Selasa, 12 November 2013

Melintasi Ketakutan

Dulu aku begitu kagum dengan kata-kata yang dipilih JK Rowling di dalam buku Harry Potter, ketika Lupin berkata pada Harry, "Ketakutan terbesarmu adalah ketakutan itu sendiri, Harry." Novel Harry Potter sudah tamat sejak aku SMA. Sudah berhasil membaca semua serinya juga berulang kali. Tapi sampai sekarang aku masih memikirkan kalimat itu, di kepalaku. 

Memikirkannya, membuatku merasa bahwa barangkali Dementor sedang berada di dekatku dan menyerap kebahagiaan yang seharusnya bisa aku pilih. Memikirkan ketakutan-ketakutan, serta merta membuat jantungku berdegub keras. Tiba-tiba aku akan terlempar ke bawah kubah kecemasan. Hatiku mencelos turun ke perut dan jantungku rasanya membesar.

Lalu aku berfikir, betapa anehnya ketika aku justru membiarkan diri disiksa oleh hal-hal yang belum terjadi. Atau hal-hal yang sudah terlanjur terjadi. Ketakutan itu mengkristal dalam celah-celah harapan, menjadikan cahaya yang harusnya terang dilingkupi setitik 'ketiadaan cahaya'. 

Bagaimana mungkin ada perasaan takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum -atau justru- tak pernah kita miliki? Bagaimana mungkin ketakutan itu datang kepada sebuah masa dimana kita bahkan belum melangkah di dalamnya? 

Kehidupan, kebenaran dan cinta adalah bagian dari semesta, bagian dari manusia yang hingga kini masih terus dipertanyakan. Jika ada jawabnya, kita masih saja tidak selesai memahaminya. Yang aku tahu, pemahaman itu bergradasi. Aku mesti berdarah-darah dan berurai airmata sambil terseok-seok menggapai gradasi terpekat dari puncaknya.

Orang-orang sering berkata bahwa harapan wujudnya bagai tiang gantungan. Ada algojo yang sudah menunggu kita untuk di eksekusi. 

Lalu sejarah bercerita, tentang orang yang memilih mati untuk hidup, tentang orang yang hidup untuk memilih kematiannya sendiri dan tentang orang yang hidup diatas kematian orang lain. Jika aku harus memilih, aku ingin mati untuk hidup. Walau itu tidak akan serta merta menjadikan aku martir. Iya, memang tidak banyak yang sudah aku perjuangkan. Tidak banyak yang aku perbuat selama ini. Lalu bagaimana mungkin aku bisa mati untuk kehidupan itu sendiri. 

Aku perlu menghela nafas, sembari mengeja kehidupan yang memang rumit, kerumitan itu yang menjadikan ia begitu cantik. Begitu misterius sekaligus berbahaya.

Aku tidak pernah selesai untuk bertanya pada diri sendiri, seberapa besar ketakutanku untuk hidup atau seberapa besar ketakutan untuk mati. 

Bukankah ancaman menuju kematian sudah terlalu sering? Tapi aku tidak juga menyingkir ke wilayah aman. Wilayah yang aku pijak adalah wilayah yang aku cintai. Bukankah indah jika akhirnya memilih kematian di wilayah yang kita bela setengah mati. Kita torehkan jiwa raga kita untuk hal yang kita anggap pantas diperjuangkan.

Jika aku sempat berpikir tentang ketakutan, tentu saja, aku juga masih punya waktu untuk keberanian. Aku masih punya tempat untuk berjuang, setidaknya untuk hal-hal kecil yang aku yakini sebagai kebenaran. Aku akan melanjutkan hidupku, yang berisi separuh ketakutan, separuhnya lagi keberanian. Kemudian menghimpunnya sebagai kekuatan.

Yang paling utama, aku ingin membunuh cemas. Tepat di pangkalnya ketika ia datang. Terutama jika ia berbentuk ketakutan akan hilangnya hal-hal yang tidak pernah kita miliki, terhadap yang belum pernah terjadi. Terhadap apapun, yang menjadikan aku takut untuk mati.

--
Jakarta, Menjelang 10 Muharram

Jumat, 08 November 2013

Peran Orangtua dalam Psikososial Erik Erikson

Menurut teori psikososial Erik Erikson, setidaknya ada 8 tahapan perkembangan manusia yang harus dilalui untuk dapat mencapai kehidupan yang matang dan layak. Tahap tersebut dimulai dari usia 0-60 tahun keatas. Tahapan yang dimaksud Erikson itu bukanlah sebuah tahapan gradual yang jika gagal di satu tahap, otomatis gagal juga di tahap berikutnya. Karena bisa saja, gagal di fase pertama namun akhirnya menemukan solusi atas kegagalan itu saat menginjak fase kedua. Sehingga anak dapat menempuh tahap selanjutnya dengan baik.

