja posting tulisan emang ditampilin, Jadi nggak perlu kembang kempis juga hidungnya. tapi aku tetep seneng pengalaman pertama di kompasiana nyenengin juga. 

Besoknya, aku membuka lagi kompasiana di kampus. Aku makin kaget, kalau tulisan ku jadi headline dengan pembaca lebih dari 1200 orang. Aku juga di add sama orang-orang. Aku jadi punya temen gitu. hihi, norak abis deh.


Viewer terus bertambah saat aku udah give up nggak bisa share di twitter. Ternyata karena tulisan ku muncul disini juga : 

Aku masih penasaran dengan cara kerja kompasiana dalam menambahkan jumlah pembaca, setelah aku minta tolong seorang teman yang baik gimana caranya buka blokir spam twitter dengan cara kirim email ke twitter support, besoknya, aku bisa share lagi di twitter. Tapi... Nggak banyak yang terjadi. Viewer cuma nambah dikit walau temen kita itu adalah seorang seleb tweet dengan ribuan Follower. Pas aku minta tolong Fatime, viewer tambah 3. Pas minta tolong kak misbah, tambah cuma 2 viewer, pas minta tolong Shei, tambahnya 8 viewer. Nggak banyak berdampak, walau itu udah lumayan banget kalau seandainya kelasnya blogspot.

Ternyata untuk bisa nambah viewer di kompasiana itu, jejaring sosial tidak berpengaruh banyak. Yang pengaruh banyak adalah seberapa lama tulisan kita nangkring di homepage kompasiana dan dikomentari teman-teman. Memang ada banyak orang yang merekomendasikan ke Facebook nya, tapi rekomendasi Facebook yang cuma 74 kali rekomendasi sepertinya tidak begitu banyak pengaruh dibanding 1300an viewer dari kompasiana, 

Aku jadi mempertimbangkan kompasiana sebagai media yang tepat untuk menyampaikan gagasan. jadi, aku memilih untuk menceritakan hal pribadi dan remen temeh di Blogspot dan menulis hal yang agak serius di kompasiana. Menulis itu ternyata tidak sekedar untuk diri sendiri, tapi kita perlu menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kita perlu berbagi ide. Bukan sekedar berapa banyak jumlah pengunjung halaman blog kita, tapi seberapa usaha kita untuk menyampaikan gagasan kita. Bukankah tulisan itu seringkali bisa jadi sebuah gerakan perubahan?

Dan kali ini aku memilih Kompasiana.