Senin, 27 Mei 2013

How Stupid I am: Senin yang Ngeselin Ngebosenin

Oke, hari ini aku pengen update tentang kondisi terkini.

UAS, kurang 3 hari lagi. Semuanya take home, belum ngerjain untuk yang hari rabu dan kamis. Mencoba mencari pembenaran tentang deadline pekerjaan yang harus dikerjakan. Deadline-deadline tidak kunjung selesai. Artinya, sumber uang juga jadi kering kerontang. Aku terus mencoba berpikir bahwa menjadi seperti orang kebanyakan ternyata tidak begitu buruk. Maksudku, dalam hal perekonomian, siapa sih yang nggak bokek di jaman sulit kayak sekarang? Iya, ini masalah semua umat bahwa bokek itu adalah hal biasa. Jadi hal itu tidak perlu menyita perhatian yang berlebihan. Walau cukup membawa pada kekhawatiran dan keprihatinan yang cukup mendalam. Sudahlah... Ignore...

Hari ini, aku belum tidur, pengaruh sistem kebut semalam. ngerjain paper 15 halaman tentang pemikiran politik Imam Khomeini untuk mata kuliah Politik Islam Modern. Sebenernya udah dicicil jauh-jauh hari juga. Tapi rasanya halamannya kurang banyak. Pas nyerahin paper di Jurusan dan ketemu Pak Muis, jeng jeng jeeeeeeeeeng....!!! Nama ku nggak ada di daftar peserta UAS! Berarti, aku nggak bisa tandatangan jadi peserta UAS. Pak Muis bilang masalah absensi itu bukan urusan dia, tapi akademik. Aku menuruni tangga dan dengan lemas ke akademik, menanyakan ada masalah apa dengan absensi ku. Akademik bilang, absensi ku failed. Ada 3 kali Izin, dan 4 kali absen. Seingatku, aku nggak sebanyak itu deh.

Aku mencoba bernegosiasi. Gagal, akademik bilang, orang yang aktif di organisasi kampus sepertiku seharusnya tau peraturan bahwa batas maksimal ijin adalah 2. Bukan 3. Padahal, yang memberikan perijinan 3 itu adalah dari Jurusan. Jadi, tanpa bermaksud mengadu domba antara jurusan dan akademik (Masih heran kenapa jurusan menambahkan izin sebanyak 3 kali, which is, maksimal itu 2 kali). Akademik bilang, aku nggak perlu ngulang mata kuliah itu di tahun depan. Karena kemungkinan aku masih punya nilai tugas, keaktifan dan UTS. Akhirnya, dengan sedikit peluang itu, Aku memilih pasrah dan mencoba untuk melihat kemungkinan apa yang bisa aku capai untuk tidak dapat nilai D di daftar nilai akademis. Aku menenangkan diri di lamer. Kirim SMS curhat ke Rasyid dan ke Rizal, g ada yang bales. Tapi, aku pikir, aku nggak boleh membiarkan nilaiku jadi D. Akhirnya, aku ke Jurusan lagi dan coba ngomong sama Pak Muis masalah absensi ku.

Pak Muis malah mengira aku otomatis failed. Aku bilang ke Pak Muis bahwa akademik bilang aku masih ada kemungkinan punya nilai di mata kuliah itu. Akhirnya Pak Muis mencoba mengambil kebijakan yang tidak terlalu merugikan aku yang telah membuat makalah sebanyak 15 halaman. Aku masih berdoa, semoga tidak ada kemungkinan yang buruk. Semoga masih punya banyak keberuntungan dalam keteledoran. Doain ya...

Aku masih ngantuk berat sekarang. Darah rendah menyerang juga. Jadi lemes banget. Harusnya ada rapat redaksi di wisma Kodel jam 2 nanti. Tapi rasanya badanku nggak bertulang. Parahnya, aku makan mie doang di kampus karena pengaruh dari penghematan anggaran. Taulah, kantin di Paramadina itu mahal-mahal. Makan dengan lauk bermartabat itu paling nggak harus sektar 15.000an. Dengan lemas dan keyakinan bahwa aku harus mengerjakan banyak hal lagi. Aku terus melakukan banyak aktivitas. Sambil menghandle hati yang ters berdebar karena persoalan-persoalan pribadi yang sangat rahasia. Aku yakin bahwa aku cuma sekelumit titik kecil di semesta yang nggak akan mati dengan satu dua tiga masalah. Wish me luck.

Oh iya, ATM BCA ku juga keblokir karena kecerobohan ku salah mencet nomer pin di mesin ATM. How can, aku lupa nomer pin ku sendiri. Rasanya memang semua kesialan-kesialan ini sumbernya dari kecerobohan-kecerobohan ku.

Saat ini, terdengar klise dan terlalu klasik untuk menyemangati diri sendiri. Tapi di tingkatan ku yang sekarang, ternyata teknik itu lumayan juga untuk membuka mata untuk terus bekerja. Siapa lagi yang bisa diandalkan selain diri sendiri?  