Kesadaran manusia akan dirinya dapat membantu manusia untuk mencapai keberhasilan di tiap tahapan. 6 tahapan pertama adalah tahapan yang membutuhkan peran keluarga inti sebagai pendukung utama. 2 tahapan berikutnya dilakukan oleh manusia yang mulai terpisah dari keluarga inti dan berencana membuat sebuah ikatan keluarga yang baru. Kali ini, yang akan dibahas adalah 6 tahapan awal dalam kehidupan menurut Erik Erikson yang mengharuskan pentingnya pendampingan orangtua di dalamnya.

Tahap Pertama Usia 0-18 Bulan. 
Di fase paling dasar ini kepercayaan, kebergantungan bayi ditentukan oleh kualitas pengasuh bayi tersebut. Jika tahap ini berjalan dengan baik, dia akan merasa aman, selamat dan percaya diri. Jika pengasuhnya tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak untuk memberikan perhatian, maka akan dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada bayi yang diasuh. Selain itu, bayi akan menemukan ketakutan-ketakutan karena merasa ternyata dunia ini tidak konsisten dan susah ditebak. 

Tahap Kedua usia 18 Bulan-3 Tahun
Fase ini menentukan pengendalian diri anak berupa penggunaan toilet, makanan, mainan dan pakaian yang disukai. Hal tersebut penting dilakukan karena berpengaruh pada peningkatan kepercayaan diri balita. Pengasuh/orangtua akan melatih anak untuk memiliki kesadaran pengendalian diri terhadap dirinya sendiri. Kalau gagal dalam fase ini, anak akan merasa selalu tidak cukup, tidak puas dengan apa yang dipunyainya dan ragu-ragu terhadap diri sendiri. 

Tahap Ketiga Usia 3-6 tahun
Fase ini memungkinkan anak untuk memasuki dunianya yang baru dengan interaksi sosial di pra-sekolah atau lewat permainan. Jika pengasuh/orangtua berhasil mendidik anak di fase ini, anak akan memiliki kemampuan inisiatif yang tinggi dan rasa tanggung jawab dalam memimpin. Jika gagal, Ia akan merasakan perasaan bersalah, ragu-ragu dan merasa tidak kreatif atau kurang rasa inisiatif. Anak akan merasa tidak diberi kepercayaan dan merasa cemas. 

Tahap Keempat Usia 6 Tahun-Pubertas
Di fase ini anak akan merasa bangga pada keberhasilan, kemampuan, kompetensi dan berbagai keterampilan yang dimilikinya. Penting bagi mereka untuk terlibat pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka mulai merasa perlu memiliki keluasan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Di sini, orangtua, guru dan lingkungan sekitar sangat berperan penting dalam menumbuhkan potensi-potensinya tersebut. Jika gagal pada tahap ini, anak akan merasa bahwa ia tidak produktif dan tidak berkompeten di bidang yang ia tekuni. Hal ini berimbas pada ketekunan dia di masa yang akan datang. 

Tahap Kelima Usia 10-20 Tahun
Remaja mulai mandiri, membangun kepekaannya, mencari jati diri dan menentukan tujuan-tujuan hidup. Di fase ini, seorang remaja mulai merasakan romantisme, pekerjaan, tanggung jawab dan berperan di lingkungan untuk membentuk diri menjadi seseorang dengan identitas positif. Peran orangtua dalam memberikan kepercayaan dan arahan (bukan dalam bentuk perintah-perintah) penting untuk dapat menjalani masa depan yang positif. Jika identitas diri yang ditemukan oleh remaja tersebut diabaikan dan ditolak oleh orangtua, maka ia akan mengalami kebingungan jati diri yang akut tentang masa depan dan dirinya sendiri. 

Di masing-masing tahapan ada indikator jika fase itu gagal atau berhasil. Nah, jika kita lihat ada orang yang sudah dewasa tapi masih mengalami masalah yang seharusnya bisa diatasi saat anak melalui 5 tahapan awal kehidupannya, berarti ia memang kurang mendapat dukungan dari orangtua dan lingkungan sekitar untuk menemukan dirinya.

Jika kita lihat teori Erikson ini, kita akan mengetahui betapa pentingnya fase awal dalam perkembangan manusia. Apa jadinya jika pada 5 tahap perkembangan itu, anak hanya diasuh oleh seorang baby sitter yang berpendidikan rendah? Untuk jadi orangtua yang bisa menemani fase itu dengan baik pun harus memiliki bekal yang cukup dan kelayakan. Akan beda anak yang diasuh oleh orangtua yang memiliki pengetahuan luas dengan seorang baby sitter lulusan SD. 

Wanita-wanita pintar dan berpendidikan tinggi semestinya mau fokus mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak demi menyiapkan gen unggul untuk bangsa ini. Karena jika tidak, negara kita ini akan terus menerus berada di lingkaran setan karena kekurangan SDM berkualitas. 