#HowStupidIam

Senin, 20 Mei 2013

Keadilan Intelektual

Beberapa waktu lalu, aku membaca surat menyurat Romo Magnis Suseno dengan Alm Nurcholish Madjid, inti suratnya adalah keberatan Romo Magnis terhadap salah satu isi kajian ilmiah Cak Nur yang disampaikan di UI, di depan para akademisi. Saat itu sebenarnya Romo Magnis tidak hadir, tapi isi kajian Cak Nur yang disebarluaskan kemana-mana cukup menyinggung hati sang Romo karena menyangkut tentang keimaman orang Katolik dan Kristiani tentang sosok Yesus Kristus. Akhirnya Romo Magnis menyurati Cak Nur dan menyatakan ketersinggungannya, surat tersebut juga di teruskan ke beberapa pihak sentral di pemerintahan. Surat Romo Magnis yang serius itu, dijawab dengan serius juga oleh Cak Nur disertai dengan argumen2 ilmiah yang sangat baik dan akhirnya menghasilkan dialog ilmiah yang berbobot. Surat menyurat keduanya menjadi sebuah warisan intelektual yang sangat berharga tentang bagaimana dua orang intelektual menyelesaikan perbedaan pendapat karena keyakinannya terhadap sebuah gagasan. Karena hubungan keduanya secara pribadi tidak pernah terganggu karena adanya surat tersebut. Segala pertentangan kedua benar-benar diselesaikan ala akademisi. 

Jadi ingat, dulu, hubunganku dengan seorang teman menjadi sangat terganggu hanya karena debat kita di facebook dan di warung kopi tentang politik Iran dan Turki. Tentu saja, aku ngotot meluruskan pendapat dia yang menurutku salah tentang politik Iran yang saat itu dibandingkan dengan politik pragmatis ala Turki. Masing-masing kita, tentu saja merasa benar. Dia yang merasa lebih otoritatif karena merupakan mahasiswa Hubungan Internasional. Dan aku juga merasa otoritatif karena aku merasa telah menguasai epistomologi islam  serta sejarah politik mendetail Revolusi Iran dibalik terbentuknya sistem wilayatul faqih yang menjadi perdebatan kita berdua. 

Sayangnya, debat yang panjang itu tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa dalam diskusi kita kecuali perang sinisme satu sama lain. Sekarang hubungan kita berdua menjadi baik kembali. Bukan karena perdebatan sudah selesai. Kita hanya memilih untuk berhenti berdebat lagi. Tidak ada kebenaran yang tercipta. Kita sedang melakukan toleransi alias pembiaran terhadap ide masing-masing. Tentu saja, toleransi itu beda dengan respect. Toleransi cenderung melakukan pembiaran (ignoring), respect adalah sikap saling menghormati paham masing-masing karena satu sama lain memiliki standing point tersendiri.

Belajar dari dua kasus beda generasi dan strata intelektual diatas, aku memikirkan banyak hal tentang keadilan intelektual masa kini. Di Era informasi yang sangat padat ini, orang-orang bisa menghakimi ide orang lainnya hanya lewat status facebook dan twitter. Padahal yang dihakimi itu sudah susah-susah menulis sebuah artikel panjang di media atau sudah menulis buku. Bahkan, sebuah buku bisa jadi hanya dikutip-kutip seketip lewat facebook dan twitter saja sudah membuat orang lain yang sangat awam bisa terpengaruh ikut membenci si penulis buku tanpa pernah benar-benar membaca bukunya. Sehingga, orang yang tidak membaca ide-ide yang dihakimi secara utuh menjadi berbuat tidak adil dengan ikut menghakimi sesuatu yang tidak Ia ketahui ide sepenuhnya. 

Kenapa seseorang sangat mudah terpengaruh dengan ide orang lain dalam sosial media? Karena tidak adanya budaya membaca buku yang kuat turut membentuk pikiran seseorang menjadi tidak sistematis. Berfikir sistematis melatih kita untuk memiliki pisau analisa dan memiliki standing point yang kuat tentang apa yang kita yakini. Untuk itu, secanggih apapun para ahli mengatakan tentang keunggulan media sosial, tempat ini hanyalah berupa potongan ide, bukan ide utuh dari seseorang. Jangan sampai kita meyakini sebuah kebenaran hanya lewat potongan ide yang tercecer dimana-mana tanpa bukti yang kuat. Ada banyak Hoax di internet kan? Belum lagi, ada banyak propaganda dari media mainstream yang membuat kita merasa perlu lebih mempertajam akal kita daripada sekedar melihat apa adanya apa yang kita baca.

Maka, jika tidak setuju dengan isi sebuah artikel, balaslah artikel tersebut dengan artikel tandingan beserta argumen ilmiahnya, bukan sentimen penuh kalimat sinis yang tidak menjunjung nilai-nilai akademis di sosial media. Jika tidak setuju dengan sebuah isi buku, maka tulislah sebuah buku tandingan juga yang mematahkan argumen-argumen pamungkas di buku yang kita debat. Buktikan bahwa kita telah mengkritik sebuah ide dengan cara-cara yang bermartabat.

Adillah secara intelektual, akan ada banyak orang yang akan menghormati kita karena tradisi ilmiah kita. Karena sifat adil adalah salah satu sifat untuk menjadi layak untuk dicintai.