Untuk itu. jika ingin mendidik anak, kita harus mendidik diri sendiri dulu. Sebaik-baiknya, setinggi-tingginya. Mengukir masa muda  dengan pengalaman semanis-manisnya dan petualangan sebanyak-banyaknya. Berjalan sejauh-jauhnya, membaca buku sesering mungkin, belajar sekeras-kerasnya, bergaul seluas-luasnya, mengikuti organisasi sematang-matangnya, bekerja serajin-rajinnya, bahkan, tidak masalah jika kita mencoba berbuat senakal-nakalnya asal kita tahu kapan harus berhenti. Jangan lupa, apapun, ada tanggung jawab yang diemban dan konsekuensi yang harus dijalani. 


Jika itu semua sudah dilakukan, barulah kita siap untuk menjalani kehidupan pernikahan dan berkeluarga. Jika tidak, bagaimana kita akan membicarakan dunia ini kepada anak? Anak, atas petunjuk kita (sekali lagi, bukan perintah-perintah) akan menemukan jati dirinya sendiri yang sesuai dengan perkembangan jamannya. Tugas kita adalah mempersiapkan dengan baik apa yang menjadi jalan mereka kelak. Bahkan, persiapan-persiapan mendidik anak dimulai sebelum pernikahan itu sendiri terjadi. 

Di jaman modern, wanita berada di persimpangan antara mengejar karir (atau bekerja saja, tanpa harus mengejar karir) di luar rumah dengan fokus di keluarga. Ini adalah soal pilihan dan seberapa matang kita mempersiapkan pilihan-pilihan itu. Subhi-Ibrahim, seorang dosen filsafat Paramadina berkata, "Bayangkan jika sejak awal seorang anak dididik oleh seorang Ibu yang Sarjana Filsafat. Bayangkan nantinya anak ini akan secerdas apa." Ia juga menambahkan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang wanita, maka tangung jawab untuk fokus mengurusi anak-anaknya sendiri juga seharusnya, semakin tinggi. 

Menjadi Ibu rumah tangga tidak hanya sibuk dengan urusan-urusan domestik di dalam rumah. Seorang Ibu, tetap berkewajiban untuk memberikan kontribusi pada komunitasnya, membangun masyarakatnya. Ibu rumah tangga juga bisa jadi penulis, wirausaha di rumah atau apapun yang menghasilkan. Bukan berarti diam dan membiarkan suami menghandle semua urusan material sendiri. Apalagi jika ternyata penghasilan suami belum terlalu mencukupi untuk keluarga.

Berkat seorang Psikososial berkebangsaan Jerman ini, kita dapat memahami bahwa pilihan menjadi seorang Ibu rumah tangga tidak melulu karena alasan-alasan agama yang sering disebut para feminist sebagai pengecilan peran perempuan. Justru dengan menjadi Ibu rumah tangga, seorang wanita menemukan dirinya dan tanggung jawab besarnya kepada negara, untuk melahirkan generasi terbaik, putra peradaban yang dididik dari rahim yang berkualitas. 

Di dalam tulisan lama berjudul Wanita dan Kemanusiaan, ada pandangan Imam Khomeini tentang bagaimana menjadi perempuan sejati. Jangan sampai, sebagai perempuan kita akhirnya melahirkan generasi yang cengeng, yang takut melakukan perlawanan pada kedzaliman dan takut menyuarakan kebenaran.

Jika kita menengok teori Hegel tentang "Back to Nature" nya, maka kita akan lebih sepakat pada pola pendidikan yang diajarkan oleh Erikson. Karena Hegel meminta kita untuk membiarkan anak dirawat oleh alam, tanpa campur tangan orangtua sekalipun anak tersebut masih di usia dini. Bagi Hegel, dengan cara itulah anak menemukan dirinya. Prinsip itu diterapkan kepada anak dari hubungan incest nya dengan Christiane Burkhardt yang menjalani kehidupan yang miskin dan terlunta-lunta. Sampai akhirnya Ludwig -anak Hegel- yang berkebangsaan Jerman, mendaftarkan diri dalam militer Belanda, bertempur membela kolonial Belanda melawan Pangeran Diponegoro dan meninggal di tanah Jawa. Jauh dari ayahnya yang dibenci sekaligus sangat dirindukannya. 

Nah, sama-sama pemikir Jerman, yang satunya adalah seorang psikososial dan yang satunya adalah seorang filosof, pola mana yang akan kita pilih?

Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormat kepada para Ibu yang terpaksa bekerja di luar rumah sehingga dengan berat hati harus menyerahkan pengurusan anak pada orang lain (Baby sitter, tetangga, nenek dll). Bagaimanapun, memang selalu ada yang dikorbankan dengan pilihan-pilihan kita. Semoga anak-anak kita dapat melewati tahap-tahap itu dengan baik nantinya.

---
PS :
Tulisan ini dibuat setidaknya karena 3 hal :
  • Iseng nulis dalam tekanan deadline transkip wawancara
  • Kangen nulis untuk majalah keluarga
  • Tentang sebatang rindu yang baru saja dipatahkan kekasih


Mampang, 8 November 2